cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Ecogreen
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 24079049     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Ecogreen diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo dengan frekuensi terbit dua kali dalam setahun yaitu pada bulan April dan Oktober. Isi jurnal terbuka untuk berbagai tulisan dari hasil penelitian dan catatan penelitian dari berbagai aspek yang terkait dengan bidang manajemen hutan, silvikultur, teknologi hasil hutan dan ilmu lingkungan. Jurnal ini diterbitkan dengan tujuan sebagai media komunikasi ilmiah para pemerhati dibidang kehutanan dan lingkungan, agar dapat diketahui, didiskusikan dan dimanfaatkan bersama
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2018)" : 11 Documents clear
STUDI PERTUMBUHAN MANGIUM (Acacia mangium Willd) DI AREAL HTI PT. INHUTANI GOWA-MAROS Rosmarlinasiah Rosmarlinasiah
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.254 KB)

Abstract

ABSTRACTSetting the forest to produce the optimum growth of Acacia mangium Willd is indispensable, in order to provide the optimal forest products and sustainable. To support these efforts need to be made carefully timber estate management plant. The purpose of the research is to find out the condition of the forest growth Mangium and identify factors that influence plant growth conditions are dominant, particularly factors that can be influenced through action management. The research was carried out in the area of PT. Inhutani timber estate Gowa-Maros South Sulawesi on the stands are aged, 1 year, 2 years, 3 years, 5 years, and 7 years.  Planting distances vary i.e. 2m x 2m (the stands are aged 1 year), 3m x 3m, and 4m x 2.5m. Research using survey methods, purposive sampling technique in selecting the existing age-class stands at the site of the research. Implementation of research through the data collection of the sample sized area of 0.04 Ha (20m X 20m) with seeking such that the areal example represents the forest growing conditions in the field. Analysis of the growth of Acacia mangium Willd stands using several equations commonly used as model of Richard, model of exponentiation, and model of quadratic. The results showed that the growth of Mangium on site research classified as low. At the age 7 years, Mangium only reaches a height of 13.2 m, diameter 19.9 cm, tallest trees 16.8 m, and basal area 23.9 m2/ha.  The value of the highest tree prediction shows that the location of research including bonita 2. The density of Mangium forest belongs to the height indicated by the great crown closure rate achieved 193%.  Based on the relationship of the length and diameter of the crown, then it can be said that the crown had inclined mangium conical. Kata Kunci: Growth model, Acacia mangium, management actions.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PELESTARIAN HUTAN MANGROVE DI DESA SAWAPUDO KECAMATAN SOROPIA KABUPATEN KONAWE La Ode Agus Salim Mando; Nur Arafah; Jumrin Mustawing
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.067 KB)

Abstract

ABSTRAKKeberadaaan ekosistem hutan mangrove sangatlah penting baik dari aspek ekonomi maupun ekologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap pelestarian hutan mangrove dan menganalisis hubungan karakteristik responden dengan persepsi masyarakat di Desa Sawapudo Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe. Penelitian berlangsung selama bulan Juli-September tahun 2017. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung dan komunikasi langsung menggunakan wawancara terstruktur yang dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan skala likert dan metode korelasi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap pelestarian hutan mangrove sebanyak 48 orang (96 %) responden memilih setuju, sedangkan yang memilih sangat setuju 1 orang (2%) dan ragu-ragu berjumlah 1 orang (2%). Korelasi karakteristik internal responden dengan persepsi masyarakat meliputi umur, mata pencaharian, dan tingkat pendapatan mempunyai pengaruh yang kuat. Sementara yang tidak berkorelasi yaitu pendidikan dan jumlah anggota keluarga. Kata Kunci: Persepsi Masyarakat, Karakteristik Internal, Hutan Mangrove, Korelasi
KAJIAN ASPEK LINGKUNGAN HIDUP PADA PENGUKURAN PEMBANGUNAN DESA DI KABUPATEN WAKATOBI Jumiadin Jumiadin; Sunarwan Asuhadi
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.344 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk menelaah keberpihakan instrument pengukuran kualitas pembangunan desa, baik melalui IPD maupun IDM, serta hubungan antara jumlah anggaran desa dan IDM terhadap Indeks Ketahanan Lingkungan masing-masing desa. Data penelitian ini bersumber dari data sekunder, berupa jumlah anggaran desa pada tahun 2016 dan 2017, serta Nilai IDM dan IKL pada tahun 2017.  Hasil kajian menunjukkan bahwa IPD belum mengarusutamakan indikator dan variabel lingkungan hidup, sedangkan IDM memerlukan penyesuaian variabel untuk menambah ‘kedalaman’ dalam merepresentasikan keberpihakan terhadap lingkungan hidup.  Terkait anggaran desa dan IDM pada tahun 2017, menunjukkan bahwa jumlah dan peningkatan anggaran desa belum berkontribusi pada peningkatan IKL, sedangkan tingginya nilai IDM relevan dengan peningkatan IKL, namun pada kasus yang lain, desa dengan IDM rendah dapat juga memiliki IDM yang tinggi. Untuk itu dibutuhkan keberpihakan semua pihak, khususnya kebijakan Pemerintah Desa dalam meningkatkan IKL dan IDM. Kata kunci : IKL, IDM, Pembangunan Desa ABSTRACTThis study uses a quantitative descriptive approach to examine the alignment of instruments measuring the quality of village development, both through IPD and IDM, as well as the relationship between the number of village budgets and IDM with the Environmental Resilience Index of each village. The data of this study are derived from secondary data, in the form of the number of village budgets in 2016 and 2017, as well as IDM and IKL values in 2017. The results of the study indicate that IPD has not mainstreamed environmental indicators and variables, whereas IDM requires variable adjustments to add 'depth' in representing alignments towards the environment. Regarding the village budget and IDM in 2017, shows that the number and increase of the village budget have not contributed to the increase in IKL, while the high IDM value is relevant to the increase in IKL, but in other cases, villages with low IDM can also have a high IDM. For this reason, all parties need to be aligned, especially the Village Government's policy in increasing IKL and IDM.Keywords : IKL, IDM, Village Development
KARAKTERISTIK STRUKTUR ANATOMI ARAH RADIAL BAMBU BETUNG (DENDROCALAMUS ASPER) Zakiah Uslinawati
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.029 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan melihat perbedaan proporsi penyusun struktur anatomi batang bambu pada penampang melintang dari arah luar ke dalam (outer-inner). Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi  untuk melihat perbedaan struktur anatomi dari arah luar ke dalam (outer-semi outer-semi inner-inner). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proporsi parenkim bambu Betung semakin meningkat dari arah luar ke dalam, dan sebaliknya  proporsi serat semakin  menurun dari arah luar ke dalam. Pembuluh metaxilem memiliki diameter yang semakin meningkat dari arah luar kedalam.
PRIORITAS PENGELOLAAN SUB DAS BERDASARKAN KARAKTERISTIK MORFOMETRI DI DAS KONAWEHA Kahirun Kahirun; La Baco S.; Umar Ode Hasani
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.092 KB)

Abstract

ABSTRAKAnalisis kuantitatif parameter morfometri DAS merupakan suatu hal yang penting digunakan dalam mengevaluasi DAS Konaweha, dalam menentukan prioritas untuk konservasi tanah dan air dan pengelolaan sumberdaya alam dalam skala mikro pada level Sub DAS. Sebab peningkatan pengelolaan sumberdaya  lahan, tanah dan air pada suatu DAS, memerlukan data tentang karakteristik morfometri yang mengindikasikan tentang degradasi dan erosi tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (i) menghitung dan menganalisis karakteristik morfometri DAS Konaweha dan Sub DASnya, (ii) menganalisis dan menentukan skala ranking atau prioritas pengelolaan DAS pada semua Sub DAS di  DAS Konaweha. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa DAS Konaweha dengan karakteristik morfometri terdiri dari parameter  areal, linear dan bentuk  seperti kerapatan sungai, tingkat percabangan sungai, frekuensi sungai, rasio bentuk DAS, faktor bentuk, rasio membundar dan rasio memanjang, dapat disimpulkan bahwa DAS Konaweha dan semua Sub DAS nya umumnya merupakan DAS yang memanjang yang menunjukkan debit puncak banjir yang tidak terlalu cepat dengan waktu penurunan yang tidak terlalu lambat, air mempunyai banyak waktu tersimpan/terinfiltrasi ke dalam tanah.  DAS Konaweha tidak rawan banjir, namun apabila jika terjadi kondisi iklim yang ekstrim mengalami banjir besar, maka penggenangan karena banjir tersebut akan terjadi dalam waktu yang relatif lama, sehingga DAS Konaweha sangat peka terhadap banjir puncak (peak of discharge). Berdasarkan analisis karakteristik morfometri beberapa Sub DAS menunjukkan sebagai  prioritas utama untuk dilakukan pengelolaan seperti Sub DAS Konaweha Lahumbuti, Sub DAS Tinobu, Sub DAS Kokapi, Sub DAS Lembo dan Sub DAS Aloalo. Kata kunci: Sub DAS, Analisis Multivariat,  Korelasi Parameter Morfometri, Prioritas Pengelolaan.  ABSTRACTThe analysis of quantity watershed morfometric is most interesting used to evaluated Konaweha Watersheed  and to determine management priority soil and water conservation, and natural resources at micro watherseed or Sub Watersheed. Because improving management of land resources, soil and water in watersheed need data about  morphometry characteristics who indicate land degradation and errosion. The aims of research is: (i) to compute and analysis morphometry characteristics Konaweha Watersheed and their sub watersheed, ( ii) to analysis  and  determine ranking scale or priority of watersheed management of all sub watersheed in Konaweha Watersheed. The results of research showed that Konaweha Watersheed have morphometry characteristics i.e. linear, areal and shape parameter as area of watersheed,  perimeter watersheed, length of watersheed, bifurcation ratio, drainage density, stream frequency, form factor ratio, shape factor, circulatory ratio and elongation ratio, can be concluded that Konaweha Watersheed and all of their sub watersheds have shape elongation to show that peak discharge  not quickly with time of recession is not slowly, the water many time to recharge as infiltration water in soil. Konaweha Watersheed is not prone to flooding, but if there is extreme climatic conditions then cause the Konaweha Watershed to flood large, resulting in waterlogging in a relatively long time, so Konaweha Watersheed is very sensitive to peak discharge.  According analysis morphometry characteristics some sub watersheed show that as the first priority to manage i.e. Konaweha-Lahumbuti Sub Watersheed, Tinobu Sub Watersheed, Kokapi Sub Watersheed, Lembo Sub Watersheed and Aloalo Sub Watersheed. Key Words: Sub Watersheed, Multivariat Analysis, Correlation Morphometri Parameter, Priority of Management 
PERBANDINGAN KEWENANGAN DALAM KEBIJAKAN KONSERVASI WILAYAH LAUT WAKATOBI BERDASARKAN PERSPEKTIF REGULASI Sunarwan Asuhadi; Muhammad Sjaiful
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.691 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengetahui permasalahan regulasi dan implementasi kewenangan pengelolaaan wilayah laut Wakatobi. Penelitian ini diorientasikan untuk memecahkan permasalahan tumpang tindih kewenangan dengan menggunakan perspektif regulasi, dengan tujuan untuk mengetahui tumpang tindih kewenangan, potensi konflik pengelolaan, hierarki hukum serta arahan kewenangan dan kelembagaan dalam pengelolaan Taman Nasional Wakatobi. Teknik analisis yang digunakan adalah membuat simplifikasi terhadap kedudukan hukum dari berbagai regulasi yang terkait dengan pengelolaan Taman Nasional Wakatobi dengan menggunakan skoring berdasarkan asas preferensi hukum yang ada. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sesungguhnya tidak terjadi tumpang tindih regulasi dalam pengelolaan wilayah Taman Nasional Wakatobi, yang dibutuhkan adalah kepastian dan tindak lanjut proses pengalihan kewenangan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Kata kunci : Kewenangan, wilayah laut, Taman Nasional Wakatobi, regulasi  ABSTRACTThis study uses a qualitative approach to determine the problems of regulation and implementation of authority of Wakatobi marine area management. This research is oriented to solve the problem of overlapping authority by using a regulatory perspective, with the aim to knowing the overlapping of authority, potential management conflicts, legal hierarchy and authority and institutional directives in the management of Wakatobi National Park. The analytical technique used is to simplify the legal status of various regulations related to the management of Wakatobi National Park by using scoring based on the principle of existing legal preference. The results of this study indicate that there is no overlapping regulation in the management of Wakatobi National Park area, which is needed is the certainty and follow-up process of transfer of authority based on the Law of the Republic of Indonesia Number 1 Year 2014 About Amendment of Law Number 27 Year 2007 About Management Coastal Areas and Small Islands..Keywords : Authority, marine area, Wakatobi National Park, regulation
ANALISIS KELEMBAGAAN PENGELOLAAN AIR BAKU BERKELANJUTAN DENGAN METODE INTERPRETATIVE STRUCTURAL MODELLING (ISM) DI KABUPATEN KONAWE SULAWESI TENGGARA Ridwan Adi Surya; M. Yanuar J. Purwanto; Asep Sapei; Widiatmaka Widiatmaka
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.773 KB)

Abstract

ABSTRAKPenurunan ketersediaan air dan peningkatan kebutuhan air telah terjadi di Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini disebabkan karena perubahan penggunaan lahan akibat eksploitasi lahan secara terus menerus sehingga terjadi penurunan kapasitas infiltrasi dan peningkatan aliran permukaan. Berdasarkan permasalahan diatas maka diperlukan strategi pengelolaan dan pengembangan peran kelembagaan sehingga pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih di Kabupaten Konawe dapat berlangsung secara berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: (1) menganalisis peran kelembagaan ditinjau dari aspek kendala yang dihadapi, kebutuhan program pemerintah terkait, dan lembaga yang berperan dalam pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih berkelanjutan di Kabupaten Konawe; dan (2) mengembangkan model kelembagaan pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih di Kab. Konawe dengan metode Interpretative Structural Modeling (ISM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk implementasi model, terdapat tiga elemen sistem yang perlu diperhatikan. Tiga elemen sistem dengan masing-masing sub elemen kuncinya yaitu: (1) kendala (menurunnya fungsi resapan air akibat berkurangnya vegetasi pada daerah tangkapan air, dan kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber daya air antar stakeholder terkait); (2) kebutuhan (peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat SKPD terkait, dan peningkatan kesadaran stake holder terkait); dan (3) lembaga (BP DAS Sampara, Forum DAS Sultra dan Dinas Kehutanan Kab. Konawe). Kata kunci: model, kelembagaan, air baku, air bersih, ISM   ABSTRACTDecreased water availability and increased water demand has occurred in Southeast Sulawesi Konawe. This is caused by changes in land use due to continuous exploitation of land resulting in a decrease in infiltration capacity and increased surface runoff. Based on the above issues will require the development of management strategies and the role of institutions, so that the management of raw water for water supply in Konawe District can take place in a sustainable manner. This study was conducted with the aim of: (1) analyze the role of institutional on the aspects of constraint, the needs related government programs, and agencies that play a role in the management of raw water for water supply sustainable in Konawe district, and (2) develop a model of water management institutions of water supply in the Konawe District with Interpretative Structural Modeling method (ISM). The results showed that for the implementation of the model, there are three elements of the system that need to be considered. Three elements of the system with each of the key sub elements, namely: (1) constraint (decreasing function of water absorption due to reduced vegetation in the catchment area, and the lack of coordination and integration of water resources management among related stakeholders), (2) needs (increased knowledge on education and skills related apparatus, and an increased awareness of all related stakeholders), and (3) agency (BP DAS Sampara, Forum DAS Sultra and Dinas Kehutanan Konawe District) . Keywords : models, institutional, raw water, clean water, ISM
ANALISIS KEBUTUHAN AIR DOMESTIK KABUPATEN BUTON TENGAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA La Baco S.; Lies Indriyani; Lukman Yunus; Baso Mursidi
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.347 KB)

Abstract

ABSTRAKKebutuhan air domestik penduduk Kabupaten Buton Tengah dipengaruhi oleh pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan taraf hidup masyarakat.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan penduduk, tingkat konsumsi dan kebutuhan air domestik penduduk Kabupaten Buton Tengah.  Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kombinasi antara survei lapangan dan pengumpulan data sekunder.  Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Juli 2018 dan Bulan Agustus 2018.  Hasil penelitian bahwa tingkat konsumsi air rata-rata penduduk Kabupaten Buton Tengah adalah 76,6 liter/kapita/hari, sementara itu tingkat kebutuhan air mencapai 94,6 liter/kapita/hari, sehingga koefisien kebutuhan air rata-rata wilayah tersebut adalah 0,81  Jumlah kebutuhan air domestik penduduk tahun 2018 adalah 2,97 juta m3.  Angka tersebut mengalami peningkatan menjadi 3,07 juta m3 pada periode tahun 2023, sedangkan jumlah kebutuhan air domestik periode tahun 2028 meningkat menjadi 3,18 juta m3,  tahun 2033 menjadi 3,28 juta m3, sementara itu tahun 2038 meningkat lagi menjadi 3,40 juta m3.Kata Kunci: domestik, kebutuhan air, Kabupaten Buton Tengah ABSTRACTDomestic water demand of the population of Central Buton District are affected by the increase in population and the improvement of people's living standards. This study aims was to analyze population growth, consumption level and domestic water demands of Central Buton District. The research approach used were a combination of field surveys and secondary data collection. This research was conducted in July 2018 to August 2018. The results of the study showed that the average water consumption rate of the population of was 76.6 liters/capita/day, while the level of water demand reached 94.6 liters/capita/day, so that the region's average water demand coefficient was 0.81 The amount of domestic water demand in 2018 is 2.97 million m3, increased to 3.07 million m3 in the year 2023, while the number of domestic water demand for the period of 2028 increased to 3.18 million m3, in 2033 increased to 3.28 million m3, while in 2038 the domestic water demand increased to 3.40 million m3. Keywords: domestic, water demand, Central Buton District
IDENTIFIKASI KEARIFAN DAN INOVASI LOKAL PETANI JAGUNG DI DESA KASAKAMU, KECAMATAN KUSAMBI, KABUPATEN MUNA BARAT Damrin Damrin; Amar Ma'ruf; Abdul Manan
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.762 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kearifan lokal petani jagung dalam pengelolaan pertanian dan bentuk inovasi petani jagung sebagai respon terhadap variabilitas iklim di Desa Kasakamu Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini dilaksanakan mulai Februari hingga Maret 2018, dengan menggunakan metode penentuan sampel dengan teknik bola salju (snow ball). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Petani Jagung di Desa  Kasakamu memiliki kearifan lokal dalam pengelolaan lahan pertanian yang masih dipertahankan hingga saat ini seperti pada aktivitas pembukaan lahan (Detambori), pembabatan rumput atau penebangan kayu, pembuatan pagar tanaman, pembakaran (Desula), Kaago-agono galu, penanaman, pemeliharaan dan perawatan tanaman jagung, pemanenan dan penyimpanan hasil panen jagung. Sementara itu, bentuk inovasi lokal petani jagung hanya tampak pada beberapa tahapan bertani saja, yaitu pada pengolahan tanah, penanaman dan pemeliharaan tanaman jagung. Hal ini disebabkan karena terbatasnya tenaga penyuluh pertanian, adanya andil tingkat pendidikan petani yang rendah dan kurangnya motivasi mereka dalam berinovasi. Kata Kunci : Identifikasi, Kearifan lokal, Inovasi lokal, Petani jagung. ABSTRACTThis study aims to identify the forms of local wisdom and innovation that have been practiced and or implemented by the corn farmers as response to the climatic variabilities in Kasakamu village, West Muna of Southeast Sulawesi. The study was conducted from February to March 2018 by using a snow ball technique. The results show that the farmers have local wisdom in agricultural land management that has been handed over many generations and still practiced currently such as land clearing (Detambori), grass removing or trees cutting, fence making, land burning (Desula), Kaago-agono galu, planting, crops growing and treatment, crops harvesting and storing. The study has also revealed that the corn farmers are not well innovating due to lack of extention workers provided by the district government, lack of formal education and motivation to innovate. Keywords: Identification, Local Wisdom, Innovation, Corn Farmers of Kasakamu
KAJIAN PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT OLEH MASYARAKAT SUKU TOLAKI DESA TATANGGE PADA KAWASAN TAMAN NASIONAL RAWA AOPA WATUMOHAI Arniawati, Arniawati; Kahirun, Kahirun; Arafah, nur; Iryan, Iryan
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12.699 KB)

Abstract

ABSTRAKKeberagaman hayati sangat membantu masyarakat di dalam pemenuhan kebutuhan termasuk pemenuhan kebutuhan masyarakat akan bahan obat-obatan. Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan obat-obatan telah lama dan secara turun temurun dilakukan sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap lingkungannya. Begitu pula yang dilakukan masyarakat Suku Tolaki di Desa Tatangge yang masih menggunakan tumbuhan  yang bersal dari kawasan Taman Nasional Rawa Aopa sebagai bahan obat.Sampai saat ini belum banyak informasi terkait pemanfaatan tumbuhan sebagi bahan obat sehingga perlu dilakukan penelitian. Metode penelitian dilakukan dengan metode survey dan wawancara terhadap 20 responden meliputi tabib, petani, wiraswasta dan ibu rumah tangga menggunakan metode snowball. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 23 jenis dan 18 famili tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan yang habitusnya berupa pohon, semak dan liana.  Keseluruhan tumbuhan tersebut di percaya dapat mengobati 25 jenis penyakit. Pemanfaatan bagian tumbuhan meliputi daun, akar, umbi, batang, buah, dan kulit batang. Pemanfaatannya sebagi obat luar  dengan cara dioles maupun dikonsumsi berupa cairan  yang direbus terlebih dahulu. Kata Kunci :Suku Tolaki, Desa Tatangge, Tumbuhan Obat, Taman Nasional Rawa Aopa

Page 1 of 2 | Total Record : 11