cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Root Canal Retreatment Followed By Root-End Resection and Direct Veneer Restoration Using Resin Composite of Maxillary Right Central Incisor Diatri Nari Ratih
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.265 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15679

Abstract

Latar Belakang: Kegagalan perawatan saluran akar dapat menyebabkan nyeri yang persisten dan perubahan warna pada gigi, oleh karena itu dianjurkan untuk dilakukan perawatan ulang saluran akar, didikuti dengan bedah endodontik dan dilakukan restorasi yang estetis sehingga hasil perawatan dapat optimal. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk melaporkan kasus perawatan ulang saluran akar yang diikuti dengan reseksi apeks dan restorasi veneer direk dengan resin komposit padai insisivus sentralis kanan maksila. Kasus dan penanganannya: seorang pasien laki-laki berumur 17 tahun datang dengan keluhan rasa sakit yang terus-menerus dan perubahan warna pada giginya pada gigi insisivus sentral kanan maksila. Pemeriksaan klinis menunjukkan warn agigi kecoklatan, ada kerusakan pada email dengan garis putih pada permukaan labial, dan sebagian restorasi resin komposit telah hilang. Pada pemeriksaan perkusi gigi terasa sakit, pada pemeriksaan palpasi gigi tidak sakit dan tidak ada mobilitas. Pemeriksaan radiografis memperlihatkan bahwa obturasi saluran akar tidak hermetis dan terlihat adanya area radiolusen yang jelas di sekitar apeks akar. Perawatan yang dilakukan pada pasien tesebut adalah perawatan ulang saluran akar, kemudian diikuti reseksi apeks, dan restorasi secara veneer direk dengan resin komposit. Evaluasi hasil perawatan menunjukkan bahwa pasien tidak merasakan sakit lagi, tidak ada lesi periapikal, dan pasien puas dengan restorasi veneer direk. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa apabila perawatan ulang saluran akar tidak berhasil, bedah endodontik adalah pilihan perawatan yang tepat untuk mendapatkan penyembuhan lesi pariapikal yang optimal dan restorasi estetik merupakan pilihan sehingga keberhasilan jangka panjang dapat dicapai. Background: The failure of root canal treatment can cause persistent pain and discolored tooth. Therefore it is recommended to conduct root canal retreatment followed by endodontic surgery and to esthetically restore tooth in order to accomplish satisfactory clinical outcome. The purpose of this case report is to describe the root canal retreatment followed by root-and resection and direct veneer restoration with resin composite of maxillary right central incisor. Case and Treatment: A 17 year-old male patient was referred for endodontic treatment of his maxillary right central incisor. In the clinical examination, it was observed that the color of tooth was brownish, a defect of enamel with white line on the labial aspect, and a partial detach of resin composite restoration. The tooth was tenderness to percussion, but palpation and mobility were whitin normal limits. Radiographic examination revealed a lack of hermetic obturation and an apparent radiolucency around the root apex. Root canal retreatment followed by root-and resection was performed. Afterwards, direct veneering with resin composite was carried out to permanently restore the tooth. Recall evalution was showed that the patient was asymptomatic, periapical lesion disappeared and patient was satisfactory with the restoration. Conclusion: It can be concluded that when root canal retreatment is unsuccessful, endodontic surgery is an important treatment option to improve periapical healing and increase the long term success. The choice of aesthetic permanent restoration is also crucial consideration to overcome the unaesthetic problems, hence the optimal treatment outcome can be achieved.
Perawatan Saluran Akar Multi Kunjungan Protaper Rotary Files Single Cone pada Nekrosis Pulpa Disertai Asses Dentoalveolar Akut (terhadap Gigi Molar Pertama Kiri Mandibula) Billy Sujatmiko; Endang Retnowati Retnowati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4258.04 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16476

Abstract

Latar belakang. Perawatan saluran akar multi kunjungan merupakan perawatan endodonlik yang diperuntukan untuk kasus-kasus yang memerlukan proses penyembuhan antar kunjungan dan di peruntukan untuk lesi-Iesi akut dan merupakan kotra indikasi perawatan saluran akar satu kunjungan. Tujuan. Kasus ini adalah untuk untuk menginformasikan hasil evaluasi perawatan saluran akar multi kunjungan pada gigi molar pertama kiri mandibula yang nekrosis pulpa dengan abses dentoalveolar akut. Kasus. Pasien perempuan berusia 20 tahun datang ke klinik Konservasi Gigi RSGM FKG UGM ingin merawat gigi bawah kiri yang mengalami rasa sa kit aku!. Berdasarkan pemeriksaan subyektif, obyektif dan radiografis diperoleh diagnosis gigi molar pertama kiri mandibula nekrosis pulpa dengan abses dentoalviolar akut. Penanganan. Perawatan yang dilakukan perawatan saluran akar multi kunjungan protaper rotary files, kunjungan sebanyak 3 kali kunjungan dan diobturasi dengan metode single cone dan kemudian dilanjutkan dengan perawatan crown lengthening pemasangan pasak radix anchor, pembuatan inti dan pembuatan jaket full crown fused to metal. Hasil. Evaluasi klinis pad a waktu kontrol gigi menunjukkan perkusi, palpasi sudah tidak terasa sakit pemeriksaan radiografi menunjukkan sudah tidak ada kelainan gambaran radiolusen.
Perawatan Ortodontik Kaninus Kiri Maksil Impaksi di Daerah Palatal dengan Alat Cekat Teknik Begg E. Emil; Prihandini Iman
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3828.31 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15407

Abstract

Latar Belakang: ketidakharmonisan ukuran rahang dengan gigi merupakan salah satu bentuk etiologi maloklusi yang diturunkan dan akan mempengaruhi susunan dan posisi gigi di dalam rahang. Impaksi gigi seperti molar ketiga atau gigi kaninus sering kita temui akibat tidak adanya ruang untuk gigi tersebut erupsi dan menyusun diri di dalam lengkung yang baik. Gigi kaninus memiliki peran penting di dalam mulut, selain untuk mastikasi, gigi ini juga memiliki peran menentukan dalam estetika susunan gigi. Senyum yang menarik tidak akan didapatkan tanpa adanya gigi kaninus di dalam lengkung. Kasus impaksi kaninus dapat dirawat menggunakan teknik Begg dengan proses windowing yang dilakukan oleh ahli bedah mulut. Tujuan: membantu erupsi gigi kaninus dengan bantuan alat orto cekat teknik Begg. Kasus: laki-laki 19 tahun mengeluhkan gigi depan rahang atas protusif langit-langit tergigit oleh gigi depan rahang bawah. Diagnosis: maloklusi Angle kelas II dengan hubungan skeletal kelas I disertai kondisi berjejal di daerah anterior dan gigitan dalam. Perawatan: menggunakan alat cekat teknik Begg dan windowing dengan pencabutan dua premolar pertama rahang atas serta prosedur windo. Kesimpulan: hasil menunjukkan gigi kaninus kiri rahang atas dapat erupsi dengan baik dan bisa diposisikan ke dalam lengkung dalam 5 bulan. Background: Discrepancy in size between jaw and teeth is one of the etiology factor of malocclusion that genetically inherited and will affect teeth allignment and position within the jaw. Third molar and canine impaction frequently found because there is not enough space for theme to erupt and align themselfes in a good alignment. Canine have an important role in mastication as it is in facial aesthetic. Canine impaction can be treated with Begg technique and windowing process performed by oral surgeon. Purpose: to help impacted canine to erupt using fixed Begg appliance technique and windowing process. Case: 19 years old man complained of crowded front teeth. Diagnosis: malocclusion Angle class II, skeletal class I with crowding and deepbite on anterior segment. Treatment: using the Begg fixed appliance and windowing techniques with the extraction of two maxillary first premolars. Conclusion: the result showed that maxillary right canine erupted and can be adjusted within the line of occlusion in 5 months.
Korelasi antara dimensi vertikal oklusi dengan panjang jari kelingking pada sub-ras Deutro Melayu Cytha Nilam Chairani; Eni Rahmi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.658 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.10822

Abstract

Correlation between VDO with length of little finger in Malay Deutro sub race. The correct determination of vertical dimension of occlusion (VDO) is an important step to to concern for dentist in clinical procedures of dental treatment. VDO is defined as the distance between two selected anatomic points, one point on maxilla and the other on mandibule in centric occlusion. There are various measurements of VDO methods suggested. Recently, many researchers have been studied antropometric method to determine the VDO. One of the antropometric methods is the length of little finger measurement. VDO and length of little finger are influenced by human race and each race has different specific characteristic. This study choose Malay Deutro sub race as one of sub-races in Indonesia. The purpose of this study is to determine the correlation between measurement of DVO and length of little finger of Malay Deutro sub race in Padang. This study use observational analysis with cross sectional approach. The samples consist of 56 males and 56 females, 112 respondents in total. The respondents are Malay Deutro sub race that domicile in Padang and are eligible. The data were analyzed by Pearson correlation test. VDO and length of little finger of Mal ay Deutro sub race was significantly correlated (r value= 0,768) and the result of VDO was almost equal with length of little fi nger (p value= 0,000) that means statistically significant. The Antropometric parameter measurement of the length of little finger can be used in determination of VDO. ABSTRAKPenentuan dimensi vertikal oklusi (DVO) yang tepat merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dokter gigi dalam prosedur klinis perawatan gigi. DVO adalah jarak antara dua titik anatomi yang dipilih, yaitu satu titik pada maksila dan satu titik pada mandibula ketika posisi oklusi sentrik. Beberapa metode dianjurkan dalam pengukuran DVO. Salah satu metode penentuan DVO yang dikembangkan oleh para ahli yaitu metode antropometri. Metode ini dilakukan dengan cara pengukuran panjang jari kelingking. DVO dan panjang jari kelingking berbeda pada setiap ras manusia karena masing-masing ras memiliki ciri-ciri spesifik yang berbeda antara satu dengan yang lain. Sub ras Deutro Melayu merupakan salah satu sub ras di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara hasil pengukuran DVO dan panjang jari kelingking pada sub ras Deutro Melayu di Kota Padang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 112 warga Kota Padang yang merupakan sub ras Deutro Melayu dan memenuhi kriteria, terdiri dari 56 orang laki-laki dan 56 orang perempuan. Data diuji secara statistik dengan analisis Pearson correlation. Terdapat korelasi yang bermakna antara hasil pengukuran DVO dengan panjang jari kelingking dengan nilai r=0,768 dan hasil kedua pengukuran ini menunjukkan nilai yang hampir sama dengan nilai p=0,000, sehingga signifikan secara statistik (p<0,05). Pengukuran antropometri panjang jari kelingking merupakan metode yang dapat digunakan untuk menentukan DVO. 
Pengaruh Etsa Kimia dengan Akua Regia terhadap Kekuatan Tarik Perlekatan Bahan Resin Akrilik pada Gigi Tiruan Kerangka Logam M Th Esti Tjahjanti; Heriyanti Amalia Kusuma; Titik Ismiyati; Erwan Sugiatno
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.03 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15644

Abstract

Latar belakang. Bahan yang dipakai untuk pembuatan Gigi Tiruan Sebagian (GTS), antara lain: resin akrilik, kerangka logam, kombinasi kerangka logam dengan resin akrilik. Resin akrilik adalah bahan plat gigi tiruan yang memliki warna dan translusensi baik tetapi sifat mekanismenya tidak ideal, tidak tahan terhadap abrasi, dan dapat terjadi perubahan dimensi. GTS kerangka logam cukup kuat, tetapi estetis kurang memuaskan sehingga perlu kombinasi kerangka logam dan resin akrilik. Peningkatan daya lekat antara kedua bahan tersebut memerlukan retensi, teknik etsa kimia dengan akua regia dapat membuat retensi mikro pada logam. Tujuan penelitian untuk mengetahui etsa kimia dengan akua regia terhadap kekuatan tarik perlekatan bahan resin akrilik pada gigi tiruan kerangka logam. Metode penelitian. Penelitian dilakukan pada 20 subyek penelitian berupa plat kobalt kromium dengan mesh dilekati resin akrilik (10x10x2) mm yeng dilekati mesh ukuran (10x8x1) mm. Subyek penelitian dibagi 2 kelompok: 10 subyek plat kobalt kromium dengan mesh dilekati resin akrilik (20x10x2) mm dan 10 subyek penelitian plat kobalt kromium dengan mesh dietsa dengan akua regia 65% selama 5 menit, kemudian dilekati dengan resin akrilik (20x10x2) mm. dilakukan uji kekuatan tarik menggunakan Torsee’s universal testing Machine dengan ukuran kg/mm2, kemudian hasil analisa dengan t-test. Hasil Penelitian menunjukkan rata-rata kekuatan tarik perlekatan bahan resin akrilik dengan kerangka logam yang tidak dietsa lebih kecil daripada yang dietsa kimia dengan akua regia. Terdapat perbedaan yang bermakna kekuatan tarik perlekatan resin akrilik dengan kerangka logam yang tidak dietsa dengan yang dietsa secara kimia dengan akua regia (p<0,05). Kesimpulan. Etsa kimia dengan akua regia pada kerangka logam, meningkatan perlekatan bahan resin akrilik pada gigi tiruan kerangka logam. Background. Materials used in making removable partial denture (RPD) can be acrylic resins, metal plate, combination between metal plate and acrylic resins. Acrylic resins is plate denture material have good colour and translucent but the mechanical characteristic is not ideal, unstable to the abrasion, and can be occurred change in dimension. The frame removable partial denture is strong enough but estethically unsatisfaying, therefore need the acrylic resins and metal plate combination RPD. The purpose of this study was to know the influence of chemical etching with akua regia towardbond strength of acrylic resins in frame denture. Methods. The study was conducted in 20 subject of chromium cobalt plate (10x10x2) mm that was attached with a mesh measurement (10x8x1) mm. The sample were devided into two groups. The first group consisted of 10 samples of chromium cobalt plate (10x8x2) mm with a mesh was attached with acrylic resins (20x10x2) mm. The second group consisted of 10 samples of chromium cobalt plate (10x10x2) mm with a mesh etched with 65% akua regia for 5 minutes, than attached with acrylic resins (20x10x2) mm. the bond strength test was carried out using Torsee’s Universal Testing Machine in kg/mm2, than was statistically analyzed using t-test. The result of this study demonstrated that mean of bond strength of acrylic resins combined with nonetched metal plate was smaller than that with etched metal plate. There was a significant difference of the bond strength of acrylic resins combined with metal plate etched and that with metal plate non-etched (p<0,05). Conclusion. The chemical with akua regia in the metal frame increases the attachment of the acrylic resin in the frame denture.
Cairan Sulkus Gingiva sebagai Indikator Keadaan Jaringan Periodontal Sara Ekaputri; Sri Lelyati C Masulili
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2088.179 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16069

Abstract

Cairan sulkus gingiva (CSG) adalah suatu produk filtrasi fisiologis dari pembuluh darah yang termodifikasi, karena asalnya dari darah maka komposisi CSG hampir sama dengan darah. Cairan ini diketahui berperan dalam patogenesis terjadinya penyakit atau kelainan periodontal, sehingga pengukuran terhadap adanya mediator-mediator inflamasi di dalam CSG ini dapat digunakan untuk mengevaluasi adanya faktor-faktor risiko terhadap kehilangan perlekatan gingiva hingga kerusakan tulang alveolar. Tujuan dari pemeriksaan CSG adalah untuk menganalisis bagaimana kondisi inflamasi dari jaringan periodontal yang kemungkinan akan mengakibatkan resorbsi jaringan periodontal yang lebih lanjut. Pada umumnya, dari CSG dapat dideteksi adanya indikator-indikator inflamasi seperti imunoglobulin, komplemen, aktivasi komplell)en, komponen-komponen respon imun, serta indikator lain yang dapat berperan dalam resorbsi tulang alveolar. Dari pembahasan inidiharapkan operator dapat lebih awal mengidentifikasi pasien yang memiliki risiko menderita penyakit periotlontal, sehingga dapat dilakukan terapi lebih awal untuk mencegah perkembangan penyakit periodontallebih lanjut. Kesimpulan:Cairan sulkus gingiva dapat digunakan untuk mendeteksi indikator-indikator inflamasi yang berperan dalam terjadinya penyakit periodontal.
Perubahan morfologi sel HeLa setelah paparan ekstrak etanolik Curcuma longa Suryani Hutomo; Heni Susilowati; Yanti Ivana Suryanto; Chandra Kurniawan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.092 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11248

Abstract

Cell morphological changes on HeLa cells after Curcuma longa etanolik extract exposure. Curcuma is mostly found in the areas with tropical and sub-tropical climate, and is one of original plants of Southeast Asia. In Indonesia, curcuma can be found in almost all regions and areas. Curcumin, which is curcuma’s main constituent, is a potent anti oxidant. Previous studies reported that curcuma longa extract may decrease the growth of cancer cells by interfering with cell proliferation, and by causing the cell apoptosis; however, the mechanism of apoptosis remains unclear. The purpose of this study was to investigate the effect of Curcuma longa extract on the morphological change of HeLa cells, indicating the cell damage. HeLa cells (5x10⁴ cells/well) were cultured in complete RPMI 1640 overnight before stimulation. Etanol extract of Curcuma longa (50 µg/ml, 100 µg/ml, 150 µg/ml) were added to the culture of HeLa cells and were incubated for 24 hours in antibiotic-free of culture medium. HeLa cells morphological analysis was performed under phase contrast microscope after haematoxilent eosin staining. Docsorubisin (0,5625 mg/ml) was used as positive control in this study. The results demonstrated that Curcuma longa extract caused cell morphological changes on HeLa cells indicated by cell shrinkage, lost contact with neighboring cells as the alteration of apoptotic cell death in most of cell population. The nuclei were dark as a result of their capability to absorb haematoxylene dye. Statistical analysis showed a significant difference between controls and treatment groups. It was then concluded that Curcuma longa extract induced cell damage on HeLa cells in a way of cell shrinkage.ABSTRAKKunyit (Curcuma longa) merupakan tanaman yang dapat tumbuh di daerah tropis dan sub tropis, serta merupakan tanaman asli Asia Tenggara. Di Indonesia, kunyit menyebar secara merata di seluruh daerah. Kurkumin yang merupakan unsur utama kunyit, merupakan antioksidan yang kuat. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kunyit mampu menghambat pertumbuhan beberapa tipe sel kanker. Mekanisme anti-kanker kurkumin adalah dengan menghambat proliferasi sel. Penelitian terdahulu melaporkan bahwa ekstrak Curcuma longa menginduksi apoptosis pada sel HeLa, tetapi mekanisme kematian sel tersebut belum jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh ekstrak Curcuma longa pada perubahan morfologi sel HeLa, dimana perubahan morfologi merupakan parameter kerusakan sel. Sel HeLa (5x104 sel/well) dikultur dalam RPMI 1640 semalam sebelum stimulasi. Ekstrak etanol kunyit (50 µg/ml, 100 µg/ml, 150 µg/ml) ditambahkan pada kultur HeLa dan diinkubasi selama 24 jam dalam medium tanpa antibiotik. Analisis morfologi sel HeLa dilakukan dengan menggunakan mikroskop fase kontras setelah pewarnaan haematoksilen eosin. Doksorubisin (0,5625 µg/ml) digunakan sebagai kontrol positif induksi apoptosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Curcuma longa menyebabkan perubahan morfologi sel yang ditandai dengan semakin mengecilnya ukuran sel, hilangnya prosesus sitoplasmik sehingga sel berbentuk bulat, serta hilang kontak dengan sel lain yang merupakan ciri apoptosis pada sebagian besar sel HeLa. Nukleus tampak berwarna gelap karena peningkatan kapasitas penyerapan zat haematoksilen. Analisa statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol positif dan negatif dengan kelompok stimulasi dalam jumlah sel yang mengalami perubahan morfologi menuju apoptosis. Disimpulkan bahwa ekstrak Curcuma longa mampu menginduksi perubahan morfologi sel HeLa yaitu berupa cell shrinkage.
Pengaruh Terapi Panas terhadap Pengurangan Nyeri dan Pembengkakan Wajah setelah Operasi Pengambilan Gigi Impaksi Molar Ketiga Bawah R. Rahardjo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4551.757 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.12701

Abstract

Latar belakang. Pembengkakan dan rasa nyeri yang terjadi paska operasi pengambilan gigi molar ketiga pada rahang bawah sering terjadi dan keadaan ini membuat rasa tidak nyaman bagi penderita. Upaya untuk mengurangi pembengkakan dan rasa nyeri tersebut diberikan obat-obatan atau tindakan lain misal dengan dilakukan dengan kompres panas. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah kompres panas yang dilakukan paska operasi gigi molar ketiga rahang bawah yang impaksi dapat mengurangi pembengkakan dan rasa nyeri yang terjadi. Metode penelitian. Tigapuluh penderita dengan gigi geraham ketiga rahang bawah yang impaksi dilakukan tindakan operasi odontektomi. Subyek dibagi dalam dua kelompok, limabelas penderita diberikan obat anti inflamasi kalium diklofenak 50 mg dua kali sehari selama lima hari dan lima belas penderita dilakukan tindakan dengan kompres panas, dengan Hot-Pack pada suhu 38°C yang diaplikasikan di daerah operasi selama 15 menit secara intermiten tiga kali sehari dimulai setelah hari ketiga. Sebelum operasi dilakukan pengukuran permukaan wajah dari titik anatomis pogonion-tragus, tragus-sudut mulut, dan sudut mata-angulus mandibula yang memberikan gambaran segitiga pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali dengan penggaris kain dan diambil rata-rata. Pengukuran rasa nyeri dilakukan secara subyektif oleh subyek dengan skala VAS (visual analog scale) dengan memberi tanda pada skala VAS pada hari kedua dan kelima. Hasil penelitian dilakukan dengan uji statistik dengan T test. Hasil penelitian. Pada kedua subyek penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada pengurangan pembengkakan untuk kelompok yang diberi obat anti inflamasi kalium diklofenak dan yang diberi tidakan dengan kompres panas dengan Hot-Pack setelah hari kedua dan hari kelima paska operasi, terjadi pula penurunan skala rasa nyeri yang signifikan pada hari kedua dan hari kelima. Background. Swelling and pain post mandibular third molar odontectomy commonly happen thus makes discomfort. Some treatment is done to decrease swelling and pain or by using thermal patch. The aim of this research is to see whether thermal patch post impacted mandibular third molar odontectomy can decrease swelling and pain. Methods. Thirty patients with impacted mandibular third molar undergone odontectomies. Subjects are divided into 2 groups, 15 patients is treated by 50 mg diclofenac potassium antiinflammation twice a day for 5 days and 15 patients is treated by thermal patch application, Hot-Pack, on 38°C on the operation area for 15 minutes, three times a day intermittently started on the third day after surgery. Before the operation, facial measurement is being done, from anatomical points pogonion-tragus, tragus-lip corner, and eye corner-mandible angulus which create a triangle form, the measurement is being done three times with a ruler and being counted. Pain is measured subjectively with VAS (visual analog scale) by the subjects on second and fifth day. Result is carried out statistically by using T-test. Result. Two subjects showed there are swelling decreament on group treated by the potassium diclofenac antiinflammation compared the group with Hot-Pack application on second and fifth day post operation, furthermore there were some significant decreament on the second and fifth day.
Obturator Definitive Mandibula Post Hemimandibulectomy Sinistra Paul Sugiyo; Heriyanti Amalia Kusuma
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4285.563 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15541

Abstract

Latar Belakang. Operasi bedah pemotongan mandibula pada kasus tumor jinak maupun tumor ganas dapat menyebabkan deviasi mandibula. Tindakan perawatan bedah tergantung pada lokasi dan perluasan tumor mandibula, tindakan perawatan bedah tersebut meliputi bedah marginal, segmental, hemimandibulectomy, dan total mandibulectomy. Tujuan. Makalah ini menjelaskan tentang perawatan rehabilitasi dengan obturator definitive mandibula. Para klinisi harus menunggu masa penyembuhan yang sempurna sebelum disarankan untuk dibuatkan onturator definitive mandibula. Sejak awal penyembuhan diperlukan intervensi prostodontis untuk mencegah deviasi mandibula. Protesa ini membantu pergerakan mandibula secara normal tanpa terjadi penyimpangan pada fungsi bicara dan pengunyahan. Laporan Kasus. Pada bulan Maret 2012, pasien laki-laki, berumur 46 tahun datang ke RSGM Bagian Prostodonsia atas rujukan dari RS. Dr. Sardjito Bagian Bedah Mulut setelah dilakukan operasi tumor ameloblastoma mandibula sinistra (post hemimandibulectomy mandibula sinistra) dengan pemasangan plat rekonstruksi tiga bulan sebelumnya untuk dibuatkan obturator definitive mandibula. Pasien mengeluh bibir bawah sebelah kiri sering tergigit, fungsi bicara, fungsi pengunyahan, dan penampilannya terganggu. Hasil. Setelah dilakukan perawatan dengan memakai obturator definitive mandibula dalam kurun waktu 8 bulan, hingga saat ini hasil perawatan ini dapat mengembalikan fungsi bicara, fungsi pengunyahan, dan fungsi estetik sehingga pasien merasa lebih nyaman dan percaya diri. Kesimpulan. Deviasi mandibula setelah operasi hemimandibulectomy diatasi dengan bedah rekonstruksi menggunakan plat rekonstruksi, kemudian segera setelah penyembuhan perlu melibatkan prostodontis untuk pemasangan obturator definitive mandibula.  Background. Surgical restion of the mandible due to presence of benign or malignant tumor is the common cause of the mandibular deviation. Depending upon the location and extent of the tumor in the mandible, various surgical treatment modalities like marginal, segmental, hemimandibulectomy, or total mandibulectomy. Purpose. This study was to deteminated of rehabilitation treatment by mandible definitive obturator. The clinicians must wait for extensive period of the time for completion of healing before considering the definitive prosthesis. During this initial healing period prosthodontic intervention is required for preventing the mandibular deviation. This case report describes management of a patient who has undergone a reconstructed hemimandibulectomy with mandible definitive obturator. The prosthesis help patient moving the mandible normally without deviation during functions like speech, mastication, and aesthetic. Case Report. On March 2012, a 46 years old man was referred from Dr. Sardjito Hospital Oral Surgery Department to Department of Prosthodontics RSGM Faculty of Dentistry Gadjah Mada University Yogyakarta, for prosthetic rehabilitation following a hemimandibulectomy sinintra reconstructed with plate reconstruction three months ago. Patient felt speech function, masticatory function, and impaired performance, lower lip frequently bitten. Results. After treated while 8 months till now by mandible definitive obturator, patient felt more comfortable and confident with recovery function of speech, mastication, and aesthetic. Conclusion. The deviation of mandible after hemimandibulectomy was reconstructed by reconstruction plate surgery. During this initial healing period early prosthodontic intervention by mandible definitive obturator. 
Pendidikan dan status ekonomi dengan kepatuhan perawatan gigi tiruan lepasan Wiworo Haryani; Dwi Eni Purwati; S. Satrianingsih
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.645 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.26806

Abstract

Education and economic status with removable denturescare users’ obedience. Indonesian usually less maintains dental and oral hygiene increasing 24% in prevalence edentulousness. In oral health, especially to avoid disturbances occurring due to loss of the tooth, it would require the replacement of missing teeth with artificial teeth. Removable denture care users’ obedience is supported by the level of education and economic status. The aim of this study is to determine the correlation between education and economic status with removable denture care wearers’ obedience. This research used observational analytic survey method with cross sectional design. The research location is in Puskesmas Pembantu Tompeyan, Tegalrejo, Yogyakarta working area. The population covers all residents who meet the inclusion criteria which are in the age of more than 20 years old, have their own income, have the will to be respondents, and can work together. The research time was on September until November 2016. The sampling technique is using saturated sampling technique and the sample’s number are 43. The research instrument is removable denture care users’obedience questionnaire in the form of 10 statement checklists.The results of the research were respondents with college education level have the greatest obedience was 13 people (30.2%), while respondents with middle economic status having the biggest obedience were 10 people (23.3%). According to Kendall's Tau test results, this research has a significant relationship between level of education and removable denture care users’ obedience of (p=0.049) and economic status andremovable denture care users’ obedience of (p=0.004). It can be concluded that there is a relationship between level of education and economic status with removable denture care users’ obedience. ABSTRAKDalam kesehatan gigi dan mulut terutama untuk menghindari gangguan-gangguan yang dapat terjadi akibat kehilangan gigi tersebut, maka diperlukan penggantian gigi yang hilang dengan gigi tiruan. Kepatuhan perawatan pemakai gigi tiruan lepasan didukung oleh tingkat pendidikan dan status ekonomi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan kepatuhan perawatan pemakai gigi tiruan lepasan. Metode penelitian ini menggunakan survei observasional dengan rancangan cross sectional. Lokasi penelitian di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Tompeyan, Tegalrejo, Yogyakarta. Populasi meliputi seluruh warga yang memenuhi kriteria inklusi yaitu berusia lebih dari 20 tahun dan menggunakan protesa, sudah memiliki penghasilan, bersedia menjadi responden dan bisa bekerja sama. Waktu penelitian pada bulan September sampai dengan November 2016. Teknik pengambilan sampel dengan teknik total sampling dan jumlah sampel ada 43. Instrumen penelitian adalah kuesioner kepatuhan perawatan gigi tiruan berupa checklist 10 pernyataan. Hasil penelitian menunjukkan responden dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi memiliki kepatuhan terbesar yaitu 13 orang (30,2%) sedangkan responden dengan status ekonomi sedang yang memiliki kepatuhan terbesar yaitu 10 orang (23,3%). Hasil uji Kendall’s Tau menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan perawatan pemakai gigi tiruan lepasan (p=0,049) dan status ekonomi dengan kepatuhan perawatan pemakai gigi tiruan lepasan (p=0,004). Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan antara tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan kepatuhan perawatan pemakai gigi tiruan lepasan.