cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Peran Dokter Gigi dalam Tumbuh Kembang Anak Berkebutuhan Khusus Indah Titien
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4192.47 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15545

Abstract

Latar belakang. Keberadaan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) semakin lama semakin meningkat. Menurut DepKes RI 2010 8,3 juta. Ditinjau dari sudut pandang kebutuhan akan pelayanan kesehatan, khususnya kesehatan gigi dan mulut, maka kelompok ABK ini lebih membutuhkan dibanding dengan anak-anak pada umumnya. Anak-anak berkebutuhan khusus, karena berbagai keterbatasan yang ada pada mereka, kurang mampu untuk membersihkan sendiri rongga mulutnya, sehingga hal ini meningkatkan faktor risiko kerusakan gigi-gigi dan jaringan lunak sekitarnya. Tujuan Penulisan. Untuk mengkaji peran dokter gigi pada tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus. Tinjauan Pustaka. Nutrisi termasuk faktor lingkungan yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Proses tumbuh kembang anak memerlukan pemenuhan kebutuhan makanan yang baik dan adekuta. Kesehatan gigi dan mulut penting dalam upaya mendapatkan asupan makanan yang cukup mengingat bahwa dalam rongga mulut terdapat alat-alat perncernakan. Alat berkebutuhan khusus, terutama yang mengalami gangguan syaraf motorik mempunyai risiko maltunitrisi. Abnormalitas neurologis menyebabkan perubahan aktivitas fisik, pola motorik halus, dan pola oromotor, seringkali mempengaruhi asupan makanan yang diperlukan. Konsisi ini akan diperparah dengan kesehatan rongga mulut yang buruk sehingga kehilangan sebagian gigi desidui maupun gigi permanen sering dialami anak-anak ini, disisi lain penggunaan protesa pada anak-anak ini banyak yang merupakan kontra indikasi. Upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut bagi anak-anak berkebutuhan khusus merupakan tanggung jawab dokter gigi. Kesimpulan. Anak berkebutuhan khusus lebih membutuhkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dibanding anak-anak lainnya. Peran serta dokter gigi dalam upaya pelayanan gigi dan mulut bagi mereka sangat diperlukan. Peningkatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut lebih diharpakan oleh kelompok anak-anak tersebut, terutama upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut. Background. The existence of Children with Special Needs progressively increased. Although the phenomenon of their existance seems like an iceberg. In everyday life we often encounter these kids around us although the numbers according to the Central Bureau of Statistics is increasingly rising. Seen from the point of view of the need for health services, especially dental and oral health, then the group of children with special needs is move need than children in general. Children with special needs, because of the limitations that exist on their own are less able to clear the oral cavity, so this factor increases the risk of damage teeth and surrounding soft tissue. Purpose. To examine the role of the dentist in the growth and development of children with special needs.  Literature Review. Nutrition including environmental factors that affect the growth and development of children. The process of child development requires meeting the needs good nutrition and adequate. Oral health is important in order to get the nutrition that adequately considering the oral cavity, including digestion. Children with Special Needs, especially with impaired motor neurons are at risk of malnutrition. Neurologic abnormalities cause changes in physical activity, fine motor pattern, and the pattern of oromotor, often affecting food intake is necessary. This condition will be exacerbated by poor oral health that lost some teeth decidouos and permanent teeth are often experienced by these children, on the other hand the use of prostheses in children some time are contra indicated. Efforts to prevent oral disease for children with special needs are the responsibility of the dentist. Conclusion. Children with special needs are more need of oral helath care than other children. The role of the dentist in order to care for their teeth and mouth are very necessary especially the preventation of oral diseases. Improved oral helath services more expected by the group of children. 
Apeksifikasi Menggunakan Mineral Trioxide Aggregate dan Restorasi Resin Komposit dengan Pasak Fiber Reinforced Composite Ida Ayu Tribumiana; Raphael Tri Endra Untara
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2002.282 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16021

Abstract

Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan MTA (Mineral Trioxide Aggregate) sebagai bahan apeksifikasi dan bleaching intrakoronal serta restorasi resin komposit dengan FRC (Fiber Reinforced Composite) pada gigi insisivus sentralis kiri maksila, sehingga dapat mempertahankan dan mengembalikan fungsi gigi. Seorang pasien wan ita muda datang ke RSGM Prof. Soedomo untuk merawatkan gigi depan atas kiri yang patah ketika berusia 10 tahun. Diagnosa gigi insisivus sentralis kiri maksila fraktur Kelas III Ellis, pulpa nekrosis dengan lesi periapikal, apeks terbuka, dan diskolorasi. Prosedur perawatan diawali dengan preparasi saluran akar teknik konvensional, apeksifikasi menggunakan MTA dan bleaching intrakoronal teknik walking bleach. Restorasi resin komposit aktivasi sinar kavitas kelas IV dengan pasak FRC. Hasil evaluasi klinis dan radiografis setelah 3 bulan menunjukkan perbaikan lesi periapikal, warna restorasi resin komposit tidak berubah, bentuk dan kontur gigi baik, kerapatan tepi baik, dan pasien merasa puas dengan perawatan yang telah dilakukan. Fungsi gigi juga telah dapat dikembalikan, antara lain fungsi estetik dan fonetik.
Identifikasi faktor yang mempengaruhi perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut: Studi pada Pusat Pengembangan Anak Agape Sikumana Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia Mery Novaria Pay; Sri Widiati; Niken Widyanti Sriyono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.593 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.9900

Abstract

ABSTRACT: Identification of factors towards children behavior on oral health maintenance. Behavior was a result of internal and external factors such as stimulus and response. Many factors can affect of children behavior on oral health maintenance. This study aims is to identify factors affecting children behavior on oral health maintenance. The study is an observational research with a cross sectional design and all that met inclusion criteria were sampled. Questionnaires with Likert scale were used to assess attitudes, perception, motivation, and behavior variables. The questionnaires showed validity (correlation values ≥ 0.30) and reliability (alpha Cronbach ≥ 0.70).The result of multiple regression analysis showed that variables attitude (p = 0.163) did not affect significantly on the behavior. Variables perception (p = 0.017) and motivation (p = 0.006) affected significantly on the behavior. Variables of perception and motivation contribute 40.0% (R2 = 0.400) to children behavior on oral health maintenance. Motivation gave the highest contribution of 10.4% to children behavior on oral health maintenance. Conclusion research, The better and the stronger perception and motivation is the better children behavior on oral health maintenace. Attitude does not affect children behavior on oral health maintenance. Motivation has contributed greatly to the children behavior on oral health maintenance.ABSTRAKPerilaku merupakan hasil interaksi faktor eksternal berupa stimulus dan faktor internal berupa respon.Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dan semua yang memenuhi kriteria inklusi diambil sebagai sampel. Variabel sikap, persepsi, motivasi dan perilaku diukur dengan kuesioner yang menggunakan skala Likert. Masing-masing kuesioner telah memenuhi uji validitas (nilai korelasi ≥ 0.30) dan uji reliabilitas dengan alpha cronbach ≥ 0.70. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa sikap (p=0.163) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku. Variabel persepsi (p=0.017) dan motivasi (p=0.006) berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku. Variabel persepsi dan motivasi memberikan kontribusi sebesar 40.0% (R2 = 0.400) tehadap perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Motivasi memberikan pengaruh paling besar yaitu 10,4% terhadap perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Kesimpulan penelitian, semakin baik persepsi dan semakin kuat motivasi maka semakin baik perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Sikap tidak berpengaruh terhadap perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Motivasi mempunyai pengaruh paling besar terhadap perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut.
Toluidine Blue Vital Staining sebagai Alat Bantu Diagnostik pada Karsinoma Sel Skuamosa Lidah Dwi Suhartiningtyas; Bernadeta Esti Chrismawaty; Dewi Agustina; Goeno Subagyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4412.84 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15535

Abstract

Latar belakang. Karsinoma sel skuamus oral (KSSO) merupakan salah satu kanker mulut yang paling sering terjadi. Deteksi dini kanker mulut menyulitkan oleh karena etiologi yang tidak pasti dan gambaran klinis yang tidak khas. Toluidine blue vital staining (TBVS) dilaporkan dapat membantu penegakan diagnosis KSSO. Tujuan. Penulisan ini bertujuan melaporkan kasus KSSO di lidah yang terdiagnosis melalui TBVS. Kasus dan penanganannya. Laki-laki 77 tahun dengan gigi tiruan lengkap mengeluhkan sakit pada lidah sejak 2 minggu lalu, yang tidak sembuh dengan terapi konvensional. Pasien adalah perokok berat selama 60 tahun. Temuan klinis menunujukkan ulkus soliter berdiameter 2,5 cm pada ventral lidah, tepi membulat, indurasi dan tertutup pseudomembran putih. Temuan lain berupa kandidas mulut pada mukosa palatal, kedua sudut mulut dan dorsum lidah. Berdasar anamnesis dan pemeriksaan klinis, dicurigai adanya keganasan pada lesi lidah. Perawatan awal ditujuan untuk pembersihan rongga mulut, terapi anti jamur dan perbaikan status nutrisi. Lima hari kemudian, dilaporkan adanya kaku lidah dan gangguan fungsi mulut. Klinis tampak ulkus pada lidah semakin dalam dan melebar, untuk memastikan kecurigaan keganasan dilaksanakan pemeriksaan TBVS. Hasil pemeriksaan positif sehingga ditegakkan diagnosis kerja KSSO. Pemeriksaan lebih lanjut, pasien dikirim ke Klinik Bedah Mulut Rumah Sakit Dr. Sarjito. Hasil biopsi positif menunjukkan KSSO, selanjutnya pasien dirujuk ke Klinik Onkologi. Kesimpulan. Karsinoma sel skuamus oral memiliki gambaran klinis tidak khas sehingga penyakit ini sulit terdeteksi secara dini. Diagnosis dan perawatan dini KSSO akan meningkatkan survival rate dan kualitas hidup penderitanya. Metode pemeriksaan diagnostic bantu dengan TBVS sangat membantu dalam penegakan diagnosis keganasan di rongga mulut. Background. Oral squamous cell carcinoma (OSCC) is one of the most oral cancers occurred. Early detection of oral cancer is difficult due to uncertain etiology and atypical clinical feature. Toluidine blue vital staining (TBVS) has been reported to assist the determination of OSCC. Purpose. This writing is intended to report the diagnosis of OSCC on the tongue through TBVS. Case and management. A 77 years old man with a full denture complained a painful tongue since 2 weeks ago, which no responseto conventional therapy. The patient is a heavy smoker for 60 years. Clinical findings showed a solitary ulcer with 2,5 cm in diameters on ventral of the tongue. It’s edges rounded, indurated and covered with white pseudomembranous. Other findings on palate mucosa, corner of the mouth and dorsum of the tongue regarded as oral candidiasis. Based on anamnesis and clinical examination, tongue ulcer is suspected as malignancy. Initial treatment comprises oral debridement, antifungal therapy and improvement of nutrition state. Five days later, tongue stiifness and oral dysfunction were reported. Clinically, the tongue ulcer is getting deeper and more extensive. For the determination of malignancy, TBVS was conducted with the results supported the impression of OSCC. For further examination, the patient was sent to the Oral Surgery Clinic, Dr Sarjito Hospital. Biopsy result is OSCC, then the patient was referred to Oncology Clinic. Conclusion. Oral squamous cell carninoma has an atypical feature so that the lesion is difficult to detect early. Early diagnosis and treatment is important as it increases the survival rate and quality of life of OSCC ptient. Methods of diagnostic to TBVS very helpful in establishing the diagnosis of malignancy in the oral cavity. 
Aktivitas antibakteri ekstrak etanolik kulit batang jambu mete (Anacardium occidentale Linn.) terhadap Staphylococcus aureus H. Harsini
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.563 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.17498

Abstract

Antibacterial activity of cashew stembark (Anacardium occidentale Linn) on Staphylococcus aureus. Microbial activity acts as a sign of disruption of bacterial growth. The bark of cashew (Anacardium occidentale Linn.) contains phenolic compounds such as flavonoids, tannins and anacardic acid which have an activity as antimicrobial. One of the Gram positivebacteria in the oral cavity was Staphylococcus aureus (S. aureus). The aim of the study was to observe the bacterial activity of ethanolic extract of the cashew to a metal ion, i.e. Ca2+ and K+ leakage from S aureus. This research used one ose bacteria S. aureus at a density of 106 standard Brown as much as 10 mL and centrifuged at a speed of 3500 rpm for 20 minutes. The filtrate discarded, pellets in the tube was washed using phosphate buffer pH 7.0. Furthermore the ethanolic extract of the bark of the cashew stembark was added in the concentrations of 3.5% and 7% without any extract as a control, each of which was in 5 tubes, incubated in an incubator for 24 hours. The suspension was centrifused with a speed of 3500 rpm for 20 minutes prior to be filtered. Supernatant liquid was taken and measured absorbance using AAS. Data were analyzed using one way Anova p = 0.05. The results showed that leakage of Ca2+ was  at concentrations of 0%, 3%, 5% and 7% were 2.42 ± 0.82; 32.87 ± 1.97; 49.10 ± 3.33; 66.73 ± 3.29, respectively while for the K+ metal was 15.28 ± 0.46; 606.36 ± 14.14; 895 ± 9.5; 1251 ± 11.54. Anova one way showed a significant effect (p <0.050) ethanolic extract of the bark of cashew against leakage of metal ions Ca2+ and K+ at S aureus bacteria. LSD test showed a significant difference among all treatment groups. It was concluded that there was antibacterial activity of ethanolic extract of the cashew stembark on bacteria S. aureus based on leakage of metal ions Ca2+ and K+ The highest leakage of metal ions was at the concentrations of 7%. ABSTRAKAktivitas antibakteri merupakan tanda terganggunya pertumbuhan bakteri. Kulit batang tanaman jambu mete (Anacardium occidentale Linn.) mengandung senyawa fenolik seperti flavonoid dan tanin serta asam anakardat yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Salah satu bakteri gram positif dalam mulut yang patogen adalah Staphylococcus aureus (S.aureus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri kulit batang jambu mete (anacardium occidentale Linn.) terhadap S.aureus yang ditandai dengan kebocoran ion logam. Penelitian menggunakan sebanyak 1 ose dengan kepadatan 106  CFL/mL disentrifuse dengan kecepatan 3500 rpm selama 20 menit. Filtrat dibuang, pellet dalam tabung dicuci menggunakan buffer fosfat pH 7,0. Ekstrak etanolik kulit batang jambu mete konsentrasi 3; 5 dan 7% serta tanpa ekstrak sebagai kontrol, masing-masing dalam 5 tabung, diinkubasi dalam inkubator goyang selama 24 jam. Suspensi kemudian disentrifuse dengan kecepatan 3500 rpm selama 20 menit lalu disaring. Cairan supernatan diambil diukur absorbansinya menggunakan AAS (Atomic absorption Spectroscopy). Data dianalisis menggunakan Anava satu jalur. Hasil menunjukkan kebocoran Ca2+ pada konsentrasi 0, 3, 5 dan 7% berturut-turut adalah 2,42 ± 0,82; 32,87 ± 1,97; 49,10 ± 3,3; 66,73 ± 3,29, sedangkan logam K+ adalah 15,28 ± 0,46; 606,36 ± 14,14; 895 ± 9,5; 1251 ± 11,54. Hasil analisis statistik Anava menunjukkan terdapat aktivitas antibakteri ekstrak etanolik kulit batang jambu mete. Hasil LSD menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antar seluruh kelompok perlakuan. Kesimpulan terdapat aktivitas antibakteri ekstrak etanolik kulit batang jambu mete terhadap S.aureus dilihat dari kebocoran ion logam Ca2+ and K+. Kebocoran tertinggi pada konsentrasi ekstrak 7%. 
Ekspresi Gen CYP19 Aromatase, Estrogen, Androgen pada penderita Periodontitis Agresif Dahlia Herawati; Sri Kadarsih; Wayan T Artama; S. Suryono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2298.773 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15973

Abstract

Kepadatan tulang tubuh ditentukan oleh gen CYP19 aromatase, hormon estrogen dan androgen. Pada periodontitis agresif terjadi perkembangan cepat kerusakan tulang alveolar, dan kerusakan tulang alveoler tersebut tidak diimbangioleh regenerasi tulang. Tujuan penelitian ini adalah menunjukkan ekspresi gen CYP19 aromatase, estrogen, androgen pada penderita periodontitis agresif agar dapat untuk menjadi pertimbangan pada saat melakukan perawatan periodontal. Metode penelitian, pemeriksaan ekspresi gen aromatse CYP19 berasal dari spesimen tulang alveolar menggunakan imunohistokimia, pengukuran hormon estrogen dan androgen dari serum menggunakan Vidas: Elfa. Hasil penelitian ekspresi gene CYP19 aromatase pada periodontitis agresif menunjukkan gambaran lebih rendah densitasnya dibandingkan pada nonperiodontitis. Estrogen dan androgen pad aperiodontitis agresif ada kecenderungan lebih rendah dibandingkan pada nonperiodontitis. Kesimpulan regenerasi tulang alveoler pad a periodontitis agresif terhambat karena sedikitnya gen CYP19 aromatase dan hormon estrogen dan androgen yang berperan pada pembentukan tulang alveoler kurang memadai.
Gigi Tiruan Lengkap Duplikasi dengan Modifikasi Terbatas sebagai Pedoman Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap Cadangan M. Th. Esti Tjahjanti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3740.486 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16485

Abstract

Latar belakang. Gigi Tiruan Lengkap (GTL) duplikasi adalah GTL kedua merupakan replika atau tiruan GTL pertama. GTL cadangan disiapkan untuk lanjut usia sebagai GTL pengganti jika GTL yang telah lama dipakai dengan memuaskan patah atau hilang. Untuk memudahkan adaptasi pasien terhadap GTL cadangan diperlukan GTL cadangan identik dengan GTL lama. GTL duplikasi dibuat untuk tujuan memindahkan kontur GTL lama ke GTL cadangan. Tujuan. Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan cara melaksanakan perawatan penggantian GTL dengan GTL duplikasi sebagai pedoman membuat GTL cadangan. Kasus & penanganan. Pasien laki-Iaki berumur 72 tahun telah memakai GTL 7 tahun dengan memuaskan membutuhkan GTL cadangan. Pada pemeriksaan subjektif dan objektif, GTL mempunyai retensi dan stabilisasi kurang serta traumatik oklusi. GTL diduplikasi untuk dibuat GTL duplikasi sebagai pedoman. GTL duplikasi pedoman dimodifikasi terbatas yaitu dilakukan sedikit perubahan meliputi perbaikan perluasan tepi dan relining, selanjutnya dipakai sebagai pedoman pembuatan GTL cadangan. DuplikasiGTL dengan teknik 2 sendok cetak dengan bahan tanam silikon. GTL duplikasi pedoman dengan bahan resin akrilik polimerisasi dingin warna gusi dan malam. Kesimpulan. GTL cadangan mempunyai retensi dan stabilisasi baik, oklusi seimbang. GTL cadangan langsung berhasil dipakai pasien. GTL duplikasi dengan modifikasi terbatas adalah desain yang memudahkan adaptasi pasien dan sebagai pedoman pembuatan GTL cadangan.
Kadar kelarutan fluor Glass Ionomer Cement setelah perendaman air sungai dan akuades Phradina Fili Septishelya; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Nurdiana Dewi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.022 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11257

Abstract

The Level of Fluor Solubility of Glass Ionomer Cement after submergence in the river water and aquadest GIC (GIC) is a restoration material that has a number of adhesive characteristics, tooth-coloured, and can release fluoride ion influenced by pH. The river water of Anjir Pasar village has acidic nature with pH as low 3. Acid pH can increase Fluor ion solubility in GIC. The aim of the study was to find difference of fluor ion solubility of GIC after submergence in the river water and aquadest. This study used GIC samples with the diameter of 5 mm and thickness of 2 mm. One group was soaked in river water and another group was soaked in aquadest for 7 days before conducting the measurement of the fluor ion solubility. The data were analysed by parametric Independent T-Test 95% (α=0.05) and it was found p value = 0.002 (p<0.05). The result indicated a significant difference of fluor ion solubility between GIC after submergence in river water and aquadest. It can be concluded that there is a significant difference of fluor ion solubility of GIC in which submergence in the river water was found higher than that of aquadest.ABSTRAKGlass Ionomer Cement (GIC) merupakan bahan restorasi yang memiliki sifat adhesif, sewarna dengan gigi dan memiliki kemampuan pelepasan ion fluor yang dipengaruhi derajat keasaman (pH). Air sungai Desa Anjir Pasar memiliki sifat yang asam dengan pH 3. Derajat keasaman (pH) asam dapat meningkatkan kadar kelarutan ion fluor pada GIC. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kadar kelarutan ion fluor pada GIC setelah perendaman dalam air sungai Desa Anjir Pasar dan akuades. Penelitian ini menggunakan sampel GIC dengan diameter 5 mm dan ketebalan 2 mm. Masing-masing kelompok direndam dalam air sungai dan akuades selama 7 hari kemudian dihitung kadar kelarutan ion fluornya. Data diuji menggunakan analisis parametrik Independent T-Test 95% (α=0,05) dan didapatkan p=0,002 (p<0,05). Dari hasil tersebut diketahui bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kadar kelarutan ion fluor setelah perendaman air sungai dengan kadar kelarutan ion fluor setelah perendaman akuades. Disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar kelarutan ion fluor pada GIC setelah perendaman dalam air sungai Desa Anjir Pasar Barito Kuala yang lebih tinggi daripada setelah perendaman dalam akuades.
Incision Below The Clamp sebagai Modifikasi Teknik Insisi pada Frenektomi untuk Minimalisasi Perdarahan S. Suryono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3125.753 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15422

Abstract

Latar Belakang. Perlekatan frenulum tinggi berdampak merugikan bagi jaringan periodontal maupun fungsi estetik. Perlekatan tinggi yang terjadi pada labialis superior, menimbulkan gingivitis dan sentral diastema yang menjadikan indikasi untuk dilakukan frenektomi. Frenektomi dengan teknik melakukan insisi di atas dan di bawah clamp berakibat lebarnya luka karena tarikan otot bibir, yang berdampak terjadi banyak perdarahan. Tujuan. Melakukan evaluasi terhadap modifikasi teknik insisi yang diharapkan dapat mengurangi perdarahan. Kasus dan Penanganan. Laporan kasus ini memaparkan penanganan kasus pada perlekatan frenulum tinggi yang diikuti adanya sentral diastema. Pasien dengan diagnosa frenulum tinggi dan indikasi frenektomi dilakukan tindakan preoperasi. Tindakan operasi dilakukan dengan menggunakan pisau bedah, modifikasi insisi (Insision below the Clamp) dilakukan dengan cara menempatkan clamp frenulum pada posisi yang berdekatan dan sejajar dengan bibir, tindakan insisi dilakukan di bawah clamp, disusul dengan penjahitan pada area mucolabial fold. Selama operasi dilakukan terlihat luka tidak melebar, tidak banyak darah yang keluar, pasien dan dokter merasa nyaman. Kesimpulan. Insision below the Clamp merupakan modifikasi teknik insisi pada frenektomi yang bisa dilakukan oleh para praktisi untuk meminimalisir perdarahan yang terjadi selama proses pengambilan frenulum dengan menggunakan pisau bedah. Background. Attachment of high frenulum has negative impact on periodontal tissues as well as an aesthetic function. High attachment of frenulum that occurs in labialis superior, causing gingivitis and central diastema that are indications to do Frenectomy. Conventional techniques of Frenectomy performed with insisions above and below the clamp resulted in wide injury due to muscle contraction, which affects a lot of bleeding. Objective. To evaluate modification insision technique which hopefully can minimize the bleeding. Case and Treatment. This case report describes the handling of cases at high frenulum attachment that followed the central diastema. Patients with a diagnosis of high frenulum attachment and frenectomy indications be taken preoperatively, Surgery performed by using a scalpel, modification insision (Insision below the Clamp/IBC) is done by placing the clamp frenulum in a position adjacent and parallel to the lip, the insision carried out under the clamp, followed by suturing at the mucolabial fold. During the operation carried no visible wound widened, little of bleeding, patients and physicians are comfortable. Conclusion. IBC is a modification on frenectomy insision technique that can be done by general practitioners to minimize bleeding that occurs during frenectomy by using a scalpel. 
Hubungan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognisi dan fungsi memori pada lansia penghuni Panti Sosial Tresna Werdha (PTSW) Senjarawi Kota Bandung Kartika Indah Sari; Murnisari Darjan; Nanan Nur&#039;aeny; Lulu Eva Rakhmilla
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.599 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15497

Abstract

Correlation between tooth loss and cognitive and memory function in elderly residents at Social Home Tresna Werdha (PTSW) Senjarawi, Bandung City. Tooth loss is reported to be linked with Alzheimer’s disease and dementia. This study aimed to identify the correlation between tooth loss, cognitive and memory functions examined using a MMSE (mini-mental state examination) test to the elderly residents at Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi, Bandung. The research method used cross sectional design. The sampling was selected using concecutive sampling technique. The sample was selected according to the inclusion criteria including physical health (marked by their ability to perform daily activities independently) and ability to communicate well, at least 60 years of age, and independent. The results of the examination on 19 elderly people consisting of 12 females and 7 males showed that the research subjects fall in the category of having a decline in their cognitive and memory function, that is at the average age (75.89; 76.32), education level of elementary school (66.7%; 77.8%), female (41.7%; 66.7%), physical activity in the form of light exercise (50%; 66.7%) and having hypertension (58.3%; 75%), having musculoskeletal disorder (50%; 75%). Pearson chi-square test showed that there is no signicant correlation between tooth loss and cognitive function p = 1.318 (p > 0.05). Similarly, Pearson chi-square test of p = 0.333 (p> 0.05) indicates that there is signicant correlation between tooth loss and memory function. It can be concluded that there is a tendency of a decline in both cognitive function and memory function in tooth loss, but this is not evident statistically. Future research involving a larger number of samples is needed to obtain homogeneous and well-distributed data.ABSTRAKKehilangan gigi dilaporkan berhubungan dengan penyakit Alzheimer dan demensia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognisi dan fungsi memori yang diperiksa menggunakan lembar MMSE (mini mental state examination) pada lansia di Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi Kota Bandung. Metode penelitian menggunakan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel concecutive sampling. Sampel penelitian dipilih sesuai kriteria inklusi meliputi sehat fisik (yang ditandai dengan dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri) dan mampu berkomunikasi dengan baik, usia minimal 60 tahun, dan mandiri. Hasil pemeriksaan pada 19 orang lansia yang terdiri dari 12 orang wanita dan 7 orang laki-laki menemukan karakteristik subjek penelitian pada kelompok penurunan fungsi kognisi dan penurunan fungsi memori yaitu usia rata-rata (75,89; 76,32), tingkat pendidikan SD (66,7%; 77,8%), jenis kelamin perempuan (41,7%; 66,7%), aktivitas fisik berupa olahraga ringan (50%; 66,7%) dan penyakit yang diderita berupa hipertensi (58,3%; 75%), penyakit muskuloskeletal (50%; 75%). Melalui uji Pearson chi square tidak terlihat hubungan yang signifikan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognisi p = 1,318 (p>0,05). Begitu pula melalui uji Pearson chi square, p= 0,333 (p>0,05) dapat dijelaskan bahwa tidak terlihat hubungan yang signifikan antara kehilangan gigi dengan fungsi memori. Simpulan terdapat kecenderungan penurunan fungsi kognisi dan fungsi memori pada kehilangan gigi, namun hal ini secara statistik tidak terlihat korelasi yang signifikan. Penelitian lanjutan diperlukan dengan jumlah sampel yang lebih banyak sehingga diperoleh data yang homogen dan terdistribusi dengan baik.