cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Pengaruh konsumsi suplemen ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap inflamasi gingiva pada pasien ortodonti cekat (kajian jumlah leukosit cairan sulkus gingiva) P. Prayitno; Anggy Natya Listyaningrum
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.549 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11331

Abstract

Effect of taking mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L.) supplement on gingival inflammation in fixed orthodontic patients (A study of leukocyte count of gingival crevicular fluid). Patients with fixed orthodontic appliances have a high risk of gingival inflammation. Gingival inflammation is characterized by an increase in leukocyte count of gingival crevicular fluid resulting in proinflammatory cytokines that are capable of damaging the gingival tissue. Mangosteen peel (Garcinia mangostana L) contains xantone which has anti-inflammatory properties. The objective of this study was to determine the effect of consuming mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L) supplement on gingival inflammation in patients with fixed orthodontic by studying the leukocyte counts of gingival crevicularuid. Twenty patients with fixed orthodontic appliances were divided into two groups: 10 subjects in the control group and 10 subjects in the treatment group. They were selected based on the following criteria: age 18-24 years, suffering from mild to moderate gingivitis, and using fixed orthodontic appliances in the final phase. The subjects in both groups underwent initial therapy in the form of scaling, then the subjects in the treatment group took 2 capsules of mangosteen peel extract supplements three times a day for seven days. The sampling of gingival crevicular fluid of both groups was taken on day 0 and 8 in the lower anterior region, that is 3 samples of gingival crevicular fluid per subject. Leukocytes were seen from the results of staining with Turk’s reagents through microscope with a magnification of 400 times. The average leukocyte counts were analyzed using Pair T-test and Independent Sample T-test. The results showed that taking mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L) supplements has significant effect on the decrease in leukocyte counts of gingival crevicular fluids (p<0.05). The conclusion of this study is the consumption of mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L) supplement signicantly influences the reduction of gingival inflammation in patients with fixed orthodontic appliances, evident from the decline in the leukocyte counts of gingival crevicular fluids. ABSTRAKPasien pemakai ortodonti cekat memiliki resiko tinggi mengalami inflamasi gingiva. Inflamasi gingiva ditandai dengan meningkatnya jumlah leukosit cairan sulkus gingiva yang menghasilkan sitokin proinflamasi yang mampu merusak jaringan gingiva. Kulit manggis (Garcinia mangostana L) mengandung xantone yang memiliki sifat antiinflamasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsumsi suplemen ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostanaL) terhadap inflamasi gingiva pada pasien ortodonti cekat dengan kajian jumlah leukosit pada cairan sulkus gingiva. Dua puluh pasien ortodonti cekat dibagi menjadi dua kelompok, 10 subjek pada kelompok kontrol dan 10 subjek pada kelompok perlakuan yang diseleksi berdasarkan kriteria: usia 18-24 tahun, menderita gingivitis ringan hingga sedang, dan menggunakan alat ortodonti cekat pada fase akhir. Subjek pada kedua kelompok dilakukan initial therapy berupa scaling, kemudian subjek pada kelompok perlakuan mengkonsumsi suplemen ekstrak kulit manggis 2 kapsul 3 kali sehari selama 7 hari. Pengambilan sampel cairan sulkus gingiva kedua kelompok dilakukan pada hari ke-0 dan ke-8 pada regio anterior bawah sebanyak 3 sampel cairan sulkus gingiva tiap subjek. Leukosit dilihat dari hasil pewarnaan reagen Turk melalui mikroskop dengan perbesaran 400 kali. Hasil rerata jumlah leukosit dianalisis menggunakan uji Pair T-test dan uji Independent Sample T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi suplemen ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L) berpengaruh terhadap penurunan jumlah leukosit  cairan sulkus  gingiva secara signifikan  (p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah konsumsi suplemen ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L) berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan inflamasi gingiva pada pasien ortodonti cekat dilihat dari penurunan jumlah leukosit cairan sulkus gingivanya.
Perawatan Periodontal pada Pasien Lupus Eritematosus Sistemik Nur Rahma Prihantini; Sri Lelyati C Masulili
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1735.705 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15689

Abstract

Background: Systematic disease is a risk factor in periodontal disease. In contrast, severe generalize periodontal disease may also contribute to the development of certain systemic diseases and has and adverse affect in controlling the systemic disease. The majority of systemic diseases manifest in the oral cavity, one of which is systemic Lupus Erythematosus (SLE)., anautoimmune chronic systemic diseases. To date, the etiology of Lupus Erythematosus is still not clear, but the prognosis can become good if the adequate theraphy is given. SLE have a fairly high incidence, but the dangers of this disease is still not widely understood by the public. Purpose: To demonstrate how to manage the oral manifestations of SLE, as it must be done carefully so that patients ca get appropriate treatment to be successful, and the patients with oral manifestations similar to SLE can have a more thorough axamination. Cases: Two patients with SLE and symptoms of easy bleeding gums, frequent stomatitis, dry mouth, and mobile teeth. In both cases, there is gingival hyperemia, edema, pockets of 3-6 mm (case 1) and 3-4 mm (case 2). Prior to dental treatment, both patients are consulted to an internist. Treatment: Periodontal initial treatment such as DHE, scaling, and tooth restorations. Gradual scaling done in multiple visits, followed by gingival curettage. Conclusion: A good periodontal treatment can reduce gingival inflammation, and relatively improve oral hygiene, so it can be expected to increase body immunity.
Perawatan Transposisi pada Maloklusi Kelas III Skeletal Disertai Crossbite dan Deepbite dengan Teknik Straight Wire (terhadap Insisivus Lateral dengan Caninus Regio Kiri Maksila) Evodie Christy; Darmawan Sutantyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4539.564 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16480

Abstract

Latar belakang. Perawatan transposisi gigi perlu mendapatkan perhatian khusus dikarenakan kompleksitas perawatannya, sehingga sebagian praktisi cenderung memilih pilihan yang lebih mudah dengan mencabut gigi yang transposisi. Tindakan ini memberikan efek yang irreversible dan dapat merugikan pasien. Tujuan. Memberikan informasi tentang perawatan kasus transposisi gigi unilateral gigi insisivus lateraldan caninus regio kiri maksila pada maloklusi kelas III skeletal crossbite dan deepbite dengan alat cekat sistem straight wire. Kasus. Pasien laki-Iaki berusia 24 tahun, pekerjaan mahasiswa, datang ke klinik Orthodonsia FKG UGM. Pada pemeriksaan subjektif pasien merasa terganggu penampilannya diakibatkan gigi depan atas yang berjejal dan gigi bawah yang lebih maju daripada gigi atasnya. Diagnosis final adalah maloklusi kelas III skeletal dengan crossbite dan deepbite disertai transposisi lengkap gigi ! 2 dan ! 3. Penanganan. Reposisi gigi ! 2 dan ! 3 dilakukan secara bertahap, disediakan ruangan terlebih dahulu dengan distalisasi gigi ! 3, diikuti dengan rotasi dan labialisasi gigi ! 2. Maloklusi kelas III skeletal dengan crossbite dan deepbite dirawat dengan penggunaan peninggi gigitan posterior disertai retraksi regio anterior mandibula memanfaatkan ruangan yang ada. Kesimpulan. Perawatan transposisi gigi unilateral dari gigi insisivus lateral dan caninus pada regio kiri maksila kasus maloklusi kelas III skeletal dengan crossbite dan deepbite dapat dilakukan dengan menggunakan alat ortodontik cekat sistem straight wire dan meningkatkan estetik pasien. Pemilihan jenis perawatan dilakukan dengan mempertimbangkan usia pasien yang masih muda, hasil perhitungan determinasi lengkung yang mendukung, tingkat kooperatifitas pasien yang baik., dan pasien mengharapkan perawatan dapat dilakukan tanpa intervensi bedah.
Efek perendaman rebusan Daun Sirih Merah (Piper crocatum) terhadap kekerasan permukaan resin komposit Devi Puspita Handayani; Dewi Puspitasari; Nurdiana Dewi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.199 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11265

Abstract

The effect of immersion of decoction water of Red Betel Leaf (Piper crocatum) on the surface hardness of composite resin. The purpose of this study was to determine the effect of immersion of decoction water of red betel leaf on the surface hardness of composite resin compared to alcoholic mouth rinse. It was a pure experimental study with post-test only with control group design. The total samples were 27 samples divided into 2 treatment groups and 1 control group, each of which consisted of 9 samples. The treatment groups were immersed in the decoction water of red betel leaf and alcoholic mouth rinse. The control group was immersed in aquadest. After the immersion, the samples were measured using Vickers Micro hardness Tester. Analysis with one way anova and post hoc Bonferroni showed a significant difference (p<0.05) on the surface hardness of composite resin after being immersed in decoction water of red betel leaf(79,81±3,76) kg/mm2 and alcoholic mouth rinse (67,11±2,51) kg/mm2. Based on this research, it can be concluded that there was an effect of immersion of decoction water of red betel leaf if compared with alcoholic mouth rinse. The value of surface hardness of composite resin immersed in alcoholic mouth rinse was lower than the decoction water of red betel leaf.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek perendaman dalam rebusan daun sirih merah terhadap kekerasan permukaan resin komposit bila dibandingkan dengan obat kumur beralkohol. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan post-test only with control group design. Jumlah sampel sebanyak 27 yang dibagi dalam 2 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol dengan masing-masing kelompok sebanyak 9 sampel. Kelompok perlakuan direndam dengan air rebusan daun sirih merah dan obat kumur beralkohol. Kelompok kontrol direndam dengan akuades steril. Setelah itu dilakukan pengukuran menggunakan Vickers Microhardness Tester. Hasil uji One Way Anova dan Post Hoc Bonferroni menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna nilai kekerasan permukaan resin komposit yang direndam dengan air rebusan daun sirih merah (79,81±3,76) kg/mm2 dan obat kumur beralkohol (67,11±2,51) kg/mm2 dengan nilai kemaknaan (p<0,05). Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat efek lebih rendah pada perendaman dalam rebusan daun sirih merah terhadap kekerasan permukaan resin komposit bila dibandingkan dengan obat kumur beralkohol. Nilai kekerasan permukaan resin komposit yang direndam obat kumur beralkohol lebih rendah dibandingkan air rebusan daun sirih merah.
Perawatan Maloklusi Pseudo Kelas III dengan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Robertus Meidiyanto; Wayan Ardhana
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3084.574 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15414

Abstract

Latar Belakang: Maloklusi Pseudo kelas III ditandai dengan hubungan yang tidak harmonis antara relasi anteroposterior rahang dan posisi mandibula terhadap maksila. Ketidakharmonisan tersebut dapat disebabkan karena mandibula yang normal dengan maksila retrusif. Maloklusi pseudo kelas III mempunyai perhitungan yang menunjukkan bentuk antara klas I dan skeletal klas III. Perbedaanya hanya pada sudut gonial dimana pada skeletal klas III sudutnya lebih tumpul, sedangkan pada sampel pseudo klas III, sudut gonial lebih mirip dengan klas I. Perawatan ortodontik dengan alat cekat teknik Begg dapat juga untuk merawat maloklusi Angle kelas III, termasuk maloklusi skeletal yang menyertainya. Tujuan: memaparkan perubahan dental dan skeletal setelah perawatan dengan alat cekat teknik Begg. Kasus: perempuan 20 tahun mengeluhkan gigi-gigi rahang atas ada yang tumbuh di belakang dan rahang bawah nyakil sehingga menganggu penampilan dan mengurangi rasa percaya diri. Diagnosis: Maloklusi Angle Klas III subdivisi serta hubungan skeletal klas III dengan maksila retrusif dan mandibula protusif disertai Crossbite: 12, 11, 21, 22 terhadap 34, 32,31, 41, 42, 43. Perawatan: menggunakan alat cekat teknik Begg tanpa pencabutan. Kesimpulan: Hasil menunjukkan crowded terkoreksi, overjet dan overbite terkoreksi, relasi molar menjadi klas I. Background: Pseudo class III malocclusion characterized by disharmony between anteroposterior relationship of jaw and mandibulae position toward maxilla. This disharmony cause by normally shaped mandibles and underveloped maxillae. Pseudo clas III malocclusion is an intermediate form between class I and skeletal clas III malocclusion. The only exception was the gonial angle, which was generally more obtuse in the skeletal class III sample. Measurement of gonial angle in the pseudo class III sample was found to be rather similar to class I sample. Fixed Begg orthodontic appliance can be used to treat Angle’s class III malocclusion accompany with skeletal problem. Purpose: to describe dental and skeletal changes after begg fixed orthodontic. Case: 20 year old woman complained of crowded maxilla front teeth and mandible protrusion. Diagnosis: malocclusion Angle class III subdivision, skeletal class III with maxilla retruded and mandibular pronation along with anterior crossbite: 12, 11, 21, 22, to 34, 32, 31, 41, 42, 43. Treatment: using the Begg fixed appliance techniques without extraction. Conclusion: The result showed that crowded, overjet and overbite corrected, and molar relation become class I.
Efek antigenotoksik ekstrak etanolik daun sirsak (Annona muricata Linn) terhadap frekuensi mikronukleus mukosa bukal tikus Sprague Dawley Tyas Prihatiningsih; Tetiana Haniastuti; Dewi Agustina
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.329 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11794

Abstract

The effect of soursop leaves (Annona uricata linn) ethanolic extract on micronucleus frequency  of buccal mucosa epithelium of Sprague dawley rats. Polycyclic aromatic hydrocarbons is one of the largest  groups of carcinogen in environment. 7,12-Dimetillbez (α) antransena is a compound of PAH class that has genotoxic carcinogen potency. One of the most frequently applied genotoxicity tests is micronucleus test. Soursop is a plant that can grow well in Indonesia. Its leaves contain avonoid and acetogenin assumed to have potential chemopreventive and anticancer activities. The aim of this study was to assess the antigenotoxic effect soursop leaves ethanolic extraction the micronucleus frequency of DMBA-induced buccal mucosa of rat. This research was conducted on 24 male Sprague Dawley rats aged 5 weeks and divided into six groups. Carcinogenesis on the lingual dorsum of group I-III were induced by DMBA topically 3 times a week for 16 weeks, group II and III were not only induced by carcinogenesis, but also were given soursop leaves ethanolic extract of 100 and 200 mg/kg body weight for 18 weeks, group IV was given soursop leaves ethanolic extract 200 mg/kg body weight, group V was given DMSO 1% and group VI was given no treatment. After 18th week, buccal mucosa swab for micronucleus test was conducted and stained with Feulgen-Rossenbeck method. The number of micronucleus is calculated under a light microscope, data were analized using using one-way ANOVA followed by Tukey HSD. The result showed that the average of buccal micronucleus frequency of group II (13 ± 0.82) and group III (12 ± 0.96) were decrease signicantly (p<0,05) than group I (24 ± 1.71). From the experiment,   it is concluded that the soursop leaves ethanolic extract has antigenotoxic effect shown by decreasing of the buccal micronucleus frequency of rat.ABSTRAKPolycyclic aromatic hydrocarbon atau PAH merupakan salah satu kelompok karsinogen terbesar di lingkungan. 7,12-Dimetillbez(α)antransena merupakan senyawa golongan PAH yang bersifat karsinogen genotoksik. Salah satu uji genotoksisitas yang paling sering dilakukan adalah uji mikronukleus. Sirsak merupakan tanaman yang tumbuh baik di Indonesia. Daun sirsak mengandung avonoid dan acetogenin yang diduga mempunyai potensi kemopreventif dan aktivitas antikanker. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji efek antigenotoksik ekstrak etanolik daun sirsak terhadap frekuensi mikronukleus mukosa bukal tikus galur Sprague Dawley yang diinduksi dengan DMBA. Penelitian ini dilakukan pada 24 tikus Sprague Dawley jantan berumur 5 minggu yang dibagi secara acak dalam 6 kelompok. Karsinogenesis dorsum lidah tikus kelompok I – III diinduksi dengan DMBA secara topikal 3 kali dalam seminggu selama 16 minggu, kelompok II dan III selain diinduksi karsinogenesis, juga diberi ekstrak etanolik daun sirsak 100 dan 200 mg/kg BB setiap hari selama 18 minggu dan kelompok IV diberi ekstrak etanolik daun sirsak 200 mg/kg BB, kelompok V diberi DMSO 1% dan kelompok VI tidak diberi perlakuan. Setelah minggu ke-18, swab mukosa bukal dilakukan untuk uji mikronukleus kemudian sampel dicat dengan metode Feulgen-Rossenbeck. Jumlah mikronukleus dihitung di bawah mikroskop cahaya per 500 sel epitel mukosa bukal, lalu data dianalisis menggunakan one way ANOVA diikuti Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata frekuensi mikronukleus kelompok II (13 ± 0,82) dan kelompok III (12 ± 0,96) mengalami penurunan secara signikan (p<0,05) dibanding kelompok I (24 ± 1,71). Disimpulkan bahwa ekstrak etanolik daun sirsak mempunyai efek antigenotoksik yang ditunjukkan dengan penurunan frekuensi mikronukleus sel epitel mukosa bukal tikus.
Protesa Maksilofasial Thermoplastic Nylon (Valplast) dengan Hollow Bulb (Klas III Aramany palate schisis hereditary) A. Azhindra; Haryo Mustiko Dipoyono; Titik Ismiyati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.656 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15648

Abstract

Latar Belakang: pada penderita palato schisis (celah langit-langit)yang disebkan hereditary atau bawaan lahir terlihat defect yang menyebabkan gangguan bicara (sengau), penelanan, pengunyahan, estetik, dan psikologis. Untuk dapat mencapai fungsi bicara, fungsi mengunyah dan fungsi estetika diperlukan protesa untuk menutup celah tersebut. Tujuan: untuk meninformasikan cara rehabilitas defect atau cacat pada wajah dengan protesa maksilofasial thermoplastic nylon dengan hollow buib yang berguna untuk mengembalikan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, estetik dan psikologis penderita. Kasus dan penanganan: pasien pria berusia 46 tahun dating ke RSGM Prof. Soedomo atas rujukan dari poli RS. Dr. Sardjito. Saat datang pasien terganggu berbicara, menguyah dan menelan disebkan adanya celah langit-langit terbuka dan merupakan kelainan bawaan. Pasien kehilangan banyak gigi terutama pada gigi posterior pada rahang atas dan ingin dibuatkan gigi tiruan. Obturator ini dibuat segera dengan mempertimbangkan penutupan celah langit-langit, menggunakan bahan yang lebih ringan (menggunakan hoolow bulb) agar keluhan pasien dapat diatasi didesain alat yang mempunyai retensi maksimal dan mengembalikan pengunyahan, fungsi bicara, penelanan, estetis dan psikologis sehingga pasien akan akan mempunyai bentuk wajah yang mendekati normal. Hollow bulb adalah rongga yang dibuat pada protesa maksilofasial untuk menutup rongga mulut, rongga hidung dan defect. Pada waktu insersi diperiksa retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan pengucapan. Kontrol dilakukan 1 minggu dan 1 bulan setelah pemakaian. Hasil pemeriksaan dan evaluasi setelah 1 minggu dan 1 bulan setelah pemakaian protesa maksilofasial hollow bulb didapatkan hasil dengan retensi, stabilisasi, olusi dan pengucapan lebih baik. Kesimpulan: setelah menggunakan protesa maksilofasial thermoplastic nylon dengan hollow buib pada penderita palato scisis, pasien dapat berbicara dan mengunyah dengan normal. Protesa maksilofasial hollow bulb thermoplastic nylon juga dapat mengembalikan estetik yang maksimal sehingga pasien dapat menambah kepercayaan dirinya serta mengembalikan keadaan psikologi pasien yang telah lama menurun. Background: patients with palato schisis (clelf palate) due to hereditary or congenital defect will be seen that cause speech disorders (nasal), swallowing, mastication, esthetic and psychological. Purpose: to inform the way rehabilitation defect in the face with a maxillofacial prosthesis thermoplastic nylon with hollow bulb that is useful to restore the fuction of speech, swallowing, mastication, esthetics, and psychiatric patients. Case and handling:  46-yearold male patient came to RSGM Prof. Soedomo referral from Dr. Sardjito hospital. When patient come to feel annoyed talking, chewing ang swallowing due to the precence cleft palate is open and is a congential abnormality accompanied with loss of many teeth. Obturator is made immediately by considering the closure of cleft palate, using a lighter material (using a hollow bulb) with retention, stabilization and occlusion of the right and restore normal nendekati face shape. Hollow bulb is a cavity created in maxillofacial, prosthesis, to close the oral cavity, nasal cavity and the defect.at the time of insetation examined retention, stabilization, occlusion, esthetics and pronunciation. Control was performed 1 week and 1 month after application. The results of the examination and evaluation after 1 week and 1 month after the use of hollow bulb know maxillofacial prostheses retentation, stabilization, occlusion and better pronunciation. Conclusion:  maxillofacial prostheses after using thermoplastic nylon with hollow bulb in patients with palate scisis, patients can speak and chew normaly. Maxillofacial prostheses nylon thermoplastic hollow bulb can also restore the maximum aesthetic, especially in the lose of anterior teeth with retention or grip that can mimic the gingival so the patient increase self confidence and restore the patient’s psychological state that has longbeen declined.
Efek Radiasi Ionisasi terhadap Ekspresi mRNA Aquaporin-5 Kelenjar Submandibularis dan mRNA Aquaporin-3 Gingiva hal 15-20 Kwartarini Murdiastuti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6515.547 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16449

Abstract

Latar Belakang. Aquaporin-5 (AQP5) di kelenjar submandibularis adalah salah satu anggota protein transmembran/ aquaporins (AQPs) yang memfasilitasi gerakan saliva sehingga mampu melewati membran sel. Di gingiva juga terekspresi aquaporin-3 (AQP3) yang diperkirakan juga berperan penting untuk memfasilitasi cairan sulkus gingiva sehingga dapat melewati jaringan ini. Sampai saat ini masih sedikit sekali informasi tentang dampak penggunaan radiasi ionisasi terhadap ekspresi aquaporins (AQPs), yang mendasari terjadinya xerostomia. Melalui pendekatan patologi molekuler, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek radiasi ionisasi terhadap ekspresi mRNA AQP5 pada kelenjar submandibula dan mRNA AQP3 gingiva. Metodologi. Penelitian dilakukan pada 20 Rattus novergicus keturunan kedua, sehat, jantan, usia 3-4 bulan, berat badan ± 200 gr kemudian dibagi 2 kelompok, tanpa radiasi dan dengan radiasi C060dosis 10 gray pada ventral tikus. Pengambilan kelenjar submandibularis, dan gingiva dengan pembedahan. Seluruh sampel yang terkumpul dilakukan isolasi RNA dan dilanjutkan dengan pemeriksaan RT-PCR. Hasil. Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan gambaran ketebalan band/pita ketika dibatasi oleh primer untuk identifikasi ekspresi mRNA AQP-5 kelenjar submandibularis tikus serta ekspresi mRNA AQP3 gingiva tikus akibat radiasi ionisasi 10 Gy. Kesimpulan. Terdapat penurunan ekspresi mRNA AQP5 kelenjar submandibula dan mRNA AQP3 gingiva akibat radiasi ionisasi ekspresi mRNA AQP5 pada kelenjar submandibula dan mRNA AQP3 gingiva.
Apeksifikasi Akibat Trauma Menggunakan Kalsium Hidroksida pada Anak Umur 8 Tahun Dewi Elianora; Putri Kusuma Wardhani Mahendra; Siti Bale Sri Rantinah
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1237.16 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16018

Abstract

Kasus trauma banyak terjadi pada gigi permanen muda. Salah satu perawatan yang dilakukan adalah dengan apeksifikasi, dan bahan yang sering dipakai adalah kalsium hidroksid. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk mengevaluasi keberhasilan dari apeksifikasi. Dilaporkan anak dengan usia 8 tahun yang mengalami trauma pada gigi 21. Keadaan gigi non vital, pemeriksaan radiografi menunjukkan terdapat area radiolusen pada ujung akar dan terlihat ujung akar masih terbuka. Dilakukan apeksifikasi dengan mengunakan bahan kalsium hidroksida. Evaluasi dengan pemeriksaan radiografi setelah 3 bulan menunjukkan hilangnya area radiolusen dan ujung akar sudah menutup. Evaluasi 6 bulan terdapat pertambahan panjang akar.
Penentuan konsentrasi stainless steel 316L dan kobalt kromium remanium GM-800 pada uji GPMT Ikmal Hafizi; W. Widjijono; Marsetyawan Heparis Nur Ekandaru Soesatyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.181 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11386

Abstract

Concentration determination of stainless steel 316L and cobalt chromium remanium GM - 800 on GPMT test. Dentistry had used metals such as cobalt chromium and stainless steel in maxillofacial surgery, cardiovascular, and as a dental material. 316L stainless steel is austenistic stainless steel which has low carbon composition to improve the corrosion resistance as well as the content of molybdenum in the material. Cobalt chromium (CoCr) is a cobaltbased alloy with a mixture of chromium. Density of a metal cobalt chromium alloy is about 8-9 g/cm3 that caused metal interference relatively mild. Remanium GM-800 is one type of a cobalt chromium alloy with the advantages of having high resistance to fracture and high modulus of elasticity. This study aims to determine the exact concentration used in 316L stainless steel and cobalt chromium GM-800 as the GPMT test material. Subjects were cobalt chromium Remanium GM-800 and 316L stainless steel concentration of 5%, 10%, 20%, 40% and 80%. Patch containing stainless steel or cobalt chromium paste was af xed for 24 hours each on three experimental animals, then the erythema and edema were observed using the Magnusson and Kligman scale. In the study, concentration of 5% is the concentration recommended for stainless steel 316L and cobalt chromium GM-800 as material in challenge phase GPMT test, while the concentration of 40% is the concentration recommended for stainless steel 316L and cobalt chromium GM-800 in the induction phase.ABSTRAKDunia kedokteran gigi banyak menggunakan logam pada pembedahan maxillofacial, cardiovascular, dan sebagai material dental. Logam yang banyak digunakan antara lain adalah kobalt kromium dan stainless steel. Stainless steel 316L merupakan austenistic stainless steel yang memiliki komposisi karbon rendah sehingga dapat meningkatkan ketahanan terhadap korosi sama halnya dengan kandungan molybdenum pada material tersebut. Kobalt kromium (CoCr) adalah cobalt-based alloy dengan campuran chromium. Kepadatan (density) dari logam campur kobalt kromium adalah sekitar 8-9 gram/cm3 menyebabkan logam campur ini relatif sangat ringan. Remanium GM-800 merupakan salah satu jenis alloy kobalt kromium dengan kelebihan memiliki resistensi terhadap fraktur yang tinggi serta modulus elastisitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi tepat yang digunakan pada stainless steel 316L dan kobalt kromium GM-800 sebagai bahan uji GPMT. Subjek penelitian adalah kobalt kromium Remanium GM800 dan stainless steel 316L konsentrasi 5%, 10%, 20%, 40%, dan 80%. Patch berisi pasta stainless steel atau kobalt kromium ditempelkan selama 24 jam masing-masing pada 3 hewan coba, selanjutnya dilakukan observasi eritema dan edema dengan menggunakan skala Magnusson dan Kligman. Pada penelitian, konsentrasi 5% merupakan konsentrasi yang direkomendasikan untuk stainless steel 316L dan kobalt kromium GM-800 sebagai konsentrasi tahap challenge uji GPMT, sedangkan konsentrasi 40% merupakan konsentrasi yang direkomendasikan untuk logam stainless steel 316L dan kobalt kromium GM-800 tahap induksi.