cover
Contact Name
Samuel M. Simanjuntak
Contact Email
smsimanjuntak@unai.edu
Phone
+6281296081331
Journal Mail Official
smsimanjuntak@unai.edu
Editorial Address
-
Location
Kab. bandung barat,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Skolastik Keperawatan (e-Journal)
ISSN : 24430935     EISSN : 24431699     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Scope Medical-Surgical Nursing Critical Care Nursing Psychiatric Nursing Nursing Management Community Nursing Nursing Education Pediatric & Obstetric Nursing Transcultural Nursing Gerontic Nursing
Articles 183 Documents
Hubungan Dukungan Sosial Dengan Depresi Pada Siswa/I Sekolah Menengah Atas Di Samarinda Risa Putri Amalia
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 12 No 01 (2026): Januari-Juni
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35974/rn924f82

Abstract

Dukungan sosial berperan dalam memengaruhi kondisi kesehatan fisik dan mental individu, serta perilaku sehari-hari. Selain itu, dukungan sosial turut membantu kemampuan pengendalian diri, proses perkembangan pribadi, dan upaya pencegahan munculnya depresi. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan dukungan sosial dengan tingkat depresi pada siswa/i Sekolah Menengah Atas (SMA) Di Samarinda. Metode penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa/i SMA di Samarinda sebanyak 18.191 siswa. Sampel penelitian menggunakan rumus Daniel (1999) didapatkan 1.626 responden yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk mengukur dukungan sosial, dan Center for Epidemiologic Studies Depression Scale Revised (CESD-R) untuk menilai tingkat depresi. Analisa data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi statistik dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dengan tingkat depresi pada siswa/i SMA di Samarinda dengan nilai (p =-0,224: < 0,001). Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sosial semakin tinggi, maka semakin rendah terjadinya depresi pada siswa/i.
Mental Health Interventions for Refugees and Forcibly Displaced Populations, 2020–2025: An Integrative Review of Effectiveness, Implementation, and Nursing Implications Grace Elisaria; Jonathan Tobing
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 12 No 01 (2026): Januari-Juni
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35974/8k82bj63

Abstract

Background: Refugees and forcibly displaced populations are at increased risk of depression, post-traumatic stress disorder, anxiety, and functional impairment due to pre-migration trauma, displacement, and post-migration stressors. Mental health interventions for this population require cultural adaptation, accessibility, and feasible implementation in resource-limited settings. Objective: This review aimed to synthesize recent evidence on the types, effectiveness, and implementation factors of mental health interventions for refugee populations. Methods: An integrative review was conducted using articles published between 2020 and 2025. Searches were performed in PubMed, Scopus, Web of Science, and Google Scholar. Studies were included if they involved refugees, asylum seekers, or forcibly displaced populations and examined mental health interventions or their implementation. Data were extracted on study design, population, intervention type, outcome measures, key findings, and implementation factors. Results: Ten studies were included. The interventions identified included WHO-developed psychological programs, trauma-focused therapy, empowerment group therapy, integrated mental health and employment services, school-based music therapy, and mental health literacy programs. Several interventions showed short-term benefits in reducing depression, PTSD symptoms, psychological distress, and functional impairment. However, evidence on long-term sustainability remained limited. Cultural adaptation, linguistic support, task-shifting, service integration, and organizational capacity were identified as important implementation facilitators, while stigma, limited specialist availability, unstable living conditions, and funding constraints were common barriers. Conclusion: Mental health interventions for refugees show promising short-term effectiveness, particularly when culturally adapted and integrated into existing service systems. For nursing practice, the findings highlight the importance of culturally responsive screening, psychoeducation, referral, community engagement, and long-term follow-up. Future studies should strengthen long-term evaluation, implementation research, and nursing-specific intervention models.
PENDEKATAN KEPERAWATAN TERHADAP KELUARGA DENGAN ANAK SPEECH DELAY TERHADAP RESPONS WICARA DAN PERHATIAN Ripky Mulyanto; Samuel M Simajuntak
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 12 No 01 (2026): Januari-Juni
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35974/brjejc67

Abstract

Gangguan terlambat bicara atau speech delay merupakan kondisi keterlambatan perkembangan kemampuan berbicara pada anak berbanding anak-anak di usia yang sama pada umumnya. Gangguan ini dapat memberikan pengaruh pada perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak karena hambatan dalam berkomunikasi. Banyak keluarga-keluarga dengan anak speech delay masih membutuhkan arahan pengetahuan dan kemampuan dalam mendampingi anak mereka bertumbuh dengan speech delay. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan quasi experimental dalam menguji penerapan pendekatan keperawatan keluarga dalam mendampingi orangtua merawat anak dengan speech delay. Subjek penelitian ini adalah keluarga dengan anak speech delay, perubahan kemampuan wicara dan perhatian anak dengan speech delay. Sepuluh keluarga dengan anak speech delay  dipilih secara purposive karena keterbatasan populasi keluarga dengan anak speech delay. Respons wicara dan respons perhatian anak speech delay dikaji dengan menggunakan early language milestone scale (ELM) dan Join Text Attention Task script (JTAT). Hasil: belum cukup bukti untuk menolak hipotesis bahwa tidak terdapat perbedaaan yang signifikan dalam pada respons wicara dan perhatian anak dengan speech delay anatar sebelum dan setelah mengikuti asuhan keperawatan keluarga. Diskusi: Hasil penelitian ini menunjukkan perlu asuhan keperawatan pendampingan pada keluarga dengan anak speech delay secara berkelanjutan untuk dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan kognitif, sosial dan emosional anak dengan speech delay.