cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 115 Documents
TRADISI KATOBA SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI TRADISIONAL DALAM MASYARAKAT MUNA (PERSPEKTIF KOMUNIKASI RITUAL) Hadirman Hadi
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 20, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33299/jpkop.20.1.473

Abstract

 AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk praktik komunikasi ritual dalam tradisi katoba pada masyarakat Muna dan menemukan fungsi-fungsi tradisi katoba sebagai media tradisional dalam praktik komunikasi ritual pada masyarakat Muna. Landasan teori yang digunakan adalah ritual katoba, media tradisional, dan komunikasi ritual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif.Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Muna menggunakan tradisi katoba sebagai media komunikasi tradisional mereka. Tradisi ini telah memenuhi elemen dasar dalam komunikasi, serta dalam praktiknya merupakan refleksi dari komunikasi ritual. Fungsi tradisi katoba pada masyarakat Muna, yakni (1) fungsi pembawa informasi (pesan), fungsi pendidikan, dan fungsi transmisi warisan sosial.Kata kunci: katoba, masyarakat Muna, media komunikasi tradisional, komunikasi ritual AbstractThis study aimed to describe the form of ritual communication practices in the tradition of katoba in Muna community and to find functions tradition of katoba as traditional media in the practice of ritual communication in Muna community. The theoretical frame work that the researcher used are the ritual of katoba, traditional media, and communication ritual. This research used a qualitative method.Based on the results of research it founded that people using tradition of katoba in Muna community as their traditional communication media. This tradition has fulfilled a basic element in communication, as well as in practice is a reflection of ritual communication. The functions katoba tradition in Muna community, namely (1) the information carrier function (message), the function of education, and social legacy transmission function.Keywords: katoba, Muna community, traditional communication media, ritual communication
PREDIKSI KEHADIRAN MENGGUNAKAN METODE KLASIFIKASI NAÏVE BAYES, ONE-R, DECISION TREE Bahrawi As'ad
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 20, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33299/jpkop.20.1.563

Abstract

AbstrakProses mencari pola atau informasi yang berguna pada suatu kumpulan data dengan menggunakan metode tertentu, saat ini telah menjadi topik yang menarik. Salah satu manfaatnya yaitu dapat menunjang pengambilan keputusan dalam suatu organisasi baik itu organisasi profit maupun non profit. Pada makalah ini akan dilakukan pengujian terhadap sekumpulan data yang diambil dari kejadian nyata untuk diolah, guna mendapatkan informasi atau pola yang dapat berguna untuk penentuan pengambilan sebuah keputusan. Pengujian pada makalah ini merupakan prediksi terhadap pengguna jasa sebuah operator seluler akan kehadirannya pada suatu acara berdasarkanbeberapa indicator, cuaca, jarak relative terhadap lokasi acara, serta apakah pengguna jasa tersebut merupakan termasuk pelanggan pasca bayar atau tidak. Pengujian dilakukan dengan menggunakan tiga metode klasifikasi, yakni naïve bayes, decision tree, dan oneR. Hasil dari percobaan ini bisa menunjukkan prediksi dari setiap percobaan dengan tingkat akurasi prediksi yang berbeda-beda disetiap metode yang digunakan.Kata kunci :  Penambangan data, klasifikasi, naïve bayes, oneR, pohon keputusan. AbstractThe searching process for a pattern or useful information in a data set using a particular method, has now become a interesting topics. One of benefits is to support decision making in an organization event profit organizations or non-profit organizations. In this paper will be tested to a dataset taken from real events to be processed, in order to get information or a pattern that can be useful for the decision-making. Testing in this paper is the prediction users mobile service of his presence at an event based on several indicators, the weather, the distance relative to the location of the event, as well as whether the user services are included postpaid subscribers or not. Testing conducted by using three classification methods; Naive Bayes, Decision Tree, and Oner. The results of the experiments are able to show prediction of each trial with different accuracy on every method used.Keywords : Data mining, classification, naïve bayes, oneR, decision tree.
INTERNET TECHNOLOGY DISRUPTION AND THE PRINT MEDIA EXICTENCE Karman ,
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 21, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik - Desember 2017
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.113 KB) | DOI: 10.33299/jpkop.21.2.951

Abstract

AbstrakInternet mendorong terciptanya masyarakat informasi. Karakteristiknya antara lain: digital, convergence, manipulable, networkable, demassification. Ia memberikan disruptive terhadap eksistensi media cetak, tergambar dalam metafor "senjakala". Tulisan ini membahas (1) perkembangan teknologi informasi (internet) dan karakteristiknya; 2) dampaknya bagi eksistensi media cetak. Artikel ini membahas internet memberikan dampak bagi media cetak sehingga menjadi bersifat pribadi, narrowcasting, bukan lagi broadcasting. Hadirnya teknologi media baca di internet seperti www, bahasa pemprograman, content management system, dan dukungan free software/open source memberdayakan pengguna internet. Sebenarnya, media cetak mendapat keuntungan dengan adanya internet (efesiensi dan efektivitas dalam produksi berita). Di lain sisi, internet memberikan tantangan, yaitu bagaimana media cetak tetap eksis di tengah kecenderungan global meningkatnya penggunaan media online. Terkait kepentingan kebijakan publik, kami menyarankan agar (1) tumbuhnya penggunaan media online diimbangi langkah untuk menangani kejahatan dunia maya dan isu privasi; (2) memastikan agar perkembangan media selaras dengan tujuan pembangunan masyarakat.Kata kunci :  disruptif, teknologi internet, media cetak. AbstractInternet enables peoples to be a part of information society. Internet has characteristics e.g., digital, convergence, manipulable, networkable, demassification. It gives disruption towards existence of print media. The effect is illustrated by metaphor of "nightfall" to describe its decline. This paper will discuss (1) the development of information technology (internet) and its characteristics; 2) the impact towards the print media existence. We deal with that the internet gives an effect to the mass media so that they turn into private or narrowcasting, instead of broadcasting. The presence of technology of reading-media in the internet, such as www, programming language, content management system, and free software / open source etc empowers internet’s users. Actually, print media get advantages from the internet e.g. efficiency and effectiveness in news production. On the other hand, it provides a challenge, that is: how mass media exist in the global trend of increasing use of online media and vice-versa. Regarding public policy, we suggest that (1) the growth of online media usage should be redressed by measures to anticipate and handle cyber-crime and privacy issues; (2) the development of online media should be in line with the development goals.Keywords: disruptive, internet technologu, print media.
PUBLIC AGENCY PERFORMANCE IN THE IMPLEMENTATION PUBLIC INFORMATION DISCLOSURE Act IN YOGYAKARTA SPECIAL REGION Daru Nupikso
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 21, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik - Juli 2017
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.439 KB) | DOI: 10.33299/jpkop.21.1.961

Abstract

Public Information Disclosure Act (UU KIP) is valid since 2010, and public bodies throughout Indonesia are required to implement it in accordance with established provisions. In essence, UU KIP is a manifestation of human rights in obtaining information which one of its aims is to encourage public participation in the process of public policy making. The United Nations (UN) states, to achieve community participation is required three stages, and information disclosure is the initial stage and for Indonesia it is identical with the implementation of UU KIP. This research will answer how far the performance of public bodies in implementing KIP Law. With the mixed method, that is quantitative (survey and content analysis) and qualitative (interview and observation), this research uses Sekuensial Eksplanatoris strategy. The results of the study mention the performance of public bodies are categorized as being. Information on public budgets is still very low, public bodies are better vertical than other public bodies. In general, public bodies have not been able to properly implement public information disclosure due to resource and commitment factors. In addition, the emergence of regulatory disharmonization among policy makers contributed to weakening the implementation performance of UU KIP. Keywords: Openness, Freedom of Information Law, Public Agencies    Undang Undang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) berlaku sejak tahun 2010, dan badan publik di seluruh Indonesia wajib mengimplementasikannya sesuai dengan ketentuan yang telah dibuat. Secara hakiki, UU KIP merupakan perwujudan hak asasi manusia dalam memperoleh informasi yang salah satu tujuannya adalah mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebutkan, untuk mewujudkan partisipasi masyarakat tersebut diperlukan tiga tahapan, dan keterbukaan informasi merupakan tahap awal dan bagi Indonesia hal ini identik dengan implementasi UU KIP. Penelitian ini akan menjawab sejauhmana kinerja badan publik dalam  mengimplementasikan UU KIP. Dengan metode campuran, yaitu kuantitatif  (survey dan analisis isi) dan kualitatif (wawancara dan observasi), penelitian ini menggunakan strategi Eksplanatoris Sekuensial. Hasil penelitian menyebutkan kinerja badan publik dikategorikan sedang. Informasi mengenai anggaran publik masih sangat rendah, badan publik vertikal lebih baik dibanding badan publik lainnya. Secara umum badan publik belum mampu mengimplementasikan keterbukaan informasi publik secara baik karena faktor sumber daya dan komitmen. Selain itu, munculnya disharmonisasi regulasi di antara pengambil kebijakan ikut memperlemah kinerja implementasi UU KIP.   Kata kunci: Keterbukaan, UU KIP, Badan Publik  
IMPLEMENTATION OF E-GOVERNMENT STRATEGIES In PAREPARE CITY USING CASSIDY MODEL AND DIMENSIONS OF INDONESIA E-GOVERNMENT RANKING - IMPLEMENTASI STRATEGI E-GOVERNMENT KOTA PAREPARE MENGGUNAKAN MODEL CASSIDY DAN DIMENSI PEMERINGKATAN E-GOVERNMENT INDONESIA (PeGI) Firdaus Masyhur
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 20, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33299/jpkop.20.2.638

Abstract

The development of e-Government in Indonesia has started since 2003, but progress has not been able to answer the challenges and needs of the community as well as pressure from the pace of technological development. This study is an effort to strategize the implementation of e-Government in Parepare to realize governance with the effective use of information technologyin accordance with the vision of Parepare to be a cyber city. The method used is the combination of Cassidy Model and Dimensionsof PeGI. The dimensions is used to limiting the scope and direct the process and results to produce a strategy implementation of comprehensive e-Government. Bureaucratic Reform Program is also used as a reference, especially in managing the business processes of public services in the Parepare City.This study generates recommendations from the policy, institutional, applications, infrastructure, and planningdimensions.This strategy was later embodied in the policy of the Master Plan for Information and Communication Technology (RITIK) Parepare guiding along Bureaucracy Reform Team and Unit of Work in the Field of Communication and Information.Keywords:e-Government, Cassidy Model, PeGI, Bureaucracy ReformPengembangan e-Government di Indonesia telah dimulai sejak tahun 2003, namun perkembangannya hingga saat ini belum mampu menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat serta tekanan akibat laju perkembangan teknologi yang sangat pesat. Penelitian ini merupakan upaya dalam menyusun strategi implementasi e-Government di Kota Parepare untuk mewujudkan pemerintahan dengan pemanfaatan teknologi informasi yang efektif sesuai dengan visi Kota Parepare untuk menjadi kota cyber. Metode yang digunakan mengkombinasikan Model Cassidy dan Dimensi PeGI. Dimensi-dimensi PeGI digunakan untuk membatasi rung lingkup serta mengarahkan proses dan hasil penelitian sehingga menghasilkan sebuah strategi implementasi e-Government yang komprehensif. Program Reformasi Birokrasi juga dijadikan acuan implementasi khususnya dalam menata proses bisnis layanan publik yang ada di Kota Parepare. Penelitian ini menghasilkan rekomendasi dari dimensi kebijakan, kelembagaan, aplikasi, infrastruktur, dan perencanaan. Strategi ini kemudian diwujudkan dalam kebijakan Rencana Induk Teknologi Informasi dan Komunikasi (RITIK) Kota Parepare yang dijadikan pedoman bersama Tim Reformasi Birokrasi dan Unit Kerja di Bidang Komunikasi dan Informatika. Kata Kunci: e-Government, Model Cassidy, PeGI, Reformasi Birokrasi
MICRO-CELEBRITY ON NEW MEDIA SELF-PRESENTATION STUDY ON MICRO-CELEBRITY’S VLOG Lidwina Mutia Sadasri
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 21, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik - Desember 2017
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.524 KB) | DOI: 10.33299/jpkop.21.2.1218

Abstract

AbstrakPerkembangan media komunikasi saat ini makin memberi ruang bagi pengembangan diri secara individu, salah satunya adalah pemanfaatan media baru, internet, dalam beragam bentuk self-presentation. Bentuk presentasi diri di media sosial online pun makin beragam dengan pelaku yang tak hanya orang ternama yang populer di media massa. Hal ini dikarenakan karakteristik media baru yang memampukan beragam pengguna untuk dapat masuk dan berpartisipasi dalam percakapan di dunia maya, tak terkecuali kaum awam. Pun dengan adanya demotic turn, seperti yang dinyatakan Turner (2010), kaum awam dapat meningkatkan visibilitasnya, salah satunya dapat dilihat dengan label micro-celebrity (Senft, 2008) yang dapat disandang seseorang atas popularitasnya di media baru.Video blogging sebagai salah satu bentuk perkembangan konten di media baru, makin marak dimanfaatkan sebagai media mempresentasikan diri oleh micro-celebrity. Bahkan, YouTube sebagai salah satu bentuk jejaring sosial dengan platform video, telah dilabeli sebagai situs web paling populer di Inggris sejak November 2007 (Burgess & Green, 2009). Tak hanya penggunaan yang makin masif, namun konten yang sangat beragam, bahkan cenderung kontroversial, menjadikan fenomena ini makin menarik untuk dikaji. Salah satu pertanyaan yang timbul akibat fakta tersebut adalah bagaimana self-presentation dipraktikkan di media baru oleh micro-celebrity melalui video-blogging, salah satunya yang dilakukan oleh Karin Novilda, seorang micro-celebrity dengan 200,000 subscribers di YouTube. Fenomena tersebut akan dianalisis menggunakan kajian literatur dan menghasilkan sejumlah titik simpul antara lain elemen praktik selebriti yang dilakukan Karin Novilda, mulai dari pengelolaan penggemar sampai afiliasi dengan selebriti lain, serta tipe self-presentation yang dikembangkan oleh Karin Novilda  sebagai kreator konten, yakni acquisitive.Kata kunci :  selebriti mikro, presentasi diri, video blogging, YouTube AbstractThe development of communication media is giving a space to self-development as an individual, such as new media’s usage, internet, on many kinds of self-presentation. The type of self-presentation of online social media is more diverse with its actors is not only a popular person on mass media. This is the consequences of new media characteristics that empower many users that could involve and participate on virtual world, including ordinary people. With the rise of demotic turn, as Turner (2010) said, ordinary people could increase its visibility, one of them could be seen with the label as micro-celebrity on new media (Senft, 2008). Nowadays, video blogging as one of a king of content development on new media, is highly used as a media to present themselves as micro-celebrity. Moreover, YouTube as a kind of video-platform social network is labelled as a most popular websites at England since November, 2007 (Burgess & Green, 2009). Not only the massive usage of it, but the various content that tend to be controversial, makes this phenomena is more interesting to be analyzed, one of them is practiced by Karin Novilda, who had 20,000 YouTube’s subscribers. One of the question that arise related to the fact is that how self-presentation is practiced on new media by micro-celebrity through video-blogging. The phenomena could be analyzed with literature review and points out some tendency that are celebrity practiced that performed such as fan base management untuk affiliation with other celebrity and the type of acquisitive self-presentation that developed.Keywords : micro-celebrity, self-presentation, video blogging, YouTub
PEACE JOURNALISM IN NEWS TOLIKARA RELIGION CONFLICT IN TEMPO.CO - JURNALISME DAMAI DALAM BERITA KONFLIK AGAMA TOLIKARA DI TEMPO.CO Christiany Juditha
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 20, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33299/jpkop.20.2.642

Abstract

Conflicts that lead to violence between religious groups occurred in Tolikara, Papua in 2015. These events coincided during the celebration of Eid al-Fitr. Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) UGM reported at the beginning of these events occur, the news appeared in the media in part still needs to be verified. Some are within the limitations of the information precisely to provoke further towards inter-religious conflict. Though the mass media should still need to implement the peace journalism in reporting. The purpose of this study was to obtain an overview of the implementation of the peace journalism in the news about religious conflict of Tolikara in Tempo.co. This study uses a quantitative content analysis. The results showed that most of the news published in Tempo.co orientation leads to peace. The majority of news highlights the root of the problem, as well as featuring many wise leaders outside the circle of conflict. Tempo.co are less likely to show the perpetrators of conflict, and the description of the conflict as a mirror losses for peace. Even for the source or the people who were directly involved in the conflict did not exist (community orientation). Opinion on the orientation of the truth is not found. While the orientation of the completion of the solutions offered relatively more.  Keywords: Journalism peaceful, news, religious conflicts led, online media.Konflik yang mengarah pada kekerasan antar umat beragama terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua pada 2015. Peristiwa ini bertepatan saat perayaan Hari Raya Idul Fitri.  Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) UGM melaporkan di awal peristiwa ini terjadi, berita-berita yang muncul di media massa sebagian masih perlu diverifikasi. Sebagian lagi dalam keterbatasan informasi justru melakukan provokasi lebih jauh terhadap konflik antar agama. Padahal semestinya media massa tetap harus menerapkan jurnalisme damai dalam pemberitaannya. Tujuan  penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang penerapan jurnalisme damai dalam berita tentang konflik agama Tolikara di Tempo.co. Penelitian ini  menggunakan metode analisis isi  kuantitatif.  Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar berita yang dimuat di Tempo.co  mengarah pada orientasi perdamaian. Mayoritas berita menonjolkan  akar masalah, serta banyak menampilkan tokoh bijak di luar lingkaran konflik. Tempo.co cenderung kurang menampilkan pelaku konflik, serta gambaran kerugian konflik sebagai cermin untuk perdamaian. Bahkan untuk sumber atau orang-orang yang terlibat langsung dalam konflik sama sekali tidak ada (orientasi masyarakat). Opini pada orientasi kebenaran juga tidak ditemukan. Sedangkan orientasi penyelesaian solusi yang ditawarkan relatif lebih banyak.Kata kunci:  Jurnalisme damai, berita, konfik agama, media online
NEWS BANDUNG MINANGKALA FESTIVAL 2016 IN ONLINE MEDIA Syarif Budhi Rianto
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 21, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik - Desember 2017
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.002 KB) | DOI: 10.33299/jpkop.21.2.1104

Abstract

Abstrak                   Promosi wisata Kota Bandung melalui Minangkala Bandung Festival (MBF) di media online merupakan strategi untuk meningkatkan kunjungan wisata. Penelitian ini bertujuan menganalisis isi pemberitaan MBF di media online selama kurun waktu Agustus-Oktober 2016, dengan fokus kajian mendeskripsikan  pemaknaan pesan yang disampaikan dalam promosi wisata  Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah teknik analisis isi  dengan pendekatan kuantitatif, selanjutnya melakukan interpretasi data pemberitaan dalam substansi destination branding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi wisata melalui MBF 2016 telah memuat lima tahapan destination branding, dimana prosentase terbanyak adalah yang memuat konten brand launch and introduction yang mengulas partisipasi warga Kota Bandung dan delegasi dari luar negeri, dan berdampak pada pembentukan persepsi dan realitas masyarakat dalam meningkatkan kunjungan wisata. Dilihat hasil frekuensi sumber informasi terbanyak adalah dari kalangan birokrat, konten berita tebanyak berisi tentang topik review dan penyelenggaraan festival, dan kategori berita terbanyak bertema lifestyle, dengan penilaian tone berita yang lebih positif yang mampu memberi kesan baik bagi masyarakat. Agar promosi wisata melalui MBF sesuai harapan, hendaknya dibuat data maping yang terukur sebagai bahan monitoring dan evaluasi untuk diketahui perkembangannya secara signifikan.                                                                                                                   Kata Kunci: Minangkala Bandung Festival, promosi wisata, destination branding. AbstractPromotion tour of Bandung through the news Minangkala Bandung Festival (MBF) in the online media is a strategy to increase tourist visits. This study aims to analyze the contents of MBF news coverage in online media during the period of August to October 2016, with a focus of the study describing the meaning of messages conveyed in the promotion of tourism Bandung. The method used is the technique of content analysis with quantitative approach, then do the interpretation of news data in the substance of destination branding. The results showed that the promotion of tourism through MBF 2016 has contained five stages of destination branding, where the highest percentage is containing the content of brand launch and introduction which discussed the participation of citizens of Bandung and delegates from abroad, and has an impact on the formation of people's perception and reality in increasing the visit tours. The most frequent source of information was from bureaucrats, the topics contained about the topic of review and festival organizing, and the most news category themed lifestyle, with a more positive tone of news that could give a good impression to the public. In order to promote tourism through MBF as expected, should be made measurable maping data as monitoring and evaluation material to know its development significantly.                Keywords:    Minangkala      Bandung       Festival,       tourism        promotion,       destination           branding.
ACCESS TO SEARCH AND DISSEMINATION OF INFORMATION ON GOVERNMENT ABOUT COMMUNICATION AND INFORMATICS BY SOCIETY IN SOUTH SULAWESI Christiany Juditha
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 21, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik - Juli 2017
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.966 KB) | DOI: 10.33299/jpkop.21.1.962

Abstract

Current information abstraction into the general community needs. Information about good government, policy, program and the rules, especially the field of communication and information technology is important information to be known to the public. However, the problems facing Indonesia's vast territory requires the right strategy to disseminate information in order to come to the community. Besides, many people consider unimportant information on government. The purpose of the study is to get an overview of search access and dissemination of information on government field Kominfo by people in South Sulawesi (Makassar, Gowa, and North Toraja). The study used survei method with quantitative approach with 156 respondents. The study concluded that respondents were not too many take advantage of the government's official media Kominfo (central and local) to find information. Nevertheless some information topics of concern among respondents about the negative charge internet sites, public disclosure, the migration of analogue to digital TV, and UU ITE. Internet and social media are used by very few respondents in mengkases information while television and outdoor media (banner / billboard) became the most widely used. The majority of respondents also had forwarded the information obtained to family members and friends with a direct communication as well as via email, social media, and instant messanging. Keywords: information retrieval, dissemination of information, government information.  Abstrak Saat ini informasi menjadi kebutuhan masyarakat umum. Informasi tentang pemerintah misalnya kebijakan, program maupun aturan khususnya bidang komunikasi dan informatika (kominfo)  merupakan informasi penting  diketahui masyarakat. Namun, masalah wilayah Indonesia yang luas membutuhkan strategi tepat untuk menyebarkan informasi agar sampai pada masyarakat. Disamping itu banyak masyarakat menganggap informasi tentang pemerintah tidak penting. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan gambaran tentang akses pencarian dan penyebaran informasi tentang pemerintah bidang kominfo oleh masyarakat di Sulawesi Selatan (Makassar, Gowa, dan Toraja Utara). Penelitian menggunakan metode survei pendekatan kuantitatif dengan 156 responden. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa responden tidak terlalu banyak memanfaatkan media resmi pemerintah bidang kominfo (pusat dan daerah) dalam mencari informasi. Meski demikian beberapa topik informasi yang menjadi perhatian responden diantaranya soal situs internet muatan negatif, keterbukaan informasi publik, migrasi TV analog ke digital, dan  UU ITE. Internet dan media sosial sangat sedikit digunakan oleh responden dalam mengakses informasi sedangkan televisi dan media luar ruang (spanduk/baliho) menjadi media yang paling banyak digunakan. Mayoritas responden juga pernah meneruskan informasi yang diperoleh ke anggota keluarga  dan teman dengan komunikasi langsung serta melalui email, media sosial, dan instant messanging.     Kata Kunci: pencarian informasi, penyebaran informasi, informasi pemerintah   
SOCIETY COMMUNICATION PATTERNS IN THE ERA OF INFORMATION TECHNOLOGY CASE STUDY COASTAL VILLAGE, BESUKI DISTRICT, DISTRICT SITUBONDO - POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT NELAYAN DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI STUDI KASUS DI DESA PESISIR, KECAMATAN BESUKI, KABUPATEN SITUBONDO Trisnani -
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 20, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33299/jpkop.20.2.641

Abstract

This research was conducted in May 2016. Fishermen society still be the first goverment priority because even they live in the coast which far from cities and no transportation, modernity and without communication with outside, but fishermen has promising in earnings salary from life-coast take part in the country's economy. Survey method was chosen by the writer with incidental determining sample method which every people who meet the writer would be chosen as the representatives as long as the representatives are reasonable to give valid information. The traditional communication is still used by the fishermen in this era. The fishermen should meet the people who wants to talk with and doing a face to face communication is the problem in communication side. Fishing communities have not completely utilized information technology because the Information Technology skill and utility have been not applied in this life-coast. Information Technology should be utilized by the fishermen society to keep in touch with others and improving the knowledges and income about sea.Keywords: Patterns, Communication, Fishermen Society, Information TechnologyPenelitian ini, dilakukan pada Mei 2016, masyarakat nelayan masih menjadi prioritas utama karena disamping kehidupannya dipesisir pantai yang jauh dari jangkauan transportasi dan komunikasi namun sebetulnya memiliki penghasilan yang sangat menjajikan dari hasil kelautan ikut andil dalam perekonomian negara. Penelitian menggunakan metode survei dengan  teknik penarikan sampel berdasarkan accidental kebetulan, yaitu siapa saja yang bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui cocok sebagai sumber data. Permasalahan bagaimana pola komunikasi masyarakat nelayan di era teknologi informasi, pola komunikasi masyarakat nelayan masih menggunakan komunikasi tradisional berkomunikasi secara langsung bertatap muka (face to face). Masyarakat nelayan belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi informasi  karena disamping belum memiliki ketrampilan TIK juga belum ada Teknogi informasi yang diterapkan di masyarakat nelayan sebagai sumber informasi yang bisa dimanfaatkan masyarakat nelayanKata Kunci: Pola, Komunikasi, Masyarakat Nelayan ,Tegnologi Informasi

Page 5 of 12 | Total Record : 115