cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Intizar
ISSN : 14121697     EISSN : 24773816     DOI : -
Intizar Journal (ISSN: 1412-1697) and (E-ISSN: 2477-3816) is a peer-reviewed journal which is published by Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang publishes biannually in June dan December. This journal publishes current concept and research papers on Islamic Studies and Muslim Communities from interdisciplinary perspective, especially in Education; Culture; Politic; Law; Tafsir; Sufism; and Fiqh.
Arjuna Subject : -
Articles 213 Documents
Membina Karakter Anak Yang Islami di Taman Kanak-kanak Aba/‘Aisyiah Bustanul Athfal Palembang Rahmawaty Rahim
Intizar Vol 20 No 1 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Strategi yang dilakukan untuk mengembangkan pendidikan karakter pada anak-anak di TK Aisyah Bustanul Athfal Palembang, yakni: Pertama, menerapkan metode belajar yang yang melibatkan partisipasi aktif peserta didik. Kedua, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Ketiga, memberikan pendidikan karakter pada peserta didik dengan secara eksplisit, dan sistematis serta kontinu/berkesinambungan. Keempat, menerapkan kurikulum yang melibatkan juga sembilan aspek kecerdasan manusia. Kelima, memberikan model (contoh) perilaku positif.Strategies had been done to develop character education to children in kindergarten of Aisyah Bustanul Athfal of Palembang, namely: First, to apply the learning methods that involved the active participation of learners. Second, to create a conducive learning environment. Third,to  provide character education of learner explicitly, and systematic and continuous. Fourth, to implement a curriculum that involved also the nine aspects of human intelligence. Fifth, to provide a model (example) positive behavior.
Analisis Konflik pada Munas Golkar 2014 Yulioan Zalpha
Intizar Vol 22 No 1 (2016): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v22i1.549

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang konflik internal yang terjadi pada Partai Golkar tahun 2014. Konflik ini bermula karena kekuasaan Pemerintah bersama Golkarnya yang mengarah pada totaliterisme, menghadirkan kekecewaan dalam masyarakat. Oleh karena itu, pada tanggal 9-11 Juli 1998 Golkar menyelenggarakan musyawarah nasional luar biasa (munaslub) sebagai usaha membenahi kelembagaan Golkar, yang kemudian dinamai ‘Partai Golkar’.  Dalam munaslub tersebut, terpilih Akbar Tandjung sebagai ketua umum Partai Golkar.  Dengan demikian, eksistensi Partai Golkar tetap berlanjut, meskipun terdapat beberapa perubahan dasar seperti dalam visi dan misinya, yaitu: terbuka, mandiri, demokratis, moderat, mengakar, dan responsif. Bila dikaji dari segi tipologi, kelembagaan, atau pun analisis konflik yang terjadi pada Partai Golkar. Maka hal itu mencerminkan pragmatisme partai politik di Indonesia. This article examines the internal conflicts that occurred in the Golkar Party in 2014. This conflict started because the power of the Government and the Golkar which led to totalitarianism, bring disappointment in society. Therefore, on 9-11 July 1998 Golkar held a outstanding national conference (munaslub) as efforts to reform the institutional Golkar, which was then called 'the Golkar Party'. In the munaslub, was elected Akbar Tandjung as chairman of Golkar party. Thus, the existence of the Golkar Party still continues, although some basic changes such as in the vision and mission, that is: an open, independent, democratic, moderate, deep-rooted, and responsive. When examined in terms of typology, institutional, or analysis of the conflict in the Golkar Party. Then it reflects the pragmatism of political parties in Indonesia.
Hakikat Kematian Menurut Tinjauan Tasawuf Murtiningsih Murtiningsih
Intizar Vol 19 No 2 (2013): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan tentang kematian menurut kaum sufi, Islam dan medis, menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan kaum sufi untuk mengingat kematian, dan istilah-istilah kematian dalam Al-Qur’a. Dari pemaparan di atas maka penulis dapat menyimpulkan hal-hal sebagai berikut: Kematian menurut kaum Sufi  adalah orang hidup tetapi mati, yaitu mati rasa, tidak punya kepekaan terhadap situasi, mata memandang tetapi tidak melihat, kuping terbuka tetapi tidak mendengar, punya hidung tidak dapat mencium. Ada dua cara yang dilakukan oleh kaum sufi untuk mengingat kematian. Pertama meyakini kematian sebagai suatu kepastian. Karena tiada satupun manusia di dunia ini yang mampu bertahan hidup di muka bumi, betapapun kekuatan dan kekuasaannya. Sebab, kematian merupakan sebuah keniscayaan bagi seluruh makhluk bernyawa. Istilah-istilah kematian dalam Al-Qur`an. Kematian dalam Al-Qur`an kadang disebut dengan ajal, maut atau wafat. Ajal ada dua yaitu ajal Maqdhi ialah ajal yang sedang dijalani atau dilalui. Atau ajal yang dijatuhi hukuman padanya, yakni ajal yang bertalian dengan perbuatan manusia itu sendiri dengan dirinya atau dengan orang lain.This study aimed to describe the death according to the Sufis, Islam and medical, explains the efforts made Sufis to remember the death, and death in terms of Al-Qur'a. From exposure above the authors can conclude the following: Death by Sufis are people alive but dead, numb, has no sensitivity to the situation, the eye can see but do not see, ears open but do not hear, have a nose can not be smelt. There are two ways in which the Sufis to remember death. The first believes the death as a certainty. Because no single person in this world who is able to survive in the face of the earth, however the strength and power. Therefore, death is a necessity for all animate beings. The terms of death in Al-Qur`an. Deaths in Al-Qur`an sometimes referred to dying, death or died. Dying is twofold doom doom Maqdhi is being undertaken or impassable. Or death sentenced him, that death is related to human behavior itself with itself or with another person.
Keterlibatan Perempuan dalam Tindak Pidana Korupsi di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Kelas I.A Palembang Nilawati Nilawati
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengkaji tentang tindak pindana korupsi pada perempuan. Hal ini berarti bahwa tindak pidana korupsi bukan hanya monopoli laki-laki. Partisipasi perempuan dalam tindak pidana korupsi di wilayah hukum Pengadilan Negeri Kelas I.A Palembang dapat dikatakan masih dalam tingkatan skala rendah. Sebagian besar tindak pidana korupsi yang dilakukan perempuan tersebut tidak sendirian, melainkan bersama orang atau pihak lain diikuti adanya peluang dan kesempatan. Sehingga tindak korupsinya dapat digolongkan korupsi sistemik. Faktor-faktor  yang menyebabkan perempuan terlibat dalam kasus tindak pidana korupsi di wilayah Hukum Pengadilan Negeri Kelas I.A Palembang, yaitu: rendahnya tingkat keimanan, rendahnya gaji atau pendapatan, sikap mental dan keinginan cepat kaya, pola hidup konsumtif hedonisme, aji mumpung, ada peluang dan kesempatn untuk meng-akses.This paper examined the crime of corruption on women. This meant that corruption was not just a male monopoly. Women's participation in corruption in legal area of the jurisdiction of Class IA Palembang could be said to be still in a low level scale. Most of corruption criminals that were done by women were not alone, but together with another person or party followed by the opportunity and chance. So the acts of corruption could be classified as systemic corruption. The factors that caused women to get involved in cases of corruption criminal in the legal area of the jurisdiction of Class IA Palembang, namely: low levels of faith, low salaries or income, mental attitude and the desire to get rich quick, lifestyle consumptive hedonism, moral hazard, there was an opportunity and chance to access. 
Pelaksanaan Mediasi dalam Sistem Peradilan Agama (Kajian Implementasi Mediasi dalam Penyelesaian Perkara di Pengadilan Agama Kelas I A Palembang) Rina Antasari
Intizar Vol 19 No 1 (2013): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini akan membahas tentang kebijakan peraturan tentang mediasi di agama pengadilan dan cara penyelesaian sengketa melalui mediasi dan pelaksanaan mediasi dalam kasus pengadilan di Pengadilan Agama Kelas I A Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Dari penelitian ini diketahui bahwa latar belakang aturan kebijakan mediasi di Pengadilan Agama adalah (a) manfaat yang bisa diperoleh jika mediasi digunakan sebagai alat dalam penyelesaian sengketa, yaitu proses mediasi bisa mengatasi masalah akumulasi materi, proses mediasi dipandang sebagai sarana penyelesaian sengketa yang lebih cepat dan lebih murah daripada proses litigasi, penegakan mediasi dapat memperluas akses bagi semua pihak untuk memperoleh rasa keadilan, (b) penyediaan upaya perdamaian mereka dalam undang-undang. (c) masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang suka damai. Pelaksanaan proses mediasi di pengadilan agama dilakukan dengan dua cara, yaitu mediasi litigasi awal, dan mediasi lebih litigasi.This article will discuss about regulatory policy on mediation in religious courts way dispute resolution through mediation according to Islamic law and implementation of mediation in settlement court cases in Religious Courts Class I A Palembang. This research is qualitative research Source of data used is primary data and secondary data primary. Data derived from field and secondary data consisted of a literature study. From this research note Background to the policy rules on mediation in the Religious Courts is (a) the benefits to be gained if mediation used as a means in the settlement of disputes, namely the mediation process could overcome the problem of accumulation of matter, the mediation process is viewed as a means of dispute resolution that is faster and cheaper than the litigation process, enforcement of mediation can expand access for all parties to gain a sense of justice, (b) provision their peace efforts in legislation. (c) Indonesian society is a society that likes peace. Implementation of the mediation process in the religious court done in two ways, namely mediation initial litigation, and mediation over litigation.
Agama dan Manusia dalam Pendidikan Hamka (Studi Falsafat Agama) Ris'an Rusli
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengkaji mengenai pemikiran Hamka tentang agama dan manusia. Tulisan ini menyimpulkan bahwa agama, menurut Hamka, memotivasi umatnya mencari ilmu pengetahuan bukan hanya untuk membantu manusia memperoleh penghidupan yang layak. Akan tetapi, lebih dari itu dengan ilmu, manusia akan mampu mengenal Tuhannya, memperhalus akhlaknya, dan senantiasa berupaya mencari keridhaan Allah. Dengan demikian, pendidikan terbagi dua, yakni pendidikan ruhani dan pendidikan jasmani. Eksistensi agama dalam diri seseorang untuk melepaskan jiwanya dari keterkungkungan, baik keterkungkungan dalam perbudakan, akal yang terkunci dan tumpul, maupun taklid yang membunuh pikiran, sehingga tidak ada yang membatasi manusia untuk berhubungan langsung dengan Tuhan. Dalam memahami eksistensi manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan, maka perlu juga mengenali dan memahami potensi-potensi atau kekuatan-kekuatan yang ada dalam dirinya. Menurut Hamka, ada tiga potensi atau kekuatan yang menjadi motor dan dinamo manusia, yaitu kekuatan ingatan, kekuatan perasaan dan kekuatan kemauan.This paper examined on the HAMKA thought about religion and human. This paper concluded that according to Hamka religion was motivating people to seek knowledge not only to help people earn a decent living. But, more than that with science, humans would be able to know God, refined behavior, and constantly strove to seek the pleasure of Allah. Thus, education was divided into two, namely the spiritual education and physical education. Existence of religions in a person to release the soul from captivity, both captivity in bondage, mind locked and blunt, and imitation (taqlid) that killed the mind, so that there was no limit for human to direct contact with God. In understanding human existence, as subject and object of education, it was also necessary to recognize and understand the potentials or forces that existed within him. According to Hamka, there were three potential or the power of the motor and the human dynamo, the power of memory, the strength of feeling and strength of will.
Kritik Sayyid Utsman bin Yahya terhadap Pemikiran Pembaharuan Islam: Studi Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia Muhammad Noupal
Intizar Vol 20 No 1 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang penolakan Sayyid Utsman terhadap ide-ide pembaharuan seperti penafsiran kembali (reinterpretasi) al-Qur’an, penerjemahan al-Qur’an dan membuka pintu ijtihad dilakukan untuk menyelamatkan umat Islam dari bid’ah dan kerancuan pemahaman (ghurur) dalam agama. Sebagai seorang mufti, Sayyid Utsman merasa berhak memberikan peringatan kepada masyarakat akan bahaya ide dan pemikiran kaum pembaharu. Jadi di sini, terlihat perhatian Sayyid Utsman untuk menjaga akidah dan sistem kepercayaan masyarakat Islam di Indonesia berdasarkan akidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah.  Sedangkan kritik Sayyid Utsman terhadap gerakan pembaharuan, belum menyinggung sejarah pembaharuan Islam di Indonesia. Hal ini bisa dimengerti, sebab sampai masa Sayyid Utsman, gerakan pembaharuan di Indonesia belum bersifat gerakan, tapi hanya sebatas ide. Dari penjelasan ini juga dapat dilihat bahwa saluran majalah pembaharuan dan media komunikasi pada saat itu belum menyebar secara luas di tengah masyarakat.This research investigated about the rejection of Syed Othman toward the renewal ideas as reinterpretation of the Koran. The translation of the Koran and opened the gate of ijtihad were done to save the Muslims from heresy and confusion of understanding (ghurur) in religion. As a mufti, Sayyed Osman felt entitled to give warnings to the public about the dangers of ideas and thoughts of the reformer. So here, visible attention of Sayyed Osman to keep faith and belief system of the Islamic community in Indonesia was based on the creed Ahlu Sunnah wal Jama'ah. Namely criticism of Sayyed Osman toward the renewal movement had not touched the history of Islamic renewal in Indonesia. This was understandable because at Syed Othman era the renewal movement in Indonesia was not yet a movement, but it was only limited ideas. From this explanation could also be seen that the renewal of the magazine channels and communication media at the time was not yet spread widely in society.
Aplikasi Sistem Informasi Geografis Wisata Islam Melayu di Kota Palembang Berbasis Android Gusmelia Testiana
Intizar Vol 22 No 1 (2016): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v22i1.543

Abstract

Aplikasi Sistem Informasi Geografis Wisata Islam Melayu pada kota Palembang  dengan smartphone yang menggunakan sistem operasi Android dapat diimplementasikan pada beberapa jenis smartphone diaantaranya Smartfren Andromax C3, Lenovo S920, Samsung Galaxy Ace, Samsung Galaxy Ace 2, Sony Xperia Neo, Sony Xperia Z Ultra. Masyarakat atau wisatawan dapat dengan mudah memperoleh informasi masjid yang berada di kota Palembang. Application of Malay Muslims Tourism Geographic Information Systems in the city of Palembang with Smartphone that use the Android operating system can be implemented on multiple types of Smartphone including Smartfren Andromax C3, Lenovo S920, the Samsung Galaxy Ace, Samsung Galaxy Ace 2, Sony Xperia Neo, Sony Xperia Z Ultra. Community or tourists can easily obtain information on the mosque in the city of Palembang.
Penanggulangan Premanisme Menurut Pandangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palembang Atika Atika
Intizar Vol 19 No 2 (2013): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengkaji mengenai faktor-faktor penyebab  maraknya premanisme dalam kajian kriminologi, yakni: faktor politik,  faktor ekonomi,  faktor penegak hukum. Penanggulangan premanisme menurut kajian kriminologi melalui kegiatan pencegahan kejahatan, yakni: pemanfaatan masyarakat dan lembaga-lembaga yang telah ada, pencegahan serta usaha mengurangi segala macam disorganisasi sosial, penggalakkan penyuluhan hukum dan pemberian bantuan hukum. Faktor-faktor penyebab  maraknya premanisme menurut pandangan MUI Kota Palembang, yakni: lemahnya iman, lemahnya pengawasan orang tua. Menurut ketua MUI Kota Palembang penanggulangan premanisme di Kota Palembag harus dilakukan secara sinergis dan terpadu antara ulama, umaro dan aparat penegak hukum.This paper examined the factors causing the rise of gangsterism in the study of criminology, namely: political factors, economic factors, factors of law enforcement. Countermeasures of gangsterism based on the study of criminology through the activities of wickedness prevention, namely: utilization of societies and institutions that already existed, prevention and efforts to reduce all kinds of social disorganization, the promotion of legal counseling and legal aid. Factors that caused rampant gangsterism according to the view of MUI Palembang city, namely: the weakness of faith, lack of parental supervision. According to the chairman of the MUI in the city of Palembang that prevention of gangsterism in Palembag city might be synergistic and integrated between muftis, umaro and law enforcement officers.
Psikoterapi al-Qur’an Sebagai Sebuah Konsep dan Model Lukmanul Hakim
Intizar Vol 19 No 1 (2013): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui gambaran psikoterapi Quran sebagai konsep dan model serta implikasinya bagi kesehatan mental. Manfaat dari penelitian ini, untuk menjadi bagian dari pengembangan dan penguatan teori psikologi Islam, khususnya di bidang psikoterapi dan kesehatan mental. Variabel penelitian yang akan dikaji adalah psikoterapi Quran sebagai konsep dan model. Konsep yang menggambarkan desain atau ide Qur'an tentang visi manusia dan misi sebagai khalifatullah fi al-ardh (pengganti Allah di bumi) dan sebagai hamba Allah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa psikoterapi Quran memiliki jangkauan yang lebih luas dari psikologi umum. Selain memperhatikan proses penyembuhan, penekanan pada upaya perbaikan diri, seperti membersihkan hati, efek impuls primitif menguasai, meningkatkan derajat nafs, menumbuhkan moral yang baik dan meningkatkan potensi untuk menjalankan amanah sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Juga mengembalikan seseorang dengan alam suci atau kembali ke jalan yang lurus, yang berarti bahwa psikoterapi Qur'an juga memberikan bimbingan kepada seseorang untuk menemukan esensi dari dirinya, menemukan Tuhan dan menemukan rahasia Allah.The purpose of the research, know the description of psychotherapy Koran as a concept and model, and its implications for mental health. Benefits of the research, to be part of the development and strengthening of the psychological theories of Islam, especially in the field of psychotherapy and mental health. The research variables to be studied is psychotherapy Koran as a concept and model. The concept that describes a design or idea Qur'an about human vision and mission as khalifatullah fi al-ard (successor of Allah on earth) and as a servant of Allah (servant/ worshiper of Allah). And models that describe the pattern (eg, reference, range and so on) of psychotherapy Koran on cognitive and mental aspects. The results of the study that while psychotherapy Koran scope and a wider range of general psychology or psychotherapy. In addition to paying attention to the healing process, emphasis on self-improvement efforts, such as cleaning the heart, mastering effects of primitive impulse, increasing the degree of nafs, cultivate good moral and increase the potential to carry out the mandate as a servant of God and inheritors of the earth. Also restores a person by nature is sacred or go back to the straight path, meaning that psychotherapy Qur'an also gives guidance to somebody to find the essence of himself, find his God and discover the secrets of God.

Page 6 of 22 | Total Record : 213