cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Intizar
ISSN : 14121697     EISSN : 24773816     DOI : -
Intizar Journal (ISSN: 1412-1697) and (E-ISSN: 2477-3816) is a peer-reviewed journal which is published by Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang publishes biannually in June dan December. This journal publishes current concept and research papers on Islamic Studies and Muslim Communities from interdisciplinary perspective, especially in Education; Culture; Politic; Law; Tafsir; Sufism; and Fiqh.
Arjuna Subject : -
Articles 213 Documents
Post-Feminitas: Teknologi Sebagai Basis Keadilan Gender (Teknopolitik dan Masa Depan Relasi Gender) Sadari Sadari
Intizar Vol 22 No 1 (2016): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v22i1.547

Abstract

Kesetaraan gender yang kian hari semakin melemah, dengan kecanggihan teknologi dapat bangkit kembali untuk memberikan peran dan porsi kerja yang sama antara laki-laki dan perempuan baik dalam wilayah domistik maupun publik. Keterbatasan seorang perempuan dibandingkan laki-laki tidak lagi menjadi kendala, seorang perempuan di dalam eksoskeleton bisa 1.000 kali lebih perkasa dibandingkan seorang laki-laki. Untuk itulah perlu adanya pemberdayaan gender berbasis teknologi dengan melakukan penyusunan anggaran bagi semua lapisan masyarakat (laki-laki dan perempuan) menerima manfaat dan memiliki akses yang sama terhadap anggaran tersebut untuk mampu mengaplikasikan teknologi. Penyusunan anggaran responsif gender berbasis teknologi ini mempunyai pandangan dan pemahaman yang sama akan arti, manfaat dan pentingnya kesetaraan dan keadilan gender. Mengingat bahwa kesinambungan sangat penting dalam pencapaian kesetaraan dan keadilan gender, maka analisis gender dalam berbagai kebijakan dan program berbasis teknologi perlu dilanjutkan dan ditingkatkan. Berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan adalah komitmen para penentu kebijakan baik di lingkungan eksekutif, legislatif dan yudikatif, minimnya pakar analisis gender karena kurangnya alokasi dana untuk peningkatan kapasitas, dan terbatasnya data terpilah berdasar jenis kelamin, perlu mendapat perhatian secara seksama agar pelaksanaan strategi dapat berjalan secara efektif dan berkesinambungan di masa yang akan datang. Gender equality has weakened, technology has to be bounced back to give the same role and the work portion between men and women both in the domestic and public area. Limitations of a woman than men are no longer become an obstacle; a woman inside the exoskeletons could be 1,000 times more powerful than a man. for this reason, the need for the promotion of gender based technology by perform budget formulation, so all levels of society (male and female) receive benefits and have equal access to the budget for being able to apply the technology. Gender responsive budget formulation based on this technology has a view and a common understanding of the meaning, benefits and importance of gender equality and justice. Considering that continuity is very important in the achievement of gender equality, the gender analysis in a variety of technology-based policies and programs need to be continued and enhanced. Various obstacles encountered in the implementation is the commitment of policy makers both within the executive, legislative and judicial branches of government, lack of gender analysis expert due to lack of funds allocation for capacity building, and the lack of data disaggregated by sex, need attention thoroughly in order to implement the strategy may run effective and sustainable in the future.
Pendekatan Halaqah dalam Konseling Islam dengan Coping Stress sebagai Ilustrasi Manah Rosmanah
Intizar Vol 19 No 2 (2013): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah dimensi sosial psikologis yang terdapat dalam halaqah, apakah halaqah memiliki fungsi konseling dan bagaimana mekanisme halaqah dalam konseling khususnya coping stres. Hasil penelitian menunjukkan bahwa halaqah memiliki banyak dimensi psikologis sehingga diapat menjadi dasar untuk menempatkan halaqah sebagai salah satu pendekatan dalam konseling Islam. Dimensi itu adalah dimensi katarsis, kemampuan menghadapi kecemasan, problem solving, insight, kendali diri, kebersamaan, pengalihan perhatian dan terapi lingkungan. Halaqah sebagai pendekatan konseling memiliki fungsi preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan), reservatef (pemeliharaan) dan developmental (pengembangan). Sementara mekanisme halaqah dalam meningkatkan kemampuan coping stres adalah melalui proses internalisasi yang terdiri dari tiga tahap yakni ta’lim/tranformation, takwin/ttransaction dan tanfidz/transinternalisasi. Hasil dari ketiga proses tersebut adalah terbentuknya kemampuan dalam coping stres yaitu positive thinking, positive acting dan positove hoping.This study aims to know; is there any psychological social dimensions contained in halaqah, whether halakah have counseling functions and how the mechanisms halaqah in counseling, especially coping with stress. The results showed that halaqah has many psychological dimensions so diapat be the basis for placing halaqah as one approach to counseling Islam. The dimension is the dimension of catharsis, the ability to deal with anxiety, problem solving, insight, self-control, togetherness, diversions and therapeutic environment. Halaqah as counseling approaches have a prevention, a healing, a maintenance and a development. While the mechanism Halaqah in improving the ability of coping with stress is through the internalization process consists of three stages of study groups / tranformation, takwin / ttransaction and tanfidh. The results of these three processes is the formation of coping skills in stressful that is positive thinking, positive acting and hoping positive.
Multikulturalisme Islam: Studi Tingkat Pemahaman Keberagamaan Multikulturalisme bagi Komunitas Muslim di Kota Palembang Nyimas Anisah
Intizar Vol 19 No 1 (2013): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multikulturalisme adalah sebuah ideologi dan sebuah alat untuk meningkatkan martabat manusia dan kemanusiaan. Untuk memahami multikulturalisme diperlukan pembangunan berbasis pengetahuan dan konsep yang relevan yang mendukung keberadaan dan fungsinya dalam kehidupan manusia. Membangun konsep-konsep ini harus dikomunikasikan antara ahli yang memiliki perhatian ilmiah yang sama pada multikulturalisme sehingga ada pemahaman yang sama dan saling mendukung. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat pemahaman tokoh agama Islam di Palembang pada keberadaan multikulturalisme dan perkembangan Islam secara sosiologis dan antropologis melalui fenomena tersebut. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang bermaksud untuk menggambarkan tingkat pemahaman multikulturalisme Islam di Palembang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang berisi item-item pilihan. Kuesioner yang disebarkan adalah tentang pemahaman mereka tentang Islam dan multikulturalisme dalam kerangka artikulasi agama mereka. Selain itu, wawancara mendalam dilakukan serta para tokoh masyarakat dari dua kelompok Ernis yang berbeda. Wawancara ini hanya mengetahui tingkat partisipasi masing-masing kelompok etnis dalam kehidupan manusia sehari-hari. Dari data yang dikumpulkan menemukan bahwa: (1) Bahwa tingkat pemahaman Palembang agama rakyat berdasarkan data yang dikumpulkan kuesioner dan wawancara menunjukkan tingkat tinggi, terutama pada isu-isu yang berkaitan dengan hubungan sosial; (2) Dalam hal iman (aqidah), ajaran Islam yang benar tidak pernah membiarkan toleransi berlebihan mereka. Hal inilah yang menyebabkan responden memiliki sikap rendah dalam mengapresiasi mulitikulturalisme di bidang iman; (3) Jika dikaitkan dalam kehidupan masyarakat, dalam pemahaman masyarakat multikulturalisme Palembang menyebabkan integrasi sosial.Multiculturalism is an ideology and a tool to enhance the dignity of man and humanity. To understand multiculturalism is required in the form of building a knowledge base of relevant concepts and supporting the existence and functioning of multiculturalism in human life. Building these concepts must be communicated among the experts who have the same scientific attention on multiculturalism so that there is a common understanding and mutual support in fighting this ideology. The purpose of this study to know the level of understanding of religious Islamic figures in Palembang on the existence of multiculturalism and the development of Islam as a sociological and anthropological at the phenomenon. This research is descriptive qualitative intends to describe the level of understanding of Islamic multiculturalism in Palembang. The research method used is survey method. The data collection is done by using a questionnaire containing items specific selection. Questionnaire distributed is about their understanding of Islam and multiculturalism within the framework of their religious articulation. In addition, in-depth interviews conducted as well the community leaders of the two groups Ernis different. This interview is just knowing the level of participation of each ethnic group in the lives of everyday people. From the data collected found that: (1) That the level of understanding of people's religious Palembang based on data collected questionnaires and interviews showed a high level, especially on issues related to social relationships; (2) In the case of a faith (aqidah), the teachings of true Islam never allow their excessive tolerance. This is what causes the respondents have a low attitude in appreciating mulitikulturalisme in the field of faith; (3) If it is associated in public life, in the understanding of multiculturalism society Palembang lead to social integration.
Kontribusi FIPMI dalam Mewujudkan Kerukunan Antarmazhab Islam Muhammad Zaki
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengkaji mengenai terbentuknya Forum Taqrib yang lebih di kenal dengan nama Forum Internasional Pendekatan Antar Mazhab-Mazhab Islam (FIPMI) dilatarbelakangi kondisi umat Islam, khususnya Sunni dan Syiah. Tokoh printis berdirinya Forum Taqrib Borujerdi memiliki alasan yang tepat memilih tokoh-tokoh ulama al-Azhar untuk dapat diajak berkomunikasi dan dialog untuk mewujudkan ide taqrib. Hal ini disebabkan ulama al-Azhar, selain reputasi keilmuannya diakui dunia juga lebih disebabkan mereka berpikiran moderat tidak fanatik. Hampir semua tokoh yang dikaji berpikiran bahwa taqrib artinya mendekatkan umat untuk saling mengenal dan memahami, bukan memaksakan umat untuk menganut suatu mazhab. Semua tokoh juga sepakat, bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah, tidaklah prinsip. Meskipun ada yang menyatakan prinsip, yaitu  dalam hal imamah. Titik temu akan diperoleh, jika Syiah tidak meletakkan imamah pada tataran akidah prinsip yang dapat menyebabkan kekafiran bagi yang menolaknya. Hal ini sudah ditegaskan oleh Borujerdi bahwa masalah imamah adalah sejarah masa lalu dan tidak perlu diungkit lagi karena tidak akan ada hasilnya. Yang terpenting sekarang adalah mencari kesepakatan rujukan hukum dalam menjalani kehidupan beragama dan berbangsa ini. Borujerdi menawarkan Al-Qur’an dan Ahlulbait, karena sesuai dengan hadis, bahwa keduanya adalah sumber hukum yang tidak akan pernah terpisah. Inilah yang dipesankan dalam hadis Tsaqalain. Hadis ini disepakati oleh Sunni dan Syiah kesahihannya karena diriwayatkan dalam kitab-kitab mereka. Upaya-upaya yang dilakukan Forum Taqrib dalam mewujudkan persatuan dan perdamaian, yakni: Taqrib juga telah melakukan sosialisasi keberadaannya dengan mengadakan pertemuan-pertemuan rutin, seperti konferensi tahunan dan pertemuan berkala lainnya, serta penerbitan majalah atau jurnal. This article examines the formation of Forum Taqrib that is usual known by the name of the International Forum of Inter Approach schools of schools of Islam (FIPMI) backed the condition of Muslims, especially Sunni and Shia. Figure has pioneered the establishment of the Forum Taqrib Borujerdi had good reason choosing leaders of al-Azhar scholars to be able to communicate and dialogue to realize the idea of Taqrib. This is due to al-Azhar scholars, in addition to world-recognized scientific reputation is also more moderate-minded because they are not fanatics. Almost all the characters studied minded that Taqrib means closer people to know each other and understand, not to force people to adopt a school. All the leaders also agreed that the difference between Sunni and Shia are not the principle. Although there are states the principle, namely in terms of Imamat. The intersection will be obtained, if the Shia imamate lay not at the level of faith principles that can lead to disbelief for those who reject it. This has been confirmed by Borujerdi that the question of Imamat is the history of the past and does not need to be raised again because there will be no result. The important thing now is to find an agreement legal reference in living religious life and this nation. Borujerdi offers Qur'an and Ahlul-Bayt, because according to tradition, that both are sources of law will never separate. This is been booked in the hadith Thaqalain. This Hadith is agreed upon by both Sunni and Shia validity as narrated in their books. Efforts undertaken Taqrib Forum in bridging unity and peace, namely: Taqrib also has socialized its existence by holding regular meetings, such as annual conferences and other regular meetings, as well as the publication of a magazine or journal.
Pemikiran Sufistik Syaikh Umar Ibn Al-Fâridh dalam Dîwân Ibn Al-Fâridh Idrus Alkaf
Intizar Vol 20 No 1 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini difokuskan pada upaya memahami tema-tema al-hubb al-ilâhi dalam pemikiran sufistik Syaikh Umar ibn al-Farîdh, salah seorang penyair mistik terbesar dalam sejarah mistisisme Islam. Syaikh Umar ibn al-Farîdh adalah seorang sufi penganut madzhab cinta, yang mahir menyusun syair-syair yang bertemakan cinta ilahi. Dengan keistimewaannya menggubah syair-syair cinta ketuhanan itu, ia kemudian dinobatkan sebagai Shulthân al-Âsyiqîn, sang pangeran cinta. Ibn al-Fârîdh mengekspresikan perasaan cintanya kepada Allah itu dalam sekumpulan syair yang diberi judul Dîwân ibn al-Fâridh. Ia telah memilih syair sebagai media untuk mengkomunikasikan pemikiran mistisnya, sehingga melalui media syair itu ajaran tasawufnya terlihat begitu estetis dalam suatu gaya yang tinggi di luar jangkauan akal murni. Kedalaman imajinasi dan penghayatan estetisnya yang begitu dalam membuat syair-syairnya terlihat sedemikian mistis, baik dalam kandungan isi maupun inspirasinya.The paper focused on efforts to understand the themes of al-hubb al-ilahi in Sufi thought of Shaykh Umar ibn al-Farîdh, one of the greatest mystical poets in the history of Islamic mysticism. Shaykh Umar ibn al-Farîdh was an adherent Sufi of love schools who was clever in composing poems with the theme of divine love. With his privileges in composing love poems divinity, he subsequently was named the Shulthân al-Âsyiqîn, the prince of love. Ibn al-Fârîdh expressed feelings of love to God in the collection of poems entitled Diwan ibn al-Fâridh. He had chosen poetry as a media to communicate ideas mystical, so that through the media of poetry the doctrine of his tasawuf looked so aesthetically in high style beyond the reach of pure reason. Depth of imagination and aesthetic appreciation that was so deep in making his poems looked so mystical, both in content and his inspiration.
Epistemologi Pemikiran Mu’tazilah dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Pemikiran Islam di Indonesia Zulhelmi Zulhelmi
Intizar Vol 20 No 1 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teologi Mu’tazilah berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Salah satu tokoh intelektual Muslim kontemporer yang pemikirannya teologi Mu’tazilah, yakni Harun Nasution. Ia berpendapat bahwa kebangkitan pemikiran Mu’tazilah sangat penting bagi modenisasi Islam. Ia berpendapat bahwa rasionalisasi teologi Islam merupakan komponen esensial dalam program modernisasi  yang lebih luas  dalam masyarakat Islam. Harun Nasution berkesimpulan bahwa masyarakat Islam yang akan bersentuhan dengan kemoderenan  mesti mengganti kalam Asy’ari dengan kalam Mu’tazilah. Ia juga menegaskan bahwa rasionalisme merupakan di antara tema sentral al-Qur’an, Islam nabi Muhammad beserta para sahabatnya merupakan keislaman yang bersifat rasional. Hermeneutika Nasution berbeda dari penafsir klasik dan kontemporer, ia tidak melakukan penafsiran untuk berusaha mengeluarkan makna ayat per ayat, tetapi lebih berusaha untuk mengeluarkan tema umum dari sejumlah besar ayat. Tema yang paling menonjol  adalah rasionalitas. Pembongkarannya terhadap rasionalisme Barat dan Islam kelihatannya telah menandai sebuah usaha untuk menemukan Islam rasional dan kemoderenan Islam.Mu'tazila Theology influenced on the development of Islamic thought in Indonesia. One of contemporary Muslim intellectuals which his thought was Mu'tazilah theology, namely Harun Nasution. He argued that the resurgence of Mu'tazila thought was very important for modernization of Islam. He argued that the rationalization of Islamic theology was an essential component in a wider modernization program in Islamic societies. Harun Nasution concluded that the Islamic community would have contact with modernity might replace the Ash'ari kalam with Mu'tazila kalam. He also asserted that rationalism was among the central themes of the Koran. The Islamic of Prophet Muhammad and his companions was an Islamic rational. Nasution hermeneutic was different from classical and contemporary interpreters, he did not do the interpretation for trying to remove the meaning of the verse-by-verse, but rather sought to exclude the general theme of a large number of verses. The most prominent theme was rationality. The demolition toward Western rationalism and Islam seemed to have marked an attempt to find a rational Islam and Islamic modernity.
Motivasi Berpikir Menurut al-Qur’an Dwi Andriyani
Intizar Vol 22 No 1 (2016): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v22i1.637

Abstract

Kitab Suci Al-Qur’an merupakan kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia sebagai petunjuk bagi kita semua, yang mana diturunkan kepada umat Nabi Muhammad Saw mulai dari berabad-abad yang lalu, hingga sampai sekarang ini. Al-Qur’an di dalamnya banyak sekali mengandung isyarat ilmiah yang berguna bagi umat manusia. Oleh karena itu, sebagai makhluk Allah yang dikarunia akal pikiran, sudah seharusnya menjadi tugas kita untuk mengungkap apa yang ada di dalam al-Qur’an yang menjadi isyarat ilmiah bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an banyak memberikan motivasi bagi umat manusia, terutama motivasi berpikir. Berpikir adalah olah kerja otak yang yang berfungsi mencari hakekat dari sesuatu. Namun, dalam al-Qur’an berpikir juga tidak semuanya dilakukan oleh akal pikiran, melainkan juga dapat dilakukan dengan hati. Ketika mengkaji lebih dalam mengenai berpikir, maka akan didapatkan beberapa lafadz yang mempunyai pengertian yang sama, yaitu berpikir. Seperti lafadz nazara, tadabbara atau tadabbur, tafakkara atau tafakkur, faqiha atau fiqh atau tafaqquh, tazakkara, dan faham. Semua yang disebutkan di atas adalah mempunyai pengertian yang hampir sama. Membangkitkan motivasi berpikir dalam mengkaji ayat-ayat al-Qur’an sangatlah bermanfaat dalam menambah wawasan, dan juga dapat menambah keimanan kita kepada Allah Swt. Beberapa penemuan yang ada pada saat sekarang ini merupakan bukti dari kebenaran al-Qur’an, isyarat ilmiahnya dapat dibuktikan dengan beberapa penemuan di bidang ilmu pengetahuan. The Holy Qur'an is a book of God revealed to mankind as a guide for all of us, which was revealed to the Prophet Muhammad's people from many centuries ago until now. The Qur'an contains a lot of useful scientific cue for mankind. Therefore, as a creature of Allah endowed with a mind, it should be our duty to reveal what is in the Qur’an becomes the scientific cue to the advancement of knowledge. The Holy Qur'an has provided motivation for mankind, especially motivational thinking. Thinking is the workings of the brain that function to find the essence of something. However, in the Qur'an do not think everything that was done by the mind but also to do with the heart. When examine more deeply about thinking it will get some lafadz that have the same sense that is thinking. As lafadz Nazara, Tadabbara or Tadabbur, Tafakkara or Tafakkur, Faqiha or Fiqh or tafaqquh, tazakkara, and Faham. All mentioned above has almost the same meaning. Motivational thinking in assessing the verses of the Qur'an is very useful in increasing insight and can also increasing our faith in Allah. Some of the inventions that exist at the present time are a proof of the truth of of the Qur'an, scientific cues can be proved by several discoveries in science.
Tasawuf dan al-Qur’an Tinjauan Dunia Ilmu Pengetahuan dan Praktek Kultural-Religius Ummat Alfi Julizun Azwar
Intizar Vol 19 No 2 (2013): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan hasil penelitian yang membahas bidang Ilmu Tasawuf dengan mempergunakan methode deskriptif analitik. Penelitian menghasilkan bahwa Tasawuf bukanlah merupakan ajaran dalam arti syariat, yang langsung tertera dalam Alquran maupun al-Hadits, Tasawuf tidak lebih sebagai tradisi dalam Islam karena tasawuf merupakan produk fikiran dan perasaan para sufi. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa tasawuf bukan bagian dari ibadah syar’iyah. Sedangkan perspektif ilmu pengetahuan, tasawuf wajib untuk dipelajari. Ilmu tasawuf yang difahami kemudian berfungsi preventif dan okuratif. Praktik-praktik tasawuf secara institusi bukanlah bagian dari syariat agama Islam. Namun secara parsial, nilai-nilainya selaras dengan ajaran Alquran dan al-Hadits. Oleh karena itu, tidak ada kewajiban dan larangan untuk menjalani atau menempuh jalan tasawuf. Sebagai tradisi dalam Islam, Tasawuf sebagai jalan muamalah yang sah-sah saja untuk ditempuh, artinya boleh diikuti dan boleh tidak diabaikan. The two purposes of this study are, to describe a position of Sufism on the Islamic teaching, tradition and knowledge, and to find out a Moslem worldview and attitude toword practicing of Sufism and tharikat on Al-Qur’an and cultural perspective. We throughout three ways for technical analysis; interpreted the data, clasificied and described the data into couple of concept; sufism  and Holy Qoran, and then made sinergy between those both prime concepts to the integral concept to be analyze on Islamic teaching, tradition and knowledge perspective. Hence, overall this research shows that Sufism is not a teaching what had wrote in Al-Qur’an or al-hadits but it is a tradition in Islam. Because Sufism is both thought and feeling products. It mean, that Sufism is not a part of Syariah. On the perspective of knowledge, Sufism wish to be learn in order to become preventive or occurative functions. The Sufism practicings institusionally is not the part of Syariat. But particulary, its norma has relevanced by Al-Qur’an and al-Hadits teachings.  So that, there is no obligation   to practice Sufism. As an Islamic tradition, it’s free to be done or left.
Munasabah al-Qur’an: Studi Korelatif Antar Surat Bacaan Shalat-Shalat Nabi John Supriyanto
Intizar Vol 19 No 1 (2013): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini berusaha untuk mengangkat sebuah kajian terhadap korelasi dimensi baru Al-Qur'an atau yang lebih dikenal dengan "absurditas al-Qur'an". Jika selama ini Al-Qur'an memiliki hubungan antara huruf dan ayat-ayatnya berdasarkan tertib atau tidak tertib suratnya, maka tulisan ini menawarkan sebuah studi baru dalam bentuk korelasi antara huruf-huruf berdasarkan pada serangkaian bacaan dalam shalat Nabi. Di antara isu-isu yang dikembangkan adalah adanya tertib tauqifi-Mushaf Utsmani. Bagi mereka yang menolak, ayat al-Quran yang tidak masuk akal hanya isapan jempol belaka. Adapun pendukung teori ini, mengatakan bahwa rahasia absurditas Al-Qur'an adalah bukti kuat bahwa komposisi ayat dan surat Al-Qur'an bukanlah penciptaan ijtihad penulis mushaf semata. Substansi tulisan tidak berhubungan dengan perdebatan, karena surat-surat Al-Qur'an dalam doa Nabi. dalam sejarah tidak sesuai sama sekali dengan mushaf teori-tertib.This paper seeks to lift a new dimension correlation study the Al-Qur’an, or better known as "absurd Al-Qur’an". If during this study the Al-Qur'an absurd to dwell on the relationship between letters and the relationship between verses based on orderly or disorderly Manuscripts and down, then this paper offers a new study in the form of the correlation between letters based on a series of readings in the prayers of the Prophet. Science absurd-as part of Sciences Al Qur'an- is long enough to become a subject of discussion among scientists Al-Qur'an. Among the issues that was developed is the existence of an orderly tauqifi Mushaf 'Usmani. For those who refuse, absurd Al-Qur'an is only a mere figment. As for the supporters of this theory, the secrets absurd Al-Qur'an is strong evidence that the composition of verses and letters of the Al-Qur'an is not the creation of ijtihad the authors Manuscripts. The substance of the writing is not related to the debate, because the letters of the Al-Qur'an reading the prayers of the Prophet. In history does not correspond at all with the theory-an orderly Manuscripts.
Stres Menghadapi Musibah Perspektif Islam ditinjau dari Adversity Quotient di Panti Asuhan di Kecamatan Plaju Palembang Zaharuddin Zaharuddin
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengkaji mengenai adanya kontribusi yang cukup besar dari Adverisity Qoutient terhadap Stres menghadapi Musibah pada remaja yang tinggal di Panti Asuhan  khususnya di wilayah Kecamatan Plaju Kota Palembang. Ketangguhan yang dimiliki disinyalir mampu menjadi benteng pertahanan diri seseorang dari tekanan kehidupan yang memiliki efek sehingga menyebabkan seseorang terkena stress. Semakin tinggi ketangguhan yang dimiliki diyakini mampu mengurangi dan mengatasi stress yang dihadapi dalam kehidupan di dunia ini.This paper examined the presence of a substantial contribution of Adversity Quotient against stress in facing disaster in adolescents living in orphanages, especially in the district of Plaju, Palembang city. Toughness that owned allegedly was capable of being bulwark oneself from the stresses of life that had the effect of causing a person was exposed to stress. The higher toughness possessed believed to reduce and overcome the stress encountered in life in this world.

Page 5 of 22 | Total Record : 213