cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Jurnal Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Published by Universitas Riau
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 1 (2017)" : 10 Documents clear
KONFLIK PSIKOLOGI DALAM RUBRIK “OH MAMA OH PAPA” BERTEMA TRANSGENDER PADA MAJALAH KARTINI PERIODE FEBRUARI DAN APRIL 2016 Putri, Dainur
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konflik psikologi yang dialami tokoh dan penyebab terjadinya konflik pada diri tokoh dalam rubrik “Oh Mama Oh Papa” (OMOP) bertema transgender pada majalah Kartini. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian ini berupa konflik batin yang terdapat pada rubrik OMOP dalam majalah Kartini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh dalam rubrik OMOP mengalami dua jenis konflik batin, yaitu konflik batin internal berupa konflik batin karena keinginan tidak sesuai dengan kenyataan yang menimbulkan kekecewaan dan konflik pertentangan batin.
IMPLEMENTASI UU NO. 32 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP TERHADAP PENCEMARAN AIR OLEH PABRIK KARET DI KOTA PADANG Darwianis, Darwianis
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini adalah dalam rangka meneliti pelaksanaan (implementation) penegakkan hukum (law enforcement) pengelolaan lingkungan hidup oleh Pemerintah Kota Padang, khususnya penerapan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup terhadap pencemaran sungai oleh pabrik-pabrik karet yang ada di Kota Padang, yaitu dilihat dari aspek sosialisasi undang-undangnya, kategorisasi kasus pencemaran (pelanggaran hukum) oleh pabrik-pabrik karet, dan penerapan sanksi hukum terhadap penyelenggaraan hukum tersebut. Melalui metode kualitatif dengan pengumpulan data dokumenter dan wawancara tentang limbah buangan pabrik-pabrik karet yang ada di Kota Padang, hasil penelitian ini mendeskripsikan bahwa sosialisasi UU No. 32 Tahun 2009 sudah dijalankan oleh Pemerintah Kota Padang, namun pelanggaran tetap ada. Pelanggaran yang terjadi umumnya bersifat pelanggaran administrative. Sedangkan pengenaan sanksinya belum sepenuhnya dapat ditegakkan secara konsisten.
DESAIN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERMUATAN MOTIVASI DAN KARAKTER Irwandi, Irwandi
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

It is important to think that all of the learning activities are tied closely to learners’ motivation and character building. Motivationincites or stimulates the learners to attain their purpose, and while, character is the measurement of people’s perceived manners and an overall evaluation of people’s inward and outward behavior. Without having high motivation, there is no a dynamics in the class. On the contarary, motivated learners are willing to work hard, focus their attention on the tasks, and may even promote collaborative learning and stimulate others in the classroom. Learning English does not mere focus on the mastery of language skills, but it has the dimension of character building. This paper is an attempt to propose a design of instruction for learning English languageon the dimension of motivation and character building. It mostly includes the concept of motivation, character, and the model of design of instruction for English class on motivation and character building based-orientation.
MEMBUDAYAKAN KESADARAN BERKONSTITUSI MELALUI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Pebriyenni, Pebriyenni
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya adalah keseluruhan sistem sosial yang membangun suatu komunitas. Sistem sosial yang diadopsi oleh bangsa Indonesia diabadikan dalam undang-undang dasar atau konstitusi Negara Republik Indonesia. Konstitusi adalah bentuk naskah legitimasi kedaulatan rakyat dan kontrak sosial yang mengikat setiap warga negara dalam membangun pemahaman tentang kedaulatan rakyat. Sekarang ini konstitusi yang berlaku di Negara Republik Indonesia adalah UUD 1945. UUD 1945 akan bisa dilaksanakan secara baik, jika ada pemahaman dan kesadaran semua warga konstitusional sehingga orang dapat melakukan kontrol atas administrasi negara. Dengan kata lain, membangun kesadaran konstitusional merupakan upaya untuk memungkinkan penerapan UUD 1945 dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara konsisten. Agar setiap institusi dan warga negara Indonesia dapat menjalankan kehidupan bernegara berdasarkan UUD 1945, maka diperlukan tumbuhnya budaya kesadaran konstitusional pada mereka. Untuk menumbuhkannya diperlukan pemahaman akan nilai dan norma yang menjadi dasar substansi konstitusi. Pemahaman itu bisa dilakukan melalui pendidikan formal dan nonformal, di antaranya yang sangat penting adalah melalui Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) atau Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Karena itu diperlukan peningkatan kompetensi pendidik di bidang disiplin tersebut, baik di level pendidikan dasar, menengah maupun tinggi.
ANALISIS KONSEP DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 Kosassy, Siti Osa
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bermaksud menjelaskan analisis konsep dan implementasi Kurikulum 2013 (K-13). Indonesia sudah beberapa kali mengalami perubahan kurikulum. Kurikulum pertama Indonesia adalah Rencana Pelajaran 1947. Ketika itu istilah kurikulum belum digunakan. Kemudian Rencana Pelajaran 1947 ini dirubah menjadi Rencana Pelajaran 1950. Selanjutnya diganti dengan Rencana Pelajaran 1958. Setelah itu rencana pelajaran ini diganti menjadi Rencana Pelajaran 1964. Setelah itu rencana pelajaran ini diganti menjadi Kurikulum 1968. Sejak inilah istilah rencana pelajaran yang sudah digunakan selama bertahun-tahun berganti menjadi kurikulum. Kemudian kurikulum ini dirubah menjadi Kurikulum 1975. Selanjutnya Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2016 dan terakhir Kurikulum 2013. Perubahan atas dasar ini didukung oleh teori pengembangan kurikulum bahwa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan dampak terhadap sistem pengajaran, sehingga pembelajaran mengalihkan pendekatan-nya dari pendekatan tradisional ke pendekatan mutakhir. Kurikulum 2013 ini dilaksana-kan oleh beberapa sekolah yang ditunjuk oleh pemerintah atau disebut juga dengan “sekolah piloting” di seluruh Indonesia berdasarkan SK Nomor: 374/KEP/D/KR/2016 tanggal 11 Juli 2016.
KARAKTER DAN KOMPETENSI REMAJA MENJADI PEMAHAMAN KOMPREHENSIF BAGI DUNIA PENDIDIKAN Suhartiwi, Suhartiwi
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bermaksud membahas aspek karakter dan kompetensi remaja dalam pemahaman komprehensif bagi dunia pendidikan. Aspek karakter dan kompetensi remaja perlu menjadi pemahaman komprehensif bagi dunia pendidikan, karena dua hal itu menjadi faktor paling mendukung untuk mencapai tujuan atau cita-cita tersalurkan dengan baik. Pembentukan karakter atau kepribadian sangat diperlukan bagi individu atau pribadi dalam menghadapi tantangan dan kondisi terkini. Agar berkompeten dalam bidang tertentu harus melalui beberapa proses, yang membutuhkan tahap-tahap dalam mencapai sebuah kompetensi atau menjadi orang yang dianggap memiliki kompetensi. Keterampilan atau kompetensi itu tercermin dalam setiap mata pelajaran yang dipelajari di tingkat sekolah, sedangkan di perguruan tinggi sudah menjurus kepada masing-masing jurusan atau program studi. Pengembangan kecakapan untuk menuju kompe-tensi tertentu melalui tahap-tahap kecakapan dalam tiga ranah berikut ini: kognitif, afektif dan psikomotorik. Semua itu untuk mengkaver kecakapan yang perlu dimiliki anak sesuai tuntutan dunia masa depan, yakni kecakapan berpikir dan belajar (thinking and learning skills), dan sebaiknya dunia pendidikan mampu mewujudkan pandangan itu secara komprehensif.
MANAJEMEN SISTEM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN MENENGAH UNIVERSAL MENUJU WAJIB BELAJAR 12 TAHUN DI KABUPATEN PESISIR SELATAN Sahnan, Muhammad
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Management emphasis on the human aspect as actors and policy implementers. In accordance with the concept of management, that person’s success or failure depends on the leadership of the extent to which he succeeded in managing the human resources that exist on organisation. Existing human resources should be managed effectively and be able to work together. Specifically examines the efforts of management in conjunction with management functions, can be implemented, especially in practices relating to the planning, implementation, and supervision. The results showed bring: (1) planning development program Universal Intermediate Education towards compulsory education 12 years in the South Coastal District of West Sumatra, beginning with the formulation of the vision and mission, requirements analysis, and preparation of planning, (2) the implementation of development programs towards reasonable Universal Intermediate Education compulsory education 12 years in the District South coast of West Sumatra has a procedure, namely organizing, parties involved in the development of intermediate education programs, identify the source of funds in the implementation of development programs and determining technique toward reasonable Universal Intermediate Education compulsory education 12 years, (3) Monitoring the Development Programme Universal Intermediate Education headed compulsory education 12 years in Coastal District South West Sumatra include monitoring and evaluation, and (4) Model Development System Management Universal Intermediate Education to the compulsory education 12 years on the South Coast, applying the principles of management, including planning, implementation, monitoring. In formulating planning beforehand adapt to change and analyze the needs doing SWOT analysis involving stakeholders (interested parties). In practice always forward commitment, cooperation, and team work is solid. Supervision is carried out through monitoring and evaluation.
PELUANG MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA DARI PRAKSIS STRATEGI ACTIVE DEBATE PADA PEMBELAJARAN PKn SD Hendrizal, Hendrizal
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bermaksud mengulas peluang meningkatkan segi aktivitas belajar bagi peserta didik dari praksis strategi active debate dalam ranah pembelajaran PKn di SD. Hal ini dengan tujuan memberi wawasan kepada warga bangsa (khususnya yang berkiprah di dunia pendidikan dalam pembelajaran PKn di SD) untuk: memahami hakikat strategi active debate; memahami tahapan implementasi strategi active debate di dalam ranah pembelajaran PKn SD; dan mengetahui praksis implementasi strategi active debate pada ranah pembelajaran PKn di SD dalam usaha meningkatkan aktivitas belajar peserta didik. Pada tataran praksis, selanjutnya, diharapkan insan pendidikan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh sebagai acuan pendidikan dan pedoman dalam melakukan kegiatan pembelajaran PKn SD. Disarankan kepada insan pendidikan untuk pentingnya menyadari bahwa strategi active debate dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif variasi di dalam penyelenggaraan pembelajaran PKn. Sebab, strategi active debate tersebut bisa diharapkan membuka peluang meningkatkan sisi aktivitas dan sekaligus hasil belajar para peserta didik.
HAKIKAT PENDIDIKAN BERDASARKAN KEBUTUHAN USIA Lase, Famahato
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan belajar setiap individu berdasarkan usia berbeda-beda. Anak usia dini berbeda kebutuhannya dengan anak usia sekolah dasar, remaja dan dewasa. Setiap pembelajaran yang dirancang selalu dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang didasarkan pada kebutuhan (needs) peserta didik. Dari berbagai hal dimaksud, maka salah satu di antaranya adalah kebutuhan belajar yang berbeda-beda berdasarkan usia. Kebutuhan umur yang sama pun berbeda-beda. Oleh karena itu dalam merancang pembelajaran, pendidik perlu melakukannya sesuai dengan kebutuhan setiap peserta didik.
FAKTOR PENDORONG TERJADINYA TINDAK KEJAHATAN OLEH ANAK DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK TANJUNG PATI Vovriyenti, Rini
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mendorong terjadinya tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak Tanjung Pati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik dan alat pengum-pulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi; informan dipilih secara purposive sampling; teknik analisis data yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Teknik menjamin keabsahan data digunakan teknik trianggulasi dengan sumber data. Hasil penelitian ditemukan bahwa faktor yang mendorong terjadinya tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak Tanjung Pati sebagai berikut: Pertama, faktor intrinsik: (a) faktor intelegentia, (b) faktor usia, (c) faktor kelamin, dan (d) faktor kedudukan anak dalam keluarga. Kedua, faktor ekstrinsik: (a) faktor keluarga, (b) faktor pendidikan dan sekolah, (c) faktor pengaruh pergaulan anak, dan (d) faktor pengaruh mass media.

Page 1 of 1 | Total Record : 10