cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Eksplorasi dan karakterisasi keragaman plasma nutfah tanaman padi (Oryza sativa L.) di pulau Belitung Kencana, Yuditia Arta; Mustikarini, Eries Dyah; Lestari, Tri
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/15085

Abstract

Banyak sumber daya genetik penting yang masih belum teridentifikasi di Pulau Belitung salah satunya adalah tanaman padi. Kegiatan eksplorasi dan identifikasi menjadi langkah yang tepat untuk mendapatkan jenis tanaman padi baru pada kegiatan pemuliaan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah melakukan eksplorasi, karakterisasi, dan menentukan hubungan kekerabatan dan variabilitas padi di Pulau Belitung. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2020 hingga Mei 2021. Penelitian menggunakan metode eksplorasi dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Karakter yang diidentifikasi terdiri dari karakter kualitatif dan karakter kuantitatif. Analisis kekerabatan menggunakan program  NTSYS. Hasil penelitian didapatkan lima aksesi yaitu Rembiak, Siam, Cerai Merah, Ketan dan Merawang. Hasil uji beda nyata terkecil (BNT) menunjukkan aksesi padi lokal Belitung memiliki perbedaan yang nyata pada karakter umur panen (α 5%). Hasil analisis hubungan kekerabatan pada karakter kualitatif terdapat 2 grup dengan koefisien 0,64 atau 64%, kuantitatif terdapat 4 grup dengan koefisien 0,28 atau 28% dan gabungan dari karakter kualitatif dan kuantitatif terdapat 4 grup dengan koefisien 0,33 atau 33%. Aksesi padi yang diperoleh terdapat variabilitas genetik luas yaitu pada karakter jumlah biji total serta variabilitas fenotip yang luas yaitu pada tinggi tanaman, umur panen dan berat 1000 benih.ABSTRACTMany important genetic resources have not identified yet on the Belitung Island, one of which is rice plant. Exploration and identification activities are the right steps to get a new type of rice plant in plant breeding activities. The objectives of research were to explore, characterize, and determine the relationship and variability of rice on Belitung Island. The experiment was conducted from December 2020 to May 2021. Research used exploratory  methods with purposive sampling technique.The identified character consisted of qualitative and quantitative characters. Kinship analysis using the NTSYS program. The results of the study obtained five accessions namely Rembiak, Siam, Cerai Merah, Ketan and Merawang. Least Significance Different (LSD) results showed that local rice accession had a noticeable difference in the character of the harvest age (α 5%)." The results of the analysis of relationships in qualitative character there were 2 groups with coefficients of 0.64 or 64%, quantitative there were 4 grup with coefficients of 0.28 or 28% and a combination of qualitative and quantitative characters there were 4 groups with coefficients of 0.33 or 33%. Rice accession obtained contained extensive genetic variability in the character of the total number of seeds as well as wide phenotype variability on the plant height, harvest age and weight of 1000 seeds.
Penampilan agronomi dan seleksi jagung hibrida pada lahan sawah tadah hujan dengan sistem tanam tanpa olah tanah Syahruddin, Karlina; Abid, Muhammad; Fatmawati, Fatmawati
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/15713

Abstract

Jagung merupakan komoditas prioritas nasional strategis dengan kebutuhan yang sangat tinggi untuk industri pangan, pakan dan benih. Produksi jagung dapat ditingkatkan dengan penggunaan jagung jenis hibrida dan perluasan areal tanam dengan memanfaatkan lahan sawah tadah hujan. Penerapan sistem tanpa olah tanah (TOT) pada jagung di lahan tadah hujan sangat efektif diterapkan untuk mempercepat waktu tanam, meminimalkan biaya produksi dan meningkatkan indeks pertanaman jagung, dan untuk meningkatkan produksi jagung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pertumbuhan agronomi dan menyeleksi jagung hibrida potensial untuk dikembangkan di lahan sawah tadah hujan dengan sistem tanam TOT. Penelitian dilaksanakan pada lahan sawah tadah hujan tanpa olah tanah menggunakan 5 hibrida jagung dan 3 varietas pembanding dengan Rancangan Acak Kelompok, 4 ulangan. Secara umum penampilan agronomi jagung hibrida uji lebih baik dari varietas pembanding. Terdapat dua hibrida yang memperlihatkan hasil pipilan kering lebih tinggi dari varietas pembanding yaitu HIB1 (11,77 t ha-1) dan HIB3 (11.61 t ha-1). Kedua hibrida ini juga memiliki karakter agronomi yang lebih tinggi dari varietas pembanding pada karakter diameter tongkol, jumlah baris biji per tongkol dan jumlah biji per baris. Jagung hibrida HIB1 dan HIB3 dapat menjadi pilihan dalam pengembangan jagung di lahan sawah tadah hujan dengan sistem TOT. ABSTRACTCorn is a strategic national priority commodity with a very high demand for the food, feed, and seed industry. Corn production can be increased by using hybrid maize and expanding the planted area by utilizing rainfed rice fields. The application of  zero tillage system (TOT) on maize in rainfed land is very effective to be applied to speed up planting time, minimize production costs and increase maize cropping index to increase maize production. The purpose of this study was to observe the agronomic growth and to select potential hybrid maize to be developed in rainfed fields with zero tillage cropping system. The research was carried out on uncultivated rainfed fields using 5 maize hybrids and 3 comparison varieties with a randomized block design and, 4 replications. In general, the agronomic performance of the test hybrid corn was better than the comparison variety. There were two hybrids that showed higher dry seed yields than the comparison varieties, namely HIB1 (11.77 t ha-1) and HIB3 (11.61 t ha-1). These two hybrids also had higher agronomic characteristics than the comparison varieties on the characteristics of ear diameter, the number of rows seed per ear, and number of seeds per row. Hybrid corn HIB1 and HIB3 can be an option in the development of maize in rainfed rice fields with the TOT system.
Pengaruh tumpangsari cabai dan tomat terhadap perkembangan hama utama dan hasil cabai (Capsicum annuum L.) Gunaeni, Neni; Wulandari, Astri W; Gaswanto, Redy
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/16028

Abstract

Tumpangsari cabai dan tomat merupakan salah satu sistem kultur teknis dalam pengendalian hama terpadu. Tujuan penelitian untuk mendapatkan sistem penanaman cabai yang paling tepat dalam menekan perkembangan hama utama dan meningkatkan hasil cabai. Penelitian dilakukan di Balitsa. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Desember 2018, metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok diulang empat kali dengan perlakuan: (A). Cabai dan tomat ditanam bersamaan (B). Tomat ditanam satu minggu setelah cabai (C). Tomat ditanam dua minggu setelah cabai (D). Tomat ditanam tiga minggu setelah cabai (E). Cabai ditanam monokroping tanpa menggunakan mulsa plastik hitam perak (F). Cabai monokroping dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak. Hasil penelitian: Tumpangsari cabai dan tomat berpengaruh baik dalam menekan populasi kutu daun 14,65%-48,91%, kutu kebul 18,30%-27,16%, trips 11%-41,44%, dan dapat meningkatkan hasil cabai 90%-127% dibandingkan cabai monokroping dan 10%-31% cabai monokroping dengan mulsa plastik hitam perak. Implikasi dari hasil penelitian sistem tanam tumpangsari cabai dan tomat dapat menghambat perkembangan populasi hama utama cabai karena dapat bersifat sebagai barrier dan repellen. Perlakuan terbaik adalah tomat ditanam 1 dan 2 minggu setelah cabai.ABSTRACTChilli and tomatoes intercropping is a technical culture system in integrated pest control. The study aimed to find the most appropriate chilli planting system to suppress the development of major pests and increase chilli yields. The research was conducted at the IVEGRI. The study was conducted from April to December 2018, and the experimental method using an RBD was repeated four times. Treatments: (A). Chilli and tomato planted together (B). Tomatoes were planted one week after chilli (C). Tomatoes are planted two weeks after chilli (D). Tomatoes are planted three weeks after chilli. (E). The chilli was grown monocrop without silver black mulch (F). Chilli was grown monocrop with silver black mulch. The results: Chilli and tomato intercropping had a good effect on suppressing aphids population 14,65%-48,91%, white flying 18,30%-27,16%, trips 11%-41,44%, and could increase chilli yields 90%-127% compared to monocropped chilli and 10%-31% monocropped chilli with silver black mulch. The implications of the research results on chilli and tomato intercropping systems can inhibit the development of the main pest population of chilli because they act as a barrier and repellant. The best treatment is tomato planted 1 and 2 weeks after chilli. Tumpangsari cabai dan tomat merupakan salah satu sistem kultur teknis dalam pengendalian hama terpadu. Tujuan penelitian untuk mendapatkan sistem penanaman cabai yang paling tepat dalam menekan perkembangan hama utama dan meningkatkan hasil cabai. Penelitian dilakukan di Balitsa. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Desember 2018, metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok diulang empat kali dengan perlakuan: (A). Cabai dan tomat ditanam bersamaan (B). Tomat ditanam satu minggu setelah cabai (C). Tomat ditanam dua minggu setelah cabai (D). Tomat ditanam tiga minggu setelah cabai (E). Cabai ditanam monokroping tanpa menggunakan mulsa plastik hitam perak (F). Cabai monokroping dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak. Hasil penelitian: Tumpangsari cabai dan tomat berpengaruh baik dalam menekan populasi kutu daun 14,65%-48,91%, kutu kebul 18,30%-27,16%, trips 11%-41,44%, dan dapat meningkatkan hasil cabai 90%-127% dibandingkan cabai monokroping dan 10%-31% cabai monokroping dengan mulsa plastik hitam perak. Implikasi dari hasil penelitian sistem tanam tumpangsari cabai dan tomat dapat menghambat perkembangan populasi hama utama cabai karena dapat bersifat sebagai barrier dan repellen. Perlakuan terbaik adalah tomat ditanam 1 dan 2 minggu setelah cabai.
Estimasi nilai ragam genetik dan heritabilitas tomat tipe determinate pada dua lingkungan tanam di dataran rendah Farhah, Najmi; Daryanto, Ady; Istiqlal, Muhammad Ridha Alfarabi; Pribadi, Edi Minaji; Widiyanto, Sigit
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/16276

Abstract

Pertumbuhan tomat pada lingkungan berbeda memberikan perbedaan hasil karena adanya interaksi genetik x lingkungan yang mempengaruhi ekspresi suatu gen pada kondisi lingkungan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai ragam genetik serta nilai heritabilitas arti luas pada genotip tomat tipe determinate di dua lingkungan tanam. Penelitian dilakukan dari Maret hingga Juli 2021 dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) di dua lingkungan tanam (Depok dan Jakarta). Perlakuan terdiri dari 3 genotip tomat generasi F6 dan 2 varietas komersil diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan tanam memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan genotip tomat yang digunakan. Nilai ragam genetik pada setiap karakter tergolong dalam kriteria sempit, kecuali pada karakter tebal daging buah dan luas daun. Nilai heritabilitas arti luas terhadap karakter yang diamati menunjukkan kriteria tinggi, kecuali pada karakter diameter buah (kriteria sedang) dan karakter tinggi tanaman (kriteria rendah). Genotip RwTa-4-10U-6U-4U-2U memberikan penampilan terbaik pada kedua lokasi tanam, dengan tinggi tanaman lebih rendah (91,09 cm), diameter batang lebih kekar (9,69 mm), buah lebih panjang (5,64 cm), diameter buah lebih besar (4,25 cm), total padatan terlarut lebih tinggi (5,22ºBrix), bobot per buah lebih besar (48,43 g), serta umur berbunga lebih genjah (25 HST) dibandingkan varietas Tantyna dan varietas Tora.ABSTRACTTomatoes growth in different environments give different results due to genetic x environment interaction that affect the expression of genes in a certain environmental condition. This study aimed to estimate the genetic variance and the broad sense heritability of determinate tomato genotypes in two growing environments. The study was conducted from March to July 2021, using a Randomized Complete Block Design (RCBD) in two planting environments (Depok and Jakarta). The treatments consisted of 3 genotypes of tomato generation F6 and 2 commercial varieties with 3 replications. The results showed that the environment affected the growth and development of the tomato genotypes used. The genetic variance was classified into narrow criteria except for flesh thickness and leaves area. The heritability value showed high value except for fruit diameter (medium) and plant height (low). The genotype RwTa-4-10U-6U-4U-2U gave the best performance at both planting locations, with lower plant height (91.09 cm), more harder stem diameter (9.69 mm), longer fruit (5.64 cm), larger fruit diameter (4.25 cm), higher total dissolved solids (5.22ºBrix), greater weight per fruit (48.43 g), and early flowering (25 DAP) compared to the Tantyna and Tora varieties.
Bioassay of phosphorus solubilizing isolates for enhance P solubility and growth of rice (Oryza sativa L.) Fitriatin, Betty Natalie; Manurung, Dahlia Florencia; Setiawati, Mieke Rochimi
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/17754

Abstract

Fosfat merupakan salah satu unsur yang berperan penting bagi pertumbuhan tanaman dan kesuburan tanah. Namun, ketersediaan unsur P terlarut yang dapat diserap oleh tanaman sangat kecil karena berikatan dengan kation yang berada di dalam tanah. Salah satu upaya dalam meningkatkan P tersedia dalam tanah adalah dengan pemanfaatan agen hayati Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). Penelitian ini bertujuan untuk menguji isolat BPF yang dapat meningkatkan kelarutan P dan pertumbuhan padi pada uji hayati. Percobaan ini dilaksanakan di Rumah Kaca Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan dan 5 ulangan. Masing-masing perlakuan jenis bakteri adalah kontrol, Bacillus substilis, B. megatherium, Pseudomonas mallei, Burkholderia sp., dan isolat campuran. Hasil percobaan menunjukkan isolat BPF yang diuji memiliki kemampuan yang bervariasi dalam meningkatkan enzim fosfatase, kelarutan P, dan pertumbuhan padi pada uji hayati. Lebih lanjut, perlakuan BPF campuran memberikan pengaruh lebih baik terhadap aktivitas fosfatase, P terlarut dan pertumbuhan padi dibandingkan isolat tunggal.ABSTRACTPhosphorus is an element that important for soil fertility and plant growth. However, the phosphate nutrient can be uptaken by plants only in a small amount because it binds to cations in the soil. The effort for enhancing the soil P availabilty is by the phosphorus solubilizing bacteria (PSB). This study aimed to test PSB  isolates  for increasing P solubility and rice growth using bioassay. The experiment conducted at the greenhouse in Jatinangor District, Sumedang Regency, West Java with  Randomized Block Design (RBD) for PSB isolates with five replications. Each type of bacteria treatment was control, Bacillus substilis, B. megatherium, Pseudomonas mallei, Burkholderia sp., and mixed isolates. The results showed that the P solubilizing  isolates had various abilities to enhance phosphatase, P solubility, and rice growth using bioassay. Furthermore, the mixed PSB isolates had a better effect on phosphatase activity, dissolved P and rice growth than single isolates.
Antagonisme jamur rizosfer tanaman karet terhadap Rigidoporus microporus secara in vitro dan in planta Yulia, Endah; Rahayu, Aldi; Suganda, Tarkus
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/17824

Abstract

Penyakit jamur akar putih (JAP) yang disebabkan oleh Rigidoporus microporus merupakan penyakit penting pada tanaman karet. Pengendalian penyakit JAP umumnya menggunakan fungisida sintetik yang berdampak buruk terhadap lingkungan dan berbiaya mahal. Salah satu cara pengendalian penyakit tular tanah yang lebih murah dan efisien adalah pemanfaatan mikroorganisme antagonis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji antagonisme jamur rizosfer tanaman karet (JRK) terhadap R. microporus. Penelitian dilaksanakan dari November 2021 hingga Februari 2022 menggunakan metode survei di Perkebunan Karet Rakyat (PKR) Sakambangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat serta metode eksperimental di Laboratorium Fitopatologi, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Rancangan Acak Lengkap digunakan untuk dua uji antagonisme yaitu dual culture (in vitro) berupa perlakuan 17 isolat JRK dan kontrol R. microporus serta uji potongan akar (in planta) berupa perlakuan 8 isolat JRK dan dua kontrol dengan tiga kali ulangan. Dari hasil penelitian diperoleh 17 isolat jamur termasuk genus Trichoderma, Aspergillus, Penicillium, Gliocladium, Paecilomyces, Acremonium dan Cladosporium, serta empat isolat tidak teridentifikasi. Semua isolat menghambat pertumbuhan R. microporus pada uji in vitro dan kolonisasi pada uji in planta dengan penghambatan tertinggi masing-masing 86,07% dan 85,33%. Trichoderma sp., Aspergillus sp. dan Penicillium sp. merupakan jamur antagonis potensial untuk mengendalikan R. microporus asal PKR Sakambangan.ABSTRACTWhite root rot disease (WRRD) incited by Rigidoporus microporus is an important disease in rubber plants. WRRD is commonly controlled using synthetic fungicide, nevertheless it is expensive and harmful to environment. One way to control soil-borne diseases that is considered cheaper, efficient and safer is by using antagonistic microorganisms. This study aimed to examine the antagonism of rubber plant rhizosphere fungi (RRF) against R. microporus. The research was carried out from November 2021 to February 2022. Research used survey method at a rubber plantation in Sakambangan, Garut Regency, West Java, and experimental method at the Phytopathology Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. A Completely Randomized Design was used for the two antagonism tests, namely dual culture (in vitro) of 17 RRF isolates and R. microporus as control treatment while a rubber root piece test (in planta) was used for testing 8 RRF isolates and two control treatments with three replications. The results derived 17 fungal isolates in the genera of Trichoderma, Aspergillus, Penicillium, Gliocladium, Paecilomyces, Acremonium, Cladosporium, and four unidentified. All isolates inhibited the growth (86.07%) and colonization (85.33%) of R. microporus. Trichoderma sp., Aspergillus sp. and Penicillium sp. are potential antagonists against R. microporus of Sakambangan rubber plantation origin.
Perbaikan fisik tanah pasca galian batuan dan pertumbuhan cabai rawit dengan pemberian bahan organik dan mikroorganisme tanah Pangaribuan, Nurmala; Hidayat, Cecep; Rachmawati, Yati Setiati
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/17966

Abstract

Bahan organik dan mikroorganisme diperlukan untuk memperbaiki sifat fisik tanah pasca galian batuan agar dapat digunakan untuk budidaya tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi bahan organik dan mikroorganisme tanah terhadap perbaikan fisik tanah pasca galian batuan dan pertumbuhan cabai rawit. Penelitian dilaksanakan di Cibiru Bandung, Jawa Barat dengan titik ordinat  -6.92049471880716, 107.716127309820, dari bulan Juni sampai Oktober 2020, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial  dua faktor dan diulang tiga kali. Faktor pertama yaitu bahan organik: b0 : kontrol (tanpa pemberian bahan organik), b1: kompos Paitan 15 t ha-1, b2: kompos eceng gondok 15 t ha-1, b3: abu cangkang sawit 15 t ha-1. Faktor kedua : mikroba: mo: kontrol (tanpa pemberian mikroba), m1 : Inokulum campuran Fungi Mikoriza Asburkular (FMA) 10 g polibag-1, m2 :Inokulum campuran  BPF (Bakteri Pelarut Fosfat) 10 ml polibag-1, m3 : campuran FMA dan BPF. Hasil penelitian menunjukkan eceng gondok 15 t ha-1 yang diberikan bersamaan dengan FMA atau BPF menaikan kelembaban tanah. Aplikasi bahan organik dan mikroba menurunkan agregat stabil tahan air. Eceng gondok dan BPF masing-masing menurunkan suhu tanah. Aplikasi bahan organik dan mikroorganisme belum berpengaruh dalam peningkatan pertumbuhan tanaman cabai rawit, namun berpengaruh terhadap fisik tanah  tanah pasca galian batuan.ABSTRACTOrganic matters and microorganisms are needed to improve the physical properties of the post-mine sand pits soil so that it can be used for plant cultivation. The purpose of this study was to know the influence of organic matters and soil microorganism application on post-mine sand pits soil improvement and chili pepper growth. This study was conducted in Cibiru Bandung (-6.92049471880716, 107.716127309820), from June to October 2020, using Block Randomized Factorial Design two factors and repeated three times. The first factor was organic matters: b0 : control, b1: compost Titonia 15 t ha-1, b2: compost Hyacinth 15 t ha-1, b3: palm shell ash 15 tha-1. The second factor: microbes: m0: control, m1: mix inoculum AMF  10 g polybag-1, m2 : mix inoculum PSB 10 ml polybag-1 , m3 : mixture of AMF and PSB. The results showed that hyacinth 15 t ha-1 given with FMA or PSB increased soil moisture. The application of organic matters and microbes decreased water stable aggregates. Hyacinth and PSB lower the temperature of the soil. The application of organic matters and microorganisms has not had an effect in increasing the growth of chili pepper plants but influences the physical properties of the post-mine sand pit  soil.
Pengaruh peningkatan suhu pada fase pembentukan umbi tanaman kentang (Solanum tuberosum) cv. Granola Pantouw, Carla Frieda; Hapsari, Betalini Widhi; Hastilestari, Bernadetta Rina
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/18117

Abstract

Kentang (Solanum tuberosum) merupakan salah satu bahan makanan yang penting di dunia. Budidaya komoditas ini umumnya berada di dataran tinggi dengan suhu yang rendah. Jumlah lahan pertanian di dataran tinggi semakin kecil disebabkan antara lain karena alih fungsi lahan. Penanaman kentang di dataran yang lebih rendah menjadi kendala karena adanya peningkatan suhu. Penelitian ini dirancang untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat dan perubahan suhu terhadap tanaman kentang pada fase pembentukan umbi. Tanaman kontrol ditanam pada ketinggian 2921 meter diatas permukaan laut (m dpl) dengan suhu siang/malam (190C/120C). Setelah fase pembentukan umbi, sebagian tanaman dipindah ke daerah dengan ketinggian 115 m dpl dengan suhu siang/malam (300C/240C). Perubahan ketinggian tempat dengan suhu yang berbeda mengakibatkan shade avoidance, perubahan akumulasi biomasa pada batang tanaman dan penurunan hasil panen. Hal ini disebabkan karena penurunan hasil fotosintesa, sukrosa, serta kadar klorofil yang disebabkan oleh faktor genetik dan metabolisme enzim. Oleh karena untuk mendukung permintaan komoditas kentang yang semakin meningkat, pemuliaan tanaman kentang tahan terhadap cekaman suhu diperlukan untuk memperluas area penanaman kentang di dataran menengah maupun dataran rendah.ABSTRACTPotato (Solanum tuberosum) is one of the important staple foods in the world. This plant is mostly cultivated in high-altitude regions with low temperatures. As the number of lands for potato cultivation is getting smaller due to land conversion. Potato cultivation in low-altitude regions with high temperatures yields low productivity. This study was designed to determine the effect of altitude and temperature changes on potato plants in the tuber formation phase. Control plants were planted in an area with an altitude of 2921 meters above sea level (m asl), with day/night temperatures (190C/120C). After the tuber formation phase, some plants were transferred to areas with an altitude of 115 m above sea level and day/night temperatures (300C/240C). Change in altitude with different temperatures resulted in shade avoidance, changes in the accumulation of biomass on plant stems, and yield reduction. This is due to decreasing sucrose content as photosynthesis assimilates, and chlorophyll content due to genetic factors and enzyme metabolism. Therefore, to support the increasing demand for potato commodities, breeding potato plants resistant to heat stress is needed to expand the potato planting area in middle or low altitudes. 
Analysis of the growth, productivity and nutritional content of jarak towo variety cassava at various fertilizers and altitudes in Karanganyar Regency, Indonesia Irianto, Heru; Mujiyo, Mujiyo; Ningsih, Hardian; Qonita, Rade Rara Aulia; Riptanti, Erlyna Wida
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/18205

Abstract

Pengembangan singkong Jarak Towo meningkatkan ketersediaan bahan baku olahan pangan dan pendapatan petani. Hal ini karena keunggulan rasa dan tekstur halus dengan harga mencapai 3 sampai 4 kali lipat dari varietas lain. Sebagai bahan baku industri pengolahan pangan, harus didukung dengan kandungan gizi yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas, parameter pertumbuhan, kandungan gizi singkong Jarak Towo dengan perlakuan dosis pupuk P dan K serta ketinggian tempat yang berbeda. Penelitian ini menggunakan percobaan rancangan acak kelompok lengkap dengan faktorial kombinasi dosis pupuk P dan K. Dosis pupuk P tiga level berupa SP36 yaitu 0 kg ha-1, 100 kg ha-1, dan 200 kg ha-1, sedangkan dosis pupuk K berupa KCl tiga level yaitu 0 kg ha-1, 150 kg ha-1, 300 kg ha-1 sehingga diperoleh sembilan kombinasi perlakuan yang diulang di tiga lokasi yaitu Desa Kemuning, Sepanjang, dan Wonorejo pada ketinggian 700 mdpl, 927 mdpl, and 1034 mdpl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa singkong Jarak Towo yang dibudidayakan di Desa Kemuning memiliki kadar air dan lemak tertinggi 54,28 ± 2,76% dan 0,78 ± 0,21%. Kandungan karbohidrat dan protein tertinggi diperoleh di Desa Wonorejo 15,74 ± 4,25% dan 2,42 ± 0,23%. Perlakuan pupuk P dan K tidak berpengaruh signifikan terhadap parameter pertumbuhan, produktivitas dan nutrisi dalam singkong Jarak Towo.ABSTRACTThe development of Jarak Towo cassava increases the availability of processed food raw materials and farmers' income. This is because of the superiority of taste and smooth texture with prices reaching 3 to 4 times that of other varieties. As a raw material for the food processing industry, it must be supported by quality nutritional content. This study aimed to determine productivity, the growth parameters, nutritional content of Jarak Towo cassava with different doses of P and K fertilizers and altitudes. This research used a completely randomized block design trial with a factorial combination of P and K fertilizer doses. The dose of P fertilizer at three levels in the form of SP36 was 0 kg ha-1, 100 kg ha-1, and 200kg ha-1, while the dose of K fertilizer in the form of KCl 3 levels was 0 kg ha-1, 150 kg ha-1, 300 kg ha-1 in order to obtain nine treatment combinations repeated in three locations, namely Kemuning, Sepanjang, and Wonorejo Villages at an altitude of 700 masl, 927 masl, and 1034 masl. The results showed that Jarak Towo cassava cultivated in Kemuning Village had the highest water content and fat content of 54.28 ± 2.76% and 0.78 ± 0.21%. The highest carbohydrate and protein content were obtained in Wonorejo Village 15.74 ± 4.25% and 2.42 ± 0.23%. The treatment of P and K fertilizers had no significant effect on the growth parameters, productivity and nutrition in Jarak Towo cassava.
Induksi ketahanan tanaman padi terhadap serangan pathogen busuk pelepah (Rhizoctonia solani) menggunakan halotoleran bakteri Diazotrof asal pantai utara Pemalang, Jawa Tengah Isnaeni, Fenty Chakimatul; mugiastuti, Endang; Leana, Ni Wayan Anik; Oktaviani, Eka; Purwanto, Purwanto
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/18516

Abstract

Padi merupakan komoditas pangan yang memiliki peranan terpenting dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Ekstensifikasi produksi padi dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan marjinal seperti lahan salin. Lahan salin merupakan lahan yang memiliki kadar kadar garam tinggi akibat intrusi air laut maupun tingginya laju evaporasi. Pengembangan budidaya padi di lahan salin memiliki kendala berupa serangan patogen busuk pelepah (Rhizoctonia solani). Alternatif pengendalian patogen selain menggunakan pestsida kimia, dapat dilakukan menggunakan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), seperti kelompok bakteri diazotrof. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi bakteri diazotrof lahan salin dalam meningkatkan ketahanan tanaman padi serta kemampuannya dalam memacu pertumbuhan padi yang terinfeksi R. solani. Penelitian dilaksanakan di Experimental Farm dan Laboratorium Agronomi & Hortikultura, Fakultas Pertanian Unsoed pada bulan Oktober 2021 - Februari 2022. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 11 perlakuan dan diulang tiga kali, meliputi kontrol tanpa inokulasi bakteri diazotrof dan inokulasi isolat Ju1, Jn3, Jn1, J, J12, J5, Kn1, A3, Jn dan K3. Semua tanaman juga dinokulasi dengan Rhizoctonia solani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi bakteri diazotrof dapat meningkatkan ketahanan padi yang terinfeksi jamur R. solani, ditandai dengan penurunan intensitas penyakit hingga 70%, peningkatan kandungan saponin, tanin dan hidrokuinon, serta peningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman dan panjang akar total padi.ABSTRACTRice is the most important  food commodity that supply the basic needs of the Indonesian people. The development of rice cultivation in salin land has obstacles in the form of attacks by sheat blight pathogen (Rhizoctonia solani). Alternative to controlling pathogens other than using chemical pesticides is by using Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), such as diazotroph bacteria. This research aimed to determine the potential of diazotrof bacteria in increasing rice resistance and its ability to stimulate the growth of rice infected with R. solani. The research was carried out at Experimental Farm and Agrohorti Laboratory, Faculty of Agriculture Unsoed in October 2021 - February 2022. The design used was Randomized Completely Block Design (RCBD) with 11 treatments and repeated three times, including controls without inoculation of diazotroph bacteria and inoculation of isolates Ju1, Jn3, Jn1, J, J12, J5, Kn1, A3, Jn and K3. All plants were also inoculated with R. solani. The results showed that inoculation with diazotrof bacteria could increase the rice resistance towards attack of sheath blight pathogen (R. solani) that characterized by a decrease disease intensity up to 70%, increase saponins, tannins and hydroquinones content, also increase growth of plant height and total root length of rice.