cover
Contact Name
Hero Patrianto
Contact Email
jurnal.atavisme@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.atavisme@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252, Indonesia
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : 1410900X     EISSN : 25035215     DOI : 10.24257
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009" : 11 Documents clear
AJARAN ISLAM DALAM AYAT-AYAT CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY Nilofar, Naila
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.117 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.161.97-103

Abstract

Novel, sebagai bagian dari fiksi, memiliki dua fungsi, yaitu bermanfaat dan menghibur. Habiburrahman El-Shirazy mengekspresikan pandangannya mengenai ajaran Islam melalui novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Dalam novel tersebut, Habiburrahman El-Shirazy menunjukkan pada pembaca bagaimana berhubungan dengan orang lain: muslim atau bukan, orang tua, tamu, dan hubungan antara pria dan wanita. Dia juga menunjukkan ajaran Islam lainnya, seperti pernikahan, etika berpakaian, dan mandi. Dia mengekspresikan pandangannya tentang ajaran Islam berdasarkan Alquran dan Hadis. Abstract: Novel as a part of fiction that tells story, has two functions. They are entertainment and esthetics functions. Habiburrahman El-Shirazy expresses his view about Islamic teachings through novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). In the novel AAC, Habiburrahman El-Shirazy shows readers how to make relationship with other people: moslems or not, older people, a guest, and a relationship between man and woman. He also shows the readers about other Islamic teachings such as marrital, dressing up and bathing ethics. He expressed his view about Islamic teachings based on Alquran and Hadis. Keywords: novel, esthetic functions, Islamic teachings
MAKNA PERLAWANAN KULTURAL DALAM PUISI INDONESIA MUTAKHIR Manuaba, I.B. Putera
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.829 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.152.1-7

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji bentuk perlawanan kultural yang ada dalam puisi Indonesia mutakhir serta manfaatnya. Penelitian telah menemukan beberapa bentuk perlawanan kultural dalam puisi-puisi Indonesia, termasuk perlawanan terhadap ketidakadilan sosial, demoralisasi, modernisasi, kekuasaan, kekerasan dan penindasan, serta pendidikan yang tidak mencerdaskan. Perlawanan-perlawanan budaya tersebut mengandung makna sebagai berikut. Pertama, untuk membangun masyarakat bangsa yang lebih mementingkan keadilan sosial. Kedua, untuk menciptakan sebuah masyarakat bermoralitas tinggi. Ketiga, untuk meraih kemajuan dan modernisasi dalam kehidupan di segala bidang tetapi tetap menghargai rasa kemanusiaan antarumat manusia. Keempat, bertujuan untuk membuat hidup masyarakat lebih sejahtera dan bahagia. Kelima, untuk menyarankan dan memandu gaya hidup dan budaha antikekerasan. Keenam, untuk membangun kehidupan yang toleran dan egaliter. Ketujuh, untuk mendorong pendidikan yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat supaya lebih pandai dan siap setiap saat untuk menghadapi tantangan dalam hidup mereka. Abstract: The research?s aim is to study any form of cultural resistance existing in the contemporary Indonesian poems and its significance. The research has found some forms of the cultural resistance taking place in the Indonesian poems, including the resistance againts the social injustice, demoralization, modernization, power, violence and oppression, and devastating and weakening education. The cultural resistances have a sense of the following. First, to build the society nation which emphasizes more on the social justice. Second, to create a society upholding high morality. Third, to accomplish any advancement and modernization in life and in any field but remain respecting the humanity sense among human kinds. Fourth, aim to make people better off and live happily. Fifth, to advise and guide the antiviolence way of life and culture. Sixth, to build tolerant and egalitarian life. And finally, sixth, to encourage the education oriented on empowering people to be smart and being always ready in coving with challenges being faced any time in their life. Keywords: poem, cultural resistance, sense
MENUJU TEORI SASTRA INDONESIA: MEMBANGUN TEORI PROSA FIKSI BERBASIS NOVEL-NOVEL KEARIFAN LOKAL Soedjijono, Soedjijono
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.371 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.157.47-63

Abstract

Tujuan utama kajian ini adalah memerikan karakteristik struktur novel-novel kearifan lokal. Hasil kajian ini diharapkan untuk mengembangkan teori kesastraan Indonesia, terutama teori prosa fiksi. Empat novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi, Pasar karya Kuntowijoyo, Para Priyayi karya Umar Kayam, dan Ibu Sinder karya Pandir Kelana adalah subjek kajian ini. Pendekatan struktural dinamik dipilih untuk menganalisis masalah-masalah yang dipertanyakan. Dengan begitu, analisis ini mampu menerangkan elemen intrinsik, ekstrinsik dan historis untuk interpretasi lebih lanjut. Kajian ini telah menemukan tiga hasil penting: (1) karakteristik khas novel-novel kearifan lokal; (2) karakteristik khusus elemen struktural dalam novel-novel kearifan lokal; dan, (3) teori prosa fiksi Indonesia yang dihasilkan dari karakteristik yang ditemukan sebelumnya. Abstract: This fundamental study aims at describing the characteristics of the structure of local wisdom novels. The results of this study are expected to contribute to putting up Indonesian literary theory, particulary the theory of fiction prose. Four novels Linus Suryadi?s Pengakuan Pariyem, Kuntowijoyo?s Pasar, Umar Kayam?s Para Priyayi, and Pandir Kelana?s Ibu Sinder are the subjects of this study; and dynamic-structural approach is chosen to analyse the issues on question. Hence, it will be able to shed a light on the intrinsic, extrinsic and historical elements for further interpretation. This study has found out three important results: (1) typical characteristics of local wisdom novels; (2) specific characteristics of structural elements of local wisdom novels; and, (3) theory of Indonesian prose fiction resulting from the characteristics previously found. Keywords: theory of fiction prose, local wisdom novels, dynamic-structural approach
GANDRUNG DALAM KEMASAN KRITIK SOSIAL BERNUANSA PARODI Saputra, Heru S.P.
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.741 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.162.105-112

Abstract

Gandrung (Kumpulan Naskah Drama) oleh Ilham Zoebazary. Visart Global Media, Jember, 2009, viii + 190 halaman
SASTRA LISAN TENGGER PILAR UTAMA PEMERTAHANAN TRADISI TENGGER Sutarto, Ayu
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.315 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.153.9-21

Abstract

Artikel ini bertujuan membahas sastra lisan Tengger sebagai tiang utama pemertahanan tradisi Tengger dengan pendekatan folklor. Sastra lisan yang dibahas adalah legenda Kasada dan Karo serta mantera. Dalam sejarah, legenda Kasada pernah terpengaruh oleh proses islamisasi, sementara legenda Karo memiliki pesan kultural yang menganjurkan persatuan dan kesatuan dalam perbedaan iman antara Budha-Hindu dan Islam. Meskipun demikian, dalam rekam jejak sejak era kolonial, legenda Kasada dan Karo serta mantra mengalami perubahan. Sastra lisan tersebut dapat bertahan hidup karena pewaris aktifnya telah menggunakannya sebagai tiang utama dalam tradisi Tengger. Abstract: This writing is aimed to discuss Tengger oral literature as a main pillar of Tengger tradition mainte- nance with folklore approach. Oral literature being discussed are Kasada and Karo legend and magic formula. In the history, Kasada legend has ever been influenced by islamization process, while Karo legend has a cultural message that suggests the unity in differences between Buddha-Hindu and Islam. Although, in the track record since colonial era, Kasada and Karo legend and magic formula sometimes change, the oral literatures can be still alive because their active heir has used them as a main pillar of Tengger tradition. Keywords: Tengger, oral literature, Kasada legend, Karo legend
TELAAH ESTETIKA DALAM NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAESA AYU Sugiarti, Sugiarti
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.711 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.158.65-76

Abstract

Sebuah karya sastra adalah produk kreativitas seorang pengarang dalam memandang kehidupan dan lingkungan sosial ketika karya tersebut diperkenalkan. Dalam proses kreatifnya, seorang pengarang melakukan kerja keras dan serius dalam berbagai dimensi kehidupan dengan realisasi estetiknya dan berujung pada proses imajinatif, kontemplatif, reaktif, reflektif, dan refraktif. Ini dilakukan untuk merepresentasikan karya-karya sastra pengarang. Oleh karena itu, estetika diinternalisasikan ke dalam karya-karya sastra beserta genrenya. Masalah estetika sastra adalah aspek menarik untuk diteliti karena mewarisi gagasan kontemporer mengenai simbol dan pengalaman estetik dengan sifat uniknya. Dalam perjalanan kontemplasinya, seorang pengarang terkadang dihadapkan pada sebuah kontradiksi antara konvensi dan kreasi yang membuat pembacanya terkejut. Fenomena yang hampir sama terjadi dalam novel berjudul Nayla karya Djenar Maesa Ayu. Dalam novel ini, pengarang memiliki semacam kesensitifan untuk menghadapi sebuah objek dan kemampuan untuk menyerap makna keindahan. Keindahan tersebut ditata dengan menghubungkan sifat subjek dan objek melalui keterampilan dalam menata dan mengombinasikan bahasa. Itulah cara bagaimana seorang pengarang bekerja dalam koridor estetika untuk mengekspos konflik, perjuangan, dan dominasi dalam teks sastra. Abstract: A literary work is an author creativity product in seeing life and social environment in the time when the work is introduced. In his creative process, an author performs a hard and serious work on various life dimensions with their esthetic realization that ends in the imaginative, contemplative, reactive, reflective, and refractive process. This is done to represent the author?s literary works. Therefore, esthetics is internalized in the literary works along with their genres. The issues on esthetics in literature are interesting aspects to investigate since they inherit contemporary ideas pertaining to symbols and esthetic experience with its unique features. In his journey of contemplation, an author is sometimes confronted with a contradiction between convention and creation that makes the readers get surprised. Almost similar phenomenon takes place in the novel entitling Nayla written by Djenar Maesa Ayu. In this novel, the author has a kind of sensitivity to face an object and ability to absorb the sense of beauty. The beauty is arranged by relating the nature of subject and object through the skills in arranging and combining languages. That is the way how an author works in esthetic corridor to expose conflicts, struggles, and domination in literary texts. Keywords: creative process, esthetics, reality of subject and object
THE FAMOUS POET IN HARPUR’S POEM Nugroho, Henriono
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.154.23-30

Abstract

This research aims to discuss literary work through stylistic analysis based on sistemic functional linguistics and literature semiotic system. The research methods used are the librarian study, descriptive method and objective intrinsic approach. The research result shows that the semantic analysis has produced the automatized linguistic meaning and foregrounded linguistic meaning. Next, the first meaning produces the subject matter and the secong meaning produces the literary meaning. Later, the literary meaning produces theme. Finally, it is proved that the subject matter tells about harmony; the literary meaning is about Shelley?s fame; and, the theme is about a famous poet. Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji karya sastra melalui analisis stilistika berdasarkan ilmu bahasa fungsional sistemik dan sistem semiotik karya sastra. Metode penelitian menggunakan studi pustaka, metode deskriptif, dan pendekatan intrinsik objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis semantik menghasilkan makna bahasa latar belakang (the automatized linguistic meaning) dan makna bahasa latar depan (the foregrounded linguistic meaning). Makna pertama menghasilkan masalah utama (subject matter) dan makna kedua menghasilkan makna sastra (literary meaning). Makna sastra menghasilkan tema. Masalah utama berkisah tentang harmoni, makna sastra tentang ketenaran Shelley, dan tema tentang seorang penyair terkenal. Kata kunci: makna bahasa latar belakang, makna bahasa latar depan, makna sastra, tema.
KARYA SASTRA PEREMPUAN: ANALISIS AWAL TENTANG PERANG GENDER Prakoso, Teguh; Khasanah, Venus
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.159.77-82

Abstract

Tujuan artikel ini adalah menjelaskan perang gender yang tercermin dalam novel karya pengarang- pengarang perempuan Indonesia dari generasi Ayu Utami. Perang gender adalah ?dendam abadi? pengarang-pengarang perempuan terhadap pengarang laki-laki yang, sampai sekarang, mengeksploitasi tubuh perempuan dengan besar-besaran dan memaksa mereka untuk membaca tubuhnya sendiri dari sudut pandang laki-laki. Melalui teks erotis sebagai bahasa ekspresi, pengarang perempuan mampu menulis tubuh mereka dengan sudut pandangnya sendiri. Abstract: This paper has the objective of explaining the gender struggle implied in the novels of Indonesian female authors of Ayu Utami generation. The gender struggle is female author?s ?eternal enmity? towards male authors who, up till now, have greatly exploited woman?s body and force them to read their own body from the male point of view. Through erotic texts as the language of expression, female authors are able to write their body with their own point of view. Keywords: gender struggle, female authors, Ayu Utami generation
SASTRA JAWA KUNA: SEBUAH CERMIN Suarka, I Nyoman
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.155.31-35

Abstract

Artikel ini bertujuan menjelaskan keberadaan sastra Jawa Kuna, kontribusinya, dan juga keterkaitannya dengan kehidupan Indonesia. Para pendiri Indonesia telah menemukan nilai-nilai di dalamnya dan menggunakannya sebagai nama ideologi, semboyan, dan simbol negara. Sastra Jawa Kuna bisa digunakan sebagai sumber untuk memahami kehidupan masyarakat di masa lalu. Selain itu, nilai-nilai tersebut bisa digunakan sebagai panduan hidup. Abstract: This writing is aimed to explain the existence of old Java literature, its contribution and also its relevance for Indonesian?s live. The Indonesian founders have discovered the values in it and used it as a name of state ideology, country motto, and state symbol. Old Java literature can be used as a source to understand society life in the past. In addition, the values can be used as life guidance. Keywords: old Java literature, relevance, value
FEMINISME DALAM SASTRA JAWA SEBUAH GAMBARAN DINAMIKA SOSIAL Widati, Sri
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.160.83-96

Abstract

Artikel ini bertujuan membahas feminisme dalam sastra Jawa, salah satu sastra etnis di Indonesia yang masih eksis sampai saat ini. Sebelum kemunculan pengarang perempuan, perempuan dalam sastra Jawa ditulis oleh pengarang laki-laki sehingga mereka dideskripsikan sebagai makhluk tak berdaya dan setia pada pria, bukan sebagai sosok atau figur yang kuat. Baru tahun 1917-an, dengan munculnya pengarang perempuan muda dari Yogya dan Surabaya, persepsi feminisme dalam sastra Jawa berubah. Dalam karya-karyanya, mereka mendemonstrasikan solidaritas terhadap perempuan yang menjadi korban ketidaksetaraan gender. Saat ini, sastra Jawa feminis ditulis baik oleh pengarang perempuan maupun laki-laki. Pengarang perempuan menyuguhkan sebuah konsep feminisme yang mengarah pada kesetaraan gender, sementara pengarang laki- laki berusaha untuk membela perempuan tertindas dengan cara laki-laki Abstract: This article is aimed to discuss feminism in Javanese literature, one of the ethnical literatures in Indonesia which still exist up till now. Prior to the emergence of female authors, women in the Javanese literature had been written by male authors so that they had been described as being submissive and loyal to men instead of an image or figure of strong ones. Not until 1917s, by the emergence of young female authors from Yogya and Surabaya, did the perception of feminism in Javanese literature change. In the works, they have demonstrated solidarity to women who became the victims of gender inequality. At the present time, feminist Javanese literatures are written by either female or male author. Female authors present a feminism concept which leads to gender equality, whereas male authors make an effort to defend oppressed women by manly methods. Keywords: feminist, Javanese literature, gender equality, female authors

Page 1 of 2 | Total Record : 11