cover
Contact Name
Hero Patrianto
Contact Email
jurnal.atavisme@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.atavisme@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252, Indonesia
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : 1410900X     EISSN : 25035215     DOI : 10.24257
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009" : 10 Documents clear
AKTUALISASI ETIKA KEPEMIMPINAN JAWA DALAM ASTHABRATA Suratno, Pardi
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10322.345 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.170.193-216

Abstract

Nama Asthabrata sangat populer dalam kehidupan masyarakat Jawa karena sering muncul dalarn pagelaran wayang purwa. Ajaran Asthabrata mendapat apresiasi yang sangat luas oleh masyarakat Indonesia karena memuat ajaran kepemimpinan yang dapat dijadikan aspirasi bagi semua pihak yang sedang dan akan mengabdikan hidupnya bagi bangsa dan negara. Asthabrata merupakan kreativitas pujangga Jawa karena tidak dikcnal dalam Ramayana India (baru muncul dalam Ramayana Kakawin), Semua Asthabrata menampilkan figur pemimpin dalam sosok delapan dewa. Dalam perkernbangan lebih lanjut, budayawan Jawa memilih menampilkan figur pemimpin itu dalam sifat-sifat benda alam, yakni bumi, matahari, bulan, bintang, laut, angin, dan awan. Penampilan figur pernimpin dalam sifat benda-benda alam tersebut lebih netral sebagai pilihan cerdas pujangga Jawa. Abstract: The name of Asthabrata is very popular among Javanese live because of its frequent appearance in the wayang purwa performance. Asthabrata teachings have got a wide appreciation from Indonesian people because it carries leadership teachings which can be an aspiration to everyone who is dedicating and will dedicate their lives to their nation and country. Asthabrata is the creativity of the Javanese men of letters for not discovered in Indian's Ramayana (not until Ramayana Kakawin). All Asthabrata present a leader figure in the characters of eight gods. In further progress, Javanese culture vultures chose to present the leader figure in the characters of natural objects. namely earth, Sun, moon, star, ocean, wind, and cloud. The performance of a leader figure in the characters of the natural objects is more neutral as a smart choice of Javanese man of letters. " Keywords: creativity, Asthabrata, leader
PERLAWANAN BANGSA TERJAJAH ATAS HARKAT DAN MARTABAT BANGSA: TELAAH POSTKOLONIAL ATAS TIGA SAJAK INDONESIA MODERN Santosa, Puji
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4576.497 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.166.147-156

Abstract

Kesadaran kebangsaan mengenyahkan peniajahan adalah persoalan nasionalisme suatu bangsa. Nasionalisme di wilayah jajahan adalah reaksi dari tekanan-tekanan sosial dan poliris yang beraneka macam dari para penjajah. Indonesia telah mengalami penjajahan bcrulang kali, seperti penjajahan Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang. Jejak-jejak penjajahan bangsa Eropa dan bangsa Asia Timur Raya tersebut di Indonesia terekam secara jelas dalam sastra Indonesia modern, misalnya dalam tiga sajak Indonesia modern, yaitu sajak "Hang Tuah" karya Amir Hamzah yang merekam jejak pcrlawanan terhadap kolonial bangsa Postugis, sajak "Apa Kata Laut Banda" karya Mansur Samin yang merekam jejak perlawanan pahlawan Maluku terhadap kolonial bangsa Belanda, dan sajak "Sontanglelo" karya Mansur Samin yang merekam jejak perlawanan pcmuda Batak terhadap penjajahan bangsa Jepang. Ketiga sajak Indonesia modem itu dipilih sebagai percontoh pembicaraan tentang kritik postkolonial dengan alasan: (1) Ketiga sajak di atas merekam sejarah bangsa tentang jejak- jejak penjajahan di Indonesia, yakni suatu semangat kesadaran anak bangsa unluk berdaulat, terbebas dari penjajahan serta membangkitkan semangat nasionalisme bangsa, (2) Ketiga sajak di atas ditulis dalam bentuk puisi naratif atau balada yang berisi kisah perlawanan anak bangsa terhadap kolonial, yakni diwakili oleh tokoh Hang Tuah yang rnengadakan perlawanan terhadap bangsa Portugis, tokoh Maria Christina Martha yang mcngadakan perlawanan terhadap bangsa Belanda, dan tokoh Sontanglelo yang mengadakan pcrlawanan terhadap bangsa Jepang. Wujud perlawanan kctiga tokoh di atas merupakan reaksi atas tekanan sosial dan politik dari para kolonialis untuk pembebasan negerinya. Abstract: National awareness to evict colonialization is a nationalism issue of a nation. Nationalism in a colourized territory is a reaction from various social and political pressures of the colonizers. Indonesia had suffered from colonialization for many times, such as colonializations by Portuguese, Dutch, English, and Japanese. The trajectories of European and East Asian colonialization in Indonesia have clearly recorded in modem Indonesian literature, for instance in three modern Indonesian poems, namely "Hang Tuah", written by Amir Hamzah which recorded the resistance trajectory against Portuguese colonial, '' Apa Kata Laut Banda" written by Mansur Samin which recorded the resistance trdject01y of Maluku's heroine against the Dutch colonial, and "Sontanglelo" written by Mansur Samin which recorded the resistance trajectory of a Barak young man against Japanese colonial. The three modem Indonesian poems are selected as examples in a discussion of the postcolonial critic by the reasons: (1) The three poems are records of the national history about colonial trajectory in Indonesia, i.c. a spirit of a national awareness to independent, free from colonialism and arousing the nationalism spirit of a nation. (2) The three poems were written in the form of narrative poems or ballads presenting the stories of a nation resistance against colonialism, i.e. represented by Hang Tuah who fought against Portuguese colonialism, Maria Martha Christina who fought against Dutch colonialism, and Sontanglelo who fought against Japanese colonialism. The realization of the three characters is a reaction to the colonial's social and political pressures in liberating their nation. Keywords: national awareness. nationalism, colonialism, postcolonial, liberation.
KARAKTER MASYSRAKAT MADURA DALAM SYAIR-SYAIR LAGU DAERAH MADURA Azhar, Iqbal Nurul
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4438.675 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.171.217-228

Abstract

Lagu dan syair Madura merupakan salah satu wujud kebudayaan masyarakat Madura. Sayangnya, faktor keterbatasan pemahaman tcntang syair lagu Madura menjadikan syair-syair itu kurang bermakna. Akibatnya, masyarakat. Madura kurang bisa menghargai syair-syair tersebut dan hanya menempatkannya sebagai karya budaya yang tidak memiliki peran signifikan dalam membangun masyarakat Madura. Padahal apabila dikaji lebih jauh, syair- syair dalam lagu-lagu Madura memiliki makna yang dalam karena mampu memberikan gambaran tentang jati diri masyarakat dan simbol-simbol sosial mcrcka yang dapat dipakai sebagai acuan dan pegangan hidup. Artikel ini berusaha memberikan gambaran tcntang jari diri masyarakat Madura yang tergambar dalam syair-syair lagu Madura. Abstract Madurese traditional songs and the traditional songs' lyrics are two of Madurese cultures. But, because Madurese people lack understanding of the Madurese Lyrics values, this makes the lyrics meaningless. Because of that, Madurese pay little attentions to the lyrics and consider them as ordinary cultural works which play no role towards their society. In fact, when they study further the values behind the lyrics, they will realize that, actually, the lyrics contain a lot of wisdoms and are able to give them a picture that shows them who they really are. This picture can become a form of guidance in their society. This article informs the reader the truth portrait about the real Madurese characters that are reflected from Madurese traditional songs' lyrics. Keywords: traditional songs' lyrics, Madurese, life characters
KREATIVITAS INDIVIDUAL DANARTO DALAM KONTEKS MAKNA SOSIAL PADA "GERGASI" Umaya, Nazla Maharani; AS, Ambarini
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4245.941 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.167.157-166

Abstract

Membicarakan kreativitas individual pada karya sastra dalam konteks makna sosial akan mengarahkan pemahaman melalui pendekatan umum mengenai karya sastra untuk dipelajari sebagai dokumen sosial. Perjalanan karya sastra dan pencipta akan menghidupi pemahaman masyarakat sosial, sebagai cerminan. Faktor sosial mempengaruhi secara langsung dan tidak langsung. Pertimbangan atas relevansi sastra dan masyarakat menghadirkan identitas di tengah masyarakat sebagai kepemilikan berupa dunia dalam kata, yaitu dunia sastra. Fenomena keterlibatan karya sastra dalam masyarakat sosial akan terus mengkaitkan identitas dan karakter secara individu si pengarang untuk ditafsirkan makna serta nilai yang diusung pada hasil karya ciptaannya, Hal ini merupakan salah satu wujud eksistensi penafsiran pembaca pada karya sastra sebagai pemahaman terhadap karakteristik seorang penulis tertentu. Kenyataan yang dilukiskan dengan cara meng-afirmasi, merestorasi, menegasi dan menghadirkan inovasi merupakan wujud nyata yang tidak mampu dipalingkan. Pada penafsiran karya Danarto ini dalam raogka memahami karakteristik individu menghadirkan budaya Jawa yang mcmpengaruhi kelahiran karya sastra. Nilai, norma, tradisi, budaya, serta identitas dimunculkan secara imajinatif dan kreatif melalui sebuah karya cipta sastra. Realitas dihadirkan melalui karya sastra untuk disampaikan dan dipahami dalam konteks makna sosial, serta keberadaan karya sastra secara fungsional. Kehidupan yang paniang disejajarkan dengan cerita pewayangan, dunia nyata dan maya. Interelasi nilai-nilai estetis dalam perubahan struktur sosial ditunjukkan melalui sosiologi sastra dengan penggunaan metafora yang mengacu pada kcabadian seni pewayangan. lnilah karakter individual Danarto dalam berkarya sikap Javanism yang kental mencapai tujuan di dunia sastra. Abstract: Talking about personal creativity for a masterpiece of literary, on the social context of meaning will bring our mind to understand what is the meaning of a conventional approach about literary as a social document, Masterpiece and the creator will gift a soul, deep inside of public understanding about a literary as a mirror of life. The side of social life will take a part of the understanding. Consider the literary relevantly and public will present the identity of public as words of world owner, a literary. Between literary and the public phenomenon will lake some identity and character of creator personality to interpret of the meaning of the masterpiece. It is a show up of the existence of reader interpret to the masterpiece as the understanding of creator identity. Factually some thing that has wrote with affirmation way, the restoration, negation, dan present the innovation is a real thing that cannot be denied. To the Danarto interpretation to understanding of his character, show the javanis culture that has participate on his masterpiece. Esensi, norms, tradition, culture and identity has show up with the an imaginary way and creative way by a masterpiece. The reality is show up to be understanding of the meaning functionality, Long lifes can be lined with the story of wayang, real life, and fiction. This is a personality character of Danarto. Javanism get U1e point with the literary of masterpiece. Keywords: Personal creativity, javanism
NILAI HARMONI DAN KESELAMATAN ALAM SEMESTA Tjahjadi, Indra
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.172.229-232

Abstract

Reaason for Harmony: Anthology of Indonesian Writing in Translation oleh Kadek Krishna Adidharma(ed.). Ubud Writers & Readers Festival. 2008. ix+ 102 halaman
POLA PENCAPAIAN KESADARAN TOKOH UTAMA PEREMPUAN TERTINDAS DALAM NOVEL FAR FROM THE MADDING CROWD KARYA THOMAS HARDY DAN THE TENANT OF WILDFELL HALL KARYA ANNE BRONTE Leiliyanti, Eva
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.163.113-126

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan pola pencapaian kesadaran tokoh utama perempuan tertindas dalam novel Far from the Madding Crowd karya Thomas Hardy dan The Tenant of Wildfell Hall karya Anne Bronte dengan pendekatan feminis. Tokoh utama bemama Bathsheba dalam Far From the Madding Crowd, sadar bahwa hidupnya berada dalam lingkungan patriarkal dan tertindas oleh dominasi laki-laki ketika ditinggal pcrgi suaminya Meskipun akhimya mcnikah dengan laki-laki yang dianggap lebih mencintainya, Bathsheba tetap berada pada posisi tersubordinasi oleh laki-laki. Kesadaran tokoh utama perempuan bemama Helen pada posisinya yang tertindas oleh laki-laki dan lingkungan patriarki dalam The Tenant of Wildfell Hall muncul saat mengetahui perselingkuhan suaminya. Agar dapat hidup bebas dan mandiri, Helen melarikan diri dari suaminya. Pilihan Anne Bronte pada solusi menuju zona liar untuk membebaskan perempuan dari ketertindasan menunjukkan konsistcnsinya sebagai perempuan pengarang, sedangkan laki-laki pengarang (Thomas Hardy) memilih menempatkan tokoh perempuannya tetap bertahan dalam komunitasnya Abstract: This article aims to describe the awareness achievement pattern of the female main character being oppressed in Thomas Hardy's novel, Far From the Madding Crowd and Anne Bronte's novel. The Tenant of Wildfell Hall, by means of feminism approach. The main character in Far From the Madding Crowd, Bathsheba, realized that her life is in patriarchal surroundings and being oppressed by male domination when she was left by her husband. Although, she eventually got married to a man loving her more. Bathsheba is still in the position of subordinated by a male. The awareness of female character named Helen, in her position of being oppressed by male and patriarchal surroundings in The Tenant of Wildfell Hall, emerged when she found her husband adultery. To live free and liberated, Helen ran away from her husband. Anne Bronte's choice to a solution heading for the wild zone in Liberating women from oppression indicates her consistency as an author female; whereas. author male (Thomas Hanly) chose to set his female character to persist with her community. Keywords: awareness, oppressed woman, patriarchal, feminism
PERBEDAAN MAKNA NOVEL DAN FILM AYAT-AYAT CINTA: KAJIAN EKRANISASI Karkono, Karkono
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.168.167-180

Abstract

Proses adaptasi dari novel ke bentuk film disebut ekranisasi. Perbedaan yang sering muncul dalam proses ekranisasi selama ini lebih sering disebabkan oleh perbedaan sistem sastra (dalam hal ini novel) dan sistem film. Hal-hal teknis seperti media novel yang berupa kata- kata dan bahasa sementara media utama film adalah audio visual (suara dan gambar) memang menjadi kewajaran jika antara novel dan film menjadi berbeda. Dalam kasus novel dan film Ayat-Ayat Cinta (AAC), perbedaan yang ada bukan sebatas karena masalah teknis tersebut, tetapi adalah perbedaan yang disengaja. Hasil dari penelitian ini adalah menguraikan perbedaan-perbedaan antara novel dan film AAC yang kemudian bisa terdeskripsikan sebab- sebab perbedaan itu terjadi dan juga makna perbedaan tersebut. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang ada antara novel dan film AAC bukan sebatas karena perbedaan sistem sastra dan sistem film, tetapi perbedaan yang disengaja oleh tim produksi film dengan maksud tertentu. Dari pengayaan dan berdasar pada fakta yang diungkap, peneliti menyimpulkan bahwa film AAC lebih menekankan pada persoalan poligami, ini terlihat dengan banyaknya penambahan adegan di dalam film yang menampilkan kehidupan poligami yang tidak ada di novel, sementara novel AAC lebih berisi. penggambaran perjuangan seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir beserta perjalanan kisah asmaranya. Abstract Adaptation process from novel to film is called ecranization. The differences often show up in the process of ecranization all this time is more regularly because of the difference of art system (in this case novel) and the film system. Technical things as media or novel which consist of words and language, meanwhile film main media is audio visual (sow1d and picture) becomes a common thing if between novel and film become different. In the case of AAC's novel and film, the difference is not only because of that technical problem, but this is an intentional difference. From this research can be concluded that difference among AAC's novel and film is not one bounds because an system difference and film system, but intentional difference by film production team for the specific purposes. From enrichment and based on fact that revealing, researcher concludes that AAC's film more emphasizes on polygamy problem, this appears on many added scenes in film that feature polygamy life that is not tell in the novel, while AAC'S novel more consist of the struggle of an Indonesian college student that study at Egypt there with his love story. Keywords: ecranization, novel and film, struggle of an Indonesian college student, polygamy
REPRESENTASI FEMINISME DALAM NOVEL NAYLA KARYA D.JENAR MAESA AYU Pramujiono, Agung
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.164.127-136

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara objektif representasi feminisme dalam novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu. Data penelitian adalah perataan, perbuatan, dan peristiwa yang dialami oleh tokoh utama, Sumber data penelitian adalah novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu edisi kedua yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2005. Data dikumpulkan mclalui teknik dokumentasi dan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan analisis data, dapat disimpulkan bahwa Nayla adalah sebuah novel dengan pengarang yang secara sadar ingin memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama yang berkaitan dengan seksualitas. Tokoh pcrempuan dalam Naylai adalab seorang perempuan superior, bukan inferior, seorang perempuan yang 'mendominasi' laki-laki, bukan yang 'didominasi' oleh laki-laki. Pengarang juga berusaha untuk mengangkat posisi perempuan dengan menghadirkan seorang karakter perempuan yang menemukan kesadaran akan eksistensi diri, menyadari makna kebidupan dan hidup. Para tokohnya adalah perempuan- perempuan profesional yang bahkan dapat disejajarkan dengan para laki-laki. Mereka adalah tokoh perempuan yang jarang mengurusi urusan rumah tangga Terkait dengan seksualitas, sang tokoh (si pengarang) berpendapat bahwa perempuan tidak selayaknya diperlakukan sebagai objek semata, retapi seharusnya juga memiliki kesempatan untuk bersenang-senang dan disenangkan. Abstract: This research aims to describe objectively the representation of feminism in the novel Nayla by Djenar Maesa Ayu. The research data are speeches, actions, and happenings experienced by the main character. The source of the data was the novel Nayla by Djenar Maesa Ayu second edition published by Gramedia in 2005. The data were collected through documentation technique and analyzed descriptively. Based on the analysis of the data, it could be concluded that Nayla was a novel whose author consciously wished to struggle for women rights, especially those related to sexualities. The female character in Nayla is a superior woman, not an inferior one; a female who 'dominates' males, not the one who 'is dominated' by males. 'The author also strives to raise women's positions by presenting a female character who has found a consciousness of self-existence, realized the meanings of life and living. The characters are professional women who can even be equalized with men. 'They are female characters who seldom take care of domestic households. Related to sexualities, the character (the author) has the opinion that women should not have been treated as objects only, but should also have been given opportunities to enjoy themselves and to be spoiled. Key Words: representation of feminism, radical feminism
MEMBACA INDONESIA DALAM ORANG-ORANG BAWAH TANAH: KUMPULAN NASKAH DRAMA Seba, Nur
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.169.181-192

Abstract

Sebagai institusi sosial, karya sastra menghadirkan kehidupan dan masalah-masalah realitas sosial dalam rnasyarakat yang memengaruhi kehidupannya. Itulah sebabnya mengapa karya sastra memiliki fungsi sosial sebagai reaksi, penerimaan, kritik, atau ilustrasi tentang keadaan tertentu sebagaimana llham Zoebazary menggambarkan Indonesia sejak Orde Baru hingga reformasi dalam kumpulan naskah dramanya. Kritik yang diketengahkan berhubungan dengan pelayanan pemerintah, perilaku aparat pemerintah, kehidupan rakyat kecil, dan persoalan- persoalan sosial lainnya Abstract: As a social institution, a literary work presents a life and consists of-mostly-social realities that influence life. That is why literary works have social functions as a reaction, conception, criticism, or illustration about certain situation. As llham Zoebazary describes Indonesia since new era government until reformation period in his collection of drama texts. Criticisms that are presented interrelated with governments service, behavior and attitude of government official, proletariat's life, and so on. Keywords: the collection of drama, underground people. and proletariat
TIO IE SOEI DAN NONA TJOE JOE (PERTJINTA'AN JANG MEMBAWA TJILAKA): TEGANGAN ANTARA KONSERVATIF DAN MODERN Susanto, Dwi
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.165.137-155

Abstract

Nona Tjoe (Pertjinta'an Jang membawa Tjilaka) adalah sebuah cerita yang berbeda dari pcngarang ccrita peranakan China pada era 1920. Cerita ini juga memberikan karakteristik yang berbeda dari cerita-cerita Tio le Soci. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mcnjclaskan keadaan kehidupan sosial masyarakat/komunitas China yang ter-refleksi dalam Nona Tjoe Joe. Dengan memfokuskan pada representasi kehidupan komunitas China, tulisan ini berusaha mcnjawab beberapa pertanyaan "dimanakah kita sekarang dan apa yang terjadi dengan kehidupan kita sekarang dan akan datang" (2) bagaimana masyarakat China merespon pengaruh Barat (3) dengan analogi posisi wanita, seperti apa pilihan identitas peranakan China. Untuk menjawab pertanyaan itu, artikel ini memfokusukan pada teks sebagai refleksi fakta sosial. Kemudian, refleksi itu dianggap sebagai fakta kemanusian seperti perasaan, identitas, strategi untuk. bertahan hidup masyarakat China Abstract: Nona Tjoe Joe (Pertjinta 'an Jang membawa Tjilaka) is a different story compared to other peranakan Chinese stories in 1920 era. This story also gives the characteristic different from the other Tio le Soe.i stories, The study aims to explore and explain the condition of social life of Chinese community as reflected in Nona Tjoe Joe story. Giving the focus on the representation of the Chinese life, this article attempts to give answers of t.hc following questions: (1) how did Chinese community give answer "where is now and what happen with our present time and future", (2) how did Chinese community responds to the West influence, (3) with analogy of women position, what was the choices of identity peranakan Chinese. To answer those questions, this article gives the focus on the text as a reflection of social facts. The reflection is considered as human fact of feeling. identity, strategy to defending life of Chinese community. Keywords: reflection Chinese community, conservatism, modem

Page 1 of 1 | Total Record : 10