cover
Contact Name
Mohammad Rizki
Contact Email
mohammadrizki.md@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.kedokteran.unram@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Jl. Pendidikan No. 37 Mataram, Nusa Tenggara Barat
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran
Published by Universitas Mataram
ISSN : 23015977     EISSN : 25277154     DOI : -
Core Subject : Health,
The Unram Medical Journal managed by the Medical Faculty of Mataram University is a scientific journal to publish the results of the latest research in the field of medical and health related. This journal promote medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community research to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also case reports.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 1 (2017)" : 7 Documents clear
Karakterisasi Hydroxyapatite Alami yang dibuat dari Tulang Sapi dan Cangkang Telur sebagai Bahan untuk Donor Tulang (Bone Graft ) Taufik, Ahmad; Zuhan, Arif; Kusdaryono, Sigit; Rohadi, Rohadi
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Penanganan terhadap komplikasi trauma tulang seperti delayed union, nonunion, malunion dan keadaan hilangnya sebagian dari tulang (defek) masih menjadi masalah. Diperlukan donor tulang (bone graft) untuk mengisi defek atau kekosongan pada tulang yang hilang agar terjadi penyambungan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi hydroxyapatite yang dibuat dari sumber alami yaitu dari tulang sapi dan cangkang telur sebagai bahan untuk cangkok tulang (bone graft) dalam tindakan kedokteran.Metode: Tulang panjang sapi Bali dan sapi Brahman dipotong 5x5x5 mm untuk selanjutnya dikalsinasi pada suhu 800oC dan 1000oC. Hydroxyapatite yang dihasilkan diukur kadar kalsium dan fosfornya dengan metode spektrofotometer, kemudian dibandingkan dengan kadar kalsium dan fosfor pada tulang manusia.Hasil Penelitian: Hydroxyapatite dihasilkan baik dari tulang sapi Bali atau sapi Brahman memiliki kadar kalsium rata-rata 28 – 35%, kadar fosfor rata-rata 12- 15%. Kadar kalsium dan fosfor lebih tinggi pada tulang kortikal dibandingkan trabekular. Dibandingkan dengan kadar kalsium dan fosfor pada tulang manusia tidak berbeda bermakna (p<0,005). Kadar kalsium paling tinggi didapatkan pada cangkang telur (64%).Pembahasan: Kadar kalsium dan fosfor baik pada tulang sapi Bali atau sapi Brahman mempunyai kadar yang hampir sama dengan manusia. Ini karena setiap tulang mamalia mempunyai komposisi mineral dan air yang sama.Kesimpulan: Hydroxyapatite (HA) dari tulang sapi Bali, sapi Brahman dan cangkang telur mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan tulang manusia dan bisa digunakan sebagai bahan untuk donor tulang.
Hubungan antara Persepsi Mahasiswa Terhadap Lingkungan Belajar, Ketersediaan Kasus dan Umpan Balik terhadap Kompetensi Mahasiswa Tahap Profesi FK Unram Susani, Yoga Pamungkas; Sari, Dian Puspita; Widiastuti, Ida Ayu Eka; Lestari, Rina
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Fakultas kedokteran dituntut untuk menghasilkan lulusan dokter berkualitas yang memenuhi standar kompetensi dokter. Lingkungan belajar dalam pembelajaran tahap profesi, yang diketahui berperan penting dalam proses pencapaian kompetensi, memiliki karakter khusus dan berbeda dengan tahap akademik. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara persepsi mahasiswa terhadap lingkungan belajar, jum- lah kasus yang dijumpai selama pendidikan klinik, umpan balik yang diterima dengan kompetensi mahasiswa. Metode: metode kuantitatif dengan pengambilan data secara potong lintang dilakukan untuk memeriksa variabel persepsi terhadap lingkungan belajar, kasus, umpan balik dan kompetensi mahasiswa. Sebanyak 120 mahasiswa tahap profesi FK UNRAM melengkapi kuesioner PHEEM dan kuesioner umpan balik, 330 Mini-CEX mahasiswa dan 67 logbook dari bagian Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Obstetri dan Ginekologi serta Bedah. Analisis dengan PLS SEM dilakukan untuk menilai hubungan antar variabel. Hasil: dari seluruh data, hanya 24 subjek yang memiliki data yang lengkap untuk seluruh variabel. Dari analisis jalur didapatkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap lingkungan belajar tidak berasosiasi dengan kompetensi (b 0,00, P 0,49), sedangkan ketersediaan kasus dan umpan balik berasosiasi positif dengan kompetensi (berturut-turut b 0,50, P < 0,01; b 0,46, P < 0,01). Dalam model ini, kompetensi mahasiswa dapat dijelaskan sebesar 46% (R2). Kesimpulan: ketersediaan kasus dan umpan balik sangat penting dalam mendukung pencapaian mahasiswa. Meskipun persepsi mahasiswa terhadap lingkungan belajar klinik belum terbukti berpengaruh langsung terhadap kompetensi, namun sangat dimungkinkan berpengaruh tidak langsung dengan dimediasi oleh variabel partisipasi mahasiswa. Penelitian selanjutnya perlu mengeksplorasi peran variabel partisipasi dalam model. Katakunci lingkungan belajar klinik, jumlah kasus, jenis kasus, kompetensi
Penatalaksanaan Sinus Preaurikular Kongenital Yudhanto, Didit
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinus preaurikular kongenital adalah kelainan akibat tidak sempurnanya perkembangan arkus brankial pertama dan kedua yang membentuk telinga luar dan telinga tengah, berupa kista atau fistula yang terjadi pada jaringan lunak preaurikular. Kelainan ini disebut juga dengan pit preaurikular, kista preaurikular atau fistula preaurikular. Kelainan ini biasanya bersifat asimptomatik, dan sebagian besar penderita datang ke pelayanan kesehatan setelah terjadi obstruksi dan infeksi fistel, baik infeksi yang terjadi pertama kali ataupun infeksi yang berulang. Sinus preaurikular asimptomatik tidak memerlukan tindakan khusus kecuali tindakan pencegahan terhadap infeksi dengan menghindari manipulasi dan melakukan pembersihan muara dari sumbatan dengan alkohol atau cairan antiseptik lainnya secara rutin. Penanganan yang tidak tepat pada pasien dengan sinus terinfeksi yang sudah terjadi komplikasi dengan sekret kronik atau abses pada sinus dapat mengakibatkan infeksi berulang, sepsis dan kemungkinan bekas luka pasca-operasi yang berat. Sinus preaurikular yang pertama kali terinfeksi dapat dilakukan tindakan konservatif berupa pemberian antibiotik serta kompres hangat pada sinus yang terinfeksi. Pemberian antibiotik disesuaikan dengan bakteri penyebab dan uji sensitivitasnya, sedangkan pada keadaan dimana terdapat abses maka perlu dilakukan insisi dan drainase abses. Terdapat berbagai macam teknik pembedahan untuk mengeksisi sinus preaurikular. Teknik pembedahan dikembangkan dan dimodifikasi untuk menurunkan angka rekurensi. Katakunci Sinus Precurikular Kongenitas, Infeksi Sinus, Tehnik Pembedahan
Glaukoma Sekunder pada Aniridia Nintyastuti, Isna Kusuma
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A 12 year-old boy present with a history of slowly progressive blurred vision since 8 years ago. From the anamnesis revealed that his father and sister diagnosed as having secondary glaucoma due to aniridia. The visual acuity was 6/45 cc S-2,00D became 6/20 maximal for the right eye and 6/20, ccS-1,75D became 6/12 maximal. The anterior chamber was deep with pupil diameter 9 mm with a small iris stump. A subcapsular cataract was present. The cup-disc ratio was 0.5 with glaucomatous signs papil for the right eye and 0.4 for the left eye. The intraocular pressure was 36 mmHg for the right eye and 31 for the left eye. The gonioscopy examination result was closed angle for the both eye. The average thickness of the retinal nerve fiber layer was 103,82 µm and 90,42µm for the right and left eye respectively. The visual field examination for the right eye was very severe general depression with inferior acuate defect and for the left eye was severe general depression with nasal defect. The initial management was medical treatment with timolol 0.05% eyedrops followed by trabeculectomy with MMC application. A flat anterior chamber complication was found on the right eye and successfully treated with intracameral injection of sodium hyaluroniate 1.5% viscoelastic. The IOP was decrease immediately on the first day after surgery and well controlled until 6 months after surgery.
Sindrom CREST Anggoro, Joko
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sindrom CREST (calcinosis, Raynaud phenomenon, esophageal dysmotility, sclerodactyly, dan telangiectasia) syndrome adalah anggota kelompok heterogen skleroderma. Frekuensi di Amerika Serikat, insidensi sklerosis sistemik berkisar antara 2,7-19,3 kasus baru per juta orang dewasa per tahun. Peningkatan yang tampak dalam insidensi dan prevalensi selama 50 tahun terakhir kemungkinan besar karena klasifikasi yang lebih baik, diagnosis yang lebih dini, dan survival yang lebih baik. Beberapa penelitian antibodi serum menunjukkan bahwa sindrom CREST mungkin mencakup sekitar 22-25% dari semua kasus sklerosis sistemik; tetapi, penelitian epidemiologis yang mencari secara spesifik pada sindrom CREST masih belum ada. Naskah ini mengupas lebih dalam tentang sindrom CREST mulai aspek klasifikasi penyakit ini dalam skleroderma, patogenesis, gambaran klinis, prognosis, dan terapi yang terbaru. Katakunci Sindrom CREST, patogenesis, klinis, terapi
Herpes Genitalis pada Kehamilan 32-33 Minggu Hendrawan, I Wayan; Sakti, Pandu Tridana
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Herpes genitalis disebabkan oleh virus herpes simpleks (Herpes Simplex Virus atau HSV) tipe 1 (HSV-1) atau oleh tipe 2 (HSV-2). HSV tipe 1 lebih sering berhubungan dengan kelainan oral, dan HSV tipe 2 berhubungan dengan kelainan genitalia. Rute primer penularan infeksi HSV-2 ialah melalui kontak seksual (genital-genital) dengan partner seksual yang terinfeksi. Laporan kasus : penulis melaporkan 1 laporan kasus herpes genitalis pada pasien usia 19 tahun dengan G2P1A0H0 32-33 minggu. Pada pemeriksaan didapatkan vesikel berisi cairan seropurulen dan ulkus dangkal tertutup cairan purulen, dasar eritema disertai nyeri dan hangat pada perabaan. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yakni tzank test untuk mengetahui secara sitologi. Pasien ditatalaksanai dengan antiviral, analgetika, roborantia, serta edukasi. Katakunci herpes genitalis, kehamilan
Studi Status Gizi, Pola Makan serta Aktivitas pada Anak Sekolah Dasar di Kota Mataram Suryani, Dewi; Sabrina, Yunita; Cholidah, Rifana; Ekawanti, Ardiana; Andari, Marie Yuni
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Dewasa ini negara berkembang termasuk Indonesia dihadapkan pada dua permasalahan status gizi anak, yaitu gizi kurang dan gizi lebih. Kecenderungan peningkatan prevalensi gizi lebih di Indonesia ditunjukkan oleh studi di Yogyakarta dan Denpasar. Sebuah studi di Yogyakarta tahun 1999 menunjukkan bahwa proporsi gizi lebih pada anak sekolah dasar di Yogyakarta sebanyak 15,8%, sedangkan di Denpasar tahun 2002 sebanyak 27,5%. Belum ada penelitian serupa di Kota Mataram. Penelitian status gizi perlu dilakukan secara periodik untuk mengetahui kecenderungan status gizi pada anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi, pola makan dan pola aktivitas pada anak SD di Kota Mataram. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain belah lintang. Pengukuran status gizi anak diukur berdasarkan nilai Z-score kemudian kategori status gizi akan ditentukan berdasarkan standar age per weight. Penentuan faktor risiko diperoleh dari hasil pengisian kuesioner oleh anak dan orang tua. Aspek yang tertuang dalam kuesioner meliputi) pola makan, pola aktivitas dan latar belakang sosial ekonomi keluarga. Hasil: Sebanyak 105 anak terlibat dalam penelitian ini. Proporsi anak yang mengalami gizi lebih adalah 9%. Dari hasil penelitian didapatkan anak yang pola hidupnya dapat mengarah pada gizi lebih, yaitu 16,2% anak menonton TV dan bermain video game melebihi waktu yang direkomendasikan, 38% anak melakukan aktivitas fisik kurang dari 1 kali dalam seminggu, 81% anak tidak menggunakan active commute (naik sepeda atau berjalan kaki ke sekolah), 29,5% anak mempunyai waktu tidur kurang dari jam tidur yang direkomendasikan, 74% anak tidak rutin membawa bekal ke sekolah; dan 5% anak mengkonsumsi makanan cepat saji minimal 1 kali dalam seminggu. Kesimpulan: Kasus gizi lebih sudah menjadi permasalahan di kota Mataram. Diperlukan upaya intervensi terkait faktor-faktor yang telah diketahui terkait dengan gizi lebih. Intervensi ini diperlukan pada anak yang gizi lebih maupun pada anak gizi cukup untuk mencegah terjadinya overweight maupun obesitas. Katakunci status gizi, pola makan, pola aktivitas, anak sekolah dasar

Page 1 of 1 | Total Record : 7