Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Penatalaksanaan Sinus Preaurikular Kongenital Yudhanto, Didit
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinus preaurikular kongenital adalah kelainan akibat tidak sempurnanya perkembangan arkus brankial pertama dan kedua yang membentuk telinga luar dan telinga tengah, berupa kista atau fistula yang terjadi pada jaringan lunak preaurikular. Kelainan ini disebut juga dengan pit preaurikular, kista preaurikular atau fistula preaurikular. Kelainan ini biasanya bersifat asimptomatik, dan sebagian besar penderita datang ke pelayanan kesehatan setelah terjadi obstruksi dan infeksi fistel, baik infeksi yang terjadi pertama kali ataupun infeksi yang berulang. Sinus preaurikular asimptomatik tidak memerlukan tindakan khusus kecuali tindakan pencegahan terhadap infeksi dengan menghindari manipulasi dan melakukan pembersihan muara dari sumbatan dengan alkohol atau cairan antiseptik lainnya secara rutin. Penanganan yang tidak tepat pada pasien dengan sinus terinfeksi yang sudah terjadi komplikasi dengan sekret kronik atau abses pada sinus dapat mengakibatkan infeksi berulang, sepsis dan kemungkinan bekas luka pasca-operasi yang berat. Sinus preaurikular yang pertama kali terinfeksi dapat dilakukan tindakan konservatif berupa pemberian antibiotik serta kompres hangat pada sinus yang terinfeksi. Pemberian antibiotik disesuaikan dengan bakteri penyebab dan uji sensitivitasnya, sedangkan pada keadaan dimana terdapat abses maka perlu dilakukan insisi dan drainase abses. Terdapat berbagai macam teknik pembedahan untuk mengeksisi sinus preaurikular. Teknik pembedahan dikembangkan dan dimodifikasi untuk menurunkan angka rekurensi. Katakunci Sinus Precurikular Kongenitas, Infeksi Sinus, Tehnik Pembedahan
Korelasi antara Usia dengan Ekspresi Epstein-Barr Virus pada Kanker Nasofaring Tipe Undifferentiated Carcinoma Pratama, Aditya Agung; Yudhanto, Didit; Kadriyan, Hamsu; Djannah, Fathul
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Karsinoma nasofaring merupakan keganasan sel skuamosa epitel nasofaring yang paling sering terjadi di daerah fossa rosenmuller yang selanjutnya dapat meluas ke struktur anatomi di sekitarnya. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kanker nasofaring antara lain adalah genetik, infeksi Ebstein-Barr virus dan lingkungan. Pemeriksaan imunohistokimia dilakukan untuk mendeteksi Ebstein-Barr virus pada kanker nasofaring terutama LMP1. Kanker nasofaring paling banyak terjadi pada usia 40-49 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara usia dengan ekspresi Epstein-Barr virus pada pasien Kanker Nasofaring. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sampel penelitian ini adalah pasien kanker nasofaring yang berada di Rumah Sakit Umum Nusa Tenggara Barat, yang ditentukan dengan teknik consecutive sampling. Pada sampel penelitian ini dilakukan pemeriksaan ekspresiEpstein-Barr viruspada blok paraffin pasien kanker nasofaring menggunakan pemeriksaan imunohistokimia.Data dianalisis dengan uji korelasi koefisien kontingensi. Hasil: Sampel pada penelitian ini berjumlah 44 sampel dengan rentang usia 22-70 tahun. Jumlah sampel terbanyak pada rentang usia 40-49 tahun yaitu sebanyak 13 orang. Jumlah sampel pasien yang berusia ≤45 tahun sebanyak 27 orang (61,36%) dan yang berusia >45 tahun sebanyak 17 orang (38,64%) dengan rata-rata usia 43,29 tahun. Berdasarkan hasil pemeriksaan imunohistokimia, dari 44 sampel yang diteliti, 15 orang (34,09%) mengekspresikan LMP1 positif sedangkan yang negatif sebanyak29 orang (65,90%). Sampel pasien yang berusia ≤45 tahun yang mengekspresikan LMP 1 positif sebanyak 9 orang (33,33%) dan negatif 18 orang (66,66%). Sampel pasien yang berusia >45 tahun yang mengekspresikan LMP 1 positif sebanyak 6 orang (35,29%) dan negatif 11 orang (64,70%). Hasil uji korelasi koefisien kontingensi menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang sangat lemah (r = 0,020) antara usia dengan ekspresi Epstein-Barr virus pada pasien Kanker Nasofaring dan tidak bermakna secara signifikan (p = 0,894). Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi yang bermakna secara statistik pada hasil pemeriksaan ekspresi EBV pada sediaan blok parafin pasien kanker nasofaring dengan usia pasien kanker nasofaring.
KORELASI ANTARA EKSPRESI BCL-2 DAN LMP-1 PADA PASIEN KARSINOMA NASOFARING WHO TIPE III Kholifaturrohmy, Muhammad Rizqi; Kadriyan, Hamsu; Yudhanto, Didit
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan keganasan pada epitel nasofaring yang sulit dideteksi secara dini karena letak keganasan awalnya yang tersembunyi. Hubungan antara karsinoma nasofaring dan infeksi virus Epstein-barr telah dinyatakan oleh berbagai peneliti, dijumpai peninggian titer antibodi anti EBV (EBNA-1) di dalam serum plasma. Selain itu, gangguan regulasi gen yang mengkodekan protein BCL-2 proapoptotic maupun antiapoptotic juga dapat menimbulkan kanker. Tujuan:Mengetahui adakah korelasi antara ekspresi BCL-2 dengan Epstein-Barr Virus (EBV) pada sediaan blok parafin karsinoma nasofaring di wilayah Nusa Tenggara Barat. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik laboratoris dengan desain penelitian potong lintang (cross-sectional).Penelitian ini menggunakan uji Lambda untuk mencari korelasi antara BCL-2 dan LMP-1. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Februari 2017 di laboratorium Rumah Sakit Islam Siti Hajar dan Laboratorium Patologi Anatomi Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hasil:Total 44 responden. Responden terbanyak didapatkan pada kelompok usia 40-49 tahun yaitu 13 orang. Responden laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan yaitu 29 orang. Jenis BCL-2 terbanyak adalah 0 ditemukan pada 15 orang. Hasil LMP-1 negatif lebih banyak dibandingkan hasil positif yaitu 29 orang. Hasil uji Lambda untuk variabel LMP-1 terikat diperoleh nilai r=0,733 menunjukkan korelasi kuat antara BCL-2 dan LMP-1 dengan arah korelasi positif. Untuk korelasi antara BCL-2 dan LMP-1 (p=0,002) artinya dalam penelitian ini terdapat korelasi bermakna secara statisik. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang kuat dan signifikan antara BCL-2 terhadap LMP-1. Meningkatnya BCL-2 akan mempengaruhi peningkatan LMP-1.
PERANAN KADAR HEMATOKRIT, JUMLAH TROMBOSIT DAN SEROLOGI IgG - IgM ANTIDHF DALAM MEMPREDIKSI TERJADINYA SYOK PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI RUMAH SAKIT ISLAM SITI HAJAR MATARAM Taufik S, Ahmad; Yudhanto, Didit; Wajdi, Farid; -, Rohad
journal of internal medicine Vol. 8, No. 2 Mei 2007
Publisher : journal of internal medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.86 KB)

Abstract

The mortality rate of Dengue Haemorrhagic Fever is still high. It is still very difficult to predict shock. The commonlaboratory feature to predict shock are low platelet count, high hematocrit level and the positive result of serologic test (IgG andIgM antiDHF), but the validity remains controversial. This researh was determine many factor to predict shock in denguehemoragik fever patient . This research was case-control study. Data was collected from secondary data based on hematologic andserologic findings of patients with DHF who were hospitalized in Siti Hajar Islamic Hospital Mataram in the period of June 1,2005 until June 1, 2006. The samples of this study were patients that diagnosed as DHF based on WHO criteria and performedwith rapid serologic test Pan Blow? made in America, for Ig G and Ig M anti DHF. DHF patients that suffering shock werecatogorized as case group (n=47), and DHF patients without shock were control group (n=94). The total number of control groupwas two times of case group. Risk factor of shock were analyzed using chi-square test and multiple logistic regressions with levelof significance of < 0.05. The number of samples used in this study were 141 patients diagnosed as DHF, there were 47 patienstsDHF with shok and 94 DHF patients without shock. There was 70% patient with thrombositopenia and 44% patient had high rateof hematokrit more than 41.5 %. Shock was more frequent among pasients age more than 25 years, male, hematokrit level lessthan 40% and platelet count 50,000-100,000/ml. Based on univariate analysis, age, gender, high hematocrit value andtrombositopenia were not significantly different to predict shock. On multiple logistic regression methode, primery infection(IgM+ and IgG-) and secondary infection (IgG positif and IgM+/-) were not significantly different to predict shock. The conclusionof this study is high hematocrit value, platelet count and serology IgM or and IgG antiDHF there were no factor that couldpredict shock in DHF patients.
CORRELATION BETWEEN STRESS LEVEL AND JUVENILE DELINQUENCY LEVEL IN STUDENTS OF SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN 1 KURIPAN, WEST LOMBOK Iyoega, Dara Asyfiya; Harahap, Herpan Syafii; Yudhanto, Didit; Pujiarohman, Pujiarohman
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 16, No 1 (2020): June 2020 (on progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.503 KB) | DOI: 10.22219/sm.Vol16.SMUMM1.10851

Abstract

ABSTRACTJuvenile delinquency is a kind of behavior that deviates from the norms prevailing in society. One factor that can affect the level of juvenile delinquency is stress. This study aimed to investigated the correlation between stress level and juvenile delinquency level in students of Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) 1 Kuripan, West Lombok. This was cross-sectional involving 51 students of second and third-grade at Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Kuripan, West Lombok. The data collected in this study were age, gender, stress level, and juvenile delinquency level. Stress level was measured using DASS-42 instrument, while juvenile delinquency level was measured using ASRDS instrument. The correlation between stress level and juvenile delinquency level was analyzed using Gamma correlation test and the correlation was significant if p<0.05. Most of the subjects showed mild stress levels (62%) and normal delinquency levels (78%).There was no significant correlation between stress levels and juvenile delinquency levels (p=0.076). In conclusion, stress level in students of SMK 1 Kuripan did not correlated to juvenile delinquency level.Keywords: Stress level, juvenile delinquency level, DASS-42 instrument, ASRDS instrument.
Manfaat Video Edukasi dalam Memutus Rantai “Lingkaran Setan” Mengorek Telinga dan Otitis Eksterna Kadriyan, Hamsu; Yudhanto, Didit; Yuliani, Eka arie; Rahayu, Luh ade dita; Haq, Abiyyu Didar; Febrian, Haldy Dwi
Jurnal Kedokteran Vol 9 No 3 (2020): Jurnal Kedokteran volume 9 no 3 2020
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v9i3.414

Abstract

Latar Belakang: Otitis eksterna merupakan penyakit yang sering ditemukan di rawat jalan THT-KL. Terdapat berbagai faktor yang memicu terjadinya otitis eksterna, antara lain kebiasaan mengorek telinga yang keliru. Kebiasaan mengorek telinga yang keliru akan menjadi suatu yang sulit dihilangkan sehingga perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat. Salah satu cara edukasi pada masa saat ini adalah dengan video edukasi yang di unggah ke kanal youtobe. Metode : Penelitian yang dilakukan secara deskriptif dengan menganalisis umpan balik yang diisi oleh responden melalui kuisioner yang dikirim melalui google form. Analisis dilakukan dengan penilaian terhadap analisis skor total dan analisis kualitatif berdasarkan peringkat baik, sedang cukup dan kurang. Variabel yang dinilai terdiri dari pemahaman dan kebermanfaatan video edukasi yang telah diunggah ke kanal youtobe. Hasil Penelitian: Terdapat responden sebanyak 46 orang selama masa penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis, 97,8% responden memahami isi video edukasi sedangkan 95,6% responden mengatakan video edukasi ini bermanfaat dalam mencegah timbulnya otitis eksterna. Secara kualitatif, pemahaman dan manfaat video edukasi ini mendapatkan nilai yang baik. Kesimpulan: Diasumsikan bahwa video ini bermanfaat dalam memutus rantai lingkaran setan korek-korek telinga dan timbulnya otitis eksterna.
Efektivitas Irigasi Nasal Dengan Larutan Salin Isotonis Terhadap Kualitas Hidup Pasien Rinosinusitis Kronis Di RSUD Provinsi NTB Yuliyani, Eka Arie; Kadriyan, Hamsu; Yudhanto, Didit
Jurnal Kedokteran Vol 9 No 3 (2020): Jurnal Kedokteran volume 9 no 3 2020
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v9i3.431

Abstract

Latar Belakang: Rinosinusitis kronis merupakan inflamasi kronis pada mukosa kavum nasi dan sinus paranasalis yang dapat terjadi karena multifaktorial baik alergi maupun non alergi serta memberikan dampak pada kualitas hidup penderitanya. Penilaian kualitas hidup penderita rinosinusitis kronis dilakukan dengan Sino Nasal Outcome Test-22 (SNOT-22). Pemberian terapi standar dan cuci hidung dengan larutan salin isotonis dapat mengurangi gejala yang dikeluhkan penderita. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pre-posttest control group design, dimana subjek penelitian berjumlah 30 orang dan dibagi menjadi kelompok alergi dan non alergi dengan masing-masing kelompok berjumlah 15 orang. Subjek mendapatkan terapi standar serta cuci hidung dengan salin isotonis selama 2 minggu. Dilakukan Pemeriksaan IgE dan penilaian kualitas hidup dengan kuesioner SNOT-22 sebelum dan setelah terapi untuk mengetahui efektivitas cuci hidung dengan salin isotonis pada pasien rinosinusitis kronis. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan perbedaan yang signifikan total skor SNOT-22 sebelum dan setelah diberikan terapi standar dan cuci hidung dengan salin isotonis baik pada kelompok alergi maupun non alergi (p=0,001). Kesimpulan: Pemberian terapi standar dan cuci hidung dengan salin isotonis pada pasien rinosinusitis kronis baik yang disebabkan oleh alergi maupun non alergi dapat memperbaiki kualitas hidup pasien menjadi lebih baik.
Correlation Between Stress Level And Juvenile Delinquency Level in Students of Sekolah Menengah Kejuruan 1 Kuripan, West Lombok Dara Asyfiya Iyoega; Herpan Syafii Harahap; Didit Yudhanto; Pujiarohman Pujiarohman
Saintika Medika Vol. 16 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.Vol16.SMUMM1.10851

Abstract

ABSTRACTJuvenile delinquency is a kind of behavior that deviates from the norms prevailing in society. One factor that can affect the level of juvenile delinquency is stress. This study aimed to investigated the correlation between stress level and juvenile delinquency level in students of Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) 1 Kuripan, West Lombok. This was cross-sectional involving 51 students of second and third-grade at Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Kuripan, West Lombok. The data collected in this study were age, gender, stress level, and juvenile delinquency level. Stress level was measured using DASS-42 instrument, while juvenile delinquency level was measured using ASRDS instrument. The correlation between stress level and juvenile delinquency level was analyzed using Gamma correlation test and the correlation was significant if p<0.05. Most of the subjects showed mild stress levels (62%) and normal delinquency levels (78%).There was no significant correlation between stress levels and juvenile delinquency levels (p=0.076). In conclusion, stress level in students of SMK 1 Kuripan did not correlated to juvenile delinquency level.Keywords: Stress level, juvenile delinquency level, DASS-42 instrument, ASRDS instrument.
Pengembangan video edukasi pencegahan otitis eksterna yang dapat diakses melalui kanal YouTube Hamsu Kadriyan; Didit Yudhanto; Eka Arie Yuliani; Luh Ade Dita Rahayu; Abiyu Didar Haq; Haldy Dwi Febrian
INDRA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2020): September
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.991 KB) | DOI: 10.29303/indra.v1i2.33

Abstract

Society on the Era of Industry revolution 4.0 as well as pandemic Covid-19, is characterized by high utilization of internet and smartphone. On the other hand, the health care personal could use this characteristic to spread the information regarding the certain disease, including otitis externa through the video that can be uploaded in YouTube canal. Otitis externa generally become the 10th most outpatient visit in the hospital; furthermore, it is important to develop the video education regarding the prevention of the disease. The video education in this report was an animation video that explain about the cause, sign and symptom, and prevention of otitis externa. The video could be accessed through YouTube canal with the address https://www.youtube.com/watch?v=4M_hUjQjs78. Society could also give a feedback on this video through google form with the address bit.ly/Otitis Eksterna in order to improve the quality of video education in the future.
Analysis of the Restriction of Vancomycin Use in Hospitals Before, During and After the Implementation of the Antimicrobial Resistance Control Program (ARCP) Eustachius Hagni Wardoyo; Didit Yudhanto; I Gede Yasa Asmara; Claresta Salsabila; Ajeng Retno
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 6, No 2 (2020): The Indonesian Journal of Infectious Disease
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v6i2.109

Abstract

Background: A policy restricting the use of vancomycin was a pilot project for the implementation of the Antimicrobial Resistance Control Program (ARCP) in RSUD Nusa Tenggara Barat in 2018. There were three phases of the ARCP in hospitals, namely preparation, execution, and monitoring. This research aimed to evaluate the quality of vancomycin prescribing before, during, and after the implementation of ARCP in 2017–2019. Method: Descriptive analysis was conducted of all the vancomycin prescriptions before, during, and after the implementation of ARCP in 2018. All medical records of cases requiring vancomycin prescriptions during the research period was evaluated: patient characteristics, culture test results, and clinical diagnoses. The quality of vancomycin prescriptions, which was expressed as follows: “Vancomycin prescriptions are intended only for infections caused by Gram-positive pathogens, particularly Staphylococcus aureus, that are resistant to methicillin (MRSA), Enterococcus sp (Vancomycin-sensitive enterococci)” was evaluated. Results: There were sixty-one cases of vancomycin prescribing; 21 female and 40 male patients, with a mean age of 23 years (0–82 years). Overall, there were 41 positive cultures, 5 negative cultures, and 15 no-cultures. The diagnoses were moderate to severe infections: sepsis, pneumonia, post-surgery infections, CNS infections, low birth weight, septic shocks, and chronic obstructive lung diseases. The urinary tract infection was present as a mild infection. The prescription quality indicators ‘vancomycin is prescribed only for moderate to severe infections’ and ‘prescribed only for Gram-positive pathogens’ altogether increased. Conclusion: There was improvement in the vancomycin prescription quality after the implementation of the vancomycin restriction policy.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abiyu Didar Haq Adnanto Wiweko Ahmad Taufik S Ahmad Taufik S Ajeng Retno Anak Agung Ayu Niti Wedayani Angrayany Sapar, Puput Ardiana Ekawanti Bayu Tirta Dirja Claresta Salsabila Dante Yustisia Dara Asyfiya Iyoega Decky Aditya Zulkarnaen Dini Suryani Dirja, Bayu Tirta E. Hagni Wardoyo Eka Ari Yuliyani Eka Arie Yuliani Eka Arie Yuliyani Eka Arie Yuliyani Eustachius Hagni Wardoyo Fathul Djannah Febrian, Haldy Dwi Firdausy , Faiza Fitriatulnisa GD, Ni Made Saithanya Gusti Ayu Trisna A Gusti Ayu Trisna Aryani Haldy Dwi Febrian Hamsu Kadriyan Hamsu Kadriyan Haq, Abiyyu Didar Herpan Syafii Harahap I Gede Wiranugraha I Gede Yasa Asmara Ida Ayu Eka Widiastuti Ida Bagus Alit Ika Prasetyaningrum Ika Primayanti Iyoega, Dara Asyfiya Kadriyan, Hamsu Kholifaturrohmy, Muhammad Rizqi Lalu Muhammad Abiyu Ghafar Linda Silvana Sari Luh Ade Dita Rahayu Made Ratna Dewi Mochammad Alfian Sulaksana Monalisa Nasrul Muhammad Ghalvan Sahidu Muhammad Zaidan Fadhlurrahman Rivlan Nasmi Herlina Sari Ni Nyoman Geriputri Nuriastuti, Novera P, Novanda Dila Prasetayningrum, Ika Pratama, Aditya Agung Pratama, Lalu Aditya Haris Prima Belia Fathana Pujiarohman Pujiarohman Pujiarohman, Pujiarohman Putri, Baiq Rizkiqa Catur Putri, Dyah Ayu Rahayu, Luh ade dita Rahmansyah, Nafatasya Ayu Rarasati, Rista Rahayu Resti, Nimas Retno Setyowati, Ety Rifana Cholidah, Rifana Rohad - Romadoni, Muhammad Aulia Hikmah Sadi, Muhammad Akramul Faroghy Sari, Putu Suwita Srikus Saptaningtyas, Rini Susilawati, Ni Ketut Titi Pambudi Karuniawaty Triana Dyah Cahyawati Triana Dyah Cahyawati Triana Dyah Cahyawati Wahyu Sukistiya Affarah Wahyu Sulistya Affarah Wahyu Sulistya Affarah, Wahyu Sulistya Yoga Pamungkas Susani Yoga Pamungkas Susani Yuliani, Eka arie Yuliyani, Eka Arie Yuliyani, Eka Arie