cover
Contact Name
Dian Yosi Arinawati
Contact Email
dianyosi@umy.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkgumy@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Insisiva Dental Journal : Majalah Kedokteran Gigi Insisiva
ISSN : 22529764     EISSN : 26859165     DOI : 10.18196/idj
Core Subject : Health,
Insisiva Dental Jurnal memberikan informasi tentang ide, opini, perkembangan dan isu-isu di bidang kedokteran gigi meliputi klinis, penelitian, laporan kasus dan literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 314 Documents
Potensi Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) dalam Memutihkan Email Gigi yang Mengalami Diskolorasi Lime (Citrus aurantifolia) Potential to The Whiten Discoloration Tooth Enamel Rochmah, Nurbaetty; Merry Ch.R, Dwi; Lestari, Sri
Insisiva Dental Journal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Perubahan warna gigi (diskolorasi) merupakan problem estetika yang berdampak padapsikologis terutama pada gigi anterior. Seseorang akan melakukan perawatan terhadap giginya untuk mengatasimasalah estetiknya. Salah satu upaya dokter gigi untuk mengatasi masalah tersebut adalah bleaching. Tujuan:Mengetahui pengaruh air perasan jeruk nipis konsentrasi 2,5% terhadap email gigi yang mengalami diskolorasi,serta untuk menentukan waktu optimum air perasan jeruk nipis konsentrasi 2,5% dalam memutihkan email gigiyang yang mengalami diskolorasi dengan variasi waktu 30 menit, 45 menit dan 60 menit. Metode Penelitian:Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimental laboratorik dengan rancangan pretest-posttest group. Alatuji interpretasi warna yang digunakan adalah Spectrophotometer UV-VIS 2401 PC. Analisis data menggunakanuji Paired-T test dan Oneway Annova. Hasil: Nilai uji intensitas warna sesudah perendaman air perasan jeruknipis konsentrasi 2,5% lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum perendaman air perasan jeruk nipis konsentrasi2,5% dan tidak ada perbedaan signifikan antar kelompok (30 menit, 45 menit dan 60 menit). Kesimpulan: Jeruknipis mampu merubah warna gigi yang terdiskolorasi menjadi lebih putih dengan konsentrasi 2,5% dengan lamaperendaman 30 menit, 45 menit dan 60 menit.
Pengaruh Kebiasaan Menyikat Gigi Sebelum Tidur Malam Terhadap Skor Indeks Plak dan pH Saliva Triswari, Dyah; Pertiwi, Agnimas Dian
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Kegiatan menyikat gigi dapat membersihkan sisa makanan dan mengangkat plak gigi. Waktu yangpaling penting bagi seseorang untuk menyikat gigi adalah sebelum tidur malam, sebab aliran saliva menurun selamatidur dan efek protektif saliva menjadi berkurang. Malam hari menjadi waktu paling berisiko untuk terbentuknyaplak gigi, maka diperlukan perlakuan untuk mencegah tingginya akumulasi plak gigi yang dapat menyebabkanmenurunnya pH saliva. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kebiasaan menyikatgigi sebelum tidur malam terhadap skor indeks plak dan pH saliva. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitianklinis laboratoris dengan rancangan post-test only control group design pada siswa berusia 15-17 tahun yang sudahmemenuhi kriteria inklusi, subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diinstruksikan untukmelakukan kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur malam selama 30 hari, sedangkan kelompok yang lain tidakdiinstruksikan melakukan kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur malam. Setelah 30 hari, dilakukan pengukuranskor indeks plak menggunakan metode O’leary dan pengukuran pH saliva menggunakan pH meter digital MettlerToledo SevenEasy S20 lalu dianilisis hasilnya menggunakan uji statistik independent t-test untuk membandingkanskor indeks plak dan pH saliva antara kelompok yang mempunyai kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur malam danyang tidak memiliki kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur malam. Hasil: Terdapat perbedaan skor indeks plak danrerata pH saliva yang bermakna antara kelompok yang mempunyai kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur malam danyang tidak mempunyai kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur. Kesimpulan: Berdasarkan hasil analisis statistik dapatdisimpulkan bahwa terdapat pengaruh kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur malam terhadap skor indeks plak danpH saliva
Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi L.) terhadap Pertumbuhan Candida Albicans pada Ortodontik Lepasan Puspitasari, Sylvie Anggraeni; Ardiansyah, Shulchan
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: ortodontik lepasan adalah ortodontik yang dapat dipasang dan dilepas sendiri oleh pasien. pemakaianortodontik lepasan ini dapat berubah menjadi lingkungan yang menguntungkan untuk pertumbuhan dan perkembanganCandida albicans. Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dijadikan obat tradisional karena didalamnya terdapatzat-zat aktif berupa saponin, tannin dan flavonoid yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. TujuanPeneletian: untuk mengetahui efektifitas ekstrak etanol daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi .L) terhadapCandida albicans secara in vitro. Metode Penelitian: penelitian ini adalah eksperimental murni laboratorik. Mikrobayang akan dijadikan sebagai subjek penelitian diisolasi dari populasi mikroba yang ada pada pengguna ortodontiklepasan, sedangkan bahan uji yang akan digunakan adalah ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi .L) dengankelompok perlakuan ada 6 yaitu konsentrasi 12,5%, 25%, 50%, 100%, kelompok kontrol negatif dengan aquades dankelompok kontrol positif dengan Chlorhexidine 0,2 %. Tiap masing konsentrasi ekstrak ditetesi kedalam media SDAyang diberi lubang sumuran. Setelah itu diinkubasi selama 24 jam dengan suhu C. Data yang diperoleh dianalisisdengan One Way Avova dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil Penelitian: penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrakdaun belimbing wuluh memiliki konsentrasi hambat minimal (KHM) pada konsentrasi 12,5% sedangkan kadar bunuhminimal (KBM) pada konsentrasi 100%, dan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun belimbing wuluh(Averrhoa bilimbi .L) mempunyai daya antijamur terhadap Candida albicans.
Perbandingan Persepsi Rasa Sakit Setelah Aktivasi Alat Ortodontik Lepasan pada Pasien di RSGM Unjani dengan Metode Visual Analog Scale (Vas) Himawati, Marlin; Herawati, Hillda
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Rasa sakit sering terjadi selama perawatan ortodontik. Rasa sakit bukan suatu masalah yang besar,tetapi hampir 10% pasien menghindari perawatan ortodontik, karena pasien memiliki pengalaman rasa sakit. Pasienyang merasa takut akan sakit dapat langsung menghindar dari perawatan ortodontik. Tujuan: mengetahui perbedaanpersepsi rasa sakit setelah aktivasi alat ortodontik lepasan pada pasien di RSGM Unjani dengan metode Visual AnalogScale (VAS). Desain penelitian: Jenis penelitian kuasi eksperimental dengan rancangan post test. Subyek penelitianadalah pasien di RSGM Unjani Cimahi sebanyak 5 orang tiap kelompok perlakuan, diambil dengan cara purposivesampling. Variabel pengaruh yakni aktivasi alat labial bow, skrup ekspansi dan C Retractor. Variabel terpengaruh yaknipersepsi rasa sakit. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji Kruskall Wallis dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil:menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna pada ketiga variabel yang diuji dengan p=0,439. Kesimpulan:tidak terdapat perbedaan persepsi rasa sakit setelah aktivasi alat ortodontik lepasan pada pasien di RSGM Unjanidengan metode Visual Analog Scale (VAS), terutama pada ketiga varibel yang diuji, yaitu labial bow, skrup ekspansidan C retractor.
Tata Laksana Mucous Membrane Pemphigoid (MMP) yang Dipicu Oleh Obat Herbal Masruri, Toni; Harijanti, Kus
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Mucous Membrane Pemphigoid (MMP) adalah suatu kelainan autoimun yang jarang terjadi. Gambaranlesinya sangat bervariasi (dengan didahului lesi berbentuk blisters) biasanya melibatkan mukosa oral dan mukosamata. Kelainan ini sering menyerang penderita usia diatas 50 tahun. Berdasarkan gambaran klinis diagnosis penyakitini sulit dibedakan dengan penyakit autoimun lain yang melibatkan mukosa, dan sering dipicu oleh penggunaanobat-obatan. Tujuan: Melaporkan tata laksana kasus pada penderita MMP usia 60 tahun suku Jawa Kasus: Pasienwanita, usia 60 tahun sejak 3 bulan yang lalu terdapat ulser disertai erosi di seluruh mukosa rongga mulut dan adasedikit perdarahan, tanpa fase sembuh, terasa sakit. Ulser muncul tanpa didahului gejala prodromal. Pada bibir bawahditemukan adanya krusta, warna coklat kehitaman, sakit dan tidak ditemukan adanya lesi di kulit dan mata. Pasienmengaku sering mengkonsumsi obat-obatan herbal. Tata Laksana: Pasien diresepkan obat kumur antiinflamasi dan antiseptik. Dan kemudian dilakukan beberapa tes penunjang. Hasil tes menunjukkan terdapat kenaikan Laju EndapDarah, pemeriksaan mikologi menunjukkan adanya yeast, fungsi hati, ginjal, dan kadar gula darah normal. Pasiendirawat dengan kortikosteroid per oral, antifungi topikal, immunomodulator, dan obat kumur antiseptik. Perawatandilakukan selama 1 bulan. Kesimpulan: Diagnosis Mucous Membrane Pemphigoid (MMP) ditegakkan berdasarkananamnesis, gambaran klinis, pemeriksaan ektra oral dan intra oral. Perawatan Mucous Membrane Pemphigoid (MMP)memerlukan pemberian kortikosteroid jangka panjang, oleh karena itu dibutuhkan kerjasama yang baik antara operatordan pasien, ketaatan pasien dalam minum obat serta kontrol teratur.
Tata Laksana Xerostomia Oleh Karena Efek Penggunaan Amlodipine: Laporan Kasus Usman, Nur Asmi; Hernawan, Iwan
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Xerostomia atau yang biasa disebut dengan sindroma mulut kering merupakan akibat dari penurunanatau tidak adanya flow saliva sehingga menyebabkan mukosa rongga mulut menjadi kering. Gejala-gejala yangtimbul berupa rasa rongga mulut terasa kering, rasa terbakar, tidak nyaman, kesulitan dalam menelan, gangguanpengecapan, dan rasa terbakar pada rongga mulut, bibir pecah-pecah dan terkelupas. Penggunaan obat-obatanmerupakan yang paling sering menyebabkan xerostomia. Obat-obatan itu dapat berupa antidepresan, antikolinergik,antispasmodik, antihistamin, antihipertensi, sedatif, diuretik, dan bronkodilator. Salah satu penyebab xerostomiaadalah penggunaan obat antihipertensi yaitu amlodipine, suatu golongan Calcium Channel Blockers (CCBs). Tujuan:untuk melaporkan tata laksana xerostomia disebabkan oleh penggunaan amlodipine. Kasus: pasien wanita berusia55 tahun datang dengan keluhan mulut terasa kering, air ludah terasa kental dan sulit menelan sejak 5 bulan yanglalu. Pasien berobat ke poli gigi Rumah Sakit kemudian dibersihkan karang giginya namun keluhan belum membaik.Pasien kembali berobat ke poli gigi Rumah Sakit 2 bulan yang lalu kemudian pasien dirujuk ke RSGM FKG Unair.Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 2 tahun yang lalu dan mengkonsumsi obat amlodipine 5 mg satu kali sehari.Tes sialometri menunjukkan saliva yang berbuih dengan hasil 0.03 ml/menit. Tata laksana: pemberian obat kumurchlorine dioxide dan dry mouth gel serta mengunyah permen karet mengandung xilitol. Kesimpulan: Penangananxerostomia dapat dilakukan dengan penggunaan obat kumur chlorine dioxide dan dry mouth gel dapat mengurangikeluhan mulut kering.
Perdarahan Gingiva Sebagai Indikator Penyakit SistemikKasus pada Individu yang Sebelumnya Tak Terdeteksi Menderita Demam Berdarah Dengue Erawati, Satrya Ayu; Tampoma, Selviana; Hendarti, Hening Tuti
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Perdarahan gingiva dapat disebabkan oleh trombopati. Kondisi medikokompromais seperti DBDmerupakan salah satu faktor predisposisinya. Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit sistemik yang seringterlambat terdiagnosis dan berisiko kematian, banyak dijumpai pada daerah tropis seperti Indonesia. Insidensi DBDdi Jawa Timur sebesar 29,25/100.000 dengan risiko kematian sebesar 0,88%. Tujuan: Penulisan laporan kasusini bertujuan untuk melaporkan perdarahan gingiva pada pasien yang sebelumnya tidak terdeteksi DBD. Kasus:Seorang laki-laki 26 tahun dirujuk untuk melanjutkan pembersihan karang gigi dengan diagnosis gingivitis akut.Pada awalnya, pasien mengeluhkan perdarahan gingiva selama seminggu terakhir saat menyikat gigi dan bau mulut.Pasien merasakan badan lelah dan lemah sejak 1 bulan yang lalu. Tiga minggu sebelum datang, pasien terdiagnosis fludengan gejala demam dan pusing. Ekstra-oral tampak konjungtiva dan kuku pucat serta petechiae pada lengan kanansaat pemeriksaan tekanan darah. Intra-oral terlihat perdarahan gingiva spontan dan ekimosis pada mukosa labial dangingiva. Penanganan: Pemeriksaan darah dilakukan pada hari yang sama dan diketahui adanya trombositopenia yangparah. Hasil anamnesis mengacu pada dugaan adanya penyakit sistemik. Pasien dirujuk ke spesialis penyakit dalamdan terdiagnosis DBD. Kesimpulan: Temuan klinis perdarahan gingiva dapat digunakan sebagai indikator penyakitsistemik, pada kasus ini adalah DBD tanpa gejala demam. Identifikasi dini lesi mulut terkait penyakit sistemik dapatmembantu penderita untuk memperoleh perawatan lebih awal dan mengurangi angka kematian akibat keterlambatanpenanganan.
Hubungan Antara Nilai Progress Test Dengan Nilai Indeks Prestasi Kumulatif Lulusan Dokter Gigi Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Utami, Sri; Kurniasih, Indri; Afiati, Arina Ismah
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Standar kompetensi merupakan suatu acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran padapendidikan dokter gigi, salah satu standar kompetensi yaitu pengetahuan yang didalamnya berisi tentang metodepembelajaran. Metode pembelajaran bertujuan untuk mengasah kemampuan clinical reasoning yang diukurmenggunakan progress test. Hasil nilai progress test memiliki hubungan dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)dan nilai Objective Structured Clinical Examination (OSCE).Tujuan Penelitian: tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara nilai progress test pendidikanprofesi dengan nilai IPK lulusan dokter gigi PSPDG UMY.Metode Penelitian: jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan design cross sectional.Sampel penelitian adalah data sekunder dari 112 mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Gigi UMYyang terdiri dari 3 angkatan yaitu dari angkatan 2006, 2007 dan 2008 serta dipilih menggunakan teknik total sampling.Data yang digunakan pada penelitian ini adalah nilai progress test dan nilai IPK lulusan. Analisa data yang digunakanadalah uji korelasi Pearson.Hasil: terdapat hubungan yang sedang antara nilai progress test dengan nilai IPK lulusan dokter gigi ProgramPendidikan Profesi Dokter Gigi UMY. Rata-rata nilai progress test yaitu 45.42 dan rata-rata nilai IPK yaitu 3.40.Kesimpulan: terdapat hubungan antara nilai progress test dengan nilai IPK lulusan dokter gigi Program PendidikanProfesi Dokter Gigi UMY, semakin besar nilai progress test, maka semakin besar pula nilai IPK lulusan dokter gigiUMY.
Perubahan Profil Wajah Sesudah Perawatan Ortodontik Cekat Ardianysah, M. Shulchan; Pudyani, Pinandi Sri; Suparwitri, Sri
Insisiva Dental Journal Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan wajah perlu mendapat perhatian karena wajah merupakan salah satu bagian tubuh yang sangat berhubungan dengan nilai-nilai estetika dan penampilan. Penampilan wajah yang kurang menarik karena susunan gigi geligi yang tidak rapi atau posisi dan hubungan rahang yang kurang serasi dapat menimbulkan masalah psikososial. Tujuan: Mengetahui hubungan perubahan sudut bidang oklusal dan perubahan indek tinggi wajah pada kasus maloklusi Klas II divisi 1 sebelum dan sesudah perawatan ortodontik cekat teknik Begg. Metode penelitian: Observasional klinik pre and post control group design menggunakan data sekunder berupa 17 pasang sefalogram lateral sebelum dan sesudah perawatan, dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok I overjet 2 – 4 mm dan kelompok II overjet 4,1 – 6 mm usia antara 18 – 35 tahun kemudian dilakukan pengukuran linier dan anguler dengan penapakan sefalogram untuk mengetahui perubahan sudut bidang oklusal dan perubahan indek tinggi wajah dengan acuan garis Ar-Go, Me- PP. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan sudut bidang oklusal sebelum dan sesudah perawatan sebesar 2– 5 dan perubahan indek tinggi wajah sebelum dan sesudah perawatan sebesar 0,018 – 0,084 mm. Hasil uji korelasi Spearman perubahan sudut bidang oklusal dan perubahan indek tinggi wajah sebelum dan sesudah perawatan untuk kelompok I dan kelompok II menunjukkan hubungan negatif bermakna (P<0,05). Hasil dari Mann-Whitney test antara kelompok I dan II menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (P<0,05). Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian terdapat hubungan negatif antara perubahan sudut bidang oklusal dengan perubahan indek tinggi wajah pada perawatan ortodontik maloklusi kelas II divisi 1 dengan teknik Begg.
Distribusi Frekuensi Fraktur Gigi Permanen di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Farani, Wustha; Nurunnisa, Wasi'a
Insisiva Dental Journal Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cedera dapat mengenai di berbagai kalangan usia mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia. Cedera dapat mempengaruhi pada jaringan keras dan jaringan pendukung di rongga mulut. Setiap negara memiliki frekuesi cedera yang berbeda-beda setiap tahunnya. Di Negara berkembang sering terjadi kecelakaan lalu lintas, hal ini menjadi penyebab paling umum fraktur gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui frekuensi fraktur gigi yang sering terjadi.Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan desain cross sectional. Subyek penelitian terdiri dari 114 pasien di RSGM UMY. Pengambilan data menggunakan data sekunder pasien di tahun 2016.Berdasarkan data yang diperoleh dianalisis menggunakan Statistical Package for Science (SPSS). Pengolahan data menggunakan statistik deskriptif untuk mengetahui frekuensi dan persentase fraktur gigi pada kelompok usia, jenis kelamin, etiologi dan jenis gigi yang terlibat.

Page 9 of 32 | Total Record : 314