cover
Contact Name
Dian Yosi Arinawati
Contact Email
dianyosi@umy.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkgumy@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Insisiva Dental Journal : Majalah Kedokteran Gigi Insisiva
ISSN : 22529764     EISSN : 26859165     DOI : 10.18196/idj
Core Subject : Health,
Insisiva Dental Jurnal memberikan informasi tentang ide, opini, perkembangan dan isu-isu di bidang kedokteran gigi meliputi klinis, penelitian, laporan kasus dan literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 314 Documents
Pasak Fiber Reinforced Composite sebagai Penguat Restorasi Resin Komposit Kelas IV pada Gigi Insisivus Lateralis Kanan Maksila Nekrosis Pulpa Disertai Lesi Periapikal (Laporan Kasus) Fiber post reinforced composites for resistence in composite resin resto Wijayanti, Nia
Insisiva Dental Journal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perawatan saluran akar akan berakibat hilangnya struktur gigi yang meningkatkan resiko fraktur pada gigi.Penggunaan pasak dapat dipertimbangkan sebagai penguat untuk meningkatkan resistensi mekanis gigi. Pasakfiber reinforced composites adalah pasak buatan pabrik yang mampu berikatan dengan baik dengan dindingsaluran akar, semen resin dan inti resin komposit sehingga mampu mengurangi resiko terjadinya fraktur danmengembalikan fungsi fisiologis dan estetis gigi. Laporan kasus ini menginformasikan penggunaan pasak fiberreinforced composites sebagai alternatif restorasi estetis pada gigi paska perawatan saluran akar. Seorangperempuan 22 tahun dengan gigi insisivisus lateralis kanan maksila nekrosis pulpa disertai lesi periapikal. Padakasus ini dilakukan perawatan saluran akar multi kunjungan, dilanjutkan dengan evaluasi 1 minggu, kemudiandilakukan insersi pasak fiber reinforced composites serta restorasi resin komposit kavitas kelas IV secaralangsung untuk mengembalikan fungsi fisiologis dan estetis gigi. Penggunaan fiber reinforced compositessebagai pasak untuk penguat pada restorasi resin komposit secara langsung merupakan alternatif perawatan padagigi anterior paska perawatan saluran akar untuk mengembalikan fungsi fisiologis dan estetis gigi tersebut.
Gambaran Pola Densitas Kista Radikuler pada Sisa Akar dengan Cone Beam Computed Tomography (CBCT) Setyawan, Erwin
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang. Kista radikuler merupakan salah satu jenis kista yang paling sering terjadi pada tulang rahang.Dengan pemeriksaan radiograf konvensional kadang susah dibedakan dengan lesi lain. Salah satu cara untukmenentukan diagnosis lesi dengan melihat gambaran lesi dan batas tepi lesi. Radiograf CBCT mempunyai kemampuanuntuk menentukan densitas suatu lesi. Tujuan. Gambaran pola densitas kista radikuler dapat membantu menentukangambaran lesi dan batas tepi lesi. Kasus. Laki-laki berumur 28 tahun datang ke dokter gigi untuk cabut gigi 26. 10tahun kemudian pasien merasa ada benda keras muncul di area 26. Dilakukan radiograf periapikal, ada lesi radiolusenmendekati sinus maksilaris, kemudian dilakukan pemeriksaan dengan CBCT. Manajemen kasus. Pemeriksaanradiograf CBCT potongan sagital diperoleh densitas tulang pada batas tepi lesi 626 HU dan 509 HU sedangkan padatengah lesi 119-281 HU, pada potongan coronal batas tepi lesi 626 HU dan 749 HU sedangkan pada tengah lesi 84-341HU, pada potongan axial batas tepi lesi 593 HU dan 665 HU sedangkan pada tengah lesi 66-294 HU. Ada perbedaanyang jauh antara tepi lesi dengan dalam lesi. Kesimpulan. Gambaran pola densitas pada lesi dan batas tepi lesi dapatmembuktikan bahwa lesi memiliki batas yang jelas dan tegas seperti karakteristik kista.
Perbedaan antara Kumur Ekstrak Siwak (Salvadora Persica) dan Kumur Infus Siwak terhadap Viskositas Saliva Driana Rahmawati, Atiek; Garry Syahrizal Hanafi, Muhammad
Insisiva Dental Journal Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Karies atau lubang gigi dapat terjadi apabila faktor yang mengikuti terpenuhi seluruhnya. Faktor-faktor tersebut adalah mikroorganisme, substrat, host atau gigi, waktu dan lingkungan atau saliva. Saliva memiliki peranan penting, karena saliva berfungsi sebagai self cleansing, menjaga kesehatan jaringan lunak maupun keras yang ada di dalam rongga mulut, lubrikasi, anti mikroba dan kapasitas buffer. Hubungan viskositas dengan karies adalah apabila viskositas saliva semakin rendah, maka kemungkinan akan terjadinya karies akan menurun, karena ketika viskositas rendah, maka volume saliva akan meningkat, sehingga kandungan saliva seperti lisosim yang berfungsi sebagai antibakteri juga akan meningkat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kumur ekstrak siwak dan infus siwak terhadap viskositas saliva. Metode: Penelitian ini adalah eksperimental kuasi dengan pendekatan one group pretest-posttest. Enam belas subjek yang terpilih secara random kemudian berkumur dengan larutan kumur yang mengandung ekstrak siwak (Salvadora persica), infus siwak dan air mineral sebagai kontrol. Penelitian ini memiliki jenis subjek berpasangan dengan wash out periode selama satu minggu. Pengambilan sampel saliva dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan kumur menggunakan ekstrak maupun infus siwak. Kumur dilakukan selama 30 detik. Sampel kemudian diukur viskositasnya dengan menggunakan viscometer Brookfield. Data analisis menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, dan uji homogenitas dengan Levene Variance Test, data dianalisis dengan menggunakan Friedman dengan nilai signifikansi didapat pada p<0,05. Hasil: Dihasilkan pada uji Friedman untuk ketiga kelompok data adalah p=0,271 (p>0,05). Kesimpulan: Tidak ada perbedaan kumur ekstrak siwak (Salvadora persica) dan kumur infus siwak terhadap viskositas saliva secara signifikan.
Perkembangan Plasenta dan Pertumbuhan Janin pada Tikus Hamil yang Diinfeksi Porphyromonas Gingivalis Placental Development and Fetal Growth in Porphyromonas Gingivalis-Infected Pregnant Rats Kusumawardani, Banun; MD Arina, Yuliana; Purwandhono, Azham
Insisiva Dental Journal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maternal Porphyromonasgingivalis infection on periodontal tissue can result in Porphyromonasgingivalisdissemination to umbillical cord. Porphyromonas gingivalis presumably gain access to the systemic circulationvia local tissue inflammation, and may affect the placental development and the fetus itself. This study aimed toanalize the effect of periodontal infection with Porphyromonas gingivalis on placental development, and todetermine its effect on fetal growth in a pregnant rat model. Female rats were infected with live-Porphyromonasgingivalis at concentration of 2x109 cells/ml into subgingival sulcus of the maxillary first molar before and/orduring pregnancy. They were sacrified on gestational day (GD) 20. Fetuses were evaluated for weight andlength. All placentas were fixed in 10% buffered formalin, processed for paraffin embedding, and stained withhematoxylin and eosin.The histopathological analysis of placentas on GD 20 showed that trophoblast cells inlabyrinth and junctional zone had a greater density in control group than Porphyromonas gingivalis-infectedperiodontal maternal group. The nucleated-erythrocytes were found more abundant in the fetal blood vessels ofPorphyromonas gingivalis-infected periodontal maternal group than in the fetal blood vessels of control group.In conclusion, the impaired placental morphology influenced the normal function of placenta to maintain thegrowth and development of fetus. The decreased placental weightresulted in the decreased of fetal weightandlength.
Perawatan Saluran Akar pada Gigi Incisivus Sentral dan Lateral Maksila dengan Perbedaan Status Pulpa: Laporan Kasus Pasril, Yusrini
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perawatan Saluran Akar (PSA) merupakan terapi yang tepat untuk mempertahankan gigi pada perawatan gigi di eramodern. Seperti yang diketahui, perawatan saluran akar merupakan perawatan yang membutuhkan aspek khususdan kemampuan teknis dalam merestorasi gigi akibat trauma atau komplikasi dari karies gigi. Patologi karies gigimenunjukkan secara lambat laun kematian pulpa dan munculnya abses periapical. Hal ini lah yang membedakanprosedur perawatan dan keberhasilannya dari kebutuhan perawatan saluran akar. Oleh karena itu, penegakkan statuspulpa penting untuk diketahui sebelum melakukan perawatan saluran akar.
Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Komunikasi antara Dokter Gigi dan Pasien dalam Pelayanan Perawatan Kesehatan Gigi Factors That Influence Communication between Dentist and Patient in Dental Health Care Service Ratna Astuti, Novitasari; Hendrartini, Julita; Widyanti Sriyono, Niken
Insisiva Dental Journal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi dokter gigi dan pasien memainkan peranan penting bahkan menentukan dalamkeberhasilan perawatan serta meningkatkan efektifitas pelayanan dan kepuasan pasien. Keberhasilan perawatankesehatan gigi pada pasien, selain dituntut keahlian teknis profesional seorang dokter gigi juga dituntutkemampuan non teknis berupa keahlian berkomunikasi dalam menghadapi berbagai perilaku pasien, dandipengaruhi beberapa faktor-faktor lain. Tujuan: mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadapkomunikasi antara dokter gigi dan pasien dalam pelayanan perawatan kesehatan gigi di Rumah Sakit BethesdaDIY. Metode: Jenis penelitian adalah observasional dengan rancangan cross sectional. Subyek penelitian adalahpasien di poliklinik gigi Rumah Sakit Bethesda DIY sebanyak 100 pasien gigi yang diambil dengan simplerandom sampling. Adapun kriteria sampel, pasien berusia 12-55 tahun dan dapat berkomunikasi dengan baik dipoli gigi RS Bethesda DIY. Variabel pengaruh yakni frekuensi kunjungan, pendampingan kunjungan, tingkatpendidikan, jenis kelamin, usia. Variabel terpengaruh yakni komunikasi antara dokter gigi dan pasien. Alat ukurmenggunakan kuesioner dengan skala likert. Uji coba kuesioner dilakukan terhadap 30 responden .Penelitian inimenggunakan teknik korelasi product moment dengan r berkisar antara 0,416-0,698 dan p < 0,05, hasilreliabilitas dengan teknik alpha cronbach r tt = 0,876 dan p < 0,05. Data hasil penelitian dianalisis dengananalisis regresi berganda dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil: menunjukkan adanya pengaruh yang bermaknaantara faktor usia (r=0,236 dan p=0,017), pendidikan (r=0,393 dan p=0,000),frekuensi kunjungan pasien kedokter gigi (r=0,291 dan p=0,004), pendampingan kunjungan pasien saat masuk ruang praktek dokter gigi(r=0,259 dan p=0,009) terhadap komunikasi antara dokter gigi dan pasien. Sedangkan jenis kelamin (r=0,166 danp=0,095) tidak terdapat pengaruh terhadap komunikasi antara dokter gigi dan pasien. Kesimpulan: Faktor usia,frekuensi kunjungan, pendidikan dan pendampingan kunjungan berpengaruh terhadap komunikasi dokter gigidan pasien sedangkan jenis kelamin tidak berpengaruh. Faktor yang memberikan bobot sumbangan terbesarterhadap komunikasi antara dokter gigi dan pasien adalah faktor tingkat pendidikan.
Perbedaan Efektifitas antara Madu Bunga Kelengkeng (Euphoria Longana Sp) dengan Gel Karbamid Peroksida 10% sebagai Bahan Pemutih Gigi Setyawati, Any; Abdullah, Sofyan
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Warna gigi mempengaruhi penampilan seseorang, sehingga banyak orang menginginkan giginya berwarna putihdan cerah. Gigi putih dan cerah dapat dilakukan perawatan dengan bleaching (pemutihan gigi). Gel karbamidperoksida 10% adalah salah satu bahan pemutih gigi yang biasa digunakan dalam praktik kedokteran gigi. Bahanpemutih gigi relatif mahal dan mempunyai efek samping seperti sensitivitas gigi dan iritasi gingiva. Banyak penelitimencoba mencari bahan alternatif yang lebih aman dan lebih murah untuk memutihkan gigi. Madu mengandunghidrogen peroksida dan asam malat yang bisa memutihkan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaanefektifitas antara madu bunga kelengkeng (Euphoria Longana Sp) dengan gel karbamid peroksida 10% sebagaibahan pemutih gigi. Jenis penelitian ini adalah laboratoris dengan subyek penelitian 30 sampel gigi pasca ekstraksidilakukan discolorasi, kemudian dibagi menjadi 2 kelompok, 15 gigi direndam dalam madu dan 15 gigi direndamdalam gel karbamid peroksida 10%. Pengukuran warna gigi menggunakan shade guide dan spektrofotometer. Datayang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Independent Sample t-Test. Hasil penelitian ini didapatkan nilai p =0,001 (p <0,05) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok madu bunga kelengkeng (EuphoriaLongana Sp) dengan gel karbamid peroksida 10%. Hal ini menunjukkan madu bunga kelengkeng (Euphoria LonganaSp) dan gel karbamid peroksida 10% dapat memutihkan gigi, walaupun hasil penelitian ini gel karbamid peroksida10% lebih efektif untuk memutihkan gigi.
Dimorfisme Seksual pada Gigi Kaninus menggunakan Metode Kecerdasan Buatan Fidya, Fidya; Priyambadha, Bayu
Insisiva Dental Journal Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Deteminasi seksual adalah salah satu aspek yang penting dalam proses identifikasi. Gigi adalah bagian dari tubuh manusia yang menunjukkan sifat dimorfisme seksual. Kecerdasan buatan adalah metode yang membuat komputer dapat mengerjakan tugas seperti dan sebaik manusia. Tujuan: Untuk mengetahui tingkat ketepatan penggunaan metode kecerdasan buatan dalam mengidentifikasi dimorfisme seksual pada gigi kaninus. Bahan dan Metode: Sampel sebanyak 100 hasil pengukuran masing-masing diameter mesiodistal, buccolingal, dan diagonal gigi kaninus model rahang atas dan bawah laki-laki dan perempuan dimasukkan ke dalam sebuah aplikasi program komputer yang menerapkan algoritma Multi Layer Perceptron (MLP). Proses pembelajaran dilakukan oleh program hingga mendapatkan pola data. Kemudian dilakukan pengujian dengan menggunakan 50 hasil pengukuran baru masing-masing 25 laki-laki dan perempuan. Analisis statistik yang digunakan adalah Koefisien Kohens Kappa dengan nilai range 0-1. Hasil: Dari pengujian didapatkan tingkat akurasi sebesar 88% dan nilai Kappa 0,76 yang menunjukkan bahwa sistem otomatisasi menggunakan metode kecerdasan buatan adalah substansial agreement (kesepakatan besar). Kesimpulan: Penggunaan metode kecerdasan buatan memberikan tinggi akurasi yang tinggi sebesar 88% pada proses identifikasi dimorfisme seksual gigi kaninus.
Perbedaan Daya Antibakteri antara Klorheksidin Diglukonat 2% dan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium Guajava Linn) Berbagai Konsentrasi (Tinjauan Terhadap Enterococcus Faecalis) Differences Of Antibacterial Power Between Chlorhexidine Digluconate 2% And Vari Sofiani, Erma; Ardian Mareta, Dhita
Insisiva Dental Journal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Enterococcus faecalis merupakan bakteri patogen penyebab kegagalan paska perawatansaluran akar karena memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan mentoleransi secara ekologis pada kondisiperawatan saluran akar yang gagal. Pemberantasan Enterococcus faecalis dari saluran akar dapat dilakukan salahsatunya dengan penggunaan bahan irigasi. Salah satu bahan irigasi yaitu klorheksidin diglukonat 2% yang efektifmelawan Enterococci dan jamur, namun tidak dapat melarutkan jaringan. Klorheksidin diglukonat 2% dapatmenimbulkan reaksi alergi apabila digunakan secara berulang dalam jangka waktu yang lama. Bahan alternatifirigasi lain untuk menghindari reaksi alergi tersebut yaitu ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava Linn) yangdapat berfungsi sebagai antibakteri. Adanya kandungan tanin di dalam daun jambu biji (Psidium guajava Linn)dapat menghambat pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis. Tujuan penelitian: untuk mengetahuiperbedaan keefektivitasan daya antibakteri antara klorheksidin diglukonat 2% dengan berbagai konsentrasiekstrak daun jambu biji (Psidium guajava Linn). Desain penelitian: eksperimental laboratories in vitro denganmetode difusi sumuran agar pada media TSA. Media TSA di olesi Enterococcus faecalis kemudian ditetesilarutan uji khorheksidin diglukonat 2%, aquabides steril dan ekstrak daun jambu biji dengan konsentrasi 20%,40%, 60% dan 80%. Perhitungan daya antibakteri dengan mengukur zona radikal menggunakan slidding caliper.Data dianalisis menggunakan uji One Way Anova dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil penelitian: klorheksidindiglukonat 2% memiliki daya antibakteri yang lebih tinggi terhadap Enterococcus faecalis dibandingkan denganekstrak daun jambu biji dengan konsentrasi 20%, 40%, 60% dan 80%. Konsentrasi ekstrak daun jambu biji(Psidium guajava Linn) sebesar 60% memiliki daya antibakteri paling tinggi dibandingkan konsentrasi lainsehingga dapat digunakan sebagai bahan alternatif irigasi saluran akar.
Perbandingan Daya Hambat Ekstrak Daun dan Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) Terhadap Bakteri Penyebab Gingivitis pada Pasien dengan Ortodontik Cekat Widyaningrum, Ari Rahayu; Marsha, Nadianisa; Ardiansyah, M. Sulchan
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenggunaan alat ortodontik cekat di dalam mulut semakin meningkatkan retensi plak, yang apabila tidakditanganimakaakan menimbulkan reaksi yang berkelanjutan seperti gingivitis. Ekstrak tanaman belimbing wuluh(Averrhoa bilimbi L) merupakan salah satu bahan antibakteri herbal yang dipercaya dapat menghambat pertumbuhanbakteri penyebab gingivitis.Daya antibakteri tanaman belimbing wuluh diperoleh dari kandungan zat aktifnyaantara lain flavonoid, tanin, dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya hambat ekstrak daun dan buahbelimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) terhadap bakteri penyebab gingivitis pada pengguna ortodontik cekat. Desainpenelitian pada penelitian ini adalah eksperimental laboratories murni secara in vitro dengan menggunakan metodedifusi. Bakteri anaerob yang diperoleh dari swab pada cairan sulkus gingiva menggunakan paperpoint pada penderitagingivitis pengguna ortodontik cekat. Kelompok perlakuan dibagi menjadi masing-masing 6 kelompok yaitu 12,5%,25%, 50%, 100% konsentrasi ekstrak daun dan buah belimbing wuluh, aquades steril (kontrol negatif), khlorhexidin0,2% (kontrol positif) dan direplikasi sebanyak 5 kali. Penelitian menggunakan media cawan petri dengan metodesumuran dan diinkubasi dengan 37°C selama 24 jam. Zona bening akan terlihat disekitar sumuran kemudian diukurmenggunakan jangka sorong dengan satuan millimeter. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji OneWay ANOVA kemudian dilanjutkan dengan Post Hoc LSD test. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini menunjukkanbahwa ekstrak daun dan buah belimbing wuluh secara signifikan dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebabgingivitis (p<0,05).

Page 8 of 32 | Total Record : 314