cover
Contact Name
Dian Yosi Arinawati
Contact Email
dianyosi@umy.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkgumy@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Insisiva Dental Journal : Majalah Kedokteran Gigi Insisiva
ISSN : 22529764     EISSN : 26859165     DOI : 10.18196/idj
Core Subject : Health,
Insisiva Dental Jurnal memberikan informasi tentang ide, opini, perkembangan dan isu-isu di bidang kedokteran gigi meliputi klinis, penelitian, laporan kasus dan literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 314 Documents
Efek Jumlah Kandungan Filler Nanosisal Terhadap Ketahanan Fraktur Resin Komposit Nugroho, Dwi Aji; ., Wdjijono; ., Nuryono; Asmara, Widya; Wajar, Dony
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Salah satu komposisi resin komposit yaitu filler anorganik. Filler umumnya berasal dari glass.Material anorganik tersebut memiliki kekurangan yaitu proses pengolahan bersifat abrasive, polutan, dan konsumsienergi tinggi. Oleh karena itu, filler alternatif diperlukan, khususnya dari bahan organik. Bahan organik yangberpotensi adalah serat alam berupa sisal. Penelitian ini membuat bahan tumpatan resin komposit dengan sisalberukuran nano sebagai fillernya dan kita sebut nanosisal komposit. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui pengaruhjumlah filler nanosisal terhadap ketahanan fraktur resin komposit. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan 20sampel. Sampel yang digunakan adalah cetakan berbentuk balok berukuran 2x2x25mm (ISO-4049). Sampel dibagimenjadi empat kelompok dengan masing-masing berjumlah lima sample. Presentase filler masing kelompok adalah60%,65%,70% dan 3M ESPE-Z350. Sample diuji ketahanan fraktur menggunakan universal testing machine. Analisisdata menggunakan uji non-parametric Kruskal-Wallis. Hasil Penelitian: Resin komposit dengan filler 60% memilikirata-rata ketahanan fraktur 28.61 MPa, filler 65% sebesar 11,77 MPa, filler 70% 11,56 MPa dan resin komposit3M ESPE-Z350 35,36 MPa. Kruskal-Wallis menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p>0,05). Kesimpulan:Berdasarkan hasil penelitian ini, tidak terdapat efek jumlah filler terhadap ketahanan fraktur resin komposit nanosisal.Kelompok resin komposit 3M ESPE-Z350 memiliki nilai ketahanan fraktur tertinggi. Jumlah kandungan filler yangoptimal dalam komposit nanosisal adalah 60%.
Gambaran Pengetahuan dan Kecemasan Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi terhadap Human Immunodefficiency Virus/Acquired Immunodefficiency Syndrome (HIV/AIDS) di RSGM UMY The Knowledge Description and Hesitation of Dental Clerkship Student about Human Immunod Okti Kusumastiwi, Pipiet
Insisiva Dental Journal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Prosedur perawatan gigi dan mulut seringkali melibatkan darah dan saliva yang kemungkinanmengandung banyak mikroorganisme patogen, seperti HIV. Dokter gigi memiliki tanggung jawab etik danprofesional untuk memberikan perawatan kepada semua pasien, termasuk pasien dengan HIV AIDS.Pengetahuan tentang HIV/AIDS merupakan bekal seorang dokter gigi untuk dapat melakukan perawatan yangbaik kepada pasien dengan HIV/AIDS. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran pengetahuan mahasiswakedokteran gigi tentang HIV/AIDS dan kecemasan mahasiswa kedokteran gigi terhadap HIV/AIDS. Metode:Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah 74 mahasiswaprofesi kedokteran gigi di RSGM UMY dipilih secara simple random sampling. Instrumen penelitianmenggunakan kuesioner untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap responden tentang HIV/AIDS.Hasil: hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 74 mahasiswa profesi, 12 (16,21%) memiliki pengetahuan yangbaik, 46 (62,16%) memiliki pengetahuan sedang, dan 16 (21,62%) memiliki pengetahuan yang buruk. Sebesar12 (16,21%) akan merawat pasien HIV AIDS tanpa cemas, 44 (59,45%) akan merawat dengan cemas, dan 18(24,32%) akan merujuk pasien HIV AIDS. Kesimpulan: Sebagian besar responden berpengetahuan sedangtentang HIV/AIDS dan akan merawat pasien HIV/AIDS dengan cemas.
Perawatan Interseptif Dental Pasien Anak Penderita Cleft–Palate Interceptive Dental Treatment on Children With Cleft- Palate Octavia, Alfini
Insisiva Dental Journal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak-anak yang mengalami kelainan cleft-palate biasanya menderita kelainan dento-skeletal. Sejak kecil merekaharus berjuang untuk melalui operasi koreksi palatum(palatoplasty) untuk bertahan hidup agar asupan makanandapat tercukupi. Kelainan dental mulai timbul ketika gigi-geligi mulai erupsi seperti karies, kelainan bentuk ,kelainan jumlah dan masalah diskrepansi antara maksila dan mandibula sehingga hubungan gigi-geligi rahangatas dan rahang bawah menjadi tidak harmonis mengarah pada kelainan maloklusi kelas III, yang jugamenimbulkan masalah estetik. Tujuan penulisan naskah ini adalah melakukan kajian lebih mendalam perawatandental dan skeletal anak-anak dengan cleft- palatesehingga kasus-kasus seperti ini dapat dirawat dengan optimaltanpa membutuhkan waktu perawatan yang lama dan hasil yang memuaskan.Penelusuran pustaka menghasilkanketerangan bahwa perawatan dental pada anak-anak sebaiknya dilakukan sedini mungkin untuk mencegahkeparahan kelainan dental dan munculnya kelainan periodontal serta mencegah berlanjutnya maloklusi yangtelah terjadi.Perawatan dento-skeletal pada anak-anak dapat dilakukkan seawal mungkin untuk mendapatkanhasil dan waktu perawatan yang optimal.
Pertimbangan Penggunaan Implan Gigi pada Lansia Ananda, Nissia; Sulistyani, Lilies Dwi; Bachtiar, Endang Winiati
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini terjadi perkembangan populasi lansia di Indonesia sehingga isu kesehatan lansia merupakan sesuatu yangesensial. Lansia adalah individu yang telah mengalami proses menua sehingga terjadi berbagai perubahan biologispada tubuhnya, sehingga berpengaruh terhadap penurunan fungsi organ. Kehilangan gigi adalah salah satu masalahyang umum pada lansia sehingga kebutuhan untuk pemasangan gigi tiruan merupakan hal penting yang perludiperhatikan masyarakat kelompok lansia. Implan gigi tiruan merupakan salah satu alternatif pengganti kehilangangigi yang memiliki banyak keuntungan dibandingkan gigi tiruan lain. Namun perlu disadari bahwa penggunaan implangigi memiliki pertimbangan-pertimbangan kondisi rongga mulut dan sistemik tertentu untuk menunjang keberhasilanperawatan. Pemahaman mengenai terjadinya proses menua dan hubungannya dengan pertimbangan penggunaanimplan sangat penting untuk diperhatikan oleh klinisi sebelum merencanakan perawatan, terutama berkaitan denganperubahan pada sistem pertahanan tubuh yang terjadi seiring proses menua.
Perawatan Maloklusi Klas III Dento-Skeletal Pada Masa Pertumbuhan Menggunakan Alat Cekat (Straight Wire Appliance) (Laporan Kasus) Ratya Utari, Tita
Insisiva Dental Journal Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPendahuluan: Perawatan maloklusi kelas III sebaiknya dilakukan sedini mungkin pada saat pasien dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, sehingga pertumbuhan dapat diarahkan. Penatalaksaan lebih awal akan memberikan hasil yang lebih baik dari profil maupun oklusinya dan dapat mencegah terjadinya kelainan yang lebih berat. Tujuan: memperbaiki gigitan silang (crossbite) yang terjadi pada gigi anterior dan posterior sehingga terbentuk relasi gigi rahang atas dan rahang bawah yang normal, dengan overjet dan overbite normal, koreksi gigi yang berjejal dan memperbaiki garis median sehingga diperoleh estetik penampilan yang lebih baik. Penatalaksanaan Kasus: Menggunakan alat cekat dengan sistem straight wire, tahap pertama perawatan dilakukan levelling dan unravelling untuk koreksi crowding gigi anterior. Pasien masih berusia 14 tahun sehingga pemakaian elastik intermaksiler klas III sangat efektif untuk menghambat pertumbuhan rahang bawah dan memacu pertumbuhan rahang atas sehingga terbentuk overjet positif. Kesimpulan: Untuk kasus kelas III yang dilakukan lebih dini dapat dilakukan perawatan ortodontik tanpa dilakukan pembedahan. Hasil perawatan relatif memuaskan dengan terkoreksinya crowding dan crossbite di anterior maupun posterior. Profil pasien menjadi lebih baik, semula cekung terkoreksi menjadi lurus.
Perawatan Apeksifikasi dengan Pasta Kalsium Hidroksida: Evaluasi Selama 12 Bulan (Laporan Kasus) Apexification Treatment with Calcium Hydroxide Paste:12 Months Evaluation (Case Report) Tiara Alphianti, Likky
Insisiva Dental Journal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi permanen muda dapat mengalami kematian pulpa sehingga pertumbuhan akar terhenti, apeks masihterbuka, dan saluran akar lebih lebar di bagian apeks dibanding dengan daerah serviks. Perawatan apeksifikasibertujuan untuk merangsang proses pembentukan apeks gigi dengan membentuk suatu jaringan keras pada apeksgigi tersebut. Penulisan artikel ini bertujuan melaporkan kasus perawatan pada pasien anak usia 12 tahun yangmengalami nekrose pada gigi 22 dengan apeks yang masih terbuka. Perawatan yang dilakukan adalahapeksifikasi menggunakan bahan pasta kalsium hidroksid.Hasil radiografi periapikal 2 bulan pasca apeksifikasi, tampak ujung akar sudah mulai terkalsifikasi yangditandai dengan adanya bercak radiopak namun masih terdapat area radiolusen pada ujung akar. Lima bulanpasca apeksifikasi, pada radiograf tampak ujung akar sudah menutup (terkalsifikasi) yang ditandai denganadanya gambaran radiopak pada ujung akar dengan bentuk blunderbuss. Perawatan saluran akar dan penumpatandilakukan kemudian. Evaluasi dengan radiograf 12 bulan pasca apeksifikasi menunjukkan kondisi ujung akaryang baik (radiopak) dan tidak ada area radiolusen pada periapikal yang merupakan tanda patologis.Perawatan apeksifikasi menggunakan pasta kalsium hidroksid pada kasus ini menunjukkan keberhasilandalam penutupan ujung akar setelah 5 bulan. Evaluasi 12 bulan kemudian menunjukkan kondisi ujung akar yangbaik tanpa ada tanda-tanda patologis.
Hubungan pH Saliva dan Kemampuan Buffer dengan DMF-T dan def-t pada Periode Gigi Bercampur Anak Usia 6-12 Tahun Wirawan, Ekky; Puspita, Sartika
Insisiva Dental Journal Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar salivarius. Fungsi dari saliva adalah menjaga lingkunganrongga mulut. Saliva memiliki peranan penting dalam proses terjadinya karies dimana pada saat pH rongga mulutdibawah 5,5 dapat terjadi proses demineralisasi atau proses karies pada gigi. Salah satu fungsi saliva adalah memilikikemampuan buffer yang dapat menjaga pH saliva saat pH turun menjadi asam dan naik menjadi sangat basa, sehinggaproses karies dapat dicegah. Karies adalah penyakit yang mengenai jaringan keras gigi yang disebabkan oleh interaksibakteri pada permukaan gigi, plak atau lapisan biofilm, dan substrat berisi karbohidrat yang difermentasikan menjadiasam oleh bakteri plak. Terdapat empat faktor yang saling berpengaruh terhadap kejadian karies adalah (1) waktu, (2)host atau gigi, (3) mikroorganisme, (4) substrat. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui apakah terdapathubungan antara kemampuan buffer saliva terhadap status karies pada gigi bercampur anak usia 6-12 tahun. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah observasi klinik. Jumlah sampel adalah 10 anak yang datang periksa gigi di RSGMUMY. Hasil penelitian adalah tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kemampuan buffer saliva terhadap statuskaries gigi desidui dan pemanen pada periode gigi bercampur anak usia 6-12 tahun.
Daya Antibakteri Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper Crocatum) terhadap Bakteri Enterococcus Faecalis sebagai Bahan Medikamen Saluran Akar dengan Metode Dilusi Anti-Bacterial Power of Red Batel Leaves (Piper Crocatum) to Enterococcus Faecalis Bacteria as Medi Pasril, Yusrini; Yuliasanti, Aditya
Insisiva Dental Journal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perawatan saluran akar adalah perawatan yang dilakukan dengan mengangkat jaringan pulpa yang telahterinfeksi dari kamar pulpa dan saluran akar. Salah satu tahap yang penting yaitu sterilisasi dimana dibutuhkanbahan medikamen yang paling efektif dan biokompatibel. Daun sirih merah (Pipper crocatum) diyakinimempunyai banyak kandungan antibakteri seperti alkaloid, flavonoid, saponin dan tannin. Enterococcus faecalisadalah salah satu bakteri yang memiliki resistensi serta paling sering ditemukan pada infeksi saluran akar.Kemampuan dari bakteri ini dapat mengadakan kolonisasi yang baik dan dapat bertahan dalam saluran akar.Tujuan penelitian untuk mengetahui daya antibakteri ekstrak daun sirih merah (Pipper crocatum) terhadapbakteri Enterococcus faecalis. Desain penelitian ini dilakukan secara eksperimental laboratorium in vitro.Metode yang digunakan yaitu dilusi tabung untuk menentukan Kadar Hambat Minimum (KHM) dan KadarBunuh Minimum (KBM). Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu 10%, 15%, 20%, 25% dan 30%. Hasilpenelitian diperoleh KHM sebesar 20% dan KBM 25%. Kesimpulan penelitian ini ekstrak daun sirih merahmempunyai daya antibakteri dengan nilai KHM 20% dan KBM 25%. Ekstrak etanol daun sirih merah (Pippercrocatum) mampu menghambat pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis pada konsentrasi 20% dan dapatmembunuh bakteri Enterococcus faecalis pada konsentrasi 25%.
Hubungan antara Status Gizi dengan Status Erupsi Gigi Insisivus Sentralis Permanen Mandibula The Relationship between Nutritional Status and the Status of the Eruption of Permanent mandibular central incisors Driana Rahmawati, Atiek; Retriasih, Hastami; Medawati, Ana
Insisiva Dental Journal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Erupsi gigi merupakan gerak normal gigi ke arah rongga mulut dari posisi pertumbuhannya dalam tulangalveolar. Erupsi gigi dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah nutrisi. Nutrisi sangat penting untukpertumbuhan dan perkembangan fisik, termasuk erupsi gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuihubungan antara status gizi dengan status erupsi gigi insisivus sentralis permanen mandibula. Jenis penelitian iniadalah analytic descriptive dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan 60 siswa dengan usia 6-7 tahunyang bersekolah di sekolah dasar negeri di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY yang diambil denganmetode consecutive sampling. Subyek penelitian terbagi dalam 2 kriteria status gizi berdasarkan Tinggi Badanmenurut Usia (TB/U), yaitu 30 siswa dengan status gizi pendek dan 30 siswa dengan status gizi normal. Hasilanalisis dengan menggunakan uji statistic chi square menunjukkan hubungan yang signifikan (P<0,05). Kesimpulan terdapat hubungan antara status gizi dengan status erupsi gigi insisivus sentralis permanen mandibula.
Hubungan Status Ekonomi dan Pengetahuan Masyarakat terhadap Kanker Rongga Mulut di Kotamadya Medan 2014 Hafny Lubis, Wilda; R Suppaya, Sanjarna
Insisiva Dental Journal Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker mulut, istilah untuk tumor ganas yang terjadi dalam rongga mulut. Prevalensi kanker mulut sangat tinggi terutama di kalangan pria dan kanker mulut merupakan kanker ke delapan yang paling sering terjadi di seluruh dunia. Beberapa kanker mulut mungkin asimtomatik atau mungkin mengalami gejala yang berbeda, sehingga ketidaktahuan tanda-tanda awal kanker mulut dapat menyebabkan kanker mulut diabaikan Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap kanker mulut dan keadaan status ekonomi merupakan faktor penyebab tertundanya diagnosis dan pengobatan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara status ekonomi seperti pendapatan dan pendidikan dengan pengetahuan masyarakat terhadap kanker mulut. Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah pengunjung Rumah Sakit Columbia Asia dan Puskesmas PB Selayang II, pada Januari dan Febuari 2014. Penentuan subjek dilakukan dengan accidental sampling terdiri dari 80 orang. Pengumpulan data diperoleh dengan memberikan kuesioner kepada responden yang memenuhi kriteria inklusi. Kuesioner digunakan untuk menilai tingkatan pendapatan, tingkatan pendidikan dan pengetahuan kanker mulut. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara status ekonomi dengan pengetahuan yang mencakup penyebab, tanda – tanda dan pengelolaan kanker mulut. Ketidakseimbangan status ekonomi dalam pertimbangan kesehatan mulut dapat didefinisikan sebagai perbedaan dalam prevalensi atau insidens masalah kesehatan gigi dan mulut antara masyarakat dengan status ekonomi tinggi dan status ekonomi rendah. Status ekonomi mempengaruhi pengetahuan terhadap kanker mulut antara lain disebabkan masyarakat dengan status ekonomi tinggi memungkinkan mencari akses ke layanan kesehatan mulut yang baik dibandingkan masyarakat berstatus ekonomi rendah sehingga memungkinkan menerapkan perilaku kesehatan mulut yang tepat, mendapat diagnosis dan pengobatan kanker mulut yang cepat dan tepat. Informasi hasil penelitian ini dapat digunakan oleh Dinas Kesehatan atau layanan kesehatan lainnya untuk membuat program sosialisasi kanker mulut yang dilakukan secara berkesinambungan dan dapat dijangkau oleh masyarakat seperti di Puskesmas yang bertujuan untuk menurunkan prevalensi kanker mulut.

Page 7 of 32 | Total Record : 314