cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Perbandingan Efektivitas Teofilin (1,3-Dimethylxanthine) dan Kafein (1,3,7-Trimethylxanthine) dalam Menunda Kelelahan Otot pada Tikus Miladiyah, Isnatin; Trunogati, Pranandito; Lestariana, Wiryatun
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17 No 2: July 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.170203

Abstract

Kelelahan otot merupakan suatu kondisi dimana otot kehilangan kemampuan berkontraksi karena stimuli terus menerus dan hal ini dikaitkan dengan penurunan cadangan glikogen. Obat derivat methylxanthine (kafein dan teofilin) bermanfaat untuk menghemat penggunaan glikogen. Penelitian ini bertujuan untuk menggali efektivitas kafein dan teofilin dalam menunda kelelahan otot sebagaimana yang diukur dalam lama struggling. Sebanyak 18 (delapan belas) ekor tikus berusia ± 3 bulan, berat 200-210 gram, kadar Hb 11,5-16 mg/dL dan kadar Hmt 35-51%, dibagi secara acak ke dalam 3 kelompok perlakuan: kontrol (akuades 1 mL/kgBB), kafein 3,78% (1 mL/kgBB) dan teofilin 3,15% (1 mL/kgBB). Kelelahan otot diukur dengan lama struggling dalam detik. Data rerata lama struggling antar kelompok dianalisis dengan one way ANOVA. Hasil menunjukkan bahwa lama struggling untuk kelompok kafein (286.83+7.11) detik dan teofilin (312.33+15.92) detik, lebih lama daripada kelompok kontrol (140.33+23.24) (p<0,05), sedangkan lama struggling kelompok kafein dengan teofilin tidak berbeda bermakna (p>0,05). Disimpulkan bahwa kafein dan teofilin mampu menunda kelelahan otot pada tikus dan efektifitasnya sebanding.
Efek Infusa Batang Brotowali (Tinospora crispa) terhadap Nafsu Makan Dan Berat Badan Tikus Putih (Rattus norvegicus) Tasminatun, Sri; Wahyuningsih, Nur
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1663

Abstract

T. crispa is a herbal medicine that proved as a drug for patient Diabetes mellitus. But, our community also use it to increase the appetite and body weight. The aim of this research was to find out the appetite and body weight effect of T. crispa‘s stem infusion in female white mouse. The subject are 25 female mouse, 2 month years old and 110 gram of body weight. They are divided into 5 groups, 3 groups of treatment with different dose (1,28 g/kgBW, 2,56 g/kgBW, and5,12 g/kgBW) and 2 groups control.. Everyday they will injection with infusion of T. crispa and every 5 days their body weight will be measured. It lasted for 20 days. The data will be analyzed by Anova one way, continued Tukey test with help of computer program of SPSS (p 0,05) According to this research, it could be knew that T. crispa‘s stem infusion could increase appetite and body weight. The increasing of appetite was seen at dose 5,12 g/kgBW at 10 days after get infusion. The increasing of body weight was seen at the first dose (1,28 g/ kgBW) for 10 days after get infusion.T. crispa merupakan herbal medicine yang telah terbukti dapat menunkan kadar gula darah pada penderita Diabetes mellitus. Namun, T. crispa ini juga sering digunakan oleh masyarakat sebagai ramuan yang dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan. Masyarakat biasanya menggunakan batang tanaman ini untuk ditumbuk kemudian di buat ramuan dan diminum sehari- hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek T. crispa sebagai penambah nafsu makan dan berat badan. Penelitian ini dilakukan pada 25 ekor tikus putih betina (Rattus norvegicus) galur SD berumur 2 bulan dengan berat ±110 gram. Subyek dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan dan 2 kelompok kontrol. Pada kelompok perlakuan tiap hari tikus di sonde dengan infusa T .crispa sesuai dengan dosisnya (1,28 g/kgBB, 2,56 g/kgBB, dan 5,12 g/kgBB). Setelah 5 hari penelitian tiap hewan uji ditimbang dan dirata-rata berat badannya selama 20 hari. Data yang diperoleh kemudian di analisa dengan uji Anova satu jalan dilanjutkan uji Tukey dengan bantuan program komputer SPSS (p 0,05). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa infusa batang T. crispa dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan. Peningkatan nafsu makan terjadi pada dosis 5,12 g/kgBB selama 10 hari pertama pemberian infusa, setelah itu nafsu makan tidak meningkat lagi. Peningkatan berat badan diperoleh pada dosis 1.28 g/kgBB selama 10 hari pertama pemberian infusa, setelah itu berat badan tidak meningkat lagi.
Vulvodinia, Diagnosis dan Penatalaksanaan Susetiati, Devi Artami
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1565

Abstract

Vulvodynia is often described as discomfort or burning pain in the vulvar area, occurring in the absence of visible pathology or a specific, clinically identifiable disorder. The aim of this this article is to give more information about vulvodinia, diagnose and management with literature study method. The diagnosis of vulvodynia is made after taking a careful history, ruling out infectious or dermatologic abnormalities, and eliciting pain in response to light pressure on the labia, introitus, or hymenal remnants. Several treatment options have been used, although the evidence for many of these treatments is incomplete. Treatments include oral medications that decrease nerve hypersensitivity (e.g., tricyclic antidepressants, selective serotonin reuptake inhibitors, anticonvulsants), pelvic floor biofeedback, cognitive behavioral therapy, local treatments, and (rarely) surgery. Most women experience substantial improvement when one or more treatments are used. It can be concluded that vulvodinia ’s management until right now has not been standardized yet because of its etiology.Vulvodinia merupakan rasa tidak nyaman pada vulva, kebanyakan pasien merasa nyeri terbakar, stinging, iritasi, dan lecet pada daerah tersebut, keluhan berlangsung kronik tanpa disertai gambaran klinis yang spesifik atau gangguan neurologis. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan tentang vulvodinia, diagnosis dan penatalaksanaannya dengan metode studi pustaka. Diagnosis vulvodinia ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti dengan menyingkirkan infeksi atau kelainan kulit dan pemeriksaan rasa nyeri terhadap rangsang tekanan ringan pada labia, introitus, atau sisa-sisa himen. Beberapa pilihan terapi telah digunakan meskipun belum cukup terbukti efektivitasnya. Terapi oral dengan menggunakan obat-obatan yang dapat menurunkan hipersensitivitas saraf (misal antidepresan trisiklik, selective serotonin reuptake inhibitors, antikonvulsan), pelvic floor biofeedback, cognitive behavioral therapy, terapi lokal, dan yang jarang dilakukan adalah terapi bedah. Kebanyakan wanita penderita vulvodinia mengalami perbaikan yang berarti ketika menggunakan salah satu atau kombinasi terapi. Disimpulkan bahwa sampai saat ini belum ada standarisasi terapi vulvodinia, hal ini karena vulvodinia merupakan suatu penyakit dengan berbagai kemungkinan etiologi yang belum pasti.
Pengetahuan dan Penggunaan Asam Folat Wanita Umur Reproduktif Gugun, Adang Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1898

Abstract

Neural Tube defects (NTDs), termasuk spina bifida dan anencephali merupakan malformasi serius yang terjadi pada saat perkembangan janin selama hari ke 17-30 sesudah konsepsi. Konsumsi suplemen yang berisi asam folat dapat mengurangi kejadian NTDs 50-70 %.Dari laporan “The 1998 behavioral risk factor Surveillance System (BRFSS)” mengenai pengetahuan asam folat dan penggunaan multivitamin pada wanita usia reproduktif di Michigan:Telah dilakukan survey pada 739 wanita usia reproduktif (18-44 tahun) mengenai pengetahuan dan penggunaan asam folat. Usia, ras, pendidikan, status pernikahan, status berat badan, perokok, dan konsumsi sayur/buah diidentifikasi menjadi variabel perhatian dan termasuk dalam analisis multivariabelPengetahuan tentang asam folat dibatasi pada jawaban mengenai alasan rekomendasi para ahli pada penggunaan asam folat, yaitu pencegahan cacat kelahiran.Dari seluruh wanita 30% memiliki pengetahuan tentang penggunaan asam folat. Prevalensi tertinggi pada wanita lulusan sarjana (42,2%), umur 25-29 (39,8%), perokok (37,0%), menikah (35,8%), konsumsi sayur/buah (34,9%) non obesitas (31,9%), Kulit putih (31,5%). Analisa multi variabel menunjukkan bahwa wanita yang berpendidikan tinggi, perokok dan yang tidak menikah secara statistik kurang bermakna dibandingkan masing-masing kelompok pembanding terhadap pengetahuan yang benar mengenai asam folat. Wanita usia 18-29 tahun secara statistik lebih bermakna.Penggunaan multivitamin dibatasi untuk sedikitnya sekali sehari mengkonsumsi multivitamin atau suplemen asam folat. Dari survey menunjukkan bahwa 42,4% wanita mengkonsumsi suplemen asam folat tiap harinya. Penggunaan multivitamin meningkat sesuai umur, dari umur 18-24 tahun 33,1% hingga 41,8% untuk wanita umur 40-44 tahun. Prevalensi wanita yang menggunakan multivitamin paling tinggi berturut turut:Konsumsi sayur/buah (54,9%), lulusan sarjana (49,9%), umur 35-39 tahun (49,6%), perokok (47,4%) menikah (46%) non overweigth (44.5%) dan kulit putih (44,2%).Analisa multivariabel menunjukkan bahwa kelompok berikut secara statistik kurang bermakna dibanding masing-masing kelompok pembanding terhadap penggunaan multivitamin: wanita umur 18-24 tahun, berpendidikan rendah, sedikit konsumsi sayur/buah dan wanita dengan obesitas.Disarankan upaya multi strategis dalam meningkatkan intake dan penggunaan asam folat, baik melalui program pendidikan maupun fortifikasi makanan.
Cardiovascular reflex Jenie, Ikhlas Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

It is familiar to measure cardiovascular parameters, such as blood pressure and pulse rate, in health care practice. The importance of such measure in clinical practice is out of question. Those cardiovascular parameters, basically, are products of reflex. In this paper, we would like to describe the basic tenets of cardiovascular reflex limited to that governed by autonomic nervous system, but not to that exerted by mechanical and local factors. The cardiovascular reflexes to be discussed are arterial baroreflex, cardiopulmonary baroreflex, cardiovascular reflex of stimulation of peripheral chemoreceptors, cardiovascular reflex associated to stimulation of exteroceptors, and interaction among those reflexes.
Perbedaan Derajat Akne Vulgaris pada Diet dengan Indeks Glikemik Sedang dan Tinggi Estri, Siti Aminah Tri Susilo; Susanto, Tri Ari
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1598

Abstract

The exact etiology of acne vulgaris is still unknown. However, few epidemiologic studies on acne vulgaris showed that there is association between diets especially with a high glycemic load, with the incidence of acne vulgaris. The objective of this study is to reveal the correlation between high glycemic load diet and lesion of acne vulgaris prevalence. Sample was 60 students of Medical Faculty, Muhammadiyah University of Yogyakarta, consist of 32 male and 28 female with age from 21 to 22 year. Dietary survey was done without diet intervention for two consecutive months and was analyzed for acne status and glycemic load value at the end of each month. an status akne dan nilai dietuhammadiyah Yogyakarta sebanyak 60 orang terdiri dari 32 orang laki-laki dan 28 orangStatistical analyses were done using Wilcoxon test. The result showed that there was a significant difference (p 0,05) between the average value of glycemic index in the first month (132,78) and the second month (233,5). The average of lesion count in the first month (9,6) and in the second month (12,88) was significantly difference (p 0,05). It is concluded that there were significant differences on lesion count and acne vulgaris severity between the moderate and high glycemic index diets.Faktor penyebab pasti akne vulgaris masih belum diketahui dengan jelas. Penelitian epidemiologis tentang akne vulgaris menunjukkan adanya hubungan antara makanan, khususnya yang mempunyai indeks glikemik tinggi, dengan insidensi akne vulgaris. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan derajat lesi pada penderita akne vulgaris dengan indeks glikemik tinggi dan sedang. Jumlah sampel penelitian ini 60 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, terdiri atas 32 laki-laki dan 28 perempuan. Data diperoleh dengan cara survei makanan sehari-hari selama 2 bulan dan setiap akhir bulan dilakukan pengukuran terhadap glycaemic load dan jumlah lesi akne. Selanjutnya kedua data dianalisis menggunakan tes Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan indeks glikemik diet sehari-hari pada bulan pertama (132,78) dan kedua (233,5) berbeda secara bermakna (p 0,05). Jumlah rerata lesi akne pada bulan pertama (9,6) dan bulan kedua (12,88) juga berbeda bermakna (p 0,05). Kesimpulan: terdapat perbedaan jumlah lesi dan derajat akne vulgaris pada penderita dengan diet dengan indeks glikemik tinggi dan sedang secara bermakna.
Batasan Dan Ruang Lingkup Rumah Sakit Pendidikan Supriyatiningsih, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 2 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v4i2.1750

Abstract

In Indonesia, Teaching Hospital and Medical School are two separate institutions whereas each of them has its own organizational structure and bylaw. Teaching Hospital is a hospital which also functions as an official centre for education and training for health personnel trainees i.e. medical doctors, nurses, midwifes, others. The prerequisite for a hospital to be utilized as an education and training center is to fulfill some criteria; one of them is the accreditation status as a teaching hospital which is issued by the profes¬sional organization. However, the Joint Decree by 3 Ministers which regu¬lates the scope of teaching hospital requires to be re-evaluated.Di Indonesia Rumah Sakit Pendidikan dan Fakultas Kedokteran merupakan 2 institusi yang terpisah dimana masing-masing memiliki struktur organisasi dan landasan hukum sendiri-sendiri. Rumah sakit Pendidikan adalah rumah sakit yang juga berfungsi sebagai pusat resmi untuk belajar bagi pendidikan atau pelatihan dokter, perawat dan tenaga kesehatan. Suatu Rumah Sakit agar dapat digunakan sebagai tempat pendidikan, maka diharapkan agar dapat memenuhi beberapa crite¬ria antara lain terakreditasi sebagai ruah sakit pendidikan yang dikeluarkan oleh organisasi profesi. Surat Keputusan Bersama 3 Menteri yang mengatur batasan Rumah Sakit Pendidikan perlu dikaji ulang.
Prevalensi Infeksi Leptospira pada Kasus Suspect Fever Of Unknown Origin dengan Pemeriksaan Mikrobiologis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Habib, Inayati; Hafid, Wahyuni
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fever is most common symptom who makes someone go to physician. Patient who have fever illness approximately 5-20% did not have clearly source infection, even the history of disease by history taking and physical examination well done before. Physician called fever did not have clear sources causes was fever of unknown origin. Most common bacteria caused fever of unknown origin is Leptospira. The research was conducted to identify the prevalence of leptospira infection in case suspect fever of unknown origin with microbiological examination in RS PKU Muhammadiyah. The design of this study was observational. The research subjects were patient at RS PKU Muhammadiyah with fever more than 3 days. The researcher used purposive sampling method primary and secondary data. Primary data by analysis subjects urine. Secondary data by medical record and did interview to the patient also distributed questionnaires. Result of this research was find prevalence of fever of unknown origin at RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta was 235 subjects (92,88%) from 253 subjects. Prevalence of Leptospira infection in suspect fever of unknown origin cases observed was 28,57%, 6 of 21 of the patient RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.Demam adalah salah satu gejala paling umum yang menyebabkan seseorang dibawa ke dokter. Pasien yang mengalami demam, sekitar 5%-20% tidak mempunyai sumber infeksi yangjelas, bahkan setelah riwayat penyakit diteliti dan pemeriksaan fisik dilakukan. Kalangan medis menyebutkan bahwa demam yang tidak memiliki sumber yang jelas dikenal denganfever of unknown origin/ demam yang tidak diketahui penyebabnya. Umumnya bakteri yang menyebabkan demam tanpa sebab adalah Leptospira. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi infeksi Leptospira pada kasus suspect fever of unknown origin dengan pemeriksaan mikrobiologis di RS. PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Desain penelitian ini adalah observasional. Subyek penelitian merupakan pasien RS. PKU Muhammadiyah dengan demam lebih dari 3 hari. Peneliti menggunakan metode pengambilan data primer dan sekunder. Data Primer dengan melakukan penelitian menganalisa urin subyek. Data sekunder diperoleh dari rekam medis pasien dan wawancara serta membagikan kuisioner. Hasil penelitian ditemukan bahwa prevalensi fever of unknown origin di RS. PKU Muhammadiyah adalah 235 subyek (92,88%) dari 253 subyek. Prevalensi infeksi infeksi leptospira pada kasus suspect fever of unknown origin yang telah diobservasi adalah 6 (enam) subyek (28,57 %) dari 21 jumlah pasien di RS. PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Penerapan NX-Quality Assurance Software pada Computed Radiography di Instalasi RSUD Dr. Margono Soekardjo Purwokerto (Studi Kasus Analisis Penolakan pada Computed Radiography AGFA NX-8700 SU1) Wibowo, Gatot Murti; Rochmayanti, Dwi; Rini, Regi Kusuma
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 15, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v15i2.3757

Abstract

Program Reject Analysis merupakan bagian dari program Quality Assurance yang berguna untuk meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit bidang diagnostik. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan hasil analisis penolakan citra softcopy, menjelaskan faktor penyebab penolakan dan rekomendasi pemecahan masalah untuk mengurangi angka penolakan citra softcopy. Jenis penelitian ini kuantitatif analitik dan kualitatif menggunakan metode focus group discussion (FGD). Data unduhan yang diperoleh dari NX-Quality Assurance software kemudian diolah untuk mengetahui persentase penolakan kemudian dirinci berdasarkan penyebab penolakan, jenis pemeriksaan dan kode radiografer selanjutnya dibuat diagram pareto untuk mencari prioritas penolakan dan dibuat diagram fishbone berdasarkan hasil FGD. Hasil penelitian menunjukkan total reject rate pada bulan Maret 2014 sebesar 3,02%, melampaui batas yang direkomendasikan Kemenkes yaitu d” 2%. Faktor utama penyebab penolakan adalah faktor positioning (69,69%), jenis pemeriksaan chest (43,94%) dan radiografer mahasiswa (21%-24,24%). Solusinya adalah mengadakan briefing rutin setiap hari oleh radiografer secara bergantian kepada mahasiswa praktikan disertai dengan pemberian tips sederhana dalam melakukan pemeriksaan sesuai pengalaman radiografer, mengadakan gladi lapangan terhadap praktikan baru untuk orientasi atau pengenalan alat, meningkatkan keterampilan mahasiswa dengan memberikan shift tambahan terhadap mahasiswa di luar PKL dan membangun komunikasi terhadap pasien serta meningkatkan pengetahuan tentang teknik pemeriksaan.The Reject Analysis program is part of the Quality Assurance program that is useful for improving the quality of diagnostic hospital services. The purpose of this research is to describe the result of softcopy image rejection analysis, explain the cause of rejection factor and problem solving recommendation to reduce the softcopy image rejection number. This type of research is quantitative analytic and qualitative using focus group discussion method (FGD). The download data obtained from the NX-Quality Assurance software is then processed to determine the percentage of rejection then specified based on the cause of the rejection, the type of examination and the radiographic code is then made a pareto diagram to seek priority rejection and made a fishbone diagram based on FGD results. The results showed the total reject rate in March 2014 was 3.02%, exceeding the Ministry of Health’s recommendation that is d” 2%. The main factors causing rejection are positioning factor (69,69%), chest examination type (43,94%) and student radiographer (21% -24,24%). The solution is to hold daily routine briefing by radiographer in turns to the student accompanied by the provision of simple tips in conducting examination according to the experience of radiographer, conducting a field rehearsal of new practitioners for orientation or introduction of tools, improving student skills by providing additional shifts to students outside the street vendors and build communication to patients as well as improve knowledge of examination
Efek Antimikotik Minyak Mimba (Azadirachta indica) terhadap Dermatofita Estri, Siti Aminah Tri Susilo; Habib, Inayati; Suswardana, Suswardana; Siswati, Agnes Sri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i2.1889

Abstract

Recently, natural substances have been much developed for antimycotic medicine, such as neem tree that can be found in Indonesia. Oilfrom the neem seed has been proved to have antimycotic effect on non-dermatophytic fungi. The aim of this research was to determine antimycotic effects of neem oil on T. mentagrophytes, E. floccusum and M. gypseum by means of dilution method.This research utilized a simple experimental method. One ml of water and 1 ml of casein yeast glucose were placed into 10 tubes. One ml of pure neem oil was introduced into tube I and the liquids were mixed. Afterwards, 1 ml of solution from tube I was added into tube II. One ml of the solution from tube II was then added into tube III, and so forth up to tube X. Subsequently, 1 ml of dermatophytic suspension (106 cell/ml) was introduced into each tube. The growth of dermatophyte colony was examined on day 5 to 7, after being incubated at room temperature.Results of this research showed that on day 5, T. mentagrophytes began to appear in tube IV (neem oil concentration of 3,12%), while E. floccusum and M. gypseum appeared in tube III (6,25%). On day 7, all colonies began to appear in tube II; therefore, the minimal inhibitory concentration was 12,5%). Neem oil started to have antimycotic effect on T. mentagrophytes, E. floccusum and M. gypseum at a concentration of 6,25%.Akhir-akhir ini banyak dikembangkan bahan alami sebagai antimikotik, antara lain pohon mimba yang banyak terdapat di Indonesia Minyak dari bij i mimba terbukti mempunyai efek antimikotik terhadap berbagai jamur non dermatofita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek antimikotik minyak mimba terhadap T. mentagrophytes, E. floccusum dan M. gypseum dengan metode dilusi.Penelitian menggunakan metode eksperimental sederhana. Pada 10 tabung dimasukkan 1 ml aqua dan lml casein yeast glucose. Pada tabung I ditambahkan 1 ml minyak mimba murni dan dicampur. Pada tabung ke II ditambahkan 1 ml larutan dari tabung I, begitu seterusnya sampai tabung ke X. Selanjutnya pada masing-masing tabung ditambahkan 1 ml suspensi dermatofita 106 sel/ml. Pertumbuhan koloni dermatofita dinilai pada hari ke 5-7 setelah diinkubasi pada suhu kamar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan koloni T. mentagrophytes pada hari ke-5 mulai tampak pada tabung ke-4 (konsentrasi 3,12%), koloni E. floccusum dan M. gypseum pada tabung ke-3 (konsentrasi 6,25%). Pada hari ke-7 semua koloni mulai tampak pada tabung ke-3, sehingga kadar hambat minimal pada konsentrasi 12,5%. Efek antimikotik minyak mimba terhadap T mentagrophytes, E. floccusum dan M. gypseum mulai tampak pada konsentrasi 6,25%.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 1: January 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue