cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Penatalaksanaan Kausatif untuk Memperbaiki Fungsi Ginjal Penderita Myeloma Multiple Kirmawanto, Prasetio
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 1: January 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v17i1.3683

Abstract

Gangguan fungsi ginjal adalah salah satu komplikasi pada myeloma multiple (MM), suatu keganasan sel plasma. Penurunan laju filtrasi glomerulus/Glomerulus Filtration Rate (GFR) terjadi hingga 50% pasien baru terdiagnosa MM dan 9% memerlukan dialysis. Gagal ginjal penderita MM disebut ginjal myeloma dengan penyebab kompleks, akibat langsung maupun tidak langsung dari MM serta dari pengobatan keluhan MM. Laporan ini memaparkan pengelolaan kasus MM dengan faktor penyulit gangguan fungsi ginjal. Lakilaki 48 tahun dengan keluhan utama nyeri punggung sejak satu bulan, didiagnosa mieloma multipel disertai komplikasi ginjal mieloma. Kriteria Durie dan Salmon tingkat penyakit Stadium IIIB. Penatalaksanaan kausatif dengan regimen melphalan dan prednison, khemoterapi konvensional untuk MM. Regimen kemoterapi kombinasi tidak dipilih karena pertimbangan gangguan fungsi ginjal. Penatalaksanaan penurunan fungsi ginjal dengan memperbaiki status hidrasi, menghentikan pemberian obat nefrotoksik dan pemberian diet cukup protein. Terapi pendukung pemberian Bonefos untuk memperlambat proses osteolitik. Anemia diawal perawatan (Hb: 6 g/dL) diperbaiki dengan transfusi Packet Red Cell. Pasien dirawat 21 hari, menjalani satu kali khemoterapi terjadi perbaikan fungsi ginjal, diawal perawatan GFR: 18.45 mL/min menjadi 26.72 mL/min diakhir perawatan. Pasien direncanakan khemoterapi 6 seri interval 28 hari. Penatalaksanaan kausatif kasus ini memberikan hasil yang baik, keluhan nyeri dirasakan sudah sangat berkurang dan fungsi ginjal relatif membaik.
Penggunaan Ranah Afektif sebagai Salah Satu Penilaian Keberhasilan Belajar di Fakultas Kedokteran Dewi, Arlina
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i2.1884

Abstract

Affective domain (attitude, feeling, etc) is an important part of education in medical science besides cognitive and psychomotor domains. Some ofthe responsibilities of Indonesian doctors written in the “Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia III (KIPDIIII) ” can be categorized into affective domain.Difficulties in evaluating affective domain include: 1) Disparity on the credibility of students ’ answers on the affective evaluation 2) Failure on the evaluation objectivity; 3) There is no agreement yet on how to measure and how far the affective domain will be evaluated in medical education. Therefore, medical faculties need to discuss together the methods and tools for measuring affective domain. This includes considering the objectives and function of the measurement and defining study goals on affective domain (using taxonomy of affective domain).Ranah afektif atau pengukuran terhadap sikap, perasaan, dll merupakan bagian penting dalam pendidikan di bidang kedokteran, selain ranah kognitif dan psikomotor. Di dalam Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia (KIPDI) DI, dicantumkan tentang sejumlah tanggungj awab dokter di Indonesia yang dapat digolongkan dalam ranah afektif.Kesulitan yang muncul dalam penilaian ranah afektif yaitu: 1) Kesenj angan dalam kredibilitas jawaban-jawaban mahasiswa terhadap penilaian afektif; 2) Kegagalan dalam objektifitas penilaian; dan 3) Dalam dunia pendidikan, belum adanya kesepakatan cara mengukurnya dan seberapa jauh ranah afektif ini akan dinilai. Untuk itu perlu institusi secara bersama-sama membicarakan cara dan instrumen pengukuran yang digunakan dengan mempertimbangkan antara lain tujuan dan fungsi pengukuran serta menetapkan target belaj ar dalam ranah afektif (misal menggunakan taksonomi ranah afektif).
Pengaruh Program Olahraga Umum (Senam Aerobik) dan Khusus (Body Language dan Senam Aerobik) terhadap Penurunan Berat Badan Sugiarti, Nanik; Noor, Zulkhah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i1.1648

Abstract

Overweight is one among several risk factors of many diseases and disrupts the beautiful contour of the body. The aim of this study was to find out the difference of weight loss produced by ordinary (aerobic exercise) and special (body language and aerobic exercise) sport program for weight loss. The design of this study was observational. The subjects divided into 2 groups consisted of women less than forty years old who followed the weight loss program in Kartika Dewi gym. 25 women followed ordinary program and 11 women followed extraordinary program. Respondents filled questioner about subject criteria information and the exercise program that have been doing including exercise duration, intensity and regularity, then measured body weight one month after introduction exercise and one month after core exercise. The statistical analysis was carried out using student t- test. The mean weight loss in ordinary program group was 0,34 kg and in extraordinary program group was 1,32 withp value 0,055. Among other variables only exercise duration of ordinary program gave significant value to weight loss with p value 0,007. The conclusion was extra ordinary program was more effective to loss weight than ordinary program. If we want to get maximum weight loss, we should not only do exercise with long duration but also continuously.Kegemukan merupakan faktor resiko penting dari berbagai penyakit an dapat mengurangi keindahan bentuk tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan penurunan berat badan hasil dari program olahraga umum (senam aerobik) dan khusus (body language dan senam aerobik) untuk penurunan berat badan. Desain penelitian ini adalah prospective cohort. Subyek penelitian sejumlah 36 terdiri atas perempuan yang berusia kurang dari 40 tahun yang mengikuti program penurunan berat badan di sanggar senam Kartika Dewi. Subyek dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok program olah raga umum dan khusus. Semua responden mengisi kuesioner mengenai informasi kriteria subyek dan program latihan yang dijalani meliputi lama, intensitas dan keteraturan latihan, kemudian dilakukan penimbangan berat badan 1 bulan setelah latihan pendahuluan dan 1 bulan setelah latihan inti. Analisis statistik yang dipakai yaitu annova satu jalan. Rata-rata penurunan berat badan kelompok program umum sebesar 0,34 kg dan program khusus sebesar 1,32 kg dengan nilai p 0,055. Lama latihan pada program olahraga umum (senam aerobik) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan berat badan dengan nilai p 0,007, sedangkan intensitas dan keteraturan latihan tidak memberikan pengaruh yang signifikan.
Hubungan Asma dan Alergi dengan “Westernisasi” Rosita, Linda
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1549

Abstract

Penelitian ini didisain untuk mengetahui resiko Asma dan Alergi yang disebabkan oleh tingkat “westernisasi”. Apakah ada hubungan Asma dan Alergi di Albania lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di Eropa. Subjek penelitian 2653 penduduk Albania yang berumur 20-44 tahun. Penelitian dilakukan dari tahun 1995-1996. Pada awal penelitian dibagikan kuisioner yang berisi simptom gangguan pemapasan yang diambil dari item-item ECRHS (European Community Respiratory Heath Survey) protokol. Simptom yang paling banyak ditemukan Alergi Nasal pada kelopok laki-laki (n=1260, 14,2%) dan kelompok perempuan (n=1393,12,4%). Dari 2653 yang telah mengisi kuisioner diambil sub sampel untuk menguji hasil tes kulit (skin prick test) 564 orang. Alergian untuk tes kulit ini: tungau debu rumah, kucing, rumput polen, kucing, anjing dan burung. Dominan orang mengalami Alergi pada tungau (18,4%), sedangkn untuk Alergian kurang dari 5%. Tes kulit ini juga dipantau dengan ECRHS (European Community Respi¬ratory Heath Survey). Pengujian juga dilakukan terhadap kadar serum Ig E spesifik. Alergen yang dipakai adalah tungau, rumput timote. Tungai adalah Alergen yang paling sering memacu antibodi Ig E spesifik. Penelitian ini dapat menerangkan penyakit alergi jarang muncul di Albania, karena beberapa faktor yaitu: tingginya konsumsi buah-buahan, yang mengandung antioksida, tingginya konsumsi minyak zaitun, gaya hidup yang berbeda dengan “Westernisasi” mencakup rendahnya tingkat kepemilikan binatang peliharaan, keragaman makanan yang berbeda dengan negara-negara Eropa.Disarikan: Allergy Volume 54 Issue 10 Page 1042 - Oktober 1999 oleh A.Priftanji, E.Qirko, J.C.M. Layzell, M.L. Burr, R. Fifield.
Perbedaan Kadar Hb Pra dan Post Hemodialisa pada Penderita Gagal Ginjal Kronis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Ulya, Imroatul; Suryanto, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (s) (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i1 (s).1681

Abstract

Chronic Renal Failure is progressive and late development of renal failure which renal lost the function to maintain volume and competitions body fluid with GFR levels 10%-25% from normal number. Hemodialysis used as therapy to substitute the decrease of renal function. Anemia almost founded in Chronic Renal Failure patients (80%-95%). Objectives of this research is to find out the differences between hemoglobin level in pre and post hem dialysis of chronic renal failure patients at PKU Muhammadiyah hospital in Yogyakarta. This study is a descriptive retrospective with cross sectional approach research aiming at finding out the differences ofHb levels pre and post hemodialysis. Kind of data that we use in this research is secondary data that we get from medical record from Medical Record Unit in PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta. The data was taken from medical record about Hb levels in Chronic Renal Failure in pre and post hemodialysis. The obtained data were then statistic analyzed by t-test pairs. The numbers of sample which include in inclusion and exclusion criteria is 40 patients. The result from t-test pairs was get p value =0,001. p value which less than a= 0,05 show that there are differences Hb levels between pre and post hemodialysis in Chronic Renal Failure. From this research also shows that the highest frequency for hemodialysis patient is male (75%) and based on the age is range on 15-55 years old (65%).Gagal ginjal kronik adalah merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat, dimana ginjal kehilangan kemampuan untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh dengan nilai GFR 10%-25% dari nilai normal. Hemodialisis (HD) digunakan sebagai terapi pengganti untuk menggantikan fungsi ginjal yang memburuk. Anemia hampir selalu ditemukan pada penderita Gagal Ginjal Kronis (80-95%). Dilaporkan dari 86 penderita yang menjalani HD rutin di RS Hasan Sadikin Bandung 100% menderita anemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar Hb pra dan post hemodialisa pada penderita Gagal Ginjal Kronik di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode 1 Januari 2005 - 31 Desember 2005. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan pendekatan “cross sectional” untuk mengetahui perbedaan kadar Hb pra dan post hemodialisa pada penderita Gagal Ginjal Kronik. Data diperoleh dari bagian Rekam medik RSU PKU Muhammadiayah Yogyakarta. Data diambil dan dicatat dari formulir rekam medis mengenai kadar Hb pada pasien Gagal Ginjal Kronis sebelum dan sesudah dilakukan hemodialisis. Data diuji statistik dengan t-test berpasangan. Sampel yang didapatkan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian ini berjumlah 40 pasien. Hasil uji statistik dengan t-test berpasangan didapatkan nilai p=0,001 (p 0,05) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar Hb pra dan post hemodialisa pada pasien Gagal Ginjal Kronis, juga ditunjukkan bahwa frekuensi tertinggi pasien Gagal Ginjal Kronis adalah laki- laki (75%) dan frekuensi terbesar berdasarkan umur adalah 15-55 th atau sebesar 65%.
Ektasia Kornea Pasca Lasik Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i2.1583

Abstract

The objective of this paper to know prevention and management corneal ectasia after Lasik Corneal ectasia after lasik are weakening of cornea caused by central stromal laser or creation of the flap after lasik surgery. This conditions are feared complication of refractive surgeon. Corneal ectasia after lasik will happen several months until several years after lasik. Incidence of corneal ectasia is still unknown, about 1 over 100.000. Diagnosis of corneal ectasia was established by slitlamp appearance of corneal thinning, with progresif miop, progresif irreguler astigmat and refractive error cannot be corrected. Risk factors of corneal ectasia are family history, young age, corneal thickness lower than 500 micron, corneal asymmetri, abnormal topography, keratoconus and low residual stromal bed. The therapeutic options for corneal ectasia are Rigid Gas Permiable (RGP) contact lenses, eye drops for decreased intraocular pressure, corneal collagen crosslinking - riboflavin (C3-R), intacs implantation, and in the advanced stages, lamellar keratoplasty. A complete ophthalmologic examinations before surgery andfindings the risks factors are important to prevent corneal ectasia after lasik. The prognosis of corneal ectasia after lasik was good.Tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui pencegahan dan pengelolaan ektasia kornea pasca lasik. Ektasia kornea pasca lasik adalah kelemahan kornea akibat ablasi stroma sentral atau pembuatan flap kornea sesudah operasi lasik. Kondisi ini merupakan komplikasi yang paling ditakuti ahli bedah refraktif. Kejadian ektasia kornea pasca lasik dapat terjadi beberapa bulan sampai beberapa tahun pasca lasik. Insidensinya tidak diketahui, diduga sekitar 1 per 100.000. Penegakan diagnosis dilakukan dengan menggunakan slitlamp tampak kornea menipis dan menonjol disertai gejala miop progresif, astigmat irreguler yang meningkat dan kelainan refraksi yang tidak dapat dikoreksi. Beberapa faktor risiko ektasia kornea antara lain riwayat keluarga, umur muda, miop tinggi, ketebalan kornea kurang dari 500 mikron, asimetri kornea, abnormal topografi, keratokonus dan rendahnya residual bed. Beberapa pilihan terapi yang dilakukan yaitu pemakaian lensa kontak RGP, pemakaian obat penurun tekanan intraokuler, pemberian C3-R, implantasi intacs dan tahap lanjut dengan lamellar keratoplasti. Pemeriksaan pre operatif yang lengkap dan penemuan faktor risiko merupakan hal yang penting untuk menghindari terjadinya ektasia kornea pasca lasik. Prognosis pasien ektasia kornea pasca lasik adalah baik.
Role Model di Rumah Sakit Pendidikan Kusumawati, Wiwik; Estri, Siti Aminah Tri Susila; Tinartayu, Seshy
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v14i1.2472

Abstract

Dosen pembimbing klinik pendidikan dokter tahap profesi di rumah sakit sebagai role model yang baik diperlukan untuk mengajarkan sikap perilaku, skills dan knowledge. Studi ini dilakukan untuk merumuskan konsep role model yang diharapkan oleh mahasiswa pendidikan dokter. Disain penelitian ini adalah deskriptif, cross sectional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Metode pengumpulan data dengan kuesioner, wawancara mendalam dengan the general interview guide approach dan observasi dengan insider observer. Lokasi penelitian pada 8 rumah sakit pendidikan FKIK UMY, penentuan sampel secara purposive dengan criterion reference, yaitu mahasiswa yang menjalani stase paling lama di bagian atau mahasiswa di bagian 4 besar pada 8 RS pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan, 70% dosen pembimbing klinik pada bagian 4 besar 8 rumah sakit pendidikan FKIK UMY merupakan role model yang baik. Berdasarkan kriteria role model dari Passi, 98% dosen pembimbing klinik menunjukkan clinical skills yang baik, 93% menunjukkan teaching skills dan personal quality yang baik. Terdapat kesesuaian terhadap role model yang diharapkan oleh mahasiswa dari hasil kuesioner, wawancara dan observasi. Rumusan role model yang baik menurut mahasiswa, yaitu mempunyai kemampuan mengajar atau teaching skills yang baik antara lain cukup waktu untuk membimbing, mampu berkomunikasi, me­motivasi mahasiswa belajar, memberikan feedback, dan memiliki pengetahuan yang luas serta up date.In clinical rotation at teaching hospital, the role of clinical teacher as a good role model was needed to teach attitude, skills and knowledge. The aim of this study is to develop concept of role model based on student’s opinions at school of medicine. This study is descriptive, cross sectional using quantitative and qualitative approach. Collecting data method conducted by distributing of questionaires, indepth interview by the general interview guide approach and direct observation by insider observer. This study conducted at 8 teaching hospitals of FKIK UMY. Sampling method by purposived and criterion refer­enced. The respondents was the students who conduct in longest clinical rotation i. e. 4 major departements at 8 teaching hospitals. This study revealed, 70% of clinical teacher in 4 major departements at 8 teach­ing hospitals is good role model. Regarding Passi’s criterias of role model, 98% of clinical teacher show good clinical skills, 93% show good teaching skills and personal quality respectively. There is similar result of concept of role model from questionaires, indepth interview and direct observation. Based on student’s opinions, a good role model should has good teaching skills such as sufficient of time to assist students, good communication skills, can motivate students, give feedback and has both wide and up date of knowledge.
Problem Based Learning Maastricht Kusumawati, Wiwik
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 1 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v4i1.1715

Abstract

Problem based learning atau PBL, suatu metode pembelajaran yang sedang dikembangkan di institusi kedokteran di Indonesia saat ini, mengalami perkembangan yang sangat pesat. Namun demikian, dalam rangka pengembangan tersebut perlu kiranya kita melihat bagaimana PBL di institusi lain yang sudah eslablishedbaik di dalam negeri maupun di luar negeri. Untuk menambah wacana dan mengambil pengalaman yang mungkin dapat diterapkan di masing-masing institusi kita maka pada editorial ini disampaikan pengalaman mengikuti kegiatan PBL yaitu advanced course PBL di Maastricht belum lama ini. Maastricht sebagai salah satu universitas rujukan untuk pembelajaran PBL sudah menerapkan PBL sejak 1974 yaitu sejak berdirinya Fakultas Kedokteran. Fakultas lain seperti psikologi, ilmu kesehatan, ekonomi, arsitek, hukum dan ilmu lainnya semua menggunakan PBL sebagai metode pembelajarannya. Sehingga bila kita melihat baik kurikulum, proses pelaksanaan, SDM (mahasiswa, staff) dan semua fasilitas yang menunjang PBL di Maastricht sudah begitu sempurna.
Terapi Kognitif dan Perilaku pada Gangguan Obsesif Kompulsif Puspitosari, Warih Andan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The prevalence of Obsessive Compulsive Disorder about 2-3%, mostly happened on male teenagers. The causes are multifactors including biological, behavior and psychosocial factor, so the treatment needs farmacotherapy and psychotherapy. The combination of SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) and Cognitive Behavioral Therapy is the first choice to manage Obsessive Compulsive disorder. The aim of this case report is to reporting the treatment of Obsessive Compulsive disorder by using the combination of SRI and Cognitive Behavioral Therapy. A patient, male, 18th years old was brought by his mother to the Psychiatry outpatient department for doing something repeatedly. It was annoyed him and other person. The mental status examination showed that he always thought repeatedly and did something, so that he will felt released. His neurological and psysical status were within normal limite. After he was treated with the combination of SRI and Cognitive Behavioral Therapy for 5 sessions, he is getting better.Prevalensi Gangguan ObsesifKompulsif berkisar antara 2-3% populasi, pada remaja lebih banyak terjadi pada laki-laki. Penyebabnya multifaktorial meliputi faktor biologi, perilaku dan psikososial, sehingga penatalaksanaannya memerlukan farmakoterapi dan psikoterapi. Kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku merupakan pilihan pertama. Terapi kognitif perilaku memerlukan sedikitnya 12 sesi pertemuan, berdasarkan pengalaman praktek yang terjadi di Indonesia, sulit dilakukan karena terlalu lama, rumit, dan faktor biaya. Dicoba modifikasi untuk menyingkat menjadi 5 sesi terapi. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah melaporkan hasil penatalaksanaan penderita Gangguan Obsesif Kompulsif dengan menggunakan kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku modifikasi 5 sesi. Seorang pasien, laki-laki, berusia 18 tahun diantar oleh ibunya ke poliklinik jiwa karena sering mengulang-ulang suatu perbuatan, yang sudah mengganggu pasien dan orang lain. Pemeriksaan status mental didapatkan adanya pikiran berulang yang mengganggu dan harus dikerjakan agar merasa lega. Pada status internus dan status neurologikus belum ditemukan adanya kelainan. Setelah dilakukan penatalaksanaan dengan menggunakan kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku modifikasi 5 sesi, pasien mengalami perbaikan gejala klinis.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pencapaian Peran sebagai Ibu pada Perempuan dengan HIV/AIDS di Yogyakarta Indriastuti, Nur Azizah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 15, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menjadi seorang ibu merupakan suatu perubahan pada perempuan baik perubahan status maupun peran. Adanya infeksi HIV dapat membuat kesulitan dalam perannya sebagai seorang ibu. Salah satu faktor yang mempengaruhi pencapaian peran sebagai seorang ibu pada perempuan dengan HIV adalah perempuan dengan HIV/AIDS mengalami berbagai permasalahan baik masalah fisik, psikososial, emosional maupun spiritual. Karena permasalahan tersebut, akibatnya perempuan dengan HIV tidak mendapatkan dukungan sosial yang diperlukan dalam menjalankan perannya sebagai ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian peran sebagai ibu (maternal role attainment) pada perempuan dengan HIV/AIDS di Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan rancangan fenomenologi. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam pada 5 perempuan dengan HIV/AIDS di LSM Victory Plus Yogyakarta. Pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling. Triangulasi dilakukan kepada perawat dan suami partisipan. Pada penelitian ini, didapatkan 5 tema yaitu komitmen ibu terhadap anak, dukungan suami, dukungan keluarga, dukungan masyarakat, mekanisme koping adekuat, informasi yang diberikan petugas kesehatan saat memeriksakan kehamilan dan diskriminasi petugas kesehatan. Disimpulkan bahwa faktor yang mendukung pencapaian peran ibu pada  perempuan dengan HIV/AIDS meliputi komitmen ibu terhadap anak, dukungan suami, keluarga dan masyarakat, mekanisme koping adekuat serta informasi yang diberikan petugas kesehatan saat memeriksakan kehamilan. Faktor yang menghambat pencapaian peran ibu pada  perempuan dengan HIV/AIDS meliputi diskriminasi petugas kesehatan.Being a mother is a woman of change in both the status or role. HIV infection can makes it difficult for her role as a mother. One of factors that affect achievement role being a mother women with HIV is they have experience various problems both physical, psychological, emotional and spiritual. As a result, women with HIV are not getting the necessary social support in their role as mothers. This study to explore factors that affect maternal role attainment in women with HIV/AIDS in Yogyakarta. It was qualitative research with phenomenology design. Data was collected with in-depth interview on 5 women with HIV/AIDS in LSM Victory Plus Yogyakarta. Sample was taken using purposive sampling technique. Triangulation is done with the nurse and husband one of a participants. In this study, obtained five themes, namely commitment mother against child, husband support, family support, community support, adequat coping mechanisms, information provided health worker during antenatal and discrimination of health workers. It can be concluded that factors that support mother in women  with HIV/AIDs includes the commitment of the mother to the child, the support of her husband, family and community, adequat coping mechanisms, information from health workers during pregnancy. Factors that inhibited mother in women  with HIV/AIDs includes discrimination from health workers.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015): January Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue