cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Gambaran Strategi Koping Keluarga dalam Merawat Pasien Skizofrenia di Wilayah Kecamatan Kasihan Bantul Wardaningsih, Shanti; Rochmawati, Elya; Sutarjo, Puji
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1562

Abstract

Family Coping Strategy remains important method that implemented by member of family, even treating the mentality disorder patient among family members becomes necessity because of the increasing number of mentality disorder relapse, which predicted to get setback into the patient, as much as 95% of patients become chronic along their lives. This research attempts at investigating and identifying general description of family coping strategy in treating psychological disorder patient in Puskesmas, Kasihan Bantul Yogyakarta. It is qualitative research using in-depth interview. Determining of participant by using purposive sampling. Number ofparticipants is five person particularly members whose closed relationship, staying at the same place and interacting with patientfor at least years. With range of age is 17-65 years old. The result of this research is referred to previous researches which seeking for determinant faktors for instances, internal family coping strategy and external family coping strategy. This research concludes that description offamily coping strategy in treating patient with mentality disorder can be seen through several factors for instance factor offaith, financial, knowledge, type of communication, and social support.Strategi koping keluarga merupakan upaya penting yang harus dilakukan oleh anggota keluarga, bahkan dalam merawat penderita gangguan jiwa dikalangan keluarga menjadi hal paling pokok. Angka kekambuhan gangguan jiwa semakin meningkat, diperkirakan sebesar 95% pasien menjadi kronik dengan gejala-gejala sepanjang hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran strategi koping keluarga dalam merawat penderita gangguan jiwa di wilayah Kecamatan Kasihan Bantul. Penelitian ini menggunakan rancangan fenomologi dengan metode wawancara mendalam (indeepth interview) merupakan penelitian kualitatif. Pengambilan partisipan menggunakan purposive sampling. Jumlah partisipan 5 orang yaitu keluarga yang masih ada hubungan darah dengan penderita gangguan jiwa yang mengalami gangguan jiwa minimal 5 tahun dan tinggal satu rumah serta berinteraksi langsung dengan penderita, umur 17-65 tahun. Hasil penelitian menunjukkan gambaran strategi koping keluarga dalam merawat pasien skizofrenia dapat dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya dan tipe-tipe strategi koping yang sering digunakan oleh keluarga yaitu strategi koping keluarga internal dan strategi koping keluarga eksternal. Disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi strategi koping adalah yaitu faktor keyakinan, keuangan, pengetahuan, pola- pola komunikasi, dukungan sosial. Strategi koping yang sering digunakan dapat dilihat dari tipe-tipe strategi koping keluarga yaitu strategi koping keluarga internal berupa mengandalkan kelompok keluarga, pengontrolan makna dari masalah, pemecahan masalah bersama-sama dan pengungkapan bersama.
Perbandingan Kadar Methemoglobin dan Hemoglobin Penduduk Endemis dengan Penduduk Non Endemis Malaria Astuti, Yoni; Handayani, Rini
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i2.1895

Abstract

One of the effects of Plasmodium infection and consumption of anti-malaria medicine is the increase of free radicals in the body. Free radicals can attack haemoglobin and change it to met-haemoglobin. The aim of this study was to identify the concentration of met- haemoglobin (as a sign of free radicals) and haemoglobin of individuals living in the malaria- endemic area as compared with individuals living in non-malaria-endemic area.This was a cross sectional study. Subjects of the study were 60 individuals and divided into 2 groups, i.e. Endemic Group (EG) and Non-Endemic Group (NEG). The EG included 30people who were men and women between 20-50years old, had suffered or were suffering from malaria and had been living in endemic area for five years. The NEG included 30 people who were men or women between 20-50 years old and had not suffered from malaria. The blood samples were collected and analysed for met-haemoglobin concentration using Betke method and haemoglobin concentration using cyanmethaemoglobin method.The results showed that the average of met-haemoglobin concentration of NEG was (2,188 ± 0,662)% and EG was (3,728 ± 0,492)%, while the average of haemoglobin concentration of NEG was (14, 183 ± 2,593)g% and EG was (10,376 ± l,447)g%. This demonstrated that the concentration of haemoglobin between NEG and EG was different significantly (p 0,05).Salah satu akibat terinfeksi plasmodium dan dampak mengkonsumsi obat - obatan menyebabkan meningkatnya radikal bebas. Radikal bebas dapat menyerang haemoglobin sehingga menj adi methemoglobin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar methemoglobin (sebagai marker radikal bebas) dan hemoglobin penduduk endemis malaria dibandingkan dengan kadar methemoglobin penduduk non endemis.Penelitian ini adalah penelitian cross sectional dengan subyek sebanyak 60 orang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok endemik malaria sebanyak 30 orang yaitu laki-laki dan wanita berumur20-50 tahun yang pernah atau sedang menderita malaria dan telah tinggal di daerah endemis selama minimal lima tahun. Kelompok non endemik malaria sebanyak 30 orang yaitu laki-laki dan wanita berusia 20-50 tahun yang tidak pemah menderita penyakit malaria. Subyek diambil darahnya dan selanjutnya dilakukan analisis kadar methemoglobin menurut metode Betke, dan diukur kadar hemoglobin dengan metode cyanmethemoglobin.Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase methemoglobin KNE (Kelompok Non Endemis) adalah (2,188 ± 0,662) % Hb dan KE (Kelompok Endemis) adalah (3,728 ± 0,492) % Hb. .Hasil penelitian kadar hemoglobin menunjukkan bahwa persentase hemoglobin KNE adalah (14,183 ± 2,593) g % dan KE adalah (10,376 ± 1,447) g %. Hal itu memperlihatkan adanya perbedaan signfikan antara KNE dan KE (p 0,05).
Penggunaan Fiber Reinforced Composite sebagai Resin Bonded Prosthesis pada Gigi Anterior Pintadi, Hastoro
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i1.1693

Abstract

Resin bonded prosthesis is a fixed bridge which replace a space where one or two teeth have been lost or extracted, by using acid etched technique and resin bonding. The main goals in selecting a Resin bonded prosthesis were to preserve tooth structure, maintain esthetics and lower patient fees while providing restorations that had the potential for long-term service. This case report discuss about fiber reinforced composite used as a main material for resin bondedprosthesis to replace incivus lateralis maxillary that has lost The successfullness of this treatment depend on the case selection and the retention.Resin bondedprosthesis merupakan gigi tiruan cekat yang menggantikan satu atau dua gigi yang hilang dengan menggunakan teknik etsa asam dan ikatan resin. Tujuan utama pemilihan resin bondedprosthesis adalah untuk mendapatkan restorasi jangka panjang yang mampu menjaga struktur gigi penyangga, mendapatkan estetik yang baik, dengan biaya rendah. Laporan kasus ini membahas mengenai fiber reinforced composite sebagai bahan resin bondedprosthesis untuk menggantikan gigi incisivus lateralis kiri atas yang telah hilang. Keberhasilan perawatan ini tergantung pada seleksi kasus dan retensi yang dihasilkan.
Perawatan Pembesaran Gingiva dengan Gingivektomi Andriani, Ika
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1595

Abstract

The purpose of this article is to report a case of treatment gingival enlargement by gingivectomy The inflammatory enlargement is clinically called hyperthropic gingivitis or gingival hyperplasia and generally related to local or systemic factors. They could be edematous or fibrous. The former is treated by scaling,curettage and root planing, but the latter could not be treated by scaling, curettage and root planing and only has to be removed by gingivectomy A 13-year-old female presented with a complaint of swelling of the gingiva with bled when brushed the teeth in the maxillary and mandibulary anterior region for a period of three mounts. A clinical examination revealed the existence of poor oral hygiene and bleeding spontaneously. By scaling, curettage and root planning this disease could not be treated and only has to be removed by gingivectomy. After gingivectomy, the patient had a better clinical appearance and good gingival esthetic.Tujuan penulisan naskah ini adalah melaporkan kasus perawatan pembesaran gingiva dengan gingivektomi Pembesaran gingiva karena peradangan secara klinis disebut gingivitis hipertropi atau hiperplasi gingival dan disebabkan karena faktor lokal ataupun sistemik. Bisa karena odematus atau fibrotik., jika tidak bisa dirawat dengan scaling, curettage dan root planing maka hanya dilakukan gingivektomi. Pasien wanita 13 tahun datang ke bagian Periodonsi RS Sudomo Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan keluhan, sudah tiga bulan gigi-gigi anterior rahang atas dan bawah membesar dan berdarah ketika menyikat gigi. Pemeriksaan klinis kelihatan bahwa kebersihan mulut yang buruk dan berdarah spontan. Ketika pembesaran gingiva tidak dapat dirawat dengan scaling, curettage dan root planing maka hanya bisa dihilangkan dengan gingivektomi. Sesudah gingivektomi, pasien secara klinis dan estetik lebih baik
Uji Kepekaan Mycobacterium sp. terhadap Isoniazid (INH) Menggunakan Metode Rasio Resistensi secara In Vitro Hidayati, Dwi Yuni Nur; Roekistiningsih, Roekistiningsih
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i3.2484

Abstract

Infeksi mikobakteria termasuk diantara infeksi yang paling sulit disembuhkan dari semua jenis infeksi bakteri. Mikobakteria yang patogen utamanya adalah Mycobacterium tuberculosis sebagai penyebab tuberkulosis (TB), yang mengakibatkan lebih banyak kematian daripada agen mikroba tunggal lainnya di seluruh dunia. Penelitian ini menggunakan Mycobacterium sp. yang bermanifestasi klinis tuberkulosis atau mirip tuberkulosis. Salah satu usaha untuk mengobati penyakit infeksi akibat Myco­bacterium sp. yang bermanifestasi klinis penyakit tuberkulosis atau mirip tuberkulosis adalah dengan menggunakan isoniazid. Terapi tunggal dengan isoniazid dan kegagalan penggunaan isoniazid ditambah obat lain yang sesuai telah mengakibatkan prevalensi resistensi isoniazid sebesar 10-20% dalam uji klinis di Karibia dan Asia Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah bakteri Mycobac­terium sp. yang berasal dari pasien RSSA Malang sudah resisten terhadap isoniazid. Penelitian bersifat semi kuantitatif untuk mengetahui resistensi Mycobacterium sp. terhadap isoniazid dengan menggunakan metode rasio resistensi. Dasar dari metode ini adalah membandingkan minimal inhibitory concentration (MIC) dari strain Mycobacterium sp. dengan MIC dari isoniazid untuk M. tuberculosis strain H37RV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40% dari total isolat adalah resisten, 20% adalah intermediate resistant dan 40% adalah sensitif. Disimpulkan bahwa telah terjadi resistensi Mycobacterium sp. terhadap isoniazid.Mycobacteria’s infection is one of the most difficult cured infection from all over kind of bacteria’s infection. The major pathogen mycobacteria is Mycobacterium tuberculosis, agent of tuberculosis (TB) that causes more deaths than other single microbes in the world. This research uses Mycobacterium sp. which clinically manifest as tuberculosis or tuberculosis-like disease. One of efforts to cure this infection is by using isoniazid. Single dose of isoniazid and failed use of isoniazid plus other suitable drug have resulted prevalence of isoniazid-resistant about 10-20% in clinical test in Caribbean and South East Asia. This research is aimed to know whether Mycobacterium sp. from RSSA Malang patients has been resistant toward isoniazid. This research uses a semi quasi experimental research to know the resis­tance of Mycobacterium sp. toward isoniazid by using resistance rasio method. This method compares minimal inhibitory concentration (MIC) of Mycobacterium sp. strain with MIC from isoniazid to M. tuber­culosis strain H37RV. Result of this research indicates that 40% from total isolates are resistant, 20% are intermediate resistant, and 40% are sensitive. The conclusion is Mycobacterium sp. has been resistant toward isoniazid.
Perbedaan Prevalensi Toksoplasmosis pada Tikus dengan Uji Serologis Metode ELISA di Kecamatan Wirobrajan dan Sekitarnya Agustin, Nita Nathania; Noor, Zulkhah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Toksoplasmosis in mouse, though it doesn ’t infect directly to human, it is indirectly the source of infection to human. This is so because mouse is animal hunted by cat. Every mouse has different characteristic in every habitat, ranging from the side of ecosystem, kind offeed consumed, and how many mice can interact with other hospes like cat. From this habit it can result in the difference incidence of mouse infected by toxosoplasmosis and what extent it can infect other hospes based on its habitat. This research was to find out toxoplasmosis prevalence at mouse based on habitat serologically with ELISA method in Kecamatan Wirobrajan and the surroundings. This research used observasional method. Sample from this research was all mice caught in areas of river, market, and houses in Kecamatan Wirobrajan and the surroundings. Data collected were from mice as many as 83 mice namely 34 mice from market area, 23 mice from river area, and 26 mice from the housing area, which were taken the serum then it was read using ELISA. The result from ELISA showed that 4 mice (4.8%) were positively infected by toxoplasmosis, namely 1 mouse from the market (1.2%), 3 mice (3.6%) from the house, and found no mouse that was positive from the river (0%), then the result was examined statistically using the Kruskal Walis test that indicated the value of p=0,14 (P>0,005). Based on the result, it could be concluded that the difference of toksoplasmosis prevalence at mouse based on its habitat was not significantly different.Toksoplasmosis pada tikus meskipun tidak dapat menular secara langsung pada manusia, tetapi secara tidak langsung merupakan sumber penularan kepada manusia. Hal ini disebabkan oleh karena tikus merupakan binatang buruan bagi kucing. Setiap tikus memiliki karakteristik yang berbeda- beda di setiap habitatnya, mulai dari segi tempat hidupnya, jenis makanan yang dikonsumsinya, dan seberapa banyak tikus itu dapat berinteraksi dengan hospes lainnya seperti kucing. Dari kebiasaan inilah dapat saja menimbulkan perbedaan insidensi tikus yang terinfeksi toksoplasma dan sejauh mana dapat menginfeksi hospes lain berdasarkan habitatnya tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi Toksoplasmosis pada tikus berdasarkan habitat secara serologis dengan metode ELISA di Kecamatan Wirobrajan dan sekitarnya. Penelitian menggunakan metode observasional. Sampel penelitian adalah semua tikus yang tertangkap di sungai, pasar, dan perumahan di Kecamatan Wirobrajan dan sekitarnya. Data terkumpul yaitu tikus sebanyak 83 ekor, 34 ekor berasal dari pasar, 23 ekor dari sungai, dan 26 ekor berasal dari perumahan, diambil serum darah lalu dibaca dengan ELISA. Hasil ELISA diperoleh 4 ekor tikus (4.8%) positif terkena toksoplasma yaitu, 1 ekor berasal dari pasar (1.2%), 3 ekor (3.6%) berasal dari rumah, dan tidak ditemukan satupun tikus yang positif yang berasal dari sungai (0%), uji statistik dengan metode uji kruskal walis menunjukkan nilai p=0,14 (P>0,005). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa perbedaan prevalensi toksoplasmosis pada tikus berdasarkan habitatnya tidak berbeda bermakna.
Pengaruh Pemberian Jus Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L) terhadap Kadar HDL dan LDL-Kolesterol pada Tikus Putih Hiperkolesterolemia Anggoro, Dedy Sukmo; Astuti, Yoni
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 15, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hiperkolesterolemia terjadi jika kadar kolesterol melebihi batas normal. Belimbing wuluh mempunyai banyak kandungan senyawa yang dibutuhkan manusia diantaranya pektin. Pektin mempunyai peranan dalam menurunkan kadar kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan  pengaruh  jus belimbing wuluh terhadap kadar HDL dan LDL-kolesterol pada tikus putih yang mengalami Hiperkolesterolemia. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian pre and post test design. Penelitian ini menggunakan tikus putih (Strain Wistar) jantan berusia 2 bulan dengan berat badan rata-rata antara 180 - 260  gram. Jumlah subyek penelitian 16 ekor, dibagi menjadi 4 kelompok masing-masing terdiri dari 4 ekor tikus, yaitu kelompok I adalah kontrol, kelompok II perlakuan dengan dosis 2 ml/200grBB/ hari,Kelompok III dengan perlakuan 3 ml/200grBB/hari dan   kelompok IV dengan perlakuan 4ml/200grBB/ hari). Sebelum diberi perlakuan semua kelompok diberi kuning telur untuk proses hiperkolestrolemia selama 15 hari.Data di uji dengan paired t-test dan one-way anova. Hasil menunjukkan bahwa dosis jus Wuluh yang paling baik dan signifikan (p< 0,05) untuk menurunkan LDL-kolesterol dan menaikkan HDL-kolesterol serum darah tikus putih jantan yang mengalami hiperkolesterolemi adalah 4 ml/200grBB/hari. Dapat disimpulkan bahwa jus belimbing wuluh terbukti dapat menurunkan kadar LDL kolesterol dan menaikkan kadar HDL kolesterol pada tikus hiperkolesterolemia.Hypercholesterolemia occurs when cholesterol level exceeds from the normal value. Wuluh star fruit has some beneficial substances for human such as   pectin. Pectin was able to decrease cholesterol levels. This research aims to prove the influence of wuluh starfruit juice on serum HDL and LDL-cholesterol on hipercholesterolemia rats. This research is an experimental research, with the pre- pro test research design. This study used (Wistar strain) 2-month-old male rats which were an average weight between 180 to 260 grams. The Rats, were divided into 4 groups, each was 4 male rats. The group 1  as  placebo and group II used dose 2 ml/200gr weight/day, Group III used  dose 3 ml/200gr weight/day and  group IV used 4ml/ 200gr weight/day. Before treatment, all groups were given egg yolk for 15 days to make hipercholestrolemia. The data analyzed by one-way anova. The results showed that the best dose of wuluh star  Juice and most significant (p <0.05) to lower LDL-cholesterol and raise HDL-cholesterol blood serum  were 4 ml/200gr weight/day).The conclution of the research was Wuluh star fruit juice was  proved decrease LDL Cholesterol and increase HDL cholesterol on Hipercholesterolemia rats.
Hubungan Antara Pelaksanaan Olahraga dengan Terkontrolnya Kadar Gula Darah pada Penderita Diabetes Mellitus di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sleman Yogyakarta Rochmawati, Erna; Maryanti, Deny
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A patient with type 2 diabetes mellitus (DM) should maintain his blood glucose to avoid its complication to take place. One of the suggested ways is to do regular exercise. The objective of this survey was to identify the relationship between exercise and controlled blood glucose in type 2 diabetic patients. Exercise was the independent variable and the blood glucose was the dependent variable.This was a non-experimental study with cross sectional design. There were 30 respondents chosen randomly who met some requirements set by the reseacher. Instruments used in this survey were questionnaires and medical records of the diabetic patients. The results of the survey were analyzed using chi square with SPSS for windows 10.0 version.The statistical analysis showed thatp— 0.0001< a, %2 = 13,768, and df= 2 with a = 0,01 which indicated that there was a very significant relationship between exercise and controlled blood glucose in type 2 diabetic patients. This demonstrates that the more regularly a type 2 diabetic patient does exercise, the more his blood glucose gets controlled.Seorang penderita Diabetes Mellitus harus mampu untuk memelihara terkontrolnya kadar gula darah untuk bisa mencegah teij adinya komplikasi. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengontrolnya adalah dengan melaksanakan olahraga secara teratur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pelaksanaan olahraga dengan terkontrolnya kadar gula darah pada penderita Dibetes Mellitus.Jenis penelitian ini adalah penelitian non eksperimental dengan rancangan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 30 responden yang diambil secara acak atau random yang memenuhi kriteria yang ditentukan oleh peneliti. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner dan rekam medik penderita DM. Hasil penelitian diuji dengan uji chi square dengan bantuan program komputer SPSS for Windows versi 10.0.Hasil analisis didapatkan p=0,001 < a, x2 = 13,768 df = 2 dengan a=0,01, yang berarti ada hubungan yang bermakna antara pelaksanan olahraga dengan terkontrolnya kadar gula darah pada penderita DM dengan tingkat keeratan yang tinggi, artinya semakin teratur klien DM dalam melaksanakan olahraga maka semakin terkontrol kadar gula darahnya.
Gambaran Diet Anak Usia Sekolah di Desa Sidoharjo, Kulon Progo, terhadap Standar Normal Pertumbuhannya Astuti, Yoni; Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Child growth and development are influenced by several factors including hereditary and environment factors. The environment factors that potentially influence child growth and differentiation are diet and health. Diet intake in children is expected to meet the Recommended Dietary Allowance (RDA) to enable good growth and development. The aim of this research is to identify diet description of school children in Sidoharjo District, Kulon Progo towards their normal standard of growth. The research subjects were 63 school children consisting of 33 girls and 30 boys aged 7-12 years old. This research was carried out by filling out a questionnaire consisting of respondent identity and diet survey form to record diet intake for 7 consecutive days. Subjects then underwent general physical examination i.e. bloodpressure, pulse, respiration rate, body height and weight. The results of this research showed that most children (> 80 %) had growth and development under 50% of percentile. The calorie intake was 50 % of RDA. The intake of carbohydrate, protein and lipid of the group of boys was 85,32%; 5,2%; 9,48% respectively. The intake of carbohydrate, protein and lipid of the group of girls was 83,2%; 6,5%; and 10,3% respectively. Therefore, the school children diet was below the RDA level.Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya faktor herediter dan lingkungan. Faktor lingkungan yang potensial mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak antara lain diet dan kesehatannya. Asupan makanan pada anak di harapkan sesuai dengan RDA(Recommended Dietary Allowance) nya, agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran diet anak usia sekolah (SD) di dusun Sidoharjo Kulon Progo terhadap standard normal pertumbuhannya. Subyek penelitian ini sebanyak 63 anak terbagi atas 33 anak perempuan dan 30 anak laki - laki, dengan kisaran umur 7-12 tahun. Penelitian dilakukan dengan cara mengisi kuesioner yang berisi identitas dan blangko survey diet untuk mencatat semua makanan yang dimakan berturut- turut selama 7 hari. Selanjutnya subjek diperiksa kesehatannya secara umum dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi, tinggi dan berat badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak baik perempuan dan laki - laki sebagian besar (> 80 %) di bawah persentil 50%.Asupan kalori hanya terpenuhi 50%nya. Kelompok perempuan asupan karbohidrat, protein dan lemak berturut - turut terpenuhi sebesar 85,32% , protein 5,2% dan lemak 9,48%, sedangkan pada kelompok laki - laki berturut turut 83,2%, 6,5%, dan 10,3%. Kesimpulan penelitian ini adalah diet anak - anak usia sekolah di dusun Sidoharjo, Kulon Progo berada di bawah Standar Normal Pertumbuhannya (RDA).
Active Learning sebagai Inovasi Pendidikan Mahasiswa Kusumawati, Wiwik
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waktu terus beijalan demikian pula proses pendidikan terus berkembang sesuai kemajuan zaman, sehingga metode pembelajaran yang menempatkan mahasiswa ialam posisi pasif atau teacher centered sudah tidak sesuai lagi untuk menghadapi 3ntangan ke depan yang lebih berat bagi calon-calon dokter. Metode pembelajaran tradisionil yang selama ini banyak digunakan dalam proses pendidikan dokter di Indonesia mungkin perlu diinovasi dalam beberapa hal agar dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan perkembangan zaman. Inovasi dalam pendidikan tidak hanya dalam hal metode saja tapi juga dalam banyak hal. Inovasi tidak harus dengan merubah secara total kurikulum pendidikannya ataupun metode pembelajarannya tetapi bisa dilakukan secara bertahap atau parsial disesuaikan dengan kemampuan institusi baik dalam hal sarana, biaya, SDM, dll.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue