cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Hiperhomosisteinemia dan Faktor Risiko Kelainan Vaskuler Adang Muhammad Gugun
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i2.1477

Abstract

Homocysteine is a sulfhydryl-containing amino acid derived from the essential amino acid methionine, which is abundant in animal sources of protein. Raised plasma homocysteine (tHcY) concentrations are caused by genetic mutations, vitamin dificiencies, renal and ather diseases, numerous drugs and increasing age. Raised tHcY concentrations are associated with laboratory evidence of atherothrombotic. In experimental studies, homocysteine causes oxidative stress, damages endothelium, and enhances thrombogenicity. Epidemiological studies have shown that too much homocysteine in the blood (plasma) is related to a higher risk of coronary heart disease, stroke and peripheral vascular disease. Supplementation of folic acid with vitamin B6 and Bn combination can be lowering homocysteine. There is currently insufficient evidence to recommend routine screening and treatment of high tHcy concentrations with folic acid and other vitamins to prevent atherothrombotic vascular disease. There is the discordance between the epidemiology of homocysteine and the results of the clinical trials.Homosistein adalah asam amino sulfhydril, merupakan senyawa antara yang terbentuk dalam metabolisme asam amino esensial metionin, banyak berasal dari protein hewani. Peningkatan homosistein disebabkan oleh mutasi genetik, defisiensi vitamin, penyakit ginjal dan penyakit lain, obat-obatan dan peningkatan usia. Peningkatan kadar homosistein menyebabkan aterotrombosis. Homosistein menyebakan stress oksidatif, kerusakan endotel (disfungsi endotel) dan memacu trombosis. Studiepidemiologimemperlihatkan peningkatan homosistein plasma beihubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner, stroke dan penyakit pembuluh darah perifer. Pemberian suplemen asam folat dengan kombinasi vitamin B6 danvitaminB12 menurunkan kadar homosistein. Buktiyang kuat untuk memberikan asam folat atau vitamin lainnya secara rutin maupun dalam terapi untuk pencegahan penyakit aterotrombosis belum didapatkan. Terdapat ketidaksesuaian antara studi epidemiologi dan clinical trial.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Ibu Hamil Menyusui secara Eksklusif di Puskesmas Kasihan I Bantul Yogyakarta Titiek Suryati Prabhasari; - Rahmah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i1.928

Abstract

Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan didapatkan penurunan pemberian ASI eksklusif dari 42,4% pada tahun 1997 menjadi 39,5% pada tahun 2002. ASI eksklusif adalah pemberian ASI sampai usia 6 bulan tanpa tambahan suplemen makanan pada bayi. Tujuan penelitian ini adalah  untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi ibu hamil dalam pemberian ASI eksklusif. Identifikasi faktornya, antara lain tingkat pendidikan ibu, pekerjaan, pendapatan keluarga, usia, dan jumlah anak. Metode penelitian yang digunakan adalah crosssectional. Data dikumpulkan dengan kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil di wilayah Puskesmas Kasihan I Bantul. Sampelnya adalah ibu yang datang untuk memeriksakan kehamilannya di Puskesmas tersebut. Pengambilan sample dilakukan dengan Accidental Sampling. Data dianalisis dengan uji bivariat untuk menggolongkan perbedaan dan hubungan antara ASI eksklusif sebagai variabel dependen dengan beberapa variabel independen, dan selanjutnya diidentifikasi menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi motivasi ibu hamil dalam pemberian ASI eksklusif. Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu, pekerjaan, pendapatan keluarga, usia, dan dan jumlah anak dengan motivasi ibu hamil dalam pemberian ASI Eksklusif (0,05).
Pengaruh Penambahan Pati Garut (Maranta arundinecea L) pada Alginat terhadap Stabilitas Dimensi Hasil Cetakan Lelly Yustri Anita; Purwanto Agustiono
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i2.1580

Abstract

The number of dentist year after year will always increase. It will equal with the using of alginate. Polysaccharides in arrowroot starch have a similar characteristic with sodium alginate. Therefore, it is the reason that both of the material could be mixed. The characteristic of amylose and amylopectin of arrowroot starch could tight the water, so the dimensions of impression will stabile from shrinkage. This study is to find the outcome of arrowroot starch influence dimension stability of alginate impression. This study using 60 sample that divided into 4 groups (100% alginate as control, alginate add by 45%, 50%, and 55% of arrowroot starch). Samples and control were manipulated with 17.5ml of aquadest. After it was set, it was measured by electric sliding calipers 0,001mm for 0, 30, and 60 minute covered by wet cotton after incubated 25oC and humidity is 96%. It can be concluded that arrowroot starch influence the diameter stability (p=0,000), but not for its height (p=0,251). Alginate: arrowroot starch = 50%: 50% is the group which has the best dimensional stability (diameter), because they have no much either shrinkage or imbibitions (p=0,000).Jumlah dokter gigi selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut akan sebanding dengan penggunaan alginat. Polisakarda pada pati garut memiliki karakteristik yang sama dengan sodium alginat, hal tersebut menandakan bahwa kedua bahan tersebut dapat dicampur. Karakteristik amilosa dan amilopektin dalam pati garut dapat mengikat air sehingga dimensi hasil cetakan dapat stabil dari pengkerutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pati garut pada alginat terhadap dimensi hasil cetakan alginat. Penelitian ini mengunakan 60 sampel yang dibagi menjadi 4 kelompok (alginat 100% sebagai kontrol, kelompok perlakuan, yaitu alginat yang ditambahkan pati garut sebesar 45%, 50%, dan 55%). Sampel dan kontrol dimanipulasi dengan 17,5 ml akuades. Setelah sampel mengalami setting, hasil cetakan diukur dengan menggunakan sliding caliper elektrik dengan ketelitian 0,01mm pada menit ke 0, 30, dan 60 yang ditutup dengan kapas basah dan dimasukkan ke dalam inkubator Memmert 25oC dan kelembaban 96%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pati garut berpengaruh terhadap stabilitas diameter hasil cetakan (p=0,000), akan tetapi tidak berpengaruh terhadap stabilitas tinggi hasil cetakan (p=0,251). Kelompok sampel dengan penambahan pati garut sebesar 50% merupakan kelompok yang memiliki stabilitas dimensi yang paling baik karena tidak banyak terjadi perubahan dimensi, baik karena pengkerutan maupun imbibisi (p=0,000).
Perbedaan Angka Trombosit pada Pasien DHF Setelah Pemberian Transfusi PRP (Platelet Rich Plasma) dengan TC (Thrombocyte Concentrate) Triandari Sumantri; - Suryanto
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i3.988

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot, dan/atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Trombositopeni merupakan salah satu kriteria yang dikemukakan WHO sebagai diagnosis klinis DHF. Salah satu bentuk penanganan DBD adalah dengan cara pemberian transfusi trombosit. Sediaan transfusi trombosit ada dua macam yaitu PRP (Platelet Rich plasma) dan TC (Thrombocyte Concentrate) . Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan angka trombosit pada pasien DHF setelah pemberian transfusi Platelet Rich Plasma (PRP) dengan Thrombocyte Concentrate (TC) di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh dari bagian Rekam Medik RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode 1 Januari 2009 – 31 Mei 2010. Data yaitu angka trombosit pada pasien DHF sebelum dan sesudah diberikan transfusi PRP ataupun TC. Didapatkan 97 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dari penelitian ini. Dari penelitian ini didapatkan hasil uji statistik dengan Mann-Whitney test didapatkan nilai p = 0,739. Nilai p 0 ,05 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan angka trombosit antara pemberian transfusi PRP dengan TC pada pasien DHF.
Hubungan antara Prevalensi Stroke Akut pada Wanita Perokok Pasif dari Anggota Keluarga dan Lingkungan Tri Wahyuliati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1597

Abstract

The potentially harmful health effects of environment tobacco smoke have received considerable attention in recent years. Unfortunately, education about the health consequences is still limited in Indonesia. The purpose of reseach as to determine the association between smoking by family member and environment with the prevalence of acute stroke among nonsmoker women in Stroke Unit of Sardjito General Hospital - Yogyakarta The study included 62 cases of passive smoker women with acute stroke matched to 62 free controls in sex and group of age to determine odds ratio. Compare with other sources of environment tobacco smoke, exposed by husbands have the most potentially risk to increase the incident of acute stroke among passive smoker women. The adjusted odds ratio for acute stroke among women passive smokers by husbands was 5,814 (95% CI, 2,645-12,776) ; by children was 3,526 (95% CI, 1,284-9,681); by brothers was 1,000 (95% CI, 0,061-16,353 ); by other persons out of house member and co-worker was 1,000 (95% CI, 0,274-3,643). The study showed a strongest positive association between passive smoking and acute stroke in women exposed to environment tobacco smoke by husband compare with the other source of pollutans.Dampak buruk terhadap kesehatan akibat polusi asap rokok banyak mendapat perhatian pada beberapa tahun terakhir. Sayangnya, di Indonesia pengetahuan tentang dampak buruk ini masih sangat terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan hubungan antara pajanan asap rokok oleh anggota keluarga dan lingkungan dengan stroke akut pada wanita bukan perokok di Unit Stroke RS. Sardjito - Yogyakarta. Penelitian ini melibatkan 62 kasus stroke akut pada wanita yang terpajan asap rokok dan 62 kontrol, yang dilakukan pencocokan dalam hal jenis kelamin dan kelompok umur, untuk menentukan Odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan wanita bukan perokok dan bukan perokok pasif, odds ratio untuk menderita stroke akut pada wanita perokok pasif yang terpajan oleh suami adalah sebesar 5,814 (95% CI, 2,645-12,776) ; oleh anak atau menantu sebesar 3,526 (95% CI, 1,284-9,681); oleh saudara dan anggota keluarga selain anak 1,000 (95% CI, 0,061¬16,353 ), oleh orang lain diluar rumah atau teman kerja 1,000 (95% CI, 0,274-3,643 ). Penelitian ini menunjukkan adanya suatu hubungan positif yang paling kuat antara wanita perokok pasif dari suami dengan angka kejadian stroke akut, dibandingkan dari sumber polusi asap rokok yang lain.
Hubungan antara Status Ekonomi, Status Pendidikan dan Keharmonisan Keluarga dengan Kesadaran Adanya Demensia dalam Keluarga Tri Wahyuliati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1560

Abstract

Dementia in the elderly are often not realized because the onset is not clear and progressive history of their illness but slowly. Patients and families often assume that the decline in cognitive function that occurred in early dementia is a natural thing. Overall status of economic, education andfamily harmony allegedly had a role to knowledge of the incidence of dementia on family members. The study aims to determine the relationship between economic status, education andfamily harmony to the knowledge of the incidence of dementia on family members. This study used cross sectional method. Research subjects were 51 elderly people, one of whom were excluded because of severe hearing loss, making it hard communication time of the study. The method of guided interviews undertaken to obtain the status of education and economic status. APGAR Score is used to determine the level of family harmony and the MMSE (score minimental examination) are used to diagnose dementia. Chi squares analysis used to determine the relationship between variables. The results showed a significant correlation between educational status of the family with awareness of dementia in the family (p = 0.007). APGAR economic status andfamily values are not significantly related to awareness of dementia in the family, with a value of p in sequence are 0.427 and 0.231.Demensia pada usia lanjut sering tidak disadari karena awitannya tidak j elas dan perjalanan penyakitnya progresif namun perlahan. Pasien dan keluarga sering menganggap bahwa penurunan fungsi kognitif yang terjadi pada awal demensia merupakan hal yang wajar. Status ekonomi, pendidikan dan keharmonisan keluarga diduga mempunyai peran terhadap pengetahuan adanya kejadian demensia pada anggota keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status ekonomi, pendidikan dan keharmonisan keluarga terhadap pengetahuan adanya kejadian demensia terhadap anggota keluarga. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Subyek penelitian sebanyak 51 orang lansia, satu diantaranya dieksklusi karena adanya gangguan pendengaran yang berat sehingga menyulitkan komunikasi saat dilakukan penelitian. Metode wawancara terpimpin dilakukan untuk mendapatkan data status pendidikan dan status ekonomi. Nilai APGAR digunakan untuk menentukan tingkat keharmonisan keluarga dan MMSE (minimentalscore examination) digunakan untuk menegakkan diagnosis demensia. Analisis chi squares digunakan untuk menentukan keeratan hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan bermakna antara status pendidikan keluarga dengan kesadaran adanya demensia dalam keluarga (p=0,007). Status ekonomi dan nilai APGAR keluarga tidak berhubungan yang bermakna kesadaran adanya demensia dalam keluarga, dengan nilai p secara berurutan adalah 0,427 dan 0,231.
Undergraduate Nurse Student’s Perceptions of Being Health Volunteer during Merapi Mountain Eruption 2010 Erna Rochmawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i1.924

Abstract

This current study aimed to investigate undergraduate nurse students’ perceptions and experiences of being health volunteer during Mount Merapi eruption on 2010. A nonexperimental, descriptive design was used. A total sampling of 26 undergraduate nurse students who become health volunteers during Mount. Merapi eruption completed self administered questionnaire. The questionnaire which consisted open and closed ended questions was used to measure students’ self awareness and what they have learnt. Data were aggregated and analyzed using simple descriptive analysis. Result indicated that undergraduate nurse students had internal motivation of being health volunteers during disaster. This study found results of students’ self assessment of their knowledge and skills capability. Findings of this study contributes benefits, future impact of being health volunteers. Students’ perceptions and experiences during disaster underscores the importance factors in the promotion of disaster management competency in nursing education.
Pengaruh Air Susu Ibu terhadap Derajat Keasaman (pH) Saliva Bayi (In Vitro) Muhammad Shulchan Ardiansyah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i2.1576

Abstract

Mother milk is a main food in baby. The wrong way of giving milk can cause decay the tooth, because mother milk contain of laktosa as carbohidrat cariogenic. Carbohidrat would be fermentation by bacteria as predisposision asidogenic bacteria. Lactobaslius is the main asidogenic bacteria in mouth. This bacteria exist in plaque in sulcus gingiva. So the bacteria more exist in baby that have teeth than haven ’t teeth. The aim of this research is to know the influence of mother milk toward saliva pH in baby that have teeth and haven ’t teeth. The subject of this research with 20 baby (10 haven’t teeth and 10 have teeth) in notoprajan, ngampilan Yogyakarta by random. Measure of pH by digital pH meter. Saliva take in 13 minutes after dops by mother milk. Analysis data by t-test with significant 5 %. The result of this research is mother milk can decrease baby saliva pH. pH saliva is more decrease in baby that have teeth than haven ’t teeth (th =11,58), p0,0.Susu ibu adalah makanan utama pada bayi. Cara yang salah memberikan susu dapat menyebabkan kerusakan gigi, karena ASI mengandung laktosa sebagai karbohidrat kariogenik. Akan karbohidrat fermentasi oleh bakteri sebagai bakteri predisposision asidogenic. Lactobaslius adalah bakteri asidogenic utama dalam mulut. Bakteri ini ada di plak di sulkus gingiva. Jadi lebih banyak bakteri yang ada pada bayi yang belum gigi dari gigi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ASI terhadap pH saliva pada bayi yang memiliki gigi dan belum gigi Subyek penelitian ini dengan 20 bayi (10 belum gigi dan 10 memiliki gigi) di Notoprajan, ngampilan Yogyakarta secara acak. Mengukur pH dengan pH meter digital. Air liur mengambil di 13 menit setelah dops oleh susu ibu. Analisis data dengan t-test dengan signifikan 5% Hasil dari penelitian ini adalah ibu susu dapat menurunkan pH air liur bayi. pH saliva semakin berkurang pada bayi yang memiliki gigi dari gigi tidak (th = 11,58), p 0,05.
Perbandingan Kualitas Es Batu di Warung Makan dengan Restoran di DIY dengan Indikator Jumlah Bakteri Coliform dan Escherichia coli Terlarut Shabrina Ari Rahmaniar; Inayati Habib
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i3.956

Abstract

Es merupakan bahan pendingin minuman yang dijual di berbagai tempat warung makan  dan restoran, tetapi es yang dikonsumsi tersebut dapat terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen seperti Coliform dan Escherichia coli yang dapat menimbulkan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan es batu warung makan dan restoran yang dikonsumsi oleh masyarakat di sekitar lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorik. Jenis penelitian ini adalah survey menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling sebanyak 20 sampel, terdiri dari 10  sampel es batu warung makan sekitar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan 10 sampel es batu restoran di Daerah Istimewa Yogyakarta. Setiap sampel diperiksa nilai Most Probable Number ( MPN) melalui penanaman pada media Lactose Broth, BGLB, Mac. Conkay, dan pengamatan mikroskopik. Data dianalisis menggunakan Mann-Whitney Test. Hasil secara deskriptif, es batu di warung makan memiliki jumlah Coliform dan Escherichia coli lebih tinggi dibandingkan di restoran. Total Coliform di warung makan dan restoran sebanyak 32.718 /100ml, jumlah Coliform di warung makan sebanyak 17.775 /100 ml (54,3 %) dan di restoran sebanyak 14.943 /100ml (45,7%). Total Escherichia coli di warung makan dan restoran sebanyak 30.150 /100ml, jumlah Escherichia coli di warung makan sebanyak 16.439 /100 ml (54,5 %) dan di restoran sebanyak 13.711 /100ml (45,5%). Hasil secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna dengan tingkat signifikansi 0,504 (Coliform) dan 0,596 (Escherichia coli).
Cardivascular reactivity to earthquake Ikhlas Muhammad Jenie
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1593

Abstract

Gempa bumi merupakan suatu stressor mental yang terjadi secara alamiah. Belum diketahui bagaimana respon kardiovaskular terhadap gempa bumi, berapa lama respon tersebut berlangsung, dan seberapa jauh akibat yang ditimbulkan oleh gempa bumi terhadap sistem kardiovaskular. Tujuan penulisan naskah ini adalah untuk mengetahui gambaran dan durasi serta potensial dari pengaruh reaktivitas Kardiovaskuler terhadap gempa bumi. Metode penelitian dilakukan dengan studi literatur terhadap penelitian-penelitian mengenai efek gempa bumi terhadap sistem kardiovaskular yang telah dipublikasikan pada MEDLINE. Tekanan darah dan frekuensi denyut jantung mulai berubah pada awal gempa bumi, dan kemudian naik sebesar 20% untuk tekanan darah sistolik, 46% untuk tekanan darah diastolik, dan 79% untuk frekuensi denyutjantung. Tingginya tekanan darah tersebut bertahan 1-2 minggu pasca gampa bumi, kemudian turun secara bertahap dalam kurun waktu 2 minggu. Peningkatan tekanan darah memanjang hingga 2 bulan pada pasien-pasien dengan mikroalbuminuria. Sementara itu, peningkatan tekanan darah tidak begitu tajam pada pasien-pasien yang mengkonsumsi obat-obat a- dan P-bloker Frekuensi denyut jantung kembali ke nilai awal lebih cepat daripada tekanan darah. Kejadian infark miokard meningkat 3 kali lipat penduduk yang tinggal dekat dengan pusat gempa daripada penduduk yang tinggal jauh dari pusat gempa. Terdapat hiperreaktivitas kardiovaskular terhadap gempa bumi. Hiperreaktivitas kardiovaskular terhadap gempa bumi tersebut bersifat akut dan berpotensi menimbulkan komplikasi infark miokard.Earthquake is a naturally occurring mental challenge. It potentially exerts adverse effects on the cardiovascular system, thus may contribute to the development of cardiovascular diseases. To know pattern and duration of the effect of earthquake on cardiovascular reactivity, and to know the potential effect of earthquake on the cardiovascular system. We did literature search on studies published in MEDLINE database that reported changes in cardiovascular parameters among subjects lived in earthquake affected area. The result of blood pressure and heart rate started to change at the initial trembling preceded the earthquake. Then at the strongest shock, systolic blood pressure increased 20%, diastolic blood pressure rose 46%, and heartbeat was up to 79%. Blood pressure remained high in 1-2 weeks after the quake. It then gradually returned to the baseline by 4 weeks (3 - 5 weeks) after the disaster. This increased blood pressure was prolonged for at least until 2 months aftermath in patients with microalbuminuria. However, it was less pronounced in patients who treated with a- and /3-blocker. The heart rate returned to the baseline level more promptly than the blood pressure. The events of myocardial infarction increased 3-fold in people who lived close to the epicentre. The conclution is cardiovascular hyperreactivity to earthquake has cardiac and vascular pattern. Exaggerated cardiovascular reactivity to earthquake is short term response. Cardiovascular reactivity to earthquake potentially leads to myocardial infarction.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015): January Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue