SINEKTIKA: Jurnal Arsitektur
SINEKTIKA: Jurnal Arsitektur is a scientific journal of the Architecture Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta which focuses on delivering information on the results of scientific research conducted by researchers, especially in the field of architecture. The scientific articles in the scope of pure and applied sciences about architectural science including art & design, history & human behavior, technology, urban planning and the environment. Research results are scientific, critical and comprehensive on important and current issues covered in the field of architecture.
Articles
331 Documents
Pengaruh Tata Ruang Bangsal terhadap Perilaku Pasien Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta
Nadia Puspita Devi;
Widyastuti Nurjayanti
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 17, No 2: Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2615.043 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v17i2.11564
Kesehatan merupakan salah satu asset berharga yang dimiliki setiap manusia. Kesehatan terdiri dari dua macam yaitu kesehatan fisik/jasmani dan kesehatan psikis/rohani. Penyakit psikis lebih sulit terdeteksi dibandingkan penyakit fisik karena biasanya timbul akibat adanya gangguan pada kesehatan jiwa/mental. Gangguan jiwa atau gangguan mental merupakan sindrom atau pola perilaku seseorang berkaitan dengan adanya gejala penderitaan (distress) yang menyerang salah satu fungsi penting pada tubuh manusia. Orang-orang dengan gangguan kesehatan biasanya diwadahi di rumah sakit. Individu dengan gangguan kesehatan jiwa, diwadahi di rumah sakit jiwa. Sebelum menjalankan rehabilitasi, pasien mental yang memerlukan rawat inap terlebih dahulu ditempatkan di bangsal. Bangsal memiliki peran yang besar dalam mempengaruhi kondisi psikologis pasien dan kondisi kesehatan dan keamanan pasien. Tata ruang bangsal baik secara zonasi maupun penataan interior pada bangsal harus diperhatikan mengingat pengguna utama ruang tersebut adalah pasien dengan gangguan jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah pola tata ruang bangsal di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta dan bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku pasien. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif berupa wawancara dan pengamatan langsung terhadap objek penelitian. Data hasil penelitian dianalisa dengan menggunakan metode behavioral mapping dan metode superimposed. Penelitian ini menghasilkan elemen-elemen tertentu seperti jarak antar tempat tidur, elemen jendela dan pintu, dan suasana pada ruang, yang dapat mempengaruhi perilaku tertentu pada pasien.
Perkembangan Arsitektur Bale Banjar Ditinjau Dari Fungsi Dan Pelestarian Budaya Bali
I Made Juniastra
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 1: Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/sinektika.v18i1.12732
Banjar adat di bali umumnya menerapkan konsep Tri Hita Karana dalam menata bangunan wantilan bale banjar, yaitu Parhyangan yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, Palemahan yang mencerminkan hubungan manusia dengan lingkungan sekitar, dan Pawongan yang mencerminkan hubungan manusia satu dengan manusia lainnya. Namun seiring perkembangan jaman dan teknologi kini wantilan bale banjar yang sudah waktunya direnovasi dengan desain bertingkat. Timbul pertanyaan apakah yang sebenarnya melatarbelakangi desain bertingkat tersebut. Penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi desain awal wantilan dan menentukan beberapa wantilan bale banjar yang berarsitektur bali yang dianggap layak untuk mewakili wantilan-wantilan bale banjar yang ada di bali. Konsep bangunan bertingkat diterapkan karena ada beberapa pertimbangan yaitu untuk memperluas space bale banjar seiring pertambahan jumlah krame banjar, perkembangan jaman yaitu dengan memiliki bangunan bertingkat menimbulkan suatu kebanggaan akan kemajuan banjar, dan pertimbangan ekonomi untuk fungsi komersial. Semasih desain balai banjar tetap berpedoman pada arsitektur tradisional bali yaitu menerapkan konsep nawa sanga dan tri angga dalam penataan zoning dan tampilan fisik bangunan, maka wantilan bale banjar tersebut bisa diklasifkasikan sebagai bagian dari perkembangan budaya bali.
IDENTIFIKASI FASAD ARSITEKTUR TROPIS PADA GEDUNG-GEDUNG PERKANTORAN JAKARTA (STUDI KASUS PADA KORIDOR DUKUH ATAS-SEMANGGI)
Anwari Dananjaya;
Alpha Febela Priyatmono;
Samsudin Raidi
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 2: Juli 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1041.014 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v13i2.756
Penelitian ini dilatar belakangi kondisi Jalan Jenderal Sudirman di Jakarta yang merupakan jalan protokol dan menjadi salah satu landmark ibukota Republik Indonesia. Jalan Jenderal Sudirman adalah jalan protokol yang terkenal banyak menjadi tempat berdirinya gedung-gedung tinggi, sehingga dapat dikatakan menjadi brandimage jika ingin mengetahui perkembangan konsep dan desain gedung tinggi di Indonesia.Tampilan bentuk gedung tinggi di kawasan ini yang sangat variatif menjadisalah satu alasan kenapa topik ini diangkat menjadi topik penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi elemen-elemen arsitektur tropis pada fasad gedunggedung perkantoran jalan Jenderal Sudirman yang rata-rata memiliki tipikal fasad minimalis , studi kasus pada Koridor Dukuh Atas-Semanggi. Metoda Penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan metoda kualitatif diskriptif yang dalam pelaksanaannya diawali dengan kegiatan survei lapangan atau pengamatan/ observasi dan didukung dengan studi literatur. Sedangkan obyek penelitian adalah fasad pada gedung-gedung kantor sepanjang jalan Jendral Sudirman terbatas pada koridor Dukuh Atas-Semanggi dengan menjabarkan fasad secara umum, dan fasad secara khusus dengan mengambil satu unit gedung dengan kriteria tertentu sebagaisample penelitian. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tampilan fasad gedunggedung cenderung memakai fasad minimalis tanpa ada variasi kecuali sedikit untuk menyesuaikan dengan konsep fasad minimalis yang berada di wilayah iklim tropis.
Pengaruh Kondisi Jalur Pedestrian dan Street Furniture Di Jalan Malioboro Terhadap Kenyamanan Ruang Publik
Muhammad Nashif Saifuddin;
Qomarun Qomarun
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 16, No 1: Januari 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1850.991 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v16i1.10466
Kawasan Malioboro merupakan salah satu ikon kota Yogyakarta. Malioboro menjadi salah satu destinasi favorit untuk berwisata di kota tersebut. Kawasan ini merupakan pertokoan yang melintang di sepanjang jalan Malioboro. Hampir setiap tahunnya selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini membuat jalan Malioboro menjadi zona yang sangat padat. Jalur pedestrian dan street furniture menjadi sangat vital bagi kenyamanan dalam beraktivitas di ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kondisi dan street furniture dengan tingkat kenyamanan ruang publik yang dirasakanoleh pengguna. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif, dengan cara melakukan observasi fisik lalu memvalidasi hasil temuan observasi fisik dengan pendapat dari pengguna yang diperoleh dari hasil penyebaran 90 kuisioner tentang kondisi dari jalur pedestrian dan street furniture yang berpengaruh terhadap kenyamanan ruang publik. Hasil penelitian menyimpulkan dari 90 sampel responden pengguna jalan menyatakan bahwa kondisi jalur pedestrian dan street furniture memperoleh predikat baik dengan skor 2,59 (skala 4). Skor terendah dari sisi kelancaran jalur pedestrian dan skor tertinggi dari aspek estetika. Hasil final menunjukkan bahwa 81 % responden menyatakan bahwa Jalan Malioboro telah memenuhi kenyamanan ruang publik, baik kondisi jalur pedestrian maupun street furniture.
Arsitektur Jawa pada Wujud Bentuk dan Ruang Masjid Agung Surakarta
Dewi Adityaningrum;
Titis Srimuda Pitana;
Wiwik Setyaningsih
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 17, No 1: Januari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2713.429 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v17i1.10864
Budaya tradisi memiliki estetika tersendiri. Arsitektur tradisional Jawa memiliki nilai estetika tersendiri yang merupakan manifestasi dari cara orang Jawa hidup dalam menanggapi lingkungan. Joglo sebagai bangunan arsitektur Jawa merupakan representasi simbolis dari realitas yang nilainya telah melampaui bentuk dan struktur bangunan. Masjid Agung Surakarta adalah masjid yang berkaitan dengan masuknya Islam di tanah Jawa. Pengaruh dari nilai-nilai lokal menjadikan masjid tersebut memiliki nilai-nilai arsitektur Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang bertujuan mengetahui wujud representasi Arsitektur Jawa dan menemukan unsurunsur yang memuat nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa pada Masjid Agung Surakarta, sehingga nilai-nilai dari kehidupan masyarakat Jawa tersebut juga berimbas pada masjid Jawa lainnya yang mengambil prototipe dari masjid ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat unsur-unsur pada Masjid Agung Surakarta yang mengadopsi nilai-nilai budaya dan arsitektur Jawa. Berbagai elemen pembentuk masjid yang berkaitan erat dengan apa yang ada pada arsitektur Jawa, yaitu atap tajug yang menjadi penanda tipe masjid Jawa adalah unsur bentuk yang paling dominan, ruang dalem dan pendopo, soko guru, atap tajug tumpang tiga dan atap limasan, serta pajupat dan pancer.
Proses Kreatif Perancangan Arsitektur Masjid Era Pemerintahan Soekarno dan Soeharto
Rizky Adam;
Yuke Ardhiati
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 1: Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3287.252 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v18i1.13328
Masjid memiliki makna tempat bersujud bagi umat Islam, serta memiliki peranan yang sangat penting bagi umat Islam baik dari segi pelayanan ibadah dan pemberdayaan umat. Terbangunnya masjid-masjid di Indonesia pasti memiliki latar belakang yang berbeda-beda, namun ada hal yang dapat mempengaruhi terbangunnya sebuah masjid yaitu proses kreatif masing masing Presiden, pengaruh kekuasan dan budaya. Tidak hanya bangunan bangunan monument saja yang memiliki pengaruh kekuasaan dan pengalaman. Kini masjid pun bisa menjadi ekspresi dari kekuasaan orang yang diberi amanah pada masa itu. Tujuan penulisan ini adalah agar khalayak dapat mengetahui bahwasanya Presiden mempunyai kuasa dalam membangun negara dengan berdasarkan pengalaman pribadi yang dialaminya serta menghasilkan perbedaan perkembangan arsitektur yang istimewa. Penulisan ini menggunakan pendekatan sejarah dan literatur serta pendekatan secara arsitektural yaitu mengamati dari gaya arsitektur. Hasil penulisan ini membawa kesimpulan bahwa Soekarno memiliki gagasan yang modern dan monumental dan Soeharto lebih mengusung gagasan arsitektur bernuansa lokal. Proses kreativitas seseorang tidak akan berhenti dan akan selalu berproses berdasarkan latar belakang budaya mereka berasal, pengalaman hidup yang menjadi identitas sang presiden yang berkuasa pada masa tersebut.
IDENTIFIKASI KARAKTER BANGUNAN ISLAMI PADA PESMA PUTRI KH. MAS MANSUR UMS
Ikrima Iffah Shochfah
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 1: Januari 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (741.076 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v13i1.745
Pesantren Mahasiswa (Pesma) Putri K.H. Mas Mansur UMS, adalah sebuah asrama mahasiswa yang difungsikan sebagai pesantren mahasiswa.sebagai tempat tinggal bagi mahasiswa internasional dan mahasiswa lokal. Pesantren Mahasiswa ini, didukung oleh program Islami dan sebaiknya diikuti oleh desain ruangan yang Islami pula.Urgensi riset ini untuk mengetahui apakah Pesma Putri K.H. Mas Mansur UMS sudah menerapkan kaidah aturan Islami dalam bangunannya. Tujuan penelitian ini adalah: (a). mengidentifikasi dan menemukan karakter bangunan Islami yang sudah diterapkan pada Pesma K.H. Mas Mansur UMS. b). Menganalisis perwujudan karakter bangunan Islami pada elemen arsitektur bangunan Pesma KH Mas Mansur UMS. Metodepenelitian yang digunakan secara umum adalah metode kualitatif. Analisis menggunakan metode deskriptif komparatif, menggambarkan kondisi faktual dengan mengemukakan fakta-fakta yang ada di lapangan serta membandingkannya antara satu kondisi dengan kondisi lainnya. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa KH Mas Mansur mempunyai sebagian besar karakter bangunan Islami, mulai dari zonasi, tata ruang,ornamen seni hias Islami, lay out interior peruangan, orientasi bangunan dan fasad bangunan.
Evaluasi Fungsional City Walk Slamet Riyadi berdasarkan Pendekatan Arsitektur Buta
Andika Saputra;
Qonitatun Khafidhoh
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 15, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3281.332 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v15i2.9855
Salah satu ruang terbuka publik di Kota Surakarta yang menjadi pusat kegiatan kalangan tunanetra adalah City Walk Slamet Riyadi, terutama di segmen 3 dan segmen 4. Di tengah tumbuh pesatnya kesadaran terhadap universal design, mengharuskan City Walk Slamet Riyadi memenuhi prinsip, syarat, dan standar arsitektur bagi kalangan pengguna tunanetra yang disebut dengan Arsitektur Buta. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara fungsional City Walk Slamet Riyadi berdasarkan pendekatan Arsitektur Buta yang tertuang dalam Permen PUPR No. 14 tahun 2017 dan menemukenali perilaku adaptasi pengguna dari kalangan tunanetra sebagai tanggapan terhadap kondisi spasial City Walk Slamet Riyadi. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan variabel terikat (1) jalur sirkulasi pedestrian; dan (2) halte, dan Permen PUPR No. 14 tahun 2017 sebagai variabel bebas. Temuan dari kegiatan penelitian ini terdiri dari dua poin. Pertama, kondisi penerapan Arsitektur Buta pada City Walk Slamet Riyadi terdiri dari (1) keterputusan jalur pemandu; (2) ketidaktepatan jalur pemandu; dan (3) ketidaktepatan fasilitas yang diperuntukkan bagi pengguna tunanetra. Ketiga kondisi tersebut tidak sesuai dengan Permen PUPR No. 14 tahun 2017. Kedua, perilaku adaptasi yang dilakukan pengguna dari kalangan tunanetra meliputi (1) mengandalkan indera pendengaran; (2) mengandalkan alat bantu; (3) mengandalkan ingatan dan pengalaman; dan (4) mengandalkan indera peraba.
Peran Masjid At Taqwa Wonogiri Terhadap Lintasan Sejarah Islam di Wonogiri
Rizqi Bayu Nugroho;
Andika Saputra
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 16, No 2: Juli 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1653.673 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v16i2.10602
Kota Islam adalah kota yang awalnya dibangun pada semasa Nabi Muhammad SAW, dengan mempertimbangkan konsep ideologi kota yang bercorak Islami dan perilaku Nabi Muhammad SAW. Ciri utama kota Islam adalah kehadiran masjid di dalam wilayah kota. Salah satu kota yang menghadirkan bangunan masjid sebagai unsur utama dalam tata ruangnya adalah Kota Wonogiri yang memiliki Masjid At-Taqwa di pusat kota yang berdekatan dengan alun-alun dan kantor bupati. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi peran Masjid At-Taqwa dalam lintasan sejarah Kota Wonogiri. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini mengungkap perluasan peran Masjid At-Taqwa pada dimensi fungsi pendidikan dini yang diselenggarakan di masjid, meliputi pendidikan tingkat PAUD dan TK, selain peningkatan peran peribadatan shalat.
Kajian Arsitektur Vernakular (Ruang dan Struktur) Lampung: Desa Pekon Hujung Lampung Barat
adelia enjelina matondang;
A. Asrul Sani
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 1: Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1912.031 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v18i1.13308
Arsitektur vernakular Lampung saat ini masih dapat ditemui dibeberapa daerah di Lampung. Seiring dengan perkembangan zaman jumlah bangunan tradisional ini semakin lama semakin berkurang. Mulai dari alasan tidak lagi mampu menampung kegiatan manusia moderen juga karena dianggap kuno yang menjadi faktor utama menghilangnya bangunan tradisional ini. Desa Pekon Hujung merupakan salah satu daerah yang berada di Kecamatan Belalau, Lampung Barat. Desa ini dipilih menjadi lokasi penelitian karena desa ini masih memiliki bangunan vernakular Lampung yang usianya sudah mencapai ratusan tahun. Arsitektur vernakular Lampung merupakan warisan leluhur budaya yang akan sulit ditemukan lagi di lingkungan masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa arsitektur vernakular Lampung dengan lokasi penelitian di Desa Pekon Hujung. Arsitektur vernakular Desa Pekon Hujung merupakan gambaran mengenai bentuk, denah, tata ruang yang tercermin melalui kebudayaan masyarakat Desa Pekon Hujung terhadap lingkungan alam dan sosialnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang telaah budaya menghuni dalam konteks hunian tradisional guna memberikan kesadaran bagi arsitek, pemilik, pengguna, dan pemerintah untuk mempertimbangkan kearifan budaya sebagai bagian dalam setiap keputusan desain yang diambil, baik dari sisi kekhasan maupun dari sisi keaslian.