cover
Contact Name
Nur Rahmawati Syamsiyah
Contact Email
nur_rahmawati@ums.ac.id
Phone
+628562830285
Journal Mail Official
jurnalsinektika@ums.ac.id
Editorial Address
Architecture Department, Faculty of Engineering Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Tromol Pos 1 Surakarta 57162
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
SINEKTIKA: Jurnal Arsitektur
ISSN : 14118912     EISSN : 27146251     DOI : 10.23917/sinektika
Core Subject : Art, Engineering,
SINEKTIKA: Jurnal Arsitektur is a scientific journal of the Architecture Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta which focuses on delivering information on the results of scientific research conducted by researchers, especially in the field of architecture. The scientific articles in the scope of pure and applied sciences about architectural science including art & design, history & human behavior, technology, urban planning and the environment. Research results are scientific, critical and comprehensive on important and current issues covered in the field of architecture.
Articles 331 Documents
DISAIN APARTEMEN DAN KAWASAN PERUMAHAN YANG MENGEDEPANKAN KESELAMATAN ANAK-ANAK Nangkuka Utaberta
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 14, No 2: Juli 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.941 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v14i2.1444

Abstract

Tulisan ini didasarkan pada pengamatan penulis terkait dengan masalah keselamatan anak-anak di dalam perumahan bertingkat maupun tidak bertingkat. Keselamatan anakanak dimanapun berada menjadi permasalahan pokok yang harus diperhatikan. Anakanak sesuai dengan karakternya belum mempunyai penilaian tentang sesuatu itu membahayakan atau tidak. Dalam konteks rumah tinggal yang berbentuk rumah susun, apartemen ataupun rumah tidak bertingkat, faktor keamanan anak-anak menjadi sangat penting bagi keluarga muda yang mempunyai anak-anak, untuk memilih rumah tinggalnya. Secara arsitektural, faktor keamanan anak-anak ini menjadi bagian dari pemikiran arsitek pada saat mendisain rumah tinggal. Pola tata ruang dan pola penyusunan site plan merupakan salah satu cara yang diputuskan arsitek untuk mewujudkan faktor keamanan terhadap anak-anak. Penulis mengharap bahwa tulisan ini dapat menyadarkan arsitek dan pengembang perumahan untuk lebih sensitif terhadap produk yang dihasilkannya.
Tingkat Keberlanjutan Fasilitas Publik Bulakamba dengan Simulasi Urban Modeling Interface Norma Melinda; Arif Kusumawanto
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 19, No 1: Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.051 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v19i1.16258

Abstract

Perkembangan Kabupaten Brebes dalam bidang industri berpotensi meningkatkan kepadatan penduduk yang dapat berdampak pada lingkungan seperti dalam hal efisiensi lahan, mobilitas, emisi dan konsumsi energi. Dalam mendukung program pemerintah mengenai kota hijau, Kabupaten Brebes kini tengah merencanakan dibangunnya fasilitas publik yang dapat menunjang kegiatan masyarakat. Oleh sebab itu diperlukan perencanaan fasilitas publik yang berkelanjutan dengan memaksimalkan nilai Throughput yaitu dengan memaksimalkan aspek Welfare dan meminimalkan Environmental Damage. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah simulasi menggunakan program Urban Modeling Interface (UMI) dengan 5 jenis simulasi di dalamnya yaitu FAR, Operational Energy, Life Cycle, Mobility dan Daylighting. Hasil studi kondisi eksisting menunjukkan bahwa aspek Mobility dan Daylighting masih dapat dimaksimalkan. Hasil simulasi menunjukkan nilai FAR sebesar 0.27 dengan nilai Mobility Walkability skor 51 dan Bikeability skor 60 berada pada lingkungan fasilitas publik dan sekitarnya. Sementara itu, nilai intensitas Operational Energy rata-rata pada kawasan fasilitas publik adalah (182 kWh/m2/Year) dan Life Cycle ((EE (3051.71 kwh/m2); EC (224.38 kgCO2/m2.)) yang masih dalam batas aman keberlanjutan. Sementara hasil simulasi Daylighting rata-rata pada kawasan fasilitas publik menunjukkan nilai sDA 46% dimana standar nilai sDA yang dapat diterima adalah diatas 55%, sehingga masih bisa dimaksimalkan.
ARSITEKTUR HIBRIDA: KOMBINASI UNTUK MENGHASILKAN KUALITAS YANG LEBIH BAIK Gan Gan Muhamad Rum; Ikaputra Ikaputra
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2: Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.v18i2.13590

Abstract

Arsitektur hibrida merupakan konsep arsitektur yang mengkombinasikan elemen arsitektur yang berbeda dengan tujuan untuk menghasilkan suatu konsep baru dengan kualitas yang lebih baik dari elemen penyusunnya. Hibridisasi dalam arsitektur tidak mempunyai program khusus, elemen bentuk, fungsi, struktur atau hal lain dalam arsitektur bisa dikombinasikan. Konsep arsitektur hibrida terus berkembang, dari beberapa tinjauan literatur diketahui bahwa arsitektur hibrida menunjukkan hasil dengan kualitas yang lebih baik. Pada elemen bentuk, hibridisasi mampu memunculkan gaya arsitektur baru sehingga memperkaya bentuk pada karya arsitektur. Penggabungan beberapa fungsi pada satu infrastruktur bangunan dapat menghasilkan situasi baru yang merangsang dan merevitalisasi bangunan dan lingkungannya, menghemat ruang serta memberi kemudahan konektivitas, aksesibilitas dan sirkulasi penggunanya. Penggunaan material hibrida pada fasad bangunan mampu melindungi bangunan dari sinar matahari, hujan dan angin serta memiliki kemampuan insulasi termal dan memungkinkan ventilasi yang meneruskan cahaya alami. Sistem ventilasi hibrida dapat mengurangi konsumsi energi dan meningkatkan kualitas udara di dalam ruangan menjadi lebih baik. Sedangkan pada konstruksi, konsep hibrida mampu mengurangi bobot, meningkatkan kekuatan, ketahanan terhadap korosi dan proses pembentukan yang lebih mudah.
Persepsi Wisatawan terhadap Kualitas Produk Wisata : Fort Rotterdam, Di Makassar Gusniyati Nia Buhari; Diananta Pramitasari; Ahmad Saifullah
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 19, No 1: Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.762 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v19i1.15501

Abstract

Kawasan Fort Rotterdam merupakan bangunan peninggalan sejarah dan warisan budaya. Hasil observasi persepsi awal terhadap wisatawan lokal yang ada di Fort Rotterdam merupakan masalah yang perlu ditangani yaitu wisatawan yang  datang ke Fort Rotterdam lebih tertarik pada acara bersifat komersil dibandingkan terhadap kegiatan wisata sejarah dan budaya. Acara yang bersifat komersil ini diduga dapat merusak kualitas produk wisata Fort Rotterdam sebagai wisata sejarah dan budaya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengukur kualitas produk Fort Rotterdam dan persepsi wisatawan terhadap kualitas produk Fort Rotterdam. Peneliti menggunakan gabungan metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif dilakukan dengan menyebarkan angket persepsi kepada wisatawan dan wawancara secara langsung. Metode kualitatif dilakukan dengan mengobservasi kondisi eksisting Fort Rotterdam, mengklarifikasi hasil data yang diperoleh melalui angket persepsi. Lokasi penelitian dilakukan di Kota Makassar. Persepsi kualitas produk wisata mengacu pada komponen wisata dan 8 dimensi kualitas produk Garvin. Berdasarkan persepsi wisatawan, hasil penelitian menunjukkan dominan persentasi setara antara persepsi kurang baik dan persepsi baik pada kualitas produk wisata Fort Rotterdam. Persepsi kualitas produk wisata pada tampilan memiliki persepsi yang baik. Persepsi kualitas produk wisata pada fitur memiliki persepsi yang kurang baik. Adapun persepsi kualitas produk pada kehandalan, kemudahan layanan, kesesuaian, ketahanan, dan kesan kualitas menunjukkan persentasi yang setara antara persepsi kurang baik dan persepsi baik. Selanjutnya persepsi kualitas produk wisata pada estetika menunjukkan persentasi persepsi baik.
The Characteristics of Kampung Sekayu Conservation Area, Semarang City Agnies Ayu Kusumaningdyah; Adhista Putri Presilia; Anindya Putri Tamara; Erliza Syahrani
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 19, No 1: Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1178.454 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v19i1.16292

Abstract

Kampung Sekayu is an original village in Semarang City which has a cultural heritage building in its area, so its existence needs to be maintained. Its strategic location in the center of the city makes this village develop into a trade and service area, thus affecting the area’s physical characteristics. Character identification is needed to know the current condition of the area. The method used in this research is descriptive qualitative and explanatory techniques. This study shows that the physical condition of the building has partially changed due to the development of the area from a residential area to a trade and service area. However, some buildings can still maintain their distinctive character as the original buildings that were built during the colonial era. The Great Mosque as a landmark of this area is a characteristic that cannot be separated from the existence of this village. Judging from the social characteristics of the community, cultural mixing occurs because the composition of residents is now dominated by immigrants
PERAN PERANCANGAN DALAM MEMPERJUANGKAN RIGHT TO THE CITY: STUDI KASUS BOGOTA Zufar Azka Prabaswara; Nava Ivana Cindy Hutagaol; Dian Okta Viryani; Agus Suharjono Ekomadyo; Vanessa Susanto
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2: Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.v18i2.12741

Abstract

Seiring bertambahnya populasi perkotaan, timbul isu ketidakkesetaraan  kesempatan berpartisipasi dan mendapatkan keuntungan dari perkembangan kota, yang menyebabkan kota tersegregasi berdasarkan status sosial ekonom masyarakati. Fenomena ini mendorong Henri Lefebvre, mengungkapkan konsep “right to the city”, dimana seluruh masyarakat pada dasarnya berhak atas ruang kota. Bogota, adalah salah satu kota yang dianggap sukses memperjuangkan right to the city lewat gerakan “Bogota Change”. Dalam gerakan ini, terdapat sebuah rencana besar Plan Centro, dimana pemerintah berupaya memperbaiki kondisi pusat kota yang terdegradasi dengan membangun ruang publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana Bogota memperjuangkan right to the city melalui tiga proyek ruang publik yang merupakan bagian dari Plan Centro, yakni Jimenez Quesada Avenue, Taman Tercer Milenio, dan Plaza San Victorino. Ketiga ruang publik tersebut berdampak besar dalam perwujudan kesetaraan sosio-spasial di Kota Bogota melalui upaya pencapaian 6 dari 22 Norma Hak Asasi Manusia terkait Hak Spasial. Pada hasil temuan, terlihat berbagai strategi seperti peningkatan pengawasan, menciptakan ruang hijau, penyediaan transportasi umum dan fasilitas rekreasi, serta menyediakan ruang untuk pembangunan ekonomi sebagai pemenuhan terhadap norma-norma hak asasi manusia atas ruang. Hasil temuan ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam merancang kota dalam menjunjung hak spasial bagi rakyat.
Dekonstruksi Jacques Derrida pada Arsitektur Sekolah Anak Usia Dini di Jepang dan Korea Teresia Hanna Sanjaya; I Wayan Mudra
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 19, No 1: Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.199 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v19i1.16573

Abstract

Suasana kelas formal dengan aturan desain baku, tidak berarti menjadi sekolah ramah anak. Ruang dan suasana pembelajaran yang bebas dari dogma/langgam arsitektur tertentu, bisa membantu anak untuk berpikir di luar kotak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji Arsitektur Sekolah Anak Usia Dini Tomoe Gakuen di Jepang dan APAP Open School di Korea, dengan teori Jacques Derrida dalam hal makna, fungsi, dan bentuk. Tujuan penelitian adalah manfaat nilai sosial atau praktis, yakni sekolah/pembelajaran tidak harus di gedung/ruang - ruang formal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan dilakukan dengan observasi dan dokumentasi secara online. Hasil penelitian menunjukkan analisa sekolah di Jepang dilihat dari dekonstruksi makna dari kereta menjadi sekolah dan dekonstruksi fungsi dari kendaraan menjadi ruang belajar. Sedangkan, sekolah di Korea mengunakan dekonstruksi makna dari container box menjadi sekolah dan dekonstruksi bentuk di  mana peletakan container box disusun sedemikian rupa. Berdasarkan kedua perbandingan studi kasus terdapat perbedaan dekonstruksi yaitu dekonstruksi makna, dekonstruksi fungsi dan dekonstruksi bentuk.
KAJIAN KONSEP FEMINISME PADA BANGUNAN PUSAT KECANTIKAN Almira Muthi Faliha; Yeptadian Sari
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2: Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2391.131 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v18i2.13909

Abstract

Perkembangan zaman membuat era digital semakin canggih, hal tersebut dapat mempengaruhi pola hidup masyarakat, terutama bagi perempuan. Sering kali perempuan merasa tidak percaya diri saat berinteraksi sosial, karena sejatinya setiap manusia ingin tampil sempurna, rasa keinginan tampil sempurna inilah yang menjadi kekhawatiran setiap orang tidak terkecuali bagi perempuan. Kekhawatiran itu membuat seseorang ingin melakukan sesuatu agar berpenampilan menarik sesuai yang diharapkan. Maka dari itu diperlukanlah wadah atau tempat fasilitas pusat kecantikan untuk mengekpsresikan dirinya dalam berpenampilan sesuai yang diinginkan. Berdasarkan fungsinya diperlukan pusat kecantikan yang memahami sifat keperempuanan, dimana perempuan cenderung memiliki sifat feminim. Melihat permasalahan tersebut maka diperlukan konsep arsitektur feminisme pada bangunan pusat kecantikan. Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menjelaskan secara deskriptif mengenai bangunan pusat kecantikan yang menerapkan dari beberapa konsep feminisme. Adapun bangunan tersebut yaitu Erha Derma Center dan Natasha Skin Care. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mempelajari bagaimana penerapan konsep arsitektur feminisme pada bangunan pusat kecantikan, sebagai acuan dalam merancang bangunan dengan menggunakan konsep feminisme
Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau pada Koridor Kyai Tapa, Grogol, Jakarta Barat Ristya Arinta Safitri; Arief Fadhilah; Ardilla Jefri Karista
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 19, No 1: Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.697 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v19i1.15880

Abstract

Koridor Kyai Tapa merupakan koridor jalan yang berpotensi sebagai koridor unggulan Jakarta Barat, karena posisinya yang strategis menghubungkan wilayah Jakarta Barat dengan Jakarta Pusat. Pada kondisi eksisting koridor Kyai Tapa, terdapat beberapa titik ruang terbuka hijau yang bersifat pasif dan minim fasilitas yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Sehingga perlu dilakukan evaluasi pemanfaatan RTH pada koridor Kyai Tapa untuk mendukung peningkatan kualitas RTH Kota Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan analisis kualitatif dan kuantitatif. Data dan analisis menunjukan pemanfaatan RTH Kyai Tapa masih rendah. 60% responden yang berkegiatan di RTH hanya sekedar lewat saja. Hal ini dipicu karena sangat minim atraksi dan penerangan pada malam hari sedangkan pengguna mulai aktif disekitar RTH pada sore hari. Pemanfaatan RTH pada koridor Kyai Tapa sangat perlu ditingkatkan mengingat potensi yang dimiliki dengan Penambahan fasilitas, atraksi dan peningkatan keamanan.
Peranan Pusat Seni dan Budaya sebagai Bentuk Upaya Pelestarian Budaya Lokal Nur Atin Amalia; Dyan Agustin
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 19, No 1: Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.64 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v19i1.13707

Abstract

Tingginya arus globalisasi membawa pengaruh besar terhadap masyarakat Indonesia terutama di kalangan anak muda. Mulai dari gaya hidup yang berbeda hingga lunturnya rasa cinta seni dan budaya nusantara. Perlu adanya solusi untuk menjaga kelestarian seni dan budaya nusantara agar tidak musnah. Pusat Seni dan Budaya merupakan modal awal yang diterapkan sebagai solusi ditengah tingginya pengaruh globalisasi terhadap masyarakat untuk melestarikan seni dan budaya Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis “Peranan Pusat Seni dan Budaya dari Segi Arsitektur dalam Melestarikan Seni dan Budaya di Nusantara”, berawal dari budaya lokal yang ada di setiap wilayah Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Studi kasus yang diambil meliputi 2 objek yaitu Taman Budaya Jawa Timur dan Taman Budaya Yogyakarta. Temuan penelitian ini menjelaskan bahwa Pusat seni dan budaya adalah fasilitas yang dibutuhkan di setiap wilayah Indonesia sebagai wadah seni dan budaya lokal yang terbukti memberikan pengaruh besar terhadap kalangan anak muda dan seniman untuk mencintai seni dan budaya, sebagai fasilitas edukasi dan tempat berkumpulnya para seniman untuk melestarikan seni dan budaya. Selain itu bentuk arsitektural yang diterapkan merupakan bentuk pelestarian yang besar dan memberikan pengaruh yang tinggi terhadap masyarakat dalam mengenal seni dan budaya lokal di Nusantara.