cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Biomedika
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 399 Documents
PENGARUH EKSTRAK PROPOLIS TERHADAP EKSPRESI CASPASE 3, PROLIFERASI DAN INDUKSI APOPTOSIS PADA SEL KANKER KOLON (CELL LINE WiDr) Anandani, Esti Tantri; Kusnanto, Paulus; Purwanto, Bambang
Biomedika Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i2.5839

Abstract

Kanker kolorektal mencapai sepuluh persen dari total tipe tumor di seluruh dunia dan merupakan kanker dengan mortalitas tertinggi di seluruh dunia. Kejadian kanker kolon terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk baik di negara berkembang maupun negara maju. Kemoterapi belum memberikan hasil yang optimal dan sering menimbulkan efek samping yang serius karena pada umumnya tidak bekerja spesifik pada sel kanker tetapi juga pada sel normal. Banyak bahan alam yang berpotensial untuk dikembangkan sebagai agen kombinasi seperti propolis, jinten, tapak dara, mengkudu, dan daun dewa. Propolis merupakan suplemen nutrisi yang dihasilkan oleh lebah dan telah digunakan sebagai pengobatan tradisional di dunia. Propolis sudah banyak dijadikan bahan penelitian karena aktivitas antibakteri, antijamur, antivirus dan hepatoprotektifnya. Propolis dan senyawa lainnya telah digunakan untuk mengobati inflamasi, untuk meningkatkan kekebalan tubuh, dan agen anti kanker. Penelitian bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian propolis dari daerah Kerjo, Karanganyar, Indonesia terhadap ekspresi caspase 3, proliferasi dan induksi apoptosis pada kultur sel kanker kolon (cell line WiDr).  Penelitian menggunakan desain eksperimental laboratorik dengan post test with control group design. Penelitian menggunakan kultur sel WiDr (sel kanker kolon) dengan pemberian ekstrak ethanol propolis (EEP). Pengamatan ekspresi caspase 3 dengan metode imunositokimia, sedangkan pengamatan proliferasi dengan metode doubling time dan induksi apoptosis dengan metode double staining. Hasil Penelitian didapatkan EEP dengan IC50 sebesar 140 µg/mL meningkatkan ekspresi caspase 3 sebesar 42,1% dibandingkan kelompok kontrol 6,89%. EEP meningkatkan ekspresi caspase 3 sebanding dengan peningkatan konsentrasi EEP. EEP dengan dosis konsentrasi 70, 140, 280 µg/mL mampu menekan proliferasi baik pada proliferasi jam ke-24, 48 , maupun 72. EEP dengan IC50 sebesar 140 µg/mL meningkatkan induksi apoptosis sebesar 53,16% dibandingkan kelompokkontrol 0,64%. Pemberian EEP meningkatkan induksi apoptosis sebanding dengan peningkatan konsentrasi EEP. Penelitian ini menunjukkan bahwa EEP mempunyai sifat antiproliferasi dan mampu menginduksi apoptosis pada sel WiDr.  Kata kunci: EEP, caspase 3, proliferasi, apoptosis, WiDr
PENGARUH EKSTRAK PROPOLIS TERHADAP PENINGKATAN EKSPRESI p21, EKSPRESI PROTEIN Bax DAN INDUKSI APOPTOSIS PADA KULTUR SEL KANKER KOLON (CELL LINE WiDr) Prasetyo, Didik; Maryono, Suradi; Purwanto, Bambang
Biomedika Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i1.4342

Abstract

Kanker kolorektal merupakan kanker ketiga terbanyak dengan lebih dari 1 juta kasus setiap tahunnya dan salah satu kanker dengan mortalitas tertinggi di seluruh dunia. Radioterapi dan kemoterapi pada kanker relatif terbatas karena toksisitasnya yang tinggi dan efek samping yang bersifat merusak. Pengembangan propolis merupakan strategi baru untuk terapi adjuvan yang diharapkan meminimalkan efek samping terapi standar yang ada. Peran propolis pada keganasan terkait kemampuannya dalam menginduksi apoptosis dan aktivitas antiproliferasi. Penelitian in vitro, menunjukkan propolis memiliki aktivitas proapoptosis pada berbagai jenis sel kanker, meliputi : kanker laring, kanker paru, kanker pankreas, kanker tiroid, kanker payudara, kanker prostat dan glioma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian propolis yang berasal dari Kerjo, Karanganyar, Indonesia terhadap aktivitas antiproliferasi, terkait peningkatan ekspresi p21 dan induksi apoptosis terkait peningkatan ekspresi protein bax pada kultur sel kanker kolon (cell line WiDr). Jenis penelitian ini, eksperimental laboratorik dengan post test with control group design. Penelitian menggunakan kultur sel WiDr (sel kanker kolon) dengan pemberian ekstrak etanol propolis (EEP). Pengamatan ekspresi p21 dan protein Bax dengan metode imunositokimia, sedangkan pengamatan induksi apoptosis dengan flowcytometry. Analisis statistik menggunakan uji Kruskall Wallis dilanjutkan Mann WhutneyU test. EEP cenderung menekan viabilitas sel WiDr dengan IC50 sebesar 140 μg/mL. EEP konsentrasi 70,140, 280 μg/mL mampu meningkatkan ekspresi p21 yang sebanding dengan peningkatan konsentrasi yang diberikan. EEP konsentrasi 70 μg/mL (1/2 IC50) paling efektif dalam menginduksi apoptosis dan meningkatkan ekspresi Bax pada sel WiDr. Peningkatan konsentrasi EEP mengakibatkan kematian sel WiDr ke arah nekrosis. Penelitian ini menunjukkan EEP mampu menekan viabilitas sel WiDr. Aktivitas ini kemungkinan terkait dengan kemampuannya dalam meningkatkan ekspresi p21 sebanding dengan peningkatan konsentrasi yang diberikan. EEP pada konsentrasi 70μg/mL mampu menginduksi apoptosis pada sel WiDr terkait dengan peningkatan ekspresi Bax. Peningkatan konsentrasi EEP konsentrasi 140 dan 280 μg/Ml mengakibatkan nekrosis sel WiDr. Kata kunci: EEP, p21, protein bax, cell line WiDr
PENGARUH KONSENTRASI KALIUM FEROSIANIDA TERHADAP PEWARNAAN Fe PADA SUMSUM TULANG Khoiriyatuinnisa, Khoiriyatunnisa; Ethica, Stalls Norma; Santosa, Budi
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7016

Abstract

ABSTRAKPemeriksaan sumsum tulang merupakan uji diagnostik standar emas untuk penilaian cadangan zat besi di dalam tubuh, sehingga pemeriksaan ini dianggap pentingPemeriksaan cadangan besi sumsum tulang dalam prakteknya, ada beberapa variasi konsentrasi larutan kalium ferosianida (K4Fe(CN)6·3HO) yang digunakan.Faktanya, kalium ferosianida merupakan zat beracun yang berdampak buruk pada kesehatan jika terpapar pada konsentrasi tinggi. Di sisi lain, pengaruh konsentrasi kalium ferosianida terhadap kualitas hasil pewarnaan Fe belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi kalium ferosianida terhadap kualitas hasil pewarnaan Fe berdasarkan interpretasi visual sebagai bagian dari pemeriksaan sumsum tulang. Secara lebih khusus, penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi kalium ferosianida terendah dengan hasil kualitas pewarnaan Fe dengan interpretasi baik. Objek penelitian ini adalah sampel sumsum tulang pasien terdiagnosis anemia. Kemudian sampel diperiksa dengan pewarnaan Fe berbagai variasi konsentrasi kalium ferosianida, yaitu: 1 %, 2 %, 3 %, 4 %, dan 5% b/v (artinya b/v apa? Jangan menyingkat sebelum diberikan kepanjangannya). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil interpretasi tingkat cadangan besi akibat kualitas hasil pewarnaan yang berbeda akibat pengaruh variasi konsentrasi ferosianida dengan nilai uji signifikansi 0,00 (p< 0,05) berdasarkan uji statistik Fisher. Dari hasil penelitian ini, konsentrasi kalium ferosianida yang paling direkomendasikan untuk pemeriksaan cadangan besi dalam sumsum tulang adalah 2% b/v, karena konsentrasi kalium ferosianidanya tidak terlalu tinggi namun menghasilkan kualitas penafsiran terbaik .Kata kunci: Pewarnaan Besi, Cadangan Besi Tubuh, Kalium Ferosianida, Sumsum Tulang ABSTRACTBone marrow examination is one of the most crucial diagnostic test considered as gold standard for the assessment of iron reserves in the body. In practice, there has been variation of potassium ferocyanide (K4Fe(CN)6·3HO) concentrations used in the iron staining step of the exam by medical laboratory workers. Infact, ferrocyanide is a toxic substance exposing health risks if used in high concentration. Yet, there have been no reports about the effect of ferrocyanide concentration on the quality of Fe staining results. This study aims to determine the effect of potassium ferrocyanide concentration on Fe staining result quality by visual interpretation as part of bone marrow examination. In more particular, it determines the lowest possible concentration (lowest toxicity) of ferrocyanide that could result in acceptable quality of Fe staining results. Objects of this study were bone marrow samples of patients diagnosed with anemia, which later examined by Fe staining using ferrocyanide at varied concentrations of 1, 2, 3, 4, and 5% b/v, respectively. Results indicated that there was significant difference on interpretation quality of iron reserves due to variation of ferrocyniade concentrations with significance test value of 0.00 <0.05 based on Fisher’s test statistic. Results showed that the most recommended concentration of potassium ferrocyanide, which is not too high but resulting in the best possible interpretation quality of iron reserves on bone marrow is 2% b/v.Keywords: Fe Staining, Iron Reserves, Potassium Ferrocyanide, Bone Marrow
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN DAN KADAR INTERLEUKIN-6 DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI STATUS GIZI LEBIH Agustina, Tri; Indarto, Dono; Sugiarto, Sugiarto
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7021

Abstract

ABSTRAKStatus gizi lebih dan anemia merupakan gangguan gizi yang sering muncul pada remaja putri. Remaja putri berisiko tinggi terjadi gangguan gizi tersebut karena cenderung mengalami peningkatan kebutuhan zat gizi, pembatasan pola konsumsi dan penyimpangan pola konsumsi. Asupan protein yang tinggi akan diubah menjadi lemak dan disimpan menjadi jaringan adiposa. Pada status gizi lebih, inflamasi kronik terjadi di jaringan lemak dan terjadi peningkatan sekresi sitokin proinflamasi, seperti interleukin 6 (IL-6). Kadar IL-6 yang tinggi meningkatkan kadar hepsidin, yang dapat menurunkan kadar besi (Fe) dalam sirkulasi. Penelitian ini  bertujuanmenganalisis hubungan antara asupan protein dan kadar IL-6 dengan kadar hemoglobin (Hb) pada remaja putri status gizi lebih.  Data asupan protein menggunakan metode food recall 24 jam dan SQ-FFQ (semi quantitativefood frequency questionare). Kadar IL-6 diukur dengan pemeriksaan ELISA. Kadar Hb diukur dengan metode cyanmethaemoglobin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa asupan protein dan kadar IL-6 tidak berhubungan dengan kadar Hb (p=0,132) dan (p= 0,607). Penelitian selanjutnya diharapkan untuk menganalisis hubungan status gizi lebih pada remaja putri dengan kejadian anemia, seperti kadar hepsidin, globin dan feritin. Kata kunci: Asupan Protein, Kadar IL-6, Kadar Hb, Remaja Putri, Status Gizi Lebih ABSTRACTOvernutritional status and anemia are nutritional disorders that often occur in female adolescents. Female  adolescents are at high risk of nutritional disorders because they tend to experience an enhanchement nutritional needs, restrictions on consumption patterns and eating disorder. High protein intake will be converted into fat and stored into adipose tissue. In overnutrition adolescents, chronic inflammation occurs in fat tissue and also increasing proinflamation sitokin secretion, such as interleukin 6 (IL-6). High levels of IL-6 increases hepsidin levels, and decreases iron (Fe) level in circulation. This study aims to analyze the corelation of protein intake and IL-6 level with haemoglobin level in overnutrition female adolescents. Data of protein intake is taken through 24 hours food recall and SQ-FFQ (semi quantitative-food frequency questionare). IL-6 levels were measured by ELISA while Hb level is obtained thorugh cyanmethaemoglobin method. The results of this study there is no corelation between protein intake and IL-6 level toward Hb level (p=0,132) and (p= 0,607). It is suggested for other researcher to analyze corelation between overnutrition state in female adolescents and anemia symptomps such as hepsidin, globin, and feritin level.Keywords: Protein Intake, IL-6 Levels, Hemoglobin Levels, Adolescent Girls, Overnutritional Status
PEMBERIAN TEPUNG GANYONG (Canna edulis Kerr.) MENURUNKAN EKSPRESI Ki67 PADA JARINGAN USUS BESAR TIKUS YANG DIINDUKSI AOM/DSS Mahmudah, Nur; Purnomosari, Dewajani; Sumiwi, Yustina Andwi Ari
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7017

Abstract

ABSTRAKKanker usus besar merupakan kanker yang memiliki insiden dan mortalitas tinggi. Karsinogenesis ditandai oleh proliferasi sel yang tidak terkendali, yang dapat dilihat dengan adanya peningkatan ekspresi Ki67. Kejadian kanker usus besar meningkat akhir-akhir ini yang dimungkinkan terjadi akibat pola makan masyarakat modern yang buruk. Masyarakat modern lebih menyukai makanan cepat saji, yang rendah serat dibandingkan makanan sehat yang kaya serat, seperti ganyong. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek pemberian ganyong terhadap ekspresi Ki67 pada jaringan usus besar tikus yang diinduksi AOM/DSS. Jenis penelitian ini merupakan eksperimental dengan post test only group design. Penelitian ini menggunakan tikus model kanker usus besar yang dibuat dengan induksi AOM/DSS. Perlakuan ganyong diberikan selama 16 minggu, diberikan mulai 2 minggu sebelum induksi AOM hingga sebelum terminasi. Ekspresi ki67 dilihat dengan metode imunohistokimia, kemudian dihitung menggunakan software Image J. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ganyong tidak menurunkan ekspresi Ki67 pada tikus yang diinduksi AOM/DSS (p= 0,101). Kesimpulannya bahwa pemberian ganyong pada tikus yang diinduksi AOM/DSS tidak menghambat proliferasi sel.Kata Kunci: Ganyong, Ki67, Induksi Aom/Dss. ABSTRACTColon cancer is a cancer that has a high incidence and mortality. Carcinogenesis is characterized by  uncontrolled cell proliferation, which can be seen in the presence of increased Ki67 expression. The incidence of colon cancer has increased in recent years, which may have been due to the poor diet of modern society. Modern society prefers fast food, which is low in fiber compared to healthy foods rich in fiber, such as ganyong. This study aims to examine the effect of canna administration on Ki67 expression in AOM / DSS-induced rectum colon tissue. This research type is experimental with post test only group design. This study used a mouse model of colon cancer made with AOM / DSS induction. Canna administration was given for 16 weeks, given 2 weeks before AOM induction until termination. Ki67 expression seen with imunohistokimia method, then calculated using Image J software. The results showed that canna administration did not decrease of Ki67 expression in rats induced AOM / DSS (p = 0,101). In conclusion that canna administration to rats induced by AOM / DSS did not inhibit cell proliferation.Keywords: Canna, Ki67, AOM / DSS Induction.
HUBUNGAN JENIS KELAMIN, TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN TERHADAP KEJADIAN SKABIES PADA SANTRI PONDOK PESANTREN QOTRUN NADA KOTA DEPOK Naftassa, Zaira; Putri, Tiffany Rahma
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7022

Abstract

ABSTRAKSkabiesis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi tungau Sarcoptes  Scabiei Varietas Hominis. Penyakit ini menginfeksi sebagian besar pelajar yang tinggal di asrama, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa kemungkinan, diantaranya: kurangnya higienitas kamar tidur dan personal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pengetahuan terhadap kejadian penyakit skabies di Pondok Pesantren Qotrun Nada Cipayung, Depok tahun 2017. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Subjek penelitian ini adalah santri MTs dan MA Pondok Pesantren Qotrun Nada dengan jumlah sampel sebanyak 50 santri. Analisis data berdasarkan kejadian penyakit skabies menggunakan uji Chi-Square (p < 0,05) dan CI 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pengetahuan terhadap penyakit skabies.Kata Kunci: Pengetahuan, Pendidikan, Skabiesis ABSTRACTScabiesis is one of many skin disease caused by an infestation and sensitization of Sarcoptes scabiei var. Hominis. It can infected almost students living in boarding school, caused by several abilites, such as roomfacilities and personal hygiene. This study held on Qotrun Nada Islamic Boarding School, Cipayung, Depok, on year 2017, and focused on prevalence of scabies correlated to sex, education level and knowledge of students. The study used cross – sectional analytical- descriptive methode. Subjects were all students of Qotrun Nada Islamic Boarding School, and 50 samples were taken. All data based on prevalence of scabies were analized by Chi - square test (p < 0,05) and CI 95%. The result showed positive correlation among sex, education level, and knowledge towards scabies. Some suggenstions could be given by school management and government to take actions on demolishing the parasite and took some preventions against S. Scabiei infection to maintain students healthcare on boarding school. Keywords: Knowledge, Education, Scabiesis
SKOR FUNGSIONAL HIP (HARRIS HIP SCORE) PADA PASIEN OSTEOARTHRITIS (OA) HIP JOINT DENGAN DEFEK ACETABULUM YANG DILAKUKAN TOTAL HIP ARTHROPLASTY (THR) DAN ACETABULOPLASTY Bawono, Sinung; Maryanto, Ismail; Idulhaq, Mujaddid
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7018

Abstract

ABSTRAKTotal hip arthroplasty (THA) merupakan pilihan bagi hampir semua pasien dengan kelainan sendi panggul yang menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan fungsi. Hasil jangka panjang yang baik dikarenakan perangkat endoprosthetic tersebut mampu memberikan kemampuan menahan beban, mempertahankan fungsi, rentang gerak dan stabilitas. Peneliti  mencoba untuk mengevaluasi skor hip fungsional pasien osteoarthritis pinggul dengan defek pada acetabulum yang dilakukan tindakan THA dengan acetabuloplasty di Rumah Sakit Ortopedi X, Surakarta, sejak Januari - September 2016. Kemudian kami evaluasi untuk fungsional hip pasien sebelum dan sesudah operasi menggunakan Harris Hip Skor (HHS). Berdasarkan data yang diperoleh didapat jumlah sampel perempuan 18 pasien dan laki-laki 14 pasien. Pada karekter umur rentang umur sampel antara 49 tahun sampai 66 tahun. Penilaian skor HHS sebelum operasi memiliki rentang nilai 20,8 sampai dengan 69,4. Hasil pengukuran skor HHS terhadap sampel yang dilakukan setelah tindakan operasi adalah sebagai berikut Fair 9 pasien, Good 13 pasien, dan Excellent 10 pasien. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa THA dan Acetabuloplasty memberikan hasil terapi terbaik pada pasien Osteoarthritis dengan defek acetabulum, meliputi kemampuan menahan beban tubuh, fungsi , rentang gerak dan stabilitas sendi.Kata Kunci: Osteoartritis Hip, Defek Acetabulum, THA, Total Hip Artroplasty, Acetabuloplasty, Harris Hip Score ABSTRACTTotal hip arthroplasty (THA) is an option for almost all patients with hip joint abnormalities that cause discomfort and disruption of significant function. This is because of good long-term results that the endoprosthetic device gives regarding the ability of weight-bearing, function, range of motion and stability of hip joint. We try to evaluate the functional hip score  of  hip  osteoarthritis patients with defects in the acetabulum, performed THA with acetabuloplasty in X Orthopaedic Hospital since January until September 2016. Then we evaluated for patient’s functional outcome before and after operation using Harris Hip Score (HHS). From 32 patients were reviewed and identified, there were 18 females and  14 males,  mean age was 57,5 y.o (range 49-66 y.o). All had primary THA and Acetabuloplasty. There were  10 patients have excellent functional outcome(90-100 based on Harris Hip Score/HHS),  13 patients have good functional outcome (80-0), 9 patients  have fair functional outcome (70 – 79),  no patient have poor functional outcome (60 – 69) and have failed functional outcome (below 60). In this study we concluded that THA and acetabuloplasty  gives  best treatment for osteoarthritis patient with acetabular defects , regarding the ability of weight-bearing, function, range of motion and stability of hip joint. Keyword : Osteoartritis Hip, Acetabular Defect, THA, Total Hip Arthroplasty,Acetabuloplasty, Harris Hip’s Score
HIPERGLIKEMIA SEBAGAI PREDIKTOR KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN DENGAN SINDROM KORONER AKUT DI RSUD X SURAKARTA Mahmuda, Iin Novita Nurhidayati; Rezki, Yuniana Nur; Priscillah, Wildan
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7023

Abstract

ABSTRAK Sindrom Koroner Akut atau acute coronary syndrome (ACS) dengan hiperglikemia pada saat masuk memiliki rerata mortalitas yang lebih tinggi, pada penelitian terbaru. Hiperglikemia pada pasien dengan ACS digambarkan sebagai respon akut dari keadaan hiperadrenergik dengan peningkatan risiko trombosis, sehingga bisa memperburuk kondisi pasien ACS selama dirawat di rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan lama tinggal dan mortalitas pada pasien ACS dengan stres hiperglikemia dan tanpa hiperglikemia stres. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional  analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien ACS non-diabetes di RSUD X Surakarta. Data diperoleh dari rekam medis dengan teknik purposive sampling, dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Subjek penelitian sebanyak 68 pasien, 34 pasien ACS dengan hiperglikemia dan 34 pasien ACS tanpa hiperglikemia. Hasil penelitian ini menyatakan ada perbedaan durasi lama tinggal pasien ACS dengan dan tanpa hiperglikemia(p = 0,002) dan tidak ada perbedaan rerata mortalitas diantara keduanya.Kata kunci: Sindrom Koroner Akut, Hiperglikemia, Lama Rawat Inap, Mortalitas ABSTRACT Acute Coronary Syndrome (ACS) in recent studies has been associated with hyperglycemia at the time of admission with higher mortality rates. Hyperglycemia in patients with ACS described as an acute response from a hyperadrenergic state with an increased risk of thrombosis, so it could worsen the condition of the patient ACS during the hospital stay. Aims of this study are to know differences in length of stay and mortality in ACS patients with hyperglycemia stress and without hyperglycaemia stress. This was an analytical observational research design with  cross sectional approach. The subjects were non diabetic ACS patient in RSUD X Surakarta. Data were obtained from medical record with purposive sampling technique, analyzed by Mann-Whitney test. Subjects were 68 patients, 34 patients ACS with hyperglycemia and 34 patients ACS without hyperglycemia. There is a difference in duration long of stay ACS patients with and without hyperglycemia (p = 0.002) and there is no difference in mortality.Keywords: Acute Coronary Syndrome, Hyperglycemia, Length Of Hospitalization, Mortality
EFEK ANTIDIABETIK EKSTRAK ETANOL DAUN MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa) PADA TIKUS DIABETES YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOSIN Lestari, Ira Cinta
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7019

Abstract

ABSTRAKDaun mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) diketahui memiliki efek anti hiperglikemik dengan menghambat aktivitas enzim pencerna karbohidrat a-glucosidase, namun efeknya pada kondisi diabetes belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antidiabetik ekstrak etanol daun mahkota dewa (EEDMD) terhadap berat badan dan kadar glukosa darah tikus model diabetes. Studi eksperimental dengan rancangan post test only control group design dilakukan terhadap subjek 45 ekor tikus Sprague Dawley. Subjek dikelompokkan dalam kontrol normal, kontrol diabetes diberi pelarut dan diabetes diberi 7mg/200g, 14mg/200g, and 28mg/200g  EEDMD secara peroral, sekali sehari selama 3, 14 dan 25 hari. Model tikus diabetes dibuat dengan injeksi streptozotosin dan nicotinamide. Hasil analisa statistik berat badan dan kadar glukosa puasa antar kelompok terdapat perbedaan yang signifikan. Sehingga kesimpulan penelitian ini adalah pemberian EEDMD memiliki efek antidiabetik pada tikus diabetes yang dinduksi stretozotosin.Kata kunci: Diabetes Mellitus, Phaleria Macrocarpa, Ekstrak Etanol, Streptozotosin, Antidiabetik ABSTRACTPhaleria macrocarpa leaf has been known to have anti-hyperglycemic effects by inhibiting the activity of a-glucosidase carbohydrates digestive enzyme, but the systemic effect on diabetic condition is unknown yet. This study was conducted to investigate the antidiabetic effect of ethanolic extract of Phaleria macrocarpa leaf (EEPML) on body weight and blood glucose levels of diabetic rat model. This was a quasi experimental study with post test only control group design. Fourty five male Sprague Dawley rats were classified into normal control group, diabetic control group with solvent, diabetic with 7mg/200g, 14mg/200g, and 28mg/200g of EEPML peroral administration, once a day for 3, 14 and 25 days. The diabetic rat model was made by streptozotocin and nicotinamide injection. Results : Statistical analysis of mean body weight and fasting blood glucose level showed there were significant differences between treatment groups. Conclusion : Administration of EEPML is able to affect the body weight and blood glucose level of diabetic rat model. Keywords: Diabetes Mellitus, Phaleria Macrocarpa, Ethanolic Extract, Streptozotocin, Antidiabetic
KORELASI UMUR DENGAN KADAR HEMATOKRIT, JUMLAH LEUKOSIT, DAN TROMBOSIT PASIEN INFEKSI VIRUS DENGUE Jatmiko, Safari Wahyu
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7024

Abstract

ABSTRAKInfeksi virus dengue (IVD) masih menjadi masalah di negara tropis dan sub tropis. Gejala IVD dan perubahan parameter hematologi seperti jumlah leukosit, trombosit dan kadar hematokrit. pada umumnya lebih berat pada pasien infeksi sekunder dengue virus (DENV)  dengan serotipe yang berbeda. Risiko infeksi sekunder DENV meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini menimbulkan landasan teori terhadap hipotesis bahwa semakin bertambah usia maka perubahan parameter hematologi semakin berat. Untuk menjawab hal tersebut dilakukan penelitian terhadap pasien IVD yang berusia dibawah 14 tahun dan memenuhi kriteria diagnostik WHO 2009. Diagnosis dikonfirmasi dengan IgG dan IgM antidengue. Hasil yang didapat adalah terdapat korelasi antara usia dengan kadar hematokrit dengan r = 0,248 dan p = 0,027 namun tidak ada korelasi antara usia dengan jumlah leukosit dengan r = 0,008 p = 0,943 dan trombosit  dengan r -0,01 p = 0,929. Semakin bertambah usia maka semakin berat peningkatan kadar hematokrit pada anak penderita IVD.Kata kunci: Umur, Hematokrit, Leukosit, Trombosit, Infeksi Virus Dengue ABSTRACTDengue virus infection (IVD) is still a problem in tropical and sub-tropical countries. Symptoms of IVD and changes in hematological parameters such as the number of leukocytes, platelets and hematocrit levels are generally more severe in secondary DENV infections with different serotypes. The risk of secondary DENV infection increases with age. This raises the theoretical basis of the hypothesis that the older the worsening changes in hematologic parameters. To address this, a study of IVD patients under 14 years old and meeting the 2009 WHO diagnostic criteria is done. The diagnosis is confirmed by IgG and IgM antidengue. The result are correlation between age with hematocrit level with r = 0,248 and p = 0,027 but no correlation between age with leukocyte count with r = 0,008 p = 0,943 and platelet with r -0,01 p = 0,929. It can be concluded that the more aged the more severe the increase in hematocrit levels in children with IVD.Keywords: Age,  Hematocrit, Leukocyte, Platelet, Dengue Virus Infection

Filter by Year

2009 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2022): Biomedika Agustus 2022 Vol 14, No 1 (2022): Biomedika Februari 2022 Vol 13, No 2 (2021): Biomedika Agustus 2021 Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021 Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020 Vol 12, No 1 (2020): Biomedika Februari 2020 Vol 11, No 2 (2019): Biomedika Agustus 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Online First More Issue