Claim Missing Document
Check
Articles

Metformin Enhances Anti-proliferative Effect of Cisplatin in Cervical Cancer Cell Line Yudhani, Ratih D.; Pesik, Riza N.; Indarto, Dono
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.178 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.2.75

Abstract

Cervival cancer is one of the top rank of gynecological malignancy in the world, leading to high morbidity and mortality rates. Cisplatin is a chemotherapeutic agent that is generally used to treat cervical cancer but the use of this drug is limited because of serious side effects. Metformin, a diabetic drug, decreases not only blood glucose levels but also cell viability of some cancer cells. The aim of this study was to investigate the anti-proliferative effect of combination metformin and cisplatin in HeLa cells (cervical cancer cell line). Anti-proliferative effect of these combined drugs was analized using MTT assay, combination index assay and HeLa cell morphology. Inhibitory concentration (IC50) of cisplatin and metformin was determined before performing combination index assay. Administration of 10 mM metformin showed inhibition of HeLa cell proliferation and it reached 50% inhibition of cell proliferation at 60 mM. Whilst, cisplatin showed a stronger anti-proliferative effect with initial inhibition dose at 12 μM and IC50 dose at 44 μM. Combination of 30 mM metformin and 5 μM cisplatin indicated the strongest anti-proliferative effect on HeLa cell. In conclusion, metformin may become a promising drug for treatment of cervical cancer in future which enhances anti-proliferative effect of cisplatin.Key words: Anti-proliferative effect, combination index, cervical cancer, cisplatin, metformin Peningkatan Efek Anti-poliferatif Cisplatin oleh Metformin pada Cell Line Kanker Serviks Kanker serviks merupakan salah satu keganasan ginekologi tertinggi di dunia, dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Cisplatin merupakan obat kemoterapi yang umum digunakan untuk terapi kanker serviks, namun penggunaannya relatif terbatas karena menyebabkan beberapa efek samping yang serius. Metformin merupakan obat anti diabetik yang mampu menurunkan kadar glukosa darah dan juga mampu menurunkan viabilitas beberapa jenis sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek anti-proliferasi kombinasi metformin dan cisplatin pada sel HeLa (cell line kanker serviks). Efek anti-proliferasi kombinasi kedua senyawa tersebut dianalisis melalui MTT assay, combination index assay dan morfologi sel HeLa. Nilai inhibitory concentration (IC50) metformin dan cisplatin pada sel HeLa ditentukan lebih dahulu sebelum melakukan combination index assay. Pemberian metformin 10 mM mulai menunjukkan penghambatan proliferasi sel HeLa dan penghambatan proliferasi sel mencapai 50% pada dosis 60 mM. Cisplatin menunjukkan efek anti-proliferasi yang lebih kuat dengan dosis awal penghambatan sebesar 12 μM dan IC50 sebesar 44 μM. Kombinasi antara metformin 30 mM dan cisplatin 5 μM memperlihatkan efek anti-proliferatif terkuat pada sel HeLa. Sebagai kesimpulan, metformin kemungkinan menjadi obat yang menjanjikan untuk terapi kanker serviks di masa mendatang dengan cara meningkatkan efek anti-proliferasi cisplatin.Kata kunci: Cisplatin, combination index, efek anti-proliferatif, kanker serviks, metformin
HUBUNGAN STATUS GIZI LEBIH DAN LAMA MENSTRUASI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA SISWI SMA DI KABUPATEN BOYOLALI Sandy, Yatty Destani; Tamtomo, Didik Gunawan; Indarto, Dono
Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Anemia pada remaja merupakan salah satu masalah kesehatan global. Anemia dapat disebabkan oleh rendahnya asupan besi, status gizi lebih, usia menarche dini dan kehilangan darah. Siswi dengan status gizi lebih dapat mengalami anemia karena akumulasi lemak dalam jaringan adiposa yang dapat meningkatkan produksi sitokin proinflamasi. Peningkatan kadar sitokin tersebut menyebabkan kadar hepsidin meningkat sehingga menurunkan absorbsi besi. Tujuan: Menganalisis hubungan status gizi lebih, usia menarche dan lama menstruasi dengan kejadian anemia pada siswi SMA di Kabupaten Boyolali. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross sectional. Teknik sampling menggunakan Multi Stage Sampling untuk menentukan subjek penelitian pada siswi kelas X. Pengumpulan data usia menarche dan lama menstruasi menggunakan kuisioner, status gizi diukur dengan antopometri, pengukuran kadar Hemoglobin menggunakan metode cyanmethemoglobin. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan uji statistik chi square dan regresi logistik berganda. Hasil: Sebanyak 53,3% siswi mengalami anemia. Obesitas ditemukan sebesar 87,8% pada siswi dengan status gizi lebih. Siswi yang memiliki status gizi lebih berisiko secara signifikan sebesar 6,273 kali untuk mengalami anemia (p = 0,013). Semakin lama seorang siswi mengalami haid akan berisiko 4,848 kali untuk mengalami anemia (p = 0,003). Simpulan: Status gizi lebih dan lama menstruasi secara bersama sama berhubungan positif dengan kejadian anemia. Siswi diharapkan dapat mengontrol berat badan dan menghindari makanan yang dapat mengganggu penyerapan zat besi, perlu penyediaan suplementasi zat besi disekolah. Kata Kunci: Status gizi Lebih, Usia Menarche, Lama Menstruasi, Anemia.
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN DAN KADAR INTERLEUKIN-6 DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI STATUS GIZI LEBIH Agustina, Tri; Indarto, Dono; Sugiarto, Sugiarto
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7021

Abstract

ABSTRAKStatus gizi lebih dan anemia merupakan gangguan gizi yang sering muncul pada remaja putri. Remaja putri berisiko tinggi terjadi gangguan gizi tersebut karena cenderung mengalami peningkatan kebutuhan zat gizi, pembatasan pola konsumsi dan penyimpangan pola konsumsi. Asupan protein yang tinggi akan diubah menjadi lemak dan disimpan menjadi jaringan adiposa. Pada status gizi lebih, inflamasi kronik terjadi di jaringan lemak dan terjadi peningkatan sekresi sitokin proinflamasi, seperti interleukin 6 (IL-6). Kadar IL-6 yang tinggi meningkatkan kadar hepsidin, yang dapat menurunkan kadar besi (Fe) dalam sirkulasi. Penelitian ini  bertujuanmenganalisis hubungan antara asupan protein dan kadar IL-6 dengan kadar hemoglobin (Hb) pada remaja putri status gizi lebih.  Data asupan protein menggunakan metode food recall 24 jam dan SQ-FFQ (semi quantitativefood frequency questionare). Kadar IL-6 diukur dengan pemeriksaan ELISA. Kadar Hb diukur dengan metode cyanmethaemoglobin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa asupan protein dan kadar IL-6 tidak berhubungan dengan kadar Hb (p=0,132) dan (p= 0,607). Penelitian selanjutnya diharapkan untuk menganalisis hubungan status gizi lebih pada remaja putri dengan kejadian anemia, seperti kadar hepsidin, globin dan feritin. Kata kunci: Asupan Protein, Kadar IL-6, Kadar Hb, Remaja Putri, Status Gizi Lebih ABSTRACTOvernutritional status and anemia are nutritional disorders that often occur in female adolescents. Female  adolescents are at high risk of nutritional disorders because they tend to experience an enhanchement nutritional needs, restrictions on consumption patterns and eating disorder. High protein intake will be converted into fat and stored into adipose tissue. In overnutrition adolescents, chronic inflammation occurs in fat tissue and also increasing proinflamation sitokin secretion, such as interleukin 6 (IL-6). High levels of IL-6 increases hepsidin levels, and decreases iron (Fe) level in circulation. This study aims to analyze the corelation of protein intake and IL-6 level with haemoglobin level in overnutrition female adolescents. Data of protein intake is taken through 24 hours food recall and SQ-FFQ (semi quantitative-food frequency questionare). IL-6 levels were measured by ELISA while Hb level is obtained thorugh cyanmethaemoglobin method. The results of this study there is no corelation between protein intake and IL-6 level toward Hb level (p=0,132) and (p= 0,607). It is suggested for other researcher to analyze corelation between overnutrition state in female adolescents and anemia symptomps such as hepsidin, globin, and feritin level.Keywords: Protein Intake, IL-6 Levels, Hemoglobin Levels, Adolescent Girls, Overnutritional Status
Ekspresi CD3 dan CD26 pada Limfosit T sebagai Biomarker Potensial Penyakit Systemic Lupus Erythematosus Suselo, Yuliana Heri; Balgis, Balgis; Indarto, Dono
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1266.598 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v48n3.843

Abstract

Systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun yang sering dijumpai pada wanita. Penyakit ini ditandai oleh hiperautoreaktivitas limfosit T dan B. Di dalam sistem imun, CD3 dibantu CD26 sebagai molekul kostimulator berkaitan erat dengan aktivasi dan migrasi limfosit T. Pada penyakit SLE, ekspresi CD3 dan CD26 serta aktivitas enzim CD26 belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui ekspresi CD3 dan CD26 dalam darah serta kultur limfosit T pasien SLE. Rancangan penelitian ini bersifat eksperimen laboratorium dengan pendekatan studi retrospektif. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biomedik, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta selama lima bulan (Mei–September 2012). Diagnosis SLE ditentukan menurut kriteria dari American College of Rheumatology (ACR). Darah vena diambil dari tiga pasien SLE dan dua orang sehat. Satu µg/mL phytohaemmaglutinin (PHA) digunakan untuk stimulasi kultur limfosit T. Ekspresi CD3 dan CD26 ditentukan dengan flows sytometry. Substrat H-Gly-Pro pNA digunakan untuk menguji aktivitas enzim CD26. Data yang terkumpul dianalisis dengan uji t. Ekspresi CD3 dan CD26 menurun dalam darah dan kultur limfosit T pada pasien SLE dibanding dengan kontrol, sedangkan aktivitas enzim CD26 pada kultur limfosit T pasien SLE lebih tinggi daripada kontrol (0.042 vs 0.030 U/mL), tetapi perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik (p>0.05). Simpulan, terdapat penurunan ekspresi CD3 dan CD26 baik disirkulasi darah maupun di kultur limfosit T subtipe CD4+. CD3 dan CD26 berpotensi sebagai biomarker penting untuk SLE. Namun, riset lanjutan masih perlu dilakukan untuk menjelaskan peran keduanya dalam patogenesis penyakit SLE. [MKB. 2016;48(3):140–7]Kata kunci: CD3, CD26, systemic lupus erythematosus (SLE)CD3 and CD26 Expression on T Lymphocytes as a Potential Biomarker of Systemic Lupus ErithematosusSystemic lupus erythematosus (SLE) is an autoimmune disease that is frequently found in women and characterized by hyperautoreactivity of T and B cells. In the immune system, expressions of CD 3 and CD26 (as co-stimulatory molecule) are related to T cells activation and migration. Co-expression of CD3 and CD26 in SLE patients has not been determined. The aim of this study was to investigate the co-expression of CD3 and CD26 in blood and T cell culture of SLE patients. This was an analytical descriptive study with a retrospective approach. This study was performed at the Biomedical laboratory, Faculty of Medicine, Sebelas Maret University, for five months (May–September 2012). SLE diagnosis was determined by using the criteria from the American College of Rheumatology (ACR). Vein blood was collected from three female patients with SLE and two healthy female controls. T cells isolated from the blood were cultured and stimulated with 1 µg/mL phytohaemmaglutinin (PHA). Flow cytometry was used to determine the coexpression of CD3 and CD26. CD26 enzyme activities in T cell culture were spectrophotometrically measured using H-Gly-Pro pNA substrate. Collected data were then analyzed using Student’s t test. Decreased coexpression of CD3 and CD26 was lower in blood samples and T cell cultures of SLE female patients than in control. Meanwhile, CD26 enzyme activities in SLE T cell cultures were higher than control (0.042 vs 0.030 U/mL) but no statistical difference was found (p>0.05). In conclusion, there is a decreased coexpression of CD3 and CD26 in blood circulation and T cell cultures subtype CD4+. CD3 and CD26 in SLE patients could be a prospective biomarker. Further research is required to unravel the roles of CD3 and CD26 in SLE pathogenesis. [MKB. 2016;48(3):140–7]Key words: CD3, CD26, systemic lupus erythematosus (SLE) 
Fasting Blood Glucose Levels in Adult Women with Type 2 Diabetes Mellitus and Its Associated Factors Dewi, Dwi Hananta; Probandari, Ari Natalia; Indarto, Dono
Jurnal Keperawatan Soedirman Vol 13, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Keperawatan FIKES UNSOED

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jks.2018.13.3.817

Abstract

AbstractIndonesia has the sixth largest number of people with diabetes in the world. This study aimed to investigate association of age of menarche, duration of diabetes, vitamin c (VC) intake and psychological stress with fasting blood glucose (FBG) levels in adult women with type 2 diabetes mellitus (T2DM). Psychological stress was measured using a STAI questionnaire, while anthropometry, duration of diabetes and age of first menarche were assessed using open questionnaires. Vitamin C intake and FBG level were measured using SQ-FFQ and the hexokinase method respectively. Data were analyzed using Spearman Rank correlation and multiple linear regression tests. A total of 188 adult women with T2DM had mean age 53±5.31 years old, Body Mass Index (BMI) 25±3.76 kg/m2, age at menarche 13.8±1.71 years old, duration of diabetes 4.4±3.38 years and VC 56.9±46.79 mg/day. Body Mass Index (r=-0.190 p=0.011) and VC intake (r=-0.153 p=0.049) were associated with FBG levels. While, age of menarche, duration of diabetes and psychological stress were not associated with FBG levels.AbstrakIndonesia menempati peringkat keenam terbesar jumlah penderita diabetes melitus (DM) di dunia. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan usia menarche, lama menderita DM tipe 2 (DMT2), asupan vitamin c (VC) dan stres psikologis dengan kadar glukosa darah puasa (GDP) pada perempuan dengan DMT2 Stres psikologis diukur menggunakan kuesioner STAI sedangkan data antropometri, lama menderita T2DM dan usia menstruasi dikaji dengan kuisioner terbuka. Asupan vitamin C ditentukan dengan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) dan kadar GDP serum diukur dengan metode hexokinase. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan Korelasi Spearman dan regresi linier ganda. Sebanyak 188 subjek memiliki rata-rata usia 53+5,31 tahun, IMT 25+3,76 kg/m2, lama menderita DMT2 4,4+3,38 tahun, usia mesntruasi 13,8+1,71 tahun dan asupan VC 56,9±46,79 mg/day. Indeks Massa Tubuh (r=-0.190; p=0,011) dan asupan VC (r=-0,153; p=0,049) berhubungan dengan kadar GDP. Sementara itu usia menstruasi, lama menderita DM dan stress psikologi tidak berhubungan dengan kadar GDP.
Drinking Plain Water Before Having Breakfast Lowers Body Weight in Obese Male Adolescents Gracia, Vera Viviana Deo; Indarto, Dono; Tamtomo, Didik Gunawan
Jurnal Keperawatan Soedirman Vol 13, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Keperawatan FIKES UNSOED

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jks.2018.13.3.819

Abstract

ABSTRACTDrinking plain water can increase daily energy expenditure and decrease total energy intake. This study aimed to analyze the effects of drinking plain water before eating steamed rice with high glycemic index (GI) at breakfast, on body weight (BW) and blood glucose level (BGL) in obese male adolescents. Twenty male adolescents aged 15-18 years old and had BMI for age > 85 percentile participated in this randomized control trial study. Ten male students in G1 group drank 250 ml plain water before eating 180 g steamed rice with high GI and 10 male in the other group (G2) drank the same amount of water after eating the same rice for breakfast for 7 days. Paired and independent t tests were used to analyze BW and BGL in both groups with p value < 0.05. Mean BW change in G1 was significantly different from mean BW changes in G2 (p=0.006), whereas mean fasting and 1h after meal BGLs changes of both groups were similar. Drinking water before having breakfast reduces BW in obese male adolescents.ABSTRAKMinum air putih dapat meningkatkan pengeluaran energi harian dan mengurangi total asupan energi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh minum air putih sebelum sarapan nasi kukus dengan indeks glikemik (IG) tinggi terhadap berat badan (BB) dan kadar glukosa darah (KGD) pada remaja putra dengan obesitas. Dua puluh remaja putra berusia 15-18 tahun dan IMT/U > 85 persentil berpartisipasi dalam penelitian randomized control trial study ini. Sepuluh remaja putra kelompok K1 minum 250 ml air putih sebelum sarapan 180 g nasi kukus dengan IG tinggi dan 10 remaja putra kelompok K2 minum air putih dalam jumlah yang sama setelah sarapan nasi yang sama selama 7 hari. Uji t berpasangan dan independen digunakan untuk menganalisis BB dan KGD pada kedua kelompok dengan nilai p <0,05. Rata-rata selisih perubahan BB pada kelompok K1 berbeda secara signifikan daripada rata-rata selisih perubahan BB pada kelompok K2 (p = 0,006) sedangkan rata-rata KGD puasa dan 1 jam posprandial sama pada kedua kelompok. Kesimpulan: Minum air putih sebelum sarapan nasi menurunkan BB pada remaja putra dengan obesitas.
Metformin Enhances Anti-proliferative Effect of Cisplatin in Cervical Cancer Cell Line Ratih D. Yudhani; Riza N. Pesik; Dono Indarto
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.985 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.2.75

Abstract

Cervival cancer is one of the top rank of gynecological malignancy in the world, leading to high morbidity and mortality rates. Cisplatin is a chemotherapeutic agent that is generally used to treat cervical cancer but the use of this drug is limited because of serious side effects. Metformin, a diabetic drug, decreases not only blood glucose levels but also cell viability of some cancer cells. The aim of this study was to investigate the anti-proliferative effect of combination metformin and cisplatin in HeLa cells (cervical cancer cell line). Anti-proliferative effect of these combined drugs was analized using MTT assay, combination index assay and HeLa cell morphology. Inhibitory concentration (IC50) of cisplatin and metformin was determined before performing combination index assay. Administration of 10 mM metformin showed inhibition of HeLa cell proliferation and it reached 50% inhibition of cell proliferation at 60 mM. Whilst, cisplatin showed a stronger anti-proliferative effect with initial inhibition dose at 12 μM and IC50 dose at 44 μM. Combination of 30 mM metformin and 5 μM cisplatin indicated the strongest anti-proliferative effect on HeLa cell. In conclusion, metformin may become a promising drug for treatment of cervical cancer in future which enhances anti-proliferative effect of cisplatin.Key words: Anti-proliferative effect, combination index, cervical cancer, cisplatin, metformin Peningkatan Efek Anti-poliferatif Cisplatin oleh Metformin pada Cell Line Kanker Serviks Kanker serviks merupakan salah satu keganasan ginekologi tertinggi di dunia, dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Cisplatin merupakan obat kemoterapi yang umum digunakan untuk terapi kanker serviks, namun penggunaannya relatif terbatas karena menyebabkan beberapa efek samping yang serius. Metformin merupakan obat anti diabetik yang mampu menurunkan kadar glukosa darah dan juga mampu menurunkan viabilitas beberapa jenis sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek anti-proliferasi kombinasi metformin dan cisplatin pada sel HeLa (cell line kanker serviks). Efek anti-proliferasi kombinasi kedua senyawa tersebut dianalisis melalui MTT assay, combination index assay dan morfologi sel HeLa. Nilai inhibitory concentration (IC50) metformin dan cisplatin pada sel HeLa ditentukan lebih dahulu sebelum melakukan combination index assay. Pemberian metformin 10 mM mulai menunjukkan penghambatan proliferasi sel HeLa dan penghambatan proliferasi sel mencapai 50% pada dosis 60 mM. Cisplatin menunjukkan efek anti-proliferasi yang lebih kuat dengan dosis awal penghambatan sebesar 12 μM dan IC50 sebesar 44 μM. Kombinasi antara metformin 30 mM dan cisplatin 5 μM memperlihatkan efek anti-proliferatif terkuat pada sel HeLa. Sebagai kesimpulan, metformin kemungkinan menjadi obat yang menjanjikan untuk terapi kanker serviks di masa mendatang dengan cara meningkatkan efek anti-proliferasi cisplatin.Kata kunci: Cisplatin, combination index, efek anti-proliferatif, kanker serviks, metformin
PATH ANALYSIS ON THE EFFECTS OF BIO-PSYCHOSOCIAL FACTORS AND CALORIE INTAKE IN BLOOD GLUCOSE CONTROL IN PATIENTS WITH TYPE 2 DIABETES MELLITUS Isfaizah -; Bhisma Murti; Dono Indarto
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: PROSIDING IMPLEMENTASI PENELITIAN PADA PENGABDIAN MENUJU MASYARAKAT MANDIRI BERKEMAJUAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.989 KB)

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a serious chronic disease with the tendency to deteriorate. The DM cases in worldwide in 2015 was 415 million people and it is estimated to increase as many as 642 million people affected in 2040. Indonesia ranked 7 in the world with 10 million cases of DM in 2015, about 90% of which were Type 2 Diabetes Mellitus. This study aimed to determine the effect of biopsychosocial factors and calorie intake on the blood glucose control in patients with Type 2 DM.Subjects and Method: This was an analytic and observational study with case control design. This study was carried out at Internal Medicine Polyclinic, Department of Endocrinology, Dr. Moewardi Hospital, Surakarta, Central Java, from October to November 2016. A total sample of 135 cases of Type 2 DM were selected for this study by fixed disease sampling. As many as 106 of these study subjects at HbA1c ?6.5% and 29 cases of Type 2 DM had HbA1c <6.5%. The dependent variable was HbA1c level. The independent variables were educational level, family income, psychological stress, calorie intake, and Body Mass Index (BMI). The data were collected by a set of questionnaire. HbA1c was measured by High Performance Liquid Chromatography (HPLC), which was recorded in the medical record. Calorie intake was measured by 24 hour food recall. Psychological stress was measured by International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). The data was analyzed by path analysis on STATA 13.Results: Psychological stress (b=0.99, 95%CI=0.07 to 1.92, p=0.034), calorie intake (b= 1.84, 95%CI= -0.24 to 3.92, p=0.083), and BMI (b= 1.15, 95%CI= 0.22 to 2.08, p=0.016), had positive and statistically significant effect on HbA1c. Calorie intake increased BMI (b= 2.35, 95%CI=0.31 to 4.39, p=0.024), education decreased calorie intake (b=-2.26, 95%CI= -3.38 to -1.14, p<0.001), and family income increased calorie intake (b= 1.23, 95%CI= 0.26 to 2.21, p= 0.013). Conclusion: Calorie intake, BMI, psychologi stress, and s family income are associated with increase in HbA1c level. Education decreases HbA1c level via decreased calorie intake. Type 2 DM patients need to pay attention to these biopsychosocial factors and calorie intake in order to control blood sugar.Keywords: Biopsychosocial factors, calorie intake, HbA1c.
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN DAN KADAR INTERLEUKIN-6 DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI STATUS GIZI LEBIH Tri Agustina; Dono Indarto; Sugiarto Sugiarto
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7021

Abstract

ABSTRAKStatus gizi lebih dan anemia merupakan gangguan gizi yang sering muncul pada remaja putri. Remaja putri berisiko tinggi terjadi gangguan gizi tersebut karena cenderung mengalami peningkatan kebutuhan zat gizi, pembatasan pola konsumsi dan penyimpangan pola konsumsi. Asupan protein yang tinggi akan diubah menjadi lemak dan disimpan menjadi jaringan adiposa. Pada status gizi lebih, inflamasi kronik terjadi di jaringan lemak dan terjadi peningkatan sekresi sitokin proinflamasi, seperti interleukin 6 (IL-6). Kadar IL-6 yang tinggi meningkatkan kadar hepsidin, yang dapat menurunkan kadar besi (Fe) dalam sirkulasi. Penelitian ini  bertujuanmenganalisis hubungan antara asupan protein dan kadar IL-6 dengan kadar hemoglobin (Hb) pada remaja putri status gizi lebih.  Data asupan protein menggunakan metode food recall 24 jam dan SQ-FFQ (semi quantitativefood frequency questionare). Kadar IL-6 diukur dengan pemeriksaan ELISA. Kadar Hb diukur dengan metode cyanmethaemoglobin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa asupan protein dan kadar IL-6 tidak berhubungan dengan kadar Hb (p=0,132) dan (p= 0,607). Penelitian selanjutnya diharapkan untuk menganalisis hubungan status gizi lebih pada remaja putri dengan kejadian anemia, seperti kadar hepsidin, globin dan feritin. Kata kunci: Asupan Protein, Kadar IL-6, Kadar Hb, Remaja Putri, Status Gizi Lebih ABSTRACTOvernutritional status and anemia are nutritional disorders that often occur in female adolescents. Female  adolescents are at high risk of nutritional disorders because they tend to experience an enhanchement nutritional needs, restrictions on consumption patterns and eating disorder. High protein intake will be converted into fat and stored into adipose tissue. In overnutrition adolescents, chronic inflammation occurs in fat tissue and also increasing proinflamation sitokin secretion, such as interleukin 6 (IL-6). High levels of IL-6 increases hepsidin levels, and decreases iron (Fe) level in circulation. This study aims to analyze the corelation of protein intake and IL-6 level with haemoglobin level in overnutrition female adolescents. Data of protein intake is taken through 24 hours food recall and SQ-FFQ (semi quantitative-food frequency questionare). IL-6 levels were measured by ELISA while Hb level is obtained thorugh cyanmethaemoglobin method. The results of this study there is no corelation between protein intake and IL-6 level toward Hb level (p=0,132) and (p= 0,607). It is suggested for other researcher to analyze corelation between overnutrition state in female adolescents and anemia symptomps such as hepsidin, globin, and feritin level.Keywords: Protein Intake, IL-6 Levels, Hemoglobin Levels, Adolescent Girls, Overnutritional Status
THE ASSOCIATION OF FAMILY SUPPORT IN FULFILLING HEALTHY NUTRITIOUS FOODS, PROTEIN AND MICRONUTRIENT INTAKE WITH HEMOGLOBIN LEVELS AMONG ELDERLY Luberta Ebta Wiyani; Diffah Hanim; Dono Indarto
Media Gizi Indonesia Vol. 16 No. 3 (2021): JURNAL MEDIA GIZI INDONESIA (NATIONAL NUTITRION JOURNAL)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgi.v16i3.215-223

Abstract

The elderly usually accompanied by many impairments due to decline in organ functioning which have a great impact on their daily intake and leads to anemia. Many elderlies also have mobility impairment which make them become more dependent and need supports from their family. The aim of this study is to investigate the relationship of family support, the daily intake of protein, iron, vitamin C with hemoglobin levels in elderly. This observational analytic study with cross-sectional design was performed in 185 elderlies aged 60-79 years determined using the OpenEpi program. Subjects collected by simple random sampling from chosen Posyandu in Klaten and Sragen districts. The data on daily intake and family support in fulfilling healthy nutritious foods were collected by using a 2x24-hour food recall form and a modified questionnaire from Hanim’s study. Hemoglobin levels were measured from venous blood using Cyanmethhemoglobin method. The data were analyzed using the Pearson test and Multiple Linear Regression test. The prevalence of mild anemia was found in 10.27% women and 5.41% men. Family support (b=0.09, 95%CI:0.003- 0.18), protein intake (b=0.41, 95%CI:0.25-0.57), iron intake (b=0.19, 95%CI:0.96-0.29), vitamin C intake (b=0.10, 95%CI:0.02-0.41) were significantly associated with hemoglobin levels (p<0.05). To conclude, sufficient family support, adequate intake of protein, iron and vitamin C are associated to higher hemoglobin levels.
Co-Authors ., Hudiyono A.A. Ketut Agung Cahyawan W Adam Haviyan Nasrullah Adi Prayitno Afdhaliya, Noor Khalwati Agus Kristiyanto Ahmad Hamim Sadewa Akbar, Muh. Syaiful Alfian Abdul Rajab Ali Djamhuri Ambar Mudigdo Amilia Yuni Damayanti Andina, Puri Dwi Argyo Demartoto, Argyo Ari Natalia Probandari Arief Suryono Arta Farmawati Asti Swari Paramanindita Astri Purwanti Avelia, Annisa Ayusari, Amelya Augusthina Azizah, Shofura Azzumar, Farchan Badri, Baarizah Febriana Balgis . Balgis . Balgis Balgis Balgis Balgis Bambang Purwanto Baruroh, Durotul Bhisma Murti Brian Wasita Brian Wasita Brian Wasita Brian Wasita Brian Wasita Budianto, Pepi Budiyanti Wiboworini Budiyanti, Novita Damayanti, Ana Dandi Sanjaya Dea Linia Romadhoni Dewi, Dwi Hananta Diah Kurnia Mirawati Dian Eka Widyasari Didik Gunawan Tamtomo Didik Gunawan Tamtomo Didik T Subekti Didik Tamtomo, Didik Diffah Hanim Diffah Hanim Diffah Hanim Diffah Hanim Diffah Hanim Dina Okfina Ria Dinar Putri Rahmawati Diyantana, Wawan Endang Sutisna Sulaeman Ernawati Ernawati Eti Poncorini Pamungkasari Eti Poncorini Pamungkasari Fadhila Balqis Nurfitria Fajar Alam Putra, Fajar Alam Fara Ayu Febyawati, Hani Farchan Azzumar Firdaus, Jihan Fista Utami Fitriana Fitriana Gilang Akbar Shobirin Gracia, Vera Viviana Deo Hambarsari, Yetty Hamidi, Baarid Luqman Hani Fara Ayu Febyawati Hartono Hartono Hastami, Yunia Hastuti, Nunik Maya Hermanu Joebagio Heru Sulastomo Herviana, Herviana Hudiyono . Hutabarat, Ervina Arta Jayanti Ida Ayu Putu Sri Widnyani Ida Nurwati Ida Nurwati Inayati Inayati Indah Kusumawati Irma Isnafia Arief Isfaizah Isti Sundari Iwansyah, Ade Chandra Jatmiko Susilo Jatu Aphridasari Jusup, Sinu Andhi Jusup, Sinu Andhi K Kusnandar Kezia Elian Devina Kurniagung, Philipus Prihantiko Kusnandar Kusnandar Kusnandar, K Kusumadewi Eka Damayanti Kusumadewi Eka Damayanti Kusumadewi Eka Damayanti Laksana, Budi Liana, Gladya Lady Lilik Wijayanti Luberta Ebta Wiyani M Rizal Permadi M. Yogi Riyantama Isjoni Mahendra Wijaya Martha Arum Nugraheni Maryati, Warsi Mashuri, Yusuf Ari Mila Ulfia Muchsin Doewes Muhammad, Faizal Muthmainah Muthmainah Nanda Eka Sri Sejati Nasrullah, Adam Haviyan Ningrum, Sri Setiyo NINGRUM, TYAS SARI RATNA Niniek Purwaningtyas NITYASEWAKA, PRATHITA Noor Khalwati Afdhaliya Nor Istiqomah Nor Istiqomah Nor Istiqomah Nugraheni, Martha Arum Nugroho, Anung N. Nunuk Suryani Nurfitria, Fadhila Balqis Nurinasari, Hafi Nurochim, Erna Nurwati, Ida Nurwijayanti Oktaviani, Ratna Pamungkasari, Eti P. Paramasari Dirgahayu Paramasari Dirgahayu Perdana, Muhammad Vidi Pesik, Riza N. Prabaningtyas, Hanindia Riani Prahesti, Ratna Prasetyaningsih, Roh Hastuti Pratama, Yoga Mulia PRATHITA NITYASEWAKA Pratiwi, Ayudhia Purnama, Siswanta Jaka Purwaningsih, Yustina Purwaningtyas, Niniek Puspita, Rumeyda Chitra Putri, Anak Agung Alit Kirti Estuti Narendra Putri, Risma Aliviani R. Aj. Sri Wulandari Rahardjo, Setyo Sri Rahardjo, Setyo Sri RAJ Sri Wulandari Ratih D. Yudhani Ratna Kusumawati Ratna Kusumawati Ratna Oktaviani Retiyansa, Yesi Retiyansa, Yesi Reviono Reviono Ristinawati, Ira Risya Cilmiaty AR Risya Cilmiaty, Risya Rivan Danuaji Riza N. Pesik Riza Novierta Pesik Riza Novierta Pesik RUBEN DHARMAWAN Sajidan Sarah Safira Umarghanies Sari, Septi Ayu Arum Yuspita Satriani, Hayu Andita Sejati, Nanda Eka Sri Selfi Handayani Selfi Handayani Sena, Anantha Setyaningrum, Th. Catur Wulan Setyo Sri Rahardjo Shanti Listyawati Shanti Listyawati Sinu Andhi Jusup Sinu Andhi Jusup, Sinu Andhi Soetrisno Soetrisno Soetrisno Sri Sulistyowati Sri Wulandari Sri Wulandari Sugiarto - Sugiarto S Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sulastomo, Heru Suminah Suminah Sunarto Tetes Lugito Sundari, Isti Suradi Suradi SUROTO SURYAWATI, BETTY Susanti, Rahmah Purwaningsih Febri Suselo, Yuliana Heri Suselo, Yuliana Heri Suselo, Yuliana Heri SUSELO, YULIANA HERI Susilawati, Eva Tamtomo, Didik Gunawan Tantri Febriana Putri Tedjo, Raden Andi Ario Tejomukti, Teddy Thesman, Inggrit Bela Tiyas, Dwi Wahyuning Tonang Dwi Ardyanto Tri Agustina Tri Agustina, Tri Tri Harsono Tri Harsono Tri Nugraha Susilawati Ulfia, Mila Umarghanies, Sarah Safira Utami, Agustina Dwi Vitri Widyaningsih Vitria Sari Dewi Vitria Sari Dewi Wahyuni, Ardianti Wardhani, Lusi Oka Wariyanti, Astri Sri Widiasih, Ghina Widya Kaharani Putri Widyanti, Fera Wijayanti, Poppy Winda Rizki Pebrina Batubara Wulandari, R. AJ. Sri Wulandari, RAJ Sri Yarso, Kristanto Y. Yatty Destani Sandy Yoga Mulia Pratama Yudhani, Ratih D. yulia lanti retno dewi Yuliana Heri Soesilo Yuliana Heri Soesilo Yuliana Heri Soesilo Yuliana Heri Suselo Yuliana Heri Suselo Yunilla Prabandari Yusrizal, Mirza