cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL PHARMASCIENCE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmascience memuat naskah hasil penelitian dan artikel review bidang kefarmasian. Naskah dapat berasal dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan lembaga riset. Setiap naskah yang diterima redaksi Jurnal Pharmascience akan ditelaah oleh Mitra Bebestari dan Anggota Redaksi. Jurnal Pharmascience terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu Februari dan Oktober. Redaksi menerima pemesanan Jurnal Pharmascience untuk berlangganan atau pembelian setiap terbitan. ISSN-Print : 2355-5386. ISSN-Online : 2460-9560. Telp. (0511) 4773112. Fax. (0511) 4782899. CP: 0852-924-65264. Email: jps@unlam.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
PREVALENSI KEJADIAN BERPOTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN INTENSIVE CARE UNIT (ICU) DI RSUD ULIN BANJARMASIN TAHUN 2012 Arnata, Azhar; Cahaya, Noor; Intannia, Difa
JURNAL PHARMASCIENCE Vol 1, No 1 (2014): JURNAL PHARMASCIENCE
Publisher : JURNAL PHARMASCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

INTISARIKondisi klinis pasien ICU yang kompleks menyebabkan penggunaan obat yang banyak yang mengarah terjadinya interaksi obat potensial. Tujuan penelitian yaitu mengetahui persentase pasien ICU RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2012 yang mengalami interaksi obat potensial secara umum dan ditinjau dari kelompok umur pasien, jumlah obat yang diberikan, tingkat keparahan interaksi obat, dan mekanisme interaksi obat yang terjadi. Digunakan metode penelitian deskriptif denan pengambilan data secara retrospektif. Data diambil dari rekam medik pasien ICU RSUD Ulin Bnajarmasin Tahun 2012. Jumlah sampel yang didapatkan 297 orang yang terdiri atas 249 orang dewasa dan 48 orang geriatri. Prevalensi pasien ICU RSUD Ulin tahun 2012 yang mengalami kejadian interaksi obat potensial sebesar 95,96%. Berdasarkan kelompok umur, 96,8% terjadi pada kelompok dewasa dan 91,7% pada kelompok geriatri. Berdasarkan jumlah obat, 90,80% terjadi pada kelompok jumlah obat ≤ 5 obat dan 98,09% pada kelompok jumlah obat > 5 obat. Berdasarkan tingkat keparahan: 34,01% pasien pada tingkat keparahan Major; 71,38% pasien pada tingkat keparahan Moderate; dan 76,43% pasien pada tingkat keparahan Minor. Berdasarkan mekanisme interaksi: 4,7% pada inkompatibilitas obat, 74,07% pada farmakodinamik, 66,67% pada farmakokinetik obat, dan 35,69% pasien pada mekanisme tak diketahui. Prevalensi kejadian berpotensi interaksi obat pasien ICU RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2012 sebesar 95.96% (N=297).Kata kunci: interaksi obat potensial, intensive care unit.ABSTRACTComplexity clinical condition of ICU patient that uses many drug to leads potential drug interaction occurrence. Aim of this research were determined percentage of ICU RSUD Ulin patient in 2012 who had potential drug interaction in general and specifically in age group, drug total, severity, and mechanism term. Data taken from medical record retrospectively and analyzed by literature studies. Total sample were analyzed 297 that consist of 247 adult and 48 geriatric.Result: In general, 95,96% (N=297) patient had potential drug interaction. In age group term, 96,8% in adult group and 91,7% in geriatric group. In drug total term, 90,80% in ≤ 5 group and 98,09% in > 5 group. In severity term, 34,01% patient had Major; 71,38% patient had Moderate; and 76,43% had Minor. In mechanism term, 4,7% in incompatibility; 74,07% in pharmacodynamic; 66,67% in pharmacokinetic; and 35,69% in unknown mechanism.Keyword: potential drug interaction, intensive care unit
Formulasi Tablet Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaja L.) dengan Bahan Pengikat Polyvinylpyrrolidone (PVP) Herawati, Mutiara; Syukri, Yandi; Chabib, Lutfi
JURNAL PHARMASCIENCE Vol 1, No 2 (2014): JURNAL PHARMASCIENCE
Publisher : JURNAL PHARMASCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak             Selama ini daun pepaya (Carica papaja L.) hanya digunakan sebatas sebagai sayuran pelengkap makanan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dapat digunakan untuk pengobatan antikanker. Ekstrak daun pepaya diperoleh dari metode penyarian maserasi dengan menggunakan cairan penyari etanol. Sediaan tablet ekstrak daun pepaya diharapkan dapat menjadi alternatif pengobatan antikanker yang mudah dikonsumsi oleh masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi Polyvinylpirrolidone (PVP) sebagai bahan pengikat sehingga didapatkan formula sediaan tablet dengan karakterisktik tablet yang baik. PVP berperan dalam meningkatkan gaya kohesifitas serbuk atau granul, sehingga jika dikompresi akan membentuk massa yang kohesif dan kompak sebagai tablet. Tablet dibuat 3 formula variasi bahan pengikat PVP (4%; 6%; 8%) dengan metode granulasi basah. Granul diuji waktu alir, sudut diam, pengetapan, dan Carrs Index sedangkan tablet diuji keseragaman bobot dan ukuran, kerapuhan, kekerasan, dan waktu hancur. Hasil uji sifat fisik tablet menunjukkan bahwa meningkatnya variasi kadar pengikat PVP tidak berpengaruh pada kekerasan dan kerapuhan tablet, tetapi menyebabkan waktu hancur semakin lama. Formula I dengan bahan pengikat PVP 4% merupakan formula yang paling baik karena memiliki nilai kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur yang relatif lebih baik dibandingkan formula lain. Kata kunci : ekstrak daun pepaya, Carica papaja L., antikanker, PVP. AbstractThe use of papaya’s leaf (Carica papaja L.) is only consumed as vegetable to complete the main food. Based on previous research, the result showed that extract of papaya’s leaf can be used for anticancer treatment. That’s why the preparation tablet of extract of papaya’s leaf is hoped to be the alternative of anticancer treatment which are easily to the patients who consume it. The purpose of this research is to obtain the formulation of the tablet by knowing the optimal concentration of PVP as a binding material in producing the best physical characteristic of the tablet it self. PVP plays role in improving the cohesiveness, so as it is compressed, then it will form the cohesive and compact as a tablet. The tablets were made from 3 formula with the PVP binding-material variation (4%, 6%, 8%) using the wet granulation method. Granules obtained were tested in the flow time, angle of repose, tapping, and Carrs Index. Tablet that was finally processed then its physical properties included uniformity of weight and size, friability, hardness, and disintegration time. The result of the test shows the characteristic physical tablet indicated the raising of binding level of PVP variation does not affect the hardness and friability of the tablets, but giving an effect related to the longer the disintegration time. Formula I which contains combination of PVP 4% is the best tablet formula compare to the other formula. Key words : papaya’s leaf extract, Carica papaja L., anticancer, PVP.
Perbandingan Pengaruh Penggunaan Layanan Pesan Singkat Pengingat dan Aplikasi Digital Pillbox Reminder Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Hipertensi RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin Alfian, Riza; Wardati, Zakiah
JURNAL PHARMASCIENCE Vol 3, No 1 (2016): JURNAL PHARMASCIENCE
Publisher : JURNAL PHARMASCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko pada penyakit kardiovaskular dan ginjal. Kalimantan Selatan menempati urutan kedua yaitu sebesar 30,8% sebagai prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia. Ketidakpatuhan terhadap terapi hipertensi merupakan faktor yang dapat menghambat pengontrolan tekanan darah, sehingga memerlukan intervensi untuk membantu meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan pengaruh pemberian pesan singkat pengingat dan penggunaan aplikasi digital pillbox reminder terhadap kepatuhan serta hasil terapi pasien hipertensi rawat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan kuasi-eksperimental dengan pengambilan data secara prospektif selama periode April-Mei 2015. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 40 pasien hipertensi dibagi menjadi dua kelompok yaitu 25 pasien (62,5%) yang mendapatkan intervensi berupa pesan singkat pengingat dan 15 pasien (37,5%) yang mendapatkan intervensi digital pillbox reminder. Kriteria eksklusi adalah pasien dengan kondisi tuli dan buta huruf. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara dan pengisian kuesioner kepatuhan MMAS. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian layanan pesan singkat pengingat dan aplikasi digital pillbox reminder dapat meningkatkan kepatuhan pre study 4,79±2,04 dan 5,02±2,30 menjadi 6,09±1,42 dan 7,23±0,99 pada post study dengan nilai p 0,00. Rata-rata peningkatan kepatuhan pada kelompok pesan singkat pengingat 1,30±1,30 dan aplikasi digital pillbox reminder 2,22±1,60 tidak berbeda signifikan (p=0,055). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pesan singkat pengingat dan digital pillbox reminder pada pasien hipertensi dapat meningkatkan kepatuhan pasien minum obat tetapi tidak berbeda signifikan antara kedua kelompok ini.(p>0,05). Kata Kunci — Hipertensi, layanan pesan singkat pengingat, digital pillbox reminder, kepatuhan
Profil dan Evaluasi Terapi Anemia pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura Periode Juli-Oktober 2014 Sari, Nori Lovita; Srikartika, Valentina Meta; Intannia, Difa
JURNAL PHARMASCIENCE Vol 2, No 1 (2015): JURNAL PHARMASCIENCE
Publisher : JURNAL PHARMASCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan suatu penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya anemia karena ketidakmampuan ginjal memproduksi eritropoetin. Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil terapi anemia serta mengevaluasi terapi anemia pasien GGK yang menjalani hemodialisa di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura. Metode penelitian ini bersifat prospektif yang dilakukan selama bulan Juli-Oktober 2014. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari 215 data pemeriksaan laboratorium pasien GGK terdapat 99,1 % kejadian anemia dan hanya 65,1 % saja yang mendapatkan terapi anemia. Terapi anemia yang diberikan yaitu untuk terapi tunggal seperti eritropoietin sebesar 8,5 %; vitamin B kompleks sebesar 21,8 %; vitamin B1 sebesar 1,5%; dan transfusi darah sebesar 11,2 %; untuk terapi kombinasi 2 obat yang diberikan yaitu vitamin B kompleks dengan eritropoeitin α sebesar 52,9 %; vitamin B kompleks dengan vitamin B1 sebesar 2,7 %; Vitamin B kompleks dengan transfusi darah sebesar 0,6 %; sedangkan untuk terapi 3 kombinasinya yaitu vitamin B kompleks, eritropoietin dan transfusi darah sebesar 0,9 %; Evaluasi terapi anemia pada pasien GGK yang menjalani hemodialisa belum sesuai dengan pedoman terapi yaitu pemeriksaan laboratorium yang kurang lengkap seperti jumlah retikolosit absolut, serum transferin saturation (TSAT), serta serum vitamin B12 serta asam folat, selain itu masih terdapat pemberian terapi anemia yang tidak mempertimbangkan kondisi pasien. Kata Kunci : Terapi Anemia, GGK, Hemodialisa Abstract A Chronic Kidney Disease (CKD) is a disease that can lead to anemia because of the inability of the kidney to produce erythropoietin. This study aimed to observe the pattern of anemia therapy and to evaluate the therapy anemia of Chronic Kidney Disease patients conducting hemodialysis at Ratu Zalecha Hospital Martapura. This study was conducted prospectively from July to October 2014. Based on the results it could be concluded that from 215 patients’ laboratory check-up data there were 99.1% prevalence of anemia and of those only 65.1% got anemia therapy. The applied anemia therapies for singular therapy were erythropoietin at the amount of 8,5 %; vitamin B complex at the amount of 21.8 %; vitamin B1 at the amount of 1.5 % and blood transfusion at the amount of 11.2 %; for the combined therapies the applied 2 medicines were iron with erythropoietin at the amount of 52.9 %; vitamin B complex with vitamin B1 at the amount of 2.7%; vitamin B complex with blood transfusion at the amount of 0.6%; whereas the 3 combination therapy was vitamin B complex, erythropoietin and blood transfusion at the amount of 0.9 %. The evaluation of anemia therapy Chronic Kidney Disease patients conducting hemodialysis was not completely appropriate as instructed in therapy manual such less comprehensive laboratorium check-up such us absolute reticoloycte, serum transferin saturation (TSAT), serum vitamin B12 and folate acid, aside from that many treatments which not considered with the patients’ condition. Keywords : Therapy Anemia, CKD, Hemodialysis
UJI PELEPASAN DAN AKTIVITAS GLUTATION SEDIAAN KRIM TIPE A/M MENGGUNAKAN CERA ALBA Murniati, Hidayah; Sari, Destria Indah
JURNAL PHARMASCIENCE Vol 1, No 1 (2014): JURNAL PHARMASCIENCE
Publisher : JURNAL PHARMASCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

INTISARIGlutation tereduksi (GSH) adalah “master antioxidant”, antioksidan yang melindungi sel terhadap stres oksidatif. GSH merupakan tripeptida yang tersusun atas asam amino sistein, asam glutamat, dan glisin. Krim tipe air dalam minyak (A/M) membuat GSH yang bersifat hidrofilik lebih mudah lepas dari krim. Salah satu bahan yang digunakan dalam sediaan krim adalah cera alba yang berfungsi sebagai peningkat konsistensi. Cera alba membuat krim bertahan lama di kulit dan memberikan proteksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi cera alba yang menghasilkan pelepasan paling besar dan efektivitas antioksidan paling besar dari GSH dalam sediaan krim tipe A/M. Variasi konsentrasi cera alba untuk masing-masing formula sebesar 5%, 10% dan 15%. Uji pelepasan GSH secara in vitro selama 4 jam. Area Under Curve (AUC) digunakan sebagai parameter kuantitatif dari uji pelepasan secara in vitro. Efektivitas antioksidan dari sediaan krim GSH tipe A/M diuji secara in vitro menggunakan metode DPPH. Berdasarkan analisis statistik (P>0,05), menunjukkan perbedaan konsentrasi cera alba tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pelepasan dari GSH. Konsentrasi cera alba sebesar 5% menghasilkan pelepasan paling besar dan efektivitas antioksidan paling besar dari GSH.Kata Kunci : Glutation, cera alba, pelepasan obat, uji antioksidan DPPHABSTRACTMost of the disease preceded by excessive oxidation reactions in the body, excessive oxidation leads to oxidative stress. Reduced Glutathione (GSH) is “Master Antioxidant”, protects cells against oxidative stress. GSH is tripeptide composed of the amino acids cysteine, glutamic acid, and glycine. GSH is a hydrophilic drug, water in oil (W/O) cream used to improve the release of hydrophilic drug. One of the ingredients that used in the cream is cera alba as stiffening agent. Cera alba make the cream long lasting on the skin and give protection. The objectives of this research was to determine concentration of cera alba which produces the highest release and the highest antioxidant efectivity of GSH in W/O cream. The variation of concentration of cera alba for each formula are 5%, 10% and 15%. In vitro release of GSH was performed for 4 hours. Area Under Curve (AUC) used as a quantitative parameter of release in vitro. Antioxidant efectivity of GSH in W/O cream examined using DPPH. Based on statistical analysis (P>0.05), different concentration of cera alba does not has significant influence on the release of GSH. Five percents concentration of cera alba was yield the highest released and the highest antioxidant efectivity of GSH.Keywords : Glutathione, cera alba, drug release, antioxidant test DPPH
ANALISIS KADAR ASAM LEMAK BEBAS DALAM MINYAK HASIL PENGGORENGAN BERULANG DENGAN METODE TITRASI ASAM BASA DAN SPEKTROFOTOMETER FOURIER TRANSFORMATION INFRA RED (FTIR) Alfiani, Selamat; Triyasmono, Liling; Ni’mah, Malikhatun
JURNAL PHARMASCIENCE Vol 1, No 1 (2014): JURNAL PHARMASCIENCE
Publisher : JURNAL PHARMASCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

INTISARIProses penggorengan berulang pada minyak goreng akan menyebabkan terbentuknya asam lemak bebas. Asam lemak bebas dapat dianalisis menggunakan metode titrasi asam basa dengan NaOH 0,05 M sebagai titran dan menggunakan FTIR (Fourier Transform Infra Red) yang didasari pada absorbansi dari gugus asam lemak bebas. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan peningkatan kandungan asam lemak bebas dan menunjukkan pemakaian yang masih memenuhi standar mutu. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak kelompok (RAK). Pengelompokan sampel sebanyak 2 kelompok dengan masing-masing pengulangan penggorengan ke-0, ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5. Hasil analisis kadar menggunakan titrasi asam basa untuk minyak goreng bermerek dari penggorengan ke-0 sampai ke-5 berturut-turut sebagai berikut 0,18 mgOH/g; 0,29 mgOH/g; 0,37 mgOH/g; 0,47 mgOH/g; 0,50 mgOH/g; 0,53 mgOH/g, untuk minyak goreng curah dari penggorengan ke-0 sampai ke-5 berturut-turut sebagai berikut 0,49 mgOH/g; 0,52 mgOH/g; 0,58 mgOH/g; 0,69 mgOH/g; 0,76 mgOH/g; 0,81 mgOH/g. Hasil analisis menggunakan FTIR menunjukkan ada peningkatan nilai absorbansi pada gugus fungsi C=O (1743 cm-1) asam lemak bebas pada penggorengan ke-3 dan ke-4. Kesimpulan penelitian ini terdapat peningkatan kadar pada pengulangan penggorengan dan pemakaian berulang yang masih memenuhi standar mutu pada pengulangan ke-5 untuk minyak goreng bermerek dan dua kali pengulangan untuk minyak goreng curah.Kata kunci: Asam lemak bebas, minyak goreng, titrasi asam basa, FTIR.ABASTRACTThe process of repeated frying in cooking oil will cause the formation of free fatty acids. Free fatty acids can be analyzed using the method of acid-base titration using 0.05 M NaOH as titrant and FTIR (Fourier Transform Infra Red), which is based on the atomic bonding of free fatty acid group. The purpose of this study was to determine the increase on free fatty acid content and demonstrate the use of which is still safe to use. This study used an experimental method with a plan randomized group (RAK). The samples was divided into 2 groups, with each repetition of the frying of 0, 1st, 2nd, 3rd, 4th, 5th. The results of the analysis using acid-base titration levels for branded cooking oil from the frying of 0 to 5th repetition in a row following as 0.18 mgOH/g; 0.29 mgOH/g; 0.37 mgOH/g; 0.47 mgOH/g; 0.5 mgOH/g; 0.53 mgOH/g, for the cooking oil from the frying of 0 to 5th repetition in a row following as 0.49 mgOH/g; 0.52 mgOH/g; 0.58 mgOH/g; 0.69 mgOH/g; 0.76 mgOH/g; 0.81 mgOH/g. The results of the analysis using FTIR showed difference in the absorbance values of functional groups C=O (1743 cm-1) of free fatty acids in the frying of the 3rd and 4th repetition. This study conclude there is the increase on free fatty acid level in repetition of frying and the repeated cooking oil consumption safety limit on 5 times repetition for gianded cooking oil and 2 times repetition for bulk cooking oil.Keywords: free fatty acids, edible oils, acid-base titration, FTIR.
Evaluasi Obat-Obatan Berpotensi Hepatotoksik pada Pasien Dengan Gangguan Fungsi Hepar di Ruang Rawat Inap RSUD Ulin Banjarmasin Cahaya, Noor; Safitri, Arita Rahmadani Mutia
JURNAL PHARMASCIENCE Vol 1, No 2 (2014): JURNAL PHARMASCIENCE
Publisher : JURNAL PHARMASCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak            Kerusakan hati disebabkan oleh obat merupakan masalah klinis yang sangat berbahaya. Penggunaan obat yang berpotensi hepatotoksik pada pasien dengan gangguan fungsi hepar dapat meningkatkan resiko kerusakan hati. Penelitian ini bertujuan menentukan persentase pasien dengan gangguan fungsi hepar yang diberikan obat yang berpotensi hepatotoksik, menentukan jenis obat yang berpotensi hepatotoksik pada pasien dengan gangguan fungsi hepar, dan menghitung persentase pasien dengan gangguan fungsi hepar yang mendapatkan perlakuan khusus ketika menggunakan obat yang berpotensi hepatotoksik di ruang rawat inap RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan cross-sectional dan analisis data secara deskriptif. Hasil dari penelitian diperoleh total dari 72 subjek penelitian diketahui sebanyak 70 orang (97,22 %) menggunakan obat yang berpotensi hepatotoksik. Obat yang berpotensi hepatotoksik yang paling banyak digunakan adalah ranitidin (82,86%), furosemid (38,57%), seftriakson (30,00%), ondansetron (17,14%), dan metoklopramid (17,14%). Subjek penelitian pengguna obat yang berpotensi hepatotoksik yang mendapatkan perlakuan khusus sebanyak 60 orang (85,71%) dan tidak mendapat perlakuan khusus sebanyak 10 orang (14,29%). Kesimpulan yang didapat dari penelitian adalah pasien dengan gangguan fungsi hepar yang diberikan obat berpotensi hepatotoksik sebesar 97,22% dengan jumlah terbanyak adalah obat ranitidin dan pasien gangguan fungsi hepar yang diberikan obat berpotensi hepatotoksik mendapatkan perlakuan khusus cukup besar yaitu sebesar 85,71%.Kata kunci: hepatotoksik, gangguan fungsi hepar AbstractDrug induced liver injury is clinical problem that extremely dangerous. The use of potentially hepatotoxic drugs in patients with hepatic function disorder increase the risk of liver injury. The studi was conducted to calculate the percentage of patients with hepatic function disorder who use potentially hepatotoxic drugs, determine potentially the kinds of hepatotoxic drugs that most widely used by patients with hepatic function disorders, calculate the percentage of patients with hepatic function disorder who get special treatment when using potentially hepatotoxic drugs in the inpatient general hospital Ulin Banjarmasin in 2013. Information were collected retrospective in 2013 from the patient’s medical record. A total of 72 patients research subjects were discovered 70 patients (97,22%) using potentially hepatotoxic drugs. Potentially hepatotoxic most widely used were ranitidine (82,86%), furosemide (38,57%), ceftriaxone (30,00%), ondansentron (17,14%), and metoclopramide (17,14%). Research subject user were potentially hepatotoxic drugs who get special treatment as many as 60 people (85,71%) and did not get it as many as 10 people (14,29%). Most patients of potemtially hepatotoxic drugs user decreased liver function parameters. Keyword : hepatotoxic drugs, hepatic disorders.
Profil Penurunan Kadar Glukosa Darah Ekstrak Air Rambut Jagung (Zea Mays L.) Tua dan Muda Pada Mencit Jantan Galur Balb-C Ramadani, Finlinda Hery; Intannia, Difa; Ni’mah, Malikhatun
JURNAL PHARMASCIENCE Vol 3, No 1 (2016): JURNAL PHARMASCIENCE
Publisher : JURNAL PHARMASCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rambut jagung mengandung flavonoid. Kandungan total flavonoid dipengaruhi oleh usia tanaman. Flavonoid memiliki potensi sebagai antihiperglikemia. Penelitian bertujuan untuk melihat profil penurunan kadar glukosa darah ekstrak air rambut jagung tua dan muda pada mencit jantan galur Balb-C yang diinduksi aloksan. Penelitian bersifat eksperimental dengan rancangan posttest only control group design. Ekstrak dibuat dengan merebus rambut jagung menggunakan air selama 30 menit. Total flavonoid ditentukan dengan metode AlCl3. Aktivitas penurunan kadar glukosa darah dilakukan dengan metode tes toleransi glukosa oral terhadap mencit jantan galur Balb-C yang diinduksi aloksan secara intraperitonial (140 mg/kgBB). Sebanyak 20 hewan uji dibagi menjadi kelompok kontrol positif (Akarbose 0,1305 mg/20 gBB), kontrol negatif (NaCMC 1%), ekstrak air rambut jagung tua (200 mg/kgBB) dan ekstrak air rambut jagung muda (200 mg/kgBB) yang diberi perlakuan secara oral. Kadar glukosa darah diukur pada menit ke 0, 30, 60, 90, 120, 150, dan 180 pasca pembebanan glukosa oral. Data persen penurunan kadar glukosa darah dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Persen penurunan kadar glukosa darah ekstrak air rambut jagung tua dan muda tidak berbeda bermakna (p>0,10). Ekstrak air rambut jagung muda menurunkan kadar glukosa darah sejak menit ke-90 pasca pemberian glukosa oral dengan persen penuran sebesar 44,55 ± 4,92%. Sedangkan ekstrak air rambut jagung tua menurunkan kadar glukosa darah sejak menit ke-120 pasca pemberian glukosa oral dengan persen penurunan sebesar 30,15 ± 7,25%. Kata kunci: rambut jagung tua, rambut jagung muda, flavonoid, kadar glukosa darah
Daya Larut Ekstrak Etanol Daun Kembang Bulan (Tithonia diversifolia) Terhadap Batu Ginjal Kalsium Secara In Vitro Triyasmono, Liling; Suhartono, Eko
JURNAL PHARMASCIENCE Vol 2, No 1 (2015): JURNAL PHARMASCIENCE
Publisher : JURNAL PHARMASCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak            Telah dilakukan penelitian tentang daya larut ektrak etanol daun kembang bulan (Tithonia diversifolia) terhadap batu ginjal kalsium secara in vitro. Identifikasi flavonoid dilakukan dengan KLT menghasilkan senyawa yang terkandung adalah jenis flavon, sedangkan uji kualitatif batu ginjal dengan difraktometer sinar X dan FTIR menunjukkan bahwa batu ginjal yang digunakan adalah jenis kalsium oksalat. Ekstrak dibuat dengan 3 konsentrasi berbeda yaitu 0,125%, 0,25%, dan 0,5%. Batu ginjal kemudian dimasukkan sebanyak 100 mg ke dalam masing-masing konsentrasi dan diinkubasi selama 6 jam (37oC). Hasil filtrat didestruksi dan diukur kadar kalsium menggunakan spektrofotometer serapan atom pada l 422,7 nm. Hasil pengukuran rata-rata konsentrasi kalsium yang terlarut dalam ekstrak etanol pada konsentrasi 0,125%, 0,25%, dan 0,5% adalah 0,2893 ppm, 0,8809 ppm, dan 0,0554 ppm. Hasil uji  Kruskal-Wallis diperoleh (nilai sig sebesar 0,027 < 0,05) dan disimpulkan bahwa konsentrasi kalsium terlarut dalam masing-masing konsentrasi ekstrak etanol yang dibuat berbeda signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun Kembang Bulan dapat melarutkan batu ginjal kalsium secara in vitro. Konsentrasi 0,25% memiliki daya larut batu ginjal kalsium in vitro yang paling tinggi. Kata kunci:    Batu ginjal kalsium, Kembang Bulan (Tithonia diversifolia), daya larut ekstrak etanol, spektrofotometer serapan atom AbstractIn vitro solubility activity test of ethanol extract of mexican sunflower leaves (Tithonia diversifolia) on calcium kidney stone has been carried out. Identification of flavonoids by TLC showed that a compound contained is kind of flavon, while qualitative test of kidney stones by X-ray diffraction and FTIR showed that the kidney stone is  type of calcium oxalate. The variation of ethyl acetate fraction was made at concentration of 0.125; 0.25; 0.5 % (w/v). Each ethanol extract was added 100 mg of kidney stone and incubated for 6 hours at a temperature of 37oC. Filtrate is destructed and measured of calcium concentration was measured using atomic absorption spectrophotometer at l 422.7 nm. The average of result measurement of calcium concentration dissolved in ethyl acetate concentration of 0.125; 0.25; 0.5 % (w/v)  is 0.2893; 0.8809; and 0.0554 ppm. Based on Kuskal Wallis test, obtained (sig=0.027<0.05). It can be concluded that the dissolved calcium concentration in each ethanolic extract were significantly different. Ethanolic exctract  0.25% has the largest ability in dissolving calcium kidney stones in vitro. Keywords:       Calcium kidney stones, Tithonia diversifolia, solubility, ethanolic extract, Atomic Absorbtion Spectroscopy 
STUDI INTERAKSI DEKOKTA BAWANG PUTIH (Allium sativum) DAN PARASETAMOL PADA MENCIT JANTAN (Mus Musculus) (TINJAUAN TERHADAP EFEK ANALGETIK) Parikesit, Epri Wing; Intannia, Difa; Kartiko, Jasmadi Joko
JURNAL PHARMASCIENCE Vol 1, No 1 (2014): JURNAL PHARMASCIENCE
Publisher : JURNAL PHARMASCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

INTISARISekitar 175 juta tablet parasetamol dikonsumsi masyarakat Indonesia setiap tahunnya ketika muncul nyeri dan demam karena mudah didapat dan harganya terjangkau. Bawang putih (Allium sativum) merupakan bahan yang cukup sering digunakan baik sebagai obat herbal atau sebagai bumbu masakan. Bawang putih diketahui efektif dalam menginhibisi enzim sitokrom P-4502E1 yang berperan dalam mempengaruhi metabolisme parasetamol. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian bawang putih terhadap efek analgetik parasetamol pada mencit (Mus musculus). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dan metode pengujian analgetik menggunakan metode geliat yang diinduksi dengan asam asetat 0,5% v/v secara intra peritoneal 15 menit setelah pemberian perlakuan. Parameter pengamatan berupa jumlah geliat setiap 5 menit selama 60 menit. Mencit yang digunakan sebanyak 25 ekor yang dibagi dalam 5 kelompok perlakuan, yaitu kelompok I untuk kontrol negatif (akuades), kelompok II untuk kontrol positif (parasetamol 65,25 mg/Kg BB), dan tiga kelompok yang lain diberi perlakuan dengan dekokta bawang putih dengan konsentrasi masing-masing 5%; 10% dan 20% dan parasetamol 65,25 mg/Kg BB secara per oral. Dekokta bawang putih pada kelompok uji diberikan 24 jam sebelum pengujian dan pada saat pengujian. Data diperoleh berupa jumlah geliat kumulatif mencit kemudian dihitung persen proteksi nyeri dianalisis statistic dengan One-Way ANOVA, dilanjutkan uji Post Hoc dengan taraf kepercayaan 95% . Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan dekokta bawang putih berpengaruh secara bermakna (p<0,05) pada konsentrasi 10% dan 20% terhadap peningkatan aktivitas efek analgetik parasetamol.Kata Kunci: interaksi, analgetik, dekokta, bawang putih, parasetamolABSTRACTAbout 175 million paracetamol tablet used in Indonesian when pain and fever because easy to get and economist. Garlic (Allium sativum) is known to be effective in inhibiting cytochrome P - 4502E1 enzyme which plays a role in influencing the metabolism of paracetamol. The purpose of this study was to determine the effect of garlic on analgesic effect of paracetamol in mice (Mus musculus). This study used completely randomised design and analgesic testing methods used writhing methods that induced by acetic acid of 0.5 % v / v intra- peritoneal administration 15 minutes after treatment with the observation of parameters such as the amount of writhing every 5 minutes for 60 minutes. Mice which were used as many as 25 mice and divided into 5 groups, namely Group I for the negative control (aquadest), group II for the positive control (paracetamol of 65.25 mg / kgBB), and three other groups treated with garlic dekokta with concentrations of 5 %, 10 %, and 20 % and paracetamol of 65.25 mg / kgBB orally basis. Garlic dekokta in the test group was given 24 hours before the test and during the test. Data were obtained in the form of twisted cumulative number of mice were then calculated the pain protection percent and were analyzed by One- Way ANOVA, followed by Post Hoc test with test level of 95 %. The analysis showed that the addition of garlic dekokta affect significantly (p < 0.05) at concentrations of 10 % and 20 % to the raising activity of paracetamol analgesic effect.Key words : interaction, analgesic, dekokta, garlic, paracetamol