cover
Contact Name
Pudyastuti Kusumaningrum
Contact Email
mot.farmasi@ugm.ac.idm
Phone
-
Journal Mail Official
mot.farmasi@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Obat Tradisional
ISSN : 14105918     EISSN : 24069086     DOI : -
Core Subject : Health,
raditional Medicine Journal (Majalah Obat Tradisional), or Trad. Med. J. (ISSN 1410-5918 (print) and ISSN 2406-9086 (online)), is an international scientific journal published by Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada, three times annually. Collaborating with Indonesian Pharmacist Association, Daerah Istimewa Yogyakarta, and we dedicate our journal to researches and development in traditional medicine. The journal receives papers on research laboratory, field research, and case studies of traditional medicine and its constituent, covering research topics including raw materials, cultivation, phytochemical, pharmacological effects and toxicology, formulation, and biotechnology.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 16, No 1 (2011)" : 6 Documents clear
UJI SITOTOKSISITAS, ANTIPROLIFERATIF, DAN PENGARUHNYA TERHADAP EKSPRESI P53 DAN BCl2 DARI FRAKSI ETANOL INFUSA DAUN TEH (Camellia sinensis (L.) O.K.) TERHADAP SEL HeLa Nurani, Laela Hayu
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.058 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss1pp%p

Abstract

Daun teh (Camellia sinensis  (L.) O.K.) merupakan salah satu bahan alam yang digunakan masyarakat untuk pengobatan tradisional sebagai antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek sitotoksisitas, antiproliferatif, dan mekanisme terhadap p53 dan bcl-2  dari fraksi etanol infusa daun teh (Camellia sinensis  (L.) O.K.). Daun teh yang diperoleh, diekstraksi dengan cara infundasi dan difraksinasi dengan pelarut etanol. Uji sitotoksisitas dilakukan dengan menginkubasi sel HeLa dengan kepadatan 2.104 dengan perlakuan ekstrak kadar 250 µg/mL; 125  µg/mL; 62,5; 31,25; 15,63; dan 7,81 µg/mL selama 24 jam. Uji antiproliferatif dilakukan dengan menghitung  jumlah sel hidup pada perlakuan sampel kadar 31,25; 15,63; 7,81; dan 3,91 µg/mL setelah diinkubasi pada jam ke-24, 48 dan 72. Uji imunositokimia dilakukan pada konsentrasi sebesar 24,45 µg/mL  dengan antibodi p53 dan bcl-2.  Ekspresi p53 dan bcl-2   dibandingkan dengan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel fraksi etanol dari infusa daun teh (Camellia sinensis  (L.) O.K.) bersifat sitotoksik terhadap sel HeLa dengan harga LC­­50 sebesar 24, 45 µg/mL. Hasil uji doubling time diperoleh doubling time kontrol pelarut 74,11 µg/mL dan kontrol sel 78,22 µg/mL. Sedangkan pada perlakuan kadar 31,25; 15,63; 7,81; dan 3,91 µg/mL diperoleh harga slope yang negatif sehingga tidak diperoleh harga doubling time.  Ekstrak tersebut dapat memacu ekspresi p53 dan menghambat ekspresi bcl-2 dibandingkan dengan kontrol.
UJI ANTIINFLAMASI EKSTRAK METANOL DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav ) PADA TIKUS PUTIH Winarti, Lina; Fitriyani, Atik; Muslichah, Siti; Nuri, Nuri
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.286 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss1pp%p

Abstract

Inflamasi adalah respon alami yang terjadi pada kerusakan jaringan. Untuk menyembuhkan inflamasi orang biasa menggunakan AINS (antiinflamasi non steroid). Antiinflamsi nonsteroid (AINS) yang secara spesifik mempunyai sejarah yang panjang dan banyak menimbulkan kontroversi serta efek samping. Salah satu tanaman obat yang digunakan secara empirik untuk pengobatan secara tradisional adalah sirih merah (Piper Crocatum Ruiz & Pav.). Tanaman ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi obat untuk antiinflamasi karena mengandung flavonoid, saponin, tanin, dan alkaloid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti efek antiinflamasi sirih merah (Piper Crocatum Ruiz & Pav.) menggunakan metode induksi karagenin pada tikus. Untuk pengukuran aktivitas antiinflamasi digunakan 5 kelompok yang berbeda, dan sirih merah diberikan dengan dosis 25mg/kgBB, 50mg/kgBB, dan 100mg/kgBB. Asetosal digunakan sebagai kontrol positif. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa reduksi inflamasi adalah 77.58% untuk asetosal, 72.3% untuk ekstrak 25mg/kgBB, 85.60% untuk ekstrak 50mg/kgBB, dan 81.02% untuk ekstrak 100mg/kgBB. Ekstrak dengan dosis 50mg/kgBB menunjukkan efek antiinflamasi yang paling besar diantara dosis yang digunakan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ekstrak sirih merah memberikan efek antiinflamasi yang menjanjikan.
PENGARUH PRAPERLAKUAN JUS KUBIS BUNGA (Brassica oleracea L. var botrytis L.) TERHADAP AKTIVITAS DIKLOFENAK DALAM TERAPI INFLAMASI Sunarsih, Endang Sri; Palupi, Dwi Hadi Setya; Hapsari, Indriati
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.274 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss1pp%p

Abstract

Terapi suatu obat yang bersamaan dengan konsumsi makanan dapat mempengaruhi efektivitas obat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh praperlakuan jus kubis bunga (Brassica oleracea L. var. botrytis L.) terhadap aktivitas diklofenak dalam terapi inflamasi pada tikus putih jantan galur Wistar. Tiga puluh ekor tikus dibagi enam kelompok secara acak. Kelompok I (kontrol negatif) hanya diberi aquadest, kelompok II (kontrol positif) diberikan perlakuan natrium diklofenak dosis 5,04 mg/kg BB secara peroral. Kelompok III diberi praperlakuan jus kubis bunga dosis 20 ml/kg BB 1 jam sebelum perlakuan natrium diklofenak. Kelompok IV diberi praperlakuan jus kubis bunga dosis 20 ml/kg BB 1 hari sebelum perlakuan natrium diklofenak. Kelompok V diberi praperlakuan jus kubis bunga dosis tunggal 20 ml/kg BB selama 3 hari sebelum perlakuan natrium diklofenak dan kelompok VI diberi praperlakuan jus kubis bunga dosis tunggal 20 ml/kg BB selama 5 hari sebelum perlakuan natrium diklofenak. Tiga puluh menit setelah perlakuan natrium diklofenak, kemudian telapak kaki tikus diinjeksi dengan karagenin 1% sebanyak 0,10 ml secara subplantar. Volume udema diukur dari jam ke-0 sampai jam ke-5 setelah injeksi karagenin menggunakan pletismometer. Hasil analisa statistik data AUC dan DAI menunjukkan bahwa praperlakuan jus kubis bunga yang diberikan 1 jam sebelum pemberian natrium diklofenak tidak memperlihatkan perubahan yang bermakna terhadap kontrol positif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praperlakuan jus kubis bunga selama 3 hari dan 5 hari mampu menurunkan daya antiinflamasi dari diklofenak, sehingga terapi inflamasi dengan diklofenak menjadi tidak maksimal.
SENYAWA ANTIBAKTERI BIS (2-ETILHEKSIL) ESTER DAN TRITERPENOID DALAM EKSTRAK n-HEKSANA DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.) Sukadana, I Made; Santi, Sri Rahayu
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.815 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss1pp%p

Abstract

Telah dilakukan isolasi senyawa antibakteri dari ekstrak kental n-heksana daun tempuyung (Sonchus Arvensis L.). Sebanyak 9,15 g ekstrak kental n-heksana hasil partisi menunjukkan aktif antibakteri dengan diameter zona hambat sebesar 9 mm  terhadap Staphylococcus aureus dan 8 mm terhadap Escherichia coli pada konsentrasi uji 1000 ppm. Pemisahan ekstrak kental n-heksana menggunakan teknik kromatografi kolom diperoleh 5 fraksi dengan pola pemisahan yang berbeda, yaitu fraksi F1, F2, F3, F4, dan F5 yang masing-masing mengandung jumlah komponen senyawa yaitu 6, 5, 4, 2, dan 1 senyawa. Hasil uji kelima fraksi ini terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli menunjukkan bahwa fraksi F2 dan F4, positif menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Fraksi F3 hanya positif menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli sedangkan fraksi F5 hanya positif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Pemisahan lebih lanjut terhadap fraksi aktif antibakteri (F4) menggunakan teknik kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif, menghasilkan 3 fraksi (fraksi F4.1, F4.2, dan F4.3), dimana fraksi F4.1 menunjukkan fraksi yang paling aktif menghambat pertumbuhan bakteri uji dengan diameter zona hambat sebesar 9 mm terhadap Staphylococcus aureus dan 11 mm terhadap Escherichia coli pada konsentrasi uji 100 ppm. Hasil identifikasi terhadap fraksi F4.1 (isolat) menggunakan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (KG-SM) dan pendekatan ”database” WILEY7 menunjukkan bahwa isolat merupakan campuran 2 komponen senyawa yaitu bis (2-etilheksil) ester dan kemungkinan senyawa baru golongan triterpenoid dengan rumus molekul C32H66O6 .  
PENAPISAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN BEBERAPA TUMBUHAN OBAT INDONESIA MENGGUNAKAN RADIKAL 2,2-DIPHENYL-1 PICRYLHYDRAZYL (DPPH) Wulansari, Dewi; Chairul, Chairul
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.995 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss1pp%p

Abstract

Antioksidan merupakan senyawa yang berguna mengatasi kerusakan oksidatif akibat radikal bebas dalam tubuh sehingga turut berperan mencegah berbagai macam penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari beberapa tumbuhan obat Indonesia. Sebanyak 37 ekstrak metanol tumbuhan obat diuji aktivitas antioksidannya secara in vitro menggunakan metode peredaman radikal bebas 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) dan vitamin C sebagai kontrol positif. Hasil pengujian menunjukkan 29 ekstrak memiliki aktivitas diatas 50% pada konsentrasi 1000 ppm. 5 ekstrak dengan aktivitas tertinggi antara lain ekstrak kulit batang Sapium baccatum dan Leucosyke capitellata, ekstrak daun Ardisia crispa, Glochidion cauliflorum, dan Glochidion superbum.
UJI EFEK ANALGETIKA EKSTRAK RIMPANG TEMU KUNCI (Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlechter PADA MENCIT JANTAN GALUR SWISS Winarti, Lina; Wantiyah, Wantiyah
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.696 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss1pp%p

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi efek analgetik ekstrak Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlechter menggunakan metode Witkin et al. Metode ini dilakukan dengan melihat efek penghilangan rasa sakit setelah pemberian asam asetat secara intraperitoneal kepada tikus jantan galur swiss. Efek rasa sakit yang ditimbulkan akibat pemberian asam asetat akan menyebabkan kontraksi dinding sel perut, sampai kepala, kaki yang tertarik ke belakang dan perut yang menyentuh dasar kandang. Simptom ini dinamakan writhing reflex dan dapat dieliminasi dengan analgetik. Analisis dilakukan dengan membandingkan jumlah writhing reflex (geliat) setelah pemberian ekstrak dengan  asetosal sebagai kontrol positif dan aquadest sebagai kontrol negatif. Efek geliat dihitung 30 setelah pemberian asam asetat dengan injeksi intraperioneal. Efek ekstrak Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlechter antara dosis 15, 30 dan 60 mg/kg BB memberikan perbedaan yang signifikan ( P<0.05). Semakin tinggi dosis, semakin tinggi efek yang diberikan. Jumlah geliat pada dosis 30 mg/kg BB tidak berbeda dengan pemberian  asetosal sedangkan dosis 15 dan 60 kg/kgBB berbeda dengan  asetosal. Pemberian dosis 15 mg/kg BB memberikan jumlah geliat yang lebih besar sedangkan pemberian 60 mg/kg BB memberiakn jumlah geliat yang lebih kecil dari  asetosal. Dari perhitungan presentasi proteksi, terdapat perbedaan antar kelompok tetapi dosis 30 dan 60 mg/kgBB tidak berbeda dengan  asetosal. Analisis presentasi efektifitas menujukkan perbedaan antar kelompok kecuali dosis 30 mg/kgBB dengan  asetosal. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa efek analgesik ekstrak Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlechter bermula pada dosis 30 mg/kgBB yang setara dengan  asetosal. Semakin tinggi dosis, semakin tinggi aktivitasnya dan pemberian ekstrak 60 mg/kgBB memberiak efek lebih besar dari  asetosal.

Page 1 of 1 | Total Record : 6