cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 203 Documents
PERTUMBUHAN DAN KOMPOSISI JENIS PERMUDAAN ALAM PADA RUMPANG TEBANGAN DI KALIMANTAN SELATAN Sudin Panjaitan
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2013.7.2.63-74

Abstract

Hutan produksi Indonesia sebagian besar telah berubah menjadi areal bekas tebangan akibat pembalakan dengan system silvikultur TPTI, sehingga merupakan sempalan-sempalan tegakan sisa, rumpang-rumpang, jalan sarad dan tempat terbuka. Dari hasil ujicoba Balai Teknologi Reboisasi Banjarbaru sejak tahun 1985 (saat ini berubah nama menjadi Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru ) di stasion Penelitian (KHDTK) Kintap dimana sistem tebang rumpang (”Gap Cutting System”)  merupakan salah satu sistem silvikultur yang memberikan hasil positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan permudaan alam dan mengetahui keanekaragaman jenis yang terdapat pada rumpang tebangan umur 16 tahun, 5 tahun dan 3 tahun.  Metode penelitian yang digunakan adalah pada rumpang 16 tahun (tingkat pohon), pengambilan sampel dilakukan dengan intensitas 100 %, sedangkan pada tingkat pancang dan tingkat semai dilakukan secara acak bertahap (Stratified random) yaitu 4 kwadrat ukuran  5 x 5 m untuk tingkat pancang dan 4 kwadrat ukuran 2 x 2 m untuk tingkat semai.  Hasil penelitian menunjukkan pada rumpang 16 tahun luas bidang dasar tingkat pohon 12,5 m2 /ha. Pada rotasi 70 tahun dengan riap rataan tersebut diperoleh luas idang dasar 54.6 m /ha. Pada rumpang 16 tahun diameter maksimum tingkat pancang sebesar 9,5 cm, pada rumpang 5 tahun 8,2 cm dan pada rumpang 3 tahun 6.5 cm. Permudaan alam tingkat pancang pada  rumpang 5 tahun dan 16 tahun ditemukan masingmasing 38 jenis, 37 jenis dan 60 jenis. Hal ini membuktikan bahwa komposisi jenis dan struktur tegakan pada kelas umur rumpang tersebut tidak sama antara satu dengan lainnya. Jenis permudaan yang mendominasi pada tingkat pohon di rumpang 16 tahun dan 5 tahun adalah Shorea johorensis dan Shorea parvifolia, sedangkan pada tingkat pancang pada rumpang 16 tahun, 5 tahun dan 3 tahun masing-masing didominasi oleh Shorea parvistipulata, Shorea parvifolia dan Hopea sangal.
PENGARUH PENGEMASAN DAN WAKTU PENYIMPANAN BAHAN STEK MERANTI MERAH TERHADAP PERSENTASE BERAKAR STEK DI RUMAH KACA R. Mulyana Omon; Burhanuddin Adman
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 4, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2010.4.1.25-34

Abstract

Penelitian pengruh pengemasan dan waktu penyimpan terhadap persentase stek 2 jenis meranti merah (Shorea leprosula Miq. dan Shorea pervifolia) telah dilakukan di greenhouse Balai Teknologi Perbenihan, Samboja Kalimantan Timur. Bahan stek dimbil dari permudaan alam di IUPHHK PT. IKANI, Bulungan Kalimantan Timur.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui informasi pengaruh pengemasan dan waktu penyimpanan terhadap persentase berakar stek 2 jenis meranti merah selama tiga bulan pengamatan. Perlakuan percobaan terdiri dari dua jenis, dua kemasan dan empat waktu penyimpan bahan stek. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dengan pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak tiga kali. Setiap perlakuan terdiri dari 15 stek untuk S. leprosula dan 25 stek untuk S. parvifolia. Jumlah stek yang diamati sebanyak 960 stek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan waktu penyimpanan memberikan pengaruh yang nyata terhadap persen hidup, jumlah akar dan panjang akar. Hanya perlakuan waktu penyimpanan berpengaruh nyata terhadap persen berakar stek 2 jenis meranti merah. Perlakuan stek S. leprosula lebih baik dibandingkan dengan stek S. pervifolia terhadap persen hidup, persen berakar, jumlah akar dan panjang akar setelah tiga bulan pengamatan, yailu masing-masing sebesar 34,27%,2,0 dan 4,4 cm. Sedangkan perlakuan waktu penyimpanan liga selama tiga hari lebih baik dibandingkan waktu penyimpanan lainnya terhadap persen hidup, persen berakar, jumlah akar dan panjang akar, yaitu masing-masing sebesar 58,0%, 48%,5,2 cm dan 2 daun. lnteraksi antara jenis stek S. leprosula dengan penyimpanan di coolbox lebih baik dibandingkan dengan interaksi lainnya terhadap jumlah daun baru, yaitu sebesar dua daun. Dengan demikian waktu penyimpanan tiga hari masih dapat meningkatkan terhadap persen berakar dua bahan jenis meranti merah.
KAJIAN EFEKTIVITAS SISTEM SILVIKULTUR TEBANG RUMPANG TERHADAP PENINGKATAN PRODUKTIFITAS DAN KELESTARIAN HUTAN ALAM PRODUKSI Sudin Panjaitan; Dian Lazuardi; Beny Rahmanto
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2013.7.2.109-122

Abstract

Tebang rumpang (”gap simulation system”) merupakan salah satu sistem silvikultur alternatif, yang berlandaskan permudaan alam dan unit perlakuan terkecil (tegakan) berupa rumpang-rumpang yang terikat oleh unit jalan sarad. Walaupun begitu, evaluasi hasil ujicoba   sampai  saat ini masih belum dilakukan secara komprehensif teruama dalam skala operasional. Evaluasi dalam level tegakan masih terbatas pada kondisi hutan primer dan logged -over dengan permudaan alam dalam rentang waktu kurang dari 10 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat efektifitas sistem tebang rumpang permudaan buatan pada hutan logged over area. Penelitian dilakukan di KHDTK Kintap pada petak-petak ujicoba rumpang tanaman umur 13 dan 17 tahun serta rumpang  permudaan alam umur 13 tahun. Dari aspek pertumbuhan perkembangan regenerasi baik alam maupun buatan, sistem tebang rumpang secara potensial menunjukan hasil yang lebih tingi dibandingkan dengan sistem silvikultur umpang yang selama ini digunakan. Pertumbuhan dan perkembangan jenis-jenis meranti pada permudaan alam lebih tinggi dibandingkan dengan rumpang tanaman. Performan sistem tebang rumpang tersebut sangat sesuai bagi areal hutan logged-over yang masih baik maupun yang sudah terfragmentasi berat. Tebang rumpang sebagai salah satu sistem silvikultur masi h sangat diperlukan untuk diujicoba dalam skala yang lebih besar terutama dalam aspek-aspek perencanaan pengelolaannya.
KRITERIA DAN INDIKATOR MUTU BIBIT TERHADAP PERSEN HIDUP DAN PERTUMBUHAN TIGA JENIS MERANTI MERAH DI AREAL HPH PT. SARI BUMI KUSUMA, KALIMANTAN TENGAH Raden Mulyana Omon
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 4, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2010.4.1.49-60

Abstract

Penelitian kriteria dan indikator mutu bibit terhadap persen hidup dan pertumbuhan tiga jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma (PT. SBK), Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang mutu bibit terhadap persen hidup dan pertumbuhan tiga jenis meranti merah prioritas program silvikultur intensif (silin) setelah satu tahun ditanam di lapangan. Perlakuan terdiri dari tiga jenis meranti merah (Shorea leprosula Miq., S. parvifolia Dyer dan S. Johorensis Foxw.) dan tiga mutu bibit asal cabutan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali. Sebelum ditanam, dilakukan seleksi bibit berdasarkan klas rnutu bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian, kemudian ditanam di lapangan. Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 m x 2,5 m. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 3.600 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis, mutu bibit, interaksi antara jenis dan mutu bibit dan blok tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup. Jenis dan mutu bibit memberikan pengarub yang nyata terbadap pertumbuhan tinggi dan diameter. Pertumbuhan tinggi dan diameter S. leprosula lebih tinggi dibandingkan dengan jenis lainnya masing-masing sebesar 146,6 cm and 1,6 cm. Untuk pertumbuhan tinggi dan diameter mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan mutu bibit lainnya, masing-masing sebesar 142,6 cm and 1,56 cm. Dengan demikian jenis S. leprosula dari cabutan dengan mutu bibit satu dengan rata-rata tinggi dan diameter masing-masing sebesar 58,3 cm dan 5,9 mm dapat digunakan untuk ditanam dalam program silin (silvikultur intensif) dengan sistem TPTII (Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif).
TABEL VOLUME BATANG DI BAWAH PANGKAL TAJUK POHON KERUING (Dipterocarpus acutangulus) DI LABANAN BERAU KALIMANTAN TIMUR Abdurachman Adurachman
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 6, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2012.6.1.31-40

Abstract

Dalam semua sistem pengelolaan hutan, kegiatan inventarisasi merupakan hal yang penting untuk mengetahui potensi tegakan. Salah satu kegiatan dalam inventarisasi hutan adalah pengukuran untuk penaksiran massa tegakan. Hasil berupa tabel isi dimana jika dilakukan pengukuran pohon secara langsung memerlukan waktu dan biaya yang banyak. Tabel volume batang dibawah pangkal tajuk dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan taksiran dari volume Dipterocarpus acutangulus di Labanan Berau, Kalimantan Timur. Sebanyak 77 sampel pohon model diambil dari areal penelitian. Analisis data menggunakan rumus-rumus statistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa persamaan yang digunakan adalah Log V = -3,7914 + 2,4022 log d dengan kesalahan baku 0,1179, koefisien korelasi (r) 0,9815, simpangan agregatif -1,86% dan simpangan rataan (SR) 3,21%. 
Eksplorasi Jenis-Jenis Dipterokarpa Potensial di Kalimantan Tengah Agus Wahyudi; Amiril Saridan
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2017.3.1.23-32

Abstract

Kalimantan merupakan pusat sebaran ratusan jenis dipterokarpa yang 60% diantaranya endemik. Banyaknya jenis yang terdapat dalam suku dipterokarpa dan kurangnya koleksi herbarium sangat menyulitkan dalam identifikasi sampai tingkat jenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis dipterokarpa yang terdapat di areal IUPHHK-HA PT. Erna Djuliawati Kalimantan Tengah dengan cara mengumpulkan spesimen herbarium dan mengidentifikasi jenis-jenis tersebut melalui kegiatan eksplorasi. Berdasarkan hasil eksplorasi teridentifikasi sebanyak 36 jenis dipterokarpa dari 102 spesimen herbarium yang terdiri dari 4 marga yaitu Dipterocarpus (4 jenis), Hopea (3 jenis), Shorea (28 jenis) dan Vatica (1 jenis). Shorea, yang lebih dikenal nama meranti, merupakan marga paling dominan dan paling banyak dimanfaatkan dalam perdagangan kayu. Kegiatan eksplorasi ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang sebaran jenis dipterokarpa untuk mendukung kegiatan konservasi jenis dipterokarpa di masa mendatang.
PENDUGAAN STOK KARBON KELOMPOK JENIS TEGAKAN BERDASARKAN TIPE POTENSI HUTAN DI KAWASAN HUTAN LINDUNG SUNGAI WAIN Asef Kurniyawan Hardjana; Rahimahyuni Fatmi Noor'an; Iwan Setiawan Tumakaka; Ahmad Rojikin
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 6, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2012.6.2.85-96

Abstract

Kawasan hutan lindung Sungai Wain memiliki potensi yang sangat besar dalam menyimpan cadangan karbon, dibandingkan kawasan hutan sekunder maupun kawasan penggunaan lain di sekitar kawasan hutan lindung Sungai Wain karena pada kawasan tersebut telah terjadi gangguan terhadap tegakan dan vegetasinya. Gangguan tersebut dapat menyebabkan menurunnya potensi biomassa yang berindikasi langsung terhadap kemampuan kawasan tersebut dalam menyimpan karbon. Tujuan penelitian ini adalah sebagai salah satu upaya untuk memberikan tambahan informasi mengenai potensi cadangan stok karbon kelompok jenis tegakan yang tersimpan di kawasan hutan lindung Sungai Wain berdasarkan tipe potensi hutannya. Penelitian ini menggunakan citra landsat sebagai penafsiran potensi biomassa, sedangkan sebagai pembanding atau kontrol digunakan metode pengecekan lapangan dengan membuat plot-plot sampel berukuran 30 m x 30 m pada setiap tipe potensi hutan dengan 3 ulangan tiap lokasi, kemudian data diolah dengan persamaan allometrik yang relevan. Kawasan hutan lindung Sungai Wain berdasarkan tipe potensi hutan memiliki cadangan karbon sebesar 39,88 ton C/ha. Berdasarkan kelompok jenis tegakan dipterokarpa memiliki cadangan karbon berkisar antara 0,94 - 3,91 ton C/ha, sedangkan pada non dipterokarpa berkisar antara 10,37 - 12,37 ton C/ha. 
KAJIAN EKOLOGI Parashorea malaanonan MERR DI HUTAN PENELITIAN LABANAN KABUPATEN BERAU, KALIMANTAN TIMUR Muhammad Fajri; Amiril Saridan
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 6, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2012.6.2.141-154

Abstract

Parashorea malaanonan (Blco) Merr. merupakan salah satu spesies dari famili dipterokarpa dari marga Parashorea yang sudah terancam punah. Parashorea malaanonan (Blco) Merr. sudah masuk dalam daftar IUCN dengan status critically endangered, sehingga perlu dilakukan suatu penelitian mengenai kondisi ekologinya di hutan alam agar ke depannya jenis ini memiliki data yang lengkap tidak hanya data taksonomi dan penyebarannya, tapi juga informasi mengenai kondisi ekologi habitatnya, sehingga informasi mengenai jenis ini cukup lengkap. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pengumpulan data dan informasi mengenai kondisi ekologi Parashorea malaanonan (Blco) Merr. di hutan Penelitian Labanan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pembuatan Plot dengan menggunakan rancangan purposive sampling dengan luas 1 hektar (100 m x 100 m) yang dibagi dalam 25 petak ukur dengan ukuran 20 m x 20 m. Pengambilan data ekologi berupa : a. Data sifat fisik tanah; b. Data sifat kimia tanah; c. Data iklim mikro; d. Data topografi. Analisis data menggunakan analisis vegetasi, berupa asosiasi jenis dan koefisien asosiasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Parashorea malaanonan (Blco) Merr. memiliki nilai penting jenis yang kecil, sifat fisik tanah yang relatif bagus baik bulk density, porositas tanah, kadar air tanah dan tekstur tanahnya, sifat kimia yang tidak terlalu bagus (pH asam,unsur makro dan mikro cukup rendah), iklim mikro dengan suhu sedang, kelembaban udara tinggi dan intensitas cahaya rendah. 
Analisis Finansial Usaha Pengembangan Jenis Dipterokarpa Dengan Sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia Tien Wahyuni; Susana Yuni Indriyanti
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2015.1.1.41-54

Abstract

Untuk mendukung upaya penanaman jenis Dipterokarpa, diperlukan penelitian tentang analisis kelayakan finansial pengembangan usaha tanaman jenis Dipterokarpa. Penelitian ini dilaksanakan pada dua perusahaan yaitu PT. Suka Jaya Makmur dan PT. Adimitra Lestari dengan mengetahui komponen-komponen kegiatan yang meliputi kegiatan pengadaan bibit, penyiapan lahan, penanaman, tahapan pemeliharaan dan pemanenan. Hasil analisis finansial di kedua perusahaan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan usaha tanaman jenis Dipterokarpa memberikan harapan keuntungan atau layak diusahakan pada tingkat suku bunga riil 6,78% dengan hasil NPV = 0, BCR = 1 dan IRR = suku bunga yang digunakan, tetapi tidak layak untuk kenaikan suku bunga 14%. Analisa sensitivitas yang dilakukan menunjukkan bahwa hanya PT. Adimitra Lestari yang cukup kuat menghadapi perubahan dalam hal kenaikan suku bunga moderat 8%, tetapi nilai BCR-nya hanya sedikit di atas satu yang berarti sangat rentan dan beresiko terhadap kerugian. Sementara menghadapi perubahan dalam hal penurunan hasil pendapatan sebesar 30% kedua perusahaan tidak cukup kuat karena tidak memenuhi ketiga kriteria yang dipakai.
KONDISI TEGAKAN MERANTI TEMBAGA (Shorea leprosula) DI KAWASAN BEKAS KEBAKARAN SAMBOJA, KALIMANTAN TIMUR Ayi Suyana; Abdurachman Abdurachman
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 5, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2011.5.1.47-58

Abstract

Kegiatan merehabilitasi hutan bekas terbakar baik ringan, sedang maupun berat pada suatu tempat perlu dilakukan melalui usaha penanaman dengan berbagai jenis tanaman terutama jenis asli setempat. Penelitian ini dilaksanakan pada areal hutan bekas terbakar berat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi tegakan Meranti Tembaga (Shorea leprosula) yang ditanam pada areal bekas terbakar berat pada umur 13 tahun. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa  struktur tegakan memiliki bentuk Genta atau kurva Normal. Nilai rataan riap sebesar 1.26 cm pertahun untuk diameter dan 1.27 m pertahun untuk tinggi. Pohon dapat dikatakan cukup ramping dengan rataan nisbah tinggi dengan diameter sebesar 105.48. 

Page 8 of 21 | Total Record : 203


Filter by Year

2007 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 8, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 7, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 7, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 6, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 5, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 8, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 8, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 8, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 8, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 7, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 7, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 6, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 6, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 5, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 5, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 4, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 3, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 2, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 1, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Dipterokarpa More Issue