cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Biopropal Industri
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 208 Documents
PENGARUH JENIS BAKTERI ASAM LAKTAT DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP MUTU TEPUNG PISANG TANDUK (Musa corniculata) (Effect of Lactic Acid Bacteria and Fermentation Time on Quality of Tanduk Banana (Musa corniculata) Flour) Dewi Desnilasari; Syawaludin Akbar Kusuma; Riyanti Ekafitri; Rima Kumalasari
Biopropal Industri Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i1.5355

Abstract

Modification of banana flour by fermentation could change its quality. Fermentation of the whole banana could increase mineral content of banana flour. This research aimed to know the effect of the type of lactic acid bacteria and fermentation time on quality of whole tanduk banana flour. This research used completely randomized design with the treatments were control (without fermentation), spontaneous fermentation, Lactobacillus bulgaricus, Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum for 24 and 48 hours. The result showed that fermentation by L. bulgaricus for 24 hours was optimum based on the number of lactic acid bacteria colony, pH and lactic acid contain. Modification of whole banana flour significantly increased the value of red/ green “a”color, but decreased ash content, protein and minerals compared to native banana flour. It also significantly increased amylose content in fermentation using L. bulgaricus. The solubility of modified banana flour was decreased, while the water absorption capacity was significantly increased compared to native flour. Pasting properties of modified flour using L. casei for 24 hours were significantly increased for the peak viscosity, breakdown, final viscosity, and setback, however the values of peak time and pasting temperature were reduced. This mean that the modification of whole banana flour has the potential to changed the characterictic of physicochemical, functional properties, and pasting properties of banana flour.Keywords: fermentation, lactic acid bacteria, modified banana flour, tanduk bananaABSTRAKModifikasi melalui proses fermentasi dapat merubah mutu tepung. Penggunaan pisang tanpa dikupas kulitnya dalam pembuatan tepung pisang dapat meningkatkan kandungan mineral. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis bakteri asam laktat (BAL) dan lama fermentasi pada mutu tepung pisang. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan kontrol (tanpa fermentasi), fermentasi spontan, Lactobacillus bulgaricus, Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum masing-masing selama 24 dan 48 jam. Hasil penelitian menunjukkan proses fermentasi yang berlangsung dengan L. bulgaricus 24 jam memiliki total BAL, pH dan asam laktat yang optimum. Modifikasi tepung pisang utuh berpengaruh nyata terhadap peningkatan nilai warna merah/ hijau “a”, penurunan kadar abu, protein dan mineral jika dibandingkan dengan tepung pisang alami. Peningkatan kadar amilosa signifikan pada fermentasi L. bulgaricus. Kelarutan tepung pisang modifikasi menurun, sedangkan kapasitas penyerapan airnya meningkat nyata dibanding dengan tepung pisang alami. Profil gelatinisasi tepung modifikasi pada perlakuan fermentasi L. casei 24 jam dapat secara signifikan meningkatkan viskositas puncak, viskositas breakdown, viskositas akhir dan viskositas setback secara signifikan mampu menurunkan waktu puncak dan suhu pasting. Hal ini berarti bahwa modifikasi tepung pisang dengan kulit berpotensi untuk merubah karakteristik fisikokimia, sifat fungsional, dan karakteristik pasting dari tepung.Kata kunci: bakteri asam laktat, fermentasi, pisang tanduk, tepung pisang modifikasi
PENGAYAAN ANTIOKSIDAN UNTUK BERAS MERAH ARTIFICIAL DENGAN EKSTRAK PEWARNA MERAH ALAMI Rhoeo Discolor L. Her (Antioxidant Enrichment for Artificial Red Rice by Natural Red Pigment Extract From Rhoeo Discolor L. Her) Husniati Husniati; Junaidi Permana; Tati Suhartati
Biopropal Industri Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i1.5418

Abstract

Artificial rice is one of food diversification alternative from non-rice local carbohydrates. Generally, artificial rice is a flour based using cassava, tapioca, corn and sago from Indonesia as raw material, with additional of micronutrients such as mineral and vitamin. This research aimed to apply the red pigment anthocyanin which contain antioxidants for artificial red rice production. Red pigment was extracted from Adam hawa (Rhoeo discolor L. Her) leaves in acid water solvent and predicted as cyanidin-3-galactose or peonidin-3-glucose compounds. Artificial red rice was tested its color degree based on the CIE (Commission Internationale de I'Eclairage) Lab method and the result indicated the red color brightness and its color stability lighter than natural red rice.Keywords: Anthocyanins, antioxidants, artificial rice, Rhoeo discolor L. HerABSTRAKBeras artificial menjadi salah satu alternatif diversifikasi pangan berbahan baku karbohidrat lokal bukan beras. Umumnya, beras artificial menggunakan bahan baku berbasis tepung seperti singkong, tapioka, jagung dan sagu asal Indonesia, serta tambahan mikronutrien seperti mineral dan vitamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan pewarna merah antosianin yang mengandung antioksidan untuk pembuatan beras merah artificial. Pewarna merah diekstrak dari bagian daun Adam hawa (Rhoeo discolor L. Her) dalam pelarut air (akuades) yang mengandung asam dan diperkirakan sebagai senyawa sianidin-3-galaktosa atau peonidin-3-glukosa. Produk beras merah artificial diuji derajat warnanya mengacu nilai Lab CIE (Commission Internationale de I’Eclairage) dan jika dibandingkan dengan beras merah alami maka beras merah artificial menunjukkan skala pembacaan warna merah, kecerahan, serta kestabilan warna merahnya ke arah lebih terang.Kata kunci: Antioksidan, antosianin, beras artificial, Rhoeo discolor L. Her
ISOTERM ADSORPSI KROMIUM(III) OLEH BIOMASSA Sargassum sp. (Isoterm Adsorption of Cromium(III) by Non-Living Sargassum sp.) Nelly Wahyuni; Imelda Hotmarisi Silalahi; Nurlina Nurlina; Yossy Yossy
Biopropal Industri Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i2.6030

Abstract

 Chromium (Cr) is one of the heavy metals with high toxicities and can be dangerous if it is thrown up directly into waters. One of the techniques to reduce heavy metal content with inexpensive, simple, effective and efficient is through adsorption process utilizing brown seaweed (algae) Sargassum sp. as adsorbent. The purpose of this study is to describe the isotherm adsorption and adsorption kinetics model of Sargassum sp. to Cr(III) by Sargassum sp. with various treatments. Adsorption treatments carried out in this research include treatment variations of the adsorbent Sargassum sp. without protonation, Sargassum sp. protonated with H2SO4 0.1 M and Sargassum sp. protonated with H2SO40.2 M; variations of contact time are 0.5, 1, 3, 6 and 12 hours; and variations of initial concentration of ion Cr(III) 50 mg/L, 100 mg/L, 300 mg/L, and 700 mg/L. The result showed that the adsorption model fitted with the Freundlich isotherm equation with coefficient correlation (R2) > 0.9. The adsorption capacity of protonated Sargassum sp. with sulfuric acid 0.1 M was 3.464 x 10-3 mol/g. It is higher than Sargassum sp. without protonation and Sargassum sp. protonated with sulfuric acid 0.2 M. The application of the Langmuir-Hinshelwood kinetics model yielded the constant of adsorption rate for each adsorbent were 1.1 x 10-3 min-1, 2.0 x 10-4 min-1 and 7.0 x 10-4 min-1, respectively.Keywords: adsorption, chromium, isoterm, kinetics, Sargassum sp.ABSTRAKKromium (Cr) merupakan salah satu jenis logam berat yang memiliki tingkat toksisitas yang sangat tinggi dan dapat menimbulkan bahaya apabila dibuang secara langsung ke perairan. Salah satu teknik untuk mengurangi kadar logam berat dengan proses yang relatif lebih murah, sederhana dan memberikan efektifitas serta efisiensi yang relatif tinggi adalah melalui proses adsorpsi dengan memanfaatkan rumput laut (alga cokelat Sargassum sp.) sebagai adsorben. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan model isotherm adsorpsi dan kinetika adsorpsi ion Cr(III) oleh Sargassum sp. dengan berbagai variasi perlakuan. Perlakuan adsorpsi yang dilakukan pada penelitian ini antara lain variasi perlakuan terhadap adsorben yang digunakan yaitu Sargassum sp. tanpa protonasi ,Sargassum sp. terprotonasi H2SO4 0,1 M dan Sargassum sp. terprotonasi H2SO4  0,2 M; variasi waktu kontak adsorpsi yaitu 0,5; 1, 3, 6 dan 12 jam, dan variasi konsentrasi awal ion Cr(III) yaitu 50 mg/L, 100mg/L, 300 mg/L, 500 mg/L dan 700 mg/L. Hasil penelitian menunjukan bahwa adsorpsi mengikuti persamaan isoterm Freundlich dengan  nilai koefisien korelasi (R2)> 0,9. Kapasitas adsorpsi ion Cr(III) oleh Sargassum sp. terprotonasi asam sulfat 0,1 M sebesar 3,464 x 10-3 mol/g. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan kapasitas adsorpsi ion Cr(III) oleh adsorben Sargassum sp. tanpa protonasi dan Sargassum sp. terprotonasi asam sulfat 0,2 M. Penerapan model kinetika Langmuir-Hinshelwood menghasilkan harga konstanta kinetika adsorpsi Cr(III) dari ketiga jenis adsorben  berturut-turut sebesar 1,1 x 10-3  menit -1, 2,0 x 10-4 menit -1 dan 7,0 x 10-4 menit -1.Kata kunci: adsorpsi, kinetika, kromium, isoterm, Sargassum sp.
STUDI POLA KONSUMSI TEH DI INDONESIA UNTUK MENDUKUNG DIVERSIFIKASI PRODUK YANG BERKELANJUTAN (A Study of Tea Consumption Pattern in Indonesia Toward Sustainable Product Diversification) Hafiizh Prasetia; Arief Ameir Rahman Setiawan; Teuku Beuna Bardant; . Muryanto; Ahmad Randy; Muthia Syafika Haq; Adhi Irianto Mastur; Sugeng Harianto; Nova Annisa; Anny Sulaswatty
Biopropal Industri Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i2.6249

Abstract

Research to explore consumer perspective toward tea product requirements has been being emphasized around the globe, as well as the advancing variety of consumer demand and market competitiveness. Particularly in Indonesia, broader market needs and government relevant policies toward environmental consideration made these issues also need to be significantly addressed. This study aimed to analyze tea in consumption patterns Indonesia to support diversified sustainable products. The research design was conducted using survey method. A questionnaire was developed using structured interviews, with the number of respondents as many as 188 people. This survey was accommodating general type of tea such as green tea, white tea, black tea, etc. The result showed that respondents’ preferences toward tea belong to tea bags the most, with percentage 57.45%, powdered tea 28.19% and ready to drink tea 14.36%. Respondents age of 31-40 years old most widely consumed tea everyday (1.90 cup.day-1). As many as 78.19% of respondents were chose to consumed plain tea, followed by milk added tea 12.23% and creamer added tea 9.57%.   Further analysis using the Likelihood Ratio Test showed that age, gender and occupation factors were not a significant factor in the variety of tea types. To support the sustainable tea industry consumer behavior is also very important to be studied because consumers usually ask for high production standards but with a cheap cost.Keywords: consumption pattern, preference, product diversification, sustainable industry, teaABSTRAKPenelitian mengenai eksplorasi perspektif konsumen terhadap persyaratan produk teh telah menjadi perhatian dunia, seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen dan daya saing pasar. Khususnya di Indonesia, kebutuhan pasar yang lebih luas dan kebijakan pemerintah yang relevan terhadap pertimbangan lingkungan membuat masalah ini juga perlu ditangani secara signifikan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis pola konsumsi teh di Indonesia untuk mendukung diversifikasi produk yang berkelanjutan. Desain penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei. Kuesioner dikembangkan menggunakan wawancara terstruktur, dengan jumlah responden sebanyak 188 orang. Survei ini mengakomodasi teh secara umum, seperti teh hijau, teh putih, teh hitam, dan lain-lain . Hasil penelitian menunjukkan preferensi responden terhadap teh yang paling dominan adalah jenis teh celup (57,45%), teh serbuk (28,19%) dan teh siap minum (14,36%). Responden dengan usia 31-40 tahun paling banyak menkonsumsi teh setiap hari (1,90 gelas.hari-1). Sebanyak 78,19% responden memilih konsumsi teh tawar setiap hari, diikuti oleh teh dengan susu 12,23% dan teh dengan krimer 9,57%. Hasil analisis lebih lanjut menggunakan Likelihood Ratio Test, didapatkan bahwa antara variabel usia, jenis kelamin dan pekerjaan tidak terdapat pengaruh yang signifikan dalam pemilihan jenis teh.Kata kunci: diversifikasi produk, industri berkelanjutan, pola konsumsi, preferensi, teh
PENGARUH KONSENTRASI KULIT SINGKONG DAN SUMBER NITROGEN TERHADAP PRODUKSI GLUKOAMILASE OLEH Aspergillus awamori KT-11PADA SUBMERGED FERMENTASI (Effect of Cassava Peelfor Glucoamylase Production by Aspergillus awamori KT-11 in Submerged Fermentation) Urip Perwitasari; S Amanah; M.D. Wahidiyah; . Nuryati; R Melliawati; L.N. Kholida; A. Andriani; A. Thontowi; A. Purnawan; A. Fathoni; S. Hartati; Y. Lusini; . Yopi
Biopropal Industri Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i2.6079

Abstract

 The expensive price of glucoamylase is due to the high cost of enzyme production. Utilization biomass is expected to be an alternative raw material to reduce the cost of producing enzymes without reducing the quality of the product. Aspergillus awamori KT-11 is known to be able to produce glucoamylase by utilizing biomass waste. This study aimed to optimize glucoamylase production from A. awamori KT-11 by utilizing cassava peel as an alternative substrate with variation nitrogen source through Submerged Fermentation (SmF). Variables carry out in this study were the concentration of cassava peel (5-30%), nitrogen sources (casein hydrolyzate, yeast extract and sodium nitrate). The results showed in the concentration of cassava peels and nitrogen sources affect glucoamylase production. The optimum glucoamylase activity was 3984,935 U/L in 10% of cassava peel in medium. The other results showed different sources of nitrogen significantly influence glucoamylase production. The addition of yeast extract increased glucoamylase activity to 4617,894 U / L.Keywords: Aspergillus awamori KT-11, glucoamylase, cassava peel, submerged fermentation (SmF)ABSTRAKBahan baku yang mahal dalam produksi glukoamilase mengakibatkan harga jual glukoamilase tinggi. Pemanfaatan biomassa tinggi karbohidrat diharapkan dapat menjadi alternatif bahan baku untuk menurunkan biaya produksi enzim tanpa menurunkan kualitas dari produk yang dihasilkan. Aspergillus awamori KT-11 diketahui mampu memproduksi glukoamilase dengan memanfaatkan limbah biomassa. Tujuan penelitian ini adalah optimasi produksi glukoamilase dari A. awamori KT-11 dengan memanfaatkan limbah kulit singkong sebagai substrat alternatif dengan berbagai sumber nitrogen melalui Submerged Fermentation (SmF). Variabel yang dilakukan pada penelitian ini yaitu konsentrasi kulit singkong (5-30%), sumber nitrogen (kasein hidrolisat, yeast extract dan natrium nitrat). Hasil riset menunjukkan konsentrasi kulit singkong dan jenis sumber nitrogen mempengaruhi produksi glukoamilase. Aktivitas glukoamilase optimum diidentifikasi ketika konsentrasi substrat kulit singkong sebesar 10% yaitu 3984,935 U/L. Penambahan sumber nitrogen yang berbeda mempengaruhi produksi glukoamilase secara signifikan. Penambahan yeast extract meningkatkan aktivitas glukoamilase menjadi 4617,894 U/L.Kata kunci: Aspergillus awamori KT-11, glukoamilase, kulit singkong, submerged fermentasi (SmF)
PENGAYAAN ASAM FOLAT PADA JUS PISANG FERMENTASI MENGGUNAKAN KULTUR BAKTERI ASAM LAKTAT (Folic Acid Enrichment of Fermented Banana Juice with Lactic Acid Bacteria) Setyani Budiari; Yati Maryati; Agustine Susilowati; Puspa Dewi Lotulung; Hani Mulyani
Biopropal Industri Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i2.6032

Abstract

Folic acid (Vitamin B9) involved in numerous metabolisms. Folate deficiency is responsible for some negative health problems. The fermentation of foodstuffs to produce rich content of folic acid beverages using lactic acid bacteria (LAB) is an effort to overcome the health issues. This study aimed to determine the effect of banana juice fermentation using LAB on the folic acid content of the banana juice. Banana juice was fermented for 48 hours at 37oC with monoculture of Lactobacillus plantarum and mixed LAB cultures of Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum, Bifidobacterium bifidum and Bifidobacterium breve. The changes of folic acid characteristics were observed every 8 hours during 0 – 48 hours of fermentation, as well as the change in pH, total acid, soluble protein, and reducing sugar. The identification of folic acid monomers was conducted at the most optimal condition of the fermentation by using LC-MS. The result showed fermentation affect the folic acid content, pH, total acid, reducing sugar and soluble protein of banana juice. During fermentation, pH of the sample decreased with the increasing of total acid. Reducing sugar and soluble protein content tended to fluctuate. Optimal condition for folic acid enhancement was obtained by 32 hours of fermentation with mixed LAB, in which it yielded folic acid 34.07 μg/mL, pH .,00, total acid 0.51%, reducing sugar 119.17 mg/L, dissolved protein 0.43 mg/mL. Folic acid identification on the optimal condition revealed that it was dominated by compound with a molecular weight of 441.49 Dalton.Keywords: banana, fermentation, folic acid, lactic acid bacteriaABSTRAKAsam folat (Vitamin B9) terlibat dalam berbagai metabolisme. Kekurangan folat bertanggung jawab atas beberapa masalah kesehatan. Fermentasi bahan pangan untuk menghasilkan minuman kaya asam folat menggunakan bakteri asam laktat (BAL) merupakan upaya untuk mengatasi masalah kesehatan akibat defisiensi folat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fermentasi jus pisang menggunakan BAL terhadap kandungan asam folat jus pisang. Jus pisang difermentasi selama 48 jam pada suhu 37oC dengan kultur tunggal Lactobacillus plantarum dan kultur campuran BAL yaitu Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum, Bifidobacterium bifidum dan Bifidobacterium breve. Perubahan karakteristik asam folat diamati setiap 8 jam selama 0-48 jam fermentasi. Selain itu, diamati pula perubahan pH, total asam, protein terlarut dan gula pereduksi. Identifikasi monomer asam folat dilakukan pada kondisi fermentasi paling optimum dengan menggunakan LC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi dapat mempengaruhi kandungan asam folat, pH, total asam, gula pereduksi dan protein terlarut dari jus pisang. Selama fermentasi, pH sampel menurun diikuti dengan peningkatan total asam. Nilai gula pereduksi dan protein terlarut cenderung berfluktuasi. Kondisi optimum peningkatan kandungan asam folat diperoleh pada fermentasi menggunakan mix kultur LAB selama 32 jam dengan kandungan asam folat 34,07 mg/mL, pH 4,00, total asam 0,51%, gula pereduksi 119,17 mg/L dan protein terlarut 0,43 mg/mL. Identifikasi monomer asam folat pada kondisi optimum fermentasi didominasi senyawa dengan berat molekul 442,49 Dalton (Da).Kata kunci: asam folat, bakteri asam laktat, fermentasi, pisang
PROSES PRODUKSI EMULSI VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DENGAN FIKOSIANIN SEBAGAI ANTIOKSIDAN Novi Nur Aidha; Siti Agustina; Eva Oktarina; Ira Setiawati
Biopropal Industri Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i2.6245

Abstract

Indonesia merupakan wilayah yang berpotensi untuk perkembangan budidaya mikroalga, salah satu diantaranya adalah Spirulina yang mengandung antioksidan fikosianin. Antioksidan fikosianin digunakan pada industri kosmetik, farmasi dan makanan. Pada diverifikasi produk, antioksidan fikosianin dapat dimanfaatkan dalam bentuk emulsi. Tujuan penelitian ini adalah melakukan dan mengamati proses produksi emulsi dengan variabel VCO dan  dengan fikosianin sebagai antiokisidan, fikosianin menggunakan metode homogenisasi dengan tekanan tinggi (High Pressure Homogenation). Pada penelitian ini, jenis emulsi yang dibuat adalah O/W (minyak dalam air)  dimana fase minyak berupa VCO dan larutan fikosianin berupa sebagai fase air. Emulsi yang dibuat terdiri dari 9 formula menggunakan Carboxyl Methyl Cellulose (CMC) sebagai emulsifier. Produk emulsi dilakukan karakterisasi yang terdiri dari analisa viskositas, pH. , kestabilan dan kadar antioksidannya. Rancangan penelitian menggunakan software Design Expert® 7.0 dengan variabel viskositas, pH. , kestabilan dan kadar antioksidan serta metode Central Composite Design (CCD) yang merupakan salah satu metode permukaan tanggap untuk mendapatkan emulsi yang berfungsi sebagai antioksidan. Hasil didapatkan bahwa formula terbaik adalah perbandingan VCO: fikosianin (31,25 : 131,25) dengan kadar antioksidan sebesar 0,07 mg vit C/g, pH 4,64 dengan viskositas sebesar 113 cps. Berdasarkan hasil tersebut, emulsi antioksidan dapat diaplikasikan untuk industri kosmetik, farmasi dan makanan.
METODE HPLC-DAD UNTUK ANALISIS GLUKOSAMIN PADA TERIPANG KERING DENGAN DERIVATISASI PREKOLOM (HPLC-DAD Method for Glucosamine Analysis in Dried Sea Cucumber with Precolumn Derivatization) Dillani Putri Ramadhaningtyas; Andreas Andreas; Dian Muzdalifah; Hafiizh Prasetia; Hikmat Hikmat; Novita Ariani; Hendris Hendarsyah Kurniawan; Aprilia Nur Tasfiyati
Biopropal Industri Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i2.6394

Abstract

 Glucosamine is known to be a supplement for treating osteoarthritis and joint pain. Recently, Indonesian coastal communities have developed sea cucumber enriched in glucosamine as an alternative to crustaceans, a widely consumed-glucosamine source. The aim of this study is to develop a high performance liquid chromatography tandem with diode array detector (HPLC-DAD) method for the determination of glucosamine in sea cucumber products was developed and validated. Glucosamine were extracted from dried sea cucumber samples through hydrolysis using hydrochloric acid 5 M, followed by derivatization using Fmoc-Cl (9-Fluorenylmethyl chloroformate) and borate buffer before subjected to HPLC-DAD. All preparation steps for samples and standards were performed using the gravimetric dilution method. The reversed-phase chromatographic separation was conducted in the C18 column by applying a gradient elution of water and acetonitrile. The results showed good linearity with coefficient determination at 0.999 in the range concentration of 1-220 mg/kg. The LOD and LOQ were found to be 0.16 and 0.53 mg/kg respectively, while the recoveries were in the range of 98-99%. The intraday precision values were lower than 2% for four different spiked concentrations (10, 60, 100, and 200 mg/kg). The method then successfully applied to analyze glucosamine in twenty local dried sea cucumber samples. The results showed that eleven of samples contain glucosamine in the range of 100 to 2700 mg/kg.Keywords: fmoc-cl, glucosamine, hplc-dad, sea cucumberABSTRAKGlukosamin dikenal sebagai suplemen untuk mengobati osteoartritis dan nyeri sendi. Baru-baru ini masyarakat pesisir Indonesia telah mengembangkan teripang yang diperkaya glukosamin sebagai alternatif pengganti krustasea yang merupakan sumber glukosamin yang banyak dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pengembangan dan validasi metode high performance liquid chromatography dengan diode array detector (HPLC-DAD) untuk penentuan glukosamin pada produk teripang. Glukosamin diekstraksi dari sampel teripang kering melalui hidrolisis menggunakan asam klorida 5 M, dilanjutkan dengan derivatisasi menggunakan larutan Fmoc-Cl (9-Fluorenylmethyl chloroformate) dan buffer borat sebelum dilakukan analisis menggunakan HPLC-DAD. Semua langkah preparasi sampel dan standar dilakukan dengan menggunakan metode pengenceran gravimetri. Pemisahan kromatografi fase terbalik dilakukan di kolom C18 dengan menerapkan elusi gradien menggunakan air dan asetonitril sebagai fasa gerak. Hasil penelitian menunjukkan linieritas yang baik dengan koefisien determinasi sebesar 0,999 pada rentang konsentrasi 1 sampai 220 mg/kg. Metode ini memiliki LOD dan LOQ masing-masing 0,16 dan 0,53 mg/kg, sedangkan nilai perolehan kembali berada di kisaran 98-99%. Nilai presisi intraday ditemukan lebih rendah dari 2% untuk empat konsentrasi spiking yang berbeda (10, 60, 100 dan 200 mg/kg). Metode ini kemudian berhasil diterapkan untuk menganalisis glukosamin pada dua puluh sampel teripang kering lokal. Hasilnya menunjukkan bahwa sebelas sampel mengandung glukosamin dalam rentang 100 hingga 2700 mg/kg.Kata kunci: fmoc-cl, glukosamin, hplc-dad, teripang
PENDUGAAN UMUR SIMPAN SNACK BAR PISANG DENGAN METODE ARRHENIUS PADA SUHU PENYIMPANAN YANG BERBEDA (Estimation of Banana Snack Bar Shelf Life with Different Storage Temperatures Using Arrhenius Method) Diki Nanang Surahman; Riyanti Ekafitri; Dewi Desnilasari; Lia Ratnawati; Jesica Miranda; Wisnu Cahyadi; Ashri Indriati
Biopropal Industri Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i2.5898

Abstract

ABSTRACTBanana snack bar is one of the snacks made from banana and banana flour, rod-shaped, and consumed as a snack. Shelf life information about the product is needed to ensure that the product is still good for consumption and has not been damaged. Therefore, this study aimed to determine the estimated shelf life of banana snack bars using the Arrhenius method. This method was carried out at three storage temperatures representing cold, ambient, and heat temperatures with 15, 30, and 45 oC for 35 days and observed every 7 days. The parameters observed include water content, water activity (Aw), texture (hardness and crispiness), and total yeast/mold. The results showed that texture was the first damaged parameter at 15 and 30 oC with k value (quality reduction constant) 0.0057 and 0.0064. While at 45 oC, hardness broke sooner than other parameters with k value 0.0097. This means that banana snack bar products are starting to be unacceptable, mainly due to changes in texture. Based on the results obtained, it is known that the banana snack bar has an estimated shelf life of 75.67 days if stored at room temperature 30 oC and longer shelf life if stored at 15 0C, which is 84.96 days.Keywords: banana snack bar, shelf life product, Arrhenius, storage temperatures, storage timeABSTRAKSnack bar pisang merupakan makanan ringan yang terbuat dari pisang dan tepung pisang mentah, berbentuk batang dan dikonsumsi sebagai camilan. Informasi umur simpan produk diperlukan untuk menjamin bahwa produk masih layak dikonsumsi dan belum mengalami kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendugaan umur simpan snack bar pisang menggunakan metode Arrhenius.  Pengujian pendugaan umur simpan dengan metode Arrhenius dilakukan pada tiga suhu penyimpanan mewakili suhu dingin, ruang dan panas yaitu 15, 30 dan 45 oC selama 35 hari dengan waktu pengamatan setiap 7 hari. Adapun parameter yang diamati meliputi kadar air, aktivitas air (Aw), tekstur (kekerasan dan kerenyahan) dan total kapang khamir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa snack bar pisang mengalami kerusakan yang lebih cepat pada parameter tekstur yaitu kerenyahan pada suhu 15 dan 30 oC ditandai dengan nilai k (konstanta penurunan mutu) yang tinggi yaitu 0,0057 dan 0,0064. Sementara itu, kerusakan pada suhu 45 oC paling cepat terjadi pada parameter kekerasan dengan nilai k 0,0097. Hal ini berarti produk snack bar pisang mulai tidak dapat diterima terutama disebabkan oleh perubahan tekstur. Berdasarkan hasil yang diperoleh, diketahui bahwa snack bar pisang memiliki pendugaan umur simpan selama 75,67 hari jika disimpan pada suhu ruang 30 oC dan memiliki pendugaan umur simpan yang lebih lama jika disimpan pada suhu dingin 15 oC yaitu 84,96 hari.Kata kunci: snack bar pisang, umur simpan, Arrhenius, suhu penyimpanan, waktu penyimpanan
KOMPOSISI KIMIA DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI DAUN KAYU PUTIH (Melaleuca cajuputi) DARI KOTA SINGKAWANG Muhamad Agus Wibowo; Dewi Novita Sari; Afghani Jayuska; Puji Ardiningsih
Biopropal Industri Vol 12, No 1 (2021)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v12i1.6509

Abstract

ABSTRACTEucalyptus (Melaleuca cajuputi), is a plant which often found on the coast of the city of Singkawang, West Kalimantan. This plant is potentially used to treat diarrhea. This study aimed to determine antibacterial activity of eucalyptus leaf from Singkawang city on bacteria Escherichia coli and Staphylococcus aureus. Isolation of the essential oils was using steam distillation, while the analysis of antibacterial activity with well diffusion method. The isolation resulted 0.55% yield. Analysis using GC-MS yielded 26 peak compounds with 2 main compounds namely 1.8 cineol at 71.96% and alpha-terpineol 11.44%. Furthermore, antibacterial activity test of eucalyptus leaf essential oil against E. coli and S. aureus bacteria belongs to the category of low. The diameter of the inhibition zone on bacteria E. coli at a concentration of 50µg/µl obtained 4.39 mm zone, while on S. aureus was 4.62 mm zone.Keywords: Eucalyptus leaf essential oil, Eschericia coli, Melaleuca cajuputi, Singkawang, Stapylococcus aureus ABSTRAKKayu putih (Melaleuca cajuputi) merupakan tumbuhan yang banyak dijumpai di pesisir pantai Kota Singkawang. Tumbuhan ini berpotensi digunakan untuk mengobati diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri daun kayu putih yang berasal dari Kota Singkawang terhadap bakteri uji Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Metode yang digunakan untuk isolasi minyak atsiri yaitu distilasi uap, sedangkan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumuran. Hasil isolasi minyak atsiri daun kayu putih menghasilkan rendemen sebesar 0,55%. Analisis GC-MS menghasilkan 26 puncak senyawa dengan 2 senyawa utama yaitu 1,8 sineol sebesar 71,96% dan alpha-terpineol sebesar 11,44%. Hasil uji aktivitas antibakteri minyak atsiri daun kayu putih terhadap bakteri E. coli dan S. aureus menghasilkan aktivitas yang tergolong lemah. Diameter zona hambat terhadap bakteri E. coli dengan konsentrasi 50µg/µl menghasilkan zona sebesar 4,39 mm, sedangkan pada bakteri S. aureus yaitu sebesar 4,62 mm.Kata kunci: Escherichia coli, Melaleuca cajuputi, minyak atsiri daun kayu putih, Singkawang, Staphylococcus aureus