cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Arena Tekstil
ISSN : 05184010     EISSN : 25487264     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal ini memuat artikel dalam bidang tekstil yang meliputi teknik, kimia, material, desain serta konservasi energi dan lingkungan. Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian orisinal yang menyampaikan informasi baru pada bidang tekstil, hasil penelitian teknis yang menggambarkan suatu pengembangan, kemajuan teknis, dan inovasi dalam manufaktur dan processing, teknik laboran dengan data eksperimental yang cukup yang mengilustrasikan kegunaan suatu metoda atau peralatan tertentu, atau artikel tinjauan ilmiah (review) yang mengupas secara kritis suatu topik pada bidang tekstil yang cukup penting. Topik bahasan tidak bersifat umum, tetapi berupa suatu aspek yang dibahas secara mendalam.
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
AKTIFITAS BIODEGRADASI IN VITRO DAN IN VIVO SERAT KITOSAN YANG TELAH DIBERI PERLAKUAN DEHIDRASI DAN PLASTISISASI Winiati, Wiwin; Septiani, Wulan
Arena Tekstil Vol 28, No 1 (2013)
Publisher : Arena Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3811.118 KB)

Abstract

Pada penelitian ini dipelajari aktifitas biodegradasiin vitro dengan menggunakan enzim lisozim untuk serat kitosan yang telah diberi perlakuan proses dehidrasi dan plastisisasidan biodegradasi in vivo terhadap kucing.  Dengan tujuan  untuk mengetahui parameter yang dapat menurunkan kecepatan biodegradasi yang ditunjukkan oleh penurunan besarnya kehilangan  kekuatan tarik, padabiodegradasi in vitro dilakukan pengukuran diameter dan densitas, kekuatan tarik dan morfologi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa biodegradasi serat kitosan dengan enzim lisozim dalam media larutan PBS (phosphat buffer saline)pada suhu 37oC selama 3 hari, menyebabkan terjadinya penurunan kekuatan tarik, dan besarnya penurunan kekuatan tarik dipengaruhi oleh diameter serat, densitas serat,  proses dehidrasi dan plastisisasi yang dilakukan, derajat deasetilasi kitosan serta jumlah enzim yang diberikan. Peningkatan densitas, melakukan proses dehidrasi dilanjutkan  plastisisasi (DP) dan penggunaan kitosan dengan  derajat deasetilasi (DD) yang lebih rendah berhasil mengurangi kehilangan kekuatan tarik serat karena biodegradasi. Biodegradasi menyebabkan terjadinya hidrolisa ikatan kimia dalam rantai polimer pada serat kitosan  yang mengakibatkan terjadinya pengikisan/keropos pada serat.  Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa biodegradasi yang terjadi adalah menurut mekanisma bulk degradation. Uji biodegradasi in vivo menunjukkan serat kitosan biodegradable dan biokompatabel dengan jaringan kulit kucing, dan pada biodegradasi in vivo secara visual terlihat serat kitosan lebih cepat melebur dari pada saat uji in vitro.
MODIFIKASI MESIN REELING SUTERA MELALUI PENAMBAHAN SISTEM SIRKULASI AIR PANAS OTOMATIS DAN SISTEM PENGEREMAN HASPEL Sudiyanto, Sudiyanto; Hendra, Mulia; Sugiyana, Doni
Arena Tekstil Vol 29, No 2 (2014)
Publisher : Arena Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1909.101 KB)

Abstract

Studi ini telah dilakukan dengan mendesain sistem sirkulasi air panas otomatis dan rem haspel sebagai modifikasi pada mesin reeling sutera dengan tujuan untuk konservasi energi melalui peningkatan efisiensi proses. Pada mesin reeling konvensional dapat terjadi inefisiensi pada sistem penyediaan air panas manual yang menyebabkan pelepasan energi panas dan temperatur air yang tidak konstan, serta mekanisme penyambungan benang putus yang dapat mengurangi waktu operasional produktif dan meningkatkan biaya produksi. Metode desain dalam studi ini adalah modifikasi mesin reeling sutera konvensional melalui penambahan sistem sirkulasi air panas otomatis dan sistem pengereman haspel. Berdasarkan uji coba melalui pengoperasian mesin reeling secara kontinyu selama 20 hari, kedua sistem yang dirancang dapat beroperasi dengan baik. Hasil perhitungan analisis ekonomi berdasarkan waktu operasional selama 25 hari memperlihatkan bahwa mesin reeling yang telah dimodifikasi memerlukan biaya produksi benang lebih rendah dan pencapaian waktu break even point yang lebih cepat dibandingkan dengan mesin reeling konvensional. Aplikasi mesin reeling sutera yang telah dimodifikasi ini membutuhkan biaya investasi lebih tinggi, namun demikian produksi benang jauh akan lebih efisien sehingga biaya produksi dalam jangka panjang menjadi lebih rendah dibandingkan dengan mesin reeling konvensional.
PEMBUATAN SERAT NANO KITOSAN TANPA BEADS MELALUI PENAMBAHAN PVA DAN HDA Judawisastra, Hermawan; Winiati, Wiwin; Ramadhianti, Prisa Annisa
Arena Tekstil Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Arena Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1297.821 KB)

Abstract

Serat nano kitosan telah berhasil dibuat melalui penambahan polyvinyl alcohol (PVA), denganpermasalahan pada kadar kitosan diatas 50% berat dengan derajat deasetilasi kitosan di bawah 70%, pembentukanbutiran (beads) masih terjadi sepanjang serat nano kitosan/PVA. Penelitian ini dilakukan untuk membuat serat nanotanpa beads yang berbahan dasar kitosan dengan derajat deasetilasi lebih kecil dari 70%. Pembuatan serat nanokitosan dilakukan melalui penambahan polimer PVA dan surfaktan kationik Hexadecylamine (HDA). Sintesiskitosan dilakukan melalui deasetilasi kitin dari kulit udang windu selama 4 jam. Kajian literatur yang mendalampada pembuatan serat nano kitosan/PVA dilakukan dengan analisis mengenai hubungan antara derajat deasetilasikitosan dengan jumlah PVA yang diperlukan untuk membuat serat nano tanpa beads. Larutan dengan variasi rasiokitosan/PVA/HDA dibuat dan diproses menjadi serat nano kitosan/PVA/HDA melalui proses electrospinning.Karakterisasi serat nano dilakukan untuk menentukan morfologi dan diameter serat nano dengan menggunakanScanning Electron Microscope (SEM). Suatu persamaan untuk menentukan kadar PVA yang diperlukan dalammembuat serat nano kitosan/PVA tanpa beads telah diperoleh. Namun, penambahan PVA saja tidak akan efektifdalam mengurangi jumlah beads pada serat nano kitosan. Penambahan HDA pada larutan kitosan/PVA efektifmenghilangkan beads serat nano berbahan dasar kitosan (kadar kitosan 60% berat) dengan derajat deasetilasi 65%.Serat nano kitosan tanpa beads dengan derajat deasetilasi 65% dapat dibuat melalui proses electrospinning denganpenambahan PVA sebesar 40% berat larutan dan penambahan HDA 1x10-6 mol/L.
PENGARUH KARAKTERISTIK BATUBARA DAN PROSES PEMBAKARAN PADA BOILER BATUBARA BUBUK (PULVERIZED COAL) TERHADAP EMISI NOx DI INDUSTRI TEKSTIL Furqon, Mochammad; Sugiyana, Doni
Arena Tekstil Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Arena Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.613 KB)

Abstract

Dalam penelitian ini dipelajari perkiraan emisi NOx dari penggunaan boiler batubara bubuk di industritekstil berdasarkan pengaruh karakteristik batubara dan proses pembakaran pada boiler. Penelitian dilakukanmelalui pendekatan pengembangan empiris untuk memperkirakan pembentukan NOx dengan menganalisis faktor –faktor: karakteristik batubara, desain – operasi burner dan desain – operasi boiler. Kandungan nitrogen, zat terbangdan kehalusan butir diidentifikasi sebagai karakteristik batubara yang mempengaruhi emisi NOx. Jumlah putaranburner di atas 1,0 pada penggunaan burner ditemukan mampu menghasilkan kadar emisi NOx lebih rendah.Pengoperasian boiler perlu memperhatikan aspek konsentrasi oksigen dan proses pelepasan panas pada daerahburner karena potensial mempengaruhi tingkat emisi NOx.
PENGEMBANGAN DESAIN FESYEN KREATIF DENGAN APLIKASI KAIN TENUN DAN RAJUT MENGGUNAKAN BENANG FANCY Suantara, Dermawati; Siregar, Yusniar; Oktaviani, Endah
Arena Tekstil Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Arena Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2543.145 KB)

Abstract

Penelitian ini merupakan pengembangan desain kain yang menggunakan benang fancy (hias) yangdiperoleh melalui proses pada mesin Caipo dengan variasi slub dan twist. Diperoleh tiga jenis benang fancy, yaitubenang fancy 1, 2 dan 3, dengan hasil uji kekuatan tariknya masing-masing 17,39 g/tex, 20,17 g/tex dan 12,37g/tex. Kekuatan tarik benang tersebut masih dibawah persyaratan SNI 08-0033-2006 “Benang Ring TunggalKapas”, yaitu untuk nomor yang sama kekuatannya adalah 22.8 cN/tex, sehingga hanya digunakan sebagai benangpakan pada kain tenun dan sisipan pada kain rajut yang tidak memerlukan kekuatan tinggi. Proses pertenunandilakukan dengan ATBM dan mesin Shuttle Loom dengan beberapa variasi anyaman benang fancy, sedangkanproses perajutan menggunakan Mesin Rajut Datar dengan varian sisipan benang fancy. Hasil kain dengan variasibenang fancy ini dirancang sebagai aplikasi pada produk fesyen, yaitu baju muslim, bolero, mini dress, busanakerja dan busana pesta yang mengacu pada analisis pasar, trend (kecenderungan) warna dan tema fesyen tahun2012. Pengembangan produk fesyen tersebut dipadukan dengan kain polos dari bahan organdi, sutera Thai (Thaisilk), kanvas, poliester dan kapas yang menghasilkan suatu produk tekstil kreatif.
PEMBUATAN KAIN RAJUT BULKY DENGAN MENGGUNAKAN MESIN RAJUT DATAR Siregar, Yusniar
Arena Tekstil Vol 26, No 2 (2011)
Publisher : Arena Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.218 KB)

Abstract

Kain yang terbuat dari benang bulky memiliki berbagai keistimewaan, dan hal inilah yang membuatnyamenarik untuk diproses dengan berbagai metode, salah satunya adalah dengan menggunakan Mesin Rajut Datar(MRD) Single Bed, Gauge 6 merek Brother buatan Jepang. Tujuan penelitian ini, adalah untuk membuat kain rajutbulky dengan metode baru yaitu melalui proses perajutan dan pemantapan dengan menggunakan uap panas.Pembuatan kain rajut bulky ini menggunakan bahan baku benang kapas Ne1 40 dan benang poliester 150 D, yangdirajut masing-masing dengan tiga variasi skala stitch cam, serta menggunakan dua variasi kondisi dalam prosespemantapan panas.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum diperoleh pada kain rajut poliester yangmenggunakan metode pemantapan panas dengan kondisi 70C, relaksasi 30 menit, tiga kali proses, yangmenghasilkan nilai tertinggi pada ketebalan kain (2,108 mm) dan crimp benang (131,56 %). Hasil uji ketahananjebolnya dan perubahan dimensi dari kain rajut tersebut memenuhi persyaratan SNI 2367. Selanjutnya dampak hasilpenelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk substitusi bahan baku impor dalampembuatan kain rajut bulky yang dapat diaplikasikan pada industri kecil dan menengah.
SINTESIS ORGANOBENTONIT DAN PENGGUNAANNYA SEBAGAI ZAT TAHAN API PADA PROSES PENYEMPURNAAN TEKSTIL Wahyudi, Tatang; Kasipah, Cica; Wahyudi, Agus
Arena Tekstil Vol 29, No 1 (2014)
Publisher : Arena Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2004.9 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian modifikasi nano bentonit alam yang berasal dari daerah Tasikmalaya Jawa Barat menjadi organobentonit dengan cara mereaksikannya dengan heksadesiltrimetilamonium bromida dan tetrabutilfosfonium bromida untuk dapat digunakan sebagai zat tahan api pada proses penyempurnaan tekstil. Proses pembuatan organobentonit dilakukan dengan cara pengadukan menggunakan magnetic stirrer larutan suspensi nanobentonit sebanyak 2% dengan heksadesiltrimetilamonium bromida (HDTA)/tetrabutilfosfonium bromida (TBP) variasi kadar 0,4-2 %. Karakterisasi organobentonit hasil sintesis dilakukan dengan menggunakan FTIR dan SEM. Percobaan aplikasi organobentonit hasil sintesis pada kain kapas dilakukan dengan bantuan binder poliuretan serta surfaktan non ionik, sedangkan teknik yang digunakan adalah pad-dry-cure, dengan kondisi pad (90% WPU)-dry (110oC, selama 3 menit)-cure  (140oC, selama 3 menit). Hasil percobaan menunjukkan bahwa HDTA-bentonit dan TBP-bentonit hasil sintesis  dapat meningkatkan sifat tahan api sampel kain kapas meskipun belum secara signifikan, namun demikian telah memperlihatkan pembentukan arang kain sebagai sisa hasil pembakarannya. Pengarangan sampel kain hasil penyempurnaan dengan TBP-bentonit  lebih tinggi dibanding dengan HDTA-bentonit.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI PENGHASIL ENZIM LIPASE EKSTRASELULERDARI LUMPUR AKTIF INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI TEKSTIL Kasipah, Cica; Rismayani, Sinta; Ihsanawati, Ihsanawati; Nurachman, Zeily
Arena Tekstil Vol 28, No 1 (2013)
Publisher : Arena Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3387.131 KB)

Abstract

Lumpur aktif dari instalasi pengolahan air limbah industri tekstil mengandung berbagai jenis mikroorganisme antara lain mikroorganisme yang memiliki aktivitas lipase yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri penghasil enzim lipase ekstraseluler dari lumpur aktif instalasi pengolahan air limbah industri tekstil. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi isolasi bakteri penghasil enzim lipase ekstraseluler dari lumpur aktif melalui skrining dengan media yang mengandung rodamin dan minyak zaitun, penentuan aktivitas enzim lipase dan karakterisasi lipase yang dihasilkan terhadap variasi temperatur, pH, dan pengaruh ion Ca2+. Hasil identifikasi secara mikrobiologi menunjukkan bahwa bakteri penghasil enzim lipase ekstraseluler dari lumpur aktif adalah spesies Erwiniachrysantemi. Enzim lipase ekstraseluler tersebut memiliki aktivitas 4,75 U/mL dengan temperatur optimum 40oC dan pH optimum 9. Penambahan ion Ca2+ tidak memberikan pengaruh berarti terhadap aktivitas enzim lipase.
PENINGKATAN DAYA SERAP SERAT POLIESTER MENGGUNAKAN SELULOSA BAKTERIAL Gustiani, Srie; Eriningsih, Rifaida
Arena Tekstil Vol 28, No 1 (2013)
Publisher : Arena Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1464.355 KB)

Abstract

Poliester mempunyai beberapa keunggulan seperti tahan kusut, mudah pemeliharaannya dan relatif awet, namun kurang nyaman dipakai terutama pada kondisi tropis karena daya serapnya rendah dengan moisture regain (MR) 0,4%. Tujuan penelitian ini adalah merubah sifat hidrofob kain poliester menjadi hidrofil untuk meningkatkan daya serapnya. Proses dilakukan dengan cara melapisi selulosa bakterial melalui proses perendaman kain dalam bakteri selulosa (Acetobacter xylinum) dalam medium air kelapa, selama 3 hari, 6 hari, 9 hari dan 12 hari. Selanjutnya dilakukan proses fiksasi dan pemurnian dengan NaOH 3%. Produk yang dihasilkan kemudian dilakukan pencucian berulang dengan mesin lounder O-meter sebanyak 1, 2 dan 3 kali atau setara dengan 5, 10 dan 15 kali pencucian dengan mesin cuci rumah tangga. Dari beberapa pengujian diketahui bahwa semakin lama waktu perendaman, MR dan daya serapnya semakin meningkat, namun kekuatan tarik mengalami sedikit penurunan. Dari analisa morfologi dengan Scanning Electron Microscope terlihat bahwa  dengan perendaman selama 6 hari sudah jelas terlihat lapisan selulosa bakterial yang menyelubungi serat dengan rata yang juga dibuktikan pada serapan gugus fungsinya pada Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan hasil pencelupan dengan zat warna reaktif. Kondisi optimum diperoleh pada perendaman 6 hari dan setelah pencucian berulang 2 kali dengan mesin lounder O-meter (setara dengan10 kali pencucian rumah tangga), yaitu MR meningkat dari 0,4 % menjadi 1,02 % dan waktu penyerapan  dari 96,64 detik menjadi 4,22 detik.
PELAPISAN KITOSAN PADA KAIN KATUN DENGAN CARA PERENDAMAN DAN ELEKTROSPINNING Kasipah, Cica; Winiati, Wiwin
Arena Tekstil Vol 29, No 2 (2014)
Publisher : Arena Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2834.219 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan bahan tekstil yang dilapisi  kitosan yang diharapkan dapat digunakan sebagai penutup luka.  Penelitian dimulai dengan isolasi kitin dari kulit udang, dilanjutkan dengan proses deasetilasi kitin untuk mendapatkan kitosan.  Dilakukan pelapisan larutan kitosan pada kain katun yang berupa kain kasa dan kain tenun dengan cara perendaman dan pelapisan kain kasa dengan cara elektrospinning.  Untuk mengetahui karakteristik  hasil pelapisan dilakukan pengujian permeabilitas dan uji degradasi dengan enzim lisozim, yang merupakan parameter yang diperlukan pada penutup luka, serta pengamatan dengan Scanning Electron Microscope.  Pelapisan kitosan  pada kain katun mempunyai permeabilitas terhadap uap air yang baik, yaitu antara 3900-5400 mg/hari/L, dan pelapisan kasa perban dengan kitosan dalam pelarut asamtrifloroasetat (TFA) memberikan hasil yang tertinggi.  Pelapisan dengan teknik elektrospinning hanya dihasilkan lapisan kitosan pada bahan penunjang, belum memperoleh serat atau butiran kitosan dengan ukuran nano ataupun mikro. Pada pengujian degradasi terhadap enzim lisozim, semua bentuk kain yang dibubuhi kitosan,  kandungan kitosannya  telah habis terdegradasi pada 1 jam pertama waktu degradasi.  Maka  kecepatan degradasi kitosan pada kain yang dibubuhi kitosan tersebut mempunyai kecepatan degradasi kitosannya  yang lebih besar dari hasil perhitungan untuk degradasi 1 jam, yaitu > 5,925 mg/cm2.jam.

Page 2 of 26 | Total Record : 254