cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
RITME
ISSN : 1412653X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Art,
Jurnal Ritme (Seni dan Desain serta Pengajarannya) diterbitkan oleh Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia dua kali dalam setahun, bulan Februari dan Agustus. Ruang lingkup topik artikel meliputi pembelajaran seni dan desain, inovasi pembelajaran seni, model pembelajaran seni, strategi pembelajaran seni, pendekatan pembelajaran seni, evaluasi pembelajaran seni, media dan teknologi pembelajaran seni, kajian seni, kajian budaya, kajian desain dan kajian sejarah seni.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2016)" : 9 Documents clear
SISTEM NOTASI UNTUK PEMBELAJARAN KACAPI INDUNG TEMBANG SUNDA CIANJURAN Julia Julia
RITME Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidak dapat dipungkiri bahwa akulturasi budaya sebagai bagian dari pergaulan dunia yang tanpa batas, tidak hanya berpengaruh pada perkembangan dan popularitas seni-seni etnik, tapi jugaberpengaruh terhadap cara-cara pentransmisian seni itu sendiri. Sebagai salah satu cara untukmengikuti arus globalisasi, tulisan ini mencoba untuk menggagas dan menawarkan salah satu metodepembelajaran pada salah satu seni etnik Indonesia, yakni pembelajaran kacapi indung dalam senitembang Sunda Cianjuran. Metode yang ditawarkan adalah pembelajaran kacapi melalui sistem notasi yang dibuat secara khusus oleh penulis. Pembuatan sistem notasi dilakukan denganmempertimbangkan beberapa aspek berikut. Pertama, visualisasi antara sistem notasi dengansistematika kawat kacapi, kedua, visualisasi antara sistem notasi dengan penggunaan jari, dan ketiga,efisiensi sistem notasi dengan jumlah kawat kacapi. Dengan cara ini, harapannya adalah kacapitembang dapat dipelajari dengan lebih mudah dan lebih diminati oleh banyak kalangan.
PEMANFAATAN BAHAN SIGHT READING DALAM PEMBELAJARAN PIANO Sandie Gunara
RITME Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan hasil penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran piano pada mahasiswa calon guru musik di Departemen Pendidikan Seni Musik FPSD UPI. Permasalahan yang dikaji mulai dari kesulitan apa saja yang dihadapi oleh mahasiswa ketika melakukan sight reading dan pengaruhnya terhadap kemampuan membaca partitur piano. Metode yang digunakan untuk mengkaji permasalahan tersebut yaitu studi kasus. Metode ini peneliti gunakan untuk mengkaji peristiwa kontemporer  yang menjadi fokus kajian. Tujuan menggunakan metode ini bukan untuk mengontrol perilaku setiap subjek penelitian, tetapi mengkaji setiap kasus yang terjadi pada saat proses penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, mahasiswa memiliki kesulitan dalam membaca partitur karena belum terbiasa  membaca secara langsung tanpa latihan terlebih dahulu. Proses pembelajaran dengan menggunakan bahan-bahan sight reading pun memiliki pengaruh hanya pada tataran permukaan saja yaitu mahasiswa hanya mampu membaca dengan tepat nada dan ritmiknya saja. Sedangkan pada tataran yang lebih dalam, seperti kesadaran musikal dalam menerapkan konsep-konsep musikal secara praktek belum menunjukkan hasil yang maksimal.
REPRESENTASI MITOS DAN MAKNA PADA VISUAL LAMBANG DAERAH Arief Johari
RITME Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mitos merupakan unsur pada lambang yang tidak banyak disadari masyarakat. Bagaimanamitos direpresentasikan pada visual lambang daerah hingga memiliki/ memproduksi makna. Tulisanini mengupas bagaimana pengaruh mitos dan maknanya  terhadap visual lambang daerah melaluimetode etnografi dengan pendekatan cultural studies. Dalam mengupas mitos pada visual lambangmenggunakan dua sudut pandang  yaitu semiotik (triadic/ segi tiga Peirce) dan tritangtu (filsafatSunda).  Dari penelitian terungkap bahwa mitos tidak hanya merupakan  unsur dalam lambang, namun sekaligus memproduksi muatan nilai dan makna lambang bagi kehidupan, sehingga makna lambang tidak bias di masyarakat.  Terdapatnya ikon gunung pada tiap lambang daerah di Bandung, tidakhanya dipengaruhi oleh kondisi geografis (mitos keindahan gunung) namun kisah legendaSangkuriang (mitos primitif) menjadi bagian didalamnya. Mitos memberi pelajaran dan pandanganhidup, sehingga terbentuk lingkungan masyarakat sejahtera sesuai dengan semboyan pada tiaplambang daerah.
Peranan Musik Pada Pertunjukkan Teater Dody M Kholid
RITME Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komposisi musik apapun bentuk dan gayanya pada dasarnya harus merupakan  hasil dari sebuah permikiran yang matang dari seorang komponisnya yang harus kita hargai terlepas dari kualitasyang dihasilkannya, karena dengan adanya karya tersebut berarti telah hadir sebuah aktivitas dan proses kreativitas kesenian. Terdapat beberapa kendala dan pendapat tentang gaya musikitu sendiri, diantaranya masalah perbedaan pendapat dan perasaan bahwa suatu musik lebih berkualitas dari musik lainnya termasuk didalamnya permasalahan untuk apa musik tersebutdibuat. Hal semacam ini tentu saja fenomena yang sangat menyedihkan bagi dunia musik dan bukan sesuatu yang harus menjadi persoalan, karena bagaimanapun bentuknya,suatukomposisi musik itu adalah salah satu bentuk perkembangan musik yang tidak perlu dipermasalahkan tetapi perlu penjelasan.
KAULINAN BARUDAK SEBAGAI SUMBER AJAR DALAM PENCIPTAAN TARI ANAK DI SEKOLAH DASAR Ayo Sunaryo
RITME Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini adalah konsep pembelajaran dalam praktik komposisi tari bagi anak usia 7-12 Tahun.Komposisi bagi anak usia tersebut, sumber gagasannya diambil dari kakawihan dan kaulinan barudak.Untuk melihat implementasi konsep-konsep konstruktivisme akan dibahas proses kreatif komposisitari, kakawihan dan kaulinan barudak, karya komposisi tari anak, serta pengetahuan anak mengenaikomposisi tari. Data-data yang diperoleh melalui kajian pustaka mengenai teori konstruktivisme dankomposisi tari, observasi, wawancara, dan studi dokumentasi serta pengalaman pribadi sebagai pengajar tari. Temuan dari penelitian ini menyimpulkan bahwa proses komposisi tari mampumengkonstruksi pengetahuan anak mengenai unsur-unsur tari, bentuk tari, kakawihan dan kaulinanbarudak serta nilai-nilai hidup.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGGAMBAR BERNUANSA TRADISI ( Pendekatan Pembelajaran Menggambar Ilustrasi Bertema Tradisi di SMP Kota Bandung) Taswadi Taswadi
RITME Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil penelitian sebelumnya dan berdasarkan diskus dalam beberapa even ilmiah yang menyatakan bahwa hasil menggambar ilustrasi peserta didik SMP di KotaBandung belum bernuansa tradisi setempat. Setelah dilakukan penelitian pendahuluan ditemukansalah satu faktor penyebabnya, yakni bahwa para guru masih menerapkan pendekatan pembelajaranyang belum menitikberatkan pada gambar yang bernuansa tradisi. Untuk itu peneliti mengembangkan pendekatan pembelajaran  sebagai solusi. Pengembangan pendekatan pembelajaran menggambarilustrasi yang penulis kembangkan kerangkanya mengacu pada Dick and Carey (2009:6-8), ada 10komponen, kemudian diadaptasi penulis menjadi 9 yakni; 1)Menentukan Tujuan Umum, 2)Analisis Pembelajaran, 3)Pembelajar dan Konteks Pembelajaran, 4)Merumuskan Tujuan Khusus, 5)Pengembangan Prosedur dan Jenis Penilaian, 6)Pengembangan StrategiPembelajaran,7)Pengembangan Materi Pembelajaran, 8)Merancang dan Melaksanakan EvaluasiFormatif,dan 9)Revisi Tujuan Khusus, Materi, Metode, Media Pembelajaran, dan Evaluasi. Pendekatan yang peneliti kembangkan adalah Pendekatan Pembelajaran Menggambar IlustrasiBertema Tradisi, dengan langkah-langkah sebagai berikut: a)Tujuan; Meningkatkan  kemampuanmemahami, menghargai, dan melestarikan nilai-nilai  tradisi positif daerah setempat melalui gambarilustrasi b)Bentuk Penilaian;  Prosedur penilaian pre-test, tes proses, post-test, dalam bentuk penilaiandiri, teman sejawat, dan oleh guru. c)Strategi Pembelajaran; Mengacu pada Pendekatan scientificdipadu permisif dengan prinsif pembelajaran kontruktivisme melalui metode pembelajaran variatifd)Pengembangan Materi Pembelajaran;  Materi teori dan praktek  menggambar  ilustrasi dengan tema tradisi daerah setempat. e)Bentuk Instrumen Penilaian; Penilaian Autentik, dalam bentuk instrumenpenilain skala sikap, essay,  praktek, penilaian teman sejawat, dan penilaian diri dan  f.Merevisi ;tujuan, materi, metode, media, dan evaluasi. Setelah diimplementasikan terbukti pendekatanmenggambar ilustrasi bertema tradisi daapat meningkatkan kemampuan menggambar ilustrasibernuansa tradisi.
DEKONTRUKSI MOTIF BATIK KERATON CIREBON: PENGARUH RAGAM HIAS KERATON PADA MOTIF BATIK CIREBON Agus Nursalim; Harry Sulastianto; Zakiah Pawitan
RITME Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Motif batik Keraton Cirebon memiliki makna simbolik dan filosofis yang mengandung pesanmoral. Ide dasar batik keraton adalah dari ragam hias Keraton Cirebon, naskah dan mushaf Al-qur‟an  pada Abad 20. Tekanan dan resistensi kebudayaan barat pada dekade 70 -an yangbersifat progresif utopis telah mengubur berbagai tradisi dan kebudayaan etnik, identitas lokal, subculture, yang dianggap tidak sesuai dengan semangat zaman modern. Arus informasi global telahmemperkaya cakrawala pengetahuan lokal yang mampu membangkitkan kesadaran lokal  yaitukesadaran ontologism diantara kebudayaan plural yang imperialis dan represif yang akan menggiringpada krisis identitas. Identitas, menurut Jonathan Rutherfort merupakan satu mata rantai masa laludengan hubungan-hubungan sosial, kultural, dan ekonomi di dalam ruang dan waktu satu masyarakathidup. Kini motif batik keraton telah menjadi identitas batik Cirebon. Penelitian ini bersifat diskriptifkualitatif yang mengkaji hingar bingarnya era kebangkitan kembali motif batik keraton Cirebonsetelah mengalami „mati suri‟ selama berpuluh-puluh tahun. Permasalahannya adalah: Bagaimana pola ragam hias Keraton Cirebon mengalami dekonstruksi  menjadi motif batik keraton Cirebon?Apakah makna filosofis dan makna simbolik motif Batik Keraton mengalami dekonstruksi setelahberkembang pesat menjadi batik Cirebon? Teknik Pengumpulan data dilakukan dengan cara:observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan Analisis data hasil penelitian dilakukan denganpendekatan teori „semiotika dekonstruk tif ’ dari Jaques Derida dan Ferdinand de‟Sausure. Kajianterhadap bahasa dan makna (petanda) simbolik dilakukan dengan teorinya Ferdinand de‟Saussure.Sedangkan; penafsiran makna „logos‟ menggunakan pendekatan teori semiotika dekonstruktif Jaques Derida. Dari hasil  penelitian diperoleh  informasi data secara akurat dan benar  mengenai prosesdekonstruksi bentuk ragam hias ke dalam motif batik keraton hingga menjadi „  character buildingBatik  Cirebon’ beserta makna-maknanya yang telah didukung oleh teori-teori yang ada.
PEMBELAJARAN SENI BUDAYA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBANGUN PENDIDIKAN KARAKTER SISWA DI SEKOLAH DASAR Dedi Rosala
RITME Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nilai-nilai moral yang ditanamkan dalam pembelajaran Seni Budaya dapat membangun karakter yang merupakan fondasi utama terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera. Tujuan artikel ini adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang teori  pendidikan karakter yangterkandung dalam kearifan lokal seni tari di lembaga Sekolah Dasar. Data-data yang dikaji dalamartikel ini merupakan konseptual berdasarkan penelusuran pustaka yang telah dilakukan. Hasil yangingin dicapai berlandaskan pada konsep pendidikan karakter yang berorientasi pada pendekatan moralreasoning  melalui pembelajaran pendidikan seni tari tercermin dalam toleransi, solidaritas, dan kebersamaan.
MAKNA SIMBOL TARI NIMANG PADI DALAM UPACARA ADAT NAEK DANGO MASYARAKAT DAYAK KANAYANT Imma Fretisari
RITME Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan simbol dan makna yang terdapat dalam gerak Tari Nimang Padi. Tujuanartikel ini untuk mendeskripsikan simbol-simbol dan makna gerak pada Tari `Nimang Padi pada Upacara Naek Dango. Peneliti menggunakan teori simbol, dan makna sebagai acuan. Dalam hal inimetode deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan etnokoreologi dan pendekatan ilmukomposisi serta antropologi. Peneliti menyimpulkan bahwa pada Tari Nimang Padi hanya beberapagerakan saja yang mengandung unsur simbol dan makna. Jika dilihat secara keseluruhan barulahtergambar makna simbolisasi yang terkandung pada gerak tersebut, yaitu simbolisasi daripenghormatan dan rasa syukur kepada Jubata dan roh para Nenek Moyang, dengan disertai adanyapersembahan yang diberikan oleh masyarakatnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 9