cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
FLOOD MITIGATION: TINJAUAN TENTANG KONDISI DAN MASALAH SISTEM DRAINASE SERTA PENGENDALIAN BANJIR DI KOTA CIMAHI Nandi, Nandi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v10i1.1668

Abstract

Bahaya atau bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Bentuk dan jenis bencana pun bermacam-macam, Bencana diartikan sebagai peristiwa fisik yang berpotensi merusak, yang dapat menyebabkan hilangnya nyawa atau luka, kerusakan harta benda, gangguan sosial dan ekonomi, atau kerusakan lingkungan. Bencana, seperti terjadinya bahaya, mungkin memiliki pengaruh lokal (lingkungan atau masyarakat) atau dampak yang sangat besar di atas batas negara. Bencana ini juga kadang tergantung oleh penyebabnya, bisa aktivitas manusia dan atau fenomena alam. Selain itu, bahaya untuk bencana dapat berupa serangan mendadak berbahaya atau serangan lambat berbahaya (UNDP, 1992). Tulisan ini akan menyajikan kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh Kota Cimahi yang berhubungan dengan pengelolaan Sistem Drainase Kota. Fungsi drainase sebagai pengendali banjir saat ini mulai berkurang, kerusakan dan buruknya kualitas konstruksi bangunan air akan menjadi tantangan bagi pemerintah, masyarakat, dan berbagai stakeholder lainnya. Tuntutan akan peningkatan kondisi drainase sebagai pengendali banjir memang suatu keharusan, karena dengan kondisi drainase kota yang baik maka terjadinya bencana banjir akan terminimalisir. Selain itu, penyebab utama terjadinya genangan dan banjir di daerah perkotaan bukan semata karena faktor topografi atau geografis. Perubahan penggunaan lahan di daerah hulu merupakan pemicu terjadinya bencana banjir. Perubahan penggunaan lahan dari ruang terbuka dan tidak terbangun, menjadi ruang yang terbangun akan menyebabkan meningkatnya jumlah limpasan permukaan (run off). Di sisi lain, kapasitas drainase sebagai penampung air limpasan tidak memadai, sehingga terjadilah apa yang disebut banjir. Kata Kunci: Sistem Drainase, Kota Cimahi, Pengendali Banjir
PENATAAN LINGKUNGAN KEMISKINAN PERKOTAAN (Suatu Studi Program P2KP di Kota Bandung) Waspada, Ikaputera
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i1.1710

Abstract

Kemiskinan merupakan masalah utama yang dihadapi negara-negara berkembang (development countries), termasuk Indonesia. Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) sebagai salah satu bentuk program pemerintah mengatasi kemiskinan. Penelitian ini bertujuan; (1). Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh partisipasi masyarakat dan kualitas sumber daya manusia terhadap keberhasilan program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP) di kota Bandung, (2). Untuk menemukan faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan program anti kemiskinan. Metode penelitian ini adalah metode survei eksplanatori pada anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai penerima dana P2KP di kota Bandung, yang meliputi 6 (enam) wilayah kerja. Penelitian ini terpilih secara proporsional sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dan kualitas sumber daya manusia berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberhasilan program penanggulangan kemiskinan di perkotaan (P2KP) di kota Bandung. Penelitian ini telah mengungkapkan bahwa keberhasilan penataan kemiskinan perkotaan (P2KP) di kota Bandung masih rendah. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya partisipasi masyarakat peduli, masih rendahnya kualitas sumber daya manusia. Kata kunci : Penataan Kemiskinan
PROFIL TENAGA KERJA INDONESIA DI MALAYSIA Waluya, Bagja
Jurnal Gea Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah ketenagakerjaan di Indonesia bersifat multidimensi, sehingga juga memerlukan cara pemecahan yang multi-dimensi pula. Tidak ada jalan pintas dan sederhana untuk mengatasinya. Hal ini telah menjadi pemicu arus migrasi tenaga kerja Indonesia ke Malaysia secara besar-besaran. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang umumnya berasal dari Jawa Timur, Lombok dan Flores. Pada kenyataannya, arus migrasi tersebut belumlah dapat memecahkan masalah ketenagakerjaan selama ini. Berbagai pelanggaran HAM telah terjadi. Para buruh rumah tangga migran asal Indonesia sekarang ini memperoleh hanya sedikit perlindungan di bawah undang-undang nasional dan perjanjian bilateral mengenai tenaga kerja. Dengan demikian, pemerintah Malaysia dan Indonesia harus bertindak cepat dan tegas untuk menghargai secara penuh hak dan martabat pekerja rumah tangga migran asal Indonesia. Kesepakatan bilateral mengenai pekerja rumah tangga dan rencana-rencana tentang adanya kerja sama untuk menyediakan layanan bagi keselamatan pekerja dari pelanggaran HAM. Perjanjian ini juga harus melindungi hak-hak pekerja rumah tangga akan kebebasan bergerak dan kebebasan berserikat. Kata kunci: Profil tenaga kerja, pelanggaran HAM.
PENYUSUNAN BASIS DATA SPASIAL SUMBERDAYA AIR MELALUI PARTISIPASI MASYARAKAT (Studi Kasus di Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) Widayani, Prima
Jurnal Gea Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The preparation of spatial database of water resources in the village of Kepuharjo Cangkringan Sleman District implemented through local community empowerment. The objective is to assess the potential and utilization of existing surface water resources in the village of Kepuharjo, District Cangkringan based database of water resource potential. Based on results of the discussion, data collection, field survey and data analysis conducted jointly with local communities showed that rain water and stream water that flowed through the pipe from the spring Bebeng and Kalikuning become the main surface water source Kepuharjo Village residents. Surface water potential is very high especially in the rainy season and has not been used optimally and in August and September the village of Kepuharjo experiencing critical water. Keywords : database, water resources, community empowerment.
STUDI KONSERVASI AIR UNTUK PEMANFAATAN AIRTANAH YANG BERKELANJUTAN PADA RECHARGE AREA LERENG GUNUNGAPI MERAPI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA Mutianto, Hendro
Jurnal Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak lepas dari keberadaan air yang merupakan salah satu materi penunjang kehidupan. Berbagai cara dilakukan manusia untuk mendapatkan air bersih, salah satunya adalah dengan mengambil air dari dalam bumi atau bawah permukaan tanah. Cara pengambilan air dari bawah permukaan tanah dirasa menjadi cara yang familiar dan paling banyak dilakukan manusia, karena beberapa alasan utama, yaitu: airtanah mudah untuk didapatkan, relatif bersih karena melalui filterisasi struktur tanah-batuan dan secara ekonomis lebih murah. Sedangkan ketersediaannya sangat tergantung dari tingkat infiltrasi dan perkolasi di daerah tangkapan air (recharge area). Recharge area di Yogyakarta dipengaruhi oleh kondisi fisik lahan di daerah hulu, yaitu daerah lereng Gunungapi Merapi yang merupakan tulang punggung sistem geohidrologi kawasan dataran Jogja dan sekitarnya. Akibat perubahan penggunaan lahan yang terjadi di daerah ini telah menurunkan tingkat infiltrasi sehingga terjadi fluktuasi posisi muka airtanah dataran Jogja, terutama pada saat musim kemarau. Untuk itu, perlu upaya-upaya konservasi dalam rangka pelestariannya dengan memperhatikan tipologi sistem aquifer pada daerah tangkapannya. Kata kunci: Konservasi air, airtanah, “recharge area”. 
RELOKASI INDUSTRI DI KABUPATEN BANDUNG Waluya, Bagja
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i2.1724

Abstract

Kabupaten Bandung sudah terkenal dengan industri tekstilnya. Selain itu juga berkembang industri garmen sebagai industri lanjutannya dan industri-industri yang tidak berkaitan dengan tekstil lainnya. Peran industri terhadap perekonomian Kabupaten Bandung pun cukup besar, baik terhadap pendapatan daerah maupun ketersediaan lapangan kerja. Perkembangan industri yang membawa berkah dari sudut ekonomi ini, ternyata juga membawa dampak lain. Terhadap lingkungan, industri ini membawa dampak negatif misalnya terhadap persediaan air. Dengan banyaknya industri yang membuat sumur artesis ini, maka laju produksi (discharge) air tanah lebih besar dari laju pengisiannya (recharge). Akibatnya, permukaan air tanah makin lama makin dalam. Untuk mengurangi dampak tersebut salah satunya dengan memindahkan industri (relokasi industri) yang disertai dengan rencana yang matang baik mengenai perkembangan kawasan industri baru, maupun wilayah-wilayah yang seharusnya ditutup untuk industri. Kata kunci: Relokasi, Industri, Water Supply.
ANALISIS DEBIT DRAINASE DI RAWA PASANG SURUT HUTAN TANAMAN INDUSTRI (HTI) DI OGAN KOMERING ILIR (OKI) SUMATERA SELATAN Zuchri, Rosmina; Setiawan, Budi Indra; Setyawan, Dwi; Soewarso, Soewarso
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v11i1.1640

Abstract

The net of canal and control water building are needed in achieving and improving the result production of woods industrial forest furthermore for economic national development and social property. The canal constructing is important for debit fluctuation in canal drainage in order for continuities of water resources in wetland area. The purpose of this research 1) determined debit of drainage and presentation cross section as picture and formula rating curve, 2) analyzed fluctuation drainage of debit as the result of water level HOBO measurement, this research was done in tidal wetland at industrial wood forest OKI, South Sumatera. The way in getting the fluctuation modelling for debit of drainage was using a computer program which is known as Cubic Spline Interpolation (CSI). This program was used for picturing the profil cross section which is presented in rating curve as the result of measurement distance, deep canal and flow velocity as the input. As the result of this research, the width of canal drainage is about 8-10 m with deep 3- 4 m. Debit downstream is about 6,044 m3/second. and upstream 7,866 m3/second Rating curve is Qw=a. Hw^b, where Qw is debit (m³/ second) and Hw is high of water from datum canal (m). The measurement of water level in canal drainage use Hobo data logger, the we used formula rating curve. Debit downstream max 9,311 m3/second and water level 3,110 m, min 0,129 m3/s and water level 0,270 m, at upstream of debit max 7,017 m3/s and water level 2,823 m. min 0,099 m3/s and water level 0,227 m.Key word: tidal lowland, cubic spline interpolation, rating curve. industrial woods forest.
PENGEMBANGAN EKOWISATA SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PEMBERDAYAAN SOSIAL, BUDAYA DAN EKONOMI DI MASYARAKAT Susilawati, Susilawati
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i1.1690

Abstract

Pembangunan pariwisata memiliki nilai dan keuntungan yang signifikan bagi kemajuan sektor lainnya. Namun demikian, membangun pariwisata mengharuskan banyak aktivitas yang dapat membawa dampak negatif bagi lingkungan. Untuk meminimalisasi risiko atau dampak negatif pembangunan industri pariwisata maka pembangunan pariwisata perlu dikembangkan sesuai keunikan dan kondisi wilayah yang ada. Konsep pengembangan pariwisata yang didasarkan pada keunikan dan kondisi wilayah dapat dikembangkan dengan mengimplementasikan pembangunan pariwisata ekologi (ecotourism) atau pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism development) dalam bentuk ekowisata. Penerapan pembangunan pariwisata yang ramah lingkungan dan disesuaikan dengan keunikan dan kondisi setempat, keberhasilannya dapat diukur melalui proses sosial-budaya yang berkelanjutan dan melibatkan jati diri masyarakat setempat; siklus sumberdaya alam dan lingkungan yang berkelanjutan; serta proses ekonomi yang dapat memberikan keuntungan secara berkelanjutan. Jika pendekatan ekowisata diterapkan dengan baik maka industri pariwisata berpotensi untuk memberikan dampak positif yang menguntungkan bagi lingkungan melalui upaya-upaya perlindungan dan konservasi lingkungan dimana pariwisata dapat merupakan sumber untuk membiayai upaya perlindungan sumberdaya lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomi sumberdaya/lingkungan, sekaligus pemberdayaannya dalam bidang sosial dan budaya masyarakat yang ada di sekitarnya. Kata kunci: ekowisata, pemberdayaan, sosial, kultural dan ekonomis.
MEMBANGUN SINERGI PENDIDIKAN AKADEMIK (S1) DAN PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG) Ningrum, Epon
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i2.1783

Abstract

Kualitas pendidikan terus diupayakan, di antaranya melalui peningkatan profesionalitas guru. Guru profesional dihasilkan melalui pendidikan akademik (S1) dan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Untuk itu, dipandang penting membangun sinergi kedua lembaga pendidikan tersebut melalui kajian tentang kurikulum, sarana prasarana, sumberdaya manusia, dan program pengalaman lapangan, untuk menghasilkan guru yang memenuhi kualifikasi, memiliki kompetensi dan sertifikat pendidik. Kajian dilakukan terhadap tiga jurusan, yakni: Jurusan Pendidikan Geografi, Jurusan Pendidikan Sejarah, dan Jurusan pendidikan Kewarganegaraan. Responden: pimpinan jurusan, dosen, guru, dan mahasiswa. Instrumen penelitian: dokumentasi, angket, dan pedoman wawancara. Analisis data secara deskriptif. Struktur dan isi kurikulum pendidikan akademik (S1) belum memiliki relevansi dan kontinuitas dengan kurikulum pendidikan profesi guru (PPG). Kualifikasi akademik, persyaratan administrasi dosen pada pendidikan akademik dan guru pamong belum memiliki daya dukung optimal bagi pelaksanaan PPG. Sarana prasarana pada pendidikan akademik belum memiliki daya dukung optimal bagi workshop Subject Spesific Pedagogy (SSP). PPL-S1 dan PPL-PPG terdiri atas tiga tahapan kegiatan yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian. Terdapat komponen yang sama yaitu: dosen pembimbing, mahasiswa, guru, penguji, ujian, sekolah mitra, dan kelulusan, sedangkan komponen yang berbeda adalah prosedur pelaksanaan, supervisor, penguji, dan penilaian. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan pengembangan kurikulum, sumber daya manusia, optimalisasi penggunaan sarana prasarana, dan PPL pada pendidikan S1 bagi efisiensi dan efektivitas PPG. Kata kunci: pendidikan akademik, pendidikan profesi guru.
DAMPAK PENCEMARAN WADUK SAGULING TERHADAP BUDIDAYA IKAN JARING TERAPUNG Mulyadi, Asep; Atmaja, E. Siswandi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v11i2.1622

Abstract

Waduk Saguling adalah salah satu dari tiga waduk yang berada pada aliran Sungai Citarum. Penduduk memanfaatkan potensi perairan waduk untuk kepentingan usaha budidaya ikan khususnya Sistem Jaring Terapung (Japung) dan sangat membantu bagi peningkatan perekonomian masyarakat di pesisir waduk. Saat ini, kondisi kualitas air waduk cenderung menunjukkan penurunan, baik sebagai akibat pencemaran oleh limbah industri, rumah tangga, maupun secara kuantitas yaitu faktor penurunan jumlah atau volume air terutama kemarau panjang yang sering terjadi di beberapa tahun terakhir. Sejauh apa tingkat pencemaran yang terjadi saat ini, dan bagaimana pengaruhnya terhadap usaha budidaya ikan Sistem Jaring Terapung penduduk di kawasan Waduk Saguling, adalah tujuan dari penelitian ini. Adapun metode dan analisis yang digunakan adalah survey dan analisis deskriptif. Variable dalam penelitian ini yaitu tingkat pencemaran Waduk Saguling sebagai variabel bebas, dan budidaya ikan sebagai sub-variabelnya yang meliputi tingkat produksi ikan jaring terapung, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat sebagai variabel terikat. Pengambilan sampel dilakukan secara Probability sampling yaitu setiap satuan dari populasi diberikan kemungkinan yang sama untuk dimasukkan ke dalam sampel. Berdasarkan probability sample maka seorang peneliti dalam batas tertentu dapat menarik kesimpulan yang berlaku bagi seluruh populasi. Pengumpulan datanya dengan observasi, kuesioner, wawancara, studi litelatur dan studi dokumentasi. Sedangkan pengolahan datanya menggunakan analisis prosentase. Hasil penelitian menunjukan bahwa pencemaran badan air Citarum mencapai 260 ton limbah rumah tangga domestik dan industri tumpah ke Citarum setiap harinya, sekitar 60% disebabkan oleh limbah domestik, sementara daya dukung badan air yang ada hanya mampu menerima beban pencemaran sekitar 80 ton Biocemikal Oxigen Demaind (BOD) per hari,  iperkirakan pencemaran BOD oleh industri mencapai 100 ton per hari sedangkan oleh peduduk atau domestik mencapai 160 ton per hari. Dengan melihat kondisi tersebut maka badan air Citarum hanya mampu menampung separuh dari pencemaran yang disebabkan oleh limbah domestik dan industri tersebut. Kondisi tercemarnya air waduk tersebut juga berpengaruh pada kondisi ekonomi masyarakat. Hasil wawancara, menunjukkan pengahasilan mereka mengalami penurunan yang serius. Hasil panen pada musim kemarau dan musim hujan jauh berbeda, jika pada musim penghujan hasil panen bisa mencapai 6 kuintal per petak untuk bibit 100 kilogram, sedangkan pada musim kemarau maksimal hanya mampu mendapatkan hasil sebanyak 3-4 kuintal. Kata kunci: pencemaran, Waduk Saguling, jaring terapung, produksi ikan,pendapatan masyarakat.

Page 3 of 36 | Total Record : 352