cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
PENGEMBANGAN KARIR KONTRIBUSINYA TERHADAP KINERJA PEGAWAI Supardi, Endang
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i1.1680

Abstract

Manusia dalam suatu organisasi selalu menjadi elemen yang berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan organisasi, karena manusia itu sendiri yang menjadi perencana, pelaku dan penentu terwujudnya tujuan organisasi. Maju tidaknya suatu organisasi tergantung dari manusia-manusia yang mengelolanya, maka dari itu untuk mengelola organisasi yang baik diperlukan suatu pengelolaan sumber daya manusia yang baik agar mampu dan mau bekerja secara optimal demi tercapainya tujuan organisasi. Untuk bisa melihat maju tidaknya suatu organisasi bisa dilihat dari kinerja pegawainya. Kinerja pegawai menentukan keberhasilan suatu instansi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Menurut Gibson, et al (1994:213) mengemukakan: “Kinerja merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, jadi kinerja dinyatakan baik dan sukses jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik”. Sesuai dengan apa yang dikatakan Bambang Wahyudi (1991:100), mengungkapkan bahwa: “Kinerja atau performance adalah prestasi kerja yang dikehendaki dalam suatu jabatan tertentu dengan prestasi kerja yang sesungguhnya dicapai oleh seorang tenaga kerja”. Kemudian A.A Anwar Prabu Mangkunegara (2000:67) menyatakan bahwa: “Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”.Kata kunci: Pengembangan karir, Kinerja pegawai.
UPAYA MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN MELALUI PENDIDIKAN LINGKUNGAN Setiawan, Iwan
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i1.1715

Abstract

Kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai kawasan dunia saat ini telah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Berbagai indikator lingkungan menunjukkan hal tersebut, sehingga berbagai pihak telah dan sedang berupaya keras untuk mengatasinya. Upaya-upaya tersebut, tidak jarang masih bersifat lokal atau sporadis dan jangka pendek, sehingga kerusakan lingkungan terus terjadi. Solusi jangka panjang tengah di perjuangkan oleh berbagai lembaga baik di dunia maupun Indonesia yaitu dengan menyiapkan generasi yang akan datang melalui pendidikan lingkungan. Di tingkat dunia, organisasi-organisasi di bawah naungan PBB terus berupaya menggalang kerja sama antar negara dalam membangun kesadaran lingkungan. Berbagai konferensi telah diselenggarakan dan sejumlah konvensi telah dihasilkan yang sangat bermanfaat sebagai dasar atau kerangka dalam merancang program di tiap negara. Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki posisi penting dalam tatanan lingkungan dunia juga terus mengikuti perkembangan tersebut. Kerusakan lingkungan yang terjadi di negara ini tidak bisa hanya diatasi sendiri tetapi memerlukan kerja sama dengan negara lain. Kementerian Negara Lingkungan hidup juga menjalin kerja sama dengan departemen lainnya untuk mengatasi permasalahan yang ada. Kerja sama penting telah dilakukan dengan Depdiknas dan Departemen Agama dengan merancang program pendidikan lingkungan hidup bagi generasi penerus. Kata kunci: Pembangunan berkelanjutan, Pendidikan lingkungan.
PENDIDIKAN PETANI DAN ALTERNATIF PEMANFAATAN LAHAN BERKELANJUTAN DI DAERAH HULU SUNGAI CIKAPUNDUNG Darsiharjo, Darsiharjo
Jurnal Gea Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sampai saat ini masih dianggap sebagai negara agraris, karena sebagian kebutuhan hidup masyarakatnya masih bertumpu pada hasil pertanian. Di sisi lain, mata pencaharian bertani yang dilakukan oleh sebagian masyarakat sering menimbulkan kerusakan dan dianggap tidak berkelanjutan, yang ditandai oleh banyaknya lahan pertanian di tempat yang tidak direkomendasikan sehingga menimbulkan erosi, sedimentasi, banjir, longsor, dan tanah semakin tandus serta tidak ekonomis. Dalam berbagai seminar, diskusi, dan laporan penelitian, petani sering dijadikan kambing hitam dalam mempercepat kerusakan lahan, sementara solusi untuk memperbaiki dan mencegah kerusakan lahan sering tidak dipahami dan sulit dilaksanakan oleh petani. Para konseptor dan pakar kadang-kadang tidak pernah mencoba dan memberikan contoh secara langsung bentuk pemanfaatan lahan yang produktif secara berkelanjutan. Pendidikan petani tidak hanya diukur dari pendidikan formal yang dimiliki oleh petani saja, melainkan harus diukur dari pengalaman dan praktik langsung di lahan pertanian, sehingga kriteria yang digunakan untuk mengukur keberhasilan petani harus sesuai antara pendekatan teoretis dengan pendekatan praktik di lapangan. Kesadaran petani akan kehidupan masa depan sebagai salah satu modal untuk mendidik petani menjadi petani yang kompetitif dan komparatif dalam mencari berbagai solusi pemanfaatan lahan berkelanjutan dengan biaya rendah. Kata Kunci: Pendidikan petani, pemanfaatan lahan, daerah hulu sungai.
MODEL PEMBELAJARAN MITIGASI BENCANA DALAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Maryani, Enok
Jurnal Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinamika alam sangat memberikan dampak bagi kehidupan manusia, baik bersifat menguntungkan maupun merugikan. Sifat merugikan inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan bencana. Untuk meminimalkan risiko atau kerugian bagi manusia, perlu pengetahuan, pemahaman, kesiapsiagaan keterampilan untuk mencegah, mendeteksi dan mengantisipasi secara lebih dini tentang berbagai macam bencana atau lebih dikenal dengan istilah mitigasi bencana. Mitigasi meliputi aktivitas dan tindakan-tindakan perlindungan yang dapat diawali dari persiapan sebelum bencana itu berlangsung, menilai bahaya bencana, penanggulangan bencana, berupa penyelamatan, rehabilitasi dan relokasi. Pengetahuan, pemahaman dan keterampilan berperilaku dalam mencegah, mendeteksi, mengantisipasi bencana secara efektif dapat ditransformasikan, disosialisasikan melalui pendidikan IPS yang secara khusus membahas mengenai isu-isu masalah sosial. Penelitian ini didesain untuk mengembangkan model mitigasi bencana dalam pembelajaran IPS SMP. Hasil kegiatan penelitian yang diharapkan adalah: (1) peta kompetensi dasar IPS yang mengandung mitigasi bencana, (2) deskripsi analisis kebutuhan penyusunan model mitigasi bencana dalam pembelajaran IPS, dan (3) seperangkat model mitigasi bencana dalam pembelajaran IPS. Metode yang digunakan adalah research and development (penelitian dan pengembangan). Untuk mengetahui kebutuhan akan pembelajaran bencana dilakukan survei di daerah yang rawan bencana yaitu Pangandaran (gempa dan tsunami), Sukabumi (gempa dan tsunami), Dayeuhkolot (Banjir), Lembang (longsor dan gunungapi), Cirebon (angin topan). Sampel terdiri dari 10 orang kepala sekolah, 10 dewan sekolah, 40 orang guru dan 81 orang siswa. Data diolah secara kuantitatif, untuk kemudian diinterpretasi sesuai dengan tujuan penelitian. Model pembelajaran terpadu merupakan model implementasi kurikulum IPS yang dianjurkan untuk diaplikasikan di SMP khususnya untuk mengajarkan tema mitigasi bencana. Adapun metode pembelajaran yang paling tepat diterapkan adalah melalui metode Cooperative learning dan problem solving, di samping metode lainnya seperti diskusi, simulasi dan demonstrasi. Media pembelajaran yang dianggap efektif adalah film, gambar dan peta, sedangkan evaluasi pembelajaran dapat dipadukan antara test, portofolio dan performance. Selain itu, model pembelajaran mitigasi bencana dalam pelatihan, penataran guru dan refreshing guru terhadap materi IPS kebencanaan perlu diberikan sebelum disosialisasikan pada peserta didik.Kata kunci: model pembelajaran, mitigasi bencana, Ilmu Pengetahuan Sosial.Artikel ini merupakan hasil penelitian Hibah Bersaing yang didanai Dit P2M Ditjen Dikti
PELESTARIAN SUMBER DAYA AIR VERSUS TEKANAN PEMANFAATAN RUANG BERASOSIASI PERMUKIMAN DI KABUPATEN PEMALANG Budi, Triton Prawira
Jurnal Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konservasi air merupakan kebutuhan yang mendesak mengingat air bukanlah produk yang dapat disubstitusikan. Kesadaran akan kebutuhan air yang dapat mempengaruhi kelanjutan hidup manusia hendaknya segera ditanamkan. Beberapa aktivitas pemanfaatan ruang yang tidak tanggap konservasi sumber daya air di Kabupaten Pemalang menimbulkan pertanyaan: apakah aktivitas pemanfaatan ruang telah mencerminkan tekanan terhadap konservasi sumber daya air kabupaten Pemalang? Kajian ini bersifat deskriptif analitik. Data sekunder diperoleh sebagian besar dari BPS dan RTRW Kabupaten Pemalang. Selanjutnya dilakukan analisis dalam bentuk tampilan tabel dan grafik sederhana. Hasil kajian ini adalah bahwa proporsi lahan sawah dari tahun-ke tahun cenderung menurun, yaitu dari 39,25% pada tahun 2004 menjadi 38,19% pada tahun 2005, dan pada akhirnya hanya tersisa 38,09 % pada tahun 2006. Demikian juga penggunaan lahan tegalan juga mengalami penurunan dari 17,82% pada tahun 2004 menjadi 17,74% pada tahun 2005, namun proporsi tersebut tidak berubah pada tahun 2006. Sebaliknya, penggunaan lahan bangunan pekarangan semakin meningkat dari 13,14% pada tahun 2004 menjadi 14,07% pada tahun 2005, dan 14,16% pada tahun 2006. Hasil tersebut dapat dimaknai 1) Meningkatnya tekanan penduduk, 2) Berkurangnya vegetation coverage, 3) Kerusakan tanah, top soil, 4) Run off meningkat, infiltrasi berkurang, dan 5) Menurunnya muka freatik. Kata kunci: pemanfaatan ruang, pelestarian, sumber daya air
MOBILITAS TENAGA KERJA INDONESIA DALAM ERA GLOBALISASI Ruhimat, Mamat
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v6i1.1730

Abstract

Globalisasi yang salah satunya ditandai oleh hadirnya blok-blok perdagangan bebas, pada dasarnya merupakan era kompetisi kualitas tenaga kerja. Era globalisasi akan berdampak positif dan negatif bagi ketenagakerjaan Indonesia. Globalisasi akan berdampak positif dalam arti memberikan peluang kerja bagi tenaga kerja bila tenaga kerja kita telah dipersiapkan untuk menyongsong itu, sebaliknya akan berdampak negatif ketika tenaga kerja kita tidak dipersiapkan untuk menghadapi itu. Globalisasi bagi tenaga kerja yang kualitasnya rendah, hanyalah merupakan era kebingungan saja dan atau menjadi penonton kemajuan pihak asing. Implementasi blok-blok perdagangan bebas, akan menghalalkan masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia. Namun apakah tenaga kerja Indonesia siap bersaing dan menjadi pemain kunci pada kompetisi internasional? Kata kunci: Mobilitas, Tenaga kerja.
PENGELOLAAN SUMBERDAYA PANTAI Sugandi, Dede
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v11i1.1647

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki sumber daya garis pantai/pesisir yang panjang. Pengelolaan wilayah pesisir membutuhkan pengelolaan yang berkelanjutan sehingga dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan. Laut yang mengelilingi wilayah Indonesia dipengaruhi oleh pergerakan arus, angin, dan gelombang yang mempengaruhi terjadinya abrasi. Abrasi yang dapat menyebabkan air laut menjadi keruh dan longsor di pinggir pantai bertebing selanjutnya akan mempengaruhi penduduk yang bermata pencaharian di pantai. Tujuan kajian adalah menganalisis potensi sumberdaya pantai Indonesia yang dapat dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan, dan menganalisis model yang sesuai dalam pengelolaan sumberdaya pantai sehingga potensi sumberdaya hayati berkelanjutan. Dalam pengelolaan sumberdaya perlu aturan yang diberlakukan, sehingga terjadi keseimbangan, kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya. Aturan diberlakukan tidak untuk semua kawasan, tetapi bagi kawasan-kawasan yang dibutuhkan untuk pemijahan dan pengembangbiakan biota laut. Untuk pengelolaan kawasan tersebut perlu kawasan konservasi yang sama-sama dipahami dan disadari oleh setiap pemangku kepentingan, stakeholder, nelayan, pemerintah, masyarakat dan pemerintah. Aturan dan kebijakan yang diberlakukan yang melibatkan pemangku kepentingan yang menjadi budaya yang berkembang dimasyarakat sehingga kawasan perlindungan/konservasi menjadi suatu keharusan dan dilaksanakan secara sadar oleh masyarakat.Kata kunci : pantai, pengelolaan, konservasi.
PEMANFAATAN CITRA SATELIT LANDSAT DALAM PENGELOLAAN TATA RUANG DAN ASPEK PERBATASAN DELTA DI LAGUNA SEGARA ANAKAN Sugandi, Dede
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1696

Abstract

Perairan Segara Anakan yang merupakan pertemuan beberapa muara sungai, yaitu Ci Tanduy, Ci Meneng, Ci Beureum, Ci Konde, dan beberapa sungai lainnya telah berubah akibat sedimentasi oleh lumpur Ci Tanduy yang setiap tahunnya menyumbang 740.000 meter kubik lumpur dari total sedimen 1 juta meter kubik/tahun yang dibawa masuk sungai-sungai lain. Adanya penambahan luas daratan akibat proses sedimentasi tersebut tentunya akan menimbulkan berbagai dampak. Dampak tersebut tidak saja berpengaruh terhadap aspek kehidupan penduduk, tetapi juga terhadap aspek lain yang melibatkan pihak pemerintah, misalnya dalam pengelolaan tata ruang dan aspek perbatasan. Salah satu dampak sedimentasi di kawasan Segara Anakan adalah permasalahan hukum dan kelembagaan dari kepemilikan delta di kawasan laguna. Dari kondisi inilah yang menyebabkan perlunya dicari model pendekatan yang sesuai untuk penataan ruang perairan Segara Anakan. Dalam penelitian ini, upaya pengelolaan tata ruang dan aspek perbatasan dan penguasaan tanah delta akibat sedimentasi di kawasan Segara Anakan dianalisis melalui citra penginderaan jauh misalnya dengan Citra Landsat. Pemanfaatan citra satelit dipilih sebagai alternatif penelitian, karena citra satelit dapat mencakup daerah yang luas. Dari citra satelit tersebut dapat diidentifikasi secara spesifik antara daratan dan lautan dalam waktu relatif singkat, serta waktu perekamannya yang berkelanjutan. Kata Kunci: Segara Anakan, sedimentasi, citra landsat, laguna
INDUSTRI PERTANIAN SEBAGAI LEADING SECTOR PEREKONOMIAN NASIONAL Hapsah, Siti
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i2.1720

Abstract

Indonesia mempunyai dasar pertimbangan yang kuat untuk memberikan prioritas pada pembangunan sektor pertanian. Berbagai kasus yang dialami petani Indonesia, menunjukkan pentingnya pembangunan pertanian yang menghasilkan sektor pertanian yang mandiri, sebagai prasyarat untuk mencegah lestarinya ketergantungan pada negara industri dalam hal pangan. Masalah pembangunan pertanian di Indonesia tidak terlepas dari upaya meningkatkan kualitas SDM melalui peningkatan kemampuan para petani agar dapat lebih berperan dalam berbagi proses pembangunan. Pemberdayaan petani, harus dipandang sebagai bagian integral kebijakan nasional. Pembangunan industri pengolahan pertanian menjadi pilihan yang strategis, sehingga nilai tambah hasil pertanian yang besar dapat dinikmati petani, sekaligus meningkatkan produktivitas petani dan menyediakan kesempatan kerja di pedesaan. Supaya kegiatan industrialisasi dapat berkembang dengan baik, maka peranan pemerintah sangat diperlukan dalam memfasilitasi kepentingan petani, Petani dipandang sebagai subjek kebijakan agraria. Pemberdayaan petani, harus bernuansa “gebrakan”, dan perlu adanya political will bahkan political commitment dari pemerintah. Kata kunci: Industri pertanian, leading sector.
SISTEM POLA TANAM DI WILAYAH PRIANGAN BERDASAKAN KLASIFIKASI IKLIM OLDEMAN Fadholi, Akhmad; Supriatin, Dina
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i2.1788

Abstract

Wilayah Priangan merupakan bagian dari Pulau Jawa yang merupakan distributor pangan terbesar di Indonesia. Priangan memiliki tanah yang sangat subur karena di wilayahnya banyak terdapat deretan pegunungan dan sungai yang mengalir. Dengan kondisi topografi yang kompleks ini perlu dilakukan penelitian mengenai kondisi iklimnya untuk menentukan sistem pola tanam di wilayah tersebut. Unsur iklim yang dianalisa adalah unsur curah hujan yang sangat berperan langsung terhadap pertumbuhan tanaman dibanding unsur-unsur iklim lainnya. Hal ini tampak nyata terutama pada daerah persawahan tadah hujan, sehingga diperlukan upaya yang sistematis dan praktis untuk memahami perilaku iklim. Sistem klasifikasi Oldeman sangat berguna dalam klasifikasi lahan pertanian tanaman pangan di Indonesia dengan menggunakan unsur curah hujan. Kriterianya didasarkan pada perhitungan bulan basah (BB) dan bulan kering (BK) berturut-turut yang batasannya memperhatikan peluang hujan, hujan efektif dan kebutuhan air untuk tanaman. Dengan klasifikasi iklim Oldeman ini dapat ditentukan sistem pola tanam di suatu wilayah. Berdasarkan klasifikasi iklim Oldeman, sebagian besar wilayah Priangan bertipe iklim B1, B2, C1, C2 dan C3. Tipe iklim paling basah di wilayah Priangan adalah tipe B1, yang cocok ditanami padi sawah umur pendek 3 (tiga) kali panen atau padi sawah umur pendek 2 (dua) kali panen dan palawija 1 (satu) kali panen. Sedangkan tipe iklim paling kering di wilayah Priangan adalah tipe C3, yang cocok ditanami padi sawah umur pendek 1 (satu) kali panen dan palawija 2 (dua) kali panen khusus yang kedua jatuh pada musim kemarau. Kata kunci: curah hujan, iklim, klasifikasi iklim oldeman, sistem pola tanam.

Page 4 of 36 | Total Record : 352