cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
abied76@gmail.com
Editorial Address
Street Pramuka 156. Po. Box. 116 Ponorogo 63471, East Jawa, Indonesia
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
MUSLIM HERITAGE: JURNAL DIALOG ISLAM DENGAN REALITAS
ISSN : 2502535X     EISSN : 25025341     DOI : 10.21154/muslimheritage
Core Subject : Humanities, Art,
Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas, is a double-blind peer-reviewed academic journal published by the Postgraduate of State Islamic Institute (IAIN) Ponorogo. The journal is a semi-annual publication publishing two issues (June and December) each year. It strives to strengthen transdisciplinary studies on issues related to Islam and Muslim societies. Its principal concern includes Islamic education, Islamic law, and Islamic economic. The journal reserves as a knowledge exchange platform for researchers, scholars, and authors who dedicate their scholarly interests to expand the horizon of education, law,and economic.
Arjuna Subject : -
Articles 221 Documents
Islamic Microfinance Institutions and Non-Performing Financing (NPF): Challenges and Strategic Response Using Analytic Network Process (ANP) Approach Said, Muhammad; Maulana, Hartomi; Yudi Astuti, Rahma
MUSLIM HERITAGE Vol 10 No 2 (2025): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v10i2.11964

Abstract

Non-Performing Financing (NPF) is financing that does not comply with the initial contract schedule, causing disruption to the cash flow of Islamic microfinance institutions. The average Non-Performing Financing (NPF) of Islamic Microfinance Institutions (MFIs) in 2023 reached 13.09%. The urgency of this study reveals that Islamic MFIs or popularly called as Baitul Maal wa Taamwil (BMT) can be an alternative platform to enhance financial inclusion since they reach out even remote areas. However, NPF is often a problem faced by BMT. The purpose of this study is to analyse the issue of NPF in Islamic MFIs in Indonesia. The study also examines strategies to address issue of NPF in Islamic MFIs in Indonesia. To achieve the research objectives, the method used is through a qualitative approach with Analytic Network Process (ANP) used to be as analysis technique. Primary data sources were obtained through forum group discussions (FGDs) and pair-wise questionnaires and interviews with 10 respondents who are considered experts in related fields. The results of this study indicate that based on the ANP results internal management issue as main problem that causes NPF occur, followed by internal human resource issues, debtor/customer issues and regulatory issues. Main priority of the settlement strategy of NPF include strategy of improving internal management by improving internal human resources, then increasing sharia literacy, and government policy. The study suggests as the issues on internal management is in top rank, the Islamic MFIs should improve internal management elements including enhancing accountability and conducting professional administration.     Abstrak Pembiayaan macet (Non-Performing Financing - NPF) merupakan pembiayaan tidak lancar yang tidak sesuai jadwal kontrak awal, menyebabkan terganggunya arus kas lembaga keuangan mikro Syariah.  NPF pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) pada tahun 2023 mencapai 13,09%. Urgensi penelitian ini mengungkapkan bahwa BMT dapat sebagai solusi keuangan inklusif dengan penyebarannya hingga daerah terpencil, yang dapat berinteraksi langsung kepada masyarakat pelaku Usaha Mikro Kecil (UMK). Sehingga NPF kerap menjadi sebuah persoalan yang dihadapi BMT. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis isu permasalahan penyebab terjadinya NPF pada LKMS di Indonesia dan menganalisis strategi guna meminimalisir kembali terjadinya NPF pada LKMS di Indonesia. Untuk mencapai tujuan penelitian, pendekatan kualitatif dengan Analytical Network Process (ANP) sebagai teknik analisis digunakan dalam studi ini. Metode ini dapat membantu hasil pengambilan keputusan atau sebuah kebijakan dalam mendapatkan alternatif terbaik diantara isu-isu dan strategi dihasilkan dengan menampilkan urutan prioritasnya. Sumber data primer didapatkan melalui forum group discussion (FGD), kuesioner pairwaise comparison, dan interview dengan 10 responden yang dianggap pakar dalam bidang terkait, yang terbagi dari regulator, akademisi dan praktisi. Hasil penelitian ini prioritas utama isu permasalahan NPF pada BMT terjadi pada manajemen internal, diikuti isu SDM internal, isu debitur/nasabah dan isu regulasi. Sedangkan prioritas utama strategi penyelesaiannya adalah peningkatan manajemen internalnya, diikuti peningkatan SDM internal, lalu peningkatan literasi syariah, dan kebijakan pemerintah. Penelitian ini menunjukkan karena isu manajemen internal berada pada peringkat teratas, LKM Islam harus meningkatkan elemen manajemen internal termasuk meningkatkan akuntabilitas dan melakukan administrasi profesional
Tepuk Sakinah and Family Resilience: an Evaluative Framework Within The Maqasid Al-Shariah Paradigm Achmad Baidhowi; Shofiatul Jannah; Dwi Ari Kurniawati; Ahmad Shodiqin
MUSLIM HERITAGE Vol 11 No 1 (2026): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v11i1.12325

Abstract

Abstract This article explores Tepuk Sakinah as a means of internalizing the values of a harmonious family in response to high divorce rates, which indicate that premarital guidance should focus on preparing prospective couples to manage conflict, communication, finances, and family responsibilities. The objectives of this study are to analyze the relevance of the five pillars of Tepuk Sakinah to Maqasid al-Shariah, to describe its implementation in Marriage Guidance at the Jombang Subdistrict Office of Religious Affairs, and to formulate a realistic evaluation framework. This study employs a descriptive qualitative approach with a constructivist paradigm. The findings indicate that Tepuk Sakinah functions as a reminder of values during the closing session of Marriage Guidance, not as part of the marriage contract ceremony. Its five pillars align with the al-daruriyyat al-khams. Zawaj and Mitsaqan Ghalizan relate to Hifz al-nasl and Hifz al-din; Muasyarah bil maruf to Hifz al-nafs; Musyawarah to Hifz al-aql; and Taradin to Hifz al-nafs and Hifz al-mal. The evaluation framework is broken down into the orientation of Maqasid al-Shariah, micro-skills, core activities, and indicators suitable for implementation within a limited service duration. The Tepuk Sakinah evaluation is not sufficient to measure mere memorization of the pillars; rather, it must assess understanding of the values, readiness to address issues, and the applicability of the indicators. The implications of the findings suggest that Tepuk Sakinah is suitable to be positioned as a medium for the internalization of sakinah family values based on Maqasid al-Shariah.   Abstrak Artikel ini mengeksplorasi Tepuk Sakinah sebagai media internalisasi nilai keluarga sakinah dalam merespons tingginya angka perceraian yang menunjukkan bahwa pembekalan pranikah perlu diarahkan pada kesiapan calon pasangan dalam mengelola konflik, komunikasi, ekonomi, dan tanggung jawab keluarga. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis relevansi lima pilar Tepuk Sakinah dengan Maqasid al-Shariah, mendeskripsikan operasionalisasinya dalam Bimbingan Perkawinan di Kantor Urusan Agama Kecamatan Jombang, serta merumuskan kerangka evaluasi yang realistis. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivis. Hasil temuan menunjukkan bahwa Tepuk Sakinah berfungsi sebagai media pengingat nilai pada sesi penutup Bimbingan Perkawinan, bukan bagian dari prosesi akad. Lima pilarnya selaras dengan al-daruriyyat al-khams. Zawaj dan Mitsaqan Ghalizan berkaitan dengan Hifz al-nasl dan Hifz al-din, Muasyarah bil maruf dengan Hifz al-nafs, Musyawarah dengan Hifz al-aql, serta Taradin dengan Hifz al-nafs dan Hifz al-mal. Kerangka evaluasi diturunkan menjadi orientasi Maqasid al-Shariah, keterampilan mikro, aktivitas inti, dan indikator yang layak diterapkan dalam durasi layanan terbatas. Evaluasi Tepuk Sakinah tidak cukup mengukur hafalan pilar, tetapi perlu membaca pemahaman nilai, kesiapan merespons masalah, dan keterpakaian indikator. Implikasi temuan menunjukkan Tepuk Sakinah layak diposisikan sebagai media internalisasi nilai keluarga sakinah berbasis Maqasid al-Shariah. Keywords: Tepuk Sakinah; Maqasid al-Shariah; Marriage Guidance; Islamic Family Law.
Community Mediation in Islamic Inheritance Disputes: Integrating Sulh and Syahrur's Theory of Limits in The Suralaga Community Asmuni Asmuni; Nasri Nasri
MUSLIM HERITAGE Vol 11 No 1 (2026): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v11i1.12364

Abstract

The distribution of inheritance is one of the key aspects of Islamic family law that frequently gives rise to disputes. Consequently, this study aims to identify an integrative model for dispute resolution through community mediation, drawing on Muhammad Syahrur’s theory of limits. The study employs a normative empirical method with a socio legal approach that combines the study of Islamic law, customary law, and empirical data. Data was obtained through interviews with customary leaders, religious leaders, and mediators. The results of the study indicate that community mediation through the sulh mechanism integrates Islamic values, customary law, and state law. In this process, religious and customary leaders act as mediators who promote peace, justice, and agreement among the parties. Based on Muhammad Syahrur’s theory of limits, this allows for flexibility in determining inheritance shares, taking into account minimum and maximum limits in accordance with the socio-cultural context of the community without contravening the principles of Sharia. The integration of Islamic norms, the theory of limits, and the practice of sulh produces a restorative, participatory, and contextual model of dispute resolution, gaining both socio cultural legitimacy and legal legitimacy through formal legal recognition. Thus, this integrative model is not only an effective alternative for dispute resolution but also a new paradigm for achieving fair inheritance dispute resolution through the synergy between religion, custom, and state law.   Abstrak Pembagian harta waris merupakan salah satu aspek penting dalam hukum keluarga Islam yang kerap menimbulkan sengketa. Untuk itu penelitian ini bertujuan menemukan model integratif penyelesaian sengketa melalui mediasi komunitas perspektif teori limit Muhammad Syahrur. Penelitian ini menggunakan metode normatif empiris dengan pendekatan sosio legal yang menggabungkan kajian hukum Islam, hukum adat, dan data empiris. Data diperoleh melalui wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, dan mediator. Hasil penelitian menunjukkan mediasi komunitas melalui mekanisme suluh mengintegrasikan nilai Islam, adat, dan hukum negara. Dalam proses ini, tokoh agama dan tokoh adat berperan sebagai mediator yang mendorong perdamaian, keadilan, dan kesepakatan para pihak. Berdasarkan teori limit Muhammad Syahrur memungkinkan fleksibilitas dalam menentukan bagian waris, dengan mempertimbangkan batas minimal dan maksimal sesuai konteks sosio kultural masyarakat tanpa menyalahi prinsip syariat. Integrasi antara norma Islam, teori limit, dan praktik suluh menghasilkan model penyelesaian sengketa yang restoratif, partisipatif, dan kontekstual serta memperoleh legitimasi secara sosio kultural dan legitimasi yuridis melalui pengakuan hukum formal. Dengan demikian model integratif ini tidak hanya menjadi alternatif penyelesaian sengketa yang efektif, tetapi juga menjadi paradigma baru untuk mewujudkan penyelesaian sengketa waris yang berkeadilan melalui sinergi antara agama, adat, dan hukum negara
Social Identity and Ethnicity in Electoral Democracy: an Islamic Moderation Perspective from South Sumatra's Muslim Community Faisal Amrullah; Rina Antasari; Holijah Holijah; Mohammaf Syawaludin; Mohammad Toriq
MUSLIM HERITAGE Vol 11 No 1 (2026): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v11i1.13114

Abstract

Abstract This study examines the role of social identity and ethnicity in shaping electoral democratic practices within Muslim societies, positioning Islamic moderation as a socio religious perspective that explains how the values of justice, balance (wasathiyah), and social cohesion limit the politicization of identity in political contests. The primary issue examined is how the mobilization of ethnicity-based social identity influences the quality of democracy and social cohesion. The objective of this study is to analyze the implications of social identity and ethnicity on electoral democracy within the framework of Islamic moderation. This study employs an empirical qualitative approach through in depth interviews with community leaders, religious figures, and Muslim voters, as well as field observations in the ethnically diverse region of South Sumatra, and analysis of documents related to general elections. Research subjects were selected through purposive sampling based on their active involvement in socio-political dynamics and experience in the electoral process. The findings indicate that social identity and ethnicity play a dual role in electoral democracy: they both encourage political participation and have the potential to trigger social polarization. This study found that Islamic moderation functions not only as a normative value but also as a social mechanism that actively limits the politicization of ethnic identity and restores social cohesion post-election, thereby making a significant contribution to strengthening the study of Islamic social dynamics within the context of electoral democracy.   Abstrak Studi ini meneliti peran identitas sosial dan etnisitas dalam membentuk praktik demokrasi elektoral di masyarakat Muslim, dengan menempatkan moderasi Islam sebagai perspektif sosial-religius yang menjelaskan bagaimana nilai-nilai keadilan, keseimbangan (wasathiyah), dan kohesi sosial membatasi politisasi identitas dalam kontes politik. Isu utama yang diteliti adalah bagaimana mobilisasi identitas sosial berbasis etnisitas memengaruhi kualitas demokrasi dan kohesi sosial. Tujuan studi ini adalah untuk menganalisis implikasi identitas sosial dan etnisitas terhadap demokrasi elektoral dalam kerangka moderasi Islam. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif empiris melalui wawancara mendalam dengan para pemimpin masyarakat, tokoh agama, dan pemilih Muslim, serta observasi lapangan di wilayah Sumatera Selatan yang beragam etnis, dan analisis dokumen terkait pemilihan umum. Subjek penelitian dipilih melalui pengambilan sampel bertujuan berdasarkan keterlibatan aktif mereka dalam dinamika sosial-politik dan pengalaman dalam proses pemilihan. Temuan menunjukkan bahwa identitas sosial dan etnisitas memainkan peran ganda dalam demokrasi elektoral: keduanya mendorong partisipasi politik dan berpotensi memicu polarisasi sosial. Studi ini menemukan bahwa moderasi Islam tidak hanya berfungsi sebagai nilai normatif tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang secara aktif membatasi politisasi identitas etnis dan memulihkan kohesi sosial pasca pemilu, sehingga memberikan kontribusi signifikan untuk memperkuat studi dinamika sosial Islam dalam konteks demokrasi elektoral.
Implementing Yusuf Al-Qaradawi’s Fiqh Al-Bi’ah Values to Strengthen Environmental Literacy at UIN Raden Mas Said Surakarta Didiek Noeryono Basar; Antis Rachmayanti; Ahmad Nurrozaq Murbayanto
MUSLIM HERITAGE Vol 11 No 1 (2026): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v11i1.12267

Abstract

Environmental issues in Islamic higher education institutions have encouraged the importance of strengthening environmental literacy based on Islamic ecological values. This study aims to examine the application of ecological values in Yusuf al-Qardhawi’s Fiqh al-Bi’ah as a conceptual foundation for the development of environmental management literacy in Islamic universities, with a case study of the “Pijar Semesta” Waste Bank at UIN Raden Mas Said Surakarta. Using a qualitative descriptive method with a case study approach to understand how Islamic values are implemented in environmental management at Islamic universities. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis of administrators, students, and supporting documents. Data analysis was conducted using the interactive model by Miles, Huberman, and Saldana. The research results indicate that the implementation of Yusuf al-Qaradawi’s Fiqh al-Bi’ah in the “Pijar Semesta” Waste Bank program successfully integrates modern environmental management principles with Islamic spiritual values. The management stages from organizational formation, outreach, customer registration, sorting, deposit, weighing, to reporting reflect the application of the values of trust (amanah), justice, responsibility, balance (mizan), and the spirit of mutual aid (ta’awun). This program not only yields ecological benefits through waste reduction and improved campus cleanliness but also has educational and spiritual impacts by fostering awareness among the academic community of their role as stewards in preserving the earth. Therefore, this study recommends strengthening the integration of Islamic ecological values into the curriculum, expanding cross-institutional collaboration, and developing digital innovations to realize a green campus based on faith, knowledge, and action. Abstrak Permasalahan lingkungan di perguruan tinggi Islam mendorong pentingnya penguatan literasi lingkungan berbasis nilai-nilai ekologis Islam. Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan nilai-nilai ekologis dalam Fiqh al-Bi’ah Yusuf al- Qardhawi sebagai landasan konseptual bagi pengembangan literasi manajemen lingkungan di perguruan tinggi Islam, dengan studi kasus pada Bank Sampah “Pijar Semesta” UIN Raden Mas Said Surakarta. Menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk memahami bagaimana nilai-nilai Islam diimplementasikan dalam pengelolaan lingkungan Perguruan Tinggi Islam. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumentasi terhadap pengelola, mahasiswa, serta dokumen pendukung. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Fiqh al-Bi’ah Yusuf al-Qaradawi dalam program Bank Sampah “Pijar Semesta” berhasil mengintegrasikan prinsip-prinsip manajemen lingkungan modern dengan nilai-nilai spiritual Islam. Tahapan pengelolaan mulai dari pembentukan organisasi, sosialisasi, pendaftaran nasabah, pemilahan, penyetoran, penimbangan, hingga pelaporan mencerminkan penerapan nilai amanah, keadilan, tanggung jawab, keseimbangan (mizan), serta semangat tolong-menolong (ta’awun). Program ini tidak hanya memberikan dampak ekologis melalui pengurangan sampah dan peningkatan kebersihan kampus, tetapi juga berdampak edukatif dan spiritual dengan menumbuhkan kesadaran sivitas akademika akan peran sebagai khalifah dalam menjaga kelestarian bumi. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan penguatan integrasi nilai-nilai ekologis Islam dalam kurikulum, perluasan kolaborasi lintas lembaga, serta pengembangan inovasi digital guna mewujudkan green campus berbasis iman, ilmu, dan amal.
Contextual Reassessment of The Saudi Misyar Marriage Fatwa in Indonesia Zainal Jamin; Abd. Rouf
MUSLIM HERITAGE Vol 11 No 1 (2026): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v11i1.12863

Abstract

This study aims to analyze the foundational reasoning behind the fatwa on misyar marriage in Saudi Arabia and to assess its relevance and potential application within the context of Islamic family law in Indonesia. The research employs an ushul fiqh approach through three analytical stages: takhrīj al-manāṭ, tanqīḥ al-manāṭ, and taḥqīq al-manāṭ. It adopts a normative-qualitative method, utilizing primary sources such as Saudi fatwas, as well as contemporary fiqh literature and related academic studies. The findings indicate that the permissibility of misyar marriage in Saudi fatwas is grounded on three main ‘illats: the fulfillment of the essential pillars and conditions of marriage, the permissibility of voluntarily waiving certain marital rights (tanāzul al-ḥuqūq), and the presence of specific social needs (ḥājah). However, through the process of taḥqīq al-manāṭ, it is found that these ‘illats are not fully applicable within the Indonesian context. Differences in legal systems, social structures, and the lack of adequate legal protection for women and children render the practice of misyar marriage more likely to produce harm (mafsadah) than benefit (maṣlaḥah). Therefore, although misyar marriage may be considered valid from a fiqh perspective, its application in Indonesia lacks strong socio-legal justification. This study underscores the importance of a contextual approach in applying fatwas across different jurisdictions, as well as the necessity of considering the objectives of Islamic law (maqāṣid al-syarī‘ah), particularly in protecting the rights of women and children within Islamic family law. Abstrak Nikah misyar merupakan salah satu fenomena fikih kontemporer yang memunculkan perdebatan tidak hanya pada aspek keabsahan akad, tetapi juga pada kesesuaian dengan maqāṣid al-nikāḥ dan implikasi sosialnya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dasar-dasar fatwa nikah misyar di Arab Saudi melalui pendekatan takhrīj al-manāṭ, menyaring ‘illat hukumnya melalui tanqīh al-manāṭ, serta menguji relevansinya dalam konteks Indonesia melalui taḥqīq al-manāṭ. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif-kualitatif dengan pendekatan ushul fikih, berbasis pada studi literatur terhadap fatwa ulama Saudi dan kajian akademik kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulama yang membolehkan nikah misyar mendasarkan hukum pada terpenuhinya rukun dan syarat akad, kebolehan pelepasan sebagian hak istri, serta adanya kebutuhan sosial tertentu. Sebaliknya, ulama yang menolak menitikberatkan pada ketidaksesuaian dengan maqāṣid al-nikāḥ, rusaknya muqtadha al-‘aqd, dan potensi mafsadah. Melalui proses tanqīh al-manāṭ, ditemukan bahwa perbedaan tersebut berakar pada perbedaan penentuan ‘illat inti antara pendekatan formal-struktural dan substantif-teleologis. Sementara itu, melalui taḥqīq al-manāṭ, penelitian ini menegaskan bahwa ‘illat kebolehan nikah misyar di Arab Saudi tidak sepenuhnya relevan dalam konteks Indonesia, terutama karena perbedaan sistem hukum, struktur sosial, serta tingkat perlindungan terhadap perempuan dan anak. Dengan demikian, meskipun nikah misyar dapat dinilai sah secara fikih, penerapannya di Indonesia berpotensi menimbulkan mafsadah yang lebih besar daripada maslahat. Oleh karena itu, fatwa kebolehannya tidak dapat diadopsi secara langsung, melainkan harus diposisikan sebagai pengecualian yang bersifat kontekstual. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan taḥqīq al-manāṭ dalam memastikan relevansi fatwa lintas konteks, sekaligus memperkuat integrasi antara metodologi ushul fikih dan realitas sosial dalam pengembangan hukum keluarga Islam kontemporer.
Integrating Qur’anic Science and Astronomy in The Study of Sunspots and Solar Storms Imroatul Munfaridah; Ahmad Junaidi
MUSLIM HERITAGE Vol 11 No 1 (2026): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v11i1.13025

Abstract

The sunspot and solar storm phenomena represent two crucial aspects of solar activity that significantly affect Earth’s environmental systems. Increased solar activity, particularly during the peak of the 11year solar cycle, often causes major disturbances to space weather and modern technological infrastructures. This study aims to explore the relationship between sunspots and solar storms from both tafsir ilmi (scientific Qur’anic interpretation) and astronomical perspectives, and to analyze their impacts on Earth. The research employs a qualitative-descriptive approach through field observations using telescopic monitoring of sunspots from May 2022 to September 2023. Observational data were analyzed in light of relevant Qur’anic verses, including Surah Yasin [36]:38 and Surah At-Takwir [81]:1. Results indicate that Solar Cycle 25 reached its maximum phase at the end of 2023, marked by a substantial increase in sunspot frequency and the potential for severe geomagnetic storms affecting communications, satellites, and electrical systems. From a tafsir ilmi viewpoint, these events reflect the greatness and precision of divine creation, highlighting the harmony between natural laws and revelation. This study emphasizes the importance of integrating astronomical science with tafsir ilmi to achieve a holistic understanding of cosmic phenomena. Abstrak Fenomena sunspot dan badai matahari merupakan dua aspek penting dari dinamika aktivitas matahari yang memiliki pengaruh signifikan terhadap sistem kehidupan di Bumi. Aktivitas matahari yang meningkat, terutama pada fase puncak siklus 11 tahunan, sering kali menimbulkan perubahan besar terhadap cuaca antariksa dan kestabilan sistem teknologi modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara fenomena sunspot dan badai matahari dalam perspektif tafsir ilmi dan astronomi, serta menelaah dampaknya terhadap kehidupan di Bumi. Pendekatan yang digunakan ialah kualitatif-deskriptif dengan metode observasi lapangan menggunakan teleskop untuk memantau sunspot secara berkala sejak Mei 2022 hingga September 2023. Data lapangan tersebut kemudian dianalisis secara interdisipliner dengan pendekatan tafsir ilmi terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan, seperti Q.S. Yasin (36):38 dan Q.S. At-Takwir (81):1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklus matahari ke-25 mencapai fase maksimum pada akhir tahun 2023 dengan peningkatan jumlah sunspot yang signifikan, berpotensi memicu badai geomagnetik besar yang berdampak pada gangguan komunikasi, satelit, dan sistem kelistrikan. Dalam perspektif tafsir ilmi, fenomena ini menjadi bukti kebesaran dan keteraturan ciptaan Allah yang menunjukkan keterpaduan antara hukum-hukum alam dan wahyu. Kajian ini menegaskan pentingnya sinergi ilmu astronomi dan tafsir ilmi dalam memahami fenomena alam semesta secara holistik.
Negotiating Religious Authority in The Digital Age: Islamic Participation and The Transformation of Nahdlatul Ulama in Central Lampung One Untoro; Hartoyo; Hertanto; Nawiruddin; Shobahussurur
MUSLIM HERITAGE Vol 11 No 1 (2026): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v11i1.13026

Abstract

This study examines the participation of the NU organization in Central Lampung Regency in developing science through digital publications. The focus of the study includes forms, patterns, theological foundations, and strategies for optimizing participation. This study is based on the assumption that Islam has great potential to inspire a knowledgeable society. The approach used is qualitative-phenomenological, with data collection techniques including focus groups (FGDs), interviews, observation, and documentation. Data were analyzed through data reduction, presentation, and conclusion drawing. The results indicate that NU's digital participation encompasses three main forms: the production of science-based Islamic knowledge, dissemination through digital media, and collaboration across scientific networks. The pattern of participation evolves from awareness, initiation, and evaluation. This participation reflects a shift in religious authority from a hierarchical structure to a collaborative and adaptive network model. Phenomenologically, this participation is driven by religious awareness as a manifestation of the caliph's responsibility in building a scientific civilization. NU's theological approach involves the bayani, burhani, and irfani methods, emphasizing the preservation of intellectual traditions. This research emphasizes the importance of integrating Islamic values, scientific literacy, government regulations, and ongoing evaluation in strengthening religious digital communities. This implies the need for policies that support the digital capacity of religious groups and the development of contextual and local value-based participation models.  Abstrak Penelitian ini mengkaji partisipasi organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Lampung Tengah dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui publikasi digital. Fokus kajian meliputi bentuk, pola, landasan teologis, serta strategi optimalisasi partisipasi organisasi NU. Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa Islam memiliki potensi besar untuk menginspirasi lahirnya masyarakat berpengetahuan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif-fenomenologis, dengan teknik pengumpulan data berupa diskusi kelompok terarah (FGD), wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi digital NU mencakup tiga bentuk utama, yaitu produksi pengetahuan keislaman berbasis sains, diseminasi melalui media digital, serta kolaborasi dalam jaringan keilmuan. Pola partisipasi berkembang melalui tahapan kesadaran, inisiasi, dan evaluasi. Partisipasi ini mencerminkan pergeseran otoritas keagamaan dari struktur hierarkis menuju model jejaring yang kolaboratif dan adaptif. Secara fenomenologis, partisipasi tersebut digerakkan oleh kesadaran religius sebagai manifestasi tanggung jawab khalifah dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan. Pendekatan teologis NU melibatkan metode bayani, burhani, dan irfani yang menekankan pelestarian tradisi intelektual. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai Islam, literasi saintifik, regulasi pemerintah, serta evaluasi berkelanjutan dalam memperkuat komunitas keagamaan digital. Implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya kebijakan yang mendukung penguatan kapasitas digital kelompok keagamaan serta pengembangan model partisipasi yang kontekstual dan berbasis nilai-nilai lokal.
Political Dialectic and Islamic Education Policy: A Study on The Dynamics of Regulation and Autonomy of Islamic Universities in Indonesia Zeni Murtafiati Mizani; Sabarudin; Ahmad Arifi
MUSLIM HERITAGE Vol 11 No 1 (2026): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v11i1.13132

Abstract

The transformation of Islamic Religious Higher Education Institutions (PTKI) in Indonesia highlights ongoing tensions between state regulation and academic autonomy at both PTKIN and PTKIS. This study analyzes how state regulations influence PTKI/PTKIS autonomy, explores the politics of knowledge in scientific integration, identifies autonomy imbalances, and proposes a dialectical framework for educational governance. Using a qualitative case study approach, the research examines policy documents and institutional practices through the perspectives of Michel Foucault, Antonio Gramsci, and Jürgen Habermas. Key findings include: (1) state regulation systematically shapes and restricts PTKI/PTKIS autonomy, particularly in curriculum and academic standards; (2) scientific integration emerges from negotiations between policy and institutional response; (3) autonomy imbalances exist between PTKIN and PTKIS, especially regarding resources and governance; and (4) the interplay of politics, regulation, and autonomy forms a dynamic dialectic, positioning autonomy as negotiated rather than absolute. This study’s novelty lies in its integrated analysis of regulation, institutional practice, and epistemic construction, and its proposal for a deliberative, collaborative governance model to promote more equitable and adaptive Islamic higher education.   Abstract Transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia menunjukkan ketegangan antara regulasi negara dan otonomi akademik, baik pada PTKIN maupun PTKIS. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika regulasi negara terhadap otonomi PTKI/PTKIS, mengkaji politik pengetahuan dalam integrasi keilmuan, mengungkap ketimpangan otonomi, serta merumuskan pola dialektika sebagai dasar pengembangan tata kelola pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui analisis dokumen kebijakan dan praktik kelembagaan, dengan kerangka analisis Michel Foucault, Antonio Gramsci, dan Jürgen Habermas. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, regulasi negara secara sistemik membentuk sekaligus membatasi otonomi PTKI/PTKIS, termasuk dalam kurikulum dan standar akademik; kedua, integrasi keilmuan berkembang sebagai hasil negosiasi antara kebijakan dan respons institusi; ketiga, terdapat ketimpangan otonomi antara PTKIN dan PTKIS, terutama dalam sumber daya dan tata kelola; keempat, relasi politik, regulasi, dan otonomi membentuk dialektika dinamis yang menempatkan otonomi sebagai hasil negosiasi, bukan kebebasan absolut. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi analisis regulasi, praktik kelembagaan, dan konstruksi epistemik secara simultan, serta tawaran model tata kelola kolaboratif berbasis deliberatif untuk memperkuat pendidikan tinggi Islam yang lebih adil dan adaptif. Keywords: Islamic Education Policy; Higher Education Policy; PTKIN; PTKIS; Integration of Knowledge
SBSN Financing and Infrastructure Performance in Islamic Higher Education Muhtadin; Athok Fuadi; Lukman Hakim
MUSLIM HERITAGE Vol 11 No 1 (2026): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v11i1.13462

Abstract

Government-issued State Sharia Securities (SBSN) have become an increasingly important funding source for infrastructure development in Indonesian Islamic universities. However, the performance of SBSN-funded projects often varies, raising concerns regarding governance, planning quality, and stakeholder engagement. This study aims to model the key determinants of project performance in SBSN-funded Islamic university infrastructure programs using a PLS-SEM approach. The object of this study is the Kiai Ageng Muhammad Besari State Islamic University (UIN) in Ponorogo. A total of 165 project stakeholders at the University participated in a structured survey based on five constructs: Project Planning Quality, Managerial Capability, Monitoring and Evaluation System, Stakeholder Engagement, and Project Performance. The results show that Managerial Capability has the strongest direct influence on project performance. Stakeholder Engagement and Monitoring and Evaluation also show significant influences. Interestingly, Project Planning Quality does not have a significant direct influence on monitoring or performance, but contributes indirectly through managerial and evaluative channels. These findings underscore the importance of integrating planning with leadership, institutional monitoring, and participatory mechanisms to achieve optimal project outcomes. This study contributes to the development of a governance model for religious finance-based infrastructure programs and provides practical insights for universities and policymakers to improve SBSN implementation. Future research could explore longitudinal changes, regulatory factors, and digital tools in infrastructure governance.  Abstrak Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang diterbitkan pemerintah telah menjadi sumber pendanaan yang semakin penting untuk pengembangan infrastruktur di Perguruan tinggi keislaman Indonesia. Namun, kinerja proyek yang didanai SBSN seringkali bervariasi, sehingga menimbulkan kekhawatiran terkait tata kelola, kualitas perencanaan, dan keterlibatan pemangku kepentingan. Studi ini bertujuan untuk memodelkan penentu utama kinerja proyek dalam program infrastruktur universitas Islam yang didanai SBSN menggunakan pendekatan PLS-SEM. Objek Penelitian ini adalah Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Sebanyak 165 pemangku kepentingan proyek di Universitas UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo berpartisipasi dalam survei terstruktur berdasarkan lima konstruk: Kualitas Perencanaan Proyek, Kemampuan Manajerial, Sistem Pemantauan dan Evaluasi, Keterlibatan Pemangku Kepentingan, dan Kinerja Proyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kemampuan Manajerial memiliki pengaruh langsung terkuat terhadap kinerja proyek. Sedangkan Keterlibatan Pemangku Kepentingan dan Pemantauan dan Evaluasi juga menunjukkan pengaruh yang signifikan. Menariknya, Kualitas Perencanaan Proyek tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap pemantauan maupun kinerja, tetapi berkontribusi secara tidak langsung melalui jalur manajerial dan evaluatif. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan perencanaan dengan kepemimpinan, pemantauan kelembagaan, dan mekanisme partisipatif untuk mencapai hasil proyek yang optimal. Studi ini berkontribusi pada pengembangan model tata kelola untuk program infrastruktur berbasis keuangan keagamaan dan memberikan wawasan praktis bagi universitas dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan implementasi SBSN. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi perubahan longitudinal, faktor regulasi, dan alat digital dalam tata kelola infrastruktur.