cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
ISSN : 23390921     EISSN : 25805762     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 12 No 01 (2024): History and Culture" : 6 Documents clear
Historisasi Kerajaan Turki Utsmani dan Simbol Kebangkitan Umat Islam Aristan; Abu Haif
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 12 No 01 (2024): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v12i01.44353

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap apsek historisasi kerajaan Turki Ustmani sebagai kerajaan Islam yang pernah menancapkan kejayaannya pada abad 13 sampai abad 20 yang ditandai dengan kebangkitan umat Islam. Melalui metode sejarah, penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah melalui heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber), dan interpretasi (penafsiran). Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa terbentuknya kerajaan Turki Ustmani diturunkan pada runtuhnya kekuasaan Abbasiyah oleh serangan tentara Mongol. Runtuhnya kekuasaan Abbasiyah tersebut kemudian berimplikasi pada kekuatan politik Bagdad yang menjadi episentrum peradaban Islam ketika itu. Bagdad yang menjadi pusat ilmu pengetahuan pun ikut runtuh akibat serangan Mongol. Keruntuhan tersebut membuat umat Islam tertidur pulas di masanya. Untuk membangkitkan umat Islam dari ketertidurannya, bangsa Turki melalui kerajaan Turki Ustmani mulai muncul sebagai kekuatan Islam yang baru. Kerajaan Turki Ustmani menjadi basis kekuatan umat Islam di Eropa Timur. Kerajaan Turki Ustmani dapat dikatakan sebagai tonggak sejarah bangkitnya kembali umat Islam setelah keruntuhan Bagdad. Keberhasilan kerajaan tersebut adalah perluasan wilayah yang dilakukan oleh pemimpin kerajaan dan penerusnya. Terdapat beberapa kemajuan Turki Ustmani adalah kemajuan di bidang kebudayaan dan kesusatraan, kemajuan di bidang militer dan politik, dan kemajuan yang dicapai dalam sektor ekonomi.
Tradisi Perkawinan pada Masyarakat Desa Tanete Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa Syamhari; Ummu Kalsum
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 12 No 01 (2024): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v12i01.45963

Abstract

This research examines the Marriage Tradition in the Tanete Village, Tompobulu Subdistrict, Gowa Regency. The problem in this research is how the marriage tradition is conducted in the Tanete Village community, Tompobulu Subdistrict, Gowa Regency. The type of research used in this study is field research or field research using a descriptive research method. The data sources for this research were obtained from informants through interviews and direct observations. The data in this research include interview results and written data obtained through observations, field notes, interviews, and documentation. The data processing and analysis techniques are carried out through three stages: identifying data, grouping data, and describing data. The research findings are as follows: firstly, the marriage tradition in the Tanete Village community, Tompobulu Subdistrict, Gowa Regency, is carried out with a sequence of Abboya (proposal), the tradition of Abboya in the Makassar community, especially in Tanete village, is one of the traditions in marriage that needs to be preserved because this tradition is a form of diversity in community life. Appatantu Allo (determining the wedding day), in the Tanete Village community, Tompobulu Subdistrict, Appattantu Allo is a fundamental part of the marriage tradition carried out before the marriage contract process takes place because it is related to choosing an auspicious day, which holds special significance according to the local community's perspective.
Periodisasi Sejarah Sastra Masa Andalusia: (Kajian Historis) Nisa', Ida Chairun; Budi, Rahmat Dinni Haerul
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 12 No 01 (2024): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v12i01.46264

Abstract

The periodization of Arabic literature in Andalusia as shown by historians differs from one another. This is interesting to research, especially examining the differences in periodization. This research aims to find a reliable chronology of the periodization of the history of Arabic literature in Andalusia. To find the correct chronology of the periodization of Arabic literary history, researchers use historical methods. Researchers found the following periodization: chronologically, the historical periods of Arabic literature in Andalusia are divided into six. First, 711-755 AD, no literary manuscripts have been found. Second, 755-912 AD, literary texts were found under Ad-Dakhil's reign but were still oriented towards Masyriq literature. Third, 912-1013 AD, namely the period when the group of kings called "Mulukut Tawaif" was formed and literary critics began to appear. Fourth, 1013-1086 AD, literature at this time was still oriented towards Masyriq literature but the difference lay in the ability of Andalusian writers to use more real and imaginative wording. Fifth, 1086-1248 AD, during this time poets and philosophers emerged, among the famous ones being Ibnu Thufail and Ibnu Rushd. Sixth, 1248-1492 AD, during this period lament literature began to be introduced and continued to develop rapidly.
Koeksistensi Saeyyang Pattuqduq dalam Kehidupan Masyarakat Polewali Mandar: (Tinjauan Studi Historis dan Antropologi) Wijdan, Wijdan Alim Lopa; Susmihara; Dewi Anggariani
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 12 No 01 (2024): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v12i01.46845

Abstract

Pengetahuan tradisional merupakan suatu kebudayaan ataupun kekayaan intelektual yang bersifat komunal dan turun temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Barat adalah Kabupaten Polewai Mandar yang memiliki kultur budaya yang mengandung filosofi telah menurun dari nenek moyang mereka yaitu Saeyyang Pattuqduq. Tradisi Saeyyang Pattuqduq adalah tradisi syukuran terhadap anak yang berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan beberapa pendekatan historis, antropologi dan sosiologi. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini mengungkap bahwa Pertama, bentuk akulturasi budaya dengan ajaran agama Islam yakni Saeyyang Pattuqduq bermula dari tingkah laku. Kedua,. Ketiga mempunyai nilai dan daya tarik bagi semua kalangan baik dalam lingkup domestik maupun mancanegara, pagelaran yang dilaksanakan setiap tahunnya dijadikan sebagai bentuk pelaksanaan Festival.
Budaya Bakiauan di Sampanahan Kotabaru, Kalimantan Selatan : (Perspektif Islam dan Sosio-Kultural di Masyarakat) Ridani, Muhammad Noor Ridani; M. Sanusi Helmi; Dini Awwalia; Rizqa Ananda; Muhammad Syarif Hidayatullah
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 12 No 01 (2024): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v12i01.47025

Abstract

Abstract In Kotabaru, there is a culture known as bakiauan for wedding banquets. It is an attitude of mutual cooperation between residents as a family and emotional strength to work together to minimize the high cost of wedding parties in their area that has been carried out for generations by the community. This article will analyze the culture in depth by considering two values, namely Islamic and socio-cultural values. This research aims to find out about how the culture of social norms and religiosity of the community integrate each other in this bakiauan culture. The method used in this research is the analysis of primary legal materials in the form of the Koran and relevant Hadiths, literature studies, and interviews with several Kotabaru people who have carried out this culture for generations with a sociological approach. Based on this, the results show that the preservation of this culture is motivated by a sense of family and strong emotional ties. So that with the announcement of a wedding party in their community, residents automatically come to help each other fulfill the various needs of the wedding event. The Islamic perspective is used to provide a view that the importance of a sense of Taawun (helping) between fellow humans to ease each other's burdens and an unbroken sense of friendship. The Socio-cultural perspective is used to explain the sociological aspects contained in this culture so that the sense of kinship between communities is getting stronger which goes straight with the noble culture of the Indonesian nation. This discussion leads to the importance of preserving this culture which has a positive influence on society, especially helping during sacred ceremonies, namely marriage events that require a lot of money. This article is expected to be able to contribute to readers about the importance of helping in matters of worship to get closer to God through the Bakiauan culture. Keywords: Culture, Bakiauan, Islamic Value, Socio-cultural. Abstrak Di Kotabaru, dikenal sebuah budaya bakiauan untuk acara walimah perkawinan. Yaitu sikap gotong royong antara warga secara kekeluargaan dan kekuatan emosional untuk bahu membahu meminimalisir mahalnya biaya pesta perkawinan di daerah mereka yang sudah turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat. Artikel ini akan menganalisis budaya tersebut secara mendalam dengan mempertimbangkan dua nilai yaitu nilai Keislaman dan Sosio-kultural. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana budaya norma sosial dan religiositas masyarakat saling berintegrasi pada budaya bakiauan ini. Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah analisis bahan hukum primer berupa Al-Quran dan Hadis yang relevan, studi literatur, dan wawancara dengan beberapa masyarakat Kotabaru yang turun temurun telah melaksanakan budaya ini dengan pendekatan sosiologis. Berdasarkan hal tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian budaya ini dilatarbelakangi oleh rasa kekeluargaan masyarakat dan ikatan emosional yang kuat. Sehingga dengan diumumkannya pesta pernikahan di masyarakat mereka, para warga otomatis berdatangan untuk saling bantu memenuhi berbagai keperluan acara perkawinan tersebut. Perspektif Islam digunakan untuk memberikan pandangan bahwa pentingnya rasa Taawun (tolong menolong) antar sesama manusia untuk saling meringankan bebannya dan rasa silaturahmi yang tak terputus. Perspektif Sosio-kultural digunakan untuk menjelaskan aspek sosiologis yang terkandung pada budaya ini sehingga rasa kekeluargaan antar masyarakat semakin kuat yang berjalan lurus dengan budaya luhur bangsa Indonesia. Diskusi ini mengarah kepada pentingnya melestarikan budaya ini yang memiliki pengaruh positif pada masyarakat khususnya membantu saat upacara sakral yaitu acara perkawinan yang memerlukan banyak biaya. Artikel ini diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada pembaca mengenai pentingnya tolong-menolong pada perkara ibadah mendekatkan diri kepada Allah melalui budaya Bakiauan. Kata Kunci: Budaya, Bakiauan, Nilai Keislaman, Sosio-kultural
Politik Memori Sosok Andi Depu dalam Konstelasi Politik di Polewali MandarPolitik Memori Sosok Andi Depu dalam Konstelasi Politik di Polewali Mandar Hamsah, Muh. Ilham Noer; Rasyid, Suraya
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 12 No 01 (2024): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v12i01.47068

Abstract

Artikel ini merupakan penelitian yang mengkaji permasalahan memori kolektif dan manifestasi objek material pada sosok Andi Depu di masyarakat Mandar. Selain itu, artikel ini juga akan berfokus pada aktualisasi politik memori terhadap sosok Andi Depu oleh Dinasti Masdar dalam konstelasi politik di Kabupaten Polewali Mandar. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan untuk mengumpulkan data-data penting yang relevan dengan topik penelitian, menggunakan pendekatan sosiologis dan politik untuk melihat dan mendeskripsikan kondisi sosial budaya yang terjadi di Mandar, khususnya wilayah kabupaten Polewali Mandar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat politik identitas dalam aktivitas politik yang dilakukan oleh Dinasti Masdar, terutama pada penggambaran sosok Andi Depu dalam beberapa kebijakannya selama menjabat sebagai Bupati di Kabupaten Polewali Mandar.

Page 1 of 1 | Total Record : 6