cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
ISSN : 23390921     EISSN : 25805762     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE" : 6 Documents clear
Akulturasi Budaya: Adat Pernikahan di Kelurahan Cikoro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa st. hajar hajar; Dahlan M; syamzan syukur
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.12150

Abstract

Abstrak: Penelitian ini akan menjawab pertanyaan 1. Bagaimana prosesi dalam adat pernikahan di Kelurahan Cikoro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa?, 2. Apa saja nilai-nilai budaya Islam dalam adat pernikahan di Kelurahan Cikoro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa?, 3. Bagaimana proses akultuasi budaya Islam dan budaya lokal dalam adat pernikahan di Kelurahan Cikoro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa?. Pernikahan di Kelurahan Cikoro disebut dengan istilah pa’buntingan, tidak hanya melibatkan keluarga inti tapi juga masyarakat luas dan terdiri dari dua tahap, yakni: tahap sebelum pernikahan dan tahap setelah pernikahan. Adat pernikahan di Kelurahan Cikoro sangat unik jika dibandingkan dengan adat pernikahan di daerah lain, di Kelurahan Cikoro pesta pernikahan didahulukan daripada akad nikah. Terjadinya akulturasi semakin memperkokoh adat pernikahan di Kelurahan Cikoro dengan nilai budaya Islam seperti: tolong-menolong, musyawarah dan menjalin hubungan silaturrahim. 
Corry Van Stenus, Perempuan dalam Perjuangan Abdul Qahhar Mudzakkar 1950-1965 Nurul Azizah
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.11582

Abstract

Rebellion is often identified as a masculine realm, which is dominated by men. But in the case of Kahar Mudzakkar's rebellion in South Sulawesi, we could find a women named, Corry Van Stenus,. she was a Javanese-Dutch German and also the second wife of Kahar Mudzakkar.This paper focuses on Corry's life during the Kahar Mudzakkar rebellion. This theme is rarely discussed because the writings on rebellion are dominated by men. By using the historical approach, this paper wants to show about women in rebellion. in this case, Corry and her role as a woman, wife and mother in a rebellion.In conclusion, Corry became a woman who played a role in Kahar Mudzakkar's rebellion. From the domestic sphere, she became the wife and mother who accompanied her husband in rebellion. From the political realm, she became a lead of the Sulawesi Islamic Women's Movement (GERWAIS).  
Sejarah dan Penyebaran Islam di Asia dan Afrika Herman Wicaksono
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.13235

Abstract

This study tries to reveal and remind us about part of the struggle of our predecessors in spreading Islam to various parts of the world. In this case, the author chose Asia and Africa these two regions are not only the biggest continents, but also both continents were the center of Islamic civilization in the past before finally Islam was also introduced in other continents or countries in the European region, America and Australia. In essence, this study wants to reveal how the spread of Islam - especially in Asia and Africa - is clear evidence of how Islam is easily accepted by all groups without dressing on ethnicity, race, class, skin color, nation, and state. This study was written using the library research method, which means that all data contained in this study are sourced from documents related to this theme. Kajian ini mencoba untuk mengungkap dan mengingtkan kita akan sebagain perjuangan para pendahulu kita dalam menyebarkan ajaran Islam ke berbagai penjuru dunia. Dalam hal ini penulis memilih Asia dan Afrika dengan alasan selain kedua wilayah tersebut merupakan dua benua terbesar di dunia, kedua benua tersebut merupakan pusat peradaban Islam pada masa lalu sebelum akhirnya Islam juga mulai diperkenalkan di benua-benua atau negara-negara lain di wilayah Eropa, Amerika, dan Australia. Pada intinya, kajian ini ingin mengungkap betapa penyebaran Islam –khususnya di Asia dan Afrika– merupakan bukti nyata betapa Islam mudah diterima oleh semua kalangan tanpa memandan suku, ras, golongan, warna kulit, bangsa, dan negara. Kajian ini ditulis dengan metode kajian pustaka (library research) yang artinya seluruh data-data yang ada pada kajian ini merupakan data yang bersumber dari dokumen-dokumen yang terkait dengan tema ini.Kata kunci: Asia, Afrika, Islam, penyebaran, sejarah.
Sarekat Islam Penggagas Nasionalisme di Indonesia soraya rasyid; Annisa Tamara
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.13579

Abstract

This paper aims to describe the existence of Sarekat Islam and its contribution in developing the Indonesian nationalism awareness. This paper is a historical writing by relying on literary studies. The results showed that the struggle of Sarekat Islam in the national movement has been able to foster Indonesian awareness of human values and their dignity as a nation. This consciousness developed into a national awareness with the growth of national unity ties between the people of Indonesia. The struggle of Sarekat Islam also made the Dutch colonial government realize about the desire of Indonesian people to achieve independence. Internal conflicts have slowly divided Sarekat Islam, thus weakening its struggle in the national movement. However, Sarekat Islam played an important role in realizing the independence of the Republic of Indonesia. The struggle and the track record of Sarekat Islam have placed this organization as a pioneer of nationalism in Indonesia.Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan keberadaan Sarekat Islam dan kontribusinya dalam membangun kesadaran nasionalisme bangsa Indonesia. Tulisan ini merupakan tulisan sejarah dengan mengandalkan studi pustaka. Hasil tulisan menunjukan bahwa perjuangan Sarekat Islam dalam pergerakan nasional telah mampu menumbuhkan kesadaran rakyat Indonesia terhadap nilai manusia dan harga dirinya sebagai suatu bangsa. Kesadaran ini berkembang menjadi kesadaran nasional dengan tumbuhnya ikatan persatuan nasional antara rakyat Indonesia. Perjuangan Sarekat Islam juga menyadarkan pihak pemerintah kolonial Belanda terhadap keinginan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaannya. Konflik internal secara pelan telah memecah Sarekat Islam sehingga melemahkan perjuangannya dalam pergerakan nasional. Meski demikian, Sarekat Islam tetap mempunyai peranan penting dalam mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia. Rekam jejak dan perjuangan Sarekat Islam telah menempatkannya sebagai organisasi pengagas Nasionalisme di Indonesia.
Pengaruh Bugis di Tanah Melayu dalam Perspektif Sejarah Sosial Politik Saepuddin Saepuddin
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.11498

Abstract

Diaspora Bugis telah memberikan pengaruh terhadap situasi dan kondisi di daerah rantau. Dalam artikel ini, diaspora bugis di Tanah Melayu menjadi fokus kajian utama yang berkaitan dengan sebab-sebab kedatangannya di daerah Johor-Pahang-Riau-Lingga hingga bagaimana pengaruh setelah kehadirannya. Dari penelitian ini diketahui bahwa seba perantauan Bugis ke berbagai daerah di Nusantara kala itu ialah karena faktor politik dari dampak perjanjian Bogaya. Bagi orang Bugis, lebih baik mereka mencari penghidupan di daerah baru dari pada tunduk dan menjadi antek dan boneka Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kehadiran Daeng Rilakka beserta dengan anak-anak dan pasukannya di wilayah kerajaan Johor-Pahang-Riau ketika itu adalah bagian dari upayanya untuk mencari daerah perantauan yang sesuai. Pada saat itu, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah meminta bantuan kepada Daeng Rilakka untuk melawan Raja Kecil (Raja Kecik) yang dinilai merebut tahta kerajaan. Tawaran itu pun bersambut dan mengantarkan Sultan Sulaiman menduduki tahtanya dengan gelar Yang Dipertuan Besar dan menjadikan keturunan Bugis sebagai Yang Dipertuan Muda dengan pengikat sebuah ikrar yang dikenal dengan “Sumpah Setia”. Kemudian, terjadi perkawinan silang di antara kerabat dan sanak saudara kedunya hingga beranak pinak dan menyebabkan terjadinya adaptasi budaya, sosial dan politik. Sumpah setia itulah yang mengantarkan Bugis menjadi Melayu. The Bugis Diaspora has influenced the situation and conditions in the overseas areas. In this article, the diaspora bugis in Tanah Melayu becomes the main focus of the study relating to the causes of his arrival in the Johor-Pahang-Riau-Lingga area to how it was affected after his presence. From this research, it is known that the Bugis overseas to various regions in the archipelago at that time was due to political factors from the impact of the Bogaya agreement. For the Bugis, they are better off earning a living in new areas than submitting to and becoming Vereenigde Oostindische Compagnie's (VOC) henchmen and puppets. The presence of Daeng Rilakka along with his children and troops in the Johor-Pahang-Riau kingdom when it was part of his efforts to search for suitable overseas areas. At that time, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah asked for help from Daeng Rilakka to fight the Little King (Raja Kecik) who was judged to seize the throne. The offer was welcomed and led Sultan Sulaiman to occupy his throne with the title of the Great Lord and make the Bugis descendants the Young Entities with the binding of a pledge known as the "Faithful Oath". Then, cross-marriages occur between relatives and relatives of the two children to breed and cause cultural, social and political adaptation. It is this oath of loyalty that has brought Bugis into Malay.
Bergerak dengan Dua Sayap: Fenomena Gerakan Dakwah dan Politik Hizbut Tahrir di Indonesia Pasca Reformasi aksa aksa
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.13802

Abstract

This paper explains about the phenomenon of HTI politics and its da’wah movement after reformation. The main problems answered in this paper are: what are the activities of da’wah and political movements of HT in Indonesia?, And how is the form of  HTI da’wah through social media and publications? The writing method used the historical writing method which included four stages (heuristics, literary criticism, interpretation and historiography). The results showed that da’wah and the politics of Hizbut-Tahrir in Indonesia is a mainstream phenomenon from a preaching model and politics in general. HTI has played two orientation movements (preaching and politics) in establishing its influence in Indonesia. The da’wah and political movements appeared ambiguous. In terms of da’wah, the activities were more focused on proposing a single ideology and anti-democracy. But at the same time, taking cover themselves behind the armpit of the country which adheres to the democratic system and the ideology of Pancasila. While in the political perspective, its movement was seen as a half-hearted political movement, claiming to be a political movement, but it did not have a political party and was not involved in the electoral contestation. HTI da'wah was increasingly effective by utilizing media and publications (books, magazines, tabloids, and bulletins). The use of social media as a concrete approach has made social media as a mean of preaching. Tulisan ini menjelaskan tentang fenomena gerakan dakwah dan politik HTI pasca reformasi. Masalah pokok yang dijawab dalam tulisan ini yaitu: bagaimana aktivitas dakwah dan gerakan politik HT di Indonesia?, dan bagaimana bentuk dakwah HTI melalui sosial media dan publikasi?. Metode penulisan mengikuti metode penulisan sejarah yang meliputi empat tahapan (heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi). Hasilnya menunjukan bahwa dakwah dan politik Hizbut Tahrir di Indonesia adalah sebuah fenomena mainstream dari model dakwah dan politik umumnya. HTI telah memainkan dua orientasi gerakan (dakwah dan politik) dalam menancapkan pengaruhnya di Indonesia. Gerakan dakwah dan politiknya terlihat ambiguitas. Dari segi dakwah, aktivitasnya lebih terfokus pada pengusulan ideologi tunggal dan anti demokrasi. Tetapi pada saat bersamaan, berlindung diri di balik ketiak negara Indonesia yang menganut sistem demokrasi dan berideologi Pancasila. Sementara dari segi politik, gerakannya terkesan sebagai gerakan politik setengah hati, mengklaim dirinya sebagai gerakan politik, tetapi tidak memiliki partai politik dan tidak terlibat dalam kontestasi pemilu. Dakwah HTI semakin efektif dengan memanfaatkan media dan publikasi (buku, majalah, tabloid, dan bulletin). Pemanfaatan sosial media sebagai langkah kongkrit menjadikan sosial media sebagai sarana dakwah.

Page 1 of 1 | Total Record : 6