cover
Contact Name
Mohammad Subhan Zamzami
Contact Email
mszamzami@iainmadura.ac.id
Phone
+6281232684323
Journal Mail Official
islamuna@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Madura Jalan Raya Panglegur KM. 4 Pamekasan 69371 - Jawa Timur
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Studi Islam
ISSN : 2407411X     EISSN : 24433535     DOI : http://doi.org/10.19105/islamuna
Islamuna specializes in Islamic Studies which are the results of fieldwork research, conceptual analysis research, and book reviews from various perspectives i.e. education, law, philosophy, theology, sufism, history, culture, economics, social and politics. This journal encourages articles that employ an interdisciplinary approach to those topics and aims at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Islamic Studies.
Articles 250 Documents
MENGENAL HIZBUT TAHRIR (Studi Analisis Ideologi Hizbut Tahrir vis a vis NU) Mohamad Rafiuddin
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v2i1.653

Abstract

Hizbut Tahrir (HT) merupakan gerakan Islam trans-nasional yang bergerak dalam dakwah dan politik. Didirikan oleh Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani pada tahun 1953 di Palestina. Tujuan utamanya adalah melangsungkan kembali kehidupan Islam dan mengemban kembali dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia, serta mengajak kaum muslim untuk kembali hidup secara islami dalam naungan khilāfah Islamiyah „alā minhāj al-nubuwwah. Untuk mencapai tujuan tersebut HT menerapkan langkah-langkah dakwahnya dalam tiga tahap: tatsqif (pembinaan dan pengkaderan), tafa‟ul (interaksi) dengan umat, dan istilām al-hukmi (menerima kekuasaan) dari umat. Di Indonesia HT mendeklarasikan diri dengan nama HizbutTahrir Indonesia (HTI). Masuk pertama kali pada tahun 1980-an di bawah pimpinan Abd. Rahman al-Baghdadi. Adapun aktivitasnya yang menonjol di Indonesia saat ini adalah mengorganisir demonstrasi, menyelenggarakan seminar dan diskusi publik, publikasi melalui media, serta silaturrahmi ke berbagai ormas Islam dan pemegang kekuasaan. Dalam perjalanannya HTI sering kali berhadapan dan kerap ditentang oleh gerakan Islam pribumi, salah satunya adalah Nahdlatul Ulama (NU).
ISLAM DI MADURA Afif Amrullah
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v2i1.654

Abstract

Islam pertama kali datang ke wilayah Madura melalui perdagangan, terutama melalui wilayah Madura bagian timur (Su-menep). Perkembangan Islam secara massif tampak sejak peran ak-tif dari Walisongo. Keberhasilan penyebaran Islam di Madura tidak terlepas dari strategi dakwah yang diterapkan oleh mubaligh yang bersifat santun dan akomodatif terhadap budaya lokal yang ada. Dukungan dari para penguasa juga menjadi salah satu faktor pen-dukung suksesnya penyebaran Islam di wilayah Madura. Bahkan, orang Madura sering diidentikkan dengan keIslaman.
ETIKA BELAJAR PUTRA KIAI DI PONDOK PESANTREN (Studi Kasus di TMI Al-Amien Prenduan Sumenep) Muzayin Muzayin; Iwan Kuswandi
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v2i1.655

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan tentang etika belajar di pesantren secara umum serta etika belajar putra kiai yang mondok di pesantren, khususnya di TMI Al-Amien Prenduan Sumenep. Jenis dan pendekatan yang digunakan adalah kualitatif lapangan, dengan metode pengumpulan data wawancara, observasi dan doku-mentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa etika belajar di pesantren dilandasi oleh kepercayaan yang utuh, kesadaran yang tinggi, ke-mauan dan usaha yang keras, dan hidayah Allah Swt. Adapun etika belajar putra kiai yang mondok di TMI Al-Amien Prenduan, me-reka memiliki kemauan yang keras untuk berdisiplin dan belajar, didukung oleh aturan disiplin di TMI yang dijalankan tidak pan-dang bulu, membuat para putra kiai sangat takut untuk melanggar. Selain itu, putra kiai yang mondok di TMI tetap memiliki etika yang baik kepada para gurunya, karena bagi mereka guru laksana orang tua.
MODEL PEMBENTUKAN KECERDASAN MORAL SPIRITUAL SISWA SMP PLUS NURUL HIKMAH PAMEKASAN Saiful Hadi
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v2i1.656

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan kebijakan pengembangan kecerdasan moral spiritual di SMP Plus Nurul Hikmah, proses pem-bentukan kecerdasan moral spiritual, dan keberhasilan pembentu-kan kecerdasan moral spiritual. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan studi kasus, diketahui bahwa kebijakan pengem-bangan kecerdasan moral spiritual dilakukan dengan menyiapkan kebijakan kurikulum integratif (antara kurikulum nasional, muatan lokal, dan kurikulum kelembagaan). Proses pembentukan kecer-dasan moral spiritual dilakukan aktifitas keagamaan yang sangat ketat dan padat agar terjadi penguatan pengetahuan dan pengalaman keagamaan pada anak didik. Keberhasilan pembentukan kecerdasan moral spiritual siswa terlihat dari rendahnya pelanggaran disiplin, perilaku keagamaan yang kuat, dan terwujudnya budaya akhlak karimah.
PENDIDIKAN ISLAM DAN GENDER Mad Sa'i
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v2i1.657

Abstract

Bias gender dalam pendidikan masih kerap terjadi. Pada-hal ini akan berimplikasi pada kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam sejumlah aspek kehidupan. Karena itu, penting terus dilakukan upaya mengatasi bias gender dalam pendidikan, di antaranya melalui; (1) reintepretasi ayat-ayat al-Qur‟an dan hadits yang bias gender dilakukan secara kontinyu agar ajaran agama tidak dijadikan justifikasi yang salah; (2) pengembangan kuriku-lum berbasis kesetaraan, keadilan dan keseimbangan; (3) pember-dayaan kaum perempuan di sektor pendidikan informal; (4) pem-berdayaan di sektor ekonomi untuk meningkatkan pendapatan keluarga terutama dalam kegiatan industri rumah tangga; (5) pendidikan politik bagi perempuan agar dilakukan secara intensif; (6) pemberdayaan di sektor keterampilan, baik keterampilan untuk kebutuhan rumah tangga maupun yang memiliki nilai jual; dan (7) sosialisasi undang-undang anti kekerasan dalam rumah tangga lebih intens.
KURBAN KOLEKTIF DALAM PERSPEKTIF HADITS Mohammad Arifudin
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v2i1.658

Abstract

Ibadah kurban yang biasa dilakukan umat Islam sebagai ritual tahunan sepintas tidak ada yang perlu dipermasalahkan namun, ibadah ini secara umum didominasi oleh orang yang mam-pu saja, bagaimana dengan orang yang tidak mampu tapi punya ke-inginan untuk berkurban. Tulisan ini memuat hadits yang me-landasi pelaksanaan ibadah kurban secara kolektif bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan finansial untuk mengurangi keraguan dalam melakukan ritual ini sebagai sarana memperkuat kadar spiritual mereka.
MANUSIA DAN AGAMA Solehan Arif
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 2 (2015)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v2i2.659

Abstract

Kajian tentang manusia dapat dilihat dari berbagai perspektif dan disiplin ilmu, seperti ilmu antropologi, ilmu filosofi, ilmu sosiologi, ilmu psikologi, dan ilmu al -Qur‟an. Tulisan ini mengetengahkan tentang manusia menurut pandangan Islam. Islam berpandangan bahwa manusia itu terdiri dari dua unsur, yaitu unsur materi dan non materi. Ada empat kata yang digunakan al-Qur‟an untuk menunjuk manusia, yaitu al-basyar, al-insān, al-nās, dan banī ādam. Manusia merupakan makhluk yang paling mulia dan sangat unik. Manusia dianugerahi berbagai potensi dan petunjuk kebenaran dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat. Manusia memiliki potensi dasar yang dapat membedakan dengan makhluk lainnya, yaitu akal, qalbu, dan nafsu. Dalam kehidupan di dunia, selain sebagai hamba Allah, manusia juga diberi tugas men-jadi khalifah di bumi serta mengelola dan memelihara alam.
AKTUALISASI AKHLAK DALAM PENDIDIKAN Subahri Subahri
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 2 (2015)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v2i2.660

Abstract

akhlak adalah sifat yang melekat pada diri seseorang dan menjadi identitasnya. Akhlak mulia merupakan fondasi utama da-lam pembentukan pribadi muslim paripurna. Guna terbentuknya pribadi yang beraklak mulia, sangat penting dilakukan usaha sejak dini penanaman nilai-nilai akhlak mulia, di antaranya melalui dunia pendidikan. Usaha aktualisasi nilai-nilai akhlak memerlukan proses yang lama, agar penanaman tersebut bukan sekedar formalitas namun telah masuk dalam tataran praktis. Namun, tidak mudah me-nanamkan akhlak yang baik melalui pendidikan. Ada sejumlah problem yang dihadapi, yaitu keteladanan guru (pendidik) yang kurang; suasana sekolah yang tidak kondusif; sekolah kurang op-timal dalam aktualisasi akhlak; karakter siswa yang beragam yang berasal dari keluarga yang beragam pula; kurangnya komunikasi antara orang tua peserta didik dan sekolah (institusi); serta dampak negatif arus modernisasi yang kian tak terbendung.
MENELAAH KEMBALI IJTIHAD DI ERA MODERN Abdur Rahem
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 2 (2015)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v2i2.661

Abstract

Ijtihad merupakan salah satu sumber hukum Islam se -telah al-Qur‟an, al-Hadits, Ijma‟, dan Qiyas. Ijtihad di era modern merupakan kebutuhan untuk menjawab permasalahan yang terus bermunculan yang hukumnya tidak terurai jelas dalam sumber hu-kum utama, al-Qur‟an dan al-Hadits. Kendati merupakan kebu-tuhan, ijtihad tidak bisa dilakukan semua orang. Hanya ulama yang memenuhi syarat yang bisa melakukan ijtihad. Ketatnya syarat berijtihad sampai memunculkan kesan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Padahal sejak masa Sahabat hingga saat ini, fenomena ijtihad masih cukup dinamis. Namun, tingkatan mujtahid pun be-ragam tergantung kemampuan mereka dalam menggali hukum dari sumber utamanya.
ISRĀĪLĪYĀT: PERKEMBANGAN DAN DAMPAKNYA DALAM TAFSIR AL-QUR`AN Ahmad Sa`id Samsuri
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 2 (2015)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v2i2.662

Abstract

Al-Qur`an mengungkapkan kisah-kisah umat terdahulu, baik sebagai ibrah, penukilan hukum dan penjelasan ketauhidan serta pengungkapan kisah yang sebenarnya. Namun pengungkapan al-Qur`an tentang kisah itu sangat sederhana, tidak sedetail kitab-kitab terdahulu karena al-Qur`an bukan kitab dongeng, melainkan kitab suci. Kisah tersebut disebut isrāīlīyāt. Penuturan isrāīlīyāt menjadi berkembang pesat setelah orang Yahudi dan Nasrani ba-nyak memeluk agama Islam, mereka banyak mengintrodusir pe-ngetahuan agama yang mereka anut sebelumnya ke dalam Islam (Tafsir al-Qur`an).Pada kurun atbā‘ al-tābi‘īn, merupakan puncak perkembangan isrāīlīyāt dalam mewarnai tafsir al-Qur`an. Peng-ungkapan isrāīlīyāt secara tidak selektif akan berdampak pada kemurnian ajaran Islam, aqidah umat Islam dan maksud yang ter-kandung dalam al-Qur`an. Para ulama berbeda pendapat dalam ke-bolehan mengisahkan isrāīlīyāt, antara yang melarang dan yang membolehkannya, yang kesemuanya demi menjaga kemurnian dari ajaran Islam (al-Qur`an).