cover
Contact Name
Muh. Idris
Contact Email
idristin@gmail.com
Phone
+6282333231990
Journal Mail Official
stailsby@gmail
Editorial Address
Jl. Kejawan Putih Tambak VI/1 Mulyorejo, Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Ta'dibi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
ISSN : 23546301     EISSN : 25024035     DOI : -
Focus Fokus jurnal ini adalah upaya mengaktualkan pemahaman yang lebih baik tentang keilmuan Manajemen Pendidikan Islam baik lokal maupun internasional melalui publikasi artikel, laporan penelitian, dan ulasan buku. Scope Jurnal ini berisi kajian Manajemen Pendidikan yang meliputi Kepemimpinan, Kurikulum, Sarana, Keuangan dan Evaluasi Pendidikan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 1 (2017): September" : 6 Documents clear
Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dan Implikasinya bagi Kinerja Guru Ulil Multazam
Ta'dibi : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 6 No 1 (2017): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan urgensi kepemimpinan transofrmasional dan implikasinya bagi peningkatan kinerja guru. Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. Konsep kepemimpinan transformasional mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak, gaya dan kontingensi. Esensi kepemimpinan transformasional adalah sharing of power. Dalam konsep ini, seorang pemimpin transformasional melibatkan bawahan secara bersamasama untuk melakukan perubahan, atau sering disebut wujud pemberdayaan. Melalui kepemimpinan transformasional ada suatu keterikatan yang positif antara atasan dan bawahan. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan, mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi, sehingga bawahan menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya. Dengan pengakuan bawahan ini maka dimungkinkan akan memberikan implikasi bagi kinerja guru yang ada di sekolah yang di pimpinnya.
Konsep Motivasi dalam Pendidikan Agama Islam Muh idris
Ta'dibi : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 6 No 1 (2017): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Motivasi adalah penggerak dalam melakukan aktifitas. Dalam aktifitas pembelajaran motivasi mempunyai kedudukan yang sangat penting. Berhasil atau tidaknya proses interaksi antara pendidik dan peserta didik ditentukan oleh kualitas motivasi yang dimiliki oleh pendidik dan peserta didik. Dalam konsep umum motivasi terdiri dari motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari lingkungan sekitar yang mempengaruhi seseorang. Dalam pendidikan agama Islam, motivasi terdiri dari motivasi yang berasal dari Allah (Tauhid) dan motivasi yang berasal dari selain Allah. Motivasi Tauhid adalah motivasi utama yang menjadi penggerak seorang muslim dalam bergerak, sedangkan motivasi selain Allah selama tidak melebihi motivasi tauhid merupakan sebuah kebolehan.
Peran Kompetensi Sosial Guru dalam pendidikan Mohamad Nurul Huda
Ta'dibi : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 6 No 1 (2017): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompetensi sosial merupakan aspek penting bagi guru dalam membuat pembelajaran yang efektif. Hal ini dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk melakukan kegiatan positif yang dapat meningkatkan kinerja. Didukung oleh komunikasi yang baik, guru akan lebih mudah menyampaikan berbagai informasi dalam pelajaran tertentu yang akan diajarkan kepada siswa. Namun dalam kenyataannya, kompetensi sosial dalam belajar masih diabaikan oleh guru, seperti yang sering ditemukan dalam proses pembelajaran menunjukkan bahwa interaksi guru dan siswa yang kurang efektif dan efisien, guru yang berperilaku bermoral dan violencely. Jadi, sulit untuk mencapai pembelajaran yang efektif. Oleh karena itu, kompetensi sosial sangat penting bagi guru. Untuk itu, guru harus meningkatkan dengan komunikasi yang efektif, diskusi dan kunjungan langsung ke masyarakat, pelatihan yang berkaitan dengan kompetensi sosial, memperdalam pengetahuan tentang hubungan manusia, menguasai psikologi sosial, dan adaptasi untuk bekerja di tempat.
Kepemimpinan Pendidikan dalam Tinjauan Ilmu Shorof Damanhuri
Ta'dibi : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 6 No 1 (2017): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ilmu Shorof merupakan salah satu ilmu bahasa Arab yang mengkaji tentang keadaan sebuah kata. Bahasan Shorof meliputi bagaimana pembentukan kata tersebut, apakah terbentuk dari huruf-huruf yang shohih atau tidak, kata tersebut mengikuti wazan apa, dan lain sebagainya  yang terkait dengan kata. Lingkup pembahasan ilmu shorof tidak keluar dari sebuah kata, artinya kata sebagai individu. Satu kata dalam bahasa Arab memiliki patokan standar, patokan ini yang disebut wazan. Dalam kajian ini akan dibahas tentang konsep kepemimpinan pendidikan dalam konsep ilmu shorof. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan konsep kepemimpinan pendidikan dalam konsep ilmu shorof. Ringkasnya, kajian ini akan menjawab bagaimana ilmu shorof, yang merupakan salah satu kajian dalam bahasa Arab, berbicara tentang konsep kepemimpinan pendidikan. Karena objek kepemimpinan dan objek kajian ilmu shorof itu berbeda, maka sangat mungkin banyak interpretasi terhadap kata sebagai kajian ilmu Shorof dikomparasikan dengan pemimpin sebagai figur yang memiliki peran dan fungsi kepemimpinan.
Pendidikan Seumur Hidup dalam Perspektif Pendidikan Islam dan Barat Nur Huda
Ta'dibi : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 6 No 1 (2017): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berangkat dari fenomena dekadensi moral dan pergeseran nilai yang terjadi di masyarakat Indonesia, menuntut adanya pembenahan dalam sistem pendidikan kita. Fenomena tersebut pasti dampak dari konsep yang salah tentang pendidikan. Tulisan ini bermaksud mengembalikan ?kesalahanpandang? tentang pendidikan seumur hidup yang sebenarnya ?cukup? efektif jika difungsikan dengan benar dalam mengatasi persoalan kemerosotan moral di saat pendidikan formal dianggap ?gagal?. Islam sebagai jalan hidup berdasarkan tuntunan wahyu memiliki paradigma,worldview dan pendekatan yang berbeda dalam melihat  manusia dan bagaimana seharusnya manusia. Dalam Islam, manusia diciptakan untuk menjadi hamba Allah dan khalifah Allah, sehingga tujuan, proses dan metode pendidikan diarahkan kepada profil output tersebut. Termasuk di dalamnya pendidikan seumur hidup.Ini sangat berbeda dengan      paradigma Barat yang memandang manusia sebagai animal educandum (binatang yang dapat dididik),yang tentu akan berbeda pendekatan, metode dan proses pendidikannya. Pendidikan seumur hidup yang dikembangkan Barat adalah semata karena pendidikan formal tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan manusia utamanya tuntunan skill agar dapat survive di era percepatan teknologi dan perubahan ? perubahan mendasar di era modern ini. Sedangkan dalam Islam pendidikan seumur hidup adalah kebutuhan asasi sebagai manusia atas dorongan ibadah dengan tujuan lebih luas dari sekedar menambah skill untuk dapat survive. Bahkan pendidikan seumur hidup  berbasis pada pendidikan informal menjadi landasan pendidikan formal dan lebih luas cakupannya dibanding dengan pendidikan formal. Tulisan ini mencoba untuk membandingkan bagaimana pendidikan seumur hidup dalam Islam dan Barat pada aspek-aspek : alasan yang mendorong munculnya pendidikan seumur hidup dan pola pendidikan seumur hidup.
Integrasi Ilmu dalam Pendidikan Faishal
Ta'dibi : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 6 No 1 (2017): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Integrasi keilmuan lahir dari pemikiran tentang adanya fakta pemisahan (dikotomi) antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Banyak faktor yang menyebabkan ilmu-ilmu tersebut dikotomis atau tidak harmonis, antara lain karena adanya perbedaan pada tataran ontologis, epistemologis dan aksiologis kedua bidang ilmu pengetahuan tersebut. Dampak dari dikotomi seperti ini akhirnya melahirkan out put pendidikan yang tidak utuh dan memiliki ketimpangan antara sains dan moral etik, padahal dalam suatu statement yang dikatakan oleh Albert Einstein ?ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh?. Dalam rangka memberikan sentuhan spiritual terhadap sains ini maka diperlukan adanya integrasi ilmu. Integrasi yang dimaksud adalah memasukkan nilai-nilai substantif dari Islam ke dalam bangunan keilmuan baik pada level epistemologi, ontologi, maupun aksiologi.Dalam pelaksanaannya terdapat dua model integrasi ilmu yang dilakukan oleh para pakar, yaitu yang pertama dengan cara islamisasi imu-ilmu umum, dan yang kedua dengan cara pilihan apabila dapat diintegrasikan maka dilakukan integrasi, akan tetapi jika tidak dapat diintegrasikan maka dilakukan dialog atau interkoneksi.

Page 1 of 1 | Total Record : 6