cover
Contact Name
Angga Hardiansyah, S.Gz., Msi.
Contact Email
nutrisains@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
nutrisains@walisongo.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof Dr. Hamka KM 2 Semarang, Central Java, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya
ISSN : 25283170     EISSN : 25415921     DOI : http://dx.doi.org/10.21580/ns
Core Subject : Health,
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya is a peer-reviewed, scientific journal published biannually by Department of Nutrition, Faculty of Psychology and Health Sciences, Islamic State University of Walisongo, Semarang. Its scope encompasses original scientific research and case studies in the field of clinical nutritions and dietetics, food services, community nutrition, functional food, nutritional biochemistry, halal aspect of food, regulation and information of food and nutrition.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2022)" : 6 Documents clear
Analisis Kandungan Zat Gizi, Fenol, Flavonoid, Fitat, dan Tanin pada Sorgum (Sorgum bicolor (L.) Moench) Adnan Nur Avif; Aptika Oktaviana Trisna Dewi
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2022.6.2.7083

Abstract

This research studied the nutrition, phenols, flavonoids, phytates, and tannins of kawali and bioguma sorghum. The samples were obtained from marketplaces harvested in East Nusa Tenggara. Analysis of nutrients in sorghum includes tests for water content (gravimetry), ash (ashing), fat (soxhlet), crude fiber (enzymatic), and protein (kjeldahl). The water content, protein, fat, ash, and crude fiber content in the Kawali variety was relatively higher than in the Bioguma variety. Still, the carbohydrate content (by difference) was lower, namely 72.92% and 77.47% for the Bioguma variety. Phytate content (403.95 vs. 105.59) mg/100g, phenolics (1519.88 vs. 591.76) mg/100g, tannins (611.50 vs. 155.35) mg/100g, and flavonoids (42.45 vs. 10.52) mg/100g in kawali sorghum are almost four times higher than the bioguma variety. Two varieties of sorghum have different appearances and nutritional contents. The Kawali variety of sorghum has higher phenol, flavonoid, tannin, and phytate content than the Bioguma variety.Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kandungan zat gizi, fenol, flavonoid, fitat, dan tanin dari sorgum jenis kawali dan bioguma. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari lokapasar yang dipanen di Nusa Tenggara Timur. Analisis zat gizi dalam sorgum meliputi uji kadar air (gravimetri), abu (pengabuan), lemak (soxhlet), serat kasar (enzimatis), dan  protein (kjeldahl). Analisis komponen non gizi meliputi fitat, fenolik, tanin, dan flavonoid dengan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan air, protein, lemak, abu, dan serat kasar dalam varietas kawali relatif lebih tinggi dibandingkan dengan varietas bioguma. Adapun kadar karbohidrat (by difference) lebih rendah yaitu sebesar 72,92% dan 77,47% untuk varietas Bioguma. Kadar senyawa fitat (403,95 vs 105,59) mg/100g, fenolik (1519,88 vs 591,76) mg/100g, tanin  (611,50 vs 155,35) mg/100g dan flavonoid (42,45 vs 10,52) mg/100g dalam sorgum kawali lebih tinggi hampir empat kali lipat dibanding varietas bioguma. Kedua varietas sorgum tersebut memiliki penampilan dan kandungan zat gizi yang berbeda. Sorgum varietas kawali memiliki kandungan fenol, flavonoid, tanin, dan fitat yang lebih tinggi dibandingkan varietas bioguma.
Pengaruh Penambahan Ekstrak Daun Stevia ( Stevia rebaudiana (Bertoni)) terhadap Daya Terima, Kandungan Gizi, dan Aktifitas Antioksidan Kefir Susu Kambing Angga Hardiansyah; Hesti Arum Halimah; Widiastuti Widiastuti
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2022.6.2.12089

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of adding stevia leaf extract to the acceptability test, nutritional quality content, and antioxidant activity content of goat milk kefir. This research method used an experimental method with a completely randomized design with four treatments and two repetitions. Treat P0, namely 0% control, 5% P1, 10% P2, and 15% P3, with the addition of stevia leaf extract. The modified sample was tested on 30 untrained panelists. Data analysis for organoleptic tests used the Kruskall-Wallis analysis method, and if there were significant differences, it was continued with the Mann-Whitney test. Laboratory test analysis data is used using the independent sample t test analysis method to determine the difference between the selected formula and the control. Acceptability test results on the aspect of preference (overall) showed that the most preferred formula was P3 (15% addition of stevia leaf extract) with an average value of 4.00 (P=0.001). Statistical test results for differences in control formula (P0) and selected formula (P3) on water content (P=0.051), ash content (P=0.301), fat content (P=0.010), protein content (P=0.029), sugar content total (P=0.025) and antioxidant activity (P=0.001). The addition of stevia leaf extract increased the acceptability and antioxidant activity of goat's milk kefir. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan ekstrak daun stevia terhadap daya terima, kandungan gizi, dan aktivitas antioksidan kefir susu kambing. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakukan dan dua kali pengulangan. Perlakukan P0 yaitu 0% kontrol, P1 dengan 5% penambahan ekstrak daun stevia, P2 10% dan P3 15%. Produk diujikan pada 30 panelis tidak terlatih. Hasil organoleptik diuji menggunakan uji Kruskall Wallis dan uji Mann-Whitney. Uji laboratorium menggunakan metode analisis Independent sample t test untuk mengetahui perbedaan antarformula. Hasil uji daya terima pada aspek kesukaan (overall) menunjukkan formula paling disukai yaitu P3 (15% daun stevia ) dengan nilai rata-rata 4,00 (P=0,001). Hasil uji statistik perbedaan formula kontrol (P0) dan formula terpilih (P3) pada kadar air (P=0,051), kadar abu (P=0,301), kadar lemak (P=0,010), kadar protein (P=0,029), kadar gula total (P=0,025) dan aktivitas antioksidan (P=0,001). Penambahan ekstrak daun stevia meningkatkan daya terima dan aktivitas antioksidan kefir susu kambing.
Hubungan Asupan Kalsium, Vitamin D, dan Paparan Sinar Matahari dengan Status Gizi pada Balita Usia 3-5 Tahun Juli Septianggreini; Nurmasari Widyastuti; Martha Ardiaria; Deny Yudi Fitranti
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2022.6.2.7338

Abstract

The purpose of the study was to analyze the relationship between calcium intake, vitamin D intake, and sun exposure with the nutritional status of children aged 3-5 years. This was an observational study with a cross-sectional design. Thirty-six subjects were selected by consecutive sampling. Nutritional status was categorized based on weight-for-height z-score (WHZ). Food intake was assessed using the semi-quantitative food frequency questionnaire, sun exposure data was determined by the sun exposure questionnaire, and physical activity was obtained through the Early Years Physical Activity Questionnaire. This study showed no significant relationship between calcium intake (p = 0.541), vitamin D intake (p = 0.267), and sun exposure (p = 0.568) with the nutritional status of children aged 3-5 years. Intake of protein, fat, fiber, and physical activity also showed no significant relationship with the nutritional status of children, whereas energy and carbohydrate intake showed a significant relationship with the nutritional status of children. This study showed no significant relationship between calcium intake, vitamin D intake, and sun exposure and the nutritional status of children aged 3-5 years. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan asupan kalsium, vitamin D dan paparan sinar matahari dengan status gizi balita usia 3-5 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross-sectional. Tiga puluh enam subjek dipilih dengan consecutive sampling. Status gizi dikategorikan berdasarkan z-score berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Data asupan diperoleh melalui wawancara dengan instrumen Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire. Data paparan matahari didapatkan menggunakan kuesioner paparan sinar matahari, aktivitas fisik diperoleh melalui Early Years Physical Activity Questionnaire. Data dianalisis menggunakan uji Pearson (parametrik) dan Rank-Spearman (non-parametrik). Penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan kalsium (p=0,541), asupan vitamin D (p=0,267), dan paparan sinar matahari (p=0,568) dengan status gizi balita usia 3-5 tahun. Asupan protein, lemak, serat, dan aktivitas fisik juga menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan dengan status gizi balita. Sebaliknya asupan energi dan karbohidrat menunjukkan adanya hubungan signifikan dengan status gizi balita. Penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara asupan kalsium, asupan vitamin D dan paparan sinar matahari dengan status gizi balita usia 3-5 tahun.
Pengaruh Senam Aerobik dan Konseling Gizi terhadap Profil Kolesterol Total Wanita Obesitas Chamida Nur Muslicha; Dina Sugiyanti; Dwi Hartanti
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2022.6.2.8611

Abstract

The aim of this study was to determine the difference of obese women’s cholesterol after being given combination of aerobic exercise and nutritional counseling interventions. This pre-experimental study with one group pretest and posttest design was done in Ngadiluwih Village, Matesih Sub-district, Karanganyar District and involved 18 womens who have IMT greather than 25 kg/m2 and selected by purposive sampling technique. The interventions that given to the samples are combinations between 60 minutes aerobic three times a week and nutritional counseling once a week. The data taken were pre-post cholesterol total and analyzed with Wilcoxon test of IBM SPSS Statistics 25 Commuter License. The average of sample’s cholesterol before interventions was 209.56mg / dL while after intervention decreased by 15mg / dL to 194.56mg / dL (p = 0.001). This value indicated that there was a  difference in sample’s cholesterol after interventions. Aerobic exercise three times a week and nutritional counseling once a week can be used as an alternative treatment for hypercholesterolemia in obese women.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh intervensi berupa  senam aerobik dan konseling gizi terhadap profil kolesterol wanita obesitas. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan one group pretest and posttest. Berdasarkan hasil perhitungan sampel dengan teknik purposive sampling didapatkan sampel sebanyak 18 orang wanita yang memiliki nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas 25 kg/m2. Penelitian ini dilakukan di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar. Sampel penelitian diberikan kombinasi intervensi berupa senam aerobik 3 kali seminggu selama 60 menit dan konseling gizi 1 kali seminggu. Data yang diambil adalah profil kolesterol total pretest-posttest dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon pada IBM SPSS Statistics 25 Commuter License. Rerata profil kolesterol sampel sebelum intervensi yakni 209,56 mg/dL sedangkan setelah intervensi mengalami penurunan sebesar 15 mg/dL menjadi 194,56 mg/dL (p0,001). Nilai p yang diperoleh (p0,001) tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan profil kolesterol total sampel setelah diberikan kombinasi intervensi. Kombinasi intervensi berupa senam aerobik 3 kali seminggu dan konseling gizi 1 kali seminggu dapat dijadikan alternatif dalam menangani hiperkolesterolemia pada wanita obesitas.
Analisis Kandungan Gizi, Sifat Organoleptik, dan Cemaran Mikroba Biskuit dengan Penambahan Tepung Alpukat sebagai Alternatif Makanan Pendamping Air Susu Ibu Wahyu Dwi Suzanti; Denas Symond; Risti Kurnia Dewi
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2022.6.2.8984

Abstract

This study aims to determine the optimal biscuit formula with the addition of avocado flour based on its organoleptic quality, nutritional content, and microbial contamination as an alternative to complementary foods for breast milk. The research design was experimental with completely randomized design (CRD). There were 1 control formula (F0) and 3 modified formulas (F1,F2,F3) with 2 repetitions. Each formulation consists of wheat flour, avocado flour and soy protein isolate with a ratio of F0(100:0:15), F1(90:10:15), F2(80:20:15), F3(70:30:15). Organoleptic test was carried out on 30 untrained panelists. The data were analyzed by using SPSS 26 with Kruskal Wallis test and further tested with Mann Whitney test. The results showed that the biscuits that the panelists liked the most were F1 biscuits with the addition of 10% avocado flour. F1 biscuits contained 405.24 kcal of energy, 8.75 grams of protein, 7.8 grams of fat, 75.01 grams of carbohydrates, 2.15253 mg of iron, and 2.2657 mg of zinc with characteristics of yellowish brown colored, medium aroma, with a slightly bitter taste and crunchy texture. and TPC 9×101 colonies/gr, Salmonella Sp. Negative/25gram, Escheria. Coli 3 APM/gram. The formula chosen in this study was the F1 biscuits with the addition of 10% avocado flour. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula optimal biskuit dengan penambahan tepung alpukat berdasarkan mutu organoleptik, kandungan gizi, dan cemaran mikrobanya sebagai alternatif makanan pendamping air susu ibu (MPASI). Desain penelitan ini adalah Eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat 1 formula kontrol (F0) dan 3 formula modifikasi (F1, F2, F3) dengan 2 kali penggulangan. Masing-masing formulasi terdiri dari tepung terigu, tepung alpukat dan isolat protein kedelai dengan perbandingan yaitu F0 (100:0:15), F1 (90:10:15), F2 (80:20:15), F3 (70:30:15). Uji organoleptik dilakukan kepada 30 orang panelis tidak terlatih. Analisis data menggunakan SPSS 26 dengan uji Kruskal Wallis dan diuji lanjut dengan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biskuit yang paling disukai panelis yaitu biskuit F1 dengan penambahan tepung alpukat sebanyak 10%. Biskuit F1 mengandung energi 405,24 kkal, protein 8,75 gr, lemak 7,8 gr, karbohidrat 75,01 gr, besi 2,15253 mg, dan seng 2,2657 mg. Warna biskuit coklat kekuningan, aroma sedang, rasa agak pahit, dan tekstur renyah. ALT sebesar 9 × 101 koloni/gr, Salmonella Sp. Negatif/25gram, E. Coli 3 APM/gram. Formula terpilih pada penelitian ini yaitu biskuit F1 dengan penambahan tepung alpukat sebanyak 10%.
Stunting dan Perkembangan Balita Usia 36-59 Bulan di Jakarta dan Papua Desi Intan Sari; Indah Purnama Sari
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2022.6.2.9183

Abstract

This study aims to analyze the relationship between stunting and child development of aged 36-59 months in Jakarta and Papua. This study used secondary data from the 2018 Indonesia Basic Health Survey with a cross-sectional design. The target population was mothers who have toddlers aged 0-59 months in Indonesia. The sample was mothers who have toddlers aged 36-59 months in Jakarta and Papua (335 children in Jakarta and 453 children in Papua). Samples were selected using the multistage random sampling method. This study used the Chi Square Test on bivariate analysis and the Multiple Logistic Regression Test on multivariate analysis with an alpha of 5%. The results showed that there was no significant relationship between stunting and child development in Jakarta (p=0.468). Meanwhile, the results of a study in Papua showed that there was a relationship between stunting and the development of children aged 36-59 months (PR=3.078; 95% CI=1.619-5.852) after controlling for age, sex, mother's education, environmental sanitation, and infectious disease. The recommendations in this study were increasing access to environmental sanitation and health as an effort to prevent stunting and developmental delays in children. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara stunting dan perkembangan anak usia 36-59 bulan di Jakarta dan Papua. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 dengan desain cross-sectional. Populasi target adalah ibu yang memiliki balita usia 0-59 bulan di Indonesia. Sampel adalah ibu yang memiliki balita usia 36-59 bulan di Jakarta dan Papua dengan jumlah 335 anak di Jakarta dan 453 anak di Papua. Pemilihan sampel dengan teknik multistage random sampling. Penelitian ini menggunakan Uji Chi-Square pada analisis bivariat dan Uji Regresi Logistik Ganda pada analisis multivariat dengan alpha 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara stunting dan perkembangan anak di Jakarta (p=0,468). Sementara itu, hasil penelitian di Papua menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara stunting dan perkembangan anak usia 36-59 bulan (PR=3,078; 95% CI=1,619-5,852). Hal itu didapatkan setelah dikontrol oleh umur, jenis kelamin, pendidikan ibu, sanitasi lingkungan, dan penyakit infeksi. Rekomendasi dalam penelitian ini yakni peningkatan akses sanitasi lingkungan dan kesehatan sebagai upaya pencegahan stunting dan keterlambatan perkembangan pada anak.

Page 1 of 1 | Total Record : 6