cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika" : 12 Documents clear
MENINGKATKAN KUALITAS SDM MENUJU TERWUJUDNYA BUDAYA AKADEMIK YANG UNGGUL Mr, Mahsun
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.2257

Abstract

Sebagai lembaga pendidikan Islam tertinggi di Indonesia, PTAI (PTAIN & PTAIS) menjadi satu harapan terbaik bagi masyarakat yang ingin mendalami kajian keislaman, bahkan bisa dikatakan sebagai the best offer you can get. Oleh karenanya, dala bidang keilmuan, PTAI diharapkan menjadi tempat bermuaranya berbagai pandangan, pemikiran, dan pendekatan studi Islam. Sedangkan dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, diharapkan Perguruan Tinggi dapat mewujudkan peran sosialnya kepada masayarakat luas. Bidang ini dimaksudkan agar Perguruan Tinggi tidak menjadi tempat bermuaranya para elit terpelajar, tetapi menjadi lembaga pencari dan pembersi solusi atau way out terhadap problem-problem sosial (social problem solver). Dengan demikian mahasiswa sebagai salah satu asetnya diharapkan menjadi generasi intelektual, agen perubahan (agen of change), dan mempunyai kepedulian sosial (sense of social crisys)
STUDI ANALISIS TENTANG PELAKU PENCEMARAN DAN PENGRUSAKAN LINGKUNGAN MENURUT ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NO 23 TAHUN 1997 DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM Teguh Mulyo, Ahmad Mufrod
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.2258

Abstract

Manusia hidup tak bisa lepas dari lingkungan, orang-orang yang berada disekitarnya, binatang yang hidup didekatnya dan pepohonan yang tumbuh asri di sekitamya, semuanya adalah lingkungannya. Sebagai makhluk sosial, manusia pasti membutuhkan lingkungan, dan sungguh tercela mereka yang tidak ramah terhadap lingkungan. Polusi udara, eksploitasi sumber daya alam, penggundulan hutan, reboisasi, peremajaan taman dan tanaman, menghidupkan tanah tak bertuan, metode pengairan yang ideal, serta penanggulangan banjir, adalah sebagian dari permasalahan lingkungan. Namun, sejak lebih dari empat belas abad yang lalu Islam sebagai agama yang sempurna universal telah lebih dahulu memberikan perhatiannya terhadap berbagai masalah lingkungan sekaligus menyodorkan solusinya. Istilah lingkungan hidup, dalam bahasa lnggris disebut dengan environment, dalam bahasa Belanda disebut dengan milliu atau dalam bahasa Perancis disebut dengan i’enveronment. Kesadaran dan kepedulian lingkungan hidup ditandai dengan diselenggarakannya “Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup (United Nations Conference on the Human Environment) di Stockholm pada tanggal 5-16 Juni 1972. Upaya ini ditandai dengan diberlakukannya Undang-undang Republik Indonesia Nomor Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang tersebut di atas merupakan payung bagi peraturan perundang-undangan lainnya yang mengatur mengenai lingkungan hidup. Kemudian undang-undang tersebut disempurnakan dengan diundangkannya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997.
GLOBALISASI DALAM PENDIDIKAN (DESAIN KURIKULUM YANG HARUS DIKEMBANGKAN DALAM PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI) H, Muslam
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.2254

Abstract

Pendidikan sebagai sebuah sistem untuk proses perubahan individu memiliki nilai penting di dalam kehidupan setiap manusia. Untuk mewujudkan perubahan yang mampu menjangkau semua aspek dalam diri manusia dibutuhkan kurikulum yang mampu rnenunjangnya. Kurikulum perlu didesain agar proses kehidupan yang ada mendapat porsi yang imbang, antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Globalisasi merupakan sebuah keniscayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hal ini sebagai bagian dan adanya proses neo-liberalisme, dimana perlu disikapi dengan kepala dingin. Globalisasi membawa pengaruh dalam berbagai lini kehidupan baik yang negatif maupun positif, termasuk di dalamnya adalah dunia pendidikan. Untuk menunjang dan menghadang globalisasi, maka perlu adanya strategi dalam pendidikan. Strategi itu dimaksudkan sebagai sebuah langkah yang harus dilakukan.
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN RELEVANSINYA TERHADAP KEBUTUHAN TENAGA PENDIDIK AGAMA ISLAM Ghoni, Abdul
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.2260

Abstract

Fakultas Agama Islam merupakan bagian dari juruan Perguruan Tinggi yang bertujuan membentuk mahasiswa agar memiliki kemampuan tentang agama Islam sebagai sumber pengetahuan. Dalam perjalanannya, masing-masing mahasiswa berkolaborasi untuk mengikuti kurikulum yang sudah disediakan . Kurikulum tersebut merupakan salah satu cara untuk mencetak mahasiswa agar mempunyai kemampuan dalam persoalan pendidikan agama Islam. Ragam jurusan ini sangat bersinggungan dengan pendidik yang memberikan materi agama Islam pada tingkatan sekolah, dari mulai Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas sampai ke Perguruan Tinggi.
METODOLOGI PEMBELAJARAN AHLAK Halmar, Mustopa
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.2255

Abstract

Mengajarkan akhlak yang merupakan bagian dari aspek sikap atau afektif, merupakan pekerjaan yang tidak mudah, berbeda dengan mengajarkan matematika, fisika, ilmu-ilmu sosial dan lain sebagainya. Karena mengajar akhlak, bukanlah sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan atau sejumlah informasi atau keterampilan, tetapi membentuk perilaku sikap peserta didik yang diamalkan dalam kehidupannya. Di samping itu akhlak berhubungan dengan nilai (value) yang sulit diukur, karena menyangkut kesadaran yang tumbuh dari dalam. Sehingga untuk mendapatkan hasil pembelajaran akhlak, dalam arti perubahan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perilaku yang dibiasakan membutuhkan: usaha yang serius, waktu yang cukup lama, dan lingkungan yang kondusif.
MANFAAT TA‘LIM AL-QUR’AN SEBAGAI MAHAR (KAJIAN FIQH MUQARAN) Fauzi, Moh.
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.2256

Abstract

Mahar dalam Islam ditetapkan sebagai kewajiban suami kepada istrinya, sebagai tanda kecintaan dan ketulusan hati menikahinya, sebagai penghormatan terhadap kemanusiaannya, bukan sebagai ganti harga atas dirinya. Karena, sebelum Islam datang mahar menjadi milik wali atau pengampunya, maka Islam menetapkan mahar sebagai hak milik si perempuan. Karenanya, dalam menentukan jenisnya meskipun didasarkan atas kesepakatan dan kerelaan kedua pihak, suara pihak perempuan yang menghendaki jenisnya harus diperhatikan, sehingga mahar yang diberikan benar-benar bermanfaat.Berdasarkan adanya dua aliran pendapat tentang boleh dan tidaknya mahar dàlam bentuk ta’lim al-Qur’an, pendapat aliran pertama yang menyatakan boleh dan sah mahar dalam bentuk ta’lim aI-Qur’an lebih sejalan dengan konteks kehidupan dunia modem yang cenderung materialistis. Dengan mahar dalam bentuk ta’lim aI-Qur’an akan dapat memberi siraman dan kesejukan hati di tengah kegersangan hati umat manusia modern. Terlebih jika perempuan yang akan dinikahi adalah mu’allaf yang sudah terpenuhi kebutuhan materinya. Pemberian mahar dalam bentuk ta’lim al-Qur’an akan sangat berguna baginya dibandingkan mahar dalam bentuk materi.
METODOLOGI PEMBELAJARAN AHLAK Mustopa Halmar
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.2255

Abstract

Mengajarkan akhlak yang merupakan bagian dari aspek sikap atau afektif, merupakan pekerjaan yang tidak mudah, berbeda dengan mengajarkan matematika, fisika, ilmu-ilmu sosial dan lain sebagainya. Karena mengajar akhlak, bukanlah sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan atau sejumlah informasi atau keterampilan, tetapi membentuk perilaku sikap peserta didik yang diamalkan dalam kehidupannya. Di samping itu akhlak berhubungan dengan nilai (value) yang sulit diukur, karena menyangkut kesadaran yang tumbuh dari dalam. Sehingga untuk mendapatkan hasil pembelajaran akhlak, dalam arti perubahan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perilaku yang dibiasakan membutuhkan: usaha yang serius, waktu yang cukup lama, dan lingkungan yang kondusif.
MANFAAT TA‘LIM AL-QUR’AN SEBAGAI MAHAR (KAJIAN FIQH MUQARAN) Moh. Fauzi
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.2256

Abstract

Mahar dalam Islam ditetapkan sebagai kewajiban suami kepada istrinya, sebagai tanda kecintaan dan ketulusan hati menikahinya, sebagai penghormatan terhadap kemanusiaannya, bukan sebagai ganti harga atas dirinya. Karena, sebelum Islam datang mahar menjadi milik wali atau pengampunya, maka Islam menetapkan mahar sebagai hak milik si perempuan. Karenanya, dalam menentukan jenisnya meskipun didasarkan atas kesepakatan dan kerelaan kedua pihak, suara pihak perempuan yang menghendaki jenisnya harus diperhatikan, sehingga mahar yang diberikan benar-benar bermanfaat.Berdasarkan adanya dua aliran pendapat tentang boleh dan tidaknya mahar dàlam bentuk ta’lim al-Qur’an, pendapat aliran pertama yang menyatakan boleh dan sah mahar dalam bentuk ta’lim aI-Qur’an lebih sejalan dengan konteks kehidupan dunia modem yang cenderung materialistis. Dengan mahar dalam bentuk ta’lim aI-Qur’an akan dapat memberi siraman dan kesejukan hati di tengah kegersangan hati umat manusia modern. Terlebih jika perempuan yang akan dinikahi adalah mu’allaf yang sudah terpenuhi kebutuhan materinya. Pemberian mahar dalam bentuk ta’lim al-Qur’an akan sangat berguna baginya dibandingkan mahar dalam bentuk materi.
MENINGKATKAN KUALITAS SDM MENUJU TERWUJUDNYA BUDAYA AKADEMIK YANG UNGGUL Mahsun Mr
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.2257

Abstract

Sebagai lembaga pendidikan Islam tertinggi di Indonesia, PTAI (PTAIN PTAIS) menjadi satu harapan terbaik bagi masyarakat yang ingin mendalami kajian keislaman, bahkan bisa dikatakan sebagai the best offer you can get. Oleh karenanya, dala bidang keilmuan, PTAI diharapkan menjadi tempat bermuaranya berbagai pandangan, pemikiran, dan pendekatan studi Islam. Sedangkan dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, diharapkan Perguruan Tinggi dapat mewujudkan peran sosialnya kepada masayarakat luas. Bidang ini dimaksudkan agar Perguruan Tinggi tidak menjadi tempat bermuaranya para elit terpelajar, tetapi menjadi lembaga pencari dan pembersi solusi atau way out terhadap problem-problem sosial (social problem solver). Dengan demikian mahasiswa sebagai salah satu asetnya diharapkan menjadi generasi intelektual, agen perubahan (agen of change), dan mempunyai kepedulian sosial (sense of social crisys)
STUDI ANALISIS TENTANG PELAKU PENCEMARAN DAN PENGRUSAKAN LINGKUNGAN MENURUT ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NO 23 TAHUN 1997 DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM Ahmad Mufrod Teguh Mulyo
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.2258

Abstract

Manusia hidup tak bisa lepas dari lingkungan, orang-orang yang berada disekitarnya, binatang yang hidup didekatnya dan pepohonan yang tumbuh asri di sekitamya, semuanya adalah lingkungannya. Sebagai makhluk sosial, manusia pasti membutuhkan lingkungan, dan sungguh tercela mereka yang tidak ramah terhadap lingkungan. Polusi udara, eksploitasi sumber daya alam, penggundulan hutan, reboisasi, peremajaan taman dan tanaman, menghidupkan tanah tak bertuan, metode pengairan yang ideal, serta penanggulangan banjir, adalah sebagian dari permasalahan lingkungan. Namun, sejak lebih dari empat belas abad yang lalu Islam sebagai agama yang sempurna universal telah lebih dahulu memberikan perhatiannya terhadap berbagai masalah lingkungan sekaligus menyodorkan solusinya. Istilah lingkungan hidup, dalam bahasa lnggris disebut dengan environment, dalam bahasa Belanda disebut dengan milliu atau dalam bahasa Perancis disebut dengan i’enveronment. Kesadaran dan kepedulian lingkungan hidup ditandai dengan diselenggarakannya “Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup (United Nations Conference on the Human Environment) di Stockholm pada tanggal 5-16 Juni 1972. Upaya ini ditandai dengan diberlakukannya Undang-undang Republik Indonesia Nomor Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang tersebut di atas merupakan payung bagi peraturan perundang-undangan lainnya yang mengatur mengenai lingkungan hidup. Kemudian undang-undang tersebut disempurnakan dengan diundangkannya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 1 (2026): Vol. 13, No. 1, April 2026 Vol. 12 No. 2 (2025): Vol. 12, No. 2, October 2025 Vol. 12 No. 1 (2025): Vol. 12, No. 1, April 2025 Vol. 11 No. 2 (2024): Vol. 11, No. 2, October 2024 Vol. 11 No. 1 (2024): Vol. 11, No. 1, April 2024 Vol 10, No 2 (2023): Vol. 10, No. 2, October 2023 Vol. 10 No. 2 (2023): Vol. 10, No. 2, October 2023 Vol 10, No 1 (2023): Vol. 10, No. 1, April 2023 Vol 9, No 2 (2022): Vol. 9, No. 2, Oktober 2022 Vol 9, No 1 (2022): Vol. 9, No. 1, April 2022 Vol 8, No 2 (2021): Vol. 8, No. 2, Oktober 2021 Vol 8, No 1 (2021): Vol. 8, No. 1, April 2021 Vol 7, No 2 (2020): Vol. 7, No. 2, Oktober 2020 Vol 7, No 1 (2020): Vol. 7, No. 1, April 2020 Vol 6, No 2 (2019): Vol. 6, No. 2, Oktober 2019 Vol 6, No 1 (2019): Vol. 6, No. 1, April 2019 Vol 5, No 2 (2018): Wahan Akademika Vol 5, No 2 (2018): Wahan Akademika Vol 5, No 1 (2018): Wahan Akademika Vol 5, No 1 (2018): Wahan Akademika Vol 4, No 2 (2017): Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 4, No 2 (2017): Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 4, No 1 (2017): Wahana Akademika Vol 4, No 1 (2017): Wahana Akademika Vol 3, No 2 (2016): Wahana Akademika Vol 3, No 2 (2016): Wahana Akademika Vol 3, No 1 (2016): Wahana Akademika Vol 3, No 1 (2016): Wahana Akademika Vol 2, No 2 (2015): Wahana Akademika Vol 2, No 2 (2015): Wahana Akademika Vol 2, No 1 (2015): Wahana Akademika Vol 2, No 1 (2015): Wahana Akademika Vol 1, No 2 (2014): Wahana Akademika Vol 1, No 2 (2014): Wahana Akademika Vol 1, No 1 (2014): Wahana Akademika Vol 1, No 1 (2014): Wahana Akademika Vol 15, No 2 (2013): Wahana Akademika Vol 15, No 2 (2013): Wahana Akademika Vol 15, No 1 (2013): Wahana Akademika Vol 15, No 1 (2013): Wahana Akademika Vol 14, No 2 (2012): Wahana Akademika Vol 14, No 2 (2012): Wahana Akademika Vol 14, No 1 (2012): Wahana Akademika Vol 14, No 1 (2012): Wahana Akademika Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika More Issue