cover
Contact Name
Derry Ahmad Rizal
Contact Email
derry.rizal@uin-suka.ac.id
Phone
+628562577044
Journal Mail Official
prodisaafusap@gmail.com
Editorial Address
Prodi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta 55281, Telepon (0274) 512156 ext. 43109
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Religi: Jurnal Studi Agama-agama
Religi: Jurnal Studi Agama-Agama is an open access peer reviewed research journal published by Department of Religious Studies, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Religi: Jurnal Studi Agama-Agama is providing a platform for the researchers, academics, professional, practitioners and students to impart and share knowledge in the form of empirical and theoretical research papers, case studies, and literature reviews. Religi: Jurnal Studi Agama-Agama welcomes and acknowledges theoretical and empirical research papers and literature reviews from researchers, academics, professional, practitioners and students from all over the world. This publication concern includes studies of world religions such as Islam, Christianity, Buddhism, Hinduism, Judaism, and other religions. Interdisciplinary studies may include the studies of religion in the fields of anthropology, sociology, philosophy, psychology, and other cultural studies.
Articles 264 Documents
ECO-THEOLOGY OF SEYYED HOSSEIN NASR'S THOUGHT AND IT’S RELEVANCE ON THE AWARENESS FOR ENVIRONMENTAL MANAGEMENT IN UIN WALISONGO CAMPUS wahib Bahtiar; Luthfi Rahman; Makmur Aji
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 22 No. 01 (2026): The Impactious Religiosity
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/3hgvmv22

Abstract

This study aims to analyze how Seyyed Hossein Nasr’s ecological theology can be used as a conceptual framework for understanding and responding to the crisis of spiritual awareness in environmental management at UIN Walisongo Campus. The study employs a qualitative approach by combining a literature review of Seyyed Hossein Nasr’s primary works and contemporary academic literature (2020–2024), along with semi-structured interviews involving four informants consisting of two campus environmental managers and two students selected purposively. Primary works such as The Encounter of Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man and Religion and the Order of Nature serve as the main foundations for understanding the concepts of the sacredness of nature, humans as khalifah (stewards), and critiques of secularism that reduce nature to an object of exploitation. The analysis reveals that the environmental conditions on campus—reflected in the low awareness of environmental preservation, inadequate maintenance of green areas, and poor waste management—represent a deeper problem in which spirituality, metaphysical values, and religious perspectives toward nature are neglected within campus activities. Interviews indicate that most academics perceive environmental issues merely as administrative and technical matters, such as cleaning, gardening, and waste management, without considering spiritual values. Supporting literature, including recent articles such as “Ethics Toward Nature in the Ecosophy of Seyyed Hossein Nasr” (2023) and “Seyyed Hossein Nasr: An Islamic Critique of Environmental Secularism” (2024), reinforces the view that the modern secular paradigm is the primary cause of the ecological crisis. Consequently, there is an urgent need to restore spirituality within the relationship between humans and nature as part of environmental conservation efforts. These findings lead to the conclusion that environmental management on campus, particularly through the integration of theological-ecological values, is highly important. Environmental education should be designed through a spiritual approach that instills an understanding that nature is a sacred creation and that humans, as khalifah, bear the responsibility to preserve it, so that the campus becomes not only physically clean but also spiritually conscious. The implementation of these recommendations includes integrating environmental values into the curriculum, developing spirituality-based environmental awareness, establishing environmentally conscious communities with a spiritual focus, and reviewing campus policies to integrate Islamic ecological ethics. This study concludes that Nasr’s thought is not only theoretically relevant but can also function as a practical normative foundation for transforming campus environmental culture by strengthening the spiritual awareness and ecological commitment of the academic community. Keywords: ecological theology, Seyyed Hossein Nasr, spiritual awareness, campus environment, UIN Walisongo, ecosufism   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pemikiran teologi ekologi Seyyed Hossein Nasr dapat digunakan sebagai kerangka konseptual dalam memahami dan merespons krisis kesadaran spiritual dalam pengelolaan lingkungan Kampus UIN Walisongo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengombinasikan studi pustaka atas karya-karya primer Seyyed Hossein Nasr dan literatur akademik kontemporer (2020–2024), serta wawancara semi-terstruktur dengan 4 informan yang terdiri atas 2 pengelola lingkungan kampus dan 2 mahasiswa, yang dipilih secara purposif. Karya primer seperti The Encounter of Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man dan Religion and the Order of Nature dijadikan pijakan utama untuk memahami konsep sakralitas alam, manusia sebagai khalifah, dan kritik terhadap sekularisme yang mereduksi alam menjadi objek eksploitasi. Analisis mengungkapkan bahwa situasi lingkungan di kampus yang terlihat dari rendahnya kesadaran mengenai pelestariannya, perawatan area hijau, serta pengelolaan sampah merefleksikan masalah yang lebih mendalam, di mana aspek-aspek seperti spiritualitas, nilai-nilai metafisik, dan agama terhadap alam diabaikan dalam aktivitas kampus. Wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar akademisi memandang lingkungan hanya sebagai isu administratif dan teknis (seperti pembersihan, berkebun, dan pengelolaan limbah), tanpa adanya pertimbangan nilai-nilai spiritual. Tinjauan pustaka yang mendukung, seperti artikel terkini berjudul “Etika Terhadap Alam dalam Perspektif Ekosofi Seyyed Hossein Nasr” (2023) dan “Seyyed Hossein Nasr: Kritikan Islam terhadap Sekularisme Lingkungan” (2024) memperkuat pandangan bahwa paradigma sekuler modern merupakan penyebab utama krisis ekologi. Sebagai akibatnya, terdapat kebutuhan mendesak untuk mengembalikan spiritualitas dalam hubungan antara manusia dan alam demi upaya pelestarian. Penemuan ini mengarah pada kesimpulan bahwa pengelolaan lingkungan di kampus, dalam hal ini pengintegrasian nilai-nilai ekologi teologis, adalah sangat penting. Pendidikan lingkungan harus disusun dengan pendekatan spiritual  menanamkan pemahaman bahwa alam adalah ciptaan yang suci, dan bahwa manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab untuk menjaga  sehingga kampus tidak hanya bersih secara fisik, tetapi juga bersih secara spiritual. Pelaksanaan dari saran tersebut meliputi: penggabungan nilai-nilai kurikulum lingkungan, pengembangan spiritualitas, pembentukan komunitas yang peduli terhadap lingkungan dengan fokus spiritual, serta peninjauan kembali kebijakan kampus untuk mengintegrasikan etika ekologis Islam.  Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Nasr tidak hanya memiliki relevansi sebagai sebuah teori, tetapi juga dapat berperan sebagai landasan normatif praktis untuk mengubah budaya lingkungan kampus dengan memperkuat kesadaran spiritual serta komitmen ekologis dari komunitas akademik. Kata kunci: teologi ekologi, Seyyed Hossein Nasr, kesadaran spiritual, lingkungan kampus, UIN Walisongo, ekosufisme.
THE SPIRITUALITY OF NGARUPUK TRADITION IN JAVANESE AND BALINESE HINDU CULTURE IN WAY PANJI DISTRICT, SOUTH LAMPUNG Faiz Susena Faiz; Muslimin Muslimin; Nofrizal Nofrizal
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 22 No. 01 (2026): The Impactious Religiosity
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/8gp0n776

Abstract

The Ngarupuk tradition is an important Hindu ritual performed before Nyepi Day as a means of purifying oneself and the environment from negative influences. The differences in the implementation of Ngarupuk in the Javanese and Balinese Hindu communities in Way Panji District, South Lampung, indicate variations in symbolism and spiritual meaning that are interesting to study. This study aims to analyze the spiritual meaning and symbolism of the Ngarupuk tradition in both communities. The study used a qualitative approach with data collection techniques such as observation, in-depth interviews, and documentation. The analysis is based on the theory of religious symbolism, which views rituals as a medium for conveying spiritual meaning through cultural and religious symbols. The results show that the Javanese Hindu community performs Ngarupuk simply by emphasizing a contemplative atmosphere, the use of torches, kentongan (a wooden drum), and minimalist symbols that represent the release of negative traits in humans. Meanwhile, the Balinese Hindu community performs Ngarupuk with a more complex procession through an ogoh-ogoh parade, offering rituals, and various traditional symbols that reflect the human struggle against negative forces. Despite differences in implementation, both communities share the same spiritual goals: self-purification, self-control, and strengthening one's relationship with God. The Ngarupuk tradition also plays a role in maintaining religious identity, strengthening social solidarity, and supporting harmonious multicultural life in Way Panji District. Keywords:Ngarupuk, cultural dynamics, religious rituals   Tradisi Ngarupuk merupakan salah satu ritual penting dalam agama Hindu yang dilaksanakan menjelang Hari Raya Nyepi sebagai sarana penyucian diri dan lingkungan dari pengaruh negatif. Perbedaan bentuk pelaksanaan Ngarupuk pada komunitas Hindu Jawa dan Hindu Bali di Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, menunjukkan adanya variasi simbolisme dan pemaknaan spiritual yang menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna spiritual dan simbolisme tradisi Ngarupuk pada kedua komunitas tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis penelitian didasarkan pada teori simbolisme religius yang memandang ritual sebagai media penyampaian makna spiritual melalui simbol-simbol budaya dan keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Hindu Jawa melaksanakan Ngarupuk secara sederhana dengan menekankan suasana kontemplatif, penggunaan obor, kentongan, dan simbol-simbol minimalis yang merepresentasikan pelepasan sifat-sifat negatif dalam diri manusia. Sementara itu, masyarakat Hindu Bali melaksanakan Ngarupuk dengan prosesi yang lebih kompleks melalui pawai ogoh-ogoh, ritual persembahan, dan berbagai simbol adat yang mencerminkan perjuangan manusia melawan kekuatan negatif. Meskipun terdapat perbedaan dalam bentuk pelaksanaan, kedua komunitas memiliki tujuan spiritual yang sama, yaitu penyucian diri, pengendalian diri, serta penguatan hubungan manusia dengan Tuhan. Tradisi Ngarupuk juga berperan dalam menjaga identitas religius, mempererat solidaritas sosial, dan mendukung terciptanya keharmonisan kehidupan multikultural di Kecamatan Way Panji. Kata kunci: Ngarupuk, dinamika budaya, ritual keagamaan
RELIGIOUS-CULTURAL ACCULTURATION IN DECORATED BATHING OF MUSLIM TRADITION IN THE MALAY COMMUNITY, TALAWI DISTRICT, BATUBARA REGENCY Nisa Syahrani; Zulkarnaen
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 22 No. 01 (2026): The Impactious Religiosity
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/tkga4033

Abstract

The tradition of bathing with ornaments is one of the wedding customs of the Malay Muslim community in Talawi District, Batubara Regency, which is still maintained to this day. The continuity of this tradition indicates the interaction between Islamic values ​​and local culture that shape the community's social practices. This study aims to analyze the forms of religious and cultural acculturation, symbolic meanings, and social functions contained in the bathing with ornaments tradition. The study used a qualitative method with a field study approach through observation, interviews, and documentation, supported by literature review. The research analysis uses acculturation theory to understand the process of acceptance, adaptation, and preservation of local cultural elements in the lives of Muslim communities without losing their religious identity. The results show that the bathing with ornaments tradition functions as a rite of passage that marks the change in social status of the prospective bride and groom towards married life. This tradition also contains symbols that represent the values ​​of purity, responsibility, moral readiness, and hopes for the formation of a harmonious family. Although not part of the pillars or legal requirements of marriage in Islam, the community interprets this tradition as a means of strengthening religious values, preserving Malay cultural identity, and strengthening social solidarity. The research findings show that the relationship between religion and culture in the tradition of decorative bathing takes place through a harmonious acculturation process, so that local traditions remain sustainable without conflicting with the principles of Islamic teachings. Keywords: Decorative bathing tradition; Ritual transition; Integration of religion and culture               Tradisi mandi berhias merupakan salah satu adat pernikahan masyarakat Muslim Melayu di Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, yang masih dipertahankan hingga saat ini. Keberlangsungan tradisi tersebut menunjukkan adanya interaksi antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal yang membentuk praktik sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk akulturasi agama dan budaya, makna simbolik, serta fungsi sosial yang terkandung dalam tradisi mandi berhias. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi lapangan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang didukung oleh studi pustaka. Analisis penelitian menggunakan teori akulturasi untuk memahami proses penerimaan, penyesuaian, dan pelestarian unsur budaya lokal dalam kehidupan masyarakat Muslim tanpa menghilangkan identitas keagamaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi mandi berhias berfungsi sebagai ritus peralihan yang menandai perubahan status sosial calon pengantin menuju kehidupan berumah tangga. Tradisi ini juga mengandung simbol-simbol yang merepresentasikan nilai kesucian, tanggung jawab, kesiapan moral, dan harapan terhadap terbentuknya keluarga yang harmonis. Meskipun bukan bagian dari rukun maupun syarat sah pernikahan dalam Islam, masyarakat memaknai tradisi ini sebagai sarana penguatan nilai-nilai religius, pelestarian identitas budaya Melayu, dan penguatan solidaritas sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara agama dan budaya dalam tradisi mandi berhias berlangsung melalui proses akulturasi yang harmonis, sehingga tradisi lokal tetap lestari tanpa bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Kata kunci: Tradisi Mandi Berhias; Ritus Peralihan; Integrasi Agama dan Budaya.
DIAKONIA TO INCREASE THE INVOLVEMENT OF CATHOLIC YOUTH AT SAINT ANDREW KEMPAWA STATION Silvyana Sembiring; Paulinus Tibo
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 22 No. 01 (2026): The Impactious Religiosity
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/8c7mqf53

Abstract

This study is motivated by the important role of Catholic Youth (Orang Muda Katolik/OMK) in the life of the Church. However, their involvement still faces various challenges that affect their active participation in Church ministries. This study aims to describe the diaconal ministry of Catholic Youth and their involvement in the life of the Church at St. Andreas Kempawa Station. This research employed a descriptive qualitative method with data collected through observation, interviews, and documentation. Data were analyzed through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. Theoretically, this study is based on the concept of diakonia, which includes charitable service, empowerment service, and social transformation, as well as the concept of Catholic Youth involvement in ecclesial life. The results show that the diaconal ministry of Catholic Youth at St. Andreas Kempawa Station is manifested through charitable service, empowerment service, and social transformation. Meanwhile, the involvement of Catholic Youth is reflected in their active participation in liturgy, fellowship (koinonia), and charitable service (diakonia). These various forms of involvement contribute to strengthening faith, character formation, and enhancing the sense of responsibility and solidarity among Catholic Youth in the life of the Church and society. Keyword:   diakonia, involvement, Catholic Youth, pastoral ministry, Catholic Church.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran Orang Muda Katolik (OMK) dalam kehidupan menggereja, namun keterlibatan mereka masih menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi partisipasi aktif dalam pelayanan Gereja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan diakonia Orang Muda Katolik dan keterlibatan Orang Muda Katolik di Stasi Santo Andreas Kempawa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Secara teoretis, penelitian ini menggunakan konsep diakonia yang meliputi pelayanan kasih, pelayanan pemberdayaan, dan transformasi sosial, serta konsep keterlibatan Orang Muda Katolik dalam kehidupan menggereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diakonia Orang Muda Katolik di Stasi Santo Andreas Kempawa diwujudkan melalui pelayanan kasih, pelayanan pemberdayaan, dan transformasi sosial. Sementara itu, keterlibatan Orang Muda Katolik tampak melalui partisipasi aktif dalam bidang liturgi, persekutuan (koinonia), dan pelayanan kasih (diakonia). Berbagai bentuk keterlibatan tersebut berkontribusi terhadap penguatan iman, pembentukan karakter, serta peningkatan rasa tanggung jawab dan solidaritas anggota OMK dalam kehidupan Gereja dan masyarakat. Kata kunci:   diakonia, keterlibatan, Orang Muda Katolik, pelayanan pastoral, Gereja Katolik.