cover
Contact Name
Derry Ahmad Rizal
Contact Email
derry.rizal@uin-suka.ac.id
Phone
+628562577044
Journal Mail Official
prodisaafusap@gmail.com
Editorial Address
Prodi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta 55281, Telepon (0274) 512156 ext. 43109
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Religi: Jurnal Studi Agama-agama
Religi: Jurnal Studi Agama-Agama is an open access peer reviewed research journal published by Department of Religious Studies, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Religi: Jurnal Studi Agama-Agama is providing a platform for the researchers, academics, professional, practitioners and students to impart and share knowledge in the form of empirical and theoretical research papers, case studies, and literature reviews. Religi: Jurnal Studi Agama-Agama welcomes and acknowledges theoretical and empirical research papers and literature reviews from researchers, academics, professional, practitioners and students from all over the world. This publication concern includes studies of world religions such as Islam, Christianity, Buddhism, Hinduism, Judaism, and other religions. Interdisciplinary studies may include the studies of religion in the fields of anthropology, sociology, philosophy, psychology, and other cultural studies.
Articles 249 Documents
Dinamika Pluralisme Agama Dalam Masyarakat Kontemporer Amani, Nisriina; Yua Prasetya, Rika; Elmira, Adelia; Hayati Rahman, Aulia
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 1 (2024): Vol. 20 No. 1 (2024) Pemikiran, Moderasi dan Isu Agama Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i1.5301

Abstract

Pluralisme agama menjadi sebuah realitas yang semakin kompleks dalam masyarakat modern, dimana berbagai keyakinan dan tradisi keagamaan saling berbaur dan berinteraksi. Untuk memahami peran agama dalam membentuk dinamika sosial masyarakat kontemporer, perlu beberapa konsep kunci sosiologi agama, seperti interaksi sosial, struktur sosial, dan konflik yang diterapkan untuk menjelaskan bagaimana masyarakat mengelola keragaman agama. Dalam menghadapi kompleksitas ini, masyarakat kontemporer dihadapkan pada tantangan membanguan harmoni antaragama dan merespons perbedaan dengan sikap terbuka agar mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika pluralisme agama. Penelitian ini juga menyoroti pengertian pluralisme menurut masyarakat kontemporer, implikasinya dengan beberapa tokoh Barat, agar membentuk persepsi masyarakat terhadap pluralisme agama.
Moderasi Beragama sebagai Pilar Persatuan Bangsa: Studi Komparatif Kitab Suci Islam dan Hindu Rahmatina, Nada; Rijal Ali
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 1 (2024): Vol. 20 No. 1 (2024) Pemikiran, Moderasi dan Isu Agama Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i1.5340

Abstract

Keragaman dapat menjadi pengikat dalam masyarakat, namun dapat pula menimbulkan percikan yang bermuara pada konflik sosial. Besarnya prasangka dan stigma serta kurangnya toleransi terhadap kelompok yang berbeda, ditengarai dapat berakibat pada kekerasan antarkelompok, sehingga narasi moderasi beragama penting kiranya untuk terus disebarluaskan dan diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini mengupas konsep moderasi dari sudut pandang agama Islam dan Hindu berdasarkan kitab sucinya. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) dengan metode penelitian kualitatif. Sumber primer dari penelitian ini adalah kitab suci umat Islam, yaitu Al-Qur'an dan kitab suci umat Hindu, yakni Weda. Sedangkan sumber sekunder yang digunakan adalah berbagai literatur lain yang relevan dengan penelitian, baik dan bentuk buku maupun artikel jurnal. Penelitian dilakukan dengan menganalisis konsep-konsep moderasi beragama secara umum, beranjak ke moderasi beragama yang dikonseptualisasikan dalam Islam dan Hindu, dengan merujuk kembali kepada kitab suci masing-masing agama, yang kemudian konsep-konsep dari ajaran kedua agama tersebut dikomparasikan untuk mencari titik temu antara keduanya. Prinsip moderasi beragama dalam Al-Qur'an sebagaimana yang dirumuskan oleh Kementerian Agama terdiri dari prinsip keadilan (‘adalah), keseimbangan (tawāzun), dan toleransi (tasāmuh). Sedangkan dalam ajaran Hindu, moderasi beragama diterapkan dalam konsep Tri Hita Kirana, Tat Twam Asi, Wasudewam Kutumbhakam, dan Ahimsa. Narasi moderasi beragama penting untuk terus digaungkan oleh pihak-pihak otoritatif seperti pemerintah, lembaga, dan tokoh-tokoh agama. Diversity can be a bond in society, but it can also cause sparks that lead to social conflict. The amount of prejudice and lack of tolerance towards different groups can result in violence between groups, hence it is important for the narrative of religious moderation to continue to be disseminated and actualized in social life. This research examines the concept of moderation from the perspective of Islam and Hinduism based on their holy books. This research is library research with qualitative research methods. The primary sources for this research are the Muslim holy book (Al-Qur'an) and the Hindu holy book (Veda). Meanwhile, the secondary sources used are various other literature that is relevant to the research, both in the form of books and journal articles. The research was conducted by analyzing the concepts of religious moderation in general, moving on to religious moderation conceptualized in Islam and Hinduism, by referring back to the holy books of each religion, which then compared to find common ground between the two. The principles of religious moderation in the Qur'an consist of the principles of justice ('’adalah), balance (tawāzun), and tolerance (tasāmuh). Meanwhile, in Hinduism, religious moderation is applied in the concepts of Tri Hita Kirana, Tat Twam Asi, Wasudewam Kutumbhakam, and Ahimsa. The narrative of religious moderation is important to be echoed by authoritative parties such as the government, institutions, and religious leaders.
Pengaruh Pemikiran Mukti Ali untuk Stabilitas Sosial dan Pertahanan Nasional dalam Konteks Pluralisme Agama Kontemporer Indonesia Anandari, Anatansyah Ayomi
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 1 (2024): Vol. 20 No. 1 (2024) Pemikiran, Moderasi dan Isu Agama Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i1.5355

Abstract

Dalam era globalisasi, pluralisme agama di Indonesia, negara dengan keberagaman budaya dan agama, menimbulkan tantangan dan peluang untuk membangun harmoni sosial dan keutuhan bangsa. Penelitian ini mengeksplorasi kontribusi pemikiran Mukti Ali terhadap pembaharuan studi perbandingan agama dan implikasinya pada stabilitas sosial dan pertahanan negara dalam konteks pluralisme agama kontemporer di Indonesia. Latar belakang masalah berkisar pada dinamika masyarakat pluralistik Indonesia, di mana keragaman agama, seringkali dihadapkan pada tantangan konflik dan ketidakstabilan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan kajian kepustakaan, menggali data dari buku, arsip, dokumen, dan jurnal yang relevan. Hasilnya menunjukkan bahwa pemikiran Mukti Ali, yang menekankan dialog dan pemahaman lintas agama, relevan dan penting dalam mempromosikan toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Konsep pluralisme agama Mukti Ali tidak hanya berkontribusi pada pemahaman dan toleransi antarumat beragama tetapi juga memperkuat pertahanan nasional melalui promosi kerukunan dan toleransi. Pentingnya pendekatan pluralis dan dialogis dalam studi perbandingan agama sebagai alat vital dalam mempertahankan stabilitas sosial dan keharmonisan beragama di Indonesia.
Faith Growing in Action: Implications of John Locke's Tabula Rasa Concept and Ecological Education for HKBP Sunday School Children Frans Jaswin Manalu, Musdodi
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 1 (2024): Vol. 20 No. 1 (2024) Pemikiran, Moderasi dan Isu Agama Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i1.5356

Abstract

This article explores the integration between John Locke's concept of tabula rasa and ecological education for Sunday School children in the Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Church. Titled "Growing Faith in Action," this research investigates how Locke's philosophical concept of the mind as an empty "tabula rasa" filled with experience and learning can be applied in the context of children's growing faith. This research focuses on ecological education as a means for Sunday school children's faith growth that involves their understanding of their relationship with nature and the surrounding community. The concept is applied specifically in the context of HKBP Sunday School, highlighting the church's efforts to deliver religious teachings and facilitate hands-on experiences that can shape children's faith. Combining Locke and Susan Power Bratton's thoughts on ecological education and the ecclesial context, this article offers insights into how faith can develop through concrete action and experience, creating a solid foundation for children's spiritual growth in an ecologically conscious and active learning ecclesial environment.
Potret Pluralisme Beragama di Desa Wonoasri Kediri Perspektif Nurcholis Madjid Huda, M Thoriqul; Nail, Nailul Muna; Rizki, Fatihatur Rizki
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 2 (2024): Agama dan Isu Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i2.5600

Abstract

Abstact Indonesia is a country rich with various religions, cultures, and tribes, where each community in Indonesia must embrace a religion. Therefore, Indonesia is a pluralistic country in terms of culture, ethnicity, and religion. In Indonesia itself there are not only major religions but also local religions that have been passed down from ancestors for generations. In this study, researchers focused on the interactions that exist in the community in the Portrait of Religious Pluralism from the perspective of Nurcholis Madjid. In conducting this research, the location of the researcher is in Wonoasri Village, Grogol District, Kediri Regency. Where in the village of Wonoasri itself there are Muslims, Christians, and Catholics who have been living side by side and getting along with each other. In this study, researchers focused on the understanding of religious pluralism from the perspective of Nurcholis Madjid in Wonoasri village. In the process of completing this research, researchers used qualitative methods to help the research. The results of this study were found in Wonoasri village, which has a very peaceful, harmonious, and tolerant population, be it Islam, Christianity, and Catholicism in Wonoasri village. These three existing religions coexist and socialize with each other. The people of Wonoasri village have very strong ties, which can work together to foster and instill the values of tolerance and inter-religious pluralism in Wonoasri village. Keywords: Religious Pluralism, Harmony, and Nurcholis Madjid.
Tracing Progressive Currents in Indonesian Islam and Christianity: Social Justice, Modernity, and Gender Equality Nursyabani, Mirza
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 2 (2024): Agama dan Isu Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i2.5654

Abstract

This paper argues that Western Progressives influenced religious views influenced religious outlooks of both Islam and Christianity in Indonesia, despite their selective and adaptive attitude. In support of this argument, the article has looked at the parallel between Progressive and both religions by discussing the most common themes advanced by progressive religions as illustrated in the following four points: (1) progressive figures or organizations in Indonesia (2) social justice and religious freedom within Pancasila (3) the link between religion and modernity (4) gender equality. It is argued that the previous four points are fundamental issues that imply unfamiliar religious views that reflect their respective tenets. It is important to realize that this paper does not imply that the majority of Muslims and Indonesia are progressive. Nor does this paper want to judge whether progressive ideas are favorable or hurtful to the religion itself. Instead, this paper only tries to display one of the reflective sides of religions in Indonesia and leaves it to readers to assess this current development. Keywords: Progressive, Islam, Christianity, Indonesia
Analisis Wacana Dakwah Habib Ja'far tentang Moderasi Beragama: : Pembentukan Narasi Keberagaman di Platform YouTube Fitriyah, Ilfatul; Yaqin, Haqqul
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 2 (2024): Agama dan Isu Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i2.5722

Abstract

Artikel ini menganalisis konten dakwah yang disampaikan oleh Habib Ja'far di YouTube, dengan fokus pada moderasi beragama dan dampaknya terhadap pemahaman keberagaman di kalangan penonton. Di Indonesia, yang dikenal dengan keberagamannya, sering muncul masalah intoleransi di mana perbedaan dianggap negatif dan kebenaran subjektif dipaksakan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menghargai perbedaan. Salah satu metode yang terbukti efektif adalah dakwah melalui media sosial, seperti yang dilakukan oleh Habib Ja'far, yang menekankan pentingnya moderasi dalam beragama di negara dengan keragaman tinggi. Permasalahan utama dalam penelitian ini: Pertama, bagaimana pesan moderasi beragama yang disampaikan oleh Habib Ja'far di YouTube? Kedua, bagaimana reaksi penonton terhadap dakwah tersebut? Ketiga, seberapa besar kontribusi konten dakwah Habib Ja'far dalam membentuk pemahaman tentang keberagaman di kalangan penonton? Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis konten, yang memungkinkan peneliti untuk menilai konten video dan tanggapan penonton melalui komentar di YouTube secara sistematis. Teori yang diterapkan mencakup moderasi beragama dan komunikasi digital, yang menjadi dasar untuk menganalisis penyebaran pesan moderasi dalam konteks platform digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaksi positif penonton terhadap dakwah Habib Ja'far dapat berperan signifikan dalam meningkatkan pemahaman keberagaman dan menanamkan sikap toleransi. Banyak komentar penonton yang mengungkapkan apresiasi terhadap dakwah moderasi ini, yang membantu mereka menyadari pentingnya menghargai perbedaan. Dakwah Habib Ja'far telah berhasil menciptakan ruang diskusi yang inklusif di mana keberagaman agama dihargai, sekaligus menunjukkan potensi media sosial dalam menyebarluaskan pesan-pesan keberagaman dan toleransi secara efektif di era digital. Kata Kunci : Moderasi Beragama, Keberagaman, Penonton YouTube
Rekognisi Sosial-Keagamaan Antara Umat Buddha dan Islam: Analisis Polemik Fenomena 44 Biksu di Masjid Baiturrohman, Temanggung Chairi, Effendi
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 2 (2024): Agama dan Isu Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i2.5733

Abstract

Penelitian ini mencoba memberikan analisis teoritis terhadap fenomena 44 biksu yang sedang melaksanakan spiritual thudong yang singgah di Masjid Baiturrohman Temanggung. Fenomena tersebut menjadi viral lantaran polemik yang tercipta akibat respon Cholil Nafis terhadap fenomena tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif untuk memberikan penjelasan yang utuh dan menyeluruh dengan memanfaatkan sumber-sumber dokumentasi dari berbagai media digital. Data-data dari lapangan menujukkan dua kondisi; pertama, kondisi kerukunan yang tercipta diantara pengurus masjid Baiturrohman dan warga setempat dengan para biksu. Kedua, kondisi ketegangan yang tercipta akibat respon Cholil Nafis yang menganggap kebablasan dalam berperilaku toleran kepada umat beragama lain yang berbeda. Melalui data tersebut, hasil analisis penelitian ini menjukkan dua model rekognisi terhadap orang lain yang berbeda. Pertama adalah model pengakuan bersyarat yang menuntut kesamaan atribusi kultural dan agama. Dalam kata lain, jika atribusi dan habituasinya berbeda, maka batas-batas tertentu harus dihindari walaupun bukan dalam bidang akidah dan ibadah. Hal ini tergambar dari respon Cholil Nafis dalam penerimaannya terhadap kelompok Biksu. Kedua adalah model kesaling-pengakuan satu sama lain (mutual recognition) yang melampaui atribusi kultural dan agama masing-masing. Hal ini tergambar dari penyambutan kelompok Islam terhadap para biksu dengan penuh penghormatan dan rasa persaudaraan. Keduanya tidak mempersoalkan keagamaan dan perbedaan habituasinya. This research attempts to present a theoretical analysis of the phenomenon of 44 monks performing spiritual thudong who visited at Baiturrohman Mosque in Temanggung. The phenomenon went viral because of a polemic created by Cholil Nafis' response to the phenomenon. This research was conducted using a qualitative approach to provide a complete and comprehensive explanation by utilising documentary sources from various digital media. The data from the ground shows two conditions; first, the harmony created between takmir of Baiturrohman and local residents with the monks. Second, the tension created by the response of Cholil Nafis who considers it too much to behave tolerantly towards people of different religions. Through these data, the results of this research analysis show two recognition models of the others. The first is a partial recognition that requires similarities in cultural and religious attributions. In other words, if the attributions and habituasions are different, then certain boundaries must be avoided although not matter of creed and worship. This is shown by Cholil Nafis's response in his acceptance of the Monks group. The second is a mutual recognition that is beyond the cultural and religious attributions of each. This is shown in the Islamic group's welcoming of the monks with a sense of respect and brotherhood. Both do not question the religious and habitual differences
Optimalisasi Strategi Kolaborasi Influencer dalam Dakwah Digital: Studi Kasus Ustadz Hanan Attaki dalam Meningkatkan Kesadaran Keagamaan Astutik, Indah Duwi; Yaqin, Haqqul
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 2 (2024): Agama dan Isu Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i2.5734

Abstract

Penelitian ini mengangkat problem akademik yang signifikan terkait efektivitas strategi kolaborasi influencer dalam konteks dakwah digital, dengan fokus pada upaya untuk meningkatkan kesadaran keagamaan di kalangan audiens yang beragam. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan digital religion dan desain studi kasus, penelitian ini melakukan analisis konten terhadap kolaborasi yang dilakukan oleh Ustadz Hanan Attaki dengan berbagai influencer. Penelitian ini melibatkan audiens dari berbagai latar belakang, baik yang berpengaruh di kalangan masyarakat agamis maupun non-agamis, sehingga memberikan perspektif yang komprehensif mengenai pengaruh kolaborasi tersebut. Hasil temuan menunjukkan bahwa strategi kolaborasi yang diterapkan berhasil meningkatkan partisipasi audiens dalam konten dakwah yang disajikan. Temuan ini juga memperlihatkan bagaimana teknologi digital membentuk praktik dan pemikiran agama. Diskusi yang dicapai dalam penelitian ini menegaskan pentingnya pemilihan influencer yang tepat, yang tidak hanya memahami konten yang disampaikan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan dan preferensi audiens untuk mencapai tujuan dakwah yang lebih luas dan efektif. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan keilmuan dalam Studi Agama-Agama, serta membuka ruang untuk penelitian lebih lanjut mengenai dinamika dakwah digital di era media sosial yang terus berkembang, serta tantangan dan peluang yang dihadapi oleh para praktisi dakwah dalam memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan pesan keagamaan.
Religiusitas dalam Genre Horor: Eksorsisme dan Kekuatan Spiritual di Film “Kuasa Gelap” Novianto, Fauzan Akbar; Mukhyar, Muhamad
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 2 (2024): Agama dan Isu Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i2.5796

Abstract

Penelitian ini menganalisis representasi religiusitas dalam film horor Indonesia Kuasa Gelap, yang mengangkat tema eksorsisme Katolik, suatu tema yang jarang diangkat dalam sinema horor Indonesia. Berbeda dengan mayoritas film horor lokal yang berfokus pada ruqyah Islam atau cerita rakyat, Kuasa Gelap mengeksplorasi eksorsisme Katolik yang kaya akan simbolisme religius dan spiritualitas. Tujuan penelitian ini adalah memahami bagaimana film ini mengartikulasikan simbol-simbol religius seperti salib, air suci, dan doa eksorsisme sebagai elemen penting dalam menggambarkan konflik antara kekuatan baik dan jahat. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan semiotika untuk menggali makna di balik simbol-simbol tersebut. Kerangka teori Paul Tillich tentang simbol religius digunakan untuk menguraikan bagaimana simbol-simbol tersebut menyampaikan makna yang lebih dalam tentang iman, spiritualitas, dan keberanian eksistensial. Film ini menawarkan perspektif menarik dalam konteks masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, di mana perpaduan simbol-simbol religius Katolik menciptakan dialog antara tradisi keyakinan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini bukan sekadar horor, tetapi juga sarana untuk mengeksplorasi dan mengartikulasikan pengalaman spiritual dan konflik eksistensial. Kesimpulannya, sinema horor dapat menjadi medium yang efektif untuk menggambarkan berbagai aspek religiusitas dan spiritualitas dalam konteks budaya multikultural.