cover
Contact Name
Moh. Nur Ichwan, M.A., Ph.D.
Contact Email
-
Phone
+62274515856
Journal Mail Official
jurnal.dakwah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah
ISSN : 14115905     EISSN : 26141418     DOI : https://doi.org/10.14421/jd
Jurnal Dakwah memuat berbagai artikel yang mendiskusikan tentang dakwah, baik secara normatif maupun historis. Diterbitkan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, dua nomor setiap tahun. Redaksi menerima tulisan tentang berbagai persoalan yang terkait dengan dakwah dalam berbagai aspeknya. Isi tulisan yang dimuat tidak harus sejalan atau pun mencerminkan pandangan redaksi.
Articles 328 Documents
Analisis Pesan-Pesan Dakwah dalam Syi’ir K.H. Musfik Al-Karawi Wulandari, Ulfa
Jurnal Dakwah Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jd.JD202194

Abstract

Ulfa WulandariMagister Komunikasi dan Penyiaran IslamUniversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakartaemail: ulfaw974@gmail.comAbstrakSyi’ir merupakan media untuk menyampaikan dakwah. Sebagai salah satu media dakwah, Syi’ir disampaikan dengan bentuk lagu-lagu oleh seorang Da’i. Syi’ir sudah ada sejak zaman dulu pada masa jahiliyah. Pada zaman jahiliyah, syi’ir tidak berisi pesan atau ajaran-ajaran Islam. Akan tetapi setelah Islam datang, syi’ir yang dibacakan oleh tokoh ataupun ulama Islam sudah mengandung pesan-pesan ajaran Islam di dalamnya. Penelitian ini bermaksud untuk mendeskripdikan pesan-pesan dakwah dalam syi’ir kyai Musfik Al-karawi. Kyai Musfik adalah tokoh ulama di daerah Madura, beliau sangat masyhur dikalangan masyarkat Madura. Beliau juga dikenal sebagai sosok kyai yang disebut-sebut “ wali “ oleh masyarakat sekitar. Kesimpulan dari penelitian ini, bahwa syi’ir yang dibacakan oleh kyai Musfik mengandung banyak nilai-nilai ajaran Islam. Syi’ir ini menjadi sebuah metode kyai Musfik untuk berdakwah dan memperkuat ajaran-ajaran Islam. Syi’ir kyai Musfik tersebut sangat komplit sekali mengilustrasikan bagaimana hubungan kita kepada sesama serta bagaimana pula hubungan manusia kepada kepada penciptaNya.Syi'ir is a medium for delivering da'wah. As one of the dakwah media, Syi'ir is delivered in the form of songs by a Da'i. Syi'ir has existed since ancient times during the period of ignorance. In the days of ignorance, Syi'ir did not contain messages or teachings of Islam. But after Islam came, syi'ir which was read by Islamic figures or scholars already contained messages of Islamic teachings in it. This study intends to describe the messages of da'wah in the Syi'ir Kyai Musfiq Al-karawi. Kyai Musfik is a cleric in the Madura region, he is very famous among the Madura community. He is also known as a kyai figure who is called "guardian" by the surrounding community. The conclusion from this study, that the syi'ir recited by kyai Musfik contains many values of Islamic teachings. This syi'ir becomes a method of Kyai Musfik to preach and strengthen the teachings of Islam. Syiir Kyai Musfik is very complete at all illustrating how our relationship to others and how human relationships to the creator.          
Dakwah Digital Habib Husein Ja’far Al Hadar Masfupah, Ayun
Jurnal Dakwah Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jd.JD202195

Abstract

Makalah ini membahas tentang bagaimana pemanfaatan new media (media baru) sebagai sarana untuk berdakwah. Ketika zaman semakin maju dan teknologi semakin canggih tantangan seoranga da’i adalah memikirkan cara bagaimana ajaran agama yang ingin dibagikan bisa diakses oleh orang banyak. Maka penulis tertarik untuk meneliti tentang dakwah digital Habib Husein Ja’far Al Hadar, warga Indonesia keturunan Arab disela-sela kesibukan sebagai penulis membuat kanal youtube Jeda Nulis sebagai wadah dan alat untuk digunakan menyebarkan ajaran agama islam. Menghadirkan teman berdiskusi dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda. Penulis menemukan beberapa poin penting apa yang sudah disampaikan Habib Husein Ja’far Al Hadar selama setahun terakhir. Pertama, islam adalah agama untuk menyampaikan kabar gembira dan islam adalah agama cinta. Kedua, islam mengajarkan umatnya untuk bertoleransi kepada sesama manusia. Ketiga, menyampaikan kebenaran dengan akhlak yang baik. Keempat, jihad dimulai dari hal sederhana.Kata kunci: Dakwah Digital, Habib Husein Ja’far Al Hadar
Perempuan dan Gerakan Dakwah: Upaya IPPNU Lamongan Melawan Terorisme Rahma, Zakiya
Jurnal Dakwah Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jd.JD202192

Abstract

Kabupaten Lamongan mempunyai riwayat sebagai kabupaten yang melahirkan tokoh-tokoh pelaku teror (terorisme) di Indonesia. Diantaranya adalah peristiwa bom Bali tahun 2002, bom bunuh diri di Polres Poso tahun 2013, bahkan beberapa alumni dan pengajar pondok Al-Islam bergabung dengan ISIS. Salah satu alumni pondok Al-Islam juga menjadi orang Indonesia pertama yang melakukan bom bunuh diri di Irak. Melihat riwayat tersebut diperlukan upaya melawan terorisme di Lamongan. Upaya tidak hanya dilakukan oleh Pemkab Lamongan namun juga dari Ormas Islam. IPPNU Lamongan sebagai organisasi perempuan yang bergerak di bidang pelajar dan perempuan selayaknya turut andil dalam melawan terorisme. Angota IPPNU Lamongan sendiri mencapai 13.000 pelajar yang sudah tersebar di seluruh desa dan kecamatan yang ada di kabupaten Lamongan. Karena itu lah penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana upaya IPPNU dalam melawan terorisme di Lamongan. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan interview. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat upaya dakwah yang dilakukan oleh IPPNU Lamongan dalam melawan terorisme, diantaranya adalah: membumikan Aswaja sebagai landasan ber-Islam, menjaga tradisi shalawatan, memberdayakan perempuan melalui pemahaman fikih perempuan dan mengembangkan daiyah sebagai agen perubahan sosial. 
Nilai-Nilai Komunikasi Islam dalam Falsafah Hidup Masyarakat Lampung Prakoso, Abimanyu Satrio
Jurnal Dakwah Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jd.JD202191

Abstract

Komunikasi merupakan aktifitas yang tidak jauh dari sendi-sendi kehidupan masyarakat lampung, yang kini menjadi alat sosial dalam pergaulan, Masyarakat lampung adalah masyarakat heterogen yang terdiri dari berbagai keberagaman agama, suku bangsa, etnik, bahasa, adat istiadat dan sebagainya. Komunikasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, individu, dan kelompok melakukan interaksi baik sesama etnik maupun dengan individu atau kelompok lain yang berbeda latar belakang budaya, di era saat ini komunikasi menjadi batu sandungan dikalangan masyarakat, yang mana perbedaan suku budaya dan bahasa menjadi permasalaan yang ada, sedangkan  masyrakat lampung sendiri memiliki tatanan moral (Piil pesenggiri), piil pesenggiri merupakan falsafah hidup masyarakat lampung pandangan hidup atau pedoman hidup. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pemaknaan falsafah hidup masyarakat lampung terhadap nilai-nilai komunikasi islam, terkait dengan bagaimana piil pesenggiri diolah sebagai nilai-nilai komunikasi dan strategi komunikasi didunia sosial masyarakat lampung. Piil pesenggiri saat ini menjadi terasingkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat lampung, studi ini menemukan fakta bahwa berbagai nilai dari filsafat hidup Piil Pesenggiri secara filosofis sesungguhnya koheren dengan nilai-nilai komunikasi.
Polemik Penayangan Film Joker dalam Perspektif Kompas.com Fanaqi, Chotijah; Nurjihan, Anne; Artamevia, Shantia
Jurnal Dakwah Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jd.JD202197

Abstract

Film Joker mengangkat kehidupan tokoh penjahat paling terkenal di dunia. Film ini sudah banyak menimbulkan banyak kontroversi bahkan sebelum pemutaran perdananya karena diklaim mempromosikan kekerasan. Kompas.com adalah salah satu pionir media online di Indonesia yang ikut memberitakan mengenai kontroversi atau polemik penayang film Joker ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konstruksi pemberitaan yang dilakukan Kompas.com dalam membingkai polemik penayangan film joker periode 29 Agustus sampai 08 Oktober 2019.Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dikarenakan peneliti ingin menganalisa fenomena media dalam mengkonstruksikan suatu kasus atau realita yang menjadi berita. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini analisis teks media dengan metode analisis framing menggunakan pendekatan model framing Robert N. EntmanAdapun hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam define problem, ada tiga berita mengenai polemik penayangan film Joker yang dipublikasikan oleh Kompas.com periode 29 Agustus – 08 Oktober 2019. Ketiga berita tersebut mengandung unsur polemik atau pro dan kontra terhadap penayangan film Joker. Pada diagnose causes; banyak orang yang menganggap bahwa tayangan Film Joker. Joker menginspirasi orang dalam melakukan kekerasan. Pada make moral judgment, Kompas.com dalam pemberitaannya berusaha menyampaikan bahwa film Joker ini layak tayang, namun yang perlu digaris bawahi adalah film ini tidak untuk semua kalangan, melainkan hanya untuk dewasa. Pada treatment recommendation, Kompas.com berusaha menyampaikan bahwa film Joker tidak sepenuhnya mempromosikan tentang kekerasan atau memprovokasi seseorang untuk melakukan kejahatan. Film ini juga berusaha menyampaikan pesan bahwa setiap orang bisa saja menjadi jahat atau melakukan tindak kejahatan jika dirinya mengalami tekanan.
Jejak Syiar Islam Muhammad Shalih As-Samarani dalam Melawan Kolonialisme Zulfa, Laili
Jurnal Dakwah Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jd.JD202196

Abstract

Semarang is one of the cities included in the Dutch East Indies colonial list. The city is used as a trade center in the Java region. This is because the location of the city is very strategic with the Java sea coast. The arrival of the colonialists in Semarang put Islam under various pressures. Teaching and learning activities that have become routine community limited. Many boarding schools which incidentally serve as a forum for the formation of the character of Muslims in the future transferred to the suburbs. The colonials did their best to build modernitie which were then expected to develop rapidly. Departing from there, seeing the reality that exists, the scholars in the archipelago, especially in Semarang began to create a movement on the pretext that the existence of Islam itself remains. One of the scholars who had a great influence was Muhammad Shalih as-Samarani, a famous scholar and famous as his Imam Ghozali in the land of Java. Besides that, he is also well-known as a teacher of figures in the archipelago who are well known both in the national and international arena. Therefore, the author is interested in studying the traces of Islamic symbols carried out by him in the 19th century AD In this contexts, the author uses descriptive qualitative research methods, with library data as the main source of this research. The author in analys, using the historical study. One of them through oral history, is one source of information carried out by historians or other social historian scientists. The results of this study, the concept of preaching created by Muhammad Sholeh as-Samarani has a unique strategy and is a differentiator with the previous scholars. The strategy is in the form of written works using Javanese pegon script with a total of 14 works. This discourse caused by the first, as a form of resistance against the colonial. Second, in that century, many lay people did not know Arabic. Third, the style of thought that he has is able to see the social conditions of society in that century. As a public who was amazed, loved, and loved the teachings that he did, they formed the Kyai Sholeh Land Lover Commission (KOPISODA). Besides that, they made the Haul event a warning sign that he died.Abstrak- Semarang merupakan salah satu kota yang masuk dalam daftar penjajahan kolonial Hindia-Belanda. Kota yang dijadikan sebagai pusat perdagangan di wilayah Jawa. Hal ini dikarenakan letak kota tersebut sangat strategis dengan pesisir laut Jawa. Datangnya kaum kolonial di Semarang membuat Islam mendapat berbagai tekanan. kegiatan belajar mengajar yang sudah menjadi rutinitas masyarakat dibatasi. Banyak pesantren yang notabene dijadikan sebagai wadah pembentukan karakter kaum Islam dimasa mendatang dialihkan ke pinggiran kota. Kaum kolonial berupaya sekuat mungkin untuk membangun modernitas-modernitas yang kemudian diharapkan mampu berkembang pesat. berangkat dari situ, melihat realitas yang ada, para ulama di Nusantara, khususnya di Semarang mulai menciptakan suatu gerakan dengan dalih agar eksistensi Islam itu sendiri tetap ada. Salah satu ulama yang memiliki pengaruh besar ialah Muhammad Shalih as-Samarani, ulama termasyhur dan terkenal sebagai Imam Ghozalinya di tanah Jawa. disamping itu, beliau juga terkenal sebagai gurunya para tokoh ulama di Nusantara yang terkenal baik di kancah Nasional maupun internasional. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengkaji jejak-jejak syiar Islam yang dilakukan oleh beliau di abad ke-19 M. Dalam konteks ini, Penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan data pustaka sebagai sumber utama penelitian ini. Penulis dalam menganalisis menggunakan pendekatan studi sejarah untuk objek kajian tersebut. salah satunya melalui sejarah lisan, merupakan salah satu sumber informasi yang dilakukan oleh sejarawan atau para ilmuwan sejarawan sosial lain. Hasil penelitian ini adalah, konsep dakwah yang diciptakan oleh Muhammad Sholeh as-Samarani memiliki strategi yang unik dan menjadi pembeda dengan para ulama terdahulu. Strategi tersebut berupa karya tulis yang menggunakan bahasa aksara pegon Jawa dengan jumlah karya sebanyak 14 buah. Dalam diskursus ini disebabkan oleh pertama, merupakan sebagai bentuk perlawanan terhadap kaum kolonial. Kedua, pada abad itu, banyak masyarakat awam yang belum mengenal bahasa Arab. Ketiga, corak pemikiran yang beliau miliki mampu melihat kondisi sosial masyarakat pada abad itu. Sebagai mayarakat yang kagum, gemar, dan cinta terhadap ajaran-ajaran yang beliau lakukan, mereka membentuk Komuntas Pecinta Kyai Sholeh Darat (KOPISODA). Disamping itu, mereka membuat acara Haul sebagai tanda peringatan beliau wafat. Keywords: Syiar, Muhammad Shalih, Pegon
DAKWAH DIGITAL UNTUK GENERASI MILENIAL Lestari, Puput Puji
Jurnal Dakwah Vol. 21 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/JD.2112020.1

Abstract

Technology influences people's lives today, particularly to the rise of global culture and instantaneous lifestyles. Technological developments also influence the da'wah model by which morality among the millennial generation grows along with their process of selves identity seeking. Through the development of technology, it is undeniable that the contents of radicalism, extremism can spread and is able to enter all aspects of life. This study aims to answer the query of how religion is understood and practiced by the millennial generation and how da'wah can be carried out in the millennial era. This research uses a descriptive qualitative approach, through in-depth interviews with several informants who have been determined based on purposive sampling. The study found that religion can be interpreted as a way of life so able to prevent its adherent from mistakes. Keywords: Religion, Da'wah Method, Millennial Generation, Millennial Da'wah.Perkembangan teknologi melahirkan fenomena menarik dalam kehidupan masyarakat saat ini yaitu maraknya budaya global dan gaya hidup serba instan. Perkembangan teknologi mengakibatkan model dakwah semakin berkembang pesat dan dinamis dan dapat berpengaruh pada akhlak, moral generasi milenial yang dimana mereka pada fase proses mencari jati diri. Dengan perkembangan teknologi tidak dapat dipungkiri bahwa konten-konten berbau radikalisme, ekstrimisme dapat dengan cepat menyebar dan mampu memasuki semua lini. Maka, perlu tempat yang dapat membawa angin segar agar generasi milenial tidak mudah mempercayai konten yang tersebar dengan liberal. Studi ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana cara agama dipahami dan dipraktikkan oleh generasi milenial dan bagaimana caranya dakwah dapat dilakukan di era milenial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, melalui wawancara mendalam ( in depth interview ) dari beberapa informan yang telah ditentukan berdasarkan purposive sampling hasil studi menunjukkan bahwa agama dapat dimaknai sebagai pedoman hidup  agar tidak melakukan kekacauan. Penyampaian agama dalam dakwah melalui pengajian, media sosial, dan pendekatan psikologi untuk menangkal ujaran kebencian. Itulah alasan munculnya dakwah digital oleh “ustad gaul” yang melek akan teknologi.Kata Kunci : Agama, Metode Dakwah, Generasi Milenial.
STRATEGI PEMASARAN KEGIATAN SOSIAL KEAGAMAAN REMAJA MASJID Najib, Try Marifan
Jurnal Dakwah Vol. 21 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/JD.2112020.2

Abstract

The village fostering is one of the JMMI ITS Surabaya socio-religious activity programs. Every mosque is required to make programs and activities that are diverse and attractive to the community. Therefore, these programs need to be presented properly and attractively through a marketing strategy. The purpose of this study is to describe how the segmenting, targeting and positioning (STP) of the JMMI social activity market. This research uses descriptive qualitative method, while the data were collected by interview, observation, and documentation. This study found that the grouping of JMMI target villages is divided into four areas that can be reached or close to the ITS campus, namely: Kejawan, Keputih, Gebang, and Medokan. Communication and cooperation between JMMI and the community really help the community's economy.Keywords: Strategy, Marketing, Social ActivitiesDesa binaan adalah salah satu program kegiatan sosial keagamaan JMMI ITS Surabaya. Setiap masjid dituntut untuk membuat program maupun kegiatan yang beraneka ragam sekaligus menarik bagi masyarakat. Oleh karena itu, program-program tersebut perlu dikemas dan dipasarkan dengan baik dan menarik melalui strategi pemasaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan bagaimana segmenting, targetting dan positioimg pasar kegiatan sosial JMMI. Fokus masalah yang diteliti adalah analisis proses kegiatan sosial keagamaan JMMI ITS Surabaya menggunakan teori Segmenting,Targetting, Positioning (STP). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, jenis penelitian ini adalah menganalisis data yang telah dikumpulkan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah mendeskripsikan strategi pemasaran dengan menggunakan teori STP yang telah dilakukan JMMI ITS Surabaya dan  menjabarkan proses STP yang diterapkan pada kegiatan sosial keagamaan JMMI ITS Surabaya. Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut. Pertama pengelompokan desa binaan JMMI dibagi menjadi empat wilayah yang bisa dijangkau atau dekat dari kampus ITS yaitu: Kejawan, Keputih, Gebang, dan Medokan. Kedua komunikasi dan kerjasama antara JMMI dan lingkungan Masyarakat membantu perekonomian masyarakat.Kata Kunci: Strategi, Pemasaran, Kegiatan Sosial 
PERAN BANGSA HADRAMAUT DALAM ISLAMISASI DI PANTAI BARAT KALIMANTAN Bakar, Abu
Jurnal Dakwah Vol. 21 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jd.2112020.3

Abstract

This research seeks to find the Hadramaut Nation’s roles in the process of Islamic development in the area. The history of their arrival and trace in this context needs to be found to support the argumentation of the research results. Academically this research reinforces the theory of Hadrami's Islamization building in Indonesia. The discipline of history through interpretive methodologies and stages of research methods is used to uncover the above problems. Historical literature and field studies are combined to obtain complete data to complete the results of the research. The process gave the result that Hadrami began in the beginning of the XVIII century involved in the Islamization starting from Matan, continuing to Mempawah, Kubu, and Pontianak. They carry out this role by building the country, government and propaganda in the community. The Ahlu Sunnah wal Jamaah Islam and the Shafi'iyah school were found as Islamic buildings introduced on the West Coast of Kalimantan. Their footprint is also evidenced by the findings of their graves in a number of areas whose existence also lives in the oral traditions of the local community.Peranan Bangsa Hadramaut sebagai suatu kesatuan etnis dalam islamisasi di Pantai Barat Kalimantan dinilai belum peroleh perhatian memadai dari kalangan akademisi. Penelitian ini berusaha menemukan peranan mereka dalam proses persebaran Islam yang dilakukan melalui kekuasaan di daerah tersebut. Secara akademis penelitian ini menguatkan bangunan teori islamisasi Hadrami di Indonesia. Disiplin ilmu sejarah melalui metodologi interpretatif dan tahapan metode penelitian digunakan untuk mengungkap masalah di atas. Literature sejarah dan studi lapangan dipadukan untuk memperoleh data yang lengkap guna menuntaskan hasil penelitian. Proses tersebut memberikan hasil bahwa Hadrami mulai awal abad ke XVIII terlibat dalam islamisasi mulai dari Matan, berlanjut ke Mempawah, Kubu, dan Pontianak. Mereka melakukan peran tersebut dengan membangun negeri dan pemerintahan yang di dalamnya diserukan dakwah. Islam Ahlu Sunnah wal Jamaah dan mazhab Syafi`iyah ditemukan sebagai bangunan Islam yang diperkenalkan di Pantai Barat Kalimantan. Jejak mereka turut dibuktikan dengan temuan makam mereka di sejumlah daerah yang keberadaannya juga hidup dalam tradisi lisan.   
ONLINE RELIGION AND RETHINKING THE DA’WAH AUTHORITY TOWARD AN INCLUSIVE DA’WAH: A CONCEPTUAL STUDY Adeni, Adeni -
Jurnal Dakwah Vol. 21 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/JD.2112020.4

Abstract

This paper aims to examine the concept of da’wah authority in the context of the relationship between religion and new media. The presence of new media has an impact on the development of Islamic da'wah especially regarding the issue of da'wah authority. By using a qualitative method based on library research, this paper concludes that first, the da’wah authority has shifted from the sender authority to the recipient authority, who is free and active in interpreting da'wah messages. Second, in the realm of new media, there is no clear boundary between the sender and da’wah messages recipient so that someone can be both the sender and the recipient of da'wah at the same time. Third, new media allows the opening of space for dialogue between religions. Fourth, feedback from da'wah recipients requires that the message conveyed must be valid, argumentative, and convincing. Fifth, da'wah in new media can no longer be forced to be accepted by the recipient except based on certain considerations from the recipient.Makalah ini bertujuan mengkaji konsep otoritas dakwah dalam konteks hubungan antara agama dan media baru (new media). kehadiran media baru berdampak pada perkembangan dakwah Islam khususnya terkait dengan otoritas dakwah. Dengan menggunakan metode kualitatif berdasarkan studi pustaka (library research), makalah ini menyimpulkan bahwa pertama, otoritas dakwah telah bergeser dari otoritas pengirim menjadi otoritas penerima yang bebas dan aktif dalam menafsirkan pesan dakwah. Kedua, dalam ranah new media tidak ada batasan yang jelas antara pengirim dan penerima pesan dakwah sehingga seseorang dapat menjadi pengirim sekaligus penerima dakwah. Ketiga, media baru memungkinkan terbukanya ruang dialog antar agama. Keempat, umpan balik dari penerima dakwah mengharuskan pesan yang disampaikan harus valid, argumentatif, dan meyakinkan. Kelima, dakwah di media baru tidak bisa lagi dipaksa untuk diterima oleh penerima kecuali berdasarkan pertimbangan tertentu dari penerima.