cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 435 Documents
Bioprospeksi Senyawa Antibakteri dari Bakteri yang Berasosiasi pada Bulu Babi asal Kabupaten Kaur, Bengkulu Wibowo, Risky Hadi; Sipriyadi, Sipriyadi; Adfa, Morina; Prastya, M. Eka; Cahlia, Uci; Fahmi, Riziq Ilham Nur; Rothman, Dita Delia
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 3 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i3.29412

Abstract

The digestive system of sea urchins functions to process organic material from food into bioactive compounds. . However, the direct exploitation of bioactive compounds from sea urchins may trigger ecological imbalances. These bioactive compounds can also be produced through interactions between sea urchins and their diverse associated bacteria within the body. Therefore, alternative methods are needed to obtain bioactive compounds without disrupting the aquatic ecosystem. This study aims to explore bioactive compounds from the associated bacteria of sea urchins (Stomopneustes variolaris Lamarck and Tripneustes ventricosus Lamarck) originating from Kaur Regency, Bengkulu. A total of 30 bacterial isolates were successfully obtained using Zobell Marine Agar (ZMA) medium. Potential isolates were identified through morphological observation, Gram staining, and biochemical tests. Antibacterial activity assays showed that 12 isolates had potential as antibacterial producers based on tests against Bacillus subtilis, Escherichia coli, and Staphylococcus aureus. Two isolates, TVL 6 and TVL 11, were able to inhibit all test bacteria. Additionally, assays using pellets and supernatants showed that all 12 isolates exhibited antibacterial activity, with 5 isolates showing activity in the supernatant. Isolates TVL 6 and TVL 11 were proven effective in inhibiting all test bacteria in both pellet and supernatant forms, with the highest inhibition observed against Staphylococcus aureus. These results indicate that the associated bacteria in the digestive tract of sea urchins have potential as candidates for antibacterial compound producers.   Sistem pencernaan bulu babi berfungsi untuk mengolah bahan organik dari makanan menjadi senyawa bioaktif. Namun, eksploitasi senyawa bioaktif dari bulu babi secara langsung dapat memicu ketidakseimbangan ekosistem. Senyawa bioaktif ini juga dapat dihasilkan melalui interaksi antara bulu babi dengan bakteri asosiasi yang beragam di dalam tubuhnya. Oleh karena itu, diperlukan metode alternatif untuk memperoleh senyawa bioaktif tanpa merusak keseimbangan ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi senyawa bioaktif dari bakteri asosiasi bulu babi (Stomopneustes variolaris Lamarck dan Tripneustes ventricosus Lamarck) asal Kabupaten Kaur, Bengkulu. Sebanyak 30 isolat bakteri berhasil diisolasi menggunakan media Zobell Marine Agar (ZMA). Identifikasi isolat potensial dilakukan melalui pengamatan morfologi, pewarnaan Gram, dan uji biokimia. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa 12 isolat memiliki potensi sebagai penghasil antibakteri berdasarkan pengujian terhadap kultur uji Bacillus subtilis, Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus. Dua isolat, TVL 6 dan TVL 11, mampu menghambat semua bakteri uji tersebut. Selain itu, pengujian menggunakan pelet dan supernatan menunjukkan bahwa 12 isolat mampu menghasilkan aktivitas antibakteri, dengan 5 isolat menunjukkan aktivitas pada supernatan. Isolat TVL 6 dan TVL 11 terbukti efektif menghambat semua bakteri uji baik pada pelet maupun supernatan, dengan penghambatan tertinggi terhadap Stapylococcus aureus. Hasil ini mengindikasikan bahwa bakteri asosiasi dalam saluran cerna bulu babi memiliki potensi sebagai kandidat penghasil antibakteri. 
Kelimpahan Gastropoda di Padang Lamun Pulau Menjangan Besar dan Pulau Kemujan, Karimunjawa Hayati, Amaliya Tsiqotul; Nuraini, Ria Azizah Tri; Riniatsih, Ita; Widianingsih, Widianingsih
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 3 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i3.28792

Abstract

Gastropods are a group of fauna commonly found in association with seagrass beds. However, increasing anthropogenic activities have led to significant declines in seagrass ecosystems across Indonesia. The degradation of seagrass has become evident in recent years in the Karimunjawa Islands, particularly at Menjangan Besar Island (due to tourism activities) and Kemujan Island (due to residential and boating activities). This situation is concerning, as it may affect the presence of gastropods inhabiting these areas. This study aims to determine the abundance of gastropods and its relationship with seagrass density at Menjangan Besar and Kemujan Islands. Data collection was carried out in October 2024 using the transect-quadrat method to assess gastropod abundance and seagrass density. Furthermore, correlation and simple linear regression analyses were employed to examine the relationship between gastropod abundance and seagrass density at the study sites. The results indicated that total gastropod abundance at Menjangan Besar Island (10.42 ind/m²) was higher than at Kemujan Island (5.33 ind/m²). Similarly, total seagrass density at Menjangan Besar Island (79.15 ind/m²) was higher compared to Kemujan Island (37.33 ind/m²). The correlation between gastropod abundance and seagrass density at both locations was strong and positive, indicating that seagrass significantly influences gastropods in these ecosystems.   Gastropoda merupakan kelompok fauna yang umum ditemukan berasosiasi dengan padang lamun, namun seiring bertambahnya aktivitas antropogenik, padang lamun di Indonesia mengalami banyak penurunan. Penurunan kondisi lamun ini terlihat di beberapa tahun terakhir di Kepulauan Karimunjawa khususnya di Pulau Menjangan Besar (aktivitas pariwisata) dan Pulau Kemujan (aktivitas pemukiman dan kapal warga). Sehingga dikhawatirkan kondisi ini dapat mempengaruhi keberadaan gastropoda yang hidup di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan gastropoda serta hubungannya dengan kerapatan lamun di Pulau Menjangan Besar dan Pulau Kemujan. Pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober 2024 di Pulau Menjangan Besar dan Pulau Kemujan menggunakan metode transek kuadran untuk mendapatkan data kelimpahan gastropoda serta kerapatan lamun. Selain itu analisis korelasi sederhana juga digunakan untuk mengetahui hubungan kelimpahan gastropoda dan kerapatan lamun di lokasi penelitian. Hasil kelimpahan total gastropoda di Pulau Menjangan Besar (10,42 Ind/m2) lebih besar dibandingkan nilai kelimpahan Gastropoda di Pulau Kemujan (5,33 Ind/m2). Sedangkan total kerapatan lamun di Pulau Menjangan Besar (79,15 Ind/m2) juga lebih besar dibandingkan dengan total kerapatan lamun di Pulau Kemujan (37,33 Ind/m2). Hubungan antara kelimpahan gastropoda dengan kerapatan lamun di kedua lokasi menunjukkan korelasi kuat dengan nilai positif, sehingga keberadaan lamun sangat mempengaruhi gastropoda yang hidup di dalamnya. 
Kesesuaian Habitat Bayi Hiu Karang Sirip Hitam di Taman Nasional Taka Bonerate Sudono, Chynta Veyra Aulia; Iranawati, Feni; Asri, Asri; Yona, Defri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 3 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i3.29200

Abstract

Blacktip Reef Sharks (Carcharinus melanopterus) is one of many sharks that are found in Indo-pasific waters and currently listed as vulnerable in IUCN Redlist due to a decrease in population. Habitat suitability and environmental parameters are one of the factors that influence the presence of populations. This research focuses on habitat suitability of Blacktip Reef Sharks pups nursery grounds on the coast of Jinato and Tinabo Besar island, Taka Bonerate National Park with differences in environmental conditions and zone types. Therefore, this research was conducted to analyze the state of environmental parameters at both study site and analyze the influence of parameters and compare the habitat suitability of Blacktip Reef Shark babies at both study site. Data collection was conducted primarily and secondarily in both islands In July and August 2024 and processed using Spearman correlagtion and venn diagram. The number of Blacktip Reef Shark pups on Jinato Island was found to be 3 while on Tinabo Besar Island it was found to be 207, so it is assumed that there is an influence of environmental conditions on the presence of shark pups. There are significant differences and influences on chlorophyll-a, current speed, and salinity parameters, with current being the most influential parameter in the habitat suitability of blacktip reef shark pups on both islands. Tinabo Besar Island has slower current speed conditions, indicating a higher level of habitat suitability.  Hiu Karang Sirip Hitam (Carcharinus melanopterus) merupakan salah satu hiu pada area Indo-pasifik yang termasuk kedalam Redlist IUCN dengan kategori vulnerable karena adanya penurunan populasi. Kesesuaian habitat dan parameter lingkungan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi keberadaan populasi hiu. Penelitian ini berfokus terhadap kesesuaian habitat bayi Hiu Karang Sirip Hitam di pesisir Pulau Jinato dan Tinabo Besar, Taman Nasional Taka Bonerate dengan perbedaan kondisi lingkungan dan tipe zona yang berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perbedaan parameter pada kedua pulau, menganalisis pengaruh parameter serta membandingkan kesesuaian habitat bayi Hiu Karang Sirip Hitam pada lokasi kajian. Pengambilan data dilakukan baik secara primer dan sekunder pada kedua pulau di bulan Juli dan Agustus 2024 dan diolah menggunakan uji korelasi Speaman dan diagram venn. Jumlah bayi Hiu Karang Sirip Hitam pada pulau Jinato ditemukan 3 ekor sedangkan pada Pulau Tinabo Besar ditemukan 207 ekor sehingga diasumsikan adanya pengaruh kondisi lingkungan terhadap keberadaan bayi hiu. Terdapat perbedaan dan pengaruh signifikan pada parameter klorofil-a, arus, dan salinitas dengan paremter arus sebagai paremter yang paling berpegaruh dalam kesesuaian habitat bayi Hiu Karang Sirip Hitam di kedua pulau. Pulau Tinabo Besar memiliki kondisi arus yang lebih rendah sehingga menujukkan tingkat kesesuaian habitat yang lebih tinggi. 
Karakteristik Sedimen Permukaan Dasar Laut Berdasarkan Data Seismik Di Perairan Bengkalis Utara Kirana, Widiah Dwi; Manik, Henry Munandar; Setyanto, Agus
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 3 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i3.28765

Abstract

The northern waters of Bengkalis Island, Riau Archipelago, represent a coastal region vulnerable to abrasion and anthropogenic pressures such as sand mining and marine traffic. This study employs an integrative approach combining seismic reflection methods and grain-size analysis from grab-sampler data to quantitatively assess the characteristics of surface seafloor sediments. Seismic sections from three profiles reveal a relatively flat seabed topography, with depths ranging from 9.5 to 14.9 meters and total sediment layer thickness reaching up to 76.5 meters. Data processing through AGC, FFT, bandpass filtering, and sparse spike deconvolution produced sharp and informative seismic sections, with estimated reflection coefficient values ranging from 0,245 to 0,257. The interpretation results indicate consistency between the reflection coefficients extracted from seismic data and the theoretical values derived from sediment grain sizes of 0,021–0,025 mm, classified as coarse silt. These findings reinforce the effectiveness of hydroacoustic methods in sediment characterization within coastal environments. This approach is considered efficient, broadly spatially covered, and holds strategic potential for shallow marine sedimentology studies.   Perairan Bengkalis Utara, Kepulauan Riau, merupakan wilayah pesisir yang rentan terhadap abrasi dan tekanan antropogenik seperti penambangan pasir dan pelayaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan integratif antara metode seismik refleksi dan analisis ukuran butir sedimen dari penginti comot (grab sampler) untuk mengkaji karakteristik sedimen permukaan dasar laut secara kuantitatif. Penampang seismik dari tiga lintasan menunjukkan topografi dasar laut yang relatif datar, dengan kedalaman seabed antara 9,5 hingga 14,9 meter dan ketebalan total lapisan sedimen mencapai 76,5 meter. Pengolahan data melalui tahapan AGC, FFT, bandpass filter, dan dekonvolusi menghasilkan visualisasi penampang yang tajam dan informatif, serta estimasi koefisien refleksi dalam kisaran 0,245–0,257. Hasil interpretasi menunjukkan kesesuaian nilai koefisien refleksi dari data seismik dengan nilai teoritis berdasarkan ukuran butir sedimen sebesar 0,021–0,025 mm, yang diklasifikasikan sebagai lanau kasar. Temuan ini memperkuat efektivitas metode hidroakustik dalam karakterisasi sedimen di wilayah pesisir. Pendekatan ini dinilai efisien, luas cakupannya, dan potensial menjadi metode strategis dalam studi sedimentologi laut dangkal. 
Penyemaian Generatif Enhalus acoroides melalui Variasi Wadah dan Substrat: Kajian Laju Pertumbuhan, Kelulushidupan, dan Parameter Perairan Pangga, R. M. Dio Dwi; Riniatsih, Ita; Widowati, Ita; Suryono, Chrisna Adhi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 3 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i3.30186

Abstract

Seagrass is a higher plant that lives in shallow marine waters and plays an important role in tropical coastal ecosystems. Seagrass has the ability to reproduce in two ways, namely vegetatively and generatively. Enhalus acoroides is one of the species widely distributed in Indonesian tropical waters and can bear fruit throughout the year, but the survival rate of seedlings in nature tends to be low due to high environmental variability. Based on this, controlled generative sowing is an effective alternative in helping seedlings through the early stages of growth. This study aims to determine the effect of container and substrate variations, as well as their interaction, on the growth rate and survival rate of E. acoroides generative seedlings. The study results showed that substrate type had a significant effect on seedling growth rate (p = 0.004), whereas container type did not have a significant effect (p = 0.558). The interaction between container and substrate was also significant (p = 0.042). Seedlings grown in muddy sand exhibited a higher growth rate compared to those in sand. The survival rate across all treatment combinations was 100%, indicating that the different growing media were capable of optimally supporting the initial growth phase. These findings emphasize the importance of selecting an appropriate substrate to enhance the growth rate of seagrass seedlings.  Lamun merupakan tumbuhan tingkat tinggi yang hidup di perairan laut dangkal dan berperan penting dalam ekosistem pesisir tropis. Lamun memiliki kemampuan untuk bereproduksi melalui dua cara, yaitu vegetatif dan generatif. Lamun Enhalus acoroides merupakan salah satu spesies yang tersebar luas di perairan tropis Indonesia dan dapat berbuah sepanjang tahun, namun tingkat kelulushidupan bibit di alam cenderung rendah akibat tingginya variabilitas faktor lingkungan. Berdasarkan hal tersebut, penyemaian generatif secara terkontrol menjadi alternatif yang efektif dalam membantu bibit melewati fase awal pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi wadah dan substrat, serta interaksi keduanya terhadap laju pertumbuhan dan kelulushidupan semaian generatif E. acoroides. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis substrat berpengaruh signifikan terhadap laju pertumbuhan bibit (p = 0,004), namun jenis wadah tidak memberikan efek yang signifikan (p = 0,558). Interaksi wadah dengan substrat memberikan pengaruh yang berarti (p = 0,042). Substrat pasir berlumpur menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan substrat pasir. Tingkat kelulushidupan seluruh kombinasi mendapat nilai sebesar 100%, mengindikasikan bahwa variasi media tanam tetap mampu mendukung fase awal pertumbuhan secara optimal. Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan substrat yang tepat diperlukan untuk meningkatkan laju pertumbuhan bibit lamun.