cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 465 Documents
Assessment of Mangrove Health in Pancer Cengkrong, Trenggalek, East Java, Indonesia Diana Arfiati; Umi Zakiyah; Endang Yuli Herawati; Titis Dwi Andhani; Pratama Diffi Samuel; Sri Sudaryanti; Michelle Sylvanya Ivanney Sundalangi; Firuliza Nurus Sofi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 29, No 2 (2026): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v29i2.32114

Abstract

Mangrove forests are highly sensitive to environmental disturbances, making them vulnerable to a decline in their condition and ecological functions. This study aims to assess the health of mangrove forests in Pancer Cengkrong, Trenggalek, using the mangrove health index method to support conservation and sustainable management efforts. The study was conducted from May to July 2025, using a survey method at six locations. The parameters studied were stem diameter (Sd), canopy cover (Sc), and sapling density (SNsp). This study identified 12 mangrove species, consisting of 11 true mangrove species, including Avicennia alba, Sonneratia alba, Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Achantus ilicifolius, Ceriops decandra, Derris trifoliata, Nypa fruticans, Excoecaria agallocha, as well as one associated mangrove species, Acrostichum speciosum. The highest species density was found in Rhizophora mucronata (6,075 ind.ha⁻¹), while the lowest was in Bruguiera gymnorrhiza (75 ind.ha⁻¹). SNsp values ranged from 4.10 to 4.12, Sd values ranged from 3.3 to 4.84, and Sc values ranged from 6.59 to 7.59. The health condition of the mangrove forest was categorized as “Moderate,” with the highest MHI at Site 1 (54.41%) and the lowest at Site 5 (48.34%). The “Moderate” mangrove forest health category indicates the need to limit activities that could cause degradation and damage, and to increase mangrove forest rehabilitation efforts to preserve a sustainable ecosystem.
Klasifikasi Sedimen Dasar Laut Menggunakan Multibeam Echosounder dan Metode Deep Learning Muhammad Fadhil Ilham; Henry Munandar Manik; Sri Pujiyati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 29, No 2 (2026): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v29i2.29843

Abstract

Klasifikasi sedimen dasar laut memiliki peran penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya kelautan, konservasi ekosistem, serta perencanaan pembangunan wilayah pesisir. Multibeam Echosounder (MBES) merupakan instrumen akustik yang mampu menghasilkan data batimetri dan hambur balik (backscatter) beresolusi tinggi, sehingga menyediakan informasi penting untuk mengidentifikasi jenis dan karakteristik fisik dasar laut. Namun, metode klasifikasi konvensional masih menghadapi keterbatasan, seperti kebutuhan ekstraksi fitur secara manual dan sensitivitas terhadap ketidakseimbangan data, sehingga akurasinya sering kali tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan kinerja beberapa algoritma deep learning dalam klasifikasi sedimen dasar laut menggunakan data MBES di perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Dataset yang digunakan terdiri atas nilai backscatter akustik, kedalaman batimetri, serta empat parameter turunan batimetri, yaitu slope, rugosity, curvature, dan Bathymetric Position Index (BPI) sebagai fitur masukan. Sebanyak 42 sampel sedimen dasar laut dikumpulkan sebagai data ground truth, kemudian dibagi menjadi 50% untuk pelatihan dan 50% untuk pengujian model. Data MBES diolah menggunakan perangkat lunak CARIS HIPS and SIPS, sedangkan parameter turunan dihitung melalui ArcGIS 10.8.2. Evaluasi model dilakukan menggunakan confusion matrix dengan tiga metrik utama, yaitu accuracy, F1-score, dan koefisien kappa (κ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma deep learning mampu memberikan kesesuaian yang substansial, dengan model terbaik memperoleh nilai accuracy sebesar 83,78%, F1-score sebesar 83,27%, dan koefisien kappa sebesar 0,67. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan deep learning efektif dalam klasifikasi sedimen dasar laut dan berpotensi besar meningkatkan otomatisasi serta ketelitian pemetaan dasar laut berbasis data MBES.
Logam Berat Fe dan Cr pada Organiseme Laut: Ikan, Udang dan Rajungan di Pesisir Semarang Jawa Tengah Chrisna Adhi Suryono; Agus Abi Indarjo; Prastyo Abi Widyananto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 29, No 2 (2026): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v29i2.33170

Abstract

Pesisir kota Semarang terdapat beberapa industri yang menggunakan logam.  Aktifitas tersebut akan berdampak pada ekosistem laut terutama biota laut yang hidup didalamya.  Penelitian bertujuan untuk mengetahui kontaminansi logam Besi (Fe) dan Kromium (Cr) pada biota laut di pesisir Semarang.  Analisa konsentrasi Fe dan Cr dalam jaringan biota menguunakan ICPMS.  Hasil analisa menunjukan ditemukanya logam Cr dan Fe dalam biota seperti udang putih (P. Merguensis), rajungan (P. pelagicus), dan ikan belanan (Mugil sp).  Konsentrasi logam Fe menunjukan konsentrasi lebih tinggi pada ketiga organisme laut tersebut bila dibandingkan dengan logam Cr.  Konsentrasi logam Fe antara 0,27 – 0,909 ppm sedangkan konsentrasi logam Cr berkisar antara 0,06 – 0,214 ppm.  Sedangkan konsentrasi logam Fe dalam air laut rata rata 1,4 ppm sedangkan Cr 0,87 ppm.
Hydroacoustic Assessment of Zooplankton Abundance in Southeastern Pari Island Waters, Jakarta Bay Muhammad Ravelino; Henry Munandar Manik; Adriani Sunuddin; La Elson
Jurnal Kelautan Tropis Vol 29, No 2 (2026): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v29i2.31975

Abstract

Hydroacoustic techniques provide a swift, non-intrusive approach to quantifying pelagic organisms; however, their application for zooplankton evaluations within Indonesian coastal waters remains underexplored. This investigation assesses the efficacy of a 200 kHz single-beam echosounder (SIMRAD EK15) for estimating zooplankton density and vertical distribution in the coastal marine environment surrounding Southeast Pari Island, Jakarta Bay. Acoustic information was amassed during a two-day survey conducted in June 2025 across 14 designated stations ranging from nearshore to offshore, augmented by vertical plankton-net collections and in situ measurements of temperature, salinity, density, and sound velocity. Volume backscattering strength (SV) was analyzed utilizing Echoview 4.0 and compared against laboratory-derived zooplankton density. Zooplankton density varied from 208.33 to 828.61 ind/L, with generally elevated figures observed at offshore stations, implying increased biological productivity. A total of 9,934 individuals representing 45 genera and 9 orders were identified, predominantly comprising copepods (including nauplii and Calanoida), yielding a Shannon-Wiener index of 2.40, a Simpson index of 0.80, and an evenness index of 0.63, indicative of a diverse and relatively equilibrated community. Acoustic findings illustrated distinct scattering layers and heightened SV values primarily within the upper 0-30 m of the water column, suggesting pronounced vertical structuring of zooplankton in relation to water column stratification. The correlation between mean SV and zooplankton density was found to be positive yet weak (log-transformed regression y = 6.3911log(x)-80.671, R²=0.1497), indicating that species composition, size structure, and sampling discrepancies influence the acoustic response. Collectively, the findings of this study elucidate that single-beam hydroacoustics serve as an effective tool for delineating zooplankton spatial-vertical patterns, while the integration with traditional net sampling methodologies significantly enhances the monitoring of coastal ecosystems.
Studi Kuantitatif Hubungan Nilai Hambur Balik Akustik dan Persentase Tutupan Karang Encrusting di Pulau Ajab Bintan Timur Susi Sulian Dia; Try Febrianto; Asep Ma'mun
Jurnal Kelautan Tropis Vol 29, No 2 (2026): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v29i2.31566

Abstract

Ekosistem terumbu karang Indonesia berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati laut dan melindungi kawasan pesisir. Karang encrusting memiliki fungsi vital sebagai perekat struktural dan indikator kesehatan ekosistem. Penurunan tutupan karang serta keterbatasan metode pemantauan konvensional mendorong perlunya penerapan teknologi non-invasif seperti hidroakustik di kawasan konservasi Pulau Ajab, Bintan Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik hambur balik akustik karang encrusting dan hubungan kuantitatif antara Surface Backscattering Strength (SS) dan persentase tutupan karang sebagai dasar pengembangan model pemantauan terumbu berbasis akustik. Penelitian menggunakan desain survei kuantitatif deskriptif dengan purposive sampling. Pengukuran dilakukan menggunakan single beam echosounder Simrad EK-15 (200 kHz) dan citra bawah air berukuran 50 × 50 cm untuk analisis tutupan dengan PhotoQuad. Hubungan nilai SS dan tutupan karang diuji menggunakan regresi linear sederhana dengan uji homogenitas dan ANOVA pada SPSS. Hasil menunjukkan nilai Volume Backscattering Strength (SV) berkisar −40,99 dB hingga −23,20 dB dan SS antara −40,82 dB hingga −17,23  dB, dengan persentase tutupan karang encrusting 52–85%. Hubungan positif signifikan ditemukan antara SS dan tutupan karang (p = 0,000) dengan persamaan y =0,2819x - 51,546 dan R² = 95%. Disimpulkan bahwa nilai hambur balik akustik dapat digunakan sebagai indikator kondisi karang encrusting. Metode hidroakustik Simrad EK-15 berpotensi menjadi alat pemantauan terumbu karang yang efisien, cepat, dan non-invasif.