cover
Contact Name
Y. Andi Trisyono
Contact Email
anditrisyono@ugm.ac.id
Phone
+62274-523926
Journal Mail Official
jpti.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
Jalan Flora No. 1, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia
ISSN : 14101637     EISSN : 25484788     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
Pengaruh Ketiadaan Inang terhadap Biologi Reproduksi dan Perilaku Parasitoid Apanteles taragamae Viereck (Hymenoptera: Braconidae) Fatimah Siddikah; Ihsan Nurkomar; Damayanti Buchori
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.33323

Abstract

Apanteles taragamae Viereck (Hymenoptera: Braconidae) is a gregarious larval endoparasitoid of cucumber moth Diaphania indica Saunders (Lepidoptera: Crambidae). The success of biological control using parasitoids depends on reproductive behavior of adult female parasitoids, especially those related to the host availability that can affect oviposition behavior. The objectives of this research is to study the effect of host deprivation against reproductive capacity and searching and handling time behavior of A. taragamae. The study was conducted by depriving adult females of A. taragamae of host for 1, 2, 3, 4 days after emergence (virgin females with no oviposition experience) and experienced females. The parameters observed were the number of eggs laid and parasitization on the first day after treatment, actual fecundity, ovary egg load, potential fecundity, longevity, searching and handling time of the first host after treatment,. The results showed that host deprivation affect  the number of eggs laid on the first day after treatment, ovary egg load , searching and handling time of host. Adult virgin females of A. taragamae without oviposition experience has more eggs laid on the first day after treatment, but has a slower searching and handling time for the first host after treatment than females with oviposition experience.IntisariApanteles taragamae Viereck (Hymenoptera: Braconidae) merupakan parasitoid larva utama dari Diaphania indica Saunders (Lepidoptera: Crambidae) yang bersifat gregarius. Keberhasilan pengendalian hayati menggunakan parasitoid sangat tergantung pada perilaku reproduksi imago betina parasitoid, terutama yang berhubungan dengan ketersediaan inang yang dapat memengaruhi perilaku peletakkan telur. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh ketiadaan inang terhadap perilaku dan kapasitas reproduksi parasitoid A. taragamae. Penelitian dilakukan dengan cara memberikan perlakuan berupa ketiadaan inang selama 1, 2, 3, dan 4 hari setelah kemunculan A. taragamae menjadi imago (ketiadaan inang di depan) dan setelah A. taragamae mendapatkan inang terlebih dahulu (ketiadaan inang di belakang). Parameter yang diamati adalah jumlah telur yang diletakkan pada hari pertama setelah perlakuan, total telur yang diletakkan, sisa telur dalam ovari, potensi produksi telur, lama hidup imago A. taragamae, serta waktu pencarian dan penanganan inang pertama setelah ketiadaan inang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ketiadaan inang memberikan pengaruh terhadap jumlah telur yang diletakkan pada hari pertama setelah perlakuan,  jumlah telur yang tersisa dalam ovari, serta waktu pencarian dan penanganan inang pertama setelah perlakuan. Imago A. taragamae pada perlakuan ketiadaan inang di depan meletakkan telur yang lebih banyak pada hari pertama setelah perlakuan, namun memerlukan waktu lebih lama dalam mencari dan menangani inang pertama dibandingkan imago A. taragamae pada perlakuan ketiadaan inang di belakang.
Optimalization of Temperature to Control Araecerus fasciculatus de Geer (Coleoptera: Anthribidae) on Nutmeg Dwi Rachmanto; Fransiscus Xaverius Wagiman; Siwi Indarti
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.26014

Abstract

The exported nutmeg of Indonesia is frequently affected by the coffee bean weevil, Araecerus fasciculatus de Geer (Coleoptera: Anthribidae), so that it should be fumigated prior to export. CH3Br is an effective fumigant as quarantine measure for export products for 24 h, but this fumigant has been prohibited. Therefore, air temperature treatment is one of the alternative strategies. This research was aimed to determine the optimum air temperature in controlling A. fasciculatus on nutmeg. Healthy nutmeg, infected and A. fasciculatus-containing nutmeg, as well as individual adults of A. fasciculatus were treated with air temperature of 30−70°C for 1−24 h. The optimum air temperature was the lowest temperature which could kill 100% of examined insects. The results showed that 100% mortality of A. fasciculatus adults outside nutmeg occurred at air temperature of 45°C for 12 h or 50°C for 6 h. Meanwhile, 100% mortality of life stadium of A. fasciculatus inside nutmeg happened at air temperature of 55°C for 24 h. The raising of air temperature at 30−50°C for 24 h decreased the water content of nutmeg from 5.59±0.25 to 3.79±0.24%. The increment of temperature from 50 to 55°C for 24 h reduced the weight of nutmeg from 5.20±0.72 to 5.04±0.70 g. Air temperature treatment at 45−50°C for 12−24 h could eliminate adults of A. fasciculatus on exported nutmeg and air temperature of 55°C for 24 h could remove all life stadia of A. fasciculatus within nutmeg. IntisariBiji pala ekspor Indonesia sering diserang oleh kumbang bubuk biji kopi, Araecerus fasciculatus de Geer (Coleoptera: Anthribidae), sehingga harus difumigasi sebelum diekspor. Tindakan karantina pada produk ekspor yang sering menggunakan CH3Br efektif selama 24 jam, namun fumigan ini sudah dilarang. Oleh karena itu, perlakuan suhu udara merupakan salah satu alternatifnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu udara optimal untuk mengendalikan A. fasciculatus pada biji pala. Biji pala yang sehat, biji pala yang terserang dan berisi serangga A. fasciculatus serta imago A. fasciculatus diperlakukan dengan suhu udara 30−70°C selama 1−24 jam. Suhu udara optimal yaitu suhu terendah yang dapat membunuh 100% serangga uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100% mortalitas imago A. fasciculatus di luar biji pala terjadi pada suhu udara 45°C selama 12 jam atau 50°C selama 6 jam. Sementara itu, mortalitas 100% stadia hidup A. fasciculatus di dalam biji pala terjadi pada suhu udara 55°C selama 24 jam. Kenaikan suhu udara 30−50°C selama 24 jam menurunkan kadar air biji pala dari 5,59±0,25 menjadi 3,79±0,24%. Peningkatan suhu dari 50 menjadi 55°C selama 24 jam menurunkan berat biji pala dari 5,20±0,72 menjadi 5,04±0,70 g. Perlakuan suhu udara 45−50°C selama 12−24 jam dapat mengeliminasi imago A. fasciculatus pada biji pala ekspor dan suhu udara 55°C selama 24 jam dapat mengeliminasi semua stadia hidup A. fasciculatus di dalam biji pala.
Biologi dan Statistik Demografi Coccinella transversalis Thunberg (Coleoptera: Coccinellidae), Predator Aphis gossypii Glover (Homoptera: Aphididae) Siska Efendi; Yaherwandi Yaherwandi; Novri Nelly
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.28409

Abstract

Biology and demographic statistics of lady beetle Coccinella  transversalis Thunberg (Coleoptera: Coccinellidae) using Aphis gossypii (Hemiptera: Aphididae) as prey was studied in laboratory. Development of  C. transversalis from egg to adult was 31.02±4.73 days. The egg stage lasted for 2.33±0.58 days. Larva stage has four instars, which lasted for 2.43±0.19 days (instar I); 2.53 days±0.19 (instar II); 2.64±0.04 days (instar III), and 2.77±0.21 days (instar IV). A female laid 90.44±14.38 eggs. Meanwhile, gross reproduction rate (GRR) of C. transversalis was 74.80 individuals per generation, the net reproduction rate (R0) was 18.22 individual per female per generation, the innate capacity for increase (rm) was 0.46 individual female per day, the mean generation time (T) 12.40 days, and the double population value (DT) was 1.51 days. IntisariMasa perkembangan pradewasa dan imago serta keperidian Coccinella  transversalis (Thunberg) (Coleoptera: Coccinellidae) telah diteliti di laboratorium dengan menggunakan Aphis gossypii (Glover) (Homoptera: Aphididae) sebagai mangsa. Masa perkembangan C. transversalis sejak stadium telur hingga menjadi imago adalah 31,02±4,73 hari. Perkembangan larva terdiri dari empat instar, masa perkembangan instar I sampai IV berturut-turut adalah 2,43±0,19 hari; 2,53±0,19 hari; 2,64±0,04 hari, dan 2,77±0,21 hari, dengan masa pupa 3,18±0,77 hari. Umur imago betina C. transversalis lebih panjang jika dibandingkan dengan imago jantan yakni 15,14±1,90 dan 13,63±1,00 hari. Imago betina meletakkan telur setelah melewati masa pra oviposisi selama 2,67±0,58 hari. Masa oviposisi C. transversalis yakni 8,97±0,89 hari dengan jumlah telur yang diletakkan yakni 90,44±14,38 butir. Parameter demografi C. transversalis adalah laju reproduksi kotor (GRR) adalah 74,80 individu per generasi; laju reproduksi bersih (Ro) 18,22 individu per induk per generasi; laju pertumbuhan intrinsik (rm) sebesar 0,46 individu per induk per hari; masa rata-rata generasi (T) selama 12,40 hari; dan nilai pelipatgandaan populasi (DT) adalah 1,51 hari. 
Tenuipalpus pasificus Mite on Orchid in Malang Raya Ulya Wildaniyah; Nugroho Susetya Putra; Suputa Suputa
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.26171

Abstract

Malang Raya is the center of orchid cultivation (Orchidaceae) in Indonesia. However, the presence of mites might lead to economic losses. This study aimed to determine the population density of mite Tenuipalpus pasificus and the intensity of attack on four genera of orchids (Dendrobium, Cattleya, Phalaenopsis, and Coelogyne). Snowball technique was used to collect mite samples on eight locations. During the observation, T. pasificus was found dominant in Coelogyne orchid (72 mites/plant). The highest population of T. pasificus was commonly found at 10 a.m on Phalaenopsis and Coelogyne, while on Dendrobium at 12 p.m, and on Cattleya at between 10 a.m. and 4 p.m. The intensity of attack of T. pasificus was not significantly differing among four orchids, which was varied from 20.02 to 30.10%, and was determined as low intensity.IntisariMalang Raya merupakan sentra budidaya tanaman anggrek (Orchidaceae) di Indonesia. Keberadaan tungau dapat menyebabkan kerugian secara ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan populasi tungau Tenuipalpus pasificus dan intensitas serangannya pada empat jenis anggrek yaitu Dendrobium, Cattleya, Phalaenopsis, dan Coelogyne. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan teknik snow ball, sehingga didapatkan delapan lokasi pengamatan. Berdasarkan hasil penelitian, T. pasificus paling banyak ditemukan pada tanaman anggrek jenis Coelogyne (72 ekor per tanaman). Kepadatan populasi T. pasificus tertinggi ditemukan pada pukul 10.00 WIB pada Phalaenopsis dan Coelogyne, sedangkan pada Dendrobium pada pukul 12.00 WIB, dan pada Cattleya pada pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. Intensitas serangan tungau T. pasificus pada keempat jenis anggrek tidak berbeda secara signifikan yaitu bernilai 20,02−30,10% dengan kategori intensitas serangan ringan.
Race and Virulence Determination of Fusarium oxysporum f. sp. cubense Isolates from Sidomulyo Village of Bantul, Yogyakarta Herika Novrelly Jayatri; Christanti Sumardiyono; Arif Wibowo
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.26283

Abstract

Banana is one of the important fruit crop in Village of Sidomulyo, Bantul, Yogyakarta. One of important diseases which become the constraint in development of banana is Fusarium wilt caused by Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc). This fungus has high race diversity and  virulence, so that it required early detection for prevention and control of disease. This experiment was aimed to figure out race and virulence of Foc isolates from Village of Sidomulyo, Bantul, Yogyakarta. The 13 tested isolates were isolates of PR11, PKJ20, RU20, PR30, AH40, PKJ40, A41, RB42, PR43, RU51, A60, RP60, and A80. Race was molecularly detected using two types of primers, i.e. General Foc primer FocEf3 and specific primer for race 4 (Foc-1/Foc-2). Virulence test was performed on banana seedlings of Ambon Kuning cultivar using Completely Randomized Design (CRD) with 14 treatments and 4 repetitons. The observed parameters were external and internal symptoms, calculation of disease severity index and disease intensity. Data were analyzed using variance and further test of Duncan Multiple Range Test (DMRT) at 5 % level. The results showed that all isolates were Foc and 9 of 13 isolates were grouped into race 4, i.e. A80, RP60, PR11, A41, AH40, PKJ40, PR30, RB42, and PR43. The highest and lowest virulences were consecutively expressed by PR30, RB42, RU51, RP60, PR43, PKJ40, PR11, A41, AH40, RU20, PKJ20, A60, and A80, with severity index on leaves and rhizomes ranging 1.61-2.91 and 2.25-7, respectively. IntisariPisang merupakan tanaman buah unggulan di Desa Sidomulyo Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Salah satu penyakit penting yang menjadi kendala dalam pengembangan pisang adalah layu fusarium yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc). Jamur ini memiliki keragaman ras dan virulensi yang tinggi, sehingga deteksi dini diperlukan untuk pencegahan dan pengendalian penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ras dan virulensi isolat Foc asal Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Isolat yang diuji sebanyak 13 isolat, yakni isolat PR11, PKJ20, RU20, PR30, AH40, PKJ40, A41, RB42, PR43, RU51, A60, RP60, dan A80. Pengujian ras secara molekuler dengan menggunakan dua jenis primer yakni primer Foc in general FocEf3 dan primer spesifik ras 4 Foc-1/Foc-2. Uji virulensi pada bibit kultivar ambon kuning dengan menggunakan Racangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 14 perlakuan dan 4 ulangan. Parameter yang diamati berupa pengamatan gejala luar dan gejala dalam, penghitungan indeks keparahan penyakit dan intensitas penyakit. Analisis data menggunakan sidik ragam dan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5 %. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua isolat merupakan isolat Foc dan dari 13 isolat yang digunakan terdapat 9 isolat yang merupakan ras 4 yakni isolat A80, RP60, PR11, A41, AH40, PKJ40, PR30, RB42, dan PR43. Isolat yang memiliki virulensi tertinggi sampai terendah berturut-turut adalah PR30, RB42, RU51, RP60, PR43, PKJ40, PR11, A41, AH40, RU20, PKJ20, A60, dan A80, dengan indeks keparahan pada daun berkisar 1,61−2,91 dan indeks keparahan pada bonggol 2,25−7.
Deteksi Molekuler Burkholderia glumae, Penyebab Penyakit Hawar Malai Padi Methy Handiyanti; Siti Subandiyah; Tri Joko
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.30259

Abstract

The presence of bacterial panicle blight disease caused by Burkholderia glumae have been reported to infect rice plants in Indonesia. There have been no reports of yield losses due to B. glumae infection, but this pathogen is seed-borne so that it can increase the spreading potential to other areas. This study aims to determine the spread of the disease area of bacterial panicle blight in Java and to detect B. glumae based on ITS region of 16-23S rDNA. Methods for this research include surveys and random sampling of rice seeds directly from farmers and the Food Crop and Horticulture Center, Agriculture Office of Yogyakarta. The bacteria were isolated using S-PG selective medium, then DNA extraction was performed and amplified using a pair of primers BGF 5’-ACACGGAACACCTGGGTA-3’ and BGR 5’-TCGCTCTCC CGAAGAGAT-3’. 101 isolates were obtained from 21 seed samples consisting of 11 rice varieties from nine regions in Java that has different morphological characteristics. The eight isolates were detected as B. glumae by using ITS primers, i.e., isolates ChgCM.4, IRP.3, IRP.6b, InSB.1a, InSB.2a, InSB.3a, InSB.5a, and InSB.6a. The eight isolates were isolated from seed samples of Cirebon, Purworejo and Banyuwangi. This study shows that bacterial panicle blight disease has found in several rice varieties and locations in Java, and the ITS primer can be used for early detection of B. glumae in rice seed samples. IntisariPenyakit hawar malai yang disebabkan oleh bakteri patogen Burkholderia glumae mulai banyak dilaporkan menginfeksi tanaman padi di Indonesia. Belum ada laporan mengenai kerugian akibat infeksi B. glumae di Indonesia, namun sifatnya yang tular benih dapat meningkatkan potensi menyebar ke wilayah lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui wilayah sebar penyakit hawar malai di Jawa dan mendeteksi secara molekuler berdasarkan urutan basa gen 16-23S rDNA internal transcribed spacer (ITS). Metode yang dilakukan meliputi survei dan pengambilan sampel biji padi secara acak langsung dari petani dan UPT Balai Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Yogyakarta. Sampel biji padi diisolasi menggunakan media selektif S-PG, kemudian dilakukan ekstraksi DNA, dan diamplifikasi menggunakan primer BGF 5’-ACACGGAACACCTGGGTA-3’ dan BGR 5’-TCGCTCTCC CGAAGAGAT-3’. Hasil survei di lapangan diperoleh 21 sampel biji yang terdiri dari 11 varietas padi dari sembilan wilayah di Jawa. Hasil isolasi diperoleh 101 isolat dan masing-masing isolat tersebut memiliki karakteristik morfologi yang berbeda. Delapan isolat dari total isolat yang diuji terdeteksi B. glumae menggunakan primer ITS, yaitu isolat ChgCM.4, IRP.3, IRP.6b, InSB.1a, InSB.2a, InSB.3a, InSB.5a, dan InSB.6a. Kedelapan isolat tersebut merupakan hasil isolasi sampel biji dari wilayah Cirebon, Purworejo, dan Banyuwangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit hawar malai bakteri sudah terdeteksi pada varietas padi di beberapa lokasi wilayah Jawa, dan penggunaan primer ITS dapat digunakan untuk deteksi dini B. glumae pada sampel biji padi secara molekuler.
The Effect of Chitosan Application against Plant Growth and Intensity of Stunting Disease on Black Pepper (Piper nigrum L.) Seedlings Emerensiana Uge; Sri Sulandari; Sedyo Hartono; Susamto Somowiyarjo
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.25453

Abstract

Black pepper (Piper nigrum L.) is  an important estate crops in Indonesia. Some pathogens that have been known to infect black pepper plants include fungi, nematodes and viruses. The stunting disease on black pepper plants was caused by Cucumber mosaic virus (CMV). Molecular detection using RT-PCR method showed that the samples were positively infected by CMV which were amplified by specific primers CMV 111 with bands of 111 bp in size. This virus can be carried by vegetative propagation material of plants. Many control strategies against this virus have been investigated, especially inducing plant resistance with chitosan. Chitosan is a natural biopolymer that play an important role in reducing disease incidence and severity and stimulate plant growth. The aim of this study was to figure out the inhibiting  ability of chitosan solution against infection of stunting virus on black pepper seedlings through spraying applications. Chitosan treatments were prepared in concentrations of 0.5%, 0.75%, and 1%. The result showed that application of chitosan at all concentrations affected the decrease of disease incidence and intensity and improved plant growth with insignificant different amongst all treatments but significantly different with control. The highest decrease in incidence was found at 0.75% of chitosan concentration (26.37), while the highest decrease of intensity was expressed at 1% of chitosan (37.62). Application of chitosan also significantly affected to all parameters of plant growth either plant height or leaf diameter. Application of 1% of chitosan increased the percentage of plant growth rather than other treatments, with the increase of plant height 58.12 % and leaf diameter 54.74 %. IntisariLada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan penting di Indonesia. Beberapa patogen telah diketahui menginfeksi tanaman lada di antaranya jamur, nematoda, dan virus. Penyakit kerdil pada tanaman lada disebabkan oleh Cucumber mosaic virus (CMV). Deteksi molekuler menggunakan metode RT-PCR menunjukkan bahwa sampel positif terinfeksi CMV yang diamplifikasi menggunakan primer spesifik CMV 111 dengan ukuran pita band target 111 bp. Virus ini dapat terbawa bahan perbanyakan tanaman secara vegetatif. Banyak strategi pengendalian virus yang telah diuji, diantaranya induksi ketahanan tanaman dengan kitosan. Kitosan adalah biopolimer alami yang berperan dalam menurunkan insidensi dan intensitas penyakit dan menstimulasi pertumbuhan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan penghambatan dari larutan kitosan terhadap infeksi dari virus kerdil pada bibit lada dengan aplikasi penyemprotan. Konsentrasi kitosan yang digunakan adalah 0,5%; 0,75%; dan 1%. Hasil penelitian menunjukan bahwa apliksi kitosan pada semua konsentrasi berpengaruh dalam menurunkan insidensi dan intensitas penyakit dan meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan tidak berbeda nyata di antara perlakuan tetapi berbeda nyata dengan kontrol. Penurunan nilai insidensi tertinggi yakni pada aplikasi kitosan 0,75% (26,37), sedangkan penurunan nilai intensitas tertinggi yakni pada aplikasi kitosan 1% (37,62). Aplikasi kitosan juga berpengaruh signifikan terhadap semua parameter pertumbuhan tanaman baik tinggi tanaman maupun diameter daun. Pada aplikasi kitosan 1% meningkatkan persentase tinggi tanaman lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya,yakni tinggi tanaman sebesar 58,12 % dan diameter daun sebesar 54,74 %.
Viabilitas dan Virulensi Fusarium oxysporum f. sp. cubense yang Dipreservasi dengan Liofilisasi Iqna Khayatina Rusli; Arif Wibowo; Christanti Sumardiyono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.25715

Abstract

Wilt disease caused by Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) is still pose as  constraint  to banana production  all over the world. The objective of this research was to examine the viability and virulence of Foc isolates which had been preserved with lyophilization for 18 years. The experiment used 19 isolates of Foc, which were Pekulo, Sukorejo, Kali Sepanjang, Kalibaru, Purwojoyo, Prembun, Mulyosari, Sidogede, Sidatan, Kemiri, Juwangen, A-17, A-11, PS-5, B4-3-1, Fo2.16.16., PS-10, A-2, and Irja. The results showed that 12 isolates could grow well on PDA medium, namely Pekulo, Sukorejo, Kali Sepanjang, Kalibaru, Purwojoyo, Prembun, Mulyosari, Sidatan, Juwangen, PS-5, B4-3-1, and Fo2.16.16. Meanwhile, seven isolates (Sidogede, Kemiri, A-17, A-11, PS-10, A-2, and Irja) could not grow or develop on PDA medium. The result of pathogenicity test showed that six tested Foc isolates had  very high virulences, with disease severity index of about 2.14–2.71. Other three isolates revealed high virulences with disease severity index around 2.01–2.07. Meanwhile, another three less virulent isolates demonstrated disease severity index in the range of 1.39–1.67. Intisari Penyakit layu yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum f. sp.cubense (Foc) masih menjadi kendala dalam produksi pisang di seluruh dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji viabilitas dan virulensi isolat Foc yang telah dipreservasi dengan liofilisasi selama 18 tahun. Penelitian menggunakan 19 isolat Foc yaitu Pekulo, Sukorejo, Kali Sepanjang, Kalibaru, Purwojoyo, Prembun, Mulyosari, Sidogede, Sidatan, Kemiri, Juwangen, A-17, A-11, PS-5, B4-3-1, Fo2.16.16., PS-10, A-2, dan Irja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 isolat Foc mampu tumbuh dengan baik pada medium PDA yaitu Pekulo, Sukorejo, Kali Sepanjang, Kalibaru, Purwojoyo, Prembun, Mulyosari, Sidatan, Juwangen, PS-5, B4-3-1, dan Fo2.16.16. 7 isolat tidak mampu tumbuh pada medium PDA yaitu Sidogede, Kemiri, A-17, A-11, PS-10, A-2, dan Irja. Enam isolat Foc yang diuji memiliki virulensi sangat tinggi dengan indeks keparahan penyakit berkisar antara 2,14–2,71. Tiga isolat yang lain memiliki virulensi tinggi dengan indeks keparahan penyakit berkisar antara 2,01–2,07. Sedangkan 3 isolat lainnya memiliki virulensi yang lebih rendah dengan indeks keparahan penyakit berkisar antara 1,39–1,67. 
Determination of Tolerance Threshold Level of Golden Snail (Pomacea canaliculata) in Irrigated Rice Fatmawati Kalau; Franciscus Xaverius Wagiman; Witjaksono Witjaksono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.24820

Abstract

Determination of tolerance threshold of golden snail (Pomacea canaliculata) infestation in irrigated rice had been studied at Sumbersari Village, Moyudan District, Sleman Regency, Yogyakarta Special Teritory, in the growing season of June to October 2016. The water depth during the experiment was maintained at  1 cm. The snails of 2−3 cm in length were infested on rice plots at various ages. The snails were infested on rice plots with density rates of (1) 0, 1, 2, 3, 5, 15, 30, (2) 0, 2, 3, 5, 10, 15, 30, and (3) 0, 3, 5, 10, 15, 20, 30  individuals/m2  at (1) 0 day after planting (DAP), (2) 7 and 14 DAP, and (3) 28 DAP, respectively. These treatments were replicated three times and arranged in the randomized complete block design (RCBD). In this study the tolerance threshold is defined as the highest snail density which causes no significant effect on rice damage and yield loss as compared to control or to the lowest snail density. Therefore, determination of the tolerance threshold was based on the significant difference of damage severity, panicle number per hill, and harvesting dry-weight of rice grain. Results showed that significant rice damage occurred on age of 0, 7, and 14 DAP olds, while on age of 21 and 28 DAP the rice showed no damage. More severe damage occurred to the younger rice. The tolerance threshold values of the snail on rice plots with 1 cm water depth at 0 DAP old was approximately 2 individuals/m2 while at age of 7 and 14 DAP were approximately 3 individuals/m2, respectively. IntisariPenentuan ambang toleransi serangan keong emas (Pomacea canaliculata) pada padi sawah telah dikaji di Desa Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dalam musim tanam Juni–Oktober 2016. Kedalaman air selama percobaan berlangsung dikondisikan sedalam 1 cm. Keong berukuran 2−3 cm diinfestasikan pada berbagai umur padi. Keong dengan kepadatan (1) 0, 1, 2, 3, 5, 15, 30; (2) 0, 2, 3, 5, 10, 15, 30; dan (3) 0, 3, 5, 10, 15, 20, 30 ekor/m2 diinfestasikan berturut-turut pada plot padi (1) saat tanam (0 hari setelah tanaman (HST)), (2) umur 7 dan 14 HST, dan (3) serta umur 21, dan 28 HST. Perlakuan diulang tiga kali dan diatur dalam rancangan randomized complete block design (RCBD). Dalam penelitian ini ambang toleransi didefinisikan sebagai kepadatan keong tertinggi yang menyebabkan kerusakan tanaman padi dan kehilangan hasil tidak berbeda signifikan dengan kontrol atau dengan kepadatan populasi terendah. Oleh karena itu nilai ambang toleranasi ditentukan berdasarkan signifikansi perbedaan kerusakan tanaman, jumlah bulir per rumpun, dan berat kering panen gabah. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerusakan signifikan terjadi pada padi umur 0, 7, dan 14 hari setelah tanam (HST), sedangkan pada umur 21 dan 28 HST padi tidak menunjukkan kerusakan. Kerusakan semakin parah pada padi semakin muda. Pada kondisi kedalaman air 1 cm, nilai ambang toleransi keong mas pada padi umur 0 HST sekitar 2 ekor/m2 sedangkan pada umur 7 dan 14 HST sekitar 3 ekor/m2.
Keragaan Sumber Kitin untuk Mempertahankan Virulensi Beauveria bassiana (Bals.), Jamur Pengendali Wereng Batang Cokelat (Nilaparvata lugens Stal.) Nova Laili Wisuda; Subur Sedjati
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.28158

Abstract

Beauvaria bassiana is an entomopathogenic insect that effectively controls brown planthopper (BPH), but will decrease it virulences if nutrients containing chitin and protein is not added. The aim of this research is to find the best method of B. bassiana propagation with the addition of shrimp and cricket flour, both are chitin sources. Isolates were cultured with Potato Dextrose Agar (PDA) medium and continued with rice medium. This research method used non-factorial Completely Randomized Design (CRD) with three treatments consisting of control, addition of shrimp flour and addition of cricket flour per treatment each with six replications. The research parameters consist of percentage of mortality, percentage of  conidia rising time, and LT50 test. The chitin sources could increases the growth rate from 0.69 cm per day to 1.449 cm per day and increases the spore density by 4.8×106 CFU (Colony Forming Unit) up to 8.2×106 CFU. Chitin also affects the virulence of B. bassiana in BPH where it can increase the percentage of death starting from 3%until10% and made lethal-time of BPH faster from 0.25 to 0.45 day. There is no significant difference between the sources of chitin between shrimp and cricket flour, so it is more advisable to use cricket flour because it is less expensive. IntisariBeauvaria bassiana merupakan serangga entomopatogen yang efektif mengendalikan wereng batang cokelat (WBC), namun akan mengalami penurunan virulensi bila tidak diberikan nutrisi yang mengandung khitin dan protein. Penelitian ini bertujuan menemukan metode terbaik perbanyakan B. bassiana yang dilakukan dengan penambahan tepung ebi dan penambahan tepung jangkrik yang merupakan sumber kitin. Isolat dibiakkan dengan medium per- banyakan Potato Dextrose Agar (PDA) dan diteruskan hingga perbanyakan beras. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non-faktorial dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan yang terdiri atas kontrol, tanpa tambahan kitin, penambahan tepung ebi dan penambahan tepung jangkrik. Parameter penelitian terdiri persentase mortalitas, persentase waktu munculnya konidia dan uji LT50. Pemberian sumber kitin meningkatkan kecepatan pertumbuhan hingga 0,69−1,49 cm per hari dan meningkatkan kerapatan spora berkisar 4,8×106−8,2×106 CFU (colony forming unit). Kitin juga berpengaruh terhadap virulensi B. bassiana pada WBC dimana mampu meningkatkan persentase kematian 3−10% dan waktu paruh kematian WBC 0,25−0,45 hari lebih cepat. Tidak ada perbedaan yang berarti antara sumber khitin dari tepung jangkrik dan tepung ebi sehingga lebih disarankan untuk menggunakan tepung jangkrik karena lebih murah dan mudah didapat.