p-Index From 2021 - 2026
5.208
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Keanekaragaman Serangga Pengunjung Bunga Tanaman Kelapa Sawit Di Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya efendi, siska chiko; Prabowo, Stevanie; Yaherwandi, Yaherwandi
Jurnal Bioconcetta Vol 6, No 1 (2020): Sinta 4
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/bc.2020.v6i2.3931

Abstract

Serangga pengunjung bunga memiliki peran yang sangat penting, karena beberapa spesies serangga pengunjung bunga berperan sebagai agen penyerbuk pada tanaman kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman serangga pengunjung bunga pada tanaman kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan di Nagari Sungai Dareh, Gunung Selasih, IV Koto, Kec. Pulau Punjung, Kab. Dharmasraya dari bulan Oktober sampai Desember 2017. Pengambilan sampel menggunakan hand collecting, insect net, dan yellow pan trap. Data keanekaragaman spesies dianalisis menggunakan indeks Shannon Wiener, kemerataan spesies menggunakan indeks Simpson serta dominasi spesies menggunakan indeks nilai penting. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 25.900 individu, 10 ordo dan 30 famili. Indeks keanekaragaman pada bunga jantan adalah 0,52 dan indeks keanekaragaman pada bunga betina adalah 0,96. Indeks kemerataan pada bunga jantan yakni 0,27 dan kemerataan bunga betina yakni 0,32. Indeks keanekaragaman dan kemerataan Nagari Gunung Selasih yaitu 1,35 dan kemerataan 0,59. Dinagari IV Koto indeks keanekaragaman yakni 1,50 dan indeks kemerataan yakni 0,67 sedangkan Nagari Sungai Dareh indeks keanekaragaman yakni 1,37 dan kemarataan 0,42. Ordo Coleoptera family Curculionidae memiliki indeks nilai penting tertinggi yaitu 1,00.
APLIKASI PENGELOLAAN HAMA TERPADU KUMBANG TANDUK (ORYCTES RHINOCEROS L.) DI NAGARI GIRI MAJU KABUPATEN PASAMAN BARAT Efendi, Siska
Jurnal Hilirisasi IPTEKS Vol 4 No 3 (2021)
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The oil palm cultivated in the replanting area does not grow optimally because it was mostly attacked by rhinoceros beetle (Oryctes rhinoceros L.). The percentage of hornet beetle attacks is relatively high, at 80% in plants aged three years and 100% at 1-1.5 years. It was known that the residual waste replanting is the cause of the high population of horn beetles because the decayed palm oil stems become a suitable habitat for the development of these pests. To overcome the problems faced by partners, Integrated Pest Management (IPM) was applied. IPM components to be applied are cultural control, mechanical, and semiochemical control with pheromones. Community service was carried out using counseling methods, training, demonstration plots, providing equipment and machinery, as well as monitoring and evaluation. IPM technology assemblies that have been applied can reduce the attack rate of rhinoceros beetle from 86.68% to 79.60%. Until now, IPM equipment is still installed and operated by partner farmer groups. At the end of the activity, the partner farmer groups can apply IPM independently in their respective fields. Sustainable IPM applications, covering large-scale land, involving all palm oil business actors will increase the success of the method in the future.
KELIMPAHAN POPULASI Helopeltis sp. DAN TINGKAT KERUSAKAN BUAH KAKAO DI KECAMATAN SITIUNG KABUPATEN DHARMASRAYA Siska Chiko Efendi; Vindy Fetricia Amanda; Yaherwandi Yaherwandi
Agrika Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.425 KB) | DOI: 10.31328/ja.v14i1.1275

Abstract

ABSTRAKDharmasraya merupakan kabupaten yang berpotensi untuk pengembangan kakao, terbukti dengan meningkatnya luas areal perkebunan setiap tahun. Pengembangan kakao di Dharmasraya dihadapkan pada beberapa kendala yang mengakibatkan produksi kakao rendah, salah satunya adalah serangan kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) Tujuan penelitian ini adalah mempelajari kelimpahan populasi dan tingkat kerusakan kepik penghisap buah kakao. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Sitiung Kabupaten Dharmasraya yang terdiri dari tiga nagari yaitu Siguntur, Sitiung dan Gunung Medan. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2018 sampai dengan Januari 2019. Penelitian ini berbentuk survei menggunakan metode Purposive Random Sampling. Penentuan tanaman sampel dilakukan secara sistematis, sehingga terdapat 30 batang tanaman sampel pada satu lahan. Serangga contoh dikoleksi dengan cara hand collecting dan teknik chemical knock down. Kelimpahan kepik penghisap buah kakao yang diperoleh pada penelitian tergolong rendah yaitu 79 individu dengan rata-rata 0,23-0,36 individu/batang. Persentase kerusakan tergolong tinggi terdapat di Nagari Siguntur yakni 81,43% dan terendah di Nagari Gunung Medan yakni 70,36%. Intensitas kerusakan yang tertinggi terdapat di Nagari Siguntur yakni 73,12% dan terendah di Nagari Gunung Medan yakni 68,15%.ABSTRACTDharmasraya is a district that has the potential for cacao development, proven by increasing the cacao plantation area every year. Cacao development in Dharmasraya was faced with several obstacleswhich resulted in low cacao production. One of the obstacles  in the cultivation process is (Helopeltis sp.) Therefore,the purpose of this research was to study the population abundance and the damage levels of to cacao fruit sucking bugs. Research was carried out in SitiungSubdistrict, Dharmasraya which consisted of three nagari namely Siguntur, Sitiung and Gunung Medan. The research began in November 2018 to January 2019. This research was a survey using the Purposive Random Sampling  method. The sample plants were determine   systematically, so there were 30 plant samples in each nagari. Insect samples were collected by hand collecting and chemical knock down techniques. The abundance of cacao fruit sucking bugs was 79 individuals, with averages were 0.23 – 0.36 individual / plant. The percentage of damage was high, where the highest was obtained in Siguntur 81.43% and the lowest was in Gunung Medan 70.36%.  In addition, the highest damage intensity was found in Sigunturthat was 73.12% and the lowest in Gunung Medan that was 68.15%. 
DIVERSITAS COCCINELLIDAE PREDATOR PADA EKOSISTEM PERTANAMAN CABAI DI TIGA KECAMATAN KABUPATEN KUANTAN SINGINGI Meli Aprila; Rover Rover; M.Siska Efendi
JURNAL AGRONOMI TANAMAN TROPIKA (JUATIKA) Vol 1 No 1 (2019): AGRONOMI TERAPAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS ISLAM KUANTAN SINGINGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.965 KB) | DOI: 10.36378/juatika.v1i1.35

Abstract

ABSTRAKDiversitas Coccinellidae Predator Pada Ekosistem Pertanaman Cabai di Tiga Kecamatan Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian tenatang keanekaragaan dan kelimpahan Coccinellidae Predator di pertanaman cabai telah dilakukan di Kecamatan Benai, Kecaatan Kuantan Tengah dan Kecamatan Gunung Toar selama tiga bulan Desember-Februari. Penelitian bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman, kemerataan dan kekayaan Coccinellidae Predator. Pengambilan sampel spesies Coccinellidae Predator dilakukan dengan menggunakan jaring ayun dan koleksi secara langsung pada tajuk tanaman. Keanekaragaman Coccinellidae Predator dihitung menggunakan Shannon-Wienner. Total jumlah Coccinellidae predator yang telah dikumpulkan dalam penelitian ini adalah 146 individu yang terdiri dari 11 spesies, spesies predator yang ditemukan di pertanaman cabai adalah Chilocorus melanophthalmus, Coccinella repanda, Coelophora 9 maculata, Coelophora inaequalis, Illeis cincta, Menochilus sexmaculatus, Ropaloneda decussata, Verania discolor, Verania lineata, Spesies 1 yang mempunyai potensi yang baik untuk mengendalikan kutu daun di pertanaman cabai. KATA KUNCI: Coccinellidae Predator, keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan.
INVENTARISASI HAMA KELAPA SAWIT ( Elaeis guineensis Jacq.) PADA DAERAH ENDEMIK SERANGAN DI KABUPATEN DHARMASRAYA Siska Efendi; Febriani Febriani; Yusniwati Yusniwati
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 19, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/af.v19i1.4476

Abstract

Suatu daerah dikatakan endemik apabila terdapat laporan serangan OPT tertentu dalam skala besar. Daerah endemik serangan hama kelapa sawit dapat menjadi pedoman dalam mempelajari tingkat serangan hama di daerah tertentu. Ketinggian serangan hama pada daerah tertentu dapat menjadi acuan dalam menentukan teknik pengendalian yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama yang menyerang tanaman kelapa sawit di daerah endemik Kabupaten Dharmasraya. Metode yang digunakan adalah purposive random sampling. Sedangkan untuk pengambilan sampel dilakukan dengan koleksi langsung menggunakan tangan. Hasil penelitian ini didapatkan sebanyak 353 individu serangga dari 4 ordo, 9 famili dan 14 spesies. Jumlah individu tertinggi berasal dari Coptotermes sp sedangkan yang terendah spesies Setora nitens. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa keanekaragaman serangga endemik kelapa sawit menyerang sangat tinggi dengan total spesies yang ditemukan sebanyak 14 spesies.
Keanekaragaman Semut Musuh Alami (Hymenoptera: Formicidae) pada Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat di Kecamatan Timpeh Kabupaten Dharmasraya Ridho Romarta; Yaherwandi Yaherwandi; Siska Efendi
Agrikultura Vol 31, No 1 (2020): April, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.188 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i1.25622

Abstract

Ekosistem perkebunan kelapa sawit terdiri dari berbagai jenis paku-pakuan, gulma, rerumputan dan serangga yang membentuk suatu ekosistem yang kompleks. Serangga dari golongan Formicidae merupakan aspek yang menarik untuk dikaji salah satunya yaitu semut. Pada ekosistem kelapa sawit, semut memiliki berbagai peran diantaranya sebagai penyerbuk, predator, pengurai dan herbivora. Penelitian ini dilaksanakan di perkebunan kelapa sawit rakyat di Nagari Panyubarangan dan Tabek, Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat pada bulan September 2018 sampai Februari 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman semut pada ekosistem perkebunan kelapa sawit rakyat. Percobaan dilakukan dengan metode survei menggunakan metode Purposive Random Sampling. Pengambilan sampel menggunakan metode Hand Collecting, Bait Trap, dan Pitfall Trap. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Taksonomi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas, Padang. Analisis keanekaragaman menggunakan indeks Shannon-Wienner dan indeks kemerataan Simpson. Indeks keanekaragaman berkisar antara 1,83 sampai dengan 2,08. Total semut yang dikoleksi sebanyak 8.763 individu yang terdiri dari 14 genus, dan 29 spesies. Spesies yang paling dominan adalah Anoplolepis gracilipes diikuti Crematogaster borneensis dan Monomorium floricola dengan Indeks Nilai Penting yakni 0,57. Masing-masing spesies semut tersebut berperan sebagai predator beberapa hama kelapa sawit.
PEBEDAAN BOBOT DAN KADAR AIR BENIH KOPI TERHADAP KONSENTRASI HORMON GIBERELLIN (GA3) DAN JENIS AIR Dede Suhendra; Siska Efendi
JURNAL AGROPLASMA Vol 8, No 2 (2021): AGROPLASMA VOL 8 NO 2
Publisher : UNIVERSITAS LABUHANBATU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/agroplasma.v8i2.2220

Abstract

West Sumatra is one producing coffee area in Indonesia a significant contribution to economy in Indonesian, because production coffee in West Sumatra unstable, it is necessary to expand the area. The propagation plants coffee is carried out in generative manner and needs be optimized with treating gibberellin hormone and water temperature to germination stage of coffee seeds.This research was conducted at the Seed Technology Laboratory of the Faculty of Agriculture, Andalas University from May to August 2021. The parameters observed were initial seed weight (g), seed weight after treatment (g), initial seed moisture content (%), seed moisture content after treatment (%). The results showed that the observation of initial seed weight and initial seed moisture content showed no significant effect. While the data had a significant effect on the observation of seed weight after treatment with the concentration of gibberellin hormone and seed moisture content after treatment in the treatment of water types, where the observation of seed weight after the highest treatment was in the treatment of gibberellin hormone concentration of 400 ppm with aquadest (G4J1) of 4.23 g and on the observation of the water content of the seeds after the highest treatment, namely the treatment with the concentration of the hormone gibberellin 300 ppm with aquadest (G3J1), which is 46.32%. Key words: Seed Weight, Moisture Content, Aquadest 
BIOLOGI DAN STATISTIK DEMOGRAFI Menochilus sexmaculatus Fabricius (Coleoptera: Coccinellidae) PREDATOR Aphis gossypii Glover (Homoptera: Aphididae) Siska Efendi
Jurnal Floratek Vol 12, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.682 KB)

Abstract

Biologi dan Statistik Demografi Menochilus sexmaculatus Fabricius (Coleoptera: Coccinellidae) Predator Aphis gossypii Glover (Homoptera: Aphididae). Masa perkembangan pradewasa dan imago serta keperidian Menochilus sexmaculatus (Fabricius) (Coleoptera: Coccinellidae) telah diteliti di laboratorium dengan menggunakan Aphis gossypii (Glover) (Homoptera: Aphididae) sebagai mangsa. Masa perkembangan M. sexmaculatus sejak stadium telur hingga menjadi imago adalah 29,43 ± 4,71 hari. Perkembangan larva terdiri dari empat instar, masa perkembangan instar I sampai IV berturut-turut adalah 1,72 ± 0,21 hari, 1,74 ± 0,31 hari, 2,30 ± 0,46 hari dan 2,46 ± 0,40 hari. Betina M. sexmaculatus yang keluar dari pupa mampu meletakkan telur sebanyak 123,44 ± 15,03 butir, selama 13,50 ± 2,12 hari. Parameter demografi M. sexmaculatus menunjukkan bahwa laju reproduksi kotor (GRR) adalah 130,50 individu per generasi; laju reproduksi bersih (Ro) 40,15 individu per induk per generasi; laju pertumbuhan intrinsik (rm) sebesar 0,44 individu per induk per hari; masa generasi rata-rata (T) selama 16,87 hari; populasi berlipat ganda (DT) selama 1,57 hari.Keywords: Predator, Coccinellidae, Aphididae sp, Cabai
Desain Peningkatan Kapasitas Petani Melalui Aplikasi Teknologi Hatch and Carry Serangga Polinator Elaeidobius Kamerunicus Faust pada Perkebunan Kelapa Sawit Siska Efendi; Dewi Rezki
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) Vol 6, No 1 (2020): Maret
Publisher : Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.571 KB) | DOI: 10.22146/jpkm.41643

Abstract

Pulau Punjung adalah kecamatan yang diprioritaskan untuk pengembangan komoditas kelapa sawit di Kabupaten Dharmasraya. Produksi kelapa sawit rakyat yang rendah disebabkan oleh proses penyerbukan yang tidak optimal sehingga terbentuk buah partenokarpi dengan fruit set rendah. Selama ini, penyerbukan pada tanaman kelapa sawit dibantu oleh serangga polinator Elaeidobius kamerunicus Faust. Akan tetapi, pada perkebunan kelapa sawit rakyat, populasi serangga tersebut rendah. Solusi untuk permasalahan tersebut adalah aplikasi teknologi hatch & carry serangga polinator E. kamerunicus. Teknologi tersebut diperkenalkan kepada mitra, yakni petani kelapa sawit rakyat yang tergabung dalam kelompok tani budi daya. Metode pendekatan yang digunakan adalah penyuluhan, pelatihan, demplot, bantuan alat berupa paket teknologi hatch & carry, serta pendampingan. Teknologi hatch & carry dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi kelompok tani mitra. Hal itu ditandai dengan meningkatnya produksi TBS setelah metode tersebut diaplikasikan selama empat bulan. Keberhasilan aplikasi teknologi tersebut berkat meningkatnya pengetahuan dan keterampilan petani mitra setelah mengikuti rangkaian kegiatan pengabdian. Pada akhir kegiatan, kelompok tani mitra diberi perangkat teknologi hatch & carry yang terpasang di lahan dan bisa dioperasikan secara mandiri.
Biologi dan Statistik Demografi Coccinella transversalis Thunberg (Coleoptera: Coccinellidae), Predator Aphis gossypii Glover (Homoptera: Aphididae) Siska Efendi; Yaherwandi Yaherwandi; Novri Nelly
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.28409

Abstract

Biology and demographic statistics of lady beetle Coccinella  transversalis Thunberg (Coleoptera: Coccinellidae) using Aphis gossypii (Hemiptera: Aphididae) as prey was studied in laboratory. Development of  C. transversalis from egg to adult was 31.02±4.73 days. The egg stage lasted for 2.33±0.58 days. Larva stage has four instars, which lasted for 2.43±0.19 days (instar I); 2.53 days±0.19 (instar II); 2.64±0.04 days (instar III), and 2.77±0.21 days (instar IV). A female laid 90.44±14.38 eggs. Meanwhile, gross reproduction rate (GRR) of C. transversalis was 74.80 individuals per generation, the net reproduction rate (R0) was 18.22 individual per female per generation, the innate capacity for increase (rm) was 0.46 individual female per day, the mean generation time (T) 12.40 days, and the double population value (DT) was 1.51 days. IntisariMasa perkembangan pradewasa dan imago serta keperidian Coccinella  transversalis (Thunberg) (Coleoptera: Coccinellidae) telah diteliti di laboratorium dengan menggunakan Aphis gossypii (Glover) (Homoptera: Aphididae) sebagai mangsa. Masa perkembangan C. transversalis sejak stadium telur hingga menjadi imago adalah 31,02±4,73 hari. Perkembangan larva terdiri dari empat instar, masa perkembangan instar I sampai IV berturut-turut adalah 2,43±0,19 hari; 2,53±0,19 hari; 2,64±0,04 hari, dan 2,77±0,21 hari, dengan masa pupa 3,18±0,77 hari. Umur imago betina C. transversalis lebih panjang jika dibandingkan dengan imago jantan yakni 15,14±1,90 dan 13,63±1,00 hari. Imago betina meletakkan telur setelah melewati masa pra oviposisi selama 2,67±0,58 hari. Masa oviposisi C. transversalis yakni 8,97±0,89 hari dengan jumlah telur yang diletakkan yakni 90,44±14,38 butir. Parameter demografi C. transversalis adalah laju reproduksi kotor (GRR) adalah 74,80 individu per generasi; laju reproduksi bersih (Ro) 18,22 individu per induk per generasi; laju pertumbuhan intrinsik (rm) sebesar 0,46 individu per induk per hari; masa rata-rata generasi (T) selama 12,40 hari; dan nilai pelipatgandaan populasi (DT) adalah 1,51 hari.