cover
Contact Name
Y. Andi Trisyono
Contact Email
anditrisyono@ugm.ac.id
Phone
+62274-523926
Journal Mail Official
jpti.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
Jalan Flora No. 1, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia
ISSN : 14101637     EISSN : 25484788     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
Potato Cyst Nematode in East Java: Newly Infected Areas and Identification Happy Cahya Nugrahana; Siwi Indarti; Edhi Martono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 21, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.25498

Abstract

Potato Cyst Nematodes (PCN), Globodera rostochiensis has noted to be a devastated pest on potato in Indonesia. It is listed as the A2 pest by Plant Quarantine of Republik Indonesia, and it was also being a highly concerned plant parasitic nematode species worlwide. Therefore, both intensive and extensive surveys should be done to monitor the spread of PCN, especially in East Java as one of the centre of potato plantations in Indonesia. The aim of this study was to study the distribution of PCN in four potato plantations in East Java, i.e. Batu, Magetan, Probolinggo, and Pasuruan which were located between 1,205 to 2,063 m above the sea level. Extraction and isolation of cysts from soil samples was done using Baunacke method, and it was followed by identification of the nematodes using morphological and molecular approaches according to Baldwin and Mundo-Ocampo. The results showed that PCN was found on all sampling sites, i.e. Batu (Sumber Brantas, Jurang Kuali, Tunggangan, Junggo, Brakseng); Magetan (Dadi, Sarangan, Singolangu); Probolinggo (Tukul, Pandansari, Ledokombo, Sumberanom, Wonokerto, Ngadas), Pasuruan (Wonokerto, Tosari, Ledoksari, Ngadiwono). Magetan and Pasuruan were noted as new infested areas in East Java. Both morphological and molecular methods showed that the species found on all sites was Globodera rostochiensis. IntisariNematoda Sista Kentang (NSK), Globodera rostochiensis telah tercatat sebagai hama yang menghancurkan tanaman kentang di Indonesia. NSK terdaftar sebagai Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina golongan A2 oleh Badan Karantina Pertanian Republik Indonesia, dan juga merupakan spesies nematoda parasit tanaman yang sangat merugikan di seluruh dunia. Oleh karena itu, baik survei intensif maupun ekstensif harus dilakukan untuk memantau penyebaran NSK, terutama di Jawa Timur sebagai salah satu sentra tanaman kentang di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari distribusi NSK pada empat daerah sentra penanaman kentang di Jawa Timur, yaitu Batu, Magetan, Probolinggo, dan Pasuruan yang terletak antara 1.205 sampai 2.063 m di atas permukaan laut. Ekstraksi dan isolasi sista NSK dari sampel tanah dilakukan dengan metode Baunacke, dan dilanjutkan dengan identifikasi secara morfologi dan molekuler menurut Baldwin dan Mundo-Ocampo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NSK ditemukan di semua lokasi pengambilan sampel, yaitu Batu (Sumber Brantas, Jurang Kuali, Tunggangan, Junggo, Brakseng); Magetan (Dadi, Sarangan, Singolangu); Probolinggo (Tukul, Pandansari, Ledokombo, Sumberanom, Wonokerto, Ngadas), Pasuruan (Wonokerto, Tosari, Ledoksari, Ngadiwono). Magetan dan Pasuruan tercatat sebagai daerah sebaran baru di Jawa Timur. Hasil identifikasi secara morfologi dan molekuler menunjukkan bahwa spesies yang ditemukan di semua lokasi adalah Globodera rostochiensis.
Laporan Pertama di Sulawesi Selatan: Karakter Morfologi dan Molekuler Nematoda Puru Akar yang Berasosiasi dengan Akar Padi di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan Hishar Mirsam; Fitrianingrum Kurniawati
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.33108

Abstract

Root Knot Nematode (RKN) is one of the most important cosmopolite parasitic nematode species. Reports on RKN associated with rice root in Indonesia are still limited in West Java and Yogyakarta. This study aimed to identify the RKN associated with rice root in Sub-district of Bola, District of Wajo, South Sulawesi, based on morphological and molecular characters. Sampling was carried out by purposive method based on specific criteria of sample, i.e. root knot. Identification of root knot nematode (RKN) infestation in field was done by observing the primary and secondary symptoms. Morphological identification was carried out based on characters of juvenile 2 and the female perineal pattern. Molecular identification was based on amplification of r-DNA by polymerase chain reaction technique using primers rDNA2 and rDNA 1.58s. RKN were detected associated with the incidence of root knot in rice plant. RKN was identified as Meloidogyne graminicola based on morphological characters of juvenile 2 and the female perineal pattern. PCR using primer rDNA 2 / rDNA 1.58s successfully amplified a DNA band of RKN of ± 500 bp. Nucleotide sequence analysis showed that RKN isolated from Wajo was closely related to M. graminicola isolated from Nepal, China, India, Madagascar, and USA with homology of 98.1–100.00%. IntisariNematoda puru akar (NPA) merupakan salah satu jenis nematoda parasit penting yang bersifat kosmopolit. Laporan NPA yang berasosiasi dengan akar tanaman padi di Indonesia masih terbatas di Jawa Barat dan Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi NPA yang berasosiasi dengan akar tanaman padi di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan berdasarkan karakter morfologi dan molekuler. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif dengan memilih sampel berdasarkan pada kriteria gejala spesifik penyakit puru akar. Identifikasi serangan dilakukan dengan mengamati gejala primer dan gejala sekunder. Identifikasi morfologi dilakukan dengan pengamatan karakter morfologi juvenil 2 dan pola perineal NPA betina.Identifikasi molekuler dilakukan dengan teknik polymerase chain reaction (PCR) untuk mengamplifikasi wilayah internal transcribed spacer (ITS) ribosomal DNA (rDNA) menggunakan pasangan primer rDNA2 dan rDNA1.58s. NPA ditemukan berasosiasi dengan akar tanaman padi yang memperlihatkan gejala puru akar. NPA diidentifikasi sebagai Meloidogyne graminicola berdasarkan karakter morfologi juvenil 2 dan pola perineal NPA betina. PCR menggunakan primer rDNA2/ rDNA1.58s berhasil mengamplifikasi pita DNA NPA dengan ukuran sekitar 500 bp. Analisis runutan nukleotida menunjukkan isolat NPA asal Wajo-Indonesia memiliki tingkat kekerabatan yang sangat dekat dengan isolat M. graminicola asal Nepal, Cina, India, Madagaskar, dan Amerika Serikat dengan nilai homologi berkisar 98,1–100,0%.
First Report of Necrotic Spot Disease Caused by Cactus virus X on Dragon Fruit (Hylocereus spp.) in Peninsular Malaysia Masanto Masanto; Kamaruzaman Sijam; Yahya Awang; Mohd Ghazali Mohd Satar
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.23763

Abstract

This study was conducted to detect the status of virus causing necrotic spot disease on dragon fruit and to recognize its geographical distribution in Peninsular Malaysia. Fifty posts of crops were randomly sampled from dragon fruit orchards. The symptoms were characterized and the pathogen was observed under transmission electron microscopy (TEM). Disease incidence and severity were plotted, while the disease occurrence was statistically analyzed under Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) of General Linear Modeling (GLM) procedure and Pearson correlation test. The disease was initiated by necrotic small mottle or spot on young shoot which then turned to orange. Those symptoms were also found on mature stems and fruits. They could quickly expand on unexposed symptomatic parts in orchards. The maximum incidence and severity of disease were recorded in Durian Tunggal (Malacca), i.e. 98 and 52%, respectively. TEM technique viewed the spindle-shaped inclusion bodies of virus within symptomatic stems at 4000 and 20,000X magnification which were suspected as Cactus virus X (CVX), a potexvirus with filamentous and rod shape and 515−520 nm in size. Statistically, disease occurrence in Malacca was significantly higher than those in other states, while the minimum was found in Terengganu. The strong regression of disease incidence and severity was shown by R value= 0.9484. There were no significant correlations of disease occurrence, either with weather or cultural factors. Further study on the transmission of virus within the crops in the field is important to be carried out in order to monitor the spread of disease and to develop the integrated disease management strategies on dragon fruit in Peninsular Malaysia. IntisariKajian ini dilakukan untuk mendeteksi status virus yang menyebabkan penyakit bercak nekrotik pada buah naga dan untuk mengetahui distribusi geografisnya di Semenanjung Malaysia. Lima puluh tiang tanaman disampel secara acak dari kebun buah naga. Gejala-gejala dikarakterisasi dan patogen diamati di bawah transmission electron microscopy (TEM). Insidensi dan keparahan penyakit diplot, sedangkan kejadian penyakit secara statistik dianalisis menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT), General Linear Modeling (GLM) dan uji Pearson correlation. Penyakit dimulai dengan bercak nekrotik kecil pada tunas muda dan kemudian berubah menjadi jingga. Gejala-gejala tersebut juga dijumpai pada batang dewasa dan buah. Penyakit dapat berkembang dengan cepat pada bagian bergejala yang tidak terlihat di kebun. Insidensi dan keparahan penyakit yang paling banyak ditemukan di Durian Tunggal (Melaka), yaitu masing-masing 98 dan 52%. Teknik TEM menunjukkan badan inklusi berbentuk benang dari virus pada batang yang bergejala pada perbesaran 4000 dan 20.000X yang diduga sebagai Cactus virus X (CVX), suatu potexvirus yang berbentuk benang dan batang serta berukuran panjang 515–520 nm. Secara statistik, kejadian penyakit di Melaka secara nyata lebih tinggi daripada di negara bagian lainnya, sedangkan kejadian penyakit yang paling sedikit dijumpai di Terengganu. Regresi insidensi dan keparahan penyakit yang kuat ditunjukkan oleh nilai R= 0,9484. Tidak ada korelasi nyata kejadian penyakit, baik dengan faktor cuaca maupun budidaya. Kajian lebih lanjut terkait penularan virus dalam tanaman di lapangan penting untuk dilakukan dalam rangka memantau penyebaran penyakit dan untuk mengembangkan strategi pengendalian penyakit yang terpadu pada buah naga di Semenanjung Malaysia.
Waktu Pemencaran dan Pengaruh Jenis Air terhadap Perkecambahan Basidiospora Exobasidium vexans, Penyebab Penyakit Cacar Daun Teh Norma Fauziyah; Bambang Hadisutrisno; Achmadi Priyatmojo
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.23047

Abstract

Blister blight caused by Exobasidium vexans is one of the important diseases in the tea crop. This disease could decrease the production of tea between 20−90%, so that it required a proper and eco-friendly strategy for managing the development of plant disease epidemics. This study was aimed to determine the daily dispersal time of basidiospores of E. vexans, and to study the effect of dew, rain water, and sterile water to the germination of basidiospores of E. vexans. The method used was trapping basidiospores using a spore trap Kiyosawa type on which the object glasses were successively placed for 4 hours at 6:00 a.m., 10:00 a.m., 2:00 p.m., 6:00 p.m., 10.00 p.m., and 2.00 a.m.. The germination of basidiospores was observed with three treatments; i.e. sterile water, rain water and dew. The results revealed that the dispersal of basidiospores of E. vexans mostly occured between 2:00 to 6:00 a.m. Basidiospores of E. vexans could germinate in all kinds of water, but they germinated very well in dew and rain water.IntisariPenyakit cacar daun teh yang disebabkan oleh Exobasidium vexans merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman teh. Penyakit ini dapat menurunkan produksi teh antara 20−90%, sehingga perlu ada strategi yang tepat dan dapat diterima lingkungan untuk mengelola perkembangan epideminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu pemencaran harian basidiospora E. vexans, dan mengetahui pengaruh embun, air hujan, dan air steril terhadap perkecambahan basidiospora E. vexans. Metode yang digunakan adalah penangkapan basidiospora menggunakan alat spore trap tipe kiyosawa yang dipasang gelas benda pada setiap 4 jam sekali, yaitu pada pukul 06.00, 10.00, 14.00, 18.00, 22.00, dan 02.00. Metode yang dipakai dalam mengamati perkecambahan basidiospora menggunakan tiga perlakuan; embun, air hujan, dan air steril. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemencaran basidiospora E. vexans paling banyak terjadi antara pukul 02.00−06.00. Basidiospora E. vexans dapat berkecambah pada embun, air hujan, dan air steril namun perkecambahan paling baik terjadi pada embun dan air hujan.
Identification of the Causal Agent of Cocoa Pod Rot Disease from Various Locations Indri Komalasari; Suryanti Suryanti; Bambang Hadisutrisno
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.24728

Abstract

Cacao (Theboroma cacao L.) is an important estate commodity in Indonesia with high economic value. The interference of cocoa pod rot disease which was affected by Phytophthora palmivora Butl. resulted in the reduction of the quantity and quality of cocoa beans, with losses up to 44%. This research was aimed to figure out the variation in morphology of P. palmivora isolates from cacao. The research was carried out by collecting samples of cocoa pod with rot symptoms in several cacao growing areas in Java, then the pathogen was isolated and cultured on Potato Dextrose Agar (PDA) medium. The observation was performed on morphological characteristics of isolates macroscopically (colony shape) and microscopically (size of sporangium and chlamydospores). All tested isolates showed various colony shape such as stellate, cottony and irregular as well as sporangium varying from obpyriform, globose, ellipsoid, ovoid and distorted with various size between 30.8×21.9–65.5×46.5 µm in range.IntisariKakao (Theboroma cacao L.) merupakan komoditas perkebunan unggulan di Indonesia dengan nilai ekonomi tinggi. Gangguan penyakit busuk buah kakao yang disebabkan oleh Phytophthora palmivora Butl. mengakibatkan penurunan kuantitas dan kualitas biji kakao, dengan kerugian mencapai 44%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi morfologi isolat P. palmivora asal kakao. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel buah kakao bergejala busuk buah di beberapa area perkebunan kakao di Jawa, kemudian patogen diisolasi dan dikulturkan pada media Potato Dextrose Agar (PDA). Pengamatan dilakukan terhadap karakteristik morfologi isolat secara makroskopis (bentuk koloni) dan mikroskopis (ukuran sporangium dan klamidospora). Semua isolat yang diuji menunjukkan bentuk koloni seperti stellate, cottony, dan irregular serta sporangium yang bervariasi dari obpyriform, globose, ellipsoid, ovoid, dan distorted dengan ukuran bervariasi antara 30,8×21,9−65,5×46,5 µm.
Diversity of Feed Storage Pest Beetle in Banten Province Nasrul Friamsa; Witjaksono Witjaksono; Arman Wijonarko
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.26126

Abstract

Banten province is a growing industrial area, where many industrial items were prepared including animal feed whose raw materials are mostly imported from abroad. Therefore, monitoring feed storage is very important to ensure the existence of pest insects in storage warehouse and to prevent the entry of plant quarantine pest organism (OPTK) which may be carried by imported feed raw materials. The identification, diversity and evenness of pest beetle species in five feed storages in Banten province region have been done. Feed sampling was done using hand sampling method. Samples taken from the diagonal corner and center of storage, respectively as much as 250 grams four times within one-week interval. The results were that 13 species of pest beetles from seven families were intercepted. Cryptolestes ferrugineus, Rhizoperta dominica, and Tribolium castaneum pest beetles were the dominant insects attacking five storages. Specifically, the dominant pest beetles in each commodity were: T. castaneum on soybean meal (SBM); C. ferrugineus and T. castaneum on corn; T. castaneum and R. dominica on corn gluten meal (CGM); T. castaneum and Sitophilus zeamais on wheat; T. castaneum on soybeans; and Oryzaephilus surinamensis in sorghum. Environmental factors, the type and duration of stored commodities were found to be the factors supporting the existence of pest beetle species. The highest diversity of pest beetle varieties was found in warehouse A with a value of 1.552 which was considered as moderate diversity. The evenness index of pest beetle species showed that warehouses A and E were in unstable conditions. Meanwhile, the warehouses B, C, and D were in  depressed conditions dominated by certain species of pest beetle. IntisariProvinsi Banten merupakan daerah industri yang terus berkembang, termasuk industri pakan ternak yang bahan bakunya sebagian besar diimpor dari luar negeri. Oleh sebab itu, pengawasan terhadap gudang penyimpanan pakan sangat penting dilakukan untuk mengawasi keberadaan serangga hama pada gudang penyimpanan dan mencegah masuknya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) yang mungkin terbawa bahan baku pakan yang diimpor. Identifikasi, keanekaragaman serta kemerataan jenis kumbang hama pada lima gudang penyimpanan pakan di wilayah Banten telah dilakukan. Pengambilan sampel bahan pakan menggunakan metode hand sampling. Sampel diambil pada bagian sudut dan bagian tengah secara diagonal masing-masing sebanyak 250 gram sebanyak 4 kali dengan interval waktu 1 minggu sekali. Hasil penelitian diperoleh 13 jenis kumbang hama dari 7 famili. Kumbang hama jenis Cryptolestes ferrugineus, Rhyzoperta dominica, dan Tribolium castaneum merupakan serangga yang dominan menyerang kelima gudang penyimpanan. Jenis kumbang hama yang dominan pada masing-masing komoditas adalah T. castaneum pada soybean meal (SBM); C. ferrugineus dan T. castaneum pada komoditas jagung; T. castaneum dan R. dominica pada corn gluten meal (CGM); T. castaneum dan Sitophilus zeamais pada gandum; T. castaneum pada kedelai; dan Oryzaephilus surinamensis pada sorgum. Faktor lingkungan, jenis dan lama komoditas yang disimpan merupakan faktor pendukung keberadaan suatu jenis kumbang hama. Indeks keanekaragaman jenis kumbang hama tertinggi ditemukan pada gudang A dengan nilai 1,552 menggambarkan keanekaragaman tergolong sedang. Nilai indeks kemerataan jenis kumbang hama menunjukkan bahwa gudang A dan gudang E termasuk dalam kondisi labil; sedangkan gudang B, C, dan D termasuk dalam kondisi tertekan dengan didominasi oleh jenis kumbang hama tertentu.
Karakterisasi Virus Penyebab Penyakit Belang pada Tanaman Lada (Piper nigrum L.) Trisnani Alif; Sedyo Hartono; Sri Sulandari
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.30354

Abstract

Mottle disease is an important disease in pepper plants caused by Piper yellow mottle virus (PYMoV). This study aims to determine the characterization of PYMoV biologically and molecularly. The pepper plant samples were obtained from pepper farmland in Kleben, Putat (Yogyakarta), and Air Buluh (Bangka). Virus particles are measured by electron microscopy. Virus transmission studies include mechanical transmission, vector, cuttings, grafting, and seeds. The molecular detection was done by using Polymerase chain reaction (PCR) method with PYMoV-F and PYMoV-R specific primers. The result, virus particles were found to be ± 30×130 nm in shape. Virus transmission studies indicate that PYMoV can be transmitted by Ferrisia virgata vectors, cuttings, grafts and seeds but cannot be transmitted through mechanical inoculation. Molecular test results showed that samples of Kleben, Putat and Air Buluh pepper plants were positively detected to contain PYMoV and amplified at 400 bp. The result of nucleotide base sequence analysis showed the isolates of Putat and Air Buluh had the highest homology with PYMoV of India 2 about 95% while Kleben isolate had 96% homology with PYMoV of India 1. IntisariPenyakit belang merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman lada yang disebabkan oleh Piper yellow mottle virus (PYMoV). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi PYMoV secara biologi dan molekuler. Sampel tanaman lada diperoleh dari lahan petani lada di Desa Kleben, Putat (Yogyakarta), dan Air Buluh (Bangka). Partikel virus diukur dengan mikroskop elektron. Kajian penularan virus meliputi penularan mekanik, vektor, stek, penyambungan, dan biji. Deteksi secara molekuler dengan metode Polymerase chain reaction (PCR) dengan pasangan primer spesifik PYMoV-F dan PYMoV-R. Partikel virus yang ditemukan berukuran ± 30×130 nm berbentuk batang. Kajian penularan virus menunjukkan bahwa PYMoV dapat ditularkan melalui vektor Ferrisia virgata, stek, penyambungan dan biji namun tidak dapat ditularkan melalui inokulasi mekanik. Hasil uji molekuler menunjukkan bahwa sampel tanaman lada Kleben, Putat dan Air Buluh positif terdeteksi PYMoV dan teramplifikasi pada 400 bp. Hasil analisis sekuen basa nukleotida menunjukkan isolat Putat dan Air Buluh memiliki homologi tertinggi dengan PYMoV India 2 sekitar 95% sedangkan isolat Kleben memiliki homologi 96% dengan PYMoV India 1.
The Role of Turnera subulata and Cosmos sulphureus Flowers in the Life of Anagrus nilaparvatae (Hymenoptera: Mymaridae) Wiwik Sugiharti; Y. Andi Trisyono; Edhi Martono; Witjaksono Witjaksono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.24806

Abstract

Anagrus nilaparvatae is a potential egg parasitoid to control the rice brown planthopper (Nilaparvata lugens Stal.) The parasitoid needs to consume suitable food to maximize its biotic potential and parasitizing ability. This study was aimed to determine the benefits provided by the presence of Turnera subulata and Cosmos sulphureus flowers on the life of A. nilaparvatae. This study consisted of two experiments. The first experiment was designed to determine the effects of the tested flowers on the parasitism and hatching rate of A. nilaparvatae on N. lugens eggs. The flowers were set inside the rearing cage of parasitoid in the presence of N. lugens eggs in Ciherang rice seedlings. In addition, honey and the control (no feed added) were included into the treatments, totalling of four treatments. The parasitism rate of A. nilaparvatae fed with the flowers or honey was similar to those unfed. However, the hatching rate of A. nilaparvatae was much higher on those fed with flower or honey than those unfed. The number of A. nilaparvatae unable to eclose from eggs of N. lugens for the unfed parasitoid was 37.4% in comparison with 8.19 to 15.67% for those fed with flower or honey. The second experiment was a follow-up to address the question on the fitness of progeny of A. nilaparvatae fed with the tested flowers. The flowers and honey did not increase the longevity of A. nilaparvatae progeny. However, A. nilaparvatae fed with flowers or honey produced progeny that resulted in higher number of offspring compared to those unfed. C. sulphureus flower significantly increased the number of offspring produced by A. nilaparvatae. This suggest that the diet of the parental parasitoid determines the fitness of the progeny. Improving the hatching rate and the fecundity of progeny produced by the adults of A. nilaparvatae fed with the flower of T. subulata and C. sulphureus would contribute to the increasing population of this parasitoid which could lead to a better control of N. lugens in the rice field. IntisariAnagrus nilaparvatae merupakan parasitoid telur yang potensial untuk mengendalikan serangan wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens Stal.). Parasitoid perlu mendapatkan sumber pakan yang sesuai untuk memaksimalkan potensi biologis dan kemampuan memarasit inang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji manfaat pemberian bunga Turnera subulata dan Cosmos sulphureus pada kehidupan A. nilaparvatae. Penelitian ini terdiri dari dua percobaan. Percobaan pertama dirancang untuk mengetahui pengaruh bunga yang diuji terhadap tingkat parasitasi dan penetasan telur A. nilaparvatae pada telur N. lugens. Bunga diletakkan di dalam tabung rearing parasitoid yang di dalamnya terdapat bibit padi varietas Ciherang yang mengandung telur N. lugens. Selain itu, terdapat pula perlakuan madu dan kontrol (tanpa bunga dan tanpa madu), dengan total empat perlakuan. A. nilaparvate yang diberi pakan bunga atau madu memiliki tingkat parasitasi yang sama dengan yang tidak diberi pakan. Namun, tingkat penetasan telur A. nilaparvatae yang diberi pakan bunga atau madu jauh lebih tinggi daripada yang tidak diberi pakan. Jumlah A. nilaparvatae yang tidak menetas dari telur N. lugens pada parasitoid yang tidak diberi pakan adalah 37,4% dibandingkan dengan parasitoid yang diberi pakan bunga atau madu yang berkisar 8,19 - 15,67%. Percobaan kedua adalah tindak lanjut untuk menjawab pertanyaan tentang kebugaran keturunan A. nilaparvatae yang diberi pakan dengan bunga yang diuji. Bunga dan madu tidak meningkatkan lama hidup keturunan A. nilaparvatae. Namun, A. nilaparvatae yang diberi pakan dengan bunga atau madu menghasilkan keturunan yang memiliki fekunditas lebih tinggi dibandingkan dengan keturunan dari A. nilaparvatae yang tidak diberi pakan. Bunga C. sulphureus secara signifikan mampu meningkatkan jumlah keturunan yang dihasilkan oleh A. nilaparvatae. Ini menunjukkan bahwa jenis pakan induk parasitoid menentukan kebugaran keturunannya. Peningkatan penetasan dan fekunditas dari keturunan yang dihasilkan oleh induk A. nilaparvatae yang diberi pakan bunga T. subulata dan C. sulphureus akan berkontribusi pada peningkatan populasi parasitoid sehingga dapat mengendalikan serangan N. lugens di pertanaman padi dengan lebih baik.
Respons Awal Ketahanan Jagung terhadap Peronosclerospora maydis dan Induksi Bahan Kimia Muhammad Habibullah; Ani Widiastuti; Christanti Sumardiyono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.26877

Abstract

Downy mildew is an important disease in maize cultivation in the world. Induced resistance is one of the methods used to control plant diseases. Reactive oxygen species (ROS) and lignification are plant defense responses. This study aims to determine the potential of chemicals as an inducer by observing ROS responses and lignification of mycelium. The materials used are benzoic acid, sodium benzoate, salicylic acid, thiamine, saccharin and aspirin with concentration 2 g L-1 of distilled water. The ROS reaction is indicated by all treatments induced and inoculated by pathogens. Lignification of mycelium occurred in the treatment of aspirin at 6 hours observation after inoculation and saccharin treatment on observation 12 hours after inoculation. Based on the observation of ROS and lignification of the mycelium, it is suspected that the material tested has the potential to be further tested as an inducer because it has the ability to activate an early marker of plant resistance in the form of ROS reaction and lignification of mycelium. IntisariBulai merupakan penyakit penting dalam budidaya jagung di dunia. Induksi ketahanan adalah salah satu metode yang digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman. Spesies oksigen reaktif (ROS) dan lignifikasi adalah respon pertahanan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi bahan kimia sebagai bahan penginduksi dengan mengamati respons ROS dan lignifikasi miselium. Bahan yang digunakan adalah asam benzoat, natrium benzoat, asam salisilat, tiamin, sakarin dan aspirin dengan konsentrasi 2 g akuades L-1. Reaksi ROS ditunjukkan oleh semua perlakuan yang diinduksi dan diinokulasi oleh patogen. Lignifikasi miselium terjadi pada perlakuan aspirin pada pengamatan 6 jam setelah inokulasi dan perlakuan sakarin pada pengamatan 12 jam setelah inokulasi. Berdasarkan pengamatan ROS dan lignifikasi miselium, diduga bahwa bahan yang diuji memiliki potensi untuk diuji lebih lanjut sebagai bahan penginduksi karena memiliki kemampuan untuk mengaktifkan penanda awal ketahanan tanaman dalam bentuk reaksi ROS dan lignifikasi miselium.
Evaluation of Some Specific Primer Sets Development for Detecting Fusarium oxysporum f. sp. cubense Tropic Race 4 (Foc TR4) Originating from Indonesia Yudha Pratama; Arif Wibowo; Ani Widiastuti; Siti Subandiyah; Sri Widinugraheni; Martijn Rep
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.25037

Abstract

Fusarium oxysporum f. sp. cubense tropic race 4 (Foc TR4) strain which belong to Vegetative Compatibility Group (VCG) 01213 is the most devastating disease in global banana production. Validation of specific primer sets using the positive control (Foc TR4). In total, 50 isolates of Foc are collected from several banana production regions in Indonesia represent the group of VCG, races, genotype, cultivars, which are confirmed as Foc based on the tested using FocEf3 primer set, except Cjr-2 and Lmp-4 isolates. Foc-1/Foc-2 could amplify 34 Foc isolates included in Foc race 4. Three specific primer sets i.e. TR4-F/TR4-R, Six-1c, and TR4-F2/TR4-R1 are used to classify Foc isolates into Foc tropic race 4. TR4-F/TR4-R is known have the highest specificity as it could amplify 35 Foc isolates including positive controls (Foc TR4) compared to the other primer sets (Six-1c and TR4-F2/TR4-R1). This research indicates that there are a large number of diversity strains found in Foc isolates to be studied for further research. Race 4 of Foc (STR4 or TR4) is known to be widespread in several regions in Indonesia. Therefore, specific primer set development needs to be done to detect Foc TR4 and the most damaging strains on Foc TR4 based on molecular data.IntisariFusarium oxysporum f. sp. cubense ras 4 tropika (Foc TR4) yang termasuk ke dalam kelompok VCG 01213 merupakan patogen yang paling merusak dalam produksi tanaman pisang secara global. Validasi primer spesifik berbasis PCR menggunakan kontrol positif (Foc TR4). Total, 50 isolat Foc dikoleksi dari  beberapa daerah produksi pisang di Indonesia mewakili VCG, ras, genotipe dan kultivar yang dikonfirmasi sebagai isolat Foc berdasarkan pengujian menggunakan primer FocEf3, kecuali isolat Cjr-2 dan Lmp-4. Foc-1/Foc-2 dapat mengamplifikasi 34 isolat Foc yang termasuk ke dalam Foc ras 4. Selanjutnya tiga pasang primer spesifik yaitu TR4-F/TR4-R, Six-1c, dan TR4-F2/TR4-R1 digunakan untuk mengelompokkan isolat-isolat tersebut ke dalam isolat Foc ras 4 tropika. TR4-F/TR4-R diketahui memiliki spesifitas tertinggi karena dapat mengamplifikasi sebanyak 35 isolat Foc termasuk kontrol positif (Foc TR4) dibandingkan dengan primer lainnya (Six-1c dan TR4-F2/TR4-R1). Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat sejumlah besar keragaman strain yang terlihat pada isolat-isolat Foc tersebut untuk dapat dipelajari lebih lanjut. Ras 4 dari Foc (STR4 atau TR4) diketahui tersebar luas pada beberapa daerah di Indonesia. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan primer spesifik untuk mendeteksi Foc TR4 dan strain yang paling merusak pada Foc TR4 berdasarkan data molekuler.