cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies)
ISSN : 2339191X     EISSN : 24069760     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Recently, the value of arts studies in higher education level is often phrased in enrichment terms- helping scholars find their voices, and tapping into their undiscovered talents. IJCAS focuses on the important efforts of input and output quality rising of art education today through the experiences exchange among educators, artists, and researchers with their very own background and specializations. Its primary goals is to promote pioneering research on creative and arts studies also to foster the sort of newest point of views from art field or non-art field to widely open to support each other. The journal aims to stimulate an interdisciplinary paradigm that embraces multiple perspectives and applies this paradigm to become an effective tool in art higher institution-wide reform and fixing some of biggest educational challenges to the urban imperative that defines this century. IJCAS will publish thoughtprovoking interdisciplinary articles, reviews, commentary, visual and multi-media works that engage critical issues, themes and debates related to the arts, humanities and social sciences. Topics of special interest to IJCAS include ethnomusicology, cultural creation, social inclusion, social change, cultural management, creative industry, arts education, performing arts, and visual arts.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2024): June 2024" : 5 Documents clear
The Socio-Educational Value of Sekar Jepun Dance Sugita, I Wayan; Pastika, I Gede Tilem
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 11, No 1 (2024): June 2024
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v11i1.12616

Abstract

This article aims to describe the form of the Sekar Jepun dance, the mascot of Badung Regency, and its socio-educational values. This article is qualitative research in the field of cultural arts. The research data were collected through observation, documentation study, and in-depth interviews with several informants, namely the Sekar Jepun dance actors, Badung district government officials, and Balinese arts and culture observers. Qualitative descriptive analysis was carried out by applying aesthetic theory and semiotics. The results showed that first, the Sekar Jepun dance had the theme of majesty sourced from the natural environment, namely the Jepun tree. The form of the Sekar Jepun dance as the mascot of Badung Regency is reflected in its complete performance, including dance performers, gamelan accompaniment, makeup and clothing, performance venues, and Sekar Jepun dance performance structures, namely papeson (head), pangawak (body), pangecet and pakaad. (feet). This dance is performed at various official moments in the Badung Regency, Bali. Second, the Sekar Jepun dance contains noble values, including aesthetic, religious, and socio-educational values that follow the Tri Hita Karana philosophy. Nilai Pendidikan Sosial pada Tari Sekar Jepun Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk tari Sekar Jepun, maskot Kabupaten Badung, dan nilai-nilai pendidikan sosialnya. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif di bidang seni budaya. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, studi dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan beberapa informan, yaitu pelaku tari Sekar Jepun, pejabat pemerintah kabupaten Badung, dan pemerhati seni dan budaya Bali. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan dengan menerapkan teori estetika dan semiotika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, tari Sekar Jepun bertemakan keagungan yang bersumber dari lingkungan alam, yaitu pohon Jepun. Bentuk tari Sekar Jepun sebagai maskot Kabupaten Badung tercermin dari pertunjukannya yang lengkap, meliputi penampil tari, pengiring gamelan, tata rias dan pakaian, tempat pertunjukan, dan struktur pertunjukan tari Sekar Jepun, yaitu papeson (kepala), pangawak (badan), pangecet dan pakaad. (kaki). Tarian ini ditampilkan pada berbagai momen resmi di Kabupaten Badung, Bali. Kedua, tari Sekar Jepun mengandung nilai-nilai luhur, meliputi nilai-nilai estetika, agama, dan pendidikan sosial yang mengikuti falsafah Tri Hita Karana.
The Dance of Fog: Rewriting Choreographies Larasati, Rachmi Diyah
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 11, No 1 (2024): June 2024
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v11i1.13556

Abstract

This writing is dedicated to the exploration of choreography with specific emphasis on the temporal spatial and references as a historiography and is a method. It centers to memory and temporality that engage with materialism as a trace to embodiment. The objective is to glean inspiration from the story of everyday life, transforming seemingly mundane moments into a moment of creativity for dance the crafting of gestures, and the orchestration of rhythm. Through this artistic process, familiarity and patterns, technique, and emotion, are cultivated and embodied as a historiography method. I argue that embodiment is a transformative journey, leaving imprints on both the body and memory. The Dance of Fog is a choreography that delves into the interplay of value and valuelessness within the archive of embodiment. The inspiration for this exploration is drawn from the correlation between accumulation and poetic interplay of fog, a narrative unfolding to trace the choreographic vagrancy and nuances of dialectic travel memory as politics of witness in conversation with Bethari Uma and Durga the resonance of gender politics in textuality of literary tradition. Tarian “Mega Mendung”: Gubahan dalam Koreografi Abstrak Tulisan ini didekasikan untuk merujuk bagaimana koreografi dituliskan dan dimaknakan dengan menekankan referensi konteks ruang dan waktu sebagai cara melihat kesejarahan dan metode dalam penulisan sejarah. Hal tersebut berfokus pada memori dan temporalitas yang terlibat pada materialisme sebagai cara merunut kebertubuhan dengan tujuan mencatat keseharian dan menggagas bagaimana hal-hal yang duniawi dengan formulasi gerak tari dan pelahiran ritme. Melalui proses kreatif ini, hal yang familiar dan pola— merujuk teknik dan rasa dalam menari, merupakan metode dalam sejarah dan gerakan tubuh menjadi arsip yang hidup. Melalui tulisan ini saya berargumen bahwa kebertubuhan adalah perjalanan yang membawa ilmu perubahan menandai makna dan nilai secara ketubuhan dan memori bukan sebagai nostalgia, akan tetapi sebuah intervensi dalam berfikir. Mega Mendung adalah karya yang merunut pada penentuan sebuah nilai dalam pengarsipan ketubuhan. Inspirasi dari poetika mega mendung (kabut, berawan diambil dari metafora keterhubungan akumulasi dan puitik ruang waktu yang tampak hampa (fog). Koreografi tersebut menggambarkan sebuah kondisi dan ingatan secara dialektika budaya perjalanan sebagai kesaksian dan berdialog dengan politik gender dalam cerita literatur lewat tokoh Dewi Uma, Durga.
Discovery in the Pramesti Ulangun Dance: A Possibility for Innovation in the Form of Balinese Dance Creations Suryani, Ni Nyoman Manik; Suartini, Ni Wayan; Parta, I Ketut
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 11, No 1 (2024): June 2024
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v11i1.11022

Abstract

This article is dedicated to exploring the novelty of Pramesti Ulangun as a Balinese dance. Pramesti Ulangun presents a new Balinese dance for entertainment purposes. However, as a new dance, some audiences in Bali still doubt that this dance is a new dance. The problems are: 1) How is the process of creating the Pramesti Ulangun dance? 2) What is the form of discovery in the Pramesti Ulangun dance? 3) What are the advantages of discovery in the Pramesti Ulangun dance? Qualitative approaches were used to carry out this research. All primary data were collected through observation and interviews with informants. The data set is strengthened by the data obtained from the literature study. All data were analyzed qualitatively by using dance creation process theory and reception theory. The results of the research show: 1) the Pramesti Ulangun dance was created starting from an exploration of the story in the kakawin Niti Sastra. The next stage was experimentation and motion improvisation based on the choreographer's understanding of the characteristics of the God character from kakawin Niti Sastra. This dance choreography was then formed and tested with the dancers with the help of composers and traditional Balinese gamelan musicians. After that, the final form of the Pramesti Ulangun dance choreography was tested by involving dancers, musicians, and the audience; 2) Discovery in the Pramesti Ulangun dance can be seen from the combination of costumes, make-up, choreography, music, story, and various movements; 3) The advantage of discovery in the Pramesti Ulangun dance is the formation of movements and the meaning of the tale message.Kebaruan dalam Tari Pramesti Ulangun: Sebuah Peluang Inovasi Seni Pertunjukan Kreasi Bali Abstrak Artikel ini didedikasikan untuk mengeksplorasi unsur kebaruan Pramesti Ulangun sebagai tarian Bali. Tari Pramesti Ulangun merupakan sebuah tari kreasi Bali yang baru untuk hiburan. Namun, sebagai sebuah tarian baru, sebagian penonton di Bali masih ragu jika tarian ini merupakan tarian baru. Permasalahannya adalah : 1) Bagaimana proses terciptanya tari Pramesti Ulangun?; 2) Bagaimana bentuk kebaruan dalam tari Pramesti Ulangun?; 3) Apa kelebihan kebaruan dalam tari Pramesti Ulangun?. Metode kualitatif telah digunakan untuk melakukan penelitian ini. Seluruh data primer dikumpulkan melalui observasi dan wawancara terhadap informan. Kumpulan data tersebut diperkuat dengan data yang diperoleh dari studi literatur. Seluruh data dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan teori proses penciptaan tari dan teori resepsi. Hasil penelitian menunjukkan : 1) tari Pramesti Ulangun tercipta bermula dari eksplorasi cerita dalam kakawin Niti Sastra. Tahap selanjutnya adalah eksperimen dan improvisasi gerak berdasarkan pemahaman koreografer terhadap Tuhan dalam kakawin Niti Sastra. Koreografi tari ini kemudian dibentuk dan diuji-coba kepada para penari dengan bantuan komposer dan penabuh gamelan tradisional Bali. Setelah itu, dilakukan uji coba bentuk akhir koreografi tari Pramesti Ulangun dengan melibatkan penari, pemusik dan penonton.; 2) Kebaruan dalam tari Pramesti Ulangun dapat dilihat dari perpaduan kostum, tata rias, koreografi, musik, cerita dan berbagai gerak; 3) Keunggulan kebaruan dalam tari Pramesti Ulangun adalah terbentuknya formasi gerak baru dan makna pesan kisah mitologi.
Evaluating Criteria and Art-Based Interventions for Littering Behavior of Millennials in Yogyakarta Mutmainah, Baridah; Wardani, Indra Kusuma
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 11, No 1 (2024): June 2024
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v11i1.11077

Abstract

The littering issue and its impact on environmental sustainability has attracted various attempts to prevent it from worsening. Much research has been done to understand the frequent causes of the problems that led to littering behavior. The intervention from many disciplines to cope with this issue also led to artistic movements and creative approaches. However, the littering problem in Yogyakarta still exists due to the assumption of miss identification of the predictors of the littering behavior. To begin evaluating the art intervention and its application, this research uses a quantitative survey that 115 participants filled out to look at the criteria that cause littering behavior among millennials. A correlation test and regression analysis examine the highest possible value of influence to affect the littering behaviors in millennials divided into internal factors (level of awareness and individual differences) and external factors (access and availability of cleaning facilities, product design, environment characteristics, and law/regulation). Through this analysis, the most powerful conscience will be intervened by art or design, which will hopefully lead to further research, such as redesigning the cleaning facility and the product based on user experience and using design approaches to raise awareness and environmental conditioning of the litter problem.Evaluasi Kriteria dan Intervensi Berbasis Seni pada Perilaku Buang Sampah Milenial di Yogyakarta Abstrak Persoalan membuang sampah sembarangan dan dampaknya terhadap kelestarian lingkungan telah mendorong banyak upaya untuk mencegahnya menjadi lebih buruk. Banyak penelitian telah dilakukan untuk memahami penyebab umum permasalahan yang mengarah pada konseptualisasi perilaku membuang sampah sembarangan. Intervensi berbagai disiplin ilmu untuk mengatasi masalah ini juga memunculkan gerakan artistik dan pendekatan kreatif. Meski telah dilakukan dengan berbagai cara, permasalahan membuang sampah sembarangan di Yogyakarta masih terjadi akibat adanya asumsi yang salah dalam mengidentifikasi prediktor perilaku membuang sampah sembarangan. Untuk mulai mengevaluasi intervensi seni dan penerapannya, penelitian ini menggunakan survei kuantitatif yang diisi oleh 116 peserta untuk melihat kriteria yang menyebabkan perilaku membuang sampah sembarangan di kalangan generasi milenial. Uji korelasi dan analisis regresi menguji besarnya pengaruh yang paling besar terhadap perilaku membuang sampah sembarangan pada generasi milenial yang dibagi menjadi faktor internal (tingkat kesadaran dan perbedaan individu) dan faktor eksternal (akses dan ketersediaan fasilitas kebersihan, desain produk, karakteristik lingkungan, dan hukum/peraturan). Melalui analisis ini, hati nurani yang paling kuat akan diintervensi oleh seni atau desain, yang diharapkan akan mengarah pada penelitian lebih lanjut seperti mendesain ulang fasilitas pembersihan dan produk berdasarkan pengalaman pengguna dan penggunaan pendekatan desain untuk meningkatkan kesadaran dan pengkondisian lingkungan.
The Study of Compatibility between Gestalt and Social Cognitive Theory of Tertiary Level Students via Sketches at Wat Phumin, Nan Province Pichaichanarong, Tawipas
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 11, No 1 (2024): June 2024
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v11i1.12617

Abstract

The study takes place in the setting of Wat Phumin, located in Nan Province, Thailand. This revered temple has proudly maintained its magnificent presence for centuries, earning worldwide acclaim as a symbol of timeless greatness. Located in northern Thailand, Wat Phumin in the province of Nan captures the attention of visitors with its intricate connection between local people and cultural surroundings.The researcher creatively uses sketches of Wat Phumin from the website to understand how tertiary level students perceive and interact with the temple's architecture and cultural heritage. The study used quantitative methods to collect and analyze data, using percentage, mean, and Pearson correlation coefficient. This study aims to understand Gestalt and Social Cognitive Theory, cultural context's impact on cognitive processes and social learning. Urban sketching contributes to Global Goals and sustainable cities by capturing Wat Phumin, Nan Province.The main objective of this research is to enhance people's understanding of the complexities of human cognition and visual perception, with Wat Phumin in Nan Province serving as an intriguing case study. As a result, this study also set the stage for innovative pedagogical models to come.Kajian Kompatibilitas antara Gestalt dan Teori Kognitif Sosial Terhadap Siswa Tingkat Tersier Melalui Sketsa di Wat Phumin, Provinsi NanAbstrakPenelitian berlangsung di Wat Phumin, yang terletak di Provinsi Nan, Thailand. Kuil yang dihormati ini dengan bangga mempertahankan keberadaannya yang megah selama berabad-abad, mendapatkan pengakuan dunia sebagai simbol keagungan abadi. Terletak di Thailand utara, Wat Phumin di provinsi Nan menarik perhatian pengunjung dengan hubungan rumit antara masyarakat lokal dan budaya sekitarnya. Peneliti secara kreatif menggunakan sketsa Wat Phumin dari situs web untuk memahami bagaimana siswa tingkat tersier memandang dan berinteraksi dengan arsitektur candi dan warisan budaya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk mengumpulkan dan menganalisis data, menggunakan persentase, mean, dan koefisien korelasi Pearson. Penelitian ini bertujuan untuk memahami Gestalt dan Teori Kognitif Sosial, dampak konteks budaya terhadap proses kognitif dan pembelajaran sosial. Sketsa perkotaan berkontribusi terhadap Tujuan Global dan kota berkelanjutan dengan memotret Wat Phumin, Provinsi Nan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kompleksitas kognisi dan persepsi visual manusia, dengan Wat Phumin di Provinsi Nan menjadi studi kasus yang menarik. Hasilnya, penelitian ini juga membuka jalan bagi model pedagogi inovatif di masa depan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5