cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies)
ISSN : 2339191X     EISSN : 24069760     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Recently, the value of arts studies in higher education level is often phrased in enrichment terms- helping scholars find their voices, and tapping into their undiscovered talents. IJCAS focuses on the important efforts of input and output quality rising of art education today through the experiences exchange among educators, artists, and researchers with their very own background and specializations. Its primary goals is to promote pioneering research on creative and arts studies also to foster the sort of newest point of views from art field or non-art field to widely open to support each other. The journal aims to stimulate an interdisciplinary paradigm that embraces multiple perspectives and applies this paradigm to become an effective tool in art higher institution-wide reform and fixing some of biggest educational challenges to the urban imperative that defines this century. IJCAS will publish thoughtprovoking interdisciplinary articles, reviews, commentary, visual and multi-media works that engage critical issues, themes and debates related to the arts, humanities and social sciences. Topics of special interest to IJCAS include ethnomusicology, cultural creation, social inclusion, social change, cultural management, creative industry, arts education, performing arts, and visual arts.
Arjuna Subject : -
Articles 180 Documents
Art and Artist Movement in Banten Edi Bonetski X PengPeng Gisela Anindita
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i2.4656

Abstract

Banten is one of the provinces in Indonesia. It is located in the westernmost of Java. Art Movement in Banten is not as famous as Jakarta, Yogyakarta, nor Bali. Being an Artist is not the most famous, not even an option for Banten's job or career. Being an artist in Banten is because the people are not familiar with the art, especially contemporary art. So being an artist in Banten means also being an educator for social change. Edi Bonetski and PengPeng, both are Banten born and raised artist, are trying to make an art movement in Banten. They are doing what I called "terror" in the two cities of Banten. Serang and Tangerang, through their artistic collaboration. The aim is to habituate people in Banten for seeing art. The more they make, the more people will get used to appreciate and live with art. They also made their artistic collaboration in the crowd area, so people can watch how art makes. This "terror" might be something common in Jakarta or Yogyakarta, but not in Banten. They change people's minds about art through their process demo and collaborate with anybody in the process. This practice is to engage people to learn art by doing an art activity. Pergerakan Seni dan Seniman di Banten Studi Kasus: Edi Bonetski X PengPeng ABSTRAK Banten adalah salah satu provinsi di Indonesia ysng terletak di paling barat Pulau Jawa. Gerakan Seni Rupa di Banten memang tidak terlalu terkenal dibanding Jakarta, Yogyakarta, atau Bali. Menjadi seniman bukanlah yang populerl, bahkan tidak menjadi pilihan pekerjaan atau karir di Banten. Perjuangan menjadi seniman di Banten disebabkan oleh masyarakat yang belum mengenal seni khususnya seni kontemporer. Menjadi seniman di Banten berarti juga sekaligus menjadi pendidik untuk perubahan sosial. Edi Bonetski dan PengPeng, merupakan dua seniman yang lahir dan besar di Banten, yang mencoba membuat gerakan seni di Banten. Mereka melakukan apa yang saya sebut dengan "teror" di dua kota Banten. Yakni Serang dan Tangerang, melalui kolaborasi seni mereka. Tujuannya adalah untuk membiasakan masyarakat Banten untuk melihat kesenian. Semakin banyak mereka membuat, semakin banyak orang yang terbiasa untuk mengapresiasi dan hidup dengan seni. Mereka juga berkolaborasi di area keramaian, sehingga masyarakat bisa menyaksikan bagaimana proses pembuatannya. "Teror" ini mungkin sudah biasa di Jakarta atau Yogyakarta, tapi tidak di Banten. Bagaimana mereka mengubah pikiran orang tentang seni melalui demo proses mereka, dan kolaborasi dengan siapa pun dalam prosesnya. Latihan ini mengajak masyarakat untuk belajar seni dengan melakukan aktivitas seni.
Design Science: Approach to Build Design Thinking for Student Winta Adhitia Guspara
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i1.4166

Abstract

ABSTRACTThe existence of products (artifacts) was not a major element in the design paradigm. Product is like tools to help for designing scenarios, realizing the future, and building design knowledge. Planning and making of a product should have an interconnection between the user, product and environment (e.g. space, social, ecological). Accordingly, three main aspects work on the interconnection of product existence. First is the "action" aspect that the product created when changing user behavior. The second is the aspect of "matter" which talks about functions and purpose to meet user needs. The third is the aspect of "limitation" that arises when every limitation, need, and behavior meets each other. There is one important thing in that discourse, which is how the three aspects (i.e. action, matter, limitation) work and they are interconnected to build of the three design goals (i.e. scenario, future, design knowledge). The fundamental problem for product development was the gap between design theory and design practice. This situation occurs because the development of a product has been moving from the past and present until the future. The issue of conditions and time could not be done through sketches, visual images or also involving tinkering processes involving components and materials. Relied on that, this article invites us to discuss design in a frame of mind called design science. The background of this discussion is an activity, process and design thinking that takes place and address product design students when developing a product. The goals to be achieved through this article is to get compatible design knowledge between the theory (head) and practical aspects (hands). Design Science: Pendekatan untuk Membangun Cara Berpikir Desain bagi Mahasiswa ABSTRAK Keberadaan produk (artifak) bukan merupakan unsur utama dalam paradigma desain. Produk lebih merupakan alat untuk merancang skenario, mewujudkan masa depan, dan membangun pengetahuan desain. Perancangan dan pembuatan sebuah produk harus dapat menghubungkan antara pengguna, produk dan lingkungan (e.g. ruang, sosial, ekologi). Berdasar hal tersebut, terdapat tiga aspek utama yang bekerja pada hubungan keberadaan produk. Pertama yaitu aspek “action” yang ditimbulkan oleh produk ketika merubah perilaku pengguna. Kedua ialah aspek “matter” yang berbicara mengenai fungsi dan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Ketiga ialah aspek “limitation” yang muncul ketika setiap keterbatasan, kebutuhan, dan perilaku saling bertemu. Terdapat satu perkara penting dalam wacana di atas yaitu bagaimana ketiga aspek (action, matter, limitation) bekerja dan saling terhubung untuk membangun ketiga tujuan desain (skenario, masa depan, pengetahuan desain). Masalah mendasar untuk pengembangan produk adalah kesenjangan antara teori desain dan praktik desain. Situasi ini terjadi karena pengembangan suatu produk bergerak pada masa lalu, sekarang, dan kedepan. Persoalan kondisi dan waktu ini tidak bisa hanya dilakukan melalui sketsa, gambar visual atau juga melibatkan proses utak-atik yang melibatkan komponen dan bahan. Berdasar pada hal itu, maka artikel ini mengajak untuk membahas desain dalam sebuah kerangka pemikiran yang disebut sebagai design science. Latar belakang pembahasan yang digunakan ialah aktivitas, proses dan berpikir desain yang berlangsung pada mahasiswa ketika melakukan pengembangan sebuah produk. Hasil yang ingin dicapai melalui artikel ini ialah mendapatkan pengetahuan desain yang kompatibel antara teori (kepala) dan aspek praktis (tangan).
Teaching Film in New Normal Era at Film Department, Universitas Multimedia Nusantara Annita Annita
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i2.4650

Abstract

COVID-19 has forced many people to adjust to the new situation. The Indonesian education system has been changed drastically because of this pandemic. Although online learning differs from traditional class meetings, most academic institutions switch directly to online without necessary adjustments. As a result, many students experience zoom fatigue. The same thing also happened in the writer's university. Thus, adjustment toward the teaching-learning strategies is needed to avoid this exhaustion. In this research, the writer applied asynchronous learning in one of the film courses. The asynchronous was applied in ten meetings uploaded on the university's online platform. At the end of the semester, a survey was conducted to evaluate the method. This research is aimed to explore other possible methods in teaching film. It is necessary because teaching film requires a lot of physical and social interaction, which is impossible during this era.Pengajaran Film Pada Era Kenormalan Baru di Prodi Film Universitas Multimedia Nusantara ABSTRAK COVID-19 telah membuat sistem pendidikan Indonesia berubah secara drastis. Sebagian besar institusi akademik beralih langsung ke pembelajaran daring, tanpa membuat penyesuaian dengan media daring yang memiliki karakteristik sangat berbeda dari pembelajaran tatap muka di kelas. Akibatnya, banyak siswa yang mengalami kelelahan karena tatap muka daring. Hal yang sama juga terjadi di universitas penulis. Oleh karena itu, penyesuaian terhadap strategi belajarmengajar diperlukan untuk menghindari kelelahan ini. Dalam penelitian ini penulis menerapkan pembelajaran asinkron di salah satu mata kuliah film. Pembelajaran asinkron diterapkan pada sepuluh pertemuan yang diunggah ke media daring milik universitas. Pada akhir semester dilakukan survei untuk mengevaluasi metode tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi metode lain yang mungkin digunakan dalam pengajaran film. Hal ini diperlukan karena pengajaran film membutuhkan banyak interaksi fisik dan sosial, yang tidak mungkin dilakukan pada era ini.
Experimental Method on “Pseudo Delights” Artwork Fransisca Retno Setyowati Rahardjo
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 6, No 2 (2019): December 2019
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v6i2.3455

Abstract

ABSTRACTIn 1975 Indonesian contemporary art was believed to be born and marked by the occurrence of the “Black December” event which then initiated the Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia. Arts academy also swiftly respond to this phenomenon by putting an art experimentation course as their subject in ITB and ASRI Yogyakarta. Another example was made in 1987, a successful experimental exhibition “Pasaraya Dunia Fantasi” which was held Taman Ismail Marzuki being a headline. It is now four decades the development of experimentation medium celebrated even to other non-art disciplines. Being consider of it the author seeks to bring back the methods of the past that have been adapted to the contexts of today's problems and technological advances. In this research will be a study to develop experimentation model by using some reference logic theory such as design thinking method to produce a work. The development of contemporary art and design has not been widely recognized as an interdisciplinary area that could potentially be developed into a sophisticated and cutting-edge work. In contrast, in some academic and art academic discourses, student’s views are narrowed by thickening the barriers between art and design under the pretext of need capitalization of education. Therefore, the author tries to create a method of designing an experimentation work entitled 'Pseudo Delights'. This work has been previously executed and exhibited at the National Gallery. Pseudo Delight is a performative event specially engineered to respond to today's hyper-reality phenomenon. Where the development of information and mass media is celebrated massively. The rise of many social media applications such as Instagram, the urban communities can celebrate the exclusivity of their lives in a virtual gallery freely. As to convince others about the image of their modern life that is considered successful often the image that appears then contain excessive payload or false sign. Something paradoxical to the advancement of information technology today is presenting a lot of fake images has become the era of the death of information itself.  ABSTRAK Pada tahun 1975 seni rupa kontemporer Indonesia diyakini lahir dengan tanda hadirnya peristiwa “Black December” yang kemudian mengawali Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia. Akademi seni juga dengan cepat merespon fenomena ini dengan menambahkan mata kuliah eksperimentas seni sebagai salah satu subjek pendidikan seni di ITB dan ASRI Yogyakarta. Contoh lain ada pada tahun 1987 ketika sebuah pameran eksperimental yang sukses "Pasaraya Dunia Fantasi" yang diadakan Taman Ismail Marzuki menjadi berita utama. Sekarang empat dekade lebih pengembangan media eksperimen telah dirayakan bahkan untuk kegiatan disiplin non-seni lainnya. Dengan mempertimbangkan hal itu penulis berusaha untuk mengembalikan metode masa lalu yang telah disesuaikan dengan konteks masalah saat ini dan kemajuan teknologi. Dalam penelitian ini akan dilakukan penelitian untuk mengembangkan model eksperimen dengan menggunakan beberapa teori logika referensi seperti merancang metode berpikir untuk menghasilkan suatu karya. Perkembangan seni dan desain kontemporer belum diakui secara luas sebagai bidang interdisipliner yang berpotensi dikembangkan menjadi karya canggih dan mutakhir. Sebaliknya, dalam beberapa wacana akademis dan seni, pandangan siswa dipersempit dengan mempertebal hambatan antara seni dan desain dengan dalih kapitalisasi kebutuhan pendidikan. Oleh karena itu, penulis mencoba membuat metode merancang karya eksperimen berjudul 'Pseudo Delights'. Karya ini sebelumnya telah dieksekusi dan dipamerkan di Galeri Nasional. Pseudo Delights adalah acara performatif yang dirancang khusus untuk merespons fenomena hiper realitas saat ini. Di mana perkembangan informasi dan media massa dirayakan secara masif. Maraknya banyak aplikasi media sosial seperti instagram, masyarakat perkotaan dapat merayakan eksklusivitas kehidupan mereka di galeri virtual secara bebas. Seperti untuk meyakinkan orang lain tentang citra kehidupan modern mereka yang dianggap sukses sering gambar yang muncul kemudian mengandung muatan berlebihan atau tanda palsu. Sesuatu yang paradoks dengan kemajuan teknologi informasi saat ini adalah menghadirkan banyak gambar palsu yang telah menjadi era kematian informasi itu sendiri.
The Explanation of Life Experience Reflection as Ideas of Artistic Research Hery Budiawan; Yusup Sigit Martyastiadi
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i2.4658

Abstract

In Indonesia's artistic research, especially for art creation research, many art creative ideas are born from personal experience; however, the artists' subjectivity often constrains them in expressing these experiences. This condition triggers a lack of scientific publications relating to explaining life experiences that underlie creating artwork. This article describes the process of explaining the life experience reflection into the idea of creating artworks. This method is needed to explain emotional triggers into objective knowledge as a scientific research manuscript. This artistic research employs a practice-led research approach. The analysis and discussion are carried out through reflection between ideas of creation, artworks, reviews of existing artworks, and related literature. Researchers convince that the practice-led research methodology is very strategic to boost the quality of writing artistic articles, dissemination, and presentation of arts. Also, this methodology is expected to overcome the gap between art creation and scientific publications. This study offers steps to uncover subjective experiences into objective research. This artistic research can be used to conquer the subjectivity in art creation and the imbalance between scientific publications and the writing of art creation practices. Penjelasan Refleksi Pengalaman Hidup sebagai Gagasan Penelitian Artistik ABSTRAK Dalam penelitian artistik di Indonesia, khususnya untuk penelitian penciptaan seni; banyak ide penciptaan seni yang lahir dari pengalaman pribadi, namun mereka sering terkendala oleh subjektivitas seniman dalam mengekspresikan pengalaman ini. Hal ini memicu kurangnya publikasi ilmiah yang berkaitan dengan penjelasan pengalaman hidup yang mendasari gagasan penciptaan karya seni. Artikel ini menjabarkan proses penjelasan refleksi pengalaman hidup ke dalam gagasan penciptaan karya seni. Metode ini diperlukan untuk menjelaskan hal yang subjektif ke dalam pengetahuan yang lebih objektif sebagai naskah penelitian ilmiah. Penelitian artistik ini menggunakan pendekatan penelitian yang didorong oleh praktik (PLR). Analisis dan diskusi dilakukan melalui refleksi antara ide-ide penciptaan, karya seni, ulasan karya seni yang ada, dan literatur terkait. Para peneliti yakin bahwa metodologi penelitian yang didorong oleh praktik sangat tepat guna dalam meningkatkan kualitas penulisan artikel, publikasi dan penyajian seni. Selain itu, metodologi ini diharapkan dapat mengatasi kesenjangan antara praktik penciptaan seni dan publikasi ilmiah. Penelitian ini menawarkan langkah-langkah untuk mengungkap pengalaman subjektif ke dalam penelitian ilmiah yang objektif. Penelitian artistik ini dapat digunakan untuk menjembatani antara subjektivitas dalam penciptaan seni dan ketidakseimbangan antara publikasi ilmiah dan penulisan praktik penciptaan seni.
Javanese Women Hybridity: Postcolonial Study of Nyonya Muluk in Damar Kurung Paintings Aniendya Christianna
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i1.4164

Abstract

ABSTRACTDamar Kurung is a typical lantern of Gresik, made in the 16th century. In 2017 Damar Kurung was declared an intangible cultural heritage by the Indonesian Ministry of Education and Culture. Masmundari (1904-2005) was a female artist who painted Damar Kurung based on skills learned from her ancestors. Among Masmundari's many paintings, Nyonya Muluk is the most frequently painted. Nyonya Muluk is described as a big woman wearing a dress and wings. Many people say that Nyonya Muluk is a picture of Queen Wilhemina that Masmundari has seen directly. To uncover Nyonya Muluk's identity, it is necessary to explain the image and meaning of this traditional art, the author uses Bahasa Rupa method (Tabrani, 2012), which analyzes the contents of the wimba, cara wimba, tata ungkapan and how to read wimba. Then, analyzed using postcolonial theory, specifically using the concepts of hybridity and mimicry to find out the identity of Nyonya Muluk. Finally, this research is to produce (1) A description of the relationship between the two cultures (East and West/invaders and colonized) which is manifested in the figure of Nyonya Muluk. (2) Nyonya Muluk is a representation of Javanese women's hybridity that illustrates the hopes and dreams of Masmundari (as an East representative) to be similar to the West.Hibriditas Perempuan Jawa: Studi Poskolonial Figur Nyonya Muluk Di Lukisan Damar KurungABSTRAKDamar Kurung adalah lentera khas Gresik, dibuat pada abad ke-16. Pada 2017 Damar Kurung dinyatakan sebagai warisan budaya tak bendawi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Masmundari (1904-2005) adalah seniman perempuan yang melukis Damar Kurung berdasarkan keterampilan yang diperolehnya secara turun temurun. Di antara banyak lukisan Masmundari, Nyonya Muluk adalah yang paling sering dilukis. Nyonya Muluk digambarkan sebagai perempuan berukuran besar yang mengenakan gaun dan memiliki sepasang sayap. Banyak orang mengatakan bahwa Nyonya Muluk adalah gambaran Ratu Wilhemina yang langsung dilihat Masmundari. Untuk mengungkap identitas Nyonya Muluk, perlu menjelaskan gambar dan makna seni lukis tradisi ini, penulis menggunakan metode Bahasa Rupa (Tabrani, 2012), yang menganalisis isi wimba, cara wimba, tata cara dan cara membaca wimba. Kemudian, dianalisis menggunakan teori postkolonial, khususnya menggunakan konsep hibriditas dan mimikri untuk mengetahui identitas Nyonya Muluk. Akhirnya, penelitian menghasilkan (1) Deskripsi hubungan antara dua budaya (Timur dan Barat/penjajah dan terjajah) yang dimanifestasikan dalam sosok Nyonya Muluk. (2) Nyonya Muluk adalah representasi dari hibriditas perempuan Jawa yang menggambarkan harapan dan impian Masmundari (sebagai perwakilan Timur) untuk menjadi serupa dengan Barat.
Upcycle: As A New Preference in the Art of Climate Change Centaury Harjani
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i2.4651

Abstract

The most common inspiration used in the art of climate change is global warming. Indeed, the greenhouse effect that leads to a global temperature rise is the cause of global warming. This effect occurs due to increasing levels of carbon released into the air. Upon this, an artist needs to reduce carbon emissions for the sake of a better environment. One of the effective ways is by using the principles of environmentally friendly (low-carbon emissions) artwork. The way that can be chosen is upcycling in the making of an artwork. Upcycled is the upgraded version of Recycling. Upcycle will help reduce carbon emissions by utilizing old goods as materials to create an artwork. Upcycle does not use new materials, and it uses the method of material processing with a short phase compared to recycling. The contemporary art of climate change raises many issues on global warming as its inspiration. Therefore, it should pay attention to the material used in the making of environmentally friendly artwork. This paper will discuss the upcycle as a preference to produce that artwork. Practice-based research methods and literature studies are used in this study. This research will also discuss creative strategies in upcycling deadstock to become part of climate change contemporary artwork. The preliminary result from this study is that the upcycle will be optimal when combined with the principle of zero-waste. Upcycle: Preferensi Baru dalam Seni Perubahan Iklim ABSTRAK Inspirasi yang paling banyak digunakan pada seni perubahan iklim adalah pemanasan global. Sesungguhnya, efek rumah kaca adalah penyebab utama adanya peningkatan suhu secara global sehingga terjadi pemanasan global. Efek ini terjadi disebabkan oleh peningkatan jumlah karbon yang dilepaskan ke udara. Karena itu, seniman perlu berpartisipasi mengurangi jumlah gas buang karbon demi lingkungan yang lebih baik. Satu cara efektif yang dapat dilakukan adalah menggunakan prinsip karya seni ramah lingkungan yang tingkat gas buang karbonnya rendah. Cara yang dapat dipilih adalah melakukan upcycle dalam pembuatan karya seni. Upcylce ini adalah peningkatan versi dari Recycle. Upcycle akan membantu mengurangi gas buang karbon dengan memanfaatkan barang-barang lama sebagai bahan baku pada proses pembuatan karya seni. Upcycle tidak menggunakan material baru dan memiliki proses pengolahan material yang lebih pendek jika dibandingkan dengan metode recycle. Seni kontemporer terkait perubahan iklim mengangkat banyak isu mengenai pemanasan global. Karena itu, seni ini perlu memperhatikan bahan baku yang digunakan untuk memperoleh karya seni yang ramah lingkungan. Makalah ini akan membahas upcycle sebagai preferensi untuk menghasilkan karya seni tersebut. Metode penelitian berbasis praktik dan studi literatur digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini juga akan membahas strategi kreatif dalam melakukan upcycling bahan baku deadstock karya seni kontemporer perubahan iklim. Kesimpulan awal dari penelitian ini, penggunaan upcycle akan lebih optimal jika dipadukan dengan prinsip zero-waste.
Eco Art Bamboo and Silat Spirituality in the Integrated Space Design Widya Poerwoko
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 6, No 2 (2019): December 2019
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v6i2.3424

Abstract

ABSTRACTToday environmental damage has become an alarming issue. Such a problem also occurs at Sleman located in the foot of Mount Merapi, Yogyakarta. Illegal sand mining around settlements has resulted in shrinking plant populations and damage to land use, which has resulted in decreased groundwater and surface water. Environmental damage begins with fragmentation in people’s worldview resulting from the emerging humanism-ecology, knowledge-values, and the body-spirituality separations. Pencak silat, as an indigenous Indonesian martial art that is subject to the harmony between humans and the natural environment in which they live, can inspire the awareness of local people to reconsider the habits harmful to the environment and nature. The Integrated Space Design as an aesthetic manifestation of Eco-Art is an artwork created to address environmental problems occurring in the foothills of Mount Merapi by creating a space that bridges the interactions between humans, between humans and their artificial environment, and between humans and the surrounding natural environment by using bamboo plants as the main media, and silat spirituality as the primary inspiration the local community’s capacity of living, both ecologically and spiritually. ABSTRAK Perubahan iklim dalam fenomena Global Warming penting diperhatikan. Meski peristiwa tersebut sulit dibayangkan oleh masyarakat pedesaan, namun faktanya fenomena tersebut telah mengakibatkan para petani mengalami kegagalan panen dan hampir tidak dapat lagi memprediksi waktu tanam. Di luar fenomena tersebut, persoalan lingkungan juga terjadi di kaki Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta. Penambangan pasir di pemukiman, telah mengakibatkan menyusutnya populasi tumbuhan dan rusaknya tata guna lahan, sehingga berdampak pada menurunnya permukaan air tanah dan air permukaan. Kerusakan lingkungan berawal dari terpecahnya cara pandang orang akibat dari munculnya pembedaan antara humanisme dengan ekologis, pengetahuan dengan nilai-nilai, dan tubuh dengan spiritualitas. Pencak silat, sebagai seni bela diri Indonesia yang tunduk pada keselarasan antara manusia dengan lingkungan alam tempat hidupnya, dapat menggugah kesadaran orang setempat untuk mempertimbangkan kembali kebiasaannya yang dapat merugikan lingkungan dan alam. Integrated Space Design sebagai manifestasi estetis Eco Art, merupakan karya seni yang diciptakan untuk menjawab persoalan lingkungan yang terjadi di kawasan kaki Gunung Merapi, yaitu dengan mewujudkan ruang, wadah atau jembatan interaksi antar manusia, manusia dengan lingkungan buatannya dan alam seputar hidupnya, dengan menggunakan tanaman bambu sebagai medium utamanya, dan spiritualitas silat sebagai inspirasinya sehingga dapat melestarikan daya hidup masyarakat setempat, baik secara ekologis maupun spiritual.
Visual-Spatial and Intrapersonal Intelligence in Learning of Rampak Kendang Art for Elementary School Students Fery Setyaningrum; Heni Siswantari
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i1.4163

Abstract

ABSTRACT The art of rampak kendang in Patimuan Cilacap Regency is an art that has existed for a long time and is hereditary in the people of Cilacap. In learning the art of rampak kendang, two types of plural intelligence exist and have their character in the form of visual-spatial and intrapersonal intelligence. This study aims to describe how visual-spatial and intrapersonal intelligence can form through the learning art of rampak kendang in elementary school students in Patimuan Cilacap. This research method uses descriptive research with a qualitative approach. Methods of data collection using observation, interviews, and document studies to analyze content, this study uses data validity techniques in the form of source triangulation, with data analysis techniques for data reduction, data presentation, and concluding. This study's results in the form of the formation of visual-spatial and intrapersonal intelligence are influenced by internal, external, textual, and contextual factors. Visuals spatial are formed based on understanding art through the senses, primarily through the eyes in the form of colour and space, then transforming the learning the art of rampak kendang captured by the eye into another type of recording and becoming a musical work that appears. In contrast, intrapersonal intelligence is formed with the ability to understand oneself and act based on understanding, which includes strengths and limitations of self, moods, intentions, motivations, temperament and desires, self-discipline, and self-understanding and respect. This study concludes that visual-spatial intelligence is created in the form of creating space by making floor patterns, observing and recording the trainer and then can mimic the movements of kendang, and the use of dancers 'and musicians' face makeup, and costume selection for performances. Intrapersonal intelligence appears based on listening to and playing music among musicians to create strength in oneself, calm the mood, control oneself, and be motivated so that it becomes more disciplined and more self-respecting and the environment. Kecerdasan Visual Spasial dan Intrapersonal dalam Pembelajaran Seni Rampak Kendang bagi Siswa Sekolah Dasar ABSTRAK Seni rampak kendang di Patimuan Kabupaten Cilacap merupakan kesenian yang sudah lama ada dan turun temurun pada masyarakat Cilacap. Dalam pembelajaran seni rampak kendang ditemukan ada dua jenis kecerdasan jamak yang ada dan memiliki karakternya sendiri berupa kecerdasan visual spasial dan intrapersonal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses kecerdasan visual spasial dan intrapersonal dapat terbentuk melalui pembelajaran seni rampak kendang pada siswa sekolah dasar di Patimuan Cilacap. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan studi dokumen untuk menganalisis konten, penelitian ini menggunakan teknik keabsahan data berupa triangulasi sumber, dengan teknik analisis datanya reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini berupa proses terbentuknya kecerdasan visual spasial dan intrapersonal dipengaruhi oleh faktor internal, eksternal, tekstual dan kontekstual. Visual spasial terbentuk berdasarkan memahami seni melalui pancaindera khususnya melalui mata berupa warna dan ruang, selanjutnya mentransformasikan bentuk dari pembelajaran seni rampak kendang yang ditangkap mata ke dalam bentuk wujud lain berupa rekaman dan menjadi karya musik yang rampak. Sedangkan kecerdasan intrapersonal terbentuk dengan kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman yang meliputi kekuatan dan keterbatasan diri, suasana hati, maksud, motivasi, temperamen dan keinginan, disiplin diri serta memahami dan menghargai diri. Kesimpulan penelitian ini adalah kecerdasan visual spasial tercipta berupa menciptakan ruang dengan membuat pola lantai, mengamati dan merekam pelatih kemudian bisa menirukan gerakan kendang, dan penggunaan make-up wajah penari dan pemusik, serta pemilihan kostum untuk pertunjukan. Sedangkan kecerdasan intrapersonal muncul ada berdasarkan mendengarkan dan memainkan musik antar anggota pemusik sehingga membuat kekuatan pada diri, menenangkan suasana hati, dapat mengendalikan diri, termotivasi sehingga menjadi lebih disiplin dan lebih menghargai diri serta lingkungan.
Site Visit vs Mental Visualization on Lanna Architecture: A Study on Working Memory in Young Adult Tawipas Pichaichanarong
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 8, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v8i1.4926

Abstract

The rise of modern architecture styles has strongly impacted the younger generation globally in the current century. This research is designed to study the performance of working memory on understanding Lanna architecture with young adults at a large university in northern Thailand, that of Mae Fah Luang University in Chiang Rai Province, Thailand. In this study, the research focuses on studying the effectiveness of young adults’ working memory to discern Lanna architecture through site visits and mental visualization. The outcomes of this research can help improve architecture pedagogy in the future. For the methodology, questionnaires were used by collecting data from 412 university students from a university in northern Thailand. The data then were analyzed using mean, standard deviation, and p-value. This study concludes that the performance of working memory on the comprehension of Lanna architecture through site visits and mental visualization for young adults was positive. Kunjungan Situs vs Visualisasi Mental pada Arsitektur Lanna: Studi tentang Memori Kerja pada Anak Muda Abstrak Kemunculan gaya arsitektur modern memberi pengaruh kuat pada generasi muda di penjuru duina pada abad ini. Penelitian ini dirancang untuk mempelajari kinerja Memori kerja saat memahami arsitektur Lanna di kalangan anak muda pada sebuah universitas besar di Thailand utara, yaitu Universitas Mae Fah Luang di Provinsi Chiang Rai, Thailand. Dalam studi ini, penelitian berfokus pada bagaimana mempelajari efektivitas memori kerja anak muda untuk membedakan arsitektur Lanna melalui kunjungan situs dan visualisasi mental. Hasil dari penelitian ini dapat membantu meningkatkan pedagogi arsitektur di masa depan. Untuk metodologinya, kuesioner dikumpulkan dari 412 mahasiswa dari sebuah universitas di Thailand utara. Data kemudian dianalisis melalui rata-rata, standar deviasi, dan p-value. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kinerja Memori kerja pada pemahaman arsitektur Lanna melalui kunjungan situs dan visualisasi mental pada anak muda memberi hasil yang positif.